Anda di halaman 1dari 17

PEMERIKSAAN FISIK B1-B6

Hal-hal yang perlu diingat dalam pemeriksaan fisik adalah :


1. Pemeriksaan fisik dilakukan pada saat pasien masuk, dan diulang kembali dalam interval
waktu tertentu sesuai kondisi pasien.
2. Setiap pemeriksaan harus dikomunikasikan kepada pasien.
3. Privacy pasien harus terus dipertahankan (walaupun pasien dalam keadaan koma)
4. Tehnik yang digunakan adalah : inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
5. Pemeriksaan dilakukan secara Head to toe
6. Pemeriksaan dilakukan pada semua sistem tubuh.
1. B 1 : Breathing (Pernafasan/Respirasi)
Airways :
-

Apakah jalan nafas mudah tersumbat?


Apakah intubasi akan sulit?
Apakah pasien ompong atau menggunakan gigi palsu atau mempunyai rahang yang kecil

yang akan mempersulit laringoskopi?


Apakah ada gangguan membuka mulut atau kekakuan leher?
Apakah ada pembengkakan abnormal pada leher yang mendorong saluran nafas bagian atas?

Penilaian jalan nafas berdasarkan skor LEMON


-

Skor maksimal 10 poin dengan memberikan 1 point untuk masing-masing LEMON, berikut

ini kriterianya :
L = Look externally / penampilan luar (trauma wajah, gigi seri besar, jenggot atau kumis,

lidah besar)
E = Evaluate / Evaluasi aturan 3-3-2 (jarak insisivus jarak-3 ruas jari, hyoid- mental jarak-3

ruas jari, tiroid-ke-mulut jarak-2 ruas jari)


M = Mallampati (skor Mallampati > 3).
O = Obstruction / obstuksi (adanya kondisi seperti epiglottitis, peritonsillar abses, trauma).
N = Neck mobility / mobilitas leher (keterbatasan mobilitas pada leher)
Pasien yang termasuk kelompok intubasi sulit memiliki skor LEMON yang lebih tinggi. 12,13
Gambar 9 : Metode penilaian jalan napas LEMON; 1 = jarak inter-insisor dengan jari,
2 = jarak hioid-mental dengan jari, 3 = jarak tiroid dan dasar mulut dengan jari

Breathing :
a) Pola napas : Dinilai kecepatan, irama, dan kualitas.
b) Bunyi napas: Bunyi napas normal; Vesikuler, broncho vesikuler.
c) Penurunan atau hilangnya bunyi napas dapat menunjukan adanya atelektasis, pnemotorak
atau fibrosis pada pleura.
d) Rales (merupakan tanda awal adanya CHF. emphysema) merupakan bunyi yang
dihasilkan oleh aliran udara yang melalui sekresi di dalam trakeobronkial dan alveoli.
e) Ronchi (dapat terjadi akibat penurunan diameter saluran napas dan peningkatan usaha
napas)
f) Bentuk dada : Perubahan diameter anterior posterior (AP) menunjukan adanya COPD
g) Ekspansi dada : Dinilai penuh / tidak penuh, dan kesimetrisannya.
h) Ketidaksimetrisan mungkin menunjukan adanya atelektasis, lesi pada paru, obstruksi
pada bronkus, fraktur tulang iga, pnemotoraks, atau penempatan endotrakeal dan tube
trakeostomi yang kurang tepat.
i) Pada observasi ekspansi dada juga perlu dinilai : Retraksi dari otot-otot interkostal,
substrernal, pernapasan abdomen, dan respirasi paradoks (retraksi abdomen saat
inspirasi). Pola napas ini dapat terjadi jika otot-otot interkostal tidak mampu
menggerakan dinding dada.
j) Sputum.
Sputum yang keluar harus dinilai warnanya, jumlah dan konsistensinya. Mukoid sputum
biasa terjadi pada bronkitis kronik dan astma bronkiale; sputum yang purulen (kuning
hijau) biasa terjadi pada pnemonia, brokhiektasis, brokhitis akut; sputum yang
mengandung darah dapat menunjukan adanya edema paru, TBC, dan kanker paru.
k) Selang oksigen
Endotrakeal tube, Nasopharingeal tube, diperhatikan panjangnya tube yang berada di
luar.
l) Parameter pada ventilator

Volume Tidal : Normal : 8 10 cc/kg BB.


