Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pada umumnya suatu perusahaan pasti akan memperhatikan kualitas produk yang
diproduksi demi terjaganya mutu yang telah ditetapkan sebelumnya baik dari badan
pengawas secara independent atau standar dari perusahaan itu sendiri. Tujuannya adalah
agar konsumen yang sudah berlangganan atau calon konsumen yang akan mengkonsumsi
produk tersebut puas dengan produknya dan konsumen tidak akan beralih ke produk lain.
Masing masing perusahaan mempunyai cara tersendiri dalam melakukan pengawasan
mutu pada produknya. Hal itu dikarenakan proses pengawasan mutu sangat dipengaruhi
oleh kapasitas produksinya baik setiap periode (bulan, tahun, hari), dan sebagainya.
Pengawasan mutu atau pengendalian mutu merupakan kegiatan wajib yang
dilakukan oleh perusahaan. Baik atau tidaknya pengendalian mutu yang dilaksanakan
juga mampu mempengaruhi kapasitas produksinya. Apabila pengendalian yang dilakukan
dijalankan dengan baik dan teratur, maka akan biaya biaya yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan untuk melakukan pengawasan tersebut. Akan tetapi resiko kerusakan yang
terjadi pada produk tersebut juga akan semakin kecil, sehingga biaya untuk
menanggulangi kerusaka produk tersebut juga semakin kecil. Sebaliknya jika
pengendalian yang dilakukan tidak teratur maka biaya pengawasan yang dikeluarkan akan
sedikit. Akan tetapi kerusakan yang terjadi pada suatu produk akan semakin besar
sehingga biaya yang akan dikeluarkan untuk menanggulangi kerusakan tersebut juga
semakin besar dan akan menimbulkan kerugian.
Sehingga peranan pengendalian kualitas produk sangat penting dan berguna bagi
perusahaan. Oleh karena itu kami melakukan analisis pengawasan mutu terhadap produk
Brem Liquer Dewi Sri pada Fa. Udiyana untuk mengetahui apakah pengawasan yang
dilakukan baik atau tidak. Adapun analisi yang akan digunakan yakni analisis control
charts dan analisis intensitas pengawasan kualitas. Analisis tersebut digunakan untuk
mengetahui seberapa besar tingkat kerusakan produk yang terjadi dan untuk mengetahui
biaya pengawasan kualitas yang efisien.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka permasalahan


sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran umum perusahaan Fa. Udiyana?
2. Apakah jumlah kerusakan produk yang terjadi masih berada pada toleransi standar?
1.3

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan yakni :
1. Mampu menganalisis pengawasan mutu yang diterapkan oleh Fa. Udiyana secara
maksimal
2. Mengetahui gambaran umum dari Fa. Udiyana secara keseluruhan.

BAB II
METODE PENELITIAN

2.1 Lokasi & Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar,
Provinsi Bali dengan subjek penelitian mengenai pengendalian Mutu Brem Liquer Pada
Perusahaan Firma FA. Udiyana.
Waktu yang digunakan untuk mengadakan evaluasi dengan jenis kegiatan yang
dilakukan antara lain :
a.

Kegiatan observasi : Jumat, 8 Agustus 2014 Sabtu, 9 Agustus 2014

b.

Kegiatan evaluasi : Sabtu, 9 Agustus 2014 Rabu, 20 Agustus 2014

2.2 Jenis dan Sumber Data


2.2.1

Jenis Data

Adapun jenis data yabg dipakai dalam penelitian ini sebagai berikut.
Data kualitatif, yaitu data yang dinyatakan dalam kategori, golongan, sifat dari data
tersebut, tetapi data tersebut dapat menggambarkan dan menjelaskan tentang kondisi serta
latar belakang lokasi penelitian.
2.2.2 Sumber Data
1. Data primer
Data primer adalah data yang dikumpuklan oleh peneliti atau suatu lembaga langsung dari
sumbernya, dicatat dan diamati untuk pertama kalinya dan hasilnya digunakan langsung oleh
peneliti untuk memecahkan permasalahan yang akan dicari jawabannya dengan kegiatan
evaluasi pada tanggal dan hari yang ditetapkan.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang dikumpulkan peneliti bukan dari hasil pengumpulan dan
pengolahan sendiri melainkan oleh orang lain atau lembaga tertentu.
2.3 Metode Pengumpulan Data
a. Metode literatur adalah penggunaan beberapa buah buku dan media cetak yang ada
kaitannnya dengan judul penelitian ini.
b. Metode observasi yaitu data-data dapat diambil dengan cara melakukan kunjungan
kesuatu tempat sehingga penelitian dapat dilakukan sesuai dengan keadaan perusahaan
sebenarnya.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Pengertian Pengendalian Mutu
Pengendalian
mutu
merupakan

suatu

upaya

yang

dilaksanakan

secaraberkesinambungan, sistematis, dan objektif dalam memantau dan menilaibarang,


