Anda di halaman 1dari 2

Di Pengadilan Pun Suap Terjadi (Kasus)

Saya pernah kena tilang waktu mengendarai sepeda motor dikarenakan lampunya tidak menyala.
Padahal sebenarnya lampunya sudah saya nyalakan, tetapi bermasalah kadang nyala kadang
tidak. Sewaktu ada razia polisi saya dengan santainya tetap melaju saja karena merasa surat-surat
saya lengkap. Tiba-tiba pak polisi menyuruh saya berhenti untuk diperiksa SIM dan STNK dan
saya menunjukkannya.
Kemudian pak polisi berbicara lampunya mati ya?.
Tidak pak, nyala kok, kataku.
La itu mati lampunya, sana ke petugas di sana kata pak polisi sambil menunjuk petugas yang
berada di mobil dan dikerumuni oleh banyak orang.
Aku melihat ke arah lampu sepeda motorku dan berkata, lo kok mati, padahal udah aku
nyalakan lo.
Kemudian saya mencoba mematikan dan menghidupkan panel lampu sepeda motor untuk saya
cek nyala apa tidak. Lama saya mencobanya ternyata tidak nyala, kemudian saya pukul batok
lampu ternyata nyala. Setelah itu saya melihat pak polisi yang membawa SIM dan STNK ku
pergi ke petugas yang berada dimobil untuk memberikan SIM dan STNK kepada petugas
tersebut. Akhirnya saya pergi ke petugas dimobil polisi di seberang jalan. Banyak orang yang
berkumpul karena banyk juga yang kena tilang. Setelah petugas memanggil namaku, dia
menanyakan apa pelanggaranku, dan saya bilang tidak menyalakan lampu.
Petugas bilang Titip 30 ribu atau sidang?.
Sidang aja pak, kataku.
Kalau sidang waktunya seminggu lagi di pengadilan sana, kalau titip 30 ribu aja sekarang kata
petugas.
Sidang aja pak kataku.
Dalam hati saya berkata Daripada memberi uangnya tilangnya masuk kantung pribadi para
polisi ini mending saya berikan ke Negara saja, hitung-hitung bayar pajak.
Setelah diberi surat tilang saya melanjutkan perjalanan pulang. Seminggu telah berlalu dan saya
pergi ke pengadilan untuk mengambil STNK. Suasana di pengadilan cukup ramai, rupanya
banyk juga orang yang kena tilang. Saya menanyakan kepada seseorang bagaimana prosedur
pengambilan STNK. Orang tersebut menyuruh saya memberikan surat tilang kepada petugas
yang berdiri di dekat pintu sebuah ruang yang terdapat tulisan TU di atas pintu. Setelah
memberikan surat tilang kepada orang yang berdiri di dekat pintu ruang TU tersebut, saya
disuruh untuk menunggu sebentar dan orang tersebut masuk ke ruangan TU. Lama saya
menunggu kemudian ada orang yang keluar pintu ruang TU tersebut dan terlihat membawa
banyak STNK. Segera saja banyak orang yang mengerubutinya. Kemudian saya mencoba
mendekat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata petugas memberikan STNK kepada yang
pemiliknya dengan menarik sejumlah uang sebagai pengganti biaya pengadilan. Ada orang yang
protes kepada petugas pasalnya jumlah uang yang ditarik oleh petugas pengadilan lebih banyak
daripada polisi yang menilangnya. Dan petugas pengadilan tersebut menjawab daripada di
pengadilan di dalam nanti kamu kena lebih banyak lagi karena jelas melanggar dan waktunya

akan lebih lama dan berbelit-belit nanti urusannya di dalam, makanya di sini aja biar cepat
selesai, udang mana uangnya. Padahal ditempat tersebut banyak orang dan diketahui langsung
oleh orang yang berada ditempat itu. Sepertinya dengan terpaksa orang yang protes tersebut
memberikan sejulah uang kepada petugas pengadilan tersebut. Begitupun dengan saya waktu
STNK saya akan diberikan oleh petugas pangedilan. Saya mencoba protes dan hasilnya sama
dengan beberapa orang yang protes tadi. Dengan sangat terpaksa saya memberikan sejumlah
uang yang jumlahnya lebih banyak dibanding yang ditarik polisi yaitu Rp 40.000.
Suap yang diperbolehkan (Analisis)
Dari kasus di atas telah terjadi kasus suap. Dalam ajaran Islam kasus suap tidak
diperbolehkan karena akan menimbulkan dosa. Tetapi dalam kasus suap di atas si pemberi suap
tidak dihukum berdosa karena dia terpaksa memberikan suap karena untuk mendapatkan haknya
yaitu STNK. Apabila dia tidak memberikan sejumlah uang tersebut maka haknya yaitu STNK
tersebut tidak akan diberikan kepada pemiliknya.
Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, Memberikan uang suap, jika orang itu
menyuap hakim agar hakim memenangkan perkaranya, padahal dia bersalah atau agar hakim
tidak memberikan keputusan yang sejalan dengan realita, maka memberi suap hukumnya haram.
Sedangkan suap dengan tujuan agar mendapatkan hak, hukumnya tidaklah haram (halal)
sebagaimana uang tebusan untuk menebus tawanan. (Raudhatu Ath-Thalibin wa Umdatu AlMuftin, IV:131).