Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN
Latar belakang
Rhinitis Alergi (RA) merupakan penyakit yang sangat umum ditemui dan dapat
mempengaruhi kualitas hidup dan membebani biaya pelayanan kesehatan dan sosial. The
Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma Update ( ARIA 2008) memberikan rekomendasi
derajat A untuk antihistamin oral generasi kedua (AH) dan kortikosteroid intranasal (ICS)
sebagai terapi untuk RA. ICS merupakan pilihan terapi untuk RA derajat intermiten sedang
berat dan persisten ringan dan merupakan salah satu terapi pada RA persisten sedang- berat.
AH direkomendasikan sebagai salah satu pilihan terapi pada RA intermiten ringan maupun
sedang- berat dan pada RA persisten ringan. Terapi kombinasi AH dan ICS tercantum di
ARIA Guidelines untuk RA persisten sedang-berat yang tidak menunjukkan perbaikan
setelah 2-4 minggu diterapi ICS, hal ini sesuai dengan guidelines lain yang menyarankan
penambahan AH pada pasien dengan bersin- bersin dan hidung gatal yang menetap setelah
pemberian ICS. Meskipun sesuai dengan rekomendasi guidelines, tetapi beberapa
penelitian tentang RA musiman pada anak dan dewasa mendapati tidak adanya keuntungan
dari penambahan terapi AH pada pasien yang telah menerima terapi ICS.
ICS telah terbukti lebih efektif dibandingkan AH sebagai terapi RA. Pada penelitian
meta-analisis, Weiner et al membuktikan bahwa ICS lebih efektif dibandingkan dengan AH
dalam mengendalikan gejala pada RA musiman dalam evaluasi gejala secara keseluruhan
ataupun per gejala. Keuntungan ini bahkan diperoleh pada saat terapi diberikan ataupun
pada saat dievaluasi dengan parameter objektive dengan menggunakan peak nasal
inspiratory flow. Review dari 38 penelitian mengenai RA musiman menunjukkan bahwa
ICS lebih baik daripada AH, dan pada 13 penelitian tentang RA sepanjang tahun
menunjukkan bahwa AH lebih efektif, meskipun data tersebut masih berupa variabel.
Walaupun demikian, AH merupakan terapi RA yang paling sering digunakan. Menurut
penelitian Alergologica 2005 di Spanyol, pasien yang berobat ke klinik alergi dengan
kecurigaan RA 82% sudah mendapat terapi AH, sedangkan sisanya 24% mendapat terapi
ICS. Tindakan selanjutnya, ahli alergi kemudian meresepkan AH sebanyak 86%, dan ICS
68%.
1

Mempertimbangkan data-data tersebut diatas, penulis memutuskan untuk membahas


pemakaian ICS sebagai terapi RA.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma) tahun
2008 adalah inflamasi pada hidung dengan gejala rhinorrhea pada bagian depan dan
belakang, bersin-bersin, hidung tersumbat, dan atau rasa gatal. Gejala ini terjadi berturutturut selama 2 hari atau lebih dan berlangsung lebih dari 1 jam setiap harinya.
Epidemiologi
Prevalensi rinitis di dunia saat ini mencapai 10-25% atau lebih dari 600 juta penderita
dari seluruh etnis dan usia.1 Di Amerika Serikat, lebih dari 40 juta warganya menderita
rhinitis alergi. Rinitis alergi pada anak lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan
anak perempuan, sedangkan pada dewasa prevalensi rinitis alergi laki-laki sama dengan
perempuan. Sekitar 80% kasus rhnitis alergi berkembang mulai usia 20 tahun. Insidensi
rinitis alergi pada anak-anak 40% dan menurun sejalan dengan usia. 2 Di Indonesia belum
ada angka yang pasti, tetapi di Bandung prevalensi rinitis alergi pada usia 10 tahun
ditemukan cukup tinggi (5,8%).1
Etiologi
Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas:2,4
1. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya tungau debu
rumah, kecoa, serpihan epitel kulit binatang, rerumputan, serta jamur.
2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, sapi,
telur, coklat, ikan laut, udang kepiting, dan kacang-kacangan.
3. Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin dan
sengatan lebah.

4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya
bahan kosmetik, perhiasan.