jasa, maupun pelayanan yang dihasilkan perusahaan atau institusidibandingkan dengan
standar yang ditetapkan serta menyelesaikan masalah yang ditemukan dengan tujuan
untuk memperbaiki mutu.
Joseph. M . Juran menyatakan bahwa pengendalian mutu perlu memperhatikan
tahap-tahap perencanaan, pengendalian, dan perbaikan, yang kemudian lebih dikenal
dengan sebutan trilogi Juran. Ahli lainnya yakni Philip Crosby menitikberatkan pada
pentingnya melibatkan semua orang pada proses produksi agar setiap orang berusaha
mewujudkan kesesuaian produk/jasa terhadap persyaratan yang telah ditentukan.
Sementara itu Armand V. Feigenbaum berpendapat bahwa perlu adanya komitmen total
upaya manajemen dan pegawai untuk meningkatkan mutu produk/jasa yang dihasilkan.
3.2 Tujuan Dan Manfaat Pengendalian Mutu
Tujuan pengendalian mutu meliputi dua tahap, yaitu tujuan antara dantujuan akhir.
Tujuan antara pengendalian mutu adalah agar dapat diketahui mutubarang, jasa, maupun
pelayanan yang dihasilkan. Tujuan akhirnya yaitu untukdapat meningkatkan mutu
barang, jasa, maupun pelayanan yang dihasilkan. Pengendalian mutu penting dilakukan
karena dapat meningkatkan indeks kepuasan mutu (quality satisfaction index),
produktivitas dan efisiensi, laba/keuntungan, pangsa pasar, moral dan semangat
karyawan, serta kepuasan pelanggan.
Terdapat lima dimensi pokok mutu, yaitu sebagai berikut :
a. Bukti langsung (tangible), terdiri dari fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan

sarana komunikasi. Contohnya dalam hal pelayanan gizi di poliklinik suatu


rumah sakit, maka pasien melihat mutu pelayanan dari fasilitas ruangan yang
memadai, food model, perlengkapan pengukur status gizi, dan sebagainya.
b. Keandalan (reliability), merupakan kemampuan perusahaan/institusi dalam
memberi pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.

Contohnya dalam hal pelayanan gizi yaitu janji ditepati sesuai jadwal, anjuran
diet terbukti akurat, dan sebagainya.
c. Daya tanggap (responsiveness), yaitu dapat diakses, tidak lama menunggu, serta
bersedia mendengar keluh kesah konsumen.
d. Standar yang ditetapkan serta menyelesaikan masalah yang ditemukan dengan
e.

tujuan untuk memperbaiki mutu.


Empati, merupakan kemudahan berhubungan, berkomunikasi, perhatian pribadi,
serta memahami kebutuhan konsumen.

3.3 Prinsip Pengendalian Mutu


Menurut Deming, pengendalian mutu secara sistematis mengikuti langkah-langkah
perencanaan (plan), pelaksanaan (do), pemeriksaan (check), serta penindakan atas dasar
hasil evaluasi dan perbaikan terus menerus (act). Langkah-langkah ini lebih dikenal
dengan sebutan PDCA Cycle.

3.4 Macam Macam Biaya Pengendalian Mutu

Biaya mutu merupakan biaya yang terjadi karena kemungkinan adanya mutu produk
maupun jasa yang rendah. Terdapat berbagai macam model biaya mutu, antara lain P - A
- F Model (Prevention - Appraisal - Failure), Process Cost Model, serta Life Cycle
Model. Namun yang akan dibahas di sini hanya salah satu saja yaitu P-A-F Model. P-AF Model terdiri dari tiga komponen, yaitu biaya pencegahan, biaya penilaian/pengkajian,
dan biaya kegagalan. Biaya kegagalan terdiri dari dua aspek, yaitu biaya kegagalan
internal dan biaya kegagalan eksternal. Secara rinci setiap komponen biaya adalah
sebagai berikut :
A. Biaya Pencegahan (Prevention costs)

Biaya pencegahan merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mencegah terjadinya cacat
produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan yang dimaksudkan untuk menurunkan
kuantitas produk yang tidak memenuhi spesifikasi mutu yang telah ditetapkan sehingga
dapat menurunkan biaya kegagalan. Biaya pencegahan meliputi perencanaan mutu,
program pelatihan mutu, pelaporan mutu, penilaian pemasok, serta pemeriksaan mutu.
B. Biaya Pengkajian (Appraisal costs)

Biaya pengkajian merupakan biaya yang menentukan apakah produk atau jasa yang
dihasilkan sesuai dengan persyaratan mutu yang telah ditetapkan. Biaya ini meliputi:
biaya pengujian bahan baku, biaya inspeksi pengemasan, biaya aktivitas pengawasan,
serta product acceptance dan process acceptance. Product acceptance adalah
pengambilan sample dari satu batch produk jadi untuk menentukan apakah produk
dalam batch tersebut memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan. Process
acceptance adalah pengambilan sample dari proses produksi yang sedang berjalan untuk
melihat apakah proses produksi berjalan dalam kendali dan tidak menghasilkan produk
yang cacat atau rusak.
C. Biaya Kegagalan (Failure costs)

Biaya kegagalan terdiri dari biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan
eksternal, yaitu:
Internal failure costs, merupakan biaya yang dikeluarkan karena terjadi
ketidaksesuaian produk. dengan spesifikasi mutu yang dideteksi sebelum ada di tangan
konsumen. Biaya ini meliputi biaya sisa bahan (scrap), biaya pengerjaan ulang, biaya
pengetesan ulang, serta biaya perubahan desain.
External failure costs, merupakan biaya yang dikeluarkan karena terjadi
ketidaksesuaian produk dengan spesifikasi mutu yang dideteksi setelah produk

berada di tangan konsumen. Biaya ini meliputi biaya kerugian penjualan, biaya
penanganan keluhan konsumen, serta biaya jaminan.
3.5 Analisis Control Chart
Control Charts merupakan analisis untuk mengetahui rata-rata kerusakan dari produk
yang diperiksa, serta untuk mengetahui besarnya penyimpangan yang terjadi, kemudian
ditentukan batasan pengawasannya yaitu batas atas dan batas bawah. Adapun beberapa
rumus yang digunakan yakni :

Dalam peta control diperlukan suatu batasan yang mempunyai fungsi penentu toleransi
pada kerusakan produk dala satu periode yang disebut sebagai batasan pengawasan.
Adapun batasan batasan pengawasan tersebut yakni :

Batasan Atas (Upper Control Limit = UCL)

Batasan Bawah (Low Control Limit = LCL)

3.6 Analisis Intensitas Pengawasan Mutu


Analisis ini merupakan analisis yang digunakan dengan tujuan untuk mengetahui
seberapa jauh pengawasan terhadap mutu produk yang dijalankan oleh perusahaan serta
untuk mengetahui besarnya biaya yang timbul akibat adanya kegiatan pengawasan mutu
yaitu biaya yang efisien dengan tingkat kerusakan produk yang optimal. Biaya-biaya
yang diperhitungkan dalam kegiatan pengawasan mutu adalah:

1. Biaya pengawasan mutu

Biaya-biaya yang merupakan biaya pengawasan mutu adalah :


a. Biaya tenaga kerja yang terlibat
b. Biaya laboratorium penguji kadar alkohol pada brem liquer
Adapun rumus dari biaya pengawasan mutu yakni :
Biaya pengawasan mutu (QCC)

2. Biaya jaminan mutu


Adapun rumus dari biaya jaminan mutu yakni:
Biaya jaminan mutu (QAC)

Dari persamaan tersebut, dapat ditentukan jumlah produk rusak yang menanggung
biaya terendah (q*) yaitu :

3. Total biaya atas mutu (TQC)


Adapun rumus dari total biaya mutu yakni :
TQC = QCC + QAC

BAB IV
KONDISI UMUM PERUSAHAAN
4.1 Sejarah Berdirinya Perusahaan
Fa. Udiyana berdiri pada tanggal 28 Oktober 1968, oleh dua bersaudara yaitu I.B.
Oka Gotama dan I.B. Ketut Beratha. Pada awalnya Fa. Udiyana berkonsentrasi pada

pembuatan Brem Bali. Awalnya minuman brem merupakan minuman tradisional yang
digunakan sebagai pelengkap upacara adat di Bali (tetabuhan). Namun kedua pendiri
tersebut mampu membuat minuman Brem yang dapat diterima masyarakat sebagai satu
minuman yang berkualitas.
Pada tanggal 25 September 1976, FA. Udiyana diresmikan oleh Gubernur KDH
Tigkat I Bali merupakan Bapak Sukarmen. Dengan merk dagang Dewi Sri, Fa.
Udiyana mampu mengibarkan bendera sebagai produk negeri yang dapat diterima oleh
berbagai kalangan baik dalam negeri maupun mancanegara. Terbukti dengan telah
dilakukannya beberapa kali ekspor produk Fa. Udiyana ke negara Jepang maupun
negara-negara lain. Tentu hal ini jelas mengindikasikan bahwa Fa. Udiyana memang
patut diperhitungkan di kalangan perusahaan yang menyajikan minuman beralkohol yang
bermutu. Produk awal dari Fa. Udiyana adalah minuman Brem Bali Dewi Sri akan
tetapi seiring berjalannya waktu, hingga saat ini Fa. Udiyana telah memiliki jenis produk
yaitu :
1. Brem Bali Dewi Sri
2. Brem Liquer Dewi Sri
3. Arak Bali Dewi Sri
Saat ini Fa. Udiyana juga didukung oleh PT. Hatten Bali yang menjadi
distributor produk Fa. Udiyana dan PT. Arpan Bali Utama yang merupakan
perusahaan yang juga bergerak dibidang minuman beralkohol yaitu wine. Dengan
teknologi yang tinggi serta tenaga ahli yang dimiliki oleh PT. Arpan Bali Utama, Fa.
Udiyana mampu meningkatkan kualitas serta kuantitas produk.

