Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA II

LARUTAN

NAMA

: BENA HUMAIRA

NPM

: 260110140020

HARI/TANGGAL PRAKTIKUM

: SENIN, 23 MARET 2015

ASISTEN

: 1. ANUGRAH RAHMAWAN
2. FERSTY ANDINI

LABORATORIUM FARMASI FISIKA


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015

ABSTRAK
Kelarutan merupakan kemampuan suatu zat kimia tertentu
dimana adanya zat terlarut (solute) untuk larut dalam suatu
pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum
zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut saat setimbang. Pada
percobaan ini dilakukan penentuan kadar kelarutan terhadap
asam salisilat dan asam benzoat dengan beberapa pelarut
campur yaitu etanol, air, gliserin dan propilenglikol. Dalam
percobaan, asam salisilat memiliki kelarutan 2,98 gr/ml, 2,30
gr/mL, 4,13 gr/mL, dan 4,61 gr/mL. Asam benzoat memiliki
kelarutan 4,16 gr/mL, 5,44 gr/mL, 4,42 gr/mL, 4,25 gr/mL. Dari
hasil percobaan disimpulkan bahwa pelarut campur memiliki
pengaruh

terhadap

kelarutan

berdasarkan

kepolaran

dan

konstanta dielektriknya.
Kata kunci: Kelarutan, Etanol, Gliserin, Propilenglikol, Asam
Salisilat, Asam Benzoat

ABSTRACT
Solubility is the ability of a particular chemical substance in
which the presence of dissolved substances (solutes) to dissolve
in a solvent (solvent). The solubility is expressed in the maximum
amount of solute dissolved in a solvent while equilibrium. In this
experiment is the determination of the solubility levels of salicylic
acid and benzoic acid with some mixed solvent is ethanol, water,
glycerin and propilenglikol. In the experiment, salicylic acid has a
solubility of 2.98 g / ml, 2.30 g / mL, 4.13 g / mL, and 4.61 g / mL.
Benzoic acid has a solubility of 4.16 g / mL, 5.44 g / mL, 4.42 g /
mL, 4.25 g / mL. From the experimental results concluded that
the mixed solvents having an influence on the solubility based on
polarity and dielectric constant.
Keywords: Solubility, Ethanol, Glycerin, Prophylenglycol,
Salicylic Acid, Benzoic Acid

I. Tujuan
1. Membuat larutan Natrium Hidroksida (NaOH) yang
dibakukan dengan larutan asam oksalat (H2C204) dengan
indikator fenolftalein
2. Membuat pelarut campurr dari etanol, air, gliserin, dan
propilenglikol
3. Membuat kelarutan asam benzoat dan asam salisilat dari
berbagai macam pelarut campur
4. Membuat grafik hubungan konsentrasi dengan presentase
campuran pelarut
II. Prinsip
1. Asas Le Chatelier
Bila pada sistem kesetimbangan diadakan aksi, maka
sistem akan mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga
pengaruh aksi itu menjadi sekecil-kecilnya (Ratna, 2009).
2. Kelarutan
Kelarutan digunakan untuk menyatakan jumlah maksimal
zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu larutan
(Suyatno,2006).
3. Titrasi Asam-Basa
Titrasi merupakan salah satu metode untuk menentukan
konsentrasi suatu larutan dengan cara mereaksikan
sejumlah volume larutan tersebut terhadap sejumlah
volume larutan lain yang konsentrasinya sudah diketahui.
Titrasi yang melibatkan reaksi asam basa disebut titrasi
asam basa (Muchtaridi, 2007).
4. Like Dissolve Like
Suatu senyawa akan larut pada senyawa yang mempunyai
struktur kimia yang sama. Polar dengan polar dan non
polar dengan non polar (Arsyad, 2011).
5. Reaksi Netralisasi

Reaksi yang terjadi dengan pembentukan garam dan H20


netral (pH=7) hasil reaksi antara H+ dari suatu asam dan
OH- dari suatu basa (Sumardjo, 2006).
6. Pengenceran
Prosedur untuk penyiapan larutan yang kurang pekat dari
larutan yang lebih pekat disebut pengenceran. Dalam
melakukan proses pengenceran, perlu diingat bahwa
penambahan lebih banyak ke dalam sejumlah tertentu
larutan stok akan mengubah (mengurangi) konsentrasi
larutan tanpa mengubah jumlah mol zat terlarut dalam
larutan (Chang, 2005).
7. Stoikiometri
Stoikiometri reaksi adalah penentuan pembandingan
massa unsur-unsur dalam senyawa dalam pembentukan
senyawanya (Alfian, 2009).
III.Reaksi
2NaOH + H2C2O4 Na2C2O4 + H2O (Vogel,1990)
IV.Teori Dasar
Kelarutan merupakan kemampuan suatu zat kimia tertentu
dimana adanya zat terlarut (solute) untuk larut dalam suatu
pelarut (solvent). Pelarut umumnya merupakan suatu cairan
dapat

berupa

zat

murni

ataupun

campuran.

Kelarutan

dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut


dalam suatu pelarut saat setimbang. Zat-zat tertentu dapat
larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut
(Vogel,1990).
Kelarutan didefenisikan dalam besaran kuantitatif sebagai
konsentrasi zatterlarut dalam larutan jenuh pada temperatur
tertentu, dan secara kualitatif didefenisikan sebagai interaksi
spontan dari dua atau lebih zat untuk membentukdispersi
molekuler homogen. Larutan dinyatakan dalam mili liter
pelarut yang dapat melarutkan satu gram zat. Misalnya 1
gram asam salisilat akan larut dalam 500 mL air. Kelarutan

dapat pula dinyatakan dalam satuan molalitas, molaritas


dan persen(Genaro, 1990).
Larutan merupakan campuran yang bersifat homogen antara
molekul, atom atau ion yang terdiri dari dua zat atau
lebih,serba sama,tidak ada batang batas antara zat pelarut
dengan terlarut (tidak dapat dibedakan secara langsung
antara zat pelarut dengan zat terlarut. Partikel-partikel
penyusunnya berukuran sama. Sedangkan larutan sejati
adalah suatu campuran dari dua atau lebih. Komponen
membentuk suatu dispersi molekul homogen yaitu sistem
satu fase, dimana komposisinya dapat bervariasi dengan luas
(Keenan, 1980).
Ada dua jenis campuran yaitu campuran heterogen yang
dapat dipisahkan secara mekanisme. Atas dasar ini, larutan
didefenisikan sebagai campuran homogen antara dua atau
lebih zat.
Larutan tak
mengandung

jenuh
zat

merupakan

terlarut

dalam

suatu

larutan

konsentrasi

yang

dibawah

konsentrasi yang dibutuhkan. Atau larutan yang partikelpartikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi.
Larutan tak jenuh terjadi jika hasil kali konsentrasi ion < Ksp
berarti larutan masih belum jenuh (masih dapat larut)
(Martin, 1980).
Larutan jenuh merupakan suatu larutan yang mengandung
zat

terlarut

sebanyak

yang

diperlukan

untuk

mempertahankan keseimbangan antara zat terlarut dalam


larutan dan zat terlarut yang tidak larut. Serta larutan yang
zatnya berada dalam kesetimbangan dengan fase padat (zat
terlarut). Dimana larutan yang partikel-partikelnya tepat
habis bereaksi dengan pereaksi (zat dengan konsentrasi

normal). Terjadi apabila hasil konsentrasi ion = Ksp larutan


tepat jenuh.
Larutan lewat jenuh merupakan larutan yang mengandung
zat

terlarut

dalam

konsentrasi

lebih

banyak

daripada

seharusnya. Atau larutan yang tidak dapat lagi melarutkan


zat terlarut sehingga terjadi endapan. Terjadi apabila hasil kali
konsentrasi

ion

>Ksp

berarti

larutan

lewat

jenuh

(mengendap).
Dalam larutan fase cair,pelarutnya solvent adalah cairan,
danzat yang terlarut di dalamnya disebut zat terlarute
(solute)

bisa

berwujud

padat,

cair

atau

gas.

Dengan

demikian, larutan = pelarut (solvent) + zat terlarut (solute).


Khusus untuk larutan cair, maka pelarutnya adalah volume
terbesar (Martin, 1990).
Terdapat 2 reaksi dalam larutan, yaitu:
1. Eksoterm yaitu proses melepaskan panas dari sistem ke
lingkungan. Dimana temperatur dari campuran reaksi akan
naik

dan

energi

potensial

dari

zat-zat

kimia

yang

bersangkutan akan turun.


2. Endoterm yaitu proses menyerap panas dari lingkungan ke
sistem. Dimana temperatur dari campuran reaksi akan
turun dan energi potensial dari zat-zat kimia yang
bersangkutan akan naik (Juliantara,2009).
Ada beberapa kemungkinan bila dua atau lebih zat yang tidak
bereaksi dicampur, campuran yang terjadi:
1. Campuran kasar
2. Dispersi koloid
3. Larutan sejati
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah
1.
2.
3.
4.
5.

pH
Temperatur
Jenis pelarut
Bentuk dan ukuran
Konstanta dielektrit pelarut

6. Adanya zat-zat lain, misal surfaktan pembentuk kompleks


ion sejenis dan lain-lain
Kelarutan bergantung pada 4 faktor, diantaranya:
1.
2.
3.
4.

Sifat alami pelarut


Sifat alami zat terlarut
Suhu
Zat tambahan

(Juliantara, 2009).

Kelarutan didefinisikan sebagai jumlah maksimum suatu zat


yang dapat larut dalam sejumlah pelarut dalam temperatur
tertentu. Kelarutan atau solubility dilambangkan dengan s.
Berdasarkan

kemampuan

menghantar

listrik,

larutan

dibedakan menjadi larutan elektrolit (mampu menghantarkan


listrik) dan non elektrolit.
Sifat
larutan
Penurunan

koligatif Larutan elektrolit


o

P = P . x

Larutan
elektrolit
P = Po . x

tekanan uap (P)


Penurunan
titik Tf = m . Kf . i

Tf = m . Kf

beku (Tf)
Penaikan

Tb = m . Kb

titik Tb = m . Kb . i

didih (Tb)
Tekanan osmotik = m . R . T . i

= m . R. T

()
(Indria, 2009).
V.

Alat dan Bahan


V.1
Alat
V.1.1 Biuret
V.1.2 Gelas kimia
V.1.3 Gelas ukur
V.1.4 Kertas saring
V.1.5 Labu ukur
V.1.6 Pipet ukur
V.2
Bahan
V.2.1 Air
V.2.2 Asam Benzoat
V.2.3 Asam Oksalat

non

V.2.4 Asam Salisilat


V.2.5 Etanol 90%
V.2.6 Fenolftalein
V.2.7 Gliserin
V.2.8 Natrium Hidroksida
V.2.9 Propilenglikol
V.3
Gambar alat

VI.

Prosedur Percobaan
Alat dan bahan disiapkan. Lalu, larutan NaOH 0,1 N dibuat
dengan 2 gram NaOH pellet ditimbang dengan neraca
digital. Setelah itu, NaOH pellet tersebut dilarutkan 500mL
aquadest bebas karbonat. Larutan NaOH dibakukan dengan
asam oksalat 0,1 N. Pembakuan dilakukan dengan indikator
fenolftalein dan dilakukan triplo.
Pelarut campur yaitu pelarut 1 terdiri dari 4 mL etanol dan
16 mL air, pelarut 2 terdiri dari 5 mL etanol dan 15 mL air,
pelarut 3 terdiri dari 4 mL etanol, 14 mL air, dan 2 mL
gliserin, pelarut 4 terdiri dari 4 mL etanol, 14 mL air dan 2
mL propilenglikol. Masing-masing dibuat dua kali untuk
perhitungan diplo. Setiap 20 mL dibagi dua sama banyak,

yang satu untuk dilarutkan dengan asam benzoat dan yang


kedua dilarutkan dengan asam salisilat.
Setiap larutan dititrasi diplo dengan NaOH yang telah
dibakukan. Setiap data yang didapat, dicatat dan dihitung
kelarutannya. Data kelarutan yang diperoleh, dibuat grafik
hubungan (plot) konsentrasi dengan presentase campuran
pelarut.
VII.