Patogenesis
Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap
sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase
yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang
berlangsung sejak kontak dengan allergen sampai satu jam setelahnya dan Late Phase
Allergic Reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan
puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai
24-48 jam.5
Pada kontak pertama dengan allergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit
yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap allergen
yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses, antigen akan membentuk
fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek
peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan
pada sel T Helper (Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1
(IL1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan
menghasilakan berbagai sitokin seperti IL3, IL4, IL5, dan IL13. IL4 dan IL13 dapat diikat
oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan
akan memproduksi IgE. IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh
reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini
menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang
tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar dengan allergen yang sama,
maka kedua rantai IgE akan mengikat allergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya
dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah
terbentuk (Preformed Mediators) terutama histamine. Selain itu juga dikeluarkan Newly
Formed Mediators, antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrein D4 (LTD4),

Leukotrein C4 (LTC4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin.
Inilah yang disebut sebagai reaksi alergi fase cepat (RAFC).1
Histamine akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga
menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamine juga akan menyebabkan
sel mukosa dan sel goblet megalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat
sehingga terjadi rinorea. Gejala lain dalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid.
Selain histamine merangsang ujung saraf vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada
mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1
(ICAM1).1
Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang
menyebabkan akumulasi sel eusinofil dan noutrofil di jaringan target. Timbulnya gejala
hiperaktif atau hiper responsive hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator
inflamasi dari granulnya seperti ECP, EDP, MBP, EPO. Pada fase ini, selain factor spesifik
(allergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau
yang merangsang, perubahan cuaca, dan kelembaban udara yang tinggi.1

Gambar 3: Patogenesis Rinitis Alergi


Gambaran Histologik

Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh darah dengan pembesaran sel
goblet dan sel pembentuk mucus. Terdapat juga pembesaran ruang inter seluler dan
penebalan membrane basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan
mukosa dan submukosa hidung.1

Klasifikasi
Berdasarkan sifat berlangsungnya rinitis alergi dibagi menjadi :5,6
1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis). Rinitis hanya ada di negara yang
mempunyai 4 musim. Allergen penyebabnya spesifik, yaitu tepungsari (pollen),
rerumputan, dan spora jamur.
2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial). Gejala penyakit ini timbul intermiten atau
terus menerus, tanpa variasi musim. Penyebab yang paling sering ialah alergen inhalan
dan alergen ingestan.
Berdasarkan WHO Initiative ARIA, rinitis alergi berdasarkan sifat berlangsungnya
dibagi menjadi:10
1. Intermitten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4
minggu.
2. Persisten/ menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu.
3. Ringan (tidak ditemukan satupun dari poin di bawah ini)

Gangguan tidur

Mengganggu aktifitas sehari-hari, bersantai dan atau olahraga

Mengganggu sekolah ataupun pekerjaan

Gejala lain yang mengganggu

4. Sedang-berat (terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut di bawah ini)

Gangguan tidur

Mengganggu aktifitas sehari-hari, bersantai dan atau olahraga

Mengganggu sekolah ataupun pekerjaan

Gejala lain yang mengganggu

Gejala Klinis
Gejala klinis pada rinitis alergi adalah bersin berulang pada pagi hari, keluar ingus
(rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadangkadang disertai dengan banyak keluar air mata (lakrimasi).2,3,5,6
Awitan gejala timbul cepat setelah paparan allergen dapat berupa bersin, mata atau
palatum yang gatal berair, rinore, hidung gatal, hidung tersumbat.2,4,11 Pada mata dapat
menunjukkan gejala berupa mata merah, gatal, conjungtivitis, mata terasa terbakar, dan
lakrimasi.2,7 Pada telinga bisa dijumpai gangguan fungsi tuba, efusi telinga bagian tengah.5,7
Diagnosis
Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan:2
a.

Anamnesis
Pada anamnesis didapati keluhan serangan bersin yang berulang. Bersin ini
merupakan gejala pada RAFC dan kadang-kadang RAFL sebagai akibat dilkepaskannya
histamin. Gejala lain adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung
tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak keluar air
mata (lakrimasi).2
Riwayat penyakit alergi dalam keluarga perlu ditanyakan. Pasien juga perlu ditanya
gangguan alergi selain yang menyerang hidung, seperti asma, eczema, urtikaria, atau
sensitivitas obat. Keadaan lingkungan kerja dan tempat tinggal juga perlu ditanya untuk
mengaitkan awitan gejala. 3,4

b.

Pemeriksaan Fisik
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema basah, berwarna pucat atau livid
disertai adanya secret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak
hipertofi.2
Gejala spesifik lain pada anak adalah adanya bayangan gelap di daerah bawah mata
yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini disebut
6

allergic shiner. Selain itu juga tampak anak menggosok-gosok hidung, karena gatal
dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut allergig salute. Menggosok-gosok hidung
mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah yang
disebut allergic crease. Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi,
sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi-geligi (facies adenoid).
Dinding posterior faring tampak granuler dan edema (cobblestone appearance), serta
dinding lateral faring menebal. Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic
tongue).2,6,7

c.