Struktur Organisasi Fa. Udiyana Dewi Sri


OWNER

GENERAL MANAJER

OPERATIONAL MANAGER
Marketing
Sales

LABORATORIUM.

Washing
Labelling

HRD

KEPALA PRODUKSI

STAFF PRODUKSI
Kitchen
Bottling

ACCOUNTING MANAGER

Rechieving

Casier

Data Entry

Purchasing

4.2.1

Tugas Dan Wewenang Personalis Dalam Perusahaan


Owner (Bapak Ida Bagus Rai Budarsa)
Mengawasi pekerjaan General Manager, dan meminta pertanggung jawaban secara

periodik, yaitu setiap akhir bulan.


General Manager (Bapak Ida Bagus Gunawan)
Mengevaluasi laporan keuangan, personalia, dan operasional perusahaan yang

kemudian akan dipertanggungjawabkan kepada owner.


Mengendalikan strategi jangka pendek yang dibuat pemilik untuk mencapai tujuan

strategi jangka panjang.


Operational manager ( Bapak Suwarno)
Menentukan strategi pemasaran secara berkala untuk peningkatan penjualan di masa

yang akan datang.


Mengkoordinasi divisi marketing dan salesting.
Menentukan target penjualan produk.

Manajer oprerasional terdiri dari :


a. Laboratorium
b. Kepala Produksi ; terdiri dari beberapa staff produksi di masing-masing kegiatan
produksi yaitu kitchen, bottling, washing, dan labelling.
Accounting Manager (Bapak Putra Redana)
Merencanakan, mengatur, menjalankan, mengendalikan serta bertanggungjawab

terhadap keuangan perusahaan.


Mengatur sumber-sumber pembiayaan perusahaan.
Bertanggungjawab atas ketertiban administrasi yang berhubungan dengan sistem

dan prosedur akuntansi.


Lingkungan
Eksternal
Accounting manager,
terdiri dari
:
1. Rechieving
2. Data Entry
3. Casier
Input :
4. Purchasing
Proses Tranformasi :
Beras
ketan
putih
HRD
(Ibu
Reny
Murdiani)
Mencuci ketan dan botol
Merekrut karyawan yang dibutuhkan oleh masing-masing
bagian dalam perusahaan.
kosong.
Beras ketan hitam
Mengelola pengangkatan dan kesejahteraan karyawan.
Memasak ketan
Mengelola
asuransi tenaga kerja karyawan.
Ragi
Mengadakan pelatihan dan pengembangan karyawan.
Fermentasi
Air
4.3 Manajemen Produksi Perusahaan
Aging
kosong
1. Proses Botol
Transformasi/Produksi
Termasuk Lingkungan Eksternalnya
Tenagabrem
kerjadigambarkan pada bagan dibawah ini : Mengisi final brem
Proses produksi
kedalam botol.
Peralatan
Output
Minuman Brem
Energi
Modal
Informasi
Feed Back :
Memisahkan botol yang rusak.

Gambar 2. Proses Transformasi Brem


Dari Gambar 2 di atas terlihat bahwa input-input produksi dikonversikan
menggunakan teknologi proses yang digunakan untuk mentransformasikan berbagai input
produksi menjadi suatu output yaitu minuman brem. Bahan baku dasar pembuatan
minuman brem adalah ketan hitam, ketan putih dan ragi sedangkan air sebagai bahan
pelengkap serta botol sebagai wadah dalam pengemasan brem. Tenaga kerja berperan
dalam proses produksi, mulai dari tahap pemasakan ketan hingga proses bottling dan
labelling. Energi yang digunaka dalam proses produksi yaitu energi listrik. Peralatan yang
digunakan dalam proses transformasi meliputi tangki-tangki, bak-bak, kompor, alat untuk
bottling dsb.
Informasi umpan balik dalam gambar di atas dipergunakan perusahaan untuk
mengendalikan input produksi dan teknologi proses. Misalnya pemilahan botol yang
rusak dapat mengendalikan proses masukan sehingga output yang dihasilkan sesuai
dengan yang diinginkan. Selian itu, pemanfaatan ampas dari ketan sebagai pakan ternak
juga menjadi feedback. Karena pemanfaatan ampas tersebut dapat menghasilkan
pendapatan tambahan untuk perusahaan.
Untuk lebih lengkapnya, mengenai proses produksi brem dan arak pada perusahaan Fa.
Udiyana, dijabarkan sbb :

4.4 Proses Produksi


4.4.1 Proses Pembuatan Brem

Bahan dasar yang digunakan adalah ketan putih dan ketan hitam dengan komposisi
95% : 5%, hal ini untuk memungkinkan mendapatkan warna kecoklatan yang menjadi

hasil akhir dari brem dan karakter serta aroma khas brem.
Kemudian beras direndam selama kurang lebih 1 jam untuk dimasak dengan cara

dikukus. Lama pengukusan sekitar 30 menit.


