Anda di halaman 1dari 8

ETIKA BISNIS

Etika Utilitarianisme

Kelompok 5

Ni Luh Putu Yanti Astika Dewi

1206205122

I Putu Dharmawan Suryagita Susila Putra

1206205127

Ida Ayu Anggia Wedya Dewi

1206205138

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini dengan baik
yang berjudul Etika Utilitarianisme.
Makalah ini berisikan tentang informasi etika utilitarianisme . Diharapkan makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang etika utulitarianisme.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa
memberkati segala usaha kita.
Denpasar 18 Pebruari , 2015

Penyusun

Etika Utilitarianisme
Etika ini berasal dari teori teleology dan merupakan salah satu dari sekian banyak aliran
(teori) etika normative yang di gunakan untuk menilai etis tidaknya suatu tindakan.

1.1 Kriteria dan Prinsip Etika Utilitarianisme


Menimbang Biaya dan Keuntungan Sosial
Utilitarianisme berhasil dari bahasa latin yang berarti berguna, dan menguntungkan.
Perilaku dan perbuatan manusia dikatakan baik jika mendatangkan keuntungan dan kegunaan.
Dengan demikian, utilitarianisme merupakan sebuah istilah umum untuk semua pandangan yang
menyatakan bahwa tindakan dan kebjakan perlu dievaluasi berdasarkan keuntungan dan biaya
yang di bebankan kepada masyarakat.
Seperti perusahaan Caltex saat mereka mengklaim bahwa perusahaan perlu memindahkan
pusat operasinya ke daerah Afrika Selatan karena dinilai mendatangkan konsekuensi yang paling
menguntungkan. Dalam situasi apapun, tindakan atau kebijakan yang benar adalah yang
memberikan keuntungan paling besar atau biaya yang paling rendah.
Utilitarianisme Tradisional
Jeremy Bentham (1748-1832) sering di anggap pendiri ulitirianisme tradisional. Bentham
mencari dasar objektif untuk membuat keputusan yang mampu memberikan norma yang dapat di
terima public dalam menetapkan kebijakan peraturan sosial. Dengan cara melihat pada berbagai
kebijakan yang dapat di tetapkan dan membandingkan keuntungan, serta konsekuensikonsekuensinya.
Prinsip Ultilirianisme adalah suatu tindakan yang dianggap benar dari sudut pandang etis
jika jumlah total utilitas yang di hasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari jumlah total yang
di hasilkan oleh tindakan lain yang dilakukan. namun ini tidak berarti tindakan yang benar
adalah tindakan yang menghasilkan utilitas paling besar bagi orang yang melakukan tindakan
tersebut. Tetapi, suatu tindakan dianggap benar jika menghasilkan utilitas paling besar bagi
semua orang yang terpengaruh oleh tindakan tersebut.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa terdapat 3 (tiga) kriteria prinsip etika ulitirianisme (Keraf,
1998:94) :

1) Manfaat, yaitu bahwa kebijakan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau kegunaan
tertentu. Suatu kebijakan atau tindkaan adalah baik dan tepat secara moral jika
kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau keuntungan.
2) Manfaat terbesar, yaitu bahwa kebijakan atau tindakan itu mendatangkan manfaat
terbesar dibandingkan dengan alternative lainnya. Diantara berbagai kebijakan atau
tindakan yang sama baiknya, kebijakan atau tindakan yang medatangkan manfaat
terbesar adalah tindakan yang paling baik.
3) Manfaat terbesar yang diterima oleh sebanyak mungkin orang. Diantara berbagai
kebijakan atau tindakan yang sama-sama mendatangkan manfaat terbesar, kebijakan atau
tindakan yang baik adalah kebijakan atau tindakan yang bermanfaat bagi lebih banyak
orang.
1.2 Nilai Positif Etika Ulitirianisme
Etika ulitirianisme tidak memaksakan suatu yang asing. Etika ini enggambarkan apa yang
sesungguhnya dilakukan oleh orang yang rasional dalam mengambil keputusan, khususnya
keputusan moral, termasuk dalam bidang bisnis.
Menurut Keraf (1998:96) terdapat 3 nilai postif etika utilitarianisme, yaitu:
1) Rasional
Etika utilirianisme memberikan kriteria yang objektif dan rasional yang tidak didasarkan
pada aturan-aturan kaku yang tidak dipahami atau tidak diketahui keabsahannya.
2) Otonom
Etika utilirianisme sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral untuk berpikir dan
bertindak dengan memperhatiakan 3 kriteria objektif dan rasioanal. Tidak ada paksaan
bahwa orang harus bertindak dengan cara tertentu yang tidak diketahui alasannya.
3) Universal
Etika ini mengutamakan manfaat atau akibat dari suatu tindakan bagi banyak orang.
Suatu tindakan dinilai bermoral apabila tindakan tersebut memberi manfaat terbesar bagi
banyak orang.
1.3 Etika Utilitarianisme Sebagai Proses dan Standar Penilaian
Secara umum etika utilirianisme dapat dipakai dalam dua wujud yang berbeda, yaitu:
1) Sebagai Proses Pengambilan Keputusan
Etika ini dipakai untuk melakukan perencanaan yang mengatur sasaran atau target
yang akan dicapai. Atau dengan kata lain etika ini menjadi dasar utama dalam

