Anda di halaman 1dari 14

FUROSEMID

I.
II.

ZAT AKTIF : FUROSEMID


Jumlah tablet yang akan dibuat:
MONOGRAFI ZAT AKTIF (FUROSEMID)
Struktur

C12H11ClN2O5S

BM : 330,75

Pemerian : Putih atau sedikit kuning, tidak berbau, sedikit berrasa, serbuk kristral
Kelarutan : praktis larut dalam air dan kloroform, larut 1 bagian dalam 75 alkohol,
1 bagian 850 dalam eter, dan 1 bagian dalam 15 aseton, larut bebas dalam
dimetilformamid dan larut dalam hidroksi alkali, larut dalam metilalkohol.
Titik leleh : 206 o
Stabilitas : stabil dalam larutan encer
(Martindale, 1982)
pH : 8,8-9,3
Inkompatibel : asidic medium
(Drug Formulation)
Interaksi Obat: Furosemide dapat meningkatkan potensi ototoxic antibiotik
aminoglikosida, terutama di hadapan fungsi ginjal terganggu. Kecuali dalam
situasi yang mengancam jiwa, hindari kombinasi ini.

III.

FORMULA DAN METODE PEMBUATAN

A. Formula dari literatur atau standar (Drug Formulation)


Furosemid tablet 40 mg
Formulasi
Furosemid
40 gr
Ludipress
158 gr
Mg stearat
2 gr
Furosemid 200 mg
Formulasi
Furosemid
200 gr
Ludipress
388 gr
Mg stearat
6 gr
Aerosil
6 gr
Berat tablet : 618 mg
B. Formula usulan
Furosemid tablet 40 mg
Formulasi
Furosemid
40 gr
Ludipress
158 gr
Mg stearat
2 gr
Berat tablet : 618 mg
Untuk jumlah tablet yang dibuat : 1000 tablet
C. Metode pembuatan
Metode pembuatan tablet asetosal dengan pembuatan kempa langsung
IV.

MONOGRAFI ZAT TAMBAHAN


1. Octadecanoic acid Mg salt (Magnesium stearat)
C36H70MgO4
Pemerian

BM = 591,27
: Hablur sangat halus, putih, berbau khas dan berasa

Kegunaan : Lubrikan untuk tablet dan kapsul


Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : Digunakan untuk
kosmetik, makanan, dan formulasi obat. Biasanya digunakan sebagai lubrikan
pada pembuatan kapsul dan tablet dengan jumlah antara 0,25 5,0 %
Kelarutan :
Praktis tidak larut dalam etanol, etanol (95%), eter, dan air.
Sedikit larut dalam benzen hangat dan etanol (95%) hangat.
Densitas : 1,03 1,08 g/cm3.

Sifat aliran : Sulit mengalir, bubuk kohesif.


Polimorfisme : Trihidrat, bentuk asikular dan dihidrat, bentuk lamellar
Titik leleh : 88,5 C.
Stabilitas : Stabil
Inkompatibilitas : Dengan asam kuat,alkali, dan garam besi.
Penyimpanan

: Disimpan pada wadah sejuk, kering, tertutup.

Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 1994, hal.280-282


2. Povidon (PVP)
1-Ethenyl-2-pyrrolidinone homopolymer.
(C6H9NO)n

BM = 2500 3 juta

Pemerian : serbuk sangat halus, berwarna putih sampai krem, tidak atau
hampir tidak berbau, higroskopik.
Kegunaan : pensuspensi, pengikat tablet.
Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : biasa digunakan
pada sediaan padat. Larutan povidon dapat digunakan sebagai coating agent.
Pemakaian :
Pembawa obat : 10 25 %
Pendispersi : sampai 5%
Suspending agent : sampai 5%
Pengikat, pengisi, atau penyalut tablet : 0,5 5%
pH : 3,0 7,0 untuk larutan 5% b/v
Densitas : 1,17-1,18 g/cm3
Higroskopisitas : sangat higroskopis, sejumlah lembab yang nyata terabsobsi
pada kelembaban relatif yang rendah.
Titik leleh : melembut pada 150C.
Indeks refraksi : nD = 1,54 1,59
Kelarutan : larut dalam asam, kloroform, etanol, keton, metanol, dan air.

Praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon dan minyak mineral.