Beras ketan yang telah bercampur dan setengah matang, ditambahkan air sekitar 20

liter guna mendapatkan kelembaban yang diinginkan.


Setelah itu, ragi ditambahkan untuk proses selanjutnya yaitu proses fermentasi. Cairan

yang dihasilkan dari prose fermentasi tersebut merupakan brem.


Kemudian dilakukan pemerasa, yang dilakukan untuk mendapatkan cairan brem yang
maksimal. Namun brem yang dihasilkan masih tergolong brem muda yang masih perlu
melalui proses aging / pemeraman selama minimal 2 bulan.
Setelah masa aging tersebut, maka brem dapat dikatakan siap untuk dipasarkan dengan

dibotolkan dan dipercantik dengan label dan packaging dalam tas anyaman tradisional
maupun langsung di dalam karton.
4.4.2 Proses Pembuatan Arak Bali

Arak merupakan salah satu produk yang menjadi primadona di Fa. Udiyana.
Sedangkan proses pembuatannya merupakan hasil resep turun- temurun. Adapun langkahlangkah pembuatannya adalah sbb :

Beras ketan putih direndam selama kurang lebih 1 jam kemuian dikukus.
Ragi ditambhakan untuk memungkinkan beras mengalami fermentasi. Biasanya
fermentasi berlangsung selama 5 hari, dan hasil fermentasi yang disebut brem
didiamkan

sampai

ragi

benar-benar

berhenti

bekerja.

Hal

inilah

yang

membedakannya dengan produk Brem yang mengalami setengah fermentasi

sehingga masih terasa manis.


Brem yang telah selesai mengalami frementasi, kemudian didistilasi. Proses
penyulangan ini berlangsung kurang lebih 8-10 jam setiap 1000 liter. Arak yang

4.4.3

dihasilkan memiliki kadar alkohol sekitar 40%.


Proses selanjutnya adalah pembotolan dan dilanjutkan dengan pelabelan.
Proses Pembuatan Brem Liquer

Produk ini pada dasarnya merupakan campuran antara cairan brem dengan cairan
arak yang disuling dengan presentase 60 : 40 sehingga kadar alkohol yang

terkandung dalam minuman tersebut berkisar 10%.


Setelah cairan tersebut dicampur, proses selanjutnya adalah pembotolan dan
pelabelan.

4.4.4 Produk-Produk Fa. Udiyana


1. Brem Dewi Sri ukuran 200 ml
Dikemas dalam 24 botol karton dan tas tradisional yang memuat 3 botol.
Merupkana packaging yang unik dan dapat dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang
ingin menikmati minuman beralkohol yang merupakan khas Bali. Mengandung + 5 %
alkohol, sangat tepat bila dinikmati bersama masakan Bali yang terkenal pedas.
Memiliki aroma yang khas dan kompleksitas serta keseimbangan rasa yang memikat.
Dapat dinikmati langsung ataupun dicampur dengan lime soda, sedikit es batu atau
1.

ditambahkan pada fruit ypgurt. Penyimpanan yang ideal adalah pada suhu 8 100C.
Brem Dewi Sri ukuran 630 ml
Karena beragam permintaan pasar, maka Fa. Udiyana juga mengemas Brem
dalam ukuran 630 ml. Memiliki kenikmatan serta komplektisitas dan keseimbangan
rasa yang sesuai dengan selera wisatawan asia. Kadar alkohol + 5%. Penyimpanan

yang ideal adalah pada suhu 8 100C.


Brem liqueur Dewi Sri ukuran 750 ml
Merupakan inovasi dari brem yang berkadar alkohol lebih tinggi yaitu + 10%.
Kenikmatan serta keseimbangan rasa dan aroma melebihi brem dikarenakan alkohol
yang lebih tinggi dan didukung pengemasan dengan kotak yang menambah prestise

produk ini. Kondisi penyimpanan pada suhu 8 100C.


Arak Dewi Sri ukuran 350 ml
Merupkana hasil destilasi brem yang berkadar alkohol 40%. Memiliki warna
yang jernih serta perpaduan aroma buah lemon dan leci. Sangat nikmat bila
dicampurkan dengan segelas soft drink ( cola, sprite maupun cocktail). Begitu banyak
kreasi yang dapat dihasilkan dengan arak sebagai bahan dasar. Kondisi penyimpanan

yang ideal pada suhu 8 100C.


Arak Dewi Sri ukuran 680 ml
Banyak restaurant serta hotel yang menggunakan arak sebagai bahan dasarnya,
oleh karena itu dibuatlah ukuran yang lebih besar yaitu 680 ml dengan kadar alkohol
40%. Merupakan kreasi yang tepat digunakan sebagai oleh-oleh karena dikemas
dalam kotak individu yang menarik. Sangat tepat disajikan pada saat perjamuan baik
formal maupun informal. Kondisi penyimpanan yang ideal pada suhu 8 100C.

Produk produk yang dihasilkan oleh Fa. Udiyana merupakan produk yang ramah
lingkungan, karena Fa. Udiyana merasa ikut bertanggungjawab untuk tetap menjaga alam dan
budaya Bali hingga tetap menjadi daerah pariwisata yang diminati oleh wisatawan
mancanegara. Hal ini terbukti denga sampah-sampah hasil pemerasan yang tidak dibuang ke
TPA, namun diolah untuk pakan ternak. Sedangkan botol-botol yang telah dipakai didaur
ulang untuk mengurangi sampah di daerah Bali. Fa. Udiyana membeli botol-botol kosong
kemudian dibersihkan serta disterilisasi sebelum digunakan kembali.
4.5 Penentuan Luas Produksi
Penentuan luas produksi adalah merupakan ukuran terhadap apa dan berapa
jumlah barang yang harus diproduksi agar perusahaan memperoleh keuntungan yang
maksimal. Pada perusahaan Fa. Udiyana luas produksi pada tahun 2013 disajikan pada
tabel berikut :

Tabel 1. Total Produksi dan Rata-Rata Produksi Tahun 2013


No.

Nama Barang

1
2
3

Brem
Brem Liqueur
Arak
Total

Total Produksi
(Liter)
44.715,78
2.468,25
28.900,25
76.084,28

Rata-Rata Produksi
(Liter/bulan)
3.726,32
205,69
2.408,35
6.340,36

Berdasarkan Tabel 1. di atas, jumlah produksi untuk tiga produk yang dihasilkan
oleh Fa. Udiyana Dewi Sri pada tahun 2013 adalah sebesar 76.084,28 dengan rata-rata
per bulannya adalah sebesar 6.340,36 liter. Untuk penetapan jenis produk yang harus
dihasilkan ada tiga jenis produk yang dihasilkan yaitu minuman Brem Bali, Brem Liquer,
dan arak Bali.
4.6 Penentuan Pola Produksi

Pada perusahaan Fa. Udiyana Dewi Sri ini apabila dilihat dari pola produksinya
yaitu menggunakan pola produksi konstan, yang artinya jumlah output yang diproduksi setiap
periode yang lebih pendek dari satu tahun selalu sama. Meskipun terjadi fluktuasi jumlah
produksi, namun presentasenya kecil sehingga pola produksinya dianggap konstan dalam
setahun.
4.7 Penentuan Lokasi Pabrik
Penentuan lokasi suatu perusahaan yang tepat, akan menentukan kemampuan
melayani konsumen dengan memuaskan, mendapatkan bahan-bahan mentah yang cukup dan
kontinyu dengan harga yang memuaskan/layak, dan memungkinkan diadakan perluasan
pabrik di kemudian hari. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi
pabrik, maka lokasi pada perusahaan Fa. Udiyana Dewi Sri :
1.

Letak dari sumber bahan baku


Lokasi pada perusahaan Fa. Udiyana Dewi Sri berdasarkan kriteria penetuan
lokasi pabrik, Fa.Udiyana berlokasi dekat dengan sumber bahan baku. Bahan baku
ketan berasal dari suplier lokal. Presentase penggunaan bahan baku ketan lokal lebih
besar dari penggunaan bahan baku ketan impor. Sehingga keuntungan dengan
dekatnya perusahaan dengan sumer bahan baku dapat memperkecil biaya
pengangkuatan bahan baku.

2.

Letak dari pasar


Selain dekat dengan sumber bahan baku, Fa. Udiyana juga memiliki pasar yang
dekat yaitu produk brem dan arak didistribusikan ke seluruh wilayah Bali, bahkan

3.

produk Dewi Sri ini telah merambah pasar nasional dan mancanegara.
Letak dari sumber listrik
Dilihat dari ketersediaan sumber listrik, lokasi perusahaan Fa. Udiyana, dekat
dengan sumber listrik. Sumber listrik berasal dari gardu yang ada di perusahaan

4.

Hatten Wines yang berada di sebelah Fa. Udiyana.


Supply tenaga kerja
Berdasarkan kedekatan dengan ketersediaan tenaga kerja, Fa. Udiyana
termasuk perusahaan yang menggunakan tenaga kerja lokal, sehingga dapat dikatakan

5.

perusahaan ini dekat dengan suber tenaga kerja


Terdapatnya fasilitas transportasi
Perusahaan Fa. Udiyana ini juga memiliki lokasi yang dekat dengan kota,
sehingga untuk akses terhadap transportasi cukup mudah dijangkau.