Data Pengamatan dan perhitungan


7.1.
Pembakuan NaOH
Perhitungan NaOH:
N=

g
Mr
2 gr
40

1000
V

1000
500 mL

= 0,1N
Pembakuan NaOH dengan asam oksalat
1. NNaOH
NNaOH
NNaOH
2. NNaOH
NNaOH
NNaOH
3. NNaOH
NNaOH
NNaOH
7.2.

x VNaOH
x 13

= Nasamoksalat x Vasamoksalat
=2x1
= 0,15 N
= Nasamoksalat x Vasamoksalat
=2x1
= 0,13 N
= Nasamoksalat x Vasamoksalat
=2x1
= 0,12 N

x VNaOH
x 14,8
x VNaOH
x 15,5

Pembuatan Pelarut Campur

Bahan Uji

Asam
Benzoat/As
am Salisilat

No.

Volume (mL)
Gliseri Propilengli
Air
n
kol

Pelarut

Etanol

16

15

14

14

7.3.
Penentuan Kelarutan
7.3.1 Asam Salisilat
Pelarut
Campu
r

Volum

Volume NaOH
(mL)

e
Sampe
l (mL)

Rata
1

1
10
1,7
2
10
1,2
3
10
2,3
4
10
2,5
7.3.2 Asam Benzoat
Pelarut
Campu
r

Volum

l (mL)

1
2
3
4

10
10
10
10

1,5
1,2
2
2,3

Volume NaOH
(mL)

e
Sampe

Kelarutan (gr/mL)

1
3,27
2,30
4,42
4,81

2,69
2,30
3,84
4,42

rata
2,98
2,30
4,13
4,61

Kelarutan (gr/mL)
Rata

1
2,6
3,3
2,5
2,4

2
2,3
3,1
2,7
2,6

1
4,42
5,61
4,25
4,08

3,91
5,27
4,59
4,42

rata
4,16
5.44
4,42
4,25

7.4 Perhitungan
( Vol NaOH x N ) x BE sampel
Kelarutan =
Vol sampel
Asam Salisilat:
Salisilat dengan pelarut 1.1 =

( 1,7 x 0,1393 ) x 138,12



10

= 3,27

( 1,5 x 0,1393 ) x 138,12



10

= 2,69

gr/mL
Salisilat dengan pelarut 1.2 =
gr/mL

Salisilat dengan pelarut 2.1 =

( 1,2 x 0,1393 ) x 138,12



10

= 2,30

( 1,2 x 0,1393 ) x 138,12



10

= 2,30

( 2,3 x 0,1393 ) x 138,12



10

= 4,42

( 2,0 x 0,1393 ) x 138,12



10

= 3,84

( 2,5 x 0,1393 ) x 138,12



10

= 4,81

( 2,3 x 0,1393 ) x 138,12



10

= 4,42

( 2,6 x 0,1393 ) x 122,12



10

= 4,42

( 2,3 x 0,1393 ) x 122,12



10

= 3,91

gr/mL
Salisilat dengan pelarut 2.2 =
gr/mL
Salisilat dengan pelarut 3.1 =
gr/mL
Salisilat dengan pelarut 3.2 =
gr/mL
Salisilat dengan pelarut 4.1 =
gr/mL
Salisilat dengan pelarut 4.2 =
gr/mK
Asam Benzoat:
Benzoat dengan pelarut 1.1 =
gr/mL
Benzoat dengan pelarut 1.2 =
gr/mL

Benzoat dengan pelarut 2.1 =

( 3,3 x 0,1393 ) x 122,12



10

= 5,61

( 3,1 x 0,1393 ) x 122,12



10

= 5,27

( 2,5 x 0,1393 ) x 122,12



10

= 4,25

( 2,7 x 0,1393 ) x 122,12



10

= 4,59

( 2,4 x 0,1393 ) x 122,12



10

= 4,08

( 2,6 x 0,1393 ) x 122,12



10

= 4,42

gr/mL
Benzoat dengan pelarut 2.2 =
gr/mL
Benzoat dengan pelarut 3.1 =
gr/mL
Benzoat dengan pelarut 3.2 =
gr/mL
Benzoat dengan pelarut 4.1 =
gr/mL
Benzoat dengan pelarut 4.2 =
gr/mL
VIII.