Stabilitas : Povidone stabil dalam siklus pemanasan yang pendek sekitar 110
130C.
Penyimpanan : disimpan dalam wadah tertutup, sejuk, dan kering.
Inkompatibilitas : dengan senyawa amonium kuarterner.
Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 1994, hal.519.
3. Aerosil
Si O2
BM : 60,08
Pemerian : submikropik silika dengan ukuran partikel sekitar 15 nm. Terang,
hablur, warna kebiru-biruan putih, sedikit berbau, berrasa, bentuk serbuk
Kelarutan : praktis larut dalam pelarut organik, air dan asam, kecuali asam
hidrofluorat, larut dalam larutan hidroksi alkali hangat.
Asidi-alkali : pH 3,5-4,4
Kerapatan : 0,029-0,042
Laju alir : 35,52 %
Distribusi ukuran partikel : 7-16 nm
BJ : 2,2
Stabilitas : higroskopik tetapi menyerap air dalam jumlah besar tanpa mencair
Incompatibilities : dietilstilbestrol
Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, ed 5, 2006
4. Laktosa monohidrat
C12H22O11.H2O

BM : 360,31

Pemerian : Putih,partikel berbentuk Kristal atau bubuk. Tidak berbau dan


terang, rasa manis.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam CHCL3, etanol, dan eter. Larut dalam
5,24 air, dalam 3,05 pada suhu 400C, dalam 2,30 pada suhu 500C, dalam 1,71
pada suhu 600C, dalam 0,96 pada suhu 800C.
Kegunaan : pengikat dan pengencer
Densitas : 1,545 g/cm3(-lactose monohydrate)
Titik Lebur : 201-2020C
Inkompatibilitas : terhadap asam amino, amfetamin, dan lisinopril.
Stabilitas : pada kelembaban 80% terjadi pertumbuhan jamur.
Kerapatan ruah : 500 kg/m3
pH : 4-6,5

Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 2009, hal.364


V.

ALASAN PEMILIHAN METODE DAN ZAT TAMBAHAN


Alasan pemilihan metode:
Cetak langsung dipilih untuk zat yang memiliki daya alir yang baik sehingga
tidak memerlukan proses granulasi.
Alasan pemilihan zat tambahan :
1. PVP : karena memiliki daya alir yang baik, sudut diam minimum,
menghasilkan fines lebih sedikit dan daya kompatibilitas lebih baik.
2. Mg stearat : sebagai lubrikan yang digunakan untuk mengurangi gesekan
antara obat dengan mesin cetak, dan Mg stearat merupakan lubrikan yang
paling baik daripada asan-asamnya.
3. Laktosa monohidrat : sebagai pengisi dan laktosa monohidrat lebih baik
daripada laktosa biasa karena kandungan airnya lebih sedikit (tidak menarik
air dari udara).

VI.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN

VII.

PROSEDUR PEMBUATAN

1.

Furosemid dan bahan pembantu ditimbang sesuai dengan formula yang


dibuat

2.

Semua bahan dicampur kecuali Mg stearat, dicampur dengan menggunakan


alat pencampur hingga homogen ( 20 menit)
3. Mg stearat ditambahkan dan diaduk kembali ( 5 menit)
4. Hasil campuran diayak dengan mes no.16
5. Dilakukan evaluasi granul
6. Massa siap cetak dikempa langsung menjadi tablet
7. Lakukan evaluasi terhadap tablet yang telah dicetak.

VIII. EVALUASI TABLET


A. Evaluasi Masa Siap Cetak
Homogenisasi
Homogenisasi dilakukan dengan penambahan zat warna untuk memastikan zat aktif

tersebar secara merata.