4.8 Penentuan Layout Pabrik

Menurut Subagyo (2000), layout pabrik artinya cara penempatan fasilitas-fasilitas


yang digunakan di dalam pabrik, sehingga proses produksi dapat berjalan sedemiakian rupa
dengan lancar dan efisien. Berdasarkan hasil wawancara, layout perusahaan Fa. Udiyana
yaitu product layout, dimana semua mesin dan peralatan yang diatur menurut urutan-urutan
dari proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk.
Berikut gambar peta lokasi dan peta tata letak tangki di Fa. Udiyana Dewi Sri :

PINTU
GERBANG

PURA
TAMAN

PARKIR
PEKERJA

KANTOR
(OFFICE)

GUDANG
BAHAN
BAKU

TEMPAT
FERMENTASI

LABORATORIUM

RUANG
OBAT

T. PRODUK
JADI

T. TANGKI
UNTUK
PROSES
AGING

T. BOTTLING
&LABELLING

T. DISTILASI
ARAK

T. PERAGIAN

T. PEMASAKAN &
PENCUCIAN

Gambar 1. Peta Perusahaan Fa. Udiyana Dewi Sri

Ruang Obat

Ruang Aging

KETERANGAN :
a. Ruang tangki untuk fermentasi. Tangki untuk
fermentasi

berada

dalam

satu

ruang

fermentasi tangki ini berukuran 1200 liter,


dengan jumlah 15 tangki.
b. Ruang tangki untuk proses aging, berada
dalam satu ruangan. Ada dua tangki yag
berukuran 5000 liter, dan 16 tangki yang
berukuran 3000 liter.
c. Ruang obat

Ruang Fermentasi

Gambar 2 Peta tangki di Fa. Udiyana

4.9 Organisasi Pengawasan Mutu dalam Perusahaan


Secara umum Fa. Udiyana tidak mempunyai struktur organisasi pengawasan mutu. Hal
itu dikarenakan pengawasan mutu dilakukan secara langsung pada proses produksi brem liquer
oleh staff produksi yang diawasi juga oleh Kepala Produksi.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Proses Pengendalian Mutu


Proses pengendalian mutu dilakukan seiring dengan proses produksinya. Sehingga setiap
kali memproduksi akan terjadi juga proses pengawasan mutu, dimulai dari pengawasan
fermentasi, proses bottling, washing, dan labeling. Sehingga proses pengendalian mutu yang
dilakukan oleh Fa. Udiyana dilakukan secara teratur.
Analisis Control Chart
Tabel 1. Persentase Kerusakan Brem Liquer Tahun 2013
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah

Jumlah Produk yang


Diperiksa (botol)
274
274
274
274
274
274
274
274
274
274
274
274
3288

Jumlah Produk
Kerusakan Presentase
yang Rusak (Botol)
Kerusakan
10
0.036
3.65%
9
0.033
3.28%
8
0.029
2.92%
9
0.033
3.28%
8
0.029
2.92%
10
0.036
3.65%
9
0.033
3.28%
8
0.029
2.92%
8
0.029
2.92%
8
0.029
2.92%
9
0.033
3.28%
10
0.036
3.65%
106
0.032
3.22%

Jumlah produk yang diperiksa (total inspeksi)

= 3.288 botol

Jumlah produk yang rusak

= 106 botol

Persentase kerusakan

= 3,22%

n rata-rata

Standar Deviasi (penyimpangan)

atau 1,06%

Batasan pengawasan

Batasan Atas (Upper Control Limit = UCL)

Batasan Bawah (Low Control Limit = LCL)

Dengan melihat batasan pengawasan yaitu batas atas (Upper Control Limit) dan batas bawah
(Lower Control Limit) serta kejadian selama satu tahun, maka dikatakan bahwa kegiatan
pengendalian mutu pada brem liquer sudah dilaksanakan dengan baik, ini dapat dilihat dari
kerusakan produk yang terjadi masih dalam batas wajar yaitu masih tersebar antara batas atas
dan batas bawah. Indikator-indikator kerusakan produk dan sebab terjadinya kerusakan produk
antara lain produk rusak di gudang sebelum barang dijual seperti pecah, cacat, kadaluarsa di
tempat penjualan dan lain sebagainya
Kerusakan-kerusakan produk tersebut digambarkan dalam bentuk peta control sebagai
berikut:

UCL

P
Presentase
kerusakan(%)

LCL
Bulan

5.2 Analisis Intensitas Pengawasan Mutu


5.2.1 Biaya pengawasan mutu
Perhitungan intensitas pengawasan mutu dalam penelitian ini adalah :

Intensitas pengawasan mutu Brem Liquer


- R= jumlah produk yang diperiksa
= 3.288 botol
- Biaya tenaga kerja yang melakukan kegiatan pengendalian mutu dalam satu tahun.
1 orang tenaga kerja = 1 x 12 x Rp 1.500.000
= Rp 18.000.000
Dalam satu bulan melakukan kegiatan pengendalian mutu rata-rata setiap hari sebanyak

20 kali. Jadi, dalam satu tahun sebanyak 20 x 12 = 240 kali.


Sehingga biaya pengetesan setiap kali test (O) adalah :

Biaya laboratorium penguji kadar alkohol dalam satu tahun.


