Anda di halaman 1dari 21

BAB I

LAPORAN KASUS

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny.NM

Umur

: 72 Tahun

JK

: Perempuan

RM

: 117797

MRS

: 26/03/2015

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Nyeri paha kanan
Anamnesa Terpimpin : Dialami sejak 2 minggu yang lalu SMRS.
Nyeri dirasakan terus menerus . Rasa baal dan kram pada tungkai tidak
ada.
Mekanisme trauma : Pasien jatuh saat hendak menyalakan mesin air
yang ada di dapur kemudian pasien terpeleset dan jatuh dengan posisi
duduk.
Riwayat-Riwayat :
Riwayat trauma sebelumnya tidak ada
Riwayat DM tidak ada

Riwayat Hipertensi ada


Riwayat Pengobatan : Pasien sempat di rawat di RS. Dadi dan dilakukan
skin traksi
III.

PEMERIKSAAN FISIS
PRIMARY SURVEY

Airway
Breathing

: Paten
: RR:20x/menit, Simetris, Spontan, thoracoabdominal
Circulation
angkat dan

Disability

: BP=130/80 mmHg, N=80x/menit kuat


reguler
: GCS 15 (E4M6V5), isokor, pupil 2.5

mm, refleks cahaya +/+


Exposure

: suhu axilla = 36.5oC

SECONDARY SURVEY
Regio Cruris Dextra
Inpeksi : Edema (+), deformitas (-), hematoma (-) pemendekan (-)
Palpasi

: Nyeri tekan (+)

ROM

: - Gerak aktif dan pasif sendi pergelangan kaki normal


- Gerak aktif dan pasif sendi tidak dapat dievaluasi karena
nyeri

NVD

: Sensibilitas baik, pulsasi arteri dorsalis pedis teraba, pulsasi


arteri tibiali posterior teraba, CRT < 2 detik, ekstensi ibu jari
kaki (+)

FOTO KLINIS

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium 2-4-2015
WBC 4,9 x 103
RBC 5,54 x 106
HGB 11,2 gr/dl
HCT 44,5 %
PLT 1170 x 103

Pemeriksaan Radiologi
-Foto Pