Anda di halaman 1dari 6

1.

Natrium Bikarbonat

Agens ini diberikan berupa infuse intravena 500 ml Na-bikarbonat isotonic (sumber : farmakologi untuk
keperawatan dr. Jan Tambayong).
Natrium bikarbonat dapat diberikan untuk menaikkan pH plasma. Natrium bikarbonat meningkatkan pH,
menyebabkan kalium bergerak ke dalam sel, sehingga kadar seum kalium pasien menurun. Efeknya cepat. Ini
merupakan terapi jangka pendek dan digunakan bersamaan dengan tindakan jangka panjang lain, seperti
pembatasa diet dan dialysis (sumber : KMB Brunner & Suddarth vol 2 )
Baking soda, Bellans, Citrocarbonate, Neut, Soda Mint.
Klasifikasi

Pengatur elektrolit (agens pengalkalinisasi), Antasid, Kategori kehamilan C.

Indikasi

PO, IV : penatalaksanaan asidosis metabolic.

PO, IV : digunakan untuk mengalkalinisasi urine dan mendorong ekskresi obat tertentu bila terjadi
overdosis (fenobarbital, aspirin).

PO : antacid.

Kerja obat

Bekerja sebagai agens pengalkalinisasi dengan melepaskan ion bikarbonat.

Setelah pemberian oral, melepaskan bikarbonat, yang mampu menetralkan asam lambung.

Efek terapeutik : alkalinisasi, netralisasi asam lambung.

Farmakokinetik
Absorpsi : setelah pemberian oral, kelebihan bikarbonat akan diabsorpsi dan mengakibatkan alkalosis
metabolic dan urin alkali.

Distribusi : didistribusikan secara luas ke cairan ekstrasel.

Metabolism dan Ekskresi : natrium dan bikarbonat diekskresi oleh ginjal.

Waktu paruh : tidak diketahui.

Kontraindikasi dan perhatian

Dikontraindikasi dan perhatian :

o Alkalosis metabolic atau respiratorik.


o Hipokalsemia.
o Kehilangan klorida berlebihan.
o Sebagai antidotum setelah ingesti asam mineral kuat.
o Pasien yang menjalani diet rendah natrium (hanya penggunaan oral sebagai antacid).
o Gagal ginjal (untuk digunakan hanya sebagai autisida).
o Nyeri abdomen berat yang tidak diketahui penyebabnya, terutama bila disertai demam (hanya pada
penggunaan oral sebagai antacid).

Gunakan secara hati-hati pada :

o Gagal jantung kongestif.


o Insufisiensi ginjal.
o Penggunaan bersama terapi glukokortikoid.

o Penggunaan kronik sebagai antacid (dapat menyebabkan alkalosis metabolic dan kemungkinan kelebihan
beban natrium).
Reaksi merugikan dan efek samping

KV : edema.

C dan E : retensi natrium dan air, alkalosis metabolic, hipernatremia, hipokalemia, hipokalsemia.

GI : PO-distenis lambung, flatulens.

Lokal : iritasi pada tempat penyuntikkan IV.

Neuro : tetani.

Interaksi

Obat-obat:

o Setelah pemberian oral dapat menurunkan absorpsi ketokonazol.


o Penggunaan bersama antacid yang mengandung kalsium dapat mengakibatkan terjadinya sindrom alkali susu.
o Alkalinisasi urine dapat mengakibatkan berkurangnya kadar salisilat san barbiturate dalam darah;
meningkatkan kadar darah quinidin, meksiletin, flekainid, atau amfetamin; meningkatkan risiko kristaluria dari
fluoroquinolon; mengurangi efektivitas metenamin.
Rute dan dosis

Mengandung 12 mEq natrium/g.

Resusitasi jantung paru

o Dosis harus ditentukan berdasarkan pengkajian lab yang sering.


o IV (dewasa, anak-anak, dan neonates) : 1 mEq dapat diulang 0,5 mEq/kg tiap 10 menit.

Alkalinisasi urine

o PO (dewasa) : 48 mEq (4 g) di awal. Kemudian 12-24 mEq (1-2 g) tiap 4 jam (sampai 48 mEq tiap 4 jam)
atau 1 sendok teh bubuk tiap 4 jam sesuai kebutuhan.
o PO (anak-anak) : 1-10 mEq/kg (12-120 mg/kg) per hari dalam dosis terbagi.
o IV (dewasa dan anak-anak) : 2-5 mEq/kg.

Antacid

o PO (dewasa) : 325 mg-2 g 1-4 kali sehari atau sendok teh tiap 2 jam sesuai kebutuhan.

Asidosis metabolic

o Dosis harus ditentukan berdasarkan pengkajian lab yang sering.


o IV (dewasa dan anak-anak) : 2-5 mEq /kg sebagai infuse 4-8 jam.
Sediaan

Bubuk oral

o Tablet : 325 mg, {500 mg}, 520, 650 mg.


o Injeksi : 4,2 % (0,5 mEq/ml), 5% (0,6 mEq/ml), 6,4 % (1 mEq/ml).
o Larutan tambahan penetralisir : 4% (0,48 mEq/ml), 4,2 % (0,5 mEq/ml).
o Dalam kombinasi dengan : natrium sitrat (Citrocarbonate)

2.

Glukosa + Insulin

Umumnya diberi 50 ml glukosa 50% bersama 12 Unit insulin secara intravena (sumber : farmakologi untuk
keperawatan dr. Jan Tambayong).
Pemberian infus glukosa dan insulin (50 ml glukosa 50% dengan 10 U insulin kerja cepat) selama 15 menit
dapat menurunkan kalium 1-2mEq/L dalam waktu 30-60 menit. Insulin bekerja dengan menstimulasi pompa NK-ATPase pada otot skelet dan jantung, hati dan lemak, memasukkan kalium kedalam sel. Glukosa di
tambahkan guna mencegah hipoglikemia (http://ezcobar.com/dokter-online/dokter15/index.php?option=com)
Ini digunakan sebagai tindakan darurat sementara untuk menangani hiperkalemia. Glukosa dan insulin
mendorong kalium ke dalam sel-sel, sehingga kadar serum kalium menurun sementara sampai kalium diambil
melalui proses dialysis. Kalium akan keluar dari sel dan kembali meningkat sampai ketingkat yang berbahaya
kecuali di ambil melaui proses dialysis. (sumber : KMB Brunner & Suddarth vol 2 )
3.

Resin Polistiren

Peningkatan kadar kalium dapat dikurangi dengan pemberian ion pengganti resin (Natrium polistiren sulfonat
[Kayexalate]), secara oral atau melalui retensi enema. Kayexalate bekerja dengan merubah ion kalium menjadi
natrium di saluran intestinal. Sorbitol sering diberikan bersama dengan Kayexalate untuk menginduksi efek tipe
diare (menginduksi kehilangan cairan di saluaran gastrointestinal). (sumber : KMB Brunner & Suddarth vol
2 )
Contoh polistiren adalah Resonium A dan kalsium resonium. Resonium A dapat diberi oral atau rectal.
Polistiren adalah resin penukar-kation, yang membebaskan ion Na dan H, ditukar dengan ion kalium, dan ion
kalium terikat itu kemudian diekskresi dalam feses. Karena kerja tidak cepat, lebih cocok untuk pengobatan
hiperkalemia menahun. Dipilih kalsium resonium bila tidak dikehendaki masukan natrium berlebihan.
(sumber : farmakologi untuk keperawatan dr. Jan Tambayong).
4.

Kalsium

Mula-mula di berikan kalsium intravena (Ca glukonat) 10% sebanyak 10 ml yang dapat di ulangi sampai terjadi
perubahan gelombang T. Belum jelas cara kerjanya, kadar kalium tak berubah, kerja obat ini pada jatung
berfungsi untuk menstabilkan membran. Pengaruh obat ini hanya sekitar 20-60 menit. Pemberian kalsium
menjadi kontraindikasi di kondisi klien yang hiperkalsemia. (http://ezcobar.com/dokteronline/dokter15/index.php?option=com)
Pemberian diuretic
Pada GGA sering di berikan diuretik golongan loop yang sering bermanfaat pada keadaan tertentu. Pemberian
diuretik furosemid mencegah reabsorpsi Na sehingga mengurangi metabolisme sel tubulus, selain itu juga di
harapkan aliran urin dapat membersihkan endapan, silinder sehingga menghasilkan obstruksi, selain itu
furosemid dapat mengurangi masa oliguri.
Dosis yang diberikan amat bervariasi di mulai dengan dosis konvensional 40 mg intravena, kemudian apabila
tidak ada respons kenaikan bertahap dengan dosis tinggi 200 mg setiap jam, selanjutnya infus 10-40 mg/jam.
Pada tahap lebih lanjut apabila belum ada respons dapat di berikan furosemid dalam albumin yang di berikan
secara intravena selama 30 menit dengan dosis yang sama atau
INFUS Na BIKARBONAT UNTUK ASIDOSIS METABOLIK
Asidosis metabolic adalah suatu keadaan dimana pH arterial bersifat asam dan konsentrasi bikarbonat plasma
dibawah normal. Pada asidosis metabolic akut, pH arterial dibawah 7,1-7,2 dan konsentrasi bikarbonat plasma,
Farmakologi
Na.bikarbonat merupakan agen pengalkali yang berdisosiasi membentuk ion bikarbonat. Bikarbonat merupakan
komponen basa konjugasi dari buffer ekstraseluler utama yang ada di tubuh,yaitu buffer bikarbonat-asam
karbonat. Pada kondisi normal buffer ini menjaga pH plasma yaitu 7,37-7,42. Namun bila terjadi gangguan pada
system buffer ini maka pH plasma dapat naik ataupun turun. pH plasma yang dibawah normal mengindikasikan
terjadinya asidosis metabolic. Pemberian Na.bikarbonat akan menigkatkan konsentrasi bikarbonat plasma dan
meningkatkan pH plasma sehingga pH plasma normal kembali (DI 2003 hal 2472-2473).