= 1 x 12 x Rp 80.000
= Rp 960.000,00

Dalam satu bulan melakukan kegiatan pengendalian mutu rata-rata setiap hari sebanyak
20 kali. Jadi, dalam satu tahun sebanyak 20 x 12 = 240 kali. Sehingga biaya pengetesan
setiap kali test di laboratorium (O) adalah :

Sehingga total biaya pengetesan setiap kali test (O) adalah Rp 79.000
5.2.2 Biaya jaminan mutu setiap unit (c) :
Harga jual per unit brem liquer sebesar Rp 85.000,00
Besarnya biaya jaminan mutu setiap unit yaitu seharga dengan harga jual pokok yang
dibebankan oleh perusahaan.
Berdasarkan data diatas, dibuat persamaan total biaya pengawasan mutu (QCC) dan biaya
jaminan mutu (QAC) sebagai berikut :

Biaya Jaminan Mutu (QAC)

Dari persamaan tersebut, dapat ditentukan jumlah produk rusak yang menanggung biaya
terendah (q*) yaitu :

dibulatkan menjadi 55 unit


Maka biaya pengawasan mutu yang ditanggung perusahaan Fa. Udiyana sebesar :
-

Biaya Pengawasan Mutu (QCC)

Biaya Jaminan Mutu (QAC)

Total Baya Atas Mutu (TQC)

Dari perhitungan dengan menggunakan analisis pengawasan mutu, jumlah kerusakan


optimum brem liquer sebanyak 55 botol apabila diadakan perbandingan antara q* yang
dikehendaki dengan q (produk rusak) yang benar-benar terjadi terdapat selisih sebesar 106 55 =
51 unit. Selisih ini menunjukkan bahwa produk rusak yang terjadi lebih besar dari produk rusak
yang dikehendaki. Sedangkan perhitungannya akan nampak seperti yang dibawah ini :
Misal q : 50 unit
Maka :

= Rp 9.445.040

Misal q : 60 unit

Maka

Rp 4.329.200

Misal q : 70 unit
Maka :

Misal q : 80 unit
Maka
:

Perhitungan tersebut bila disusun dalam tabel tampak seperti dibawah ini :
Tabel 2. Jumlah produk rusak (q), masing-masing biaya (QCC, QAC dan TQC)
Q
(Unit)

QCC
(Rupiah)

QAC
(Rupiah)

TQC
(Rupiah)

50

5,195,040

4,250,000

9,445,040

55
60
70
80

4,722,764
4,329,200
3,710,743

4,675,000
5,100,000
5,950,000

3,246,900

6,800,000

9,397,764
9,429,200
9,660,743
10,046,900

Sehingga, grafik QCC, QAC dan TQC (jutaan rupiah) ditunjukkan sebagai berikut dimana
didapatkan :
1. QCC akan menurun apabila jumlah produk rusak meningkat dan sebaliknya, QCC akan
meningkat apabila jumlah produk rusak menurun.

2. QAC akan menurun apabila jumlah produk rusak juga menurun dan QAC akan
meningkat apabila jumlah produk rusak juga meningkat.
3. Dengan jumlah produk rusak sebanyak 55 botol akan diperoleh biaya QCC sebesar Rp
4.722.764 dan biaya QAC sebesar Rp 4.675.000 dan biaya TQC sebesar Rp 9.397.764

BAB VI
KESIMPULAN

1. Proses pengendalian mutu dilakukan seiring dengan proses produksinya. Sehingga setiap
kali memproduksi akan terjadi juga proses pengawasan mutu, dimulai dari pengawasan
fermentasi, proses bottling, washing, dan labeling.
2. Dengan melihat batasan pengawasan yaitu batas atas (Upper Control Limit) dan batas
bawah (Lower Control Limit) serta kejadian selama satu tahun, maka dikatakan bahwa
kegiatan pengendalian mutu pada brem liquer sudah dilaksanakan dengan baik, ini dapat
dilihat dari kerusakan produk yang terjadi masih dalam batas wajar yaitu masih tersebar
antara batas atas dan batas bawah. Indikator-indikator kerusakan produk dan sebab
terjadinya kerusakan produk antara lain produk rusak di gudang sebelum barang dijual
seperti pecah, cacat, kadaluarsa di tempat penjualan dan lain sebagainya
3. Dari perhitungan dengan menggunakan analisis pengawasan mutu, jumlah kerusakan
optimum brem liquer sebanyak 55 botol apabila diadakan perbandingan antara q* yang
dikehendaki dengan q (produk rusak) yang benar-benar terjadi terdapat selisih sebesar
106 55 = 51 unit. Selisih ini menunjukkan bahwa produk rusak yang terjadi lebih besar
dari produk rusak yang dikehendaki.
4. QCC akan menurun apabila jumlah produk rusak meningkat dan sebaliknya, QCC akan
meningkat apabila jumlah produk rusak menurun.
5. QAC akan menurun apabila jumlah produk rusak juga menurun dan QAC akan
meningkat apabila jumlah produk rusak juga meningkat.
6. Dengan jumlah produk rusak sebanyak 55 botol akan diperoleh biaya QCC sebesar Rp
4.722.764 dan biaya QAC sebesar Rp 4.675.000 dan biaya TQC sebesar Rp 9.397.764

DAFTAR PUSTAKA