Anda di halaman 1dari 22

Analisis Fungsi Anggaran Sebagai Alat Pengendalian Belanja Barang dan Jasa

Pemerintah Daerah (Studi Kasus Pada Sekretariat Daerah Kabupaten Mamasa


Provinsi Sulawesi Barat)
Oleh
Nadhirah Nagu,S.E.,M.Si,Ak
Dosen Universitas Hasanuddin
ABSTRAK
Anggaran sebagai fungsi perencanaan dan kontrol merupakan alat yang efektif dalam mencapai tujuan
organisasi. Data rekening belanja yang terdapat dalam anggaran belanja daerah dapat menunjukkan
apakah anggaran yang telah dibuat, dapat berperan sebagai pengontrol implementasi

kegiatan

pemerintah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah anggaran telah berfungsi sebagai alat
pengendalian belanja barang dan jasa.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriptif. Metode ini bertujuan untuk mengumpulkan, menyajikan, serta menganalisis data yang
dapat memberikan gambaran yang jelas atas obyek yang diteliti, untuk kemudian diproses dan dianalisis
umtuk mengambil kesimpulan dan untuk menguji apakah anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian
dengan menggunakan T-Test dengan kriteria jika thitung < tabel maka Ho diterima. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa anggaran telah berfungsi sebagai alat pengendalian pada Sekretariat Daerah
Kabupaten Mamasa provinsi Sulawesi Barat.

Keywords : Pengendalian, Anggaran Belanja Barang dan Jasa

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan menurut asas ekonomi dan tugas berbantuan sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagai pengganti
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah sebagai pengganti
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999. Kedua Undang-undang ini menjadi dasar
hukum dalam pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia.Penyelenggaraan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban anggaran
pendapatan dan belanja daerah (APBD), yang merupakan dasar pengelolaan keuangan
daerah dalam masa satu tahun anggaran. Agar tujuan-tujuan dalam otonomi daerah

dapat tercapai, pemerintah haruslah bertindak efektif dan efisien dalam mengelola
keuangan daerahnya. Untuk memberikan jaminan dialokasikannya sumber daya secara
ekonomis, efisien dan efektif, maka diperlukan informasi akuntansi manajemen, seiring
dengan adanya paradigma baru organisasi pemerintahan yang lebih berorientasi pada
pelayanan masyarakat dan kepentingan publik.
Tuntutan mengenai perlunya pengendalian atas berbagai kegiatan pemerintah,
khususnya yang berimplikasi uang, dari waktu ke waktu semakin meningkat. Hal ini
terjadi akibat praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di waktu yang lalu tidak
saja telah mengakibatkan berkurangnya percepatan pembangunan, melainkan juga telah
menimbulkan kesenjangan baik antara wilayah, sektor dan golongan serta merugikan
khususnya bagi lapisan masyarakat bawah. Peran fundamental akuntansi manajemen di
organisasi sektor publik adalah membantu manajer/pimpinan dengan informasi
akuntansi yang dibutuhkan agar fungsi perencanaan dan pengendalian dapat dilakukan.
Anggaran merupakan alat perencanaan sekaligus alat pengendalian pemerintah.
Anggaran sebagai alat perencanaan mengindikasikan target yang harus dicapai oleh
pemerintah, sedangkan anggaran sebagai alat pengendalian mengindikasikan alokasi
sumber dana publik yang disetujui legislatif untuk dibelanjakan. Melalui data rekening
belanja yang terdapat dalam anggaran belanja daerah, akan dilihat apakah anggaran
yang telah dibuat, dapat berperan sebagai pengendali terhadap pelaksanaan kegiatan
pemerintah. Anggaran terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah anggaran belanja
langsung dan belanja tidak langsung. Anggaran belanja langsung terdiri dari belanja
pegawai, belanja barang dan jasa serta belanja modal. Belanja barang dan jasa
merupakan bagian penting dalam kegiatan operasional pemerintahan karena bersifat
rutin atau terjadi terus menerus. Belanja ini penting karena belanja barang dan jasa
berkaitan dengan pembiayaan pemerintahan secara keseluruhan. Biaya-biaya ini
dikeluarkan dalam rangka pengawasan dan pemberian jasa-jasa kepada setiap fungsi
pemerintahan.
1.1.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka perumusan
masalah penelitian ini adalah apakah anggaran telah berfungsi sebagai alat pengendalian
belanja barang dan jasa pada tahun anggaran 2009.
1.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah anggaran telah
berfungsi sebagai alat pengendalian belanja barang dan jasa pada tahun anggaran 2009.
1.3 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Untuk dapat mengetahui pengendalian belanja barang dan jasa dalam
pemerintahan sehingga penulis dapat membandingkan pengetahuan teoritis yang
2

diperoleh dengan aplikasinya di obyek penelitian.


Sebagai bahan pertimbangan dalam hal pengendalian anggaran belanja barang
dan jasa dan perencanaan anggaran belanja barang dan jasa pada masa yang

akan datang.
Sebagai bahan referensi dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan

perencanaan dan pengendalian anggaran belanja barang dan jasa.


BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Anggaran
Anggaran merupakan alat penting untuk perencanaan dan pengendalian jangka
pendek yang efektif dalam organisasi. Suatu anggaran operasi biasanya meliputi waktu
satu tahun dan menyatakan pendapatan dan beban yang direncanakan untuk tahun itu.
Dengan anggaran manajemen dapat menentukan efektifitas dan efisiensi suatu operasi
dengan membandingkan antara anggaran dengan hasil aktual yang dicapai.
Pengertian anggaran menurut Peraturan Pemerintahan No. 24 tahun 2005
menyatakan, anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan
pemerintah meliputi rencana pendapatan, belanja, transfer dan pembiayaan yang di ukur
dalam satuan rupiah, yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis untuk
satu periode. Sedangkan pengertian anggaran menurut Horngren, et.al (1999:250)
sebagai berikut : A budget is tool that help managers in both their planning and
control functions. Definisi ini memberikan suatu pemahaman bahwa anggaran
merupakan alat yang dapat membantu manajer dalam menjalankan kedua fungsi yaitu
perencanaan dan pengendalian.
National

Commitee

on

Governmental

Accounting

(NCGA),

saat

ini

Governmental Accounting Standarts Board (GASB), mengemukakan definisi anggaran


(budget) sebagai berikut : anggaran (budget) adalah rencana operasi keuangan, yang
mencakup estimasi pengeluaran yang diusulkan, dan sumber pendapatan yang
diharapkan untuk membiayainya dalam periode waktu tertentu.Anggaran merupakan

pernyataan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang
dinyatakan dalam ukuran finansial. Sedangkan anggaran sektor publik merupakan
rencana kegiatan dalam bentuk perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter
(Mardiasmo, 2002).
2.2.

Karakteristik Anggaran
Menurut Mulyadi (2001:490) ada beberapa karakteristik anggaran antara lain:
1. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan keuangan lainnya.
2. Umumnya mencakup jangka waktu 1 tahun
3. Berisi komitmen atau kesanggupan manajemen, yang berarti bahwa manajer
setuju untuk menerima tanggung jawab untuk mencapai sasaran yang ditetapkan
anggaran.
4. Usulan anggaran di review dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih tinggi
dari penyusunan anggaran.
5. Sekali disetujui, anggaran hanya dapat diubah dibawah kondisi tertentu.
6. Secara berkala, kinerja keuangan sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran
dan selisihnya dianalisis dan dijelaskan.
Dari karakteristik diatas dapat diketahui bahwa anggaran menjadi alat yang
penting bagi manajemen dalam melaksanakan tugasnya. Sebagai alat untuk membantu
pencapaian tujuan, anggaran dapat diandalkan karena dibuat berdasarkan analisa datadata tahun yang lalu dan proyeksi tahun yang akan datang.
Karakteristik anggaran yang baik menurut (Dwi Mariani:2006) terdiri dari:
1. Anggaran disusun berdasarkan program
2. Anggaran disusun berdasarkan karakteristik pusat pertanggungjawaban yang
dibentuk dalam organisasi.
3. Anggaran berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian.
2.3. Prinsip-Prinsip Anggaran
1. Otorisasi oleh legislatif, anggaran publik harus mendapatkan otorisasi dari
legislatif terlebih dahulu sebelum eksekutif dapat membelanjakan anggaran
tersebut
2. Komprehensif, anggaran harus menunjukkan semua penerimaan dan
pengeluaran pemerintah. Oleh karena itu, adanya dananon budgetair pada
dasarnya menyalahi prinsip anggaran yang bersifat komprehensif.
3. Keutuhan anggaran, semua penerimaan dan belanja pemerintah harus
terhimpun dalam dana umum.
4. Nondiscretionary appropriation, jumlah yang disetujui oleh dewan
legislatif harus termanfaatkan secara ekonomis, efisien, dan efektif.
5. Periodik, anggaran merupakan suatu proses yang periodik, bisa bersifat
tahunan maupun multi tahunan.

6. Akurat, estimasi anggaran hendaknya tidak memasukkan cadangan yang


tersembunyi, yang dapat dijadikan sebagai kantong-kantong pemborosan
dan ineficiency anggaran serta dapat memunculkan underestimate
pendapatan dan overestimate pengeluaran.
7. Jelas, anggaran hendaknya sederhana, dapat dipahami oleh masyarakat dan
tidak membingungkan.
8. Diketahui publik, anggaran harus di informasikan kepada masyarakat luas.
2.4

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah sarana atau alat untuk dalam

menjalankan otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab serta memberi isi dan
arti tanggung jawab Pemerintah Daerah karena APBD itu menggambarkan seluruh
kebijaksanaan Pemerintah Daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah juga
didefinisikan sebagai rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan
disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan
ditetapkan dengan peraturan daerah.
Menurut undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan
antara Pemerintah Daerah dan Pusat.APBD adalah suatu rencana keuangan tahunan
Daerah yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah. APBD adalah rencana kegiatan pemerintah daerah yang dituangkan
dalam bentuk angka dan menunjukkan adanya sumber penerimaan yang merupakan
target minimal dan biaya yang merupakan batas maksimal untuk satu periode anggaran
(Halim ; 2002:24). APBD merupakan instrumen kebijakan yang utama bagi pemerintah
daerah. Sebagai instrumen kebijakan, anggaran daerah menduduki posisi sentral dalam
upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas (Mardiasmo 2002:9). Anggaran daerah
digunakan sebagai alat untuk menentukan besar pendapatan dan pengeluaran,
membantu pengambilan keputusan dan

perencanaan pembangunan, otorisasi

pengeluaran di masa-masa yang akan datang, sumber pengembangan ukuran-ukuran


standar untuk evaluasi kinerja, alat untuk memotivasi para pegawai, dan alat koordinasi
bagi semua aktivitas dari berbagai unit kerja.
2.5 Anggaran Belanja Daerah
Belanja daerah menurut Permendagri Nomor 25 Tahun 2009 adalah semua
pengeluaran kas daerah dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang meliputi
belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja daerah disusun dengan pendekatan
5

prestasi kerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan,
oleh karena itu dalam penyusunan agar pemerintah daerah berupaya menetapkan target
capaian baik dalam konteks daerah, satuan kerja, dan kegiatan sejalan dengan urusan
yang yang menjadi kewenangannya. Selain itu diupayakan agar belanja langsung
mendapat alokasi yang lebih besar dari belanja tidak langsung, dan belanja modal
mendapat porsi alokasi yang lebih besar dari belanja pegawai atau belanja barang dan
Jasa.
2.5.1 Belanja Langsung
Belanja langsung menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 merupakan
belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan
kegiatan. Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan dibagi menurut jenis belanja
yang terdiri dari :
1. Belanja pegawai
Belanja pegawai untuk pengeluaran honorarium /upah dalam melaksanakan
program dan kegiatan pemerintahan daerah.
2. Belanja Barang dan Jasa
Belanja Barang dan jasa digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan
barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau
pemakaian jasa dalam melaksanakan program.
3. Belanja Modal
Belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka
pembelian/pengadaan atau pembangunan asset tetap berwujud yang mempunyai
nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan
bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan asset tetap lainnya.
2.5.2 Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 merupakan
belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksaan program dan
kegiatan. Kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri
dari :
1. Belanja pegawai
Merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta
penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.Uang representasi dan tunjangan
6

pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil
kepala daerah serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam belanja pegawai.
2. Belanja bunga
Digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas
kewajiban pokok utang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman
jangka pendek, menengah, dan panjang.
3. Belanja subsidi
Digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada
perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yg dihasilkan dapat
terjangkau oleh masyarakat banyak.
4. Belanja hibah
Digunakan untuk menganggarkan pembelian hibah dalam bentuk uang, barang
dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, dan kelompok
masyarakat/perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya.
5. Belanja bantuan sosial
Digunakan untuk menganggarkan pemberian dalam bentuk uang dan/atau
barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
6. Belanja bagi hasil
Digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari
pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota
kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada
pemerintah daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
7. Belanja bantuan keuangan
Digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau
khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada
pemerintah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa
dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan
kemampuan keuangan.
8. Belanja tidak terduga
Merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak
diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial
yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan
penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup.
2.5

Belanja Barang dan Jasa


Menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, Belanja barang dan jasa

digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya


kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program.
Belanja barang dan jasa bersifat rutin karena terjadi terus-menerus. Belanja barang dan
jasa mencakup :

1. Penyediaan jasa surat menyurat


2. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik
3. Penyediaan jasa administrasi keuangan
4. Penyediaan jasa kebersihan kantor
5. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja
6. Penyediaan alat tulis kantor
7. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan
8. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor
9. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor
10. Penyediaan peralatan rumah tangga
11. Penyediaan bahan bacaan dan peralihan perundang-undangan
12. Penyediaan makanan dan minuman
13. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah
14. Penyediaan jasa pendukung administrasi dan teknis perkantoran
15. Penyediaan jasa jarkompusda
16. Rapat-rapat koordinasi dan kolsultasi antar instansi
17. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi pemerintahan
2.5.1 Kegunaan Anggaran Belanja Barang dan Jasa
Secara umum menurut Permendagri Nomor 25 Tahun 2009, semuat budget atau
anggaran termasuk juga anggaran belanja barang dan jasa, mempunyai tiga kegunaan
pokok, yaitu :
1. Sebagai pedoman kerja yang memberikan arah serta sekaligus memberikan
target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan pemerintahan di masa
yang akan datang
2. Sebagai alat pengorganisasian kerja, agar semua bagian-bagian yang terdapat
dalam pemerintahan dapat saling menunjang, bekerjasama dengan baik.
3. Sebagai alat pengawasan kerja, yang menjadi tolak ukur, alat pembanding untuk
menilai (evaluasi) realisasi.
2.4.2 Fungsi Anggaran Dalam Pengendalian Belanja Barang dan Jasa
Belanja barang dan jasa mencakup belanja/biaya di luar belanja pegawai dan
belanja modal (Permendagri Nomor 13 Tahun 2006).Belanja ini timbul untuk
menyediakan pengawasan dan jasa kepada semua unit yang ada dalam pemerintahan.
Anggaran belanja barang dan jasa merupakan salah satu alat di dalam sistem
pengendalian belanja barang dan jasa dan sekaligus juga merupakan salah satu aspek di
dalam sistem pengendalian pemerintahan.Agar belanja barang dan jasa tersebut dapat
berfungsi dengan baik, maka harus memenuhi kriteria penyusunan dan pelaksanaan
anggaran belanja barang dan jasa yang memadai. Apabila kriteria dapat dipenuhi, maka

akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan belanja barang dan jasa dari
kemungkinan penyimpangan.
2.4.3

Fungsi Anggaran Daerah


Anggaran daerah mempunyai peranan penting dalam sistem keuangan daerah.

Peran anggaran daerah dapat dilihat berdasarkan fungsi utamanya, yaitu :


1. Anggaran berfungsi sebagai alat perencanaan
2. Alat pengendalian
3. Alat kebijakan fiskal
4. Alat politik
5. Alat koordinasi antar unit kerja organisasi dalam pemerintah daerah yang
terlibat dalam proses penyusunan anggaran.
6. Alat evaluasi kinerja.
7. Alat untuk memotivasi manajemen
8. Alat untuk menciptakan ruang publik, dalam arti bahwa proses penyusunan
anggaran harus melibatkan seluas mungkin masyarakat.
2.5

Pengendalian
Fungsi pengendalian (controlling) menurut Simamora (2002:6) merupakan

proses memastikan bahwa hasil sesuai dengan rencana semula. Dalam rangka
menyelenggarakan fungi pengendalian, manajer mengambil langkah penting dalam
rangka memastikan bahwa setiap bagian organisasi mengikuti rencana yang telah
digariskan pada tahap perencanaan. Untuk melakukan hal ini, manajer mencermati
laporan akuntansi dan laporan lainnya, dan kemudian membandingkannya dengan
rencana yang sudah disusun sebelumnya. Laporan akuntansi dan laporan lainnya yang
masuk ke manajemen disebut umpan balik. Umpan balik adalah informasi yang dapat
dipakai untuk mengevaluasi atau mengoreksi tahapan yang diambil untuk menerapkan
sebuah rencana. Dengan umpan balik, seorang manajer (atau karyawan) dapat
mengambil tindakan seperlunya. Umpan balik yang diterima oleh manajemen bisa saja
mengindikasikan adanya kebutuhan untuk merevisi rencana, menyusun strategi baru,
atau menata ulang struktur organisasi. Umpan balik merupakan kunci manajemen yang
efektif setiap organisasi.

