Anda di halaman 1dari 11

TRANSFORMATOR

1. Teori Dasar
1.1. Definisi Transformator
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah energi listrik
dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain tanpa merubah frekuensi dari
sistem, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnet. Trafo
digunakan secara luas, baik dalam bidang tenaga listrik maupun elektronika. Penggunaan trafo
dalam sistem tenaga memungkinkan terpilihnya tegangan yang sesuai dan ekonomis untuk tiaptiap keperluan misalnya kebutuhan akan tegangan tinggi dalam pengiriman daya listrik jarak jauh.
Berdasarkan frekuensi transformator dapat di kelompokkan sebagai berikut:
1. Frekuensi daya, 50-60 c/s
2. Frekuensi pendengaran 50 c/s - 20 kc/s
3. Frekuensi radio diatas 30 kc/s
(Sumber : http://arifzakariya.wordpress.com/2011/03/06/transformator/)
Dalam bidang tenaga listrik pemakaian transformator dikelompokkan menjadi:
a) Transformator daya, trafo ini biasanya digunakan untuk menaikkan tegangan
pembangkit menjadi tegangan transmisi.
b) Transformator distribusi, untuk menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan
distribusi.
c) Transformator instrument, digunakan untuk pengukuran yang terdiri atas transformator
arus (current transformer-CT) dan transformator tegangan (potential transformer-PT).
Masing-masing tipe transformator memiliki kekhususan dalam perencanaan dan pembuatan
yang disesuaikan dengan pemakaiannya. Walaupun demikian semua tipe transformator
mempunyai prinsip dasar yang sama.
Pada umumnya transformator terdiri atas sebuah inti, yang terbuat dari besi berlapis dan dua
buah kumparan, yaitu kumparan primer dan sekunder. Rasio perubahan tegangan akan
tergantung dari rasio jumlah lilitan pada kedua kumparan. Biasanya kumparan terbuat dari kawat
tembaga yang dibelit seputar kaki inti transformator.

Gambar 1. Bagan Transformator

1.2. Konstruksi Transformator


Secara umum dapat dibedakan dua jenis transformator menurut konstruksinya, yaitu:
a. Tipe inti
Pada tipe inti terdapat dua kaki, dan masing-masing kaki dibelit oleh satu kumparan.

Gambar 2. Konstruksi Transformator Tipe Inti


(Sumber : kadir, Abdul, Transformator, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 1989, p.l)
b. Tipe cangkang
Pada tipe cangkang mempunyai tiga buah kaki, dan hanya kaki yang tengah-tengah
dibelit oleh kedua kumparan. Kedua kumparan dalam tipe cangkang ini tidak tergabung
secara elektrik, melainkan saling tergabung secara magnetik melalui inti. Bagian datar dari
inti dinamakan pemikul.

Gambar 3. Konstruksi Transformator Tipe Cangkang


(Sumber : kadir, Abdul, Transformator, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 1989, p.l)
1.3. Jenis fasa Tegangan Transformator
Sebagaimana diketahui, bahwa fasa tegangan listrik yang umum digunakan adalah
tegangan satu fasa dan tegangan tiga fasa.
Berdasarkan ini dikenal 2 jenis transformator:
a. Transformator satu fasa, bila transformator digunakan untuk memindahkan tenaga
listrik satu fasa.
b. Transformator tiga fasa, bila transformator digunakan untuk memindahkan tenaga listrik
tiga fasa.

1.4. Prinsip Kerja Transformator


1. Hubungan Primer-Sekunder
Transformator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik. Tegangan masukan
bolak-balik yang membentangi primer menimbulkan fluks magnet yang idealnya semua
bersambung dengan lilitan sekunder. Fluks bolak-balik ini menginduksikan GGL dalam lilitan
sekunder. Jika efisiensi sempurna, semua daya pada lilitan primer akan dilimpahkan ke lilitan
sekunder.
Apabila kumparan primer dihubungkan dengan tegangan (sumber), maka akan mengalir
arus bolak-balik I1 pada kumparan tersebut. Oleh karena kumparan mempuntai inti, arus I1
menimbulkan fluks magnit yang juga berubah-ubah pada intinya. Akibat adanya fluks magnit yang
berubah-ubah, pada kumparan primer akan timbul GGL induksi ep.
Besarnya GGL induksi pada kumparan primer adalah:

Dimana:
ep
Np
d
dt

= GGL induksi pada kumparan primer


= Jumlah lilitan kumparan primer
= Perubahan garis-garis gaya magnit dalam satuan weber
= Perubahan waktu dalam satuan detik

Fluks magnit yang menginduksi GGL induksi ep juga dialami oleh kumparan sekunder karena
merupakan fluks bersama (mutual fluks). Dengan demikian fluks tersebut menginduksi GGL
induksi es pada kumparan sekunder.

Dimana Ns adalah jumlah lilitan kumparan sekunder.


Dari persamaan ep dan es didapatkan perbandingan lilitan berdasarkan perbandingan GGL
induksi, yaitu:
a = ep / es = Np/Ns
a = Nilai perbandingan lilitan transformator (turn ratio)
Apabila, a < 1, maka transformator berfungsi untuk menaikkan tegangan (step up)
a > 1, maka transformator berfungsi untuk menurunkan tegangan (step down)
Rumus untuk fluks magnet yang ditimbulkan lilitan primer adalah:
dan rumus untuk GGL induksi yang terjadi di lilitan sekunder adalah:
.
Karena kedua kumparan dihubungkan dengan fluks yang sama, maka:
dimana dengan menyusun ulang persamaan akan didapat
sedemikian hingga
3

Dengan kata lain, hubungan antara tegangan primer dengan tegangan sekunder ditentukan
oleh perbandingan jumlah lilitan primer dengan lilitan sekunder.
2. Kerugian dalam Transformator
Perhitungan diatas hanya berlaku apabila kopling primer-sekunder sempurna dan
tidak ada kerugian, tetapi dalam praktek terjadi beberapa kerugian yaitu:
a) kerugian tembaga
Kerugian
dalam lilitan tembaga yang disebabkan oleh resistansi tembaga dan arus
listrik yang mengalirinya.
b) Kerugian kopling
Kerugian yang terjadi karena kopling primer-sekunder tidak sempurna, sehingga tidak
semua fluks magnet yang diinduksikan primer memotong lilitan sekunder. Kerugian ini
dapat dikurangi dengan menggulung lilitan secara berlapis-lapis antara primer dan
sekunder.
c) Kerugian kapasitas liar
Kerugian yang disebabkan oleh kapasitas liar yang terdapat pada lilitan-lilitan
transformator. Kerugian ini sangat memengaruhi efisiensi transformator untuk frekuensi
tinggi. Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggulung lilitan primer dan sekunder
secara semi-acak (bank winding)
d) Kerugian histeresis
Kerugian yang terjadi ketika arus primer AC berbalik arah. Disebabkan karena inti
transformator tidak dapat mengubah arah fluks magnetnya dengan seketika. Kerugian ini
dapat dikurangi dengan menggunakan material inti reluktansi rendah.
e) Kerugian efek kulit
Sebagaimana konduktor lain yang dialiri arus bolak-balik, arus cenderung untuk mengalir
pada permukaan konduktor. Hal ini memperbesar kerugian kapasitas dan juga
menambah resistansi relatif lilitan. Kerugian ini dapat dikurang dengan menggunakan
kawat Litz, yaitu kawat yang terdiri dari beberapa kawat kecil yang saling terisolasi. Untuk
frekuensi radio digunakan kawat geronggong atau lembaran tipis tembaga sebagai ganti
kawat biasa.
f) Kerugian arus eddy (arus olak)
Kerugian yang disebabkan oleh GGL masukan yang menimbulkan arus dalam inti magnet
yang melawan perubahan fluks magnet yang membangkitkan GGL. Karena adanya fluks
magnet yang berubah-ubah, terjadi olakan fluks magnet pada material inti. Kerugian ini
berkurang kalau digunakan inti berlapis-lapisan.
3. Keadaan Transformator Tanpa beban
Bila kumparan primer suatu transformator dihubungkan dengan sumber tegangan
V1 sinusoidal, akan mengalirlah arus primer I0 yang juga sinusoidal dan dengan
menganggap belitan N1 reaktif murni, I0 akan tertinggal 90 dari V1. Arus primer I0
menimbulkan flluks () yang sefasa dan juga berbentuk sinusoidal.

= maks sin wt
Fluks sinusoidal ini akan menghasilkan tegangan induksi e1 (Hukum Faraday)
e1 = - N1 d
dt
e1 = - N1 d(maks sin wt) = N1 w maks cos wt (tertinggal 90 dari )
Dt
4

Harga efektifnya
E1 = N12fmaks
2

= 4.44 N1fmaks

pada rangkaian sekunder, fluks () bersama menimbulkan:


e2 = - N2 d
dt
e2 = - N2 wm cos wt
E2 = 4.44 N2 fm
sehingga
E1 = N1
E2 = N2
Dengan mengabaikan rugi tahanan dan adanya fluks bocor
E1 = V1 = N1 = a
E2 V2
N2
a = perbandingan transformasi
Dalam hal ini tegangan induksi E1 mempunyai kebesaran yang sama tetapi
berlawanan arah dengan tegangan sumber V1.
4. Arus Penguat
Arus primer yang mengalir pada saat arus sekunder tidak dibebani disebut arus
penguat. Dalam kenyataannya arus primer Io bukan merupakan arus induktif murni, karena
terdiri dari dua komponen :
1. Komponen arus pemagnetan Im, yang menghasilkan fluks ( ). Karena sifat besi yang
tidak linier, maka arus pemagnetan Im juga fluks tidak sinusoida. Hal ii disebabkan
adanya pengarus gelombang selaras yang dikandung besi.
2. Komponen arus rugi besi Ic yang menyebabkan daya hilang akibat rugi histeris dan rugi
arus eddy.
5. Efisiensi Transformator
Efisiensi transformator dapat diketahui dengan rumus
Karena adanya kerugian pada transformator. Maka efisiensi transformator tidak dapat
mencapai 100%. Untuk transformator daya frekuensi rendah, efisiensi bisa mencapai 98%.
6. Ototransformator
Suatu transformator fasa tunggal dengan perbandingan lilitan 3 : 1 akan menjadi
ototransformator apabila sebagian kumparan primer menjadi bagian kumparan sekunder.
Dengan mengabaikan rugi impedansi berlaku :
Vab = 3 Vcd
Idc = 3 Iab, Untuk ototransformator diperoleh : Ief = Idc Iab
Kelemahan ototransformator adalah adanya hubungan konduktif antara kumparan
tegangan tinggi dengan tegangan rendah, sehingga suatu kesalahan meletakkan tegangan
tinggi menjadi tegangan rendah karena bisa mengakibatkan kerusakan.

Transformator tidak dapat dioperasikan pada teganganDC karena bila dioperasikan


dengan sumber arus DC maka pada kumparan primer tidak akan timbul fluks yang sinusoid.
Hal ini terjadi karena arus DC tidak berbentuk sinusoid.
1.5. Jenis-Jenis Transformator
1. Step-Up
Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih
banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan. Transformator
ini biasa ditemui pada pembangkit tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang
dihasilkan generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi jarak jauh.
2. Step-Down
Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan
primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini sangat
mudah ditemui, terutama dalam adaptor AC-DC.
3. Autotransformator
Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut secara listrik,
dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian lilitan primer juga merupakan
lilitan sekunder. Fasa arus dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus primer,
sehingga untuk tarif daya yang sama lilitan sekunder bisa dibuat dengan kawat yang lebih
tipis dibandingkan transformator biasa. Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran
fisiknya yang kecil dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi
transformator jenis ini tidak dapat memberikan isolasi secara listrik antara lilitan primer
dengan lilitan sekunder. Selain itu, autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik
tegangan lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).
4. Autotransformator Variabel
Autotransformator variabel sebenarnya adalah autotransformator biasa yang
sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan perbandingan lilitan primer-sekunder
yang berubah-ubah.
5. Transformator isolasi
Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama dengan lilitan
primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan tegangan primer. Tetapi pada beberapa
desain, gulungan sekunder dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian.
Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang. Untuk
penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak digantikan oleh kopling kapasitor.
6. Transformator pulsa
Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus untuk memberikan
keluaran gelombang pulsa. Transformator jenis ini menggunakan material inti yang cepat
jenuh sehingga setelah arus primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah.
Karena GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi perubahan fluks
magnet, transformator hanya memberikan keluaran saat inti tidak jenuh, yaitu saat arus
pada lilitan primer berbalik arah.
6

7. Transformator tiga fasa


Transformator tiga fasa sebenarnya adalah tiga transformator yang dihubungkan
secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya dihubungkan secara bintang (Y) dan
lilitan sekunder dihubungkan secara delta ().
1.6. Aplikasi Penggunaan Transformator
a. Dalam kehidupan sehari-hari
Penggunaan transformator dalam sistem tenaga memungkinkan dipilihnya tegangan
yang sesuai dan ekonomis untuk tiap-tiap keperluan, misalnya kebutuhan akan
tegangan tinggi dalam pengiriman daya listrik jarak jauh (sistem transmisi listrik jarak
jauh).
Dalam bidang elektronika, transformator digunakan antara lain sebagai gandengan
impedansi antara sumber dan beban, untuk memisahkan satu rangkaian dengan
rangkaian yang lain, dan untuk menghambat arus searah sambil tetap melakukan atau
mengalirkan arus bolak-balik antara rangkaian.
Transformator juga digunakan hampir pada setiap peralatan listrik (seperti TV, radio,
Tape, dll) yang membutuhkan penurunan tegangan listrik dari energi listrik perumahan.
Dengan menggunakan transformator dapat mengatur besarnya tegangan ataupun arus
listrik yang dibutuhkan oleh berbagai macam peralatan listrik.
b. Aplikasi di Kapal / Marine
Untuk aplikasi transfomator pada bidang perkapalan terdapat beberapa terutama
transformator jenis stepdown. Hal ini dikarenakan auxallary engine memiliki daya
yang besar untuk menghasilkan beban listrik pada masing-masing peralatan listrik di
kapal. Transfomator di dalam kapal mempunyai peranan untuk menurunkan daya besar
yang dihasilkan oleh auxallary engine yang kemudian disalurkan ke instalasi listrik di
dalam kapal. Seperti contoh pada penggunaan sistem radio pada sistem komunikasi
dan lampu penerangan
Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih
banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan.
Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan
primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan.
Prinsip trafo step up dan step down diatas berdasarkan rumus
, yaitu
tegangan primer sebanding dengan jumlah lilitan primer, begitu pula tegangan sekunder
sebanding dengan jumlah lilitan sekunder
Prinsip kerja Transformator step down pada sistem HVAC kapal ( Heat Ventilation
Air Conditioning ) yaitu :
Ketika Kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik yang
berasal dari trafo distribusi di kapal, perubahan arus listrik pada kumparan primer
(lilitannya banyak) menimbulkan medan magnet yang berubah. Medan magnet yang
berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan dihantarkan inti besi ke kumparan sekunder
(lilitannya sedikit), sehingga pada ujung-ujung kumparan sekunder akan timbul ggl
induksi. Karena pada sistem ini Trafo yang digunakan disini adalah trafo step down,
yaitu lilitan primernya lebih banyak daripada lilitan sekunder, maka tegangan outputnya
menjadi lebih kecil.
7