Perubahan pada uduma fidal menunjukan adanya perubahan status ventilasi penurunan
volume tidal secara mendadak menunjukan adanya penurunan ventilasi alveolar, yang
akan meningkat PCO2. Sedangkan peningkatan volume tidal secara mendadak

menunjukan adanya peningkatan ventilasi alveolar yang akan menurunkan PCO2.


Kapasitas Vital : Normal 50 60 cc / kg BB
Minute Ventilasi : Frekuensi nafas x TV
Forced expiratory volume
Peak inspiratory pressure

2. B 2 : Bleeding (Kardiovaskuler / Sirkulasi)


a)
b)
c)
d)

Irama jantung : Frekuensi x/menit, reguler atau irreguler


Distensi Vena Jugularis
Tekanan Darah : Hipotensi dapat terjadi akibat dari penggunaan ventilator
Bunyi jantung : Dihasilkan oleh aktifitas katup jantung
1) S1 : Terdengar saat kontraksi jantung / sistol ventrikel. Terjadi akibat penutupan
katup mitral dan trikuspid.
2) S2 : Terdengar saat akhir kotraksi ventrikel. Terjadi akibat penutupan katup

pulmonal dan katup aorta.


3) S3 : Dikenal dengan ventrikuler gallop, manandakan adanya dilatasi ventrikel.
e) Murmur : terdengar akibat adanya arus turbulansi darah. Biasanya terdengar pada pasien
gangguan katup atau CHF.
f) Pengisian kapiler : normal kurang dari 3 detik
g) Perfusi hangat, kering, merah
h) Nadi perifer : ada / tidak dan kualitasnya harus diperiksa. Aritmia dapat terjadi akibat
adanya hipoksia miokardial.
i) PMI (Point of Maximal Impuls): Diameter normal 2 cm, pada interkostal ke lima kiri
pada garis midklavikula. Pergeseran lokasi menunjukan adanya pembesaran ventrikel
pasien hipoksemia kronis.
j) Edema : Dikaji lokasi dan derajatnya.
3. B 3 : Brain (Persyarafan/Neurologik)
-

Tingkat kesadaran

Penurunan tingkat kesadaran pada pasien dengan respirator dapat terjadi akibat penurunan PCO2
yang menyebabkan vasokontriksi cerebral. Akibatnya akan menurunkan sirkulasi cerebral. Untuk
menilai tingkat kesadaran dapat digunakan suatu skala pengkuran yang disebut dengan Glasgow
Coma Scale (GCS).

Eye (respon membuka mata) :


(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1) : tidak ada respon
Verbal (respon verbal) :
(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat
dan waktu.
(3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam
satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)
(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon
Motor (respon motorik) :
(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat
diberi rangsang nyeri)
(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi
saat diberi rangsang nyeri).
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari
mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : tidak ada respon
Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari
lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :
Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat
menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..
Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan
sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak,
berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.

Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor


yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang
(mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon
terhadap nyeri.
Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap
rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin
juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).
Refleks pupil
-

Reaksi terhadap cahaya (kanan dan kiri)


Ukuran pupil (kanan dan kiri; 2-6mm)
Dilatasi pupil dapat disebabkan oleh : stress/takut, cedera neurologis penggunaan
atropta, adrenalin, dan kokain. Dilatasi pupil pada pasien yang menggunakan respirator

dapat terjadi akibat hipoksia cerebral.


Kontraksi pupil dapat disebabkan oleh kerusakan batang otak, penggunaan narkotik,
heroin.