Menurut

Usry dan Hammer (1994:5) pengendalian adalah control is managements systematic


effort to achieve objective by comparing performances to plan and taking appropriate
action to correct important differences. Pengendalian merupakan usaha sistematik
perusahaan untuk mencapai tujuan dengan cara membandingkan prestasi kerja dengan
rencana dan membuat tindakan yang tepat untuk mengkoreksi perbedaan yang penting.
9

2.6

Hipotesis Penelitian
Anggaran merupakan alat perencanaan sekaligus alat pengendalian pemerintah.

Anggaran sebagai alat perencanaan mengindikasikan target yang harus dicapai oleh
pemerintah, sedangkan anggaran sebagai alat pengendalian mengindikasikan alokasi
sumber dana publik yang disetujui legislatif untuk dibelanjakan. Melalui data rekening
belanja yang terdapat dalam anggaran belanja daerah, akan dilihat apakah anggaran
yang telah dibuat, dapat berperan sebagai pengendali terhadap pelaksanaan kegiatan
pemerintah. Oleh karena itu dapat dihipotesiskan bahwa :
Ho

: Anggaran tidak berfungsi sebagai alat pengendalian belanja barang dan jasa.

Ha

: Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian belanja barang dan jasa.

2.7 Kerangka Pikir


Anggaran
Pengendalian Belanja Barang dan
Jasa
Berfungsi sebagai
alat pengendalian

Tidak berfungsi
sebagai alat
pengendalian

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
3.2

Obyek Penelitian
Penelitian ini
dilakukan di kantor Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Mamasa
Provinsi Sulawesi Barat.
Metode Penelitian
Metode
penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis yaitu suatu metode yang meneliti
status sekelompok manusia, suatu kondisi, suatu pemikiran ataupun suatu kelas
peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai
lokasi penelitian dan aspek-aspek yang sedang diteliti.Metode ini bertujuan untuk
mengumpulkan, menyajikan, serta menganalisis data yang dapat memberikan gambaran
yang jelas atas obyek yang diteliti, untuk kemudian diproses dan dianalisis umtuk

3.3

mengambil kesimpulan.
Teknik Pengumpulan Data
1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
10

Tujuan penelitian kepustakaan ini adalah mengumpulkan data referensi untuk


melakukan penelitian ini dengan data yang diperoleh dari :
a. Data Primer
Data yang diperoleh langsung dari obyek kerja praktik. Data tersebut
diperoleh dengan cara memantau langsung terhadap kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh Dinas Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari referensi yang relevan dengan masalah yang diteliti
dan dapat digunakan sebagai dasar penunjang dalam menganalisa masalahmasalah yang berkaitan dengan penelitian berupa definisi anggaran,
pengendalian, anggaran belanja barang dan jasa, data anggaran dan realisasi
barang dan jasa, serta prosedur penyusunan anggaran.
2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan adalah peninjauan secara langsung pada objek penelitian
untuk mendapatkan data di lapangan secara nyata. Teknis pengumpulan data
yang dilakukan yaitu :
a. Wawancara (interview)
Penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan wawancara langsung
dengan bagian yang terkait.
b. Pengamatan (observasi)
Penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan langsung
3.4

terhadap anggaran dan realisasi belanja barang dan jasa.


Metode Analisis Data
Pengolahan data menggunakan analisis deskriptif. Dasar penilaiannya yaitu
dengan penyelidikan antara realisasi dengan sasaran yang direncanakan atau
dianggarkan. Dan untuk mengetahui apakah anggaran telah berfungsi sebagai alat
pengendalian dengan melakukan t-test dengan menggunakan alat bantu SPSS 15.00.
Langkah-langkah dalam t-test menurut Riduwan (2005) yaitu :
1. Buatlah Ha dan Ho dalam uraian kalimat.
Ho : Anggaran tidak berfungsi sebagai alat pengendalian.
Ha : Anggaran telah berfungsi sebagai alat pengendalian.
2. Mencari t hitung
x 1x 2
t=
S 1
1
+
n1 n2

11

3.
4.
5.
6.

Keterangan :
X1 = Rataan nilai anggaran belanja
X 2= Rataan nilai realisasi anggaran belanja
n1 = Jumlah laporan anggaran belanja
n2 = Jumlah laporan realisasi belanja
X1 = Anggaran Belanja
X2 = Realisasi anggaran Belanja
S1 = Simpangan baku X1 (Anggaran Belanja)
S2 = Simpangan baku X2 (realisasi belanja)
Tentukan terlebih dahulu taraf signifikan ( ) kemudian dicari
t tabel dengan ketentuan db = n-1. Taraf nyata yang digunakan yaitu
= 5%
Tentukan kriteria pengujian.
Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Bandingkan antara t hitung dengan t tabel dan gambarlah posisinya.
Buatlah kesimpulan