Tegangan yang masuk sistem HVAC itu tetap 110/220, namun komponen
didalamnya seperti compressor dll membutuhkan tegangan yang kecil. Disinilah fungsi
dari trafo step down yang dipasang pada sistem HVAC
Voltase generator dikapal pada umumnya yaitu 400-480 V dan 600-690 V untuk low
voltage generator, serta 4.16 kV, 6.3 6.6 kV , 10,5 11 kV, 13.8 kV untuk high voltage
generator.
http://www.cumminsgeneratortechnologies.com/en/products/avk/
1. Lampu Sorot Kapal digunakan sebagai penerangan di atas kapal nelayan ataupun
sebagai alat penerangan saat mencari ikan.

Gambar 4. Lampu Sorot Kapal


Yaitu menggunakan trafo step down karena kebutuhan voltasenya kecil, sedangkan
voltase yang tersedia dikapal jauh lebih besar.
2. Centrifugal pump di kapal menggunakan trafo step up

Gambar 5. Pompa Sentrifugal


Tegangan yang digunakan pada pompa tersebut adalah 230 V, sedangkan
tegangan yang di distribusikan dari trafo distrbusi adalah 220 V, maka digunakan
trafo step up untuk menaikkan tegangannya.
www.cadoppi.com/public/.../ELETTROPOMPE_Di_superfice.pdf

3. Transformers for ship HVAC system

Gambar 6. Transformator step down pada sistem HVAC kapal


Low voltage HVAC system pada umumnya voltasenya adalah kecil ( nilainya
tergantung pada HVAC unit / komponennya ), padahal pada umumnya voltase yang
didistribusikanoleh generator lebih besar , sehingga membutuhkan trafo step down
yang dipasangkan pada HVAC system tersebut.
4. Trafo distribusi pada generator kapal

Gambar 7. Trafo distribusi pada generator kapal


Transformator jenis ini digunakan untuk menerima energi dari tingkat tegangan yang
lebih tinggi (generator kapal ) dan mengubah dan mendistribusikan energi untuk tiap
peralatan yang membutuhkan daya listrik yang lebih kecil.
5. Trafo step down pada Radio di kapal

Gambar 8. Trafo step down pada Radio di kapal

Dengan spesifikasi
GENERALS TX Frequency :
151.000~159.150MHz RX Frequency : 151.000~163.275MHz Communication Mode :
Simplex and Semi-Duplex Channel Number : 183 channels (ITU 55, USA 57, CAN 61,
WEA 10) Private Channel : 760 channels Type of Emission : FM(16K0G3E),
DSC(16K0G2B) Freq. Stability : 10 ppm(-20 ~ +60 ) Antenna Impedance : 50?
Consumed Currency (13.6V) : TX high 5.5A max Max. Audio 1.5A max Power Supply DC 24V (DC 18 ~ 31.2V) - AC 100 ~ 120V, AC 200 ~ 240V Yaitu menggunakan trafo
step down karena kebutuhan voltasenya kecil, sedangkan voltase yang tersedia dikapal
jauh lebih besar.

10

Daftar Pustaka
1. Sulasno. 2009. Teknik Konversi Energi Listrik dan Sistem Pengaturan. Semarang:
Graha Ilmu.
2. (Sardono, Ir. MSc, Materi Kuliah Listrik Perkapalan, ITS, 2001)
3. Zuhal. 1990. Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya. Jakart: Gramedia.
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Transformator
5. http://dunia-listrik.blogspot.com

11