Pemeriksaan daya alir

Pemeriksaan daya alir serbuk menggunakan alat corong gelas. Masing masing
serbuk diukur kecepatan alirnya, kemudian diukur sudut diamnya dengan memakai
corong gelas.
Pemeriksaan daya alir serbuk dilakukan untuk mengukur kecepatan jatuh serbuk
yang ditaruh pada corong. Selain itu, percobaan ini dapat sekaligus menentukan sudut
istirahat serbuk, yang dibentuk antara lereng timbunan serbuk dengan bidang datar.
Terdapat hubungan antara sudut istirahat dengan sifat alirannya, yang tersaji dalam
tabel berikut:
Sudut istirahat

Sifat aliran

<25

Sangat baik

25-30

Baik

30-40

Cukup

>40

Buruk

Pada tablet yang dicetak secara langung dibutuhkan kecepatan alir yang sangat baik
hal ini untuk memudahkan proses pencetakan.
a. Pengukuran kecepatan alir
Pengukuran kecepatan alir dilakukan dengan cara: Ditimbang 100g serbuk,
dimasukkan dalam corong yang lubang corong bagian bawah ditutup sebelumnya.
Waktu diamati dengan stopwatch dari mulai pada saat dibukanya lubang corong
hingga seluruh granul melewati lubang corong. Kecepatan alir dinyatakan dalam gram
/ detik.
b. Pengukuran sudut istirahat
Diukur pada tinggi dan jari-jari lingkaran alas kerucut serbuk setelah serbuk mengalir
bebas melalui corong.
tg = h/r
dimana :
= sudut diam
r = jari jari lingkaran alas kerucut
h = tinggi kerucut granul
pengukuran sudut istirahat ini dilakukan untuk mengetahui keruahan dari serbuk.

Pengujian kompresibilitas
a) Penetapan bobot jenis sejati

Penetapan ditentukan dalam piknometer 10 ml dengan menambahkan cairan


pendisfersi yang tidak melarutkan serbuk. Penetapan ini dilakukan untuk mengetahui
kelarutan zat aktif.
b) Penetapan Bobot Jenis Mampat, bobot jenis nyata , Kadar Pemampatan dan
porositas.
Sebanyak 100 g (B) granul atau serbuk dimasukkan ke dalam gelas ukur 250 mL,
catat volumenya (V0). Selanjutnya dilakukan pengetukan dengan alat. Volume pada
ketukan ke 10, 50, dan 500 diukur, lalu dilakukan perhitungan sebagai berikut :
BJ nyata = B gr/ml
VO
B
Vmampat
BJ mampat =

g/mL
V0 Vmampat
V0

100 0 0

Kadar Pemampatan =
Porositas = (1-BJmampat) x 100%
BJ sejati
Kompresibilitas (%) = [(volume cerah volume mampat)/volume curah] x 100%
Penafsiran nilai kompresibilitas terhadap sifat aliran serbuk :
Indeks konsolidasi carr
(nilai kompressibilitas) %

Sifat aliran

5-12

Sangat baik

17-21

Baik

33

Cukup

22

Buruk

34-38

Sangat buruk

>38

Sangat buruk

B. EVALUASI MUTU TABLET


o In Proses Control (IPC )
Proses yang dilakukan pada saat proses pencetekan tablet sedang berlangsung, agar pada saat
terjadi kesalahan pada saat pencetakan bisa dilakukan penanggulangan.

o Uji keseragaman Bentuk dan Ukuran


Menurut farmakope Indonesia III, tablet mempunyai keseragaman ukuran yang baik bila
garis tengah tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 11/3 tebal tablet (Depkes RI,
1979). Alat yang digunakan adalah jangka sorong. Pemeriksaan keseragaman ukuran tablet
dilakukan dengan cara: Diambil sebanyak 20 tablet secara acak, kemudian satu per satu
diukur tebalnya dengan menggunakan jangka sorong.
Untuk mendapatkan tablet yang seragam tebalnya selama produksi dan diantara
produksi untuk formula yang sama, harus dilakukan pengawasan supaya volume bahan yang
diisikan dan tekanan yang diberikan. Tablet diukur dengan jangka lengkung selama proses
produksi, supaya yakin ketebalanya sudah selesai. Maka berbeda bedanya ketebalan tablet
lebih dipengaruhi oleh ukuran cetakan dan bahan yang dapat dimasukan dari pada oleh
tekanan yang diberikan.
o Uji keseragaman Bobot
Alat yang digunakan pada pemeriksaan keseragaman bobot tablet yaitu timbangan.
Pemeriksaan keseragaman bobot tablet dilakukan dengan cara:
Ditimbang bobot tablet satu per satu, kemudian dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika
ditimbang satu per satu tidak boleh lebih dari dua tablet yang masing-masing bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak
satu tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang
ditetapkan oleh kolom B.