Pembahasan
Dalam praktikum kali ini tujuannya adalah untuk menguji

dan menentukan kelarutan asam benzoat dan asam salisilat


dari berbagai macam pelarut campur. Hal yang dilakukan
pertama kali dalam praktikum kali ini adalah menyiapkan
seluruh alat dan bahan yang diperlukan. Alat-alat yang akan
digunakan harus dalam keadaan bersih dan kering agar
terbebas dari zat-zat yang akan mempengaruhi pengujian dan
penentuan kelarutan.

Selanjutnya adalah pembuatan larutan NaOH 0,1 N dengan


perhitungan yang telah diketahui. NaOH pellet ditimbang 2
gram

sebanyak

menggunakan

500

kaca

mL.

arloji,

Penimbangan
sebab

NaOH

pellet
memiliki

NaOH
sifat

higroskopik yaitu sifat yang sangat mudah menguap. Selain itu,


dengan kaca arloji juga akan mencegah kerusakan dalam
pemakaian neraca analitik. Pembuatan NaOH dilakukan dengan
memanaskan air sebanyak 500 mL di dalam beaker glass. Lalu
setelah dipanaskan, pellet NaOH sebanyak 2 gram dimasukkan
ke dalam beaker glass tersebut dan ditutup dengan plastik wrap
agar tidak ada CO2 yang bereaksi dengan NaOH membentuk
endapan Natrium Karbonat. Setelah itu, NaOH yang sudah
dibuat tersebut didinginkan hingga suhu normal.
Setelah pembuatan NaOH, selanjutnya dilanjutkan dengan
pembakuan NaOH dengan larutan asam oksalat 2 N. Larutan
asam oksalat dibuat dengan melarutkan 6,3 gram serbuk asam
oksalat dengan 500 mL aquadest sehingga menghasilkan 2 N
asam oksalat. Dalam pembakuan ini, digunakan beberapa tetes
indikator

fenolftalein

kedalam

analit,

karena

fenolftalein

memiliki sifat asam lemah dengan trayek pH 8,3-10, ketika


ditetesi larutan yang memiliki pH <8,3 maka tidak akan terjadi
perubahan warna, sedangkan ketika ditetesi larutan yang
memiliki pH >10 akan terjadi perubahan warna menjadi merah
rosa yang menandakan bahwa itu adalah titik akhir titrasi.
Perubahan warna disebabkan oleh perubahan ikatan rangkap
terkonjugasi.
NaOH dimasukkan kedalam biuret sebagai titran dan asam
oksalat ada di dalam labu erlenmeyer sebagai analit lalu zat
tersebut dititrasi hingga menunjukkan perubahan warna pada
analit. Setelah mendapatkan perubahan warna lalu dicatat

berapa volume NaOH yang masuk kedalam analit lalu dihitung


pembakuannya.
Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan larutan sampel.
Larutan sampel ini menggunakan 4 macam pelarut campur
yaitu

etanol,

menggunakan

gliserin,

air

perbandingan

dan

propilenglikol

tertentu.

dengan

Keempat

zat

ini

dicampurkan bersama karena memiliki kestabilan yang sangat


baik. Dalam percobaan ini dibuat sebanyak masing-masing 20
mL pelarut campur untuk 4 pelarut. Pelarut pertama yaitu
berisikan 4 mL etanol, 16 mL air. Pelarut kedua berisikan 5 mL
etanol, 15 mL air. Pelarut ketiga berisikan 4 mL etanol, 14 mL air
dan 2 mL gliserin. Pelarut keempat berisikan 4 mL etanol, 14 mL
air dang 2 mL propilenglikol. Keempat macam pelarut campur
itu dibuat 2 kali, masing-masing dibuat untuk melarutkan asam
benzoat dan asam salisilat.
Asam salisilat atau asam ortohidroksibenzoat merupakan
asam

yang

bersifat

iritan

lokal,

yang

dapat

digunakan

secara topikal. Terdapat berbagai turunan yang digunakan


sebagai obat luar, yang terbagi atas 2 kelas, ester dari asam
salisilat dan ester salisilat dari asam organik. Di samping itu
digunakan pula garam salisilat. Turunannya yang paling dikenal
asalah asam

asetilsalisilat.