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.1
1.1.1

Hasil Penelitian
Anggaran Belanja Barang dan Jasa Sekretariat Daerah
Menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, Belanja barang dan jasa

digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya


kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program.
Belanja barang dan jasa bersifat rutin karena terjadi terus-menerus. Belanja barang dan
jasa mencakup :
1. Penyediaan jasa surat menyurat
2. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik
3. Penyediaan jasa jaminan pemeliharaan kesehatan PNS
4. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas operasional
5. Penyediaan jasa administrasi keuangan
6. Penyediaan jasa kebersihan kantor
7. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja
8. Penyediaan alat tulis kantor
9. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan
10. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor
11. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor
12. Penyediaan peralatan rumah tangga
13. Penyediaan bahan bacaan dan peralihan perundang-undangan
14. Penyediaan makanan dan minuman
15. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah
16. Penyediaan jasa pendukung administrasi dan teknis perkantoran

12

17. Rapat-rapat koordinasi dan kolsultasi antar instansi


18. Koordinasi penyusunan pertimbangan kebijakan daerah
5.2
KegiatanID
1
1

Analisis Deskriptif
Anggaran dan Realisasi Belanja Barang dan Jasa 2009
Nama Kegiatan
2
Penyediaan Jasa Surat Menyurat

Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumber Daya Air dan Listrik

Penyediaan Jasa Jaminan Pemeliharaan Kesehatan PNS

Penyediaan Jasa Administrasi Keuangan

Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor

Penyediaan Jasa Perbaikan Peralatan Kerja

Penyediaan Alat Tulis Kantor

Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan

Penyediaan Komponen Instalasi Listrik/Penerangan Bangunan Kantor

10

Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan Kantor

11

Penyediaan Peralatan Rumah Tangga

12

Penyediaan Bahan Bacaan dan Peralihan Perundang-Undangan

13

Penyediaan Makanan dan Minuman

14

Rapat-Rapat Koordinasi dan Konsultasi Ke Luar Daerah

15

Penyediaan Jasa Pendukung Adminsitrasi Perkantoran/Teknis Perkantoran

16

Rapat-Rapat Koordinasi dan Konsultasi antar Instansi

17

Koordinasi Penyusunan Pertimbangan Kebijakan Daerah

18

Penyediaan Jasa Pemeliharaan dan Perizinan Kendaraan Dinas/Operasional


Jumlah

13

Anggaran
3
64.120.000,00
462,00
0,000.00
190,91
0,000.00
73,45
3,500.00
163,40
0,000.00
42,50
0,000.00
629,04
0,671.00
355,20
0,000.00
283,00
0,000.00
233,80
0,000.00
441,22
2,000.00
691,53
2,500.00
5,807,89
1,650.00
3,270,05
0,000.00
644,40
0,000.00
453,33
0,000.00
376,850
,000.00
948,40
9,091.00
15,131,094,412.00

Realisasi
4
64,120,000.
468,591,69
0
189,410,00
0
73,453,50
0
163,400,00
0
42,500,00
0
629,023,60
0
355,200,00
0
282,990,37
0
232,775,00
0
189,928,00
0
692,247,74
0
5,840,569,25
0
3,129,681,50
0
644,400,00
0
429,015,00
0
369,765,00
0
945,002,00
0
14,742,072,659.

Secara keseluruhan anggaran belanja barang dan jasa sekretariat daerah tahun 2009
sebesar Rp. 15.131.094.412 sedangkan realisasinya sebesar Rp. 14.742.072.659. Jadi
anggaran terealisasi sebesar 97,8 %.
1. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik sebesar Rp. 462.000.000
sedangkan realisasinya sebesar Rp. 468.591.690, disini terlihat terjadi pelampuan
anggaran sebesar Rp. 6.591.690 atau sebesar - 1,43 %. Hal ini disebabkan adanya
pemakaian lebih yang tidak dapat diperhitungkan secara tetap.
2. Penyediaan jasa jaminan pemeliharaan kesehatan PNS sebesar Rp. 190.910.000
sedangkan realisasinya Rp. 189.410.000, disini terlihat adanya sisa anggaran sebesar
Rp. 1.500.000 atau sebesar 0,78 % dapat disimpulkan bahwa anggaran yang tersedia
sudah terealisasi sesuai dengan kebutuhan.
3. Penyediaan alat tulis kantor sebesar Rp. 629.040.671 sedangkan realisasinya Rp.
629.023.600, disini terlihat adanya sisa anggaran sebesar Rp. 17.071 atau 0,003 %
dapat disimpulkan bahwa anggaran yang tersedia sudah terealisasi sesuai kebutuhan.
4. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor sebesar Rp.
283.000.000 sedangkan realisasinya sebesar Rp. 282.990.370, disini terlihat ada sisa
anggaran sebesar Rp. 9.630 atau sebesar 0,003 % dapat disimpulkan bahwa anggaran
direalisasikan sesuai dengan kebutuhan.
5. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor sebesar Rp. 233.800.000 sedangkan
realisasinya sebesar Rp. 232.775.000, disini terlihat ada sisa anggaran sebesar Rp.
1.025.000 atau sebesar 0,44 % dapat disimpulkan bahwa anggaran direalisasikan
sesuai dengan kebutuhan.
6. Penyediaan peralatan rumah tangga sebesar Rp. 441.222.000 sedangkan realisasinya
sebesar Rp. 189.928.000, disini terlihat ada sisa anggaran sebesar Rp. 251.294.000
atau sebesar 56,9 %. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya peralatan yang
masih layak pakai serta dilakukannya penghematan untuk menyeimbangkan biayabiaya yang realisasinya lebih besar dari yang dianggarkan.
7. Penyediaan bahan bacaan dan peralihan perundang-undangan sebesar Rp.
691.532.500 sedangkan realisasinya Rp. 692.247.749, disini terlihat terjadi
pelampuan anggaran sebesar Rp. 715.249 atau sebesar 0,10 %. Hal ini disebabkan
adanya kelebihan penyediaan tidak sesuai dengan kebutuhan.
8. Penyediaan makanan dan minuman sebesar Rp. 5.807.891.650 sedangkan
realisasinya sebesar Rp. 5.840.569.250, disini terlihat terjadi pelampuan anggaran
sebesar Rp. 32.677.600 atau sebesar -0,56 %. Hal ini disebabkan adanya kegiatan
yang tidak diduga yang membutuhkan penyediaan konsumsi.
9. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah sebesar Rp. 3.270.050.000
sedangkan realisasinya sebesar Rp. 3.129.681.500, disini terlihat adanya sisa
anggaran sebesar Rp. 140.368.500 atau sebesar 4,3 %. Hal ini disebabkan adanya
penghematan untuk menyeimbangkan biaya-biaya yang realisasinya lebih besar dari
yang dianggarkan
10. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi antar instansi sebesar Rp. 453.330.000
sedangkan realisasinya sebesar Rp. 429.015.000, disini terlihat adanya sisa anggaran
sebesar Rp. 24.315.000 atau sebesar 5,36 %. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan
waktu dari periode anggaran sehingga dana tidak terealisasi penuh.
14

