Anda di halaman 1dari 2

Menyiapkan Amalan Terbaik di Detik-detik Terakhir Kehidupan

Oleh : Indah Puspita (Teknik Kimia UI 2012)


Setiap manusia memiliki batasan waktunya masing-masing. Kematian
sejatinya adalah sebuah keniscayaan bagi semua makhluk hidup. Kehidupan
manusia di dunia hanyalah sementara, seperti yang telah Allah firmankan di dalam
berbagai ayat Al-Quran sebagai berikut,
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau
belaka, dan sungguh kampung akhirat iti lebih baik bagi orang-orang yang
bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya? (QS. Al Anam 32)
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan
jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan
Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad 36)
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu
yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbanggabanggaan tentang banyaknya harta dan anak (QS. Al Hadid 20)
Ketiga ayat di atas memberikan maksud yang sama,
yaitu Allah
mengingatkan kita untuk memperhatikan apa-apa yang kita lakukan di dunia karena
kehidupan di dunia hanya sementara sedangkan kehidupan di akhirat itu
selamanya. Yang menjadi hal utama yang bias kita perhatikan adalah bagaimana
kita meningkatkan amalan-amalan kita di dunia sebagai bekal kita di akhirat kelak.
Namun, setan tidak akan pernah tinggal diam. Semakin tinggi tingkatan ilmu yang
kita miliki, maka godaan setan akan semakin besar.
Ada sebuah kisah tentang sahabat Rasulullah. Sahabat tersebut tidak pernah
terlambat melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid. Definisi terlambat
menurut sahabat tersebut adalah tertinggal dalam takbiratul ihram. Suatu har,
sahabat ini tidak mendapatkan takbiratul ihram yang bertama. Beliau sangat sedih,
menyesal, dan menangis seharan karena kelalaiannya dalam shalat shubuh. Beliau
berdoa kepada Allah untuk diampuni atas kelalaiaannya tersebut. Keesokan harinya,
sahabat tersebut terbangun sebelum adzan shubuh karena ada seseoang yang
mengetuk pintu rumahnya. Begitu pula dengan hari-hari setelahnya, sahabat
tersebut tidak terlambat shalat shubuh berjamaah di masjid karena beliau
terbangun oleh ketukan di pintu rumahnya. Suatu saat sahabat tersebut penasaran
dengan siapa sesungguhnya orang tersebut. Sahabat tersebut akhirnya memergoki
orang yang mengetuk pintu rumahnya dan bertanya tentang orang tersebut.
Ternyata, yang selama ini membangunkan orang tersebut adalah iblis. Iblis itu
berkata, aku khawatir jika kamu terlambat mengikuti shalat shubuh berjamaah di
masjid, kamu akan mengingat Allah sepanjang hari. Sedangkan jika kamu tidak
terlambat, maka seharian itu kamu akan merasa cukup dengan shalat shubuh
berjamaah mu itu.
Subhanallah.. begitu berat tipu daya dan godaan yang dilancarkan oleh Iblis
kepada manusia. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah,

1. Sudah sebanyak apa kita mengingat Allah dalam setiap sisa hari yang kita
miliki? Waktu yang kita miliki semakin terbatas, kita tidak akan pernah
tahu kapan akhir dari hidup kita.
2. Kita harus menyiapkan amalan terbaik dan unggulan yang bisa kita
persembahkan kepada Allah kelak di akhirat nanti.
3. Gangguan dari setan adalah sebuah kenisayaan jika kita melakukan hal
yang baik dan menuju Allah. Kita harus memperkuat pertahanan kita
dengan banyak mengingat Allah.
Seseorang akan bersama dengan apa yang ia perbuat. Yang Allah minta dari
kita bukan banyaknya amal kita, namun optimalnya amal-amal yang kita perbuat.
Allah smengoptimalkan dan menurunkan semua risalah-Nya, lalu apakah pantas jika
kita setengah-setengah dalam menjalankan perintah Allah. Apakah pantas jika kita
tidak memaksimalkan ketaatan kita? Semua nikmat yang Allah berikan kepada kita
akan dihisab kelak, lalu bagaimana kita menyikapinya?
1. Mensyukurinya dengan cara mengoptimalkan segala potensi untuk
memberikan manfaat seluas-luasnya
2. Bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh untuk menghadapi kematian
dan dengan menuntut ilmu Allah
Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita memikirkan hari
akhirat kita dan mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya. Mulai saat ini,
kta harus memilih satu amalan unggulan yang akan kita laksanakan secara
konsisten hingga akhir hayat kita.