4. B 4 : Bladder (Perkemihan Eliminasi Uri/Genitourinaria)


-

Kateter urin
Urine : warna, jumlah, dan karakteristik urine, termasuk berat jenis urine.
Normal produksi urine = - 1 CC/ Kg BB / jam
Gangguan Sistem Perkencingan
Inkontinensia urine (besar)
Retensi urine
Kencing menetes
Kandung kencing penuh
Infeksi
Gagal ginjal akut (ischemik)
Produksi urine menurun
BUN,S. creat meningkat
Gangguan fungsi hormon (AH menurun)
Produksi urine meningkat > 200cc / jam
Berat jenis urine menurun

5. B 5 : Bowel (Pencernaan Eliminasi Alvi/Gastrointestinal)

Rongga mulut
Penilaian pada mulut adalah ada tidaknya lesi pada mulut atau perubahan pada lidah
dapat menunjukan adanya dehidarsi.
Bising usus
Ada atau tidaknya dan kualitas bising usus harus dikaji sebelum melakukan palpasi
abdomen. Bising usus dapat terjadi pada paralitik ileus dan peritonitis. Lakukan
observasi bising usus selama 2 menit. Penurunan motilitas usus dapat terjadi akibat

tertelannya udara yang berasal dari sekitar selang endotrakeal dan nasotrakeal.
Distensi abdomen
Dapat disebabkan oleh penumpukan cairan. Asites dapat diketahui dengan memeriksa
adanya gelombang air pada abdomen. Distensi abdomen dapat juga terjadi akibat
perdarahan yang disebabkan karena penggunaan IPPV. Penyebab lain perdarahan saluran
cerna pada pasien dengan respirator adalah stres, hipersekresi gaster, penggunaan steroid

yang berlebihan, kurangnya terapi antasid, dan kurangnya pemasukan makanan.


Nyeri
Pengeluaran dari NGT : jumlah dan warnanya
Mual dan muntah.

6. B 6 : Bone (Tulang Otot Integumen)


-

Warna kulit, suhu, kelembaban, dan turgor kulit.


Adanya perubahan warna kulit; warna kebiruan menunjukan adanya sianosis (ujung
kuku, ekstremitas, telinga, hidung, bibir dan membran mukosa). Pucat pada wajah dan
membran mukosa dapat berhubungan dengan rendahnya kadar haemoglobin atau shok.
Pucat, sianosis pada pasien yang menggunakan ventilator dapat terjadi akibat adanya
hipoksemia. Jaundice (warna kuning) pada pasien yang menggunakan respirator dapat
terjadi akibatpenurunan aliran darah portal akibat dari penggunaan FRC dalam jangka
waktu lama.
Pada pasien dengan kulit gelap, perubahan warna tersebut tidak begitu jelas terlihat,.
Warna kemerahan pada kulit dapat menunjukan adanya demam, infeksi. Pada pasien
yang menggunkan ventilator, infeksi dapat terjadi akibat gangguan pembersihan jalan

napas dan suktion yang tidak steril.


Integritas kulit
Perlu dikaji adanya lesi, dan dekubitus

SKORING

Sistem klasifikasi ASA dikembangkan pada tahun 1941 oleh Meyer Saklad atas permintaan
ASA. Klasifikasi ini digunakan untuk mengukur risiko yang terkait dengan anestesi dan
pembedahan. Sistem klasifikasi ini hanya didasarkan dari riwayat medis pasien. Selain itu
klasifikasi ASA memberikan deskripsi yang mudah yang menunjukkan status fisik pasien
yang berhubungan dengan indikasi apakah tindakan bedah harus dilakukan segera / cito atau
elektif.1,2
ASA I
ASA II

Pasien sehat tanpa penyakit organik, biokimia atau psikiatri


Pasien dengan penyakit sistemik ringan. Contohnya asma ringan atau
hipertensi yang terkontrol baik. Tidak mengganggu aktivitas sehari hari.