penyusunan program atau perencanaan yang menyangkut kepentingan banyak orang.


Kriteria ini lalu menjadi kriteria seleksi bagi setiap alternative yang bisa di ambil.
2) Sebagai Standar Penilaian
Etika ini digunakan sebagai standar penilaian atas tindakan atau kebijakan yang telah
dilakukan untuk menilai apakah tindakan atau kebijakan yang ditetapkan tersebut
memang baik atau tidak. Ini berarti etika ini sangat tepat digunakan untuk
mengevaluasi tindakan yang sudah dijalankan.

1.4 Analisis Keuntungan dan Kerugian


Dalam bidang ekonomi, etika utilitarianisme punya relevansi yang kuat dan dapat
ditemukan dalam beberapa teori ekonomi yang populer. Sebut saja misalnya prinsip optimalis
dari Pareto, yang menilai baik buruknya suatu sistem ekonomi. Suatu sistem ekonomi akan
dinilai lebih baik kalau dalam sistem itu paling kurang satu orang menjadi lebih baik keadaannya
dan tidak ada orang yang menjadi lebih buruk keadaannya dibandingkan dengan sistem lainnya.
Berdasarkan prinsip ini, pasar misalnya dianggap paling baik karena memungkinkan konsumen
memperoleh keuntungan secara maksimal. Dengan kata lain, suatu sistem dinilai lebih baik
karena mendatangkan manfaat lebih besar dibandingkan dengan sistem alternatif lainnya.
Dalam ekonomi, etika utilitarianisme juga relevan dalam konsep efisiensi ekonimi.
Prinsip efisiensi menekankan agar dengan menggunakan sumber daya sekecil mungkin dapat
dihasilkan produk sebesar-besarnya. Dengan menggunakan sumber daya secara hemat harus bisa
dicapai hasil yang maksimal. Karena itu, semua perangkat ekonomi harus dikerahkan sedemikian
rupa untuk bisa mencapat hasil terbesar dengan menggunakan sumber daya sekecil mungkin. Ini
prinsip dasar etika utilitarianisme.
Dalam bidang bisnis, etika utilitarianisme juga mempunyai relevansi yang sangat kuat.
Secara khusus etika ini diterapkan, secara sadar atau tidak, dalam apa yang dikenal dalam
perusahaan sebagai the cost and benefit analysis. Yang intinya berarti etika ini pun digunakan
dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan bisnis atau perusahaan, dalam segala aspek.
Langkah konkrit yang perlu dilakukan dalam membuat sebuah kebijaksanaan bisnis
adalah mengumpulkan dan mempertimbangkan alternatif kebijaksanaan dan kegiatan bisnis
sebanyak-banyaknya. Semua alternatif kebijaksanaan dan kegiatan itu terutama dipertimbangkan
dan dinilai dalam kaitan dengan manfaat bagi kelompok-kelompok yang berkepentingan atau