11. Koordinasi penyusunan pertimbangan kebijakan daerah sebesar Rp. 376.850.000


sedangkan realisasinya sebesar Rp. 369.765.000, disini terlihat adanya sisa anggaran
sebesar Rp. 7.085.000 atau sebesar 1,8 %
12. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional sebesar Rp.
948.409.091 sedangkan realisasinya sebesar Rp. 945.002.000, disini terlihat adanya
sisa anggaran sebesar Rp. 3.407.091 atau sebesar 0,35 % dapat disimpulkan bahwa
anggaran terealisasi sesuai dengan kebutuhan.
5.3 T-Test Anggaran
Untuk selanjutnya dalam menilai anggaran sebagai alat pengendalian belanja barang
dan jasa pada Sekretariat Daerah dapat dilakukan pengujian hipotesis untuk mengukur
apakah penyimpangan anggaran terhadap realisasinya masih dalam batas pengendalian. Ttest

Test Value = 0

H
HPenyimpa

Df

Lower
-,294

Upper
1

Mean
Difference

Sig. (2-tailed)
Lower
,818

Upper
-,32500

ng an
N
Penyimpangan

95% Confidence Interval


of the Difference

Lower
-14,3654

Mean

Std. Deviation

Std. Error
Mean

-,3250

1,56271

1,10500

Upper
13,7154

menggunakan

data

penyimpangan anggaran dan

realisasinya pada tahun 2009. T-test dilaksanakan dengan bantuan SPSS 15.00.
1.

One-Sample Statistics

One-Sample Test

Hasil t-test yang dilakukan pada penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik dan
penyediaan jasa jaminan pemeliharaan kesehatan PNS diperoleh t hitung sebesar 0,294 dan t tabel
sebesar 12,706 dengan nilai tarif nyata (a) 5 % dan derajat kebebasan 1. Sehingga hipotesis Ho yang
menyatakan penyimpangan yang terjadi masih dalam batas pengendalian.
15

2.

One-Sample Statistics

N
Penyimpangan

Mean

Std. Deviation

Std. Error
Mean

-,3250

1,56271

1,10500

One-Sample Test
Test Value = 0
t

df

Lower
Penyimpang
an

Upper

-,294

Mean
Difference

Sig. (2-tailed)
Lower

Upper

,818

95% Confidence Interval


of the Difference

Lower

-,32500

Upper

-14,3654

13,7154

Hasil t-test yang dilakukan pada penyediaan alat tulis kantor dan penyediaan komponen instalasi
listrik/ penerangan bangunan kantor diperoleh t hitung sebesar 0,294 dan t tabel sebesar 12,706
dengan nilai tarif nyata (a) 5 % dan derajat kebebasan 1. Sehingga hipotesis Ho yang menyatakan
penyimpangan yang terjadi masih dalam batas pengendalian.
3.

One-Sample Statistics
N
Penyimpangan

Mean

Std. Deviation

Std. Error
Mean

,5000

,08485

,06000

One-Sample Test
Test Value = 0
t

df

Lower
penyimpanga
n

Upper

8,333

Mean
Difference

Sig. (2-tailed)
Lower

Upper

,076

95% Confidence Interval


of the Difference

Lower

,50000

-,2624

Upper
1,2624

Hasil t-test yang dilakukan pada penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor dan penyediaan
peralatan rumah tangga diperoleh t hitung sebesar 8,333 dan t tabel sebesar 12,706 dengan nilai tarif
nyata (a) 5 % dan derajat kebebasan 1. Sehingga hipotesis Ho yang menyatakan penyimpangan
yang terjadi masih dalam batas pengendalian.
4. One-Sample Statistics
N
Penyimpangan

Mean

Std. Deviation

Std. Error
Mean

-,3300

,32527

,23000

16

One-Sample Test
Test Value = 0
t

Penyimpangan

Df

Lower
-1,435

Mean
Difference

Sig. (2-tailed)

Upper
1

Lower
,388

Upper
-,33000

95% Confidence Interval


of the Difference

Lower
Upper
-3,2524
2,5924

Hasil t-test yang dilakukan pada penyediaan bahan bacaan dan peralihan perundang-undangan dan
penyediaan makanan dan minuman diperoleh t hitung sebesar -1,435 dan t tabel sebesar 12,706
dengan nilai tarif nyata (a) 5 % dan derajat kebebasan 1. Sehingga hipotesis Ho yang menyatakan
penyimpangan yang terjadi masih dalam batas pengendalian.
5. One-Sample Statistics
N
Penyimpangan

Mean

Std. Deviation

Std. Error
Mean

4,8300

,74953

,53000

One-Sample Test
Test Value = 0
t

df

Lower
Penyimpang
an

Upper

9,113

Mean
Difference

Sig. (2-tailed)