25 mg atau kurang

Penyimpangan Bobot rata rata (%)


A
B
15
30

26 mg 150 mg

10

20

151 mg 300 mg

7,5

15

Lebih dari 300 mg

10

Bobot rata rata

Uji ini dilakukan agar bobot pada tablet rata sehingga zat aktif yang terkandung pun merata.

Jumlah bahan yang diisikan didalam cetakan yang akan dimasukan akan ditekan
menentukan berat tablet yang dihasilkan. Volume bahan yang diisikan (granul/serbuk) yang
mungkin masuk dalam cetakan harus disesuaikan beberapa tablet yang diharapkan.
Sebenarnya ukuran tablet yang diproduksi tidak hanya tergantung volume dan berat
bahan yang diisikan tapi juga tergantung pada garis tengah cetakan dan tekanan pada bahan
yang diisikan waktu ditekan (kompresi).
o Uji keseragaman kadar aktif
Uji ini menggunakan alat analisis volumetric atau spektrofotometri. Uji ini dilakukan untuk
menetapkan konsistensi kandungan bahan aktif dari satu tablet dan tablet lainnya. Biasanya
ada 2 pendekatan yang dilakukan, yaitu menentukan variasi bobot atau keseragaman kadar
zat aktif pada tablet. Jika bahan aktif mewakili tidak kurang dari 50% dari bobot tablet dan
lebih besar 50 mg, maka uji keseragaman kadar zat aktif dapat dilakukan menggunakan
metode variasi bobot sampai dari 10 tablet ditimbang secara individual dan hasil
penimbangan direkam.
Dalam kasus menentukan keseragaman kadar zat aktif, sampel 10 tablet secara individual
dianalisis dengan volumetric atau spektrofotometri adalah legal menggunakan uji
keseragaman kadar zat aktif untuk tablet yang mengandung kurang dari 50 mg bahan aktif
obat dan atau yang mengandung kurang dari 50% masa total tablet.
o Uji kekerasan tablet
Pemeriksaan kekerasan tablet dilakukan dengan cara: Diambil sebanyak 20 tablet secara
acak, skala yang tertera pada alat dibuat nol dan tablet diletakan pada tempat yang tersedia
pada posisi tegak, kemudian penekan diputar perlahan-lahan dan tepat pada saat pecah
penekanan dihentikan, angka yang ditunjukan pada skala tersebut menunjukan kekerasan
tablet dalam satuan kilogram. Menurut Parrot (1971), tablet yang mempunyai kekerasan 4
8 kg atau 3,5 7 kg (Dekay, 1955). Alat yang digunakan adalah hardnertaster.
Tujuan dari uji kekerasan ini :
1) Menjamin agar tablet tidak hancur mulai dari pengemasan, pengangkutan,
penyimpanan dan sampai ketangan konsumen.
2) Menjamin agar tablet hancur pada saat pemakaian

Kekerasan tablet dan ketebalannya berhubungan denagn isi die dan gaya kompresi yang
diberikan. Bila tekanan ditambah, maka kekerasan tablet meningkat sedangkan ketebalan
tablet berkurang. Selain itu, terdapat persyaratan apabola bobot tablet sampai 300 mg maka
kekerasan 4-7 kg/cm2, dan apabila bobot tablet 400-700 mg maka kekerasan tablet 5-12
kg/cm2.
Evaluasi Sediaan Tablet
o Friabilitas
Friabilitas adalah parameter untuk menguji ketahanan tablet bila dijatuhkan pada
suatu ketinggian tertentu.
Tujuannya : untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang
dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman.
Pada prinsipnya, tablet sering terguling atau terbanting selama proses manufaktur,
dedusting (menghilangkan debu), penyalutan, penanganan transfor dan pengemasan,
dan barang tentu sudah ditangan pasien juga.
Pemeriksaan friabilitas dilakukan dengan cara: Diambil sebanyak 20 tablet secara
acak, dibersihkan dari serbuk yang menempel, kemudian ditimbang seluruhnya
dengan seksama. Dimasukan ke dalam alat putar dengan kecepatan 25 rpm selama 4
menit. Setelah itu tablet dikeluarkan, dibersihkan dengan kuas dan ditimbang kembali.
Selisih bobot yang diperoleh menyatakan nilai kerapuhan dari tablet yang dinyatakan
dalam %. Kerapuhan tablet yang diperoleh sekitar 0,5 1 % atau kurang dari 0,8 %
(Lachman dkk, 1986).
o Friksibilitas
Friksibilitas adalah parameter untuk menguji ketahanan tablet bila tablet mengalami
gesekan antar sesama.
Pemeriksaan friksibilitas hampir sama dengan friabilitas, hanya saja alatnya yang
berbeda.
o Uji keseragaman sediaan
Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu dari dua metoda, yaitu
keragaman bobot atau keragaman kandungan untuk sediaan mengandung zat aktif dan
sediaan mengandung dua atau lebih zat aktif.
Persyaratan keragaman bobot dapat diterapkan pada produk yang mengandung
zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih, dari bobot, satuan sediaan.
Keseragaman dari zat aktif lain, jika ada dalam jumlah lebih kecil, ditetapkan dengan
persyaratan keseragaman kandungan.

Prosedur penetapan keragaman bobot :


Pilih tidak kurang 30 tablet, dari 30 tablet tersebut, timbang 10 tablet satu per satu dan
hitung bobot rata-rata.
Prosedur penetapan keseragaman kandungan :
Pilih tidak kurang dari 30 tablet, dari 30 tablet tersebut, tetapkan kadar 10 tablet satu
per satu dengan cara yang tertera pada monografi, kecuali dinyatakan lain.
Uji ini dilakukan untuk menjamin bahwa setiap tablet mengandung jumlah zat aktif
sesuai spesifikasi dengan variasi yang kecil dalam batch.
Kriteria:
kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, persyaratan keseragaman
dosis dipenuhi jika jumlah zat aktif dalam masing-masing 10 tablet terletak antara
85% hingga 115% dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku relative (SDR)
lebih kecil atau sama dengan 6%.
Dilakukan uji 20 tablet tambahan jika :
a) 1 tablet terletak diluar rentang 85%-115% kadar dan tidak ada yang terletak
antara 75%-125% kadar.
b) SDR>6 %
Persyaratan dipenuhi jika :
a) Tidak lebih dari 1 tablet dari 30 tablet yang ada diluar rentang 85%-115% kadar dan
tidak ada yang terletak antara 75%-125% kadar
b) Tidak ada 1 tablet pun yang diluar rentang 75%-125%
c) SDR tidak lebih besar dari 7,8%
o Uji waktu hancur
Uji waktu hancur dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang
tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet
digunakan sebagai tablet hisap atau kunyah atau lepas lambat. Serta untuk komponen obat
sepenuhnya tersedia untuk di absorpsi dalam saluran pencernaan, maka tablet harus hancur
dan melepaskan obatnya kedalam cairan tubuh untuk dilarutkan. Daya hancur tablet juga
penting untuk tablet yang mengandung bahan obat (seperti antasida dan antidiare) yang dapat
dimaksudkan untuk di absorpsi tetapi lebih banyak bekerja setempat dalam saluran cerna,
dalam hal ini daya hancur tablet memungkinkan partikel obat menjadi lebih luas untuk
bekerja secara lokal didalam tubuh.
Uji waktu hancur tidak menyatakan bahwa zat aktif atau komponen lain harus larut
sempurna. Tablet dinyatakan hancur sempurna bila sisa sediaan, yang tertinggal pada kasa
alat uji merupakan masa lunak yang tidak mempunyai inti jelas.

Prosedur uji waktu hancur adalah :


Masukkan 1 tablet pada masing masing tabung dari keranjang, masukkan 1 cakram
pada tiap tabung dan jalankan alat, gunakan air bersuhu 370 sebagai media kecuali dinyatakan
menggunakan cairan lain dalam masing-masing monografi, angkat keranjang dan amati
semua tablet : semua tablet harus hancur sempurna. Bila 1 tablet atau 2 tablet tidak hancur
sempurna, ulangi pegujian dengan 12 tablet lainnya : tidak kurang 16 dari 18 tablet yang di
uji harus hancur sempurna.
o Uji disolusi
Uji ini dilakukan untuk menentukan kesesuaian persyaratan dengan persyaratan
disolusi yang tertera pada masing-masing monografi.
Dalam USP cara pengujian disolusi tablet dan kapsul dinyatakan dalam masing
masing monografi obat. Pengujiaan merupakan alat yang objektif dalam menentukan sifat
disolusi suatu obat yang berada dalam sediaan padat. Karena absoropsi dan kemampuan obat
berada dalam tubuh dan tergantung pada adanya obat dalam keadaan melarut, karakteristik
disolusi biasa merupakan sifat yang penting dari produk obat yang memuaskan.
Dengan bertambahnya perhatian dan pengujiannya disolusi dan penetuanya
bioavaibilitas dari obat dengan bentuk sediaan padat menuju pada pendahuluan dari sistem
yang sempurna bagi analisis dan pengujian disolusi tablet.
Prosedur pengerjaan uji disolusi :
Masukkan sejumlah volume media disolusi seperti yang tertera dalam masing-masing
monografi ke dalam wadah, pasang alat, biarkan media disolusi hingga suhu 37 derajat dan
angkat thermometer. Masukkan satu tablet kedalam alat, hilangkan gelembung udara dari
permukaan sediaan yang di uji dan segera jalankan alat pada laju kecepatan seperti yang
tertera dalam masing-masing monografi. Dalam interval waktu yang ditetapkan atai pada tiap
waktu yang dinyatakan, ambil cuplikan pada daerah pertengahan antara permukaan. Media
disolusi dan bagian atas dari keranjang berputar ataupun daun dari alat dayung, tidak kurang
1 cm dari dinding wadah. Laukukan penetapan seperti yang tertera dalam masing-masing
monografi.

IX.

ASPEK FARMAKOLOGI
Indikasi:

Udema (jantung, paru, ginjal), hipertensi, udem hamil setelah trimester kedua, dan
sirosis hati
Khasiat :
Diuretikum
Kontra-Indikasi:
Anemia nefritis akut dan kemungkinan

timbul koma hepatikum, defisiensi

elektrolit, hipersensitiv terhadap furosemid dan sulfonamida, insufisiensi ginjal


akut,

hematologi,

susunan

syaraf

pusat

(SSP)

serta

kulit.

Dosis :
Dosis awal : 20-40 mg
Dosis max sehari :600 mg
Peringatan :
Furosemide adalah diuretik kuat yang, jika diberikan dalam jumlah berlebihan,
dapat mengakibatkan diuresis yang mendalam dengan air dan deplesi elektrolit.
Oleh karena itu, pengawasan medis hati-hati diperlukan, dan dosis dan jadwal
dosis harus disesuaikan dengan individu kebutuhan pasien.
Efek Samping :
Hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia, gangguan saluran pencernnaan
seperti mual, mual, muntah,diare, kejang kaki, anoreksia, lemah, letih, berkeringat
dan lainnya yang berhubungan dengan efek diuresia. Dapat terjadi reaksi alergi.
ADME
Farmakokinetik :
Obat mudah diserap melalui saluran cerna, dengan derajat yang agak berbeda.
Bioavaibilitas furosemid 65 %. Diuretik kuat terikat pada protein plasma secara
ekstensif, sehingga tidak difiltrasi di glomerulus tetapi cepat sekali disekresi
melalui system transport asam organic di tubuli proksimal.
Sebagian besar furosemid diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh dan dalam
konjugasi dengan senyawa sulfhidril terutama sistein dan N-asetil sistein, hanya
sebagian kecil dalam bentuk glukuronid.

X.

ETIKET

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA


JL Soekarno Hatta NO 354 Parakan Resik
No bach:

******

Dalam .. mg mengandung
Exp Date:

XI.

Tablet oral
Isi:

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.1979.Farmakope Indonesia. Edisi 3. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Anonim. 2009. Farmakope Indonesi. Edisi 4. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Anonim. 2007. The United States Pharmacopeia. Vol 2. Port City Press, Baltimore
Buhler, Volker. 1998. Generic Drug Formulation.Fine Chemicals 2nd Ed. BASF.
Reynolds, James E. F. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoiea. Twentyeighth Edition. Pharmaceutical Press : London.
Rowe, Raymond. C, Sheskey, Paul J, and Owen Sian C. 2006. Handbook of
Pharmaceutical Excipient. Fifth edition. Pharmaceutical Press : London.
Gunawan, G. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta : UI Press