Infus Bicnat?
Natrium bikarbonat (NaHCO3) atau kerap disebut dengan Bicnat merupakan senyawa garam yang bersifat basa.
Pada dunia pengobatan, Bicnat dalam bentuk infus ini digunakan sebagai penetral. Infus Bicnat didalam tubuh
dapat digunakan untuk penyeimbang keasaman dalam darah. Bikarbonat bereaksi dengan ion H+ membentuk air
dan karbon dioksida. Bikarbonat berfungsi sebagai buffer/penyangga pada kondisi asidosis. Asidosis
merupakan peningkatan asam didalam darah yang disebabkan oleh berbagai keadaan atau penyakit tertentu.
Beberapa mekanisme penyebab asidosis diantaranya adalah kehilangan basa melalui urin ataupun saluran
pencernaan, asupan asam yang lebih tinggi dibandingkan pengeluaran asam melalui ginjal, dan juga
metabolisme yang tidak normal. Diare kronik juga dapat menyebabkan kehilangan bikarbonat.
Penggunaan infus Bicnat?
Besarnya dosis injeksi Bicnat ditentukan berdasarkan keparahan asidosis, hasil uji laboratorium, umur pasien,
berat badan, dan kondisi klinik. Uji laboratorium dan evaluasi klinik pasien sangat penting dilakukan terutama
dalam penggunaan jangka panjang, untuk memantau perubahan cairan, elektrolit, dan keseimbangan asam basa.
Untuk bayi dan anak-anak dibawah 2 tahun, dapat diberikan 4,2% infus Bicnat dengan dosis tidak lebih dari 8
mEq/Kg hari.
Hal-hal yang harus diperhatikan penggunaannya untuk anak!
Pemberian infus Bicnat pada bayi dan anak dibawah 2 tahun dapat menyebabkan hipernatremia (kelebihan
natrium dalam darah), penurunan tekanan CSF, dan hemorrhage intracranial (pendarahan otak).
Keuntungan pemberian infus intravena adalah menghasilkan kerja obat yang cepat dibandingkan cara-cara
pemberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhadap absorbsi obat. Sedangkan kerugiannya yaitu obat yang
diberikan sekali lewat intravena maka obat tidak dapat dikeluarkan dari sirkulasi seperti dapat dilakukan untuk
obat bila diberikan per oral, misalnya dengan cara dimuntahkan ,.
Infus tidak perlu pengawetkarena volume sediaan besa. Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet
yang dibutuhkan besar sehingga dapat menimbulkan efek toksis
INFUS IV ELEKTROLIT UNTUK DEHIDRASI
Fungsi larutan elektrolit secara klinis digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah
normal elektrolit dalam darah. Ada 2 jenis kondisi plasma yang menyimpang, yaitu :
1. Asidosis, Kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam jumlah berlebih.
2. Alkalosis, Kondisi plasma yang terlampau basa akibat ion Na, K, Ca dalam jumlah berlebih
Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi, kekurangan HCO3
disebut asidosis, metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia. (Formulasi Steril, Stefanus Lukas, hal. 62)
Dehidrasi adalah hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan dengan hilangnnya
air. Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotic cairan tubuh akibat dari rasa haus yang tidak
merangsang penggantian air yang hilang dengan cukup (Dorlan ed. 26, hal. 498)
Pada pasien yang tidak sadar atau mengalami gangguan keseimbangan elektrolit akut, sehingga harus segera
diberikan ion-ion Ca2+, Na+, K+, Ce- dan HCO3-, dan sebagai sumber kalori dimana pengganti cairan dan
kalori dibutuhkan, karena ion-ion tersebut dibutuhkan oleh tubuh untuk memnuhi kebutuhan elektrolit tubuh
pada ekstrasel dan intrasel. Cairan ekstrasel baik plasma darah maupun cairan intrsel mengandung ion natrium
dan klorida dalam jumlah yang besar, ion bilarbonat dalam jumlah yang agak besar, tetapi hanya sejumlah kecil
ion kalium, magnesium phospat, sulfat, dan asam organic.disamping itu plasma mengandung protein dalam
jumlah yang besar, sedangkan cairan intrasel hanya mengandung protein dalm jumlah protein yang leih kecil.
Cairan intasel hanya mengandung sejumlah kecil ion natrium dan klorida serta hampir tidak mengandung
ion kalsium, tetapi ia mengandung ion kalium dan phospat dalam jumlah besar serta ion magnesium dan sulfat
dalam jumlah cukup besar, semuanya hanya ada dalam konsentrasi yang kecil dalam cairan ekstrasel.

Bahan-bahan yang digunakan (NaCl, KCl, NaHCO3, CaCl2) mudah larut dalam air, sehingga dapat
digunakan air sebagai pembawanya. Air yang digunakan harus bebas pirogen. Pirogen merupakan produk
metabolisme m.o (umumnya bakteri, kapang dan virus). Secara kimiawi, pirogen adalah zat lemak yang
berhubungan dengan suatu molekul pembawa yang biasanya merupakan polisakarida, tapi bisa juga peptide.