Lower

Upper

,070

95% Confidence Interval


of the Difference

Lower

4,83000

Upper

-1,9043

11,5643

hasil t-test yang dilakukan pada rapat-rapat koordinasi dan kolsultasi keluar daerah dan rapat-rapat
koordinasi dan kolsultasi antar instansi diperoleh t hitung sebesar 9,113 dan t tabel sebesar 12,706
dengan nilai tarif nyata (a) 5 % dan derajat kebebasan 1. Sehingga hipotesis Ho yang menyatakan
penyimpangan yang terjadi masih dalam batas pengendalian.
6. One-Sample Statistics
N
Penyimpangan

Mean

Std. Deviation

Std. Error
Mean

1,0750

1,02530

,72500

One-Sample Test
Test Value = 0
T

Penyimpangan

Lower
1,483

Df
Upper
1

Sig. (2-tailed)
Lower
,378

Mean
Difference

95% Confidence Interval


of the Difference

Upper
Lower
Upper
1,07500
-8,1370
10,2870

17

Hasil t-test yang dilakukan pada koordinasi penyusunan pertimbangan kebijakan daerah dan
penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional diperoleh t hitung sebesar
1,483 dan t tabel sebesar 12,706 dengan nilai tarif nyata (a) 5 % dan derajat kebebasan 1. Sehingga
hipotesis Ho yang menyatakan penyimpangan yang terjadi masih dalam batas pengendalian.
Selanjutnya dilakukan t-test untuk keseluruhan anggaran dan realisasinya pada tahun 2009 dan
didapatkan hasil sebagai berikut :
N
Penyimpangan

1
2

Mean

Std. Deviation

Std. Error
Mean

5,6547

16,25833

4,69338

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

5,6547

16,25833

4,69338

One-Sample Test

N
Penyimpangan

1
2

Test Value = 0

Df

Sig. (2-tailed)

Mean
Difference

95% Confidence Interval


of the Difference

Lower
penyimpang
an

1,205

11

,254

5,65467

-4,6754

Upper
15,9847

Hasil t-test pada penyimpangan anggaran belanja barang dan jasa tahun 2009 diperoleh t hitung
sebesar 1,025 dan t tabel sebesar 1,782 dengan nilai tarif nyata (a) 5 % dan derajat kebebasan 11.
Sehingga hipotesis Ho yang menyatakan penyimpangan yang terjadi antara anggaran dengan
realisasinya masih dalam batas pengendalian yang dapat diterima karena Ho diterima = t tabel
(1,782) > t hitung (1,025). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa anggaran telah berfungsi
sebagai alat pengendalian belanja barang dan jasa pada Sekretariat Daerah Kabupaten Mamasa.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis menyimpulkan dan memberi
saran-saran didasarkan dengan keterbatasan penulis, sehingga saran-saran yang
dikemukakan sejauh ini jauh dari sempurna. Walaupun demikian, diharapkan dapat
bermanfaat bagi pemerintahan ataupun pihak-pihak yang berkepentingan. Adapun
kesimpulan sebagai berikut :

18

1. Anggaran telah berfungsi sebagai alat pengendalian belanja barang dan jasa pada tahun
2009. Hal ini dilihat dari hasil analisis yang menunjukkan penyimpangan anggaran
masih dalam batas pengendalian yang dapat diterima.
2. Anggaran telah digunakan sebagai pedoman kerja, perencanaan dan pengawasan kerja
sehingga dihasilkan anggaran yang efektif, efisien dan ekonomis.
6.2 Saran
Saran sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam pemerintahan adalah
sebagai berikut :
1. Realisasi anggaran belanja harus dicatat dengan jelas serta dianalisis agar dapat diketahui
ada tidaknya penyimpangan yang terjadi.
2. Sekretariat daerah harus melakukan usaha untuk menekan penyimpanganpenyimpangan
yang terjadi pada kegiatan-kegiatan anggaran belanja.
Usaha tersebut dapat dilakukan dengan menetapkan angka anggaran dan menekankan pada
angka realisasi sesuai dengan kebutuhan.
3. Anggaran yang telah terealisasi sesuai dengan kebutuhan tetap dipertahankan.

19

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim. 2002. Akuntansi Keuangan Daerah, Jakarta: Salemba Empat
endrisanopaka.files.wordpress.com/.../penganggaran-sektor-publik-pengertian-anggaranpertemuan-3.ppt

Fuad M. Dkk. 2000. Pengantar Bisnis. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Gunawan didik. 2005. Manfaat Anggaran Penjualan Tiket Kereta Api Sebagai Alat Bantu
Manajemen Dalam Menunjang Efektivitas Pengendalian Penjualan. Universitas
Widyatama.
Harahap, Sofyan Safri. 2001 Budgeting Penganggaran: Perencanaan Lengkap Untuk
Membantu Manajemen. Edisi 1, cetakan kedua, Buku 1, Jakarta:PT.
Indah
Karya
(Persero) RajaGrafindo Persada
Kurniawan, Albert. 2009. Belajar Mudah SPSS Untuk Pemula. Yogyakarta: PT. Mediakom.
Mardiasmo. 2002. Elaborasi Reformasi Akuntansi Sektor Publik: Telaah Kritis
Terhadap upayaAktualisasi Kebutuhan Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah.
JAAI, Vol. 6, Yogyakarta, Juni 2002
Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat, dan Rekayasa. Edisi
Jakarta: Salemba Empat

Ketiga.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005, tentang Standar Akuntansi Pemerintah


Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007, tentang Perubahan atas
Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2009, tentang Pedoman Penyusunan
Robert N Anthony, Vijay Govindarajan. 2002.
Jakarta: Salemba Empat

Management Control System. Buku 2.

Simamora, Henry. 2002. Akuntansi Manajamen. Jakarta: Gramedia.