Asam

salisilat

memiliki

rumus

molekul C6H7O3 dan mempunyai berat molekul 138,12. Di dalam


farmakope III dijelaskan bahwa kelarutan asam salisilat itu larut
dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%)P;
mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P; larut dalam
larutan amonium asetat P; dinatrium hidrogenfosfatP, kalium
sitrat P dan natrium sitrat P.
Dalam penentuan kelarutan asam salisilat, maka diambil
dulu asam salisilat ditimbang sebanyak 0,1 gram yang akan
dimasukkan kedalam masing-masing empat pelarut campur.

Lalu ketika dilarutkan akan ada terbentuk endapan larutan


asam salisilat. Endapan yang terbentuk dari masing-masing
pelarut campur tersebut disaring menggunakan kertas saring
dan corong. Kertas saring dilipat membentuk kerucut dan
menutupi permukaan corong agar penyaringan dapat dilakukan
dengan baik dan tidak ada endapan yang masuk kedalam
filtratnya. Lalu filtratnya diambil sebanyak 10 mL menggunakan
pipet volume atau pipet ukur agar jumlah yang akan dititrasi
terhitung secara tepat dan akurat dan ditetesi indikator
fenolftalein untuk dititrasi dengan NaOH yang sudah dibakukan
tadi, ini dilakukan sebanyak dua kali (diplo) agar mendapatkan
data yang akurat. Kemudian dilanjutkan dengan pelarut campur
kedua, ketiga dan seterusnya. Volume NaOH yang dititrasi
dicatat untuk menghitung kelarutan asam salisilat.
Setelah perlakuan sudah dilakukan untuk asam salisilat
maka dilanjutkan dengan melakukan hal yang sama untuk asam
benzoat dengan 4 macam pelarut campur tadi.
Asam benzoat adalah padatan kristal berwarna putih dan
merupakan asam karboksilat aromatik yang paling sederhana.
Asam lemah ini beserta garam turunannya digunakan sebagai
pengawet makanan. Asam benzoat adalah prekursor yang
penting dalam sintesis banyak bahan-bahan kimia lainnya.
Asam benzoat memiliki rumus molekul C7H6O2 dan berat
molekul 122,12. Menurut farmakope III asam benzoat memiliki
kelarutan yaitu larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam
lebih kurang 3 bagian etanol (95%)P, dalam 8 bagian kloroform
P dan dalam 3 bagian eter P.
Asam benzoat dimasukkan kedalam masing-masing pelarut
campur dan diaduk hingga membentuk endapan. Setelah itu
asam benzoat yang dilarutkan dalam pelarut pertama disaring
menggunakan kertas saring. Lalu filtratnya diambil 10 mL

menggunakan pipet ukur atau pipet volume. Setelah itu dititrasi


dengan menggunakan NaOH yang telah dibakukan sebanyak
dua kali atau diplo. Amati perubahan warna larutan analit
menjadi warna merah rosa yang menandakan bahwa sudah
mencapai titik akhir titrasi. Setelah itu volume NaOH yang
dipakai dicatat dan dihitung kelarutan asam benzoat.
Perhitungan kelarutan menggunakan rumus:
( Vol NaOH x N ) x BE sampel
Kelarutan =
Vol sampel
Dalam melihat kadar kelarutan suatu sampel dapat dilihat
dari beberapa faktor seperti pH, temperatur, ukuran partikel,
jenis pelarut, konstanta dielektrik dan penambahan zat-zat lain.
Dalam percobaan kali ini memakai 4 jenis pelarut tambahan
atau disebut dengan kosolven. Penambahan kosolven ini sangat
mempengaruhi polaritas sistem, yang dapat ditunjukan dengan
perubahan konstanta dielektriknya. Kosolven yang berperan
dalam percobaan kali ini adalah gliserin, propilenglikol dan
etanol. Menurut farmakope III gliserindapat dicampur dengan
air, dan dengan etanol (95%)P; praktis tidak larut dalam
kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak. Sedangkan etanol
kelarutannya adalah sangat mudah larut dalam air, dalam
kloroform P dan dalam eter P.
Dalam percobaan, asam salisilat memiliki kelarutan 2,98
gr/ml pada pelarut pertama, 2,30 gr/mL pada pelarut kedua,
4,13 gr/mL pada pelarut ketiga, dan 4,61 gr/mL pada pelarut
keempat. Berdasarkan hasil tersebut terlihat jelas bahwa pada
pelarut kedua, kelarutan asam salisilat memiliki kelarutan yang
kecil, sebab asam salisilat memang hanya sedikit larut dalam
etanol yaitu hanya 4 bagian saja.
Selanjutnya pada asam benzoat memiliki kelarutan 4,16
gr/mL pada pelarut pertama, 5,44 gr/mL pada pelarut kedua,
4,42 gr/mL pelarut ketiga dan 4,25 gr/mL pelarut keempat. Ini

membuktikan bahwa perbedaan perbandingan, kepolaran suatu


zat tambahan atau kosolven dan ukuran partikel sampel
mempengaruhi kelarutan. Didalam pengamatan ini terlihat
bahwa benzoat memiliki kelarutan paling tinggi jika dilarutkan
dengan pelarut campur kedua dimana perbandingan etanolnya
sedikit lebih banyak dari pelarut campur yang lainnya. Ini sesuai
dengan teoritis bahwa asam benzoat lebih larut kedalam etanol
daripada air.
Setelah seluruh kelarutan zat didapatkan maka selanjutnya
dilakukan pembuatan grafik kelarutan untuk asam salisilat dan
asam benzoat. Selanjutnya setelah praktikum selesai dilakukan
kurve pada alat-alat yang sudah digunakan dan dibersihkan lalu
disimpan ke tempatnya agar kebersihan laboratorium tetap
terjaga.
IX.

Kesimpulan
1. Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) dapat dibakukan
dengan asam oksalat
2. Pelarut campur dapat dibuat air, etanol, gliserin dan
propilenglikol
3. Kelarutan asam salisilat dan asam benzoat bervariasi
sesuai dengan pelarut campur
4. Hubungan konsentrasi dan persentase campuran dapat
dilihat dari grafik

Lampiran (Grafik)

KELARUTAN
6
5
4
3
2
1
0
Pelarut 1

Pelarut 2

Pelarut 3

Pelarut 4

Daftar Pustaka
Alfian, Zul. 2009. Kimia Dasar. Medan: USU Press
Arsyad, N. 2001. Kamus Kimia Anti dan Penjelasan Istilah.
Jakarta: Gramedia
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga
Genaro, R. A. 1990. Remingtons Pharmaceutical Science. 18th
ed. Macle Printing Company, Easton-Pennsilva, USA.
Indria.2009. Kelarutan. Available online at
www.slideshare.net/zulfi3101/larutan-dan-konsentrasi
(diakses pada 25 Maret 2015)
Juliantara. 2009. Kimia Larutan. Available online at
http://www.edukasi.kompasiana.com/2009/12/18/kimialarutan-kimia-dasar/ (diakses pada 25 Maret 2015)

Keenan, Kleinfelter dan Wood. 1980. Kimia Untuk Universitas


edisi ke 6. Jakarta: Erlangga
Martin, Alfred. 1990. Farmasi Fisik I. Jakarta: UI Press
Muchtaridi. 2007. Kimia 2. Jakarta: Yudhistira
Ratna.2009. Azas Le Chatelier. Available online at
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimiasmk/kelas_x/azas-le-chatelier/. (diakses pada 25 Maret 2015)
Sumardjo. 2006. Pengantar Kimia. Jakarta: EGC
Suyatno. 2006. Kimia. Jakarta: Grasindo
Vogel. 1990. Kimia Analisis Kualitatif. Jakarta: Erlangga

Anda mungkin juga menyukai