Pemeriksaan Penunjang2
Invitro :
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula
pemeriksaan IgE total seringkali menunjukkan nilai normal.
Invivo :
Allergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit, uji intrakutan
atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-Point Titration/ SET). SET
dilakukan untuk allergen inhalan dengan menyuntikkan allergen dalam berbagai
konsentrasi yang bertingkat kepekatannya.
Untuk allergen makanan, uji kulit Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test
(IPDFT), namun sebagai baku emas dapat dilakukan dengan diet eliminasi dan
provokasi (Challenge Test).

Diagnosis Banding
Diagnosa Banding dari rinitis alergi adalah:12
1. Rinitis vasomotor
2. Rinitis infeksi
7

Penatalaksanaan
a.

Terapi yang paling ideal dengan menghindari kontak dengan allergen penyebab dan
eliminasi.2,4,5,7,10,11

b.

Medikamentosa5
Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamin H-1 yang bekerja secara
inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target. Pemberian dapat dalam kombinasi
atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral.
Antihistamin dibagi dalam 2 golongan yaitu golongan antihistamin generasi-1
(klasik) dan generasi-2 (non-sedatif). Antihistamin generasi-1 bersifat lipofilik sehingga
dapat menembus sawar darah otak dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Yang
termasuk kelompok ini antara lain adalah difenhidramin, klorfeniramin, prometasin,
siproheptadin. Antihistamin generasi-2 bersifat lipofobik, sehingga sulit menembus
sawar darah otak. Bersifat selektif mengikat reseptor H-1 perifer dan tidak mempunyai
efek antikolinergik, antiadrenergik dan efek pada SSP minimal.
Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung akibat respon
fase lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain.

c.

Operatif
Tindakan konkotomi parsial, konkoplasti atau multiple outfractured, inferior
turbinoplasty perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berta dan tidak berhasil
dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.

d.

Imunoterapi 2,5,7
Cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan
sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang
memuaskan.

e.

Edukasi Pasien 2,10

Memberikan edukasi pada pasien utnuk menghindari bahan-bahan yang merupakan


allergen.
Komplikasi
Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah:2,6,12
1. Polip hidung.
2. Otitis media
3. Sinusitis paranasal
4. Gangguan fungsi tuba eustachius
Prognosis
Kebanyakan gejala rintis alergi dapat diobati. Pada kasus yang lebih parah dapat
memerlukan imunoterapi. Beberapa orang (terutama anak-anak) semakin dewasa akan
semakin kurang sensitif terhadap. Namun, sebagai aturan umum, jika suatu zat menjadi
penyebab alergi bagi seorang individu, maka zat tersebut dapat terus mempengaruhi orang
itu dalam jangka panjang.13

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudiro, M., Madiadipoera, T., Purwanto, B. Eosinofil Kerokan Mukosa Hidung Sebagai
Diagnostik Rinitis Alergi. MKB volume 42 No 1; 2010. hslm 6-11.
2. Sheikh, J. Allergic Rhinitis. Available from: http://emedicine.medscape.
com/article/134825. [Accessed 14 Maret 2015].
3. Adams, G., Boies, L R., Higler, P A. Penyakit Hidung. Dalam : Boies Buku Ajar
Penyakit THT Edisi keenam. Jakarta: EGC; 1997; 210-218.
4. Snow, J B., Ballenger, J J. Allergic Rhinitis. In: Ballengers Otorhinolaryngology Head
and Neck Surgery Edition 9th. Spain: BC Decker; 2003; 708-731.
5. Dhingra, PL. Allergic Rhinitis. In : Disease of Ear, Nose and Throat fourth edition.
Elsevier. 157-159.
6. Mabry, R., Marple, B. Allergic Rhinitis. In:Cummings Otolaryngologi Head Neck
Surgery Fourth Edition. USA: Elsevier. 2005; 982-988.
7. Pasha, R. Allergy and Rhinitis. In: Otolaryngolongy Head and Neck Surgery Clinical
Reference Giude. Singular Thomson Learning; 28-33.
8. Karya, I W., Aziz, A., Rahardjo S P., Djufri, N I. Pengaruh Rinitis Alergi (ARIA WHO
2001) terhadap Gangguan Fungsi Ventilasi Tuba Eustachius. Cermin Dunia Kedokteran
166 volume 37 (7). 2008; 405-410.
9. Snell, R S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta: EGC. 2006;
803-805.
10. ARIA. ARIA At A Glance Pocket Reference 2007 1st Edition. 2007.
11. Plaut, M., Valentine, M D. Allergic Rhinitis. The New England Journal of Medicine
353;18. 2005; 1934-1943.
12. Harsono, Ariyanto, Endaryato,

Anang.

Rinitis

Alergika.

Diunduh

dari

http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-bfxu225.htm.
[Diakses 14 Maret 2015].
13. National
Library
of

Medicine.

Allergic

Rhinitis.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000813.htm.

Diunduh
[Diakses

dari
24

Maret

2015].

10