20

Silitonga, Risman Parulian. 2006. Tinjauan Atas Pengendalian Anggaran Biaya


Administrasi dan Umum pada PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero)
Bandung. Universitas Widyatama
wapedia.mobi/id/Anggaran_Sektor_Publik
Lampiran :

Kegiat
anID
1

Nama kegiatan 2

Anggaran 3

Realisasi 4

saldo 5 (3-4)

Persenta
se 6

18.503.000,00

2.178.000,00

16.325.000,00

11,77%

213.600.000,00

128.700.000,00

84.900.000,00

60,25%

Penyediaan Jasa surat menyurat

Penyediaan Jasa komunikasi, sumber


daya air dan Listrik

Penyediaan Jasa administrasi keuangan

79.500.000,00

29.700.000,00

49.800.000,00

37,36%

Penyediaan Jasa kebersihan kantor

88.200.000,00

59.000.000,00

29.200.000,00

66,89%

5
6

17.500.000,00
465.055.936,49

17.500.000,00
266.005.936,00

0,00
199.050.000,49

100%
57,20%

212.750.000,00

93.250.000,00

119.500.000,00

43,83%

Penyediaan Jasa perbaikan peralatan kerja


Penyediaan alat tulis kantor
Penyediaan barang cetakan dan
penggandaan
Penyediaan komponen instalasi
listrik/penerangan bangunan kantor

177.100.000,00

231.600.000,00

54.500.000,00

130,77
%

Penyediaan peralatan dan perlengkapan


kantor

409.142.000,00

408.451.000,00

691.000,00

99,83%

10

Penyediaan peralatan rumah tangga

74.580.000,00

74.465.000,00

115.000,00

99,85%

11

Penyediaan bahan bacaan dan peralihan


perundangundangan

100.000.000,00

99.700.000,00

300.000,00

99,70%

3.345.000.000,00

3.224.920.000,00

120.080.000,00

96,41%

2.175.000.000,00

1.359.800.000,00

815.200.000,00

62,52%

674.400.000,00

674.400.000,00

0,00

100%

35.000.000,00

35.000.000,00

0,00

100%

12

14

Penyediaan makanan dan minuman


Rapatrapat koordinasi dan konsultasi ke
luar daerah
Penyediaan Jasa Pendukung
Adminsitrasi/Teknis Perkantoran

15

Penyediaan Jasa Jarkompusda

16

RapatRapat Koordinasi dan Konsultasi


Antar Instansi

575.880.000,00

575.880.000,00

0,00

100%

17

RapatRapat Koordinasi dan Konsultasi


Pemerintahan

94.667.500,00

94.667.500,00

0,00

100%

8.755.878.436,49

7.375.217.436,00

1,380,662,000,49

13

Jumlah

21

Tabel t (Pada taraf signifikan 0,05) 1 sisi (0,05) dan 2 sisi (0,025)

Df
1 12.076
2 4.303
3 3.182
4 2.776
5 2.571
6 2.447
7 2.365
8 2.306
9 2.262
10 2.228
11 2.201
12 2.179
13 2.160
14 2.145
15 2.131
16 2.120
17 2.11o
18 2.101
19 2.093
20 2.093
21 2.080
22 2.974
23 2.069
24 2.064
25 2.060
26 2.056
27 2.052
28 2.048
29 2.045
30 2.042
31 2.040
32 2.037
33 2.035
34 2.032
35 2.030
36 2.028
37 2.060
38 2.024
39 2.023
40 2.021
41 2.020
42 2.018
43 2.017
44 2.015
45 2.014

Si gn i fik a n si
0.0 2 5
0.05

Df
6.314 46
2.920 47
2.353 48
2.132 49
2.015 50
1.943 51
1.895 52
1.860 53
1.833 54
1.812 55
1.796 56
1.782 57
1.771 58
1.761 59
1.753 60
1.746 61
1.740 62
1.743 63
1.729 64
1.725 65
1.721 66
1.717 67
1.714 68
1.711 69
1.708 70
1.706 71
1.703 72
1.701 73
1.699 74
1.697 75
1.696 76
1.694 77
1.692 78
1.691 79
1.690 80
1.688 81
1.687 82
1.686 83
1.685 84
1.684 85
1.683 86
1.682 87
1.681 88
1.680 89
1.679 90

22

S ig ni fi kan si
0.025
0.05
2.013
1 .6 7 9
2.012
1 .6 7 8
2.011
1 .6 7 7
2.010
1 .6 7 7
2.009
1 .6 7 6
2.008
1 .6 7 5
2.007
1 .6 7 5
2.006
1 .6 7 4
2.005
1 .6 7 4
2.004
1 .6 7 3
2.003
1 .6 7 3
2.002
1 .6 7 2
2.002
1 .6 7 2
2.001
1 .6 7 1
2.000
1 .6 7 1
2.000
1 .6 7 0
1.999
1 .6 7 0
1.998
1 .6 6 9
1.998
1 .6 6 9
1.997
1 .6 6 9
1.997
1 .6 6 8
1.996
1 .6 6 8
1.995
1 .6 6 8
1.995
1 .6 6 7
1.994
1 .6 6 7
1.994
1 .6 6 7
1.993
1 .6 6 6
1.993
1 .6 6 6
1.993
1 .6 6 6
1.992
1 .6 6 5
1.992
1 .6 6 5
1.991
1 .6 6 5
1.991
1 .6 6 5
1.990
1 .6 6 4
1.990
1 .6 6 4
1.990
1 .6 6 4
1.989
1 .6 6 4
1.989
1 .6 6 3
1.989
1 .6 6 3
1.988
1 .6 6 3
1.988
1 .6 6 3
1.988
1 .6 6 3
1.987
1 .6 6 2
1.987
1 .6 6 2
1.987
1 .6 6 2

Anda mungkin juga menyukai