paling kurang, alternatif yang tidak merugikan semua kelompok yang terkait dengan kepentingan
tersebut.
1.5 Kelemahan Etika Utilitarianisme
Dibawah ini menyinggung beberapa kelemahan etika utilitarianisme, tanpa bermaksud
melangkah lebih jauh ke dalam pendekatan fisiologis mengenai kelemahan-kelemahan tersebut,
yaitu :
a. Manfaat merupakan sebuah konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan malah
menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit. Karena, manfaat bagi manusia berbeda
antara satu orang dengan orang yang lain. Sebuah tindakan bisnis bisa sangat
menguntungkan dan bermanfaat bagi sekelompok orang, tetapi bisa sangat merugikan
bagi kelompok lain. Masuknya industri ke daerah pedesaan bisa sangat menguntungkan
bagi sebagian penduduk desa, tetapi bahi yang lain justru merugikan karena hilangnya
udara bersih dan ketenangan di desa. Mengimpor buah-buahan luar negeri bisa sangat
menguntungkan dan bermanfaat bagi konsumen di daerah perkotaan tetapi tindakan
yang sama bisa sangat merugikan petani lokal. Maka, suhubungan itu terjadi kesulitan,
siapa yang memutuskan kepentingan siapa lebih penting daripada kepentingan orang
lain.
b. Persoalan klasik yang lebih filosofis adalah bahwa etika utilitarianisme tidak pernah
menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri, dan hanya memperhatikan
nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya. Padahal, sangat mungkin terjadi
suatu tindakan pada dasarnya tidak baik, tetapi ternyata mendatangkan keuntungan atau
manfaat.
c. Dalam kaitan dengan itu, etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius kemauan
atau motivasi baik seseorang. Akibatnya, kendati seseorang mempunya motivasi yang
baik dalam melakukan tindakan tertentu, tetapi ternyata membawa kerugian yang besar
bagi banyak orang, tindakan itu tetap dinilai tidak baik dan tidak etis. Padahal, dalam
banyak kasus, sering kita tidak bisa meramalkan dan menduga secara persis
konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan. Sangat mungkin terjadi bahwa akibar yang
merugikan dari suatu tindakan tidak dilihat sebelumnya dan baru diketahui lama
sesudahnya.

d. Variabel yang dinilai tidak semuanya bisa dikuantifikasi. Karena itu, sulit mengukur dan
membandingkan keuntungan dan kerugian hanya berdasarkan variabel yang ada. Secara
khusus sulit untuk menilai dan membandingkan variabel moral yang tidak bisa
dikuantifikasi. Polusi udara, hilangnya air bersih, kenyamanan dan keselamatan kerja,
kenyamanan produk, dan seterusnya, termasuk nyawa manusia, tidak bisa dikuantifikasi
dan sulit bisa dipakai dalam menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan manfaatmanfaat ini.
e. Seandainya ketiga kriteria dari utilitarianisme sangat bertentangan, ada kesulitan cukup
besar untuk menentukan prioritas diantara ketiganya.
f. Kelemahan paling pokok dari etika utilitarianisme adalah bahwa utilitarianisme
membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingan
mayoritas. Jadi, kendati suatu tindakan merugikan bahkan melanggar hak dan
kepentingan kelompok kecil tertentu, tapi menguntungkan sebagian besar orang yang
terkait, tindakan itu tetap dinilai baik dan etis. Artinya, etika utilitarianisme
membenarkan penindasan dan ketidakadilan demi manfaat yang diperoleh sebagian
besar orang. Dengan hanya mendasarkan diri pada manfaat keseluruhan, etika
utilitarianisme membenarkan suatu tindakan, tanpa menghiraukan kenyataan bahwa
tindakan yang sama ternyata merugikan segelintir orang tertentu. Jadi, suatu
keijaksanaan bisnis akan dinilai baik dan etis kalau menguntungkan.
Dengan demikian meurut rule-utilitarianisme, fakta sebuah tindakan tertentu mampu
memaksimalkan utilitas dalam kondisi tertentu, bukan berarti tindakan tersebyt benar dari sudut
pandang etis. Jadi, ada dua batasan utama terhadap metode utilitarian dalam penalaran moral.
1) metode utilitarian cukup sulit digunakan saat menghadapi masalah masalah nilai yang sulit
atau tidak dapat diukur secara kuantitatif.
2) utilitarianisme tampak tidak mampu dalam mengahadapi situasi-situasi yang melibatkan
masalah hak dan keadilan.
Utilitarianisme sebagai Proses dan sebagai Standar Penilaian
1) Pertama, etika utilitarianisme digunakan sebagai proses untuk mengambil keputusan,
kebijaksanaan atau untuk bertindak terhadap suatu pemecahan masalah.

2) Kedua, etika utilitarianisme sebagai standar penilaian bagi tindakan atau kebijaksanaan yang
telah dilakukan.

Daftar Pustaka
Sutrisna, Dewi. 2011. Etika Bisnis : Konsep Dasar, Implementasi dan Kasus. Denpasar :
Udayana University Press
http://softskill16.blogspot.com/2013/11/teori-etika-utilitarianisme.html
http://100persengila.blogspot.com/2010/12/etika-utilitarianisme-dalam-bisnis.html