ASA III

Mungkin dapat menggangu pada saat anestesi dan pembedahan


Penyakit sistemik berat atau signifikan yang membatasi aktivitas normal.
Contohnya gagal ginjal yang mendapat terapi dialisis atau penyakit jantung
kongesti. Mengganggu aktivitas secara signifikan dan kemungkinan besar

ASA IV

mengganggu anestesi dan pembedahan


Penyakit sistemik berat yang membutuhkan terapi terus menerus atau
membutuhakan terapi intensif. Contohnya infark miokardial akut, gagal
nafas yang membutuhkan ventilasi. Sangat mengganggu aktivitas dan

ASA V

memiliki dampak besar dalam anestesi dan pembedahan


Pasien yang hampir mati dalam 24 jam ke depan dengan atau tanpa

ASA VI

pembedahan
Donor organ

A. Mallampati
Dalam menghindari kesulitan intubasi, maka penatalaksanaan dan persiapan preoperasi harus
tepat. Identifikasi pasien yang potensial diduga akan terjadi kesulitan dalam melakukan
intubasi harus dilakukan, untuk menentukan tindakan atau teknik anestesi yang tepat harus
dilakukan.2
Salah satu penilaian klinik yang dapat dilakukan untuk menilai kemungkinan terjadinya
kesulitan intubasi adalah tes mallampati. Tes ini dilakukan dengan cara meminta pasien untuk
membuka mulut semaksimal mungkin yang dapat dilakukan disertai dengan lidah yang
dijulurkan, dan pada saat itu kita melihat daerah faring bagian posterior. Tes Mallampati
bertujuan untuk mengukur besarnya lidah di dalam rongga mulut, Apabila saat tes mallampati
ditemukan ukuran lidah yang besar yang menutupi struktur faring atau bagian posterior faring
tidak dapat terlihat, maka kemungkinan nantinya akan terjadi kesulitan intubasi.2,3

Gambar 1, Faring posterior pada tes mallampati (dikutip dari daftar pustaka nomor 4)
Kelas 1
Kelas 2

Palatum durum, palatum molle, uvula dan kedua pilar faring terlihat
Palatum durum, palatum molle, Sebagian uvula dan bagian atas kedua pilar

Kelas 3
Kelas 4

terlihat
Hanya palatum durum, palatum molle dan dasar uvula yang terlihat
Hanya palatum durum yang terlihat

BERBAGAI MACAM SKALA TINGKAT SEDASI


Skala sedasi digunakan dalam hubungannya dengan riwayat medis untuk menilai tingkat sedasi
pada setiap pasien untuk menghindari under sedation (pasien berisiko mengalami rasa sakit) dan
over sedation (pasien berisiko mendapatkan efek samping yang berlebih seperti depresi
pernapasan, yang mungkin dapat menyebabkan kematian).
A. Skala Sedasi Ramsay
Skala sedasi Ramsay digunakan untuk mengukur tingkat sedasi pada setiap pasien. Dari
berbagai macam skala sedasi yang sering digunakan dalam anestesiologi, Skala sedasi
Ramsay telah menjadi skala sedasi yang sering diadopsi sejak diperkenalkan pada tahun
1974 . Skala pemantauan tahapan sedasi menggunakan enam tingkat skala. Tingkat satu yang
mewakili sedasi minimal dan tingkat enam mewakili sedasi maksimal. Skala sedasi Ramsay

dibagi menjadi dua bagian : tingkat satu sampai tiga memantau keadaan pasien pada saat
tersadar, dan tingkat empat sampai enam memantau keadaan pasien ketika tertidur. 9
Skala
1
2
3
4

Deskripsi
Cemas, agitasi atau gelisah
Pasien kooperatif, beorientasi dan tenang
Pasien dapat merespon perintah
Pasien tertidur, reaksi cepat terhadap nyeri

tekan glabella atau rangsang suara yang keras


Pasien tertidur, reaksi lambat terhadap nyeri

tekan glabella atau rangsang suara yang keras


6
Pasien tertidur, tidak ada respon
Tabel 4, Skala sedasi Ramsay (dikutip dari daftar pustaka nomor 10)
Dr Michael AE Ramsay, seorang ahli anestesi yang menjadi presiden dari Baylor Research
Institute, mengembangkan Sedasi Skala Ramsay selama studi klinis yang memonitor berbagai
tingkat sedasi pasien yang menggunakan obat penenang disebut alphaxalone-alphadolone,
atau Althesin. Penelitian ini berusaha untuk mengoptimalkan tingkat sedasi dalam berbagai
pasien, dengan tingkat yang memuaskan berkisar antara dua dan lima. Hasil penelitian itu
diterbitkan dalam British Medical Journal, dalam sebuah artikel berjudul "Controlled Sedasi
dengan Alphaxalone-Alphadolone".9
B. Richmond Agitation Sedation Scale (RAAS)
Skor
+4
+3
+2
+1
0
-1

Keadaan
Agresif
Sangat gelisah
Gelisah
Resah
Waspada dan tenang
Mengantuk

Deskripsi
Sangat agresif, berbahaya
Mencabut atau melepas ETT / kateter, agresif
Melakukan gerakan yang tidak bertujuan dan
melawan ventilator
Cemas tetapi gerakan tidak agresif
Tidak sepenuhnya waspada (membuka mata / kontak

Sedasi ringan

mata terhadap rangsang suara > 10 detik)


Terbangun sebentar dengan kontak mata terhadap

-3

Sedasi sedang

rangsang suara < 10 detik


Bergerak atau membuka mata terhadap rangsang

-4

Sedasi dalam

suara (tidak terdapat kontak mata)


Tidak terdapar respon terhadap suara, tetapi bergerak

-2

atau membuka mata dengan stimulasi fisik


-5
Unarousable
Tidak ada respon terhadap suara dan stimulasi fisik
Tabel 5, Richmond Agitation Sedation Scale (dikutip dari daftar pustaka nomor 11)
Prosedur penilaian RAAS :

1. Observasi pasien.
a. Pasien waspada, cemas, atau gelisah. (skor 0 - +4)
2. Jika tidak waspada, maka mintalah pasien untuk menyebutkan nama atau meminta
membuka mata dan melihat kea rah datangnya suara.
b. Pasien terbangun dengan membuka mata dan terdapat kontak mata terus menerus.
(skor -1)
c. Pasien terbangun dengan membuka mata dan terdapat jontak mata tetapi tidak terus
menerus. (skor -2)
d. Pasien melakukan pergerakan dengan rangsangan suara tetapi tidak terdapat kontak
mata. (skor -3)
3. Ketika tidak terdapat respon dengan stimulasi verbal, gunakan stimulasi fisik dengan
menggoyang-goyangkan pundaknya dan / atau tekan sternum pasien.
e. Pasien melakukan pergerakan dengan stimulasi fisik. (skor -4)
f. Tidak terdapat respon dengan berbagai macam stimulasi. (skor -5)12
BERBAGAI MACAM SKOR POST-OPERATIF
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang menggunakan
general anestesi, maka kita perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah
pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang pemulihan.
A. Aldrete Score
Aldrete score digunakan untuk menentukan kapan pasien cukup layak untuk pindah ke daerah
pemulihan tahap kedua yaitu ruang rawat inap. Aldrete Score digunakan untuk pasien pasien
dewasa. Kemampuan pasien untuk bergerak, respirasi, sirkulasi, kesadaran, dan saturasi
oksigen mereka dinilai. Dua poin maksimal diberikan dalam setiap kategori, dan setiap pasien
harus memiliki skor 9 atau 10 untuk dapat pindah keruang rawat inap.13
Parameter
Aktivitas

Respirasi

Kriteria

Skor

Menggerakan seluruh ekstremitas secara volunteer

atau dengan perintah


Menggerakan dua ekstremitas
Tidak dapat menggerakkan ekstremitas

1
0

Napas dalam dan batuk secara bebas


Dyspnoe, napas dangkal dan bernapas secara terbatas
Apneu

2
1
0

Sirkulasi (Tekanan darah)

Tekanan darah sistolik < 20 mmHg


Tekanan darah sistolik 20 50 mmHg
Tekanan darah sistolik > 50 mmHg

2
1
0

Kesadaran

Sadar penuh
Terbangun dengan stimulasi verbal
Tidak ada respon

2
1
0

Saturasi O2

Saturasi O2 > 90% ketika bernapas dengan udara

ruangan
Saturasi O2 > 90% dengan bantuan O2 suplemental

1
0

Saturasi O2 < 90 % dengan bantuan O2 suplemental


Tabel 6, Aldrete Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 13)
B. Bromage Score
Pengukuran yang paling sering digunakan untuk mengukur blok motor adalah bromage skor.
Pada Skala ini intensitas blok motorik dinilai dengan kemampuan pasien untuk menggerakan
ekstremitas bawah. Skor ini terdiri dari empat tingkatan, apabila didapatkan skor sama atau
kurang dari dua maka pasien dapat segera dipindahkan dari ruang pemulihan.14
Skala
0
1
2
3

Deskripsi
Tungkai dan kaki dapat bergerak bebas
Hanya dapat memfleksikan lutut dan kaki dapat bergerak bebas
Tidak dapat memfleksikan lutut dan kaki dapat bergerak bebas
Tidak dapat menggerakkan tungaki dan kaki
Tabel 7, Bromage Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 14)

Gambar 2, Bromage Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 15)


C. Stewart Score
Stewart score Merupakan skor yang digunakan dalam penilaian postoperative pasien pasien
anak dengan general anestesi. Stewart score memiliki tiga variabel antara lain: kesadaran,
respirasi, dan aktivitas motorik. Pasien boleh meninggalkan ruang pemulihan apabila jumlah
skor sama atau lebih dari lima.16
Kriteria
Kesadaran :
- Bangun
- Ada respon terhadap rangsang
- Tidak ada respon
Respirasi :
- Batuk atau menangis
- Berusaha bernapas

Skala
2
1
0
2
1

- Perlu bantuan bernapas


Aktivitas motorik :
- Gerakan bertujuan
- Gerakan tanpa tujuan
- Tidak bergerak

0
2
1
0

DIFFICULT AIRWAY
Difficult airway / Kesulitan Jalan Napas: Menurut The American Society of Anesthesiology
adalah adanya faktor-faktor klinis yang menyulitkan baik ventilasi dengan masker atau intubasi
dilakukan oleh dokter yang berpengalaman dan terampil.
DIFFICULT VENTILATION
Difficult Ventilation / Kesulitan Ventilasi: Menurut The American Society of Anesthesiology
adalah ketidakmampuan dari ahli anestesi yang berpengalaman untuk menjaga SO2 > 90 % saat
ventilasi dengan menggunakan masker wajah, dan O2 inspirasi 100%, dengan ketentuan bahwa
tingkat saturasi oksigen ventilasi pra masih dalam batas normal.
Peniliaiaan Kesulitan VentilasiIngat : a snoring (OBESE) Santa
1.

Over weight (body mass index > 26 kg/m2)

2.

Beard

3.

Elderly (> 55 tahun)

4.

Snoring

5.

Edentulous

Dua factors positif (+) Kemungkinan tinggi difficult mask ventilation (DMV) (sensitivity, 0.72;
specificity, 0.73)
Magboul Difficult Mask Ventilation (DMV) Prediction Score
Prediksi Score = Mendekati positf 5 (+5) maka kemungkinan adanya Difficult Mask Ventilation
(DMV)
DIFFICULT INTUBATION

Difficult intubation / Kesulitan Intubasi: Menurut The American Society of Anesthesiology


adalah dibutukkannya > 3 kali usaha intubasi atau usaha intubasi yang terakhir > 10 menit.
Penilaian Kesulitan Intubasi
Ingat: MAGBOUL 4 (M & Ms) score dengan tanda (STOP)
1.
2.
3.
4.

Mallampati
Measurement 3-3-2-1 OR 1-2-3-3 Fingers
Movement of the neck
Malformation of the Skull (S), Teeth (T), Obstruction (O), Pathology (P)& STOP

M = Mallampati

Class I = Visualisasi soft palate, fauces, uvula, pilar anterior dan posterior.
Class II = Visualisasi soft palate, fauces and uvula
Class III = Visualisasi soft palate dan base of the uvula
Class IV = Semua soft palate tidak terlihat

M = Measurements 3-3-2-1 or 1-2-3-3 Fingers

3 - Fingers Mouth Opening


3 - Fingers Hypomental Distance. 3 Fingers between the tip of the jaw and the beginning

of the neck (under the chin)


2 - Fingers between the thyroid notch and the floor of the mandible (top of the neck)
1 - Finger Lower Jaw Anterior subluxation

M = Movement of the Neck


Sudut diatara tegak dan memanjang pada ektensi leher "normal" adalah 35 o (The atlantooksipital/ A-O joint). Keterbatasan ektensi sendi terdapat pada spondylosis, rheumatoid arthritis,
halo-jaket fiksasi, pasien dengan gejala yang menunjukkan kompresi saraf dengan ekstensi
servikal.

Ms =Malformation of the skull, teeth, obstruction, pathology (STOP)


S = Skull (Hydro and Mikrocephalus)
T = Teeth (Buck, protruded, & gigi ompong, makro dan mikro mandibula)
O = Obstruction (obesitas, leher pendek dan bengkak disekitar kepala and leher)
P = Pathologi (kraniofacial abnormal & Syndromes: Treacher Collins, Goldenhars, Pierre
Robin, Waardenburg syndromes)
Jika skore pasien 8 atau lebih, maka kemungkinan ada kesulitan intubasi

VAS adalah alat ukur lainnya yang digunakan untuk memeriksa intensitas nyeri dan
secara khusus meliputi 10-15 cm garis, dengan setiap ujungnya ditandai dengan level intensitas
nyeri (ujung kiri diberi tanda no pain dan ujung kanan diberi tanda bad pain (nyeri hebat).
Pasien diminta untuk menandai disepanjang garis tersebut sesuai dengan level intensitas nyeri
yang dirasakan pasien. Kemudian jaraknya diukur dari batas kiri sampai pada tanda yang diberi
oleh pasien (ukuran mm), dan itulah skorenya yang menunjukkan level intensitas nyeri.
Kemudian skore tersebut dicatat untuk melihat kemajuan pengobatan/terapi selanjutnya. Secara
potensial, VAS lebih sensitif terhadap intensitas nyeri daripada pengukuran lainnya seperti VRS
skala 5-point karena responnya yang lebih terbatas. Begitu pula, VAS lebih sensitif terhadap
perubahan pada nyeri kronik daripada nyeri akut. Ada beberapa keterbatasan dari VAS yaitu pada
beberapa pasien khususnya orang tua akan mengalami kesulitan merespon grafik VAS daripada
skala verbal nyeri (VRS). Beberapa pasien mungkin sulit untuk menilai nyerinya pada VAS
karena sangat sulit dipahami skala VAS sehingga supervisi yang teliti dari dokter/terapis dapat
meminimalkan kesempatan error. Dengan demikian, jika memilih VAS sebagai alat ukur maka
penjelasan yang akurat terhadap pasien dan perhatian yang serius terhadap skore VAS adalah hal
yang vital.
Wong-Baker FACES Pain Rating Scale.4

Skala nyeri ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Skala nyeri ini simple dan mudah
untuk menilai skor nyeri tersebut dalam banyak kasus. Meskipun demikian, metode VRS, VAS
dan NRS, tidak dapat digunakan pada semua pasien karena skala tersebut tidak efektif digunakan
pada pasien yang memiliki gangguan kognitif ataupun motorik, pasien yang tidak responsif
(seperti injuri), anak usia muda, dan pasien dengan umur yang tua.

Satu kekurangan skala nyeri ini bahwa nyeri tidak selalu dapat dijelaskan secara akurat
ataupun diukur berdasarkan tingkat keparahannya saja. Untuk menggambarkan nyeri hanya
dalam hal intensitasnya seperti menggambarkan apa yang dapat kita lihat hanya dari segi cahaya
atau gelap, tanpa mempertimbangkan warna, pola, atau tekstur. Sejumlah penelitian telah
dilakukan untuk menentukan kualitas rasa sakit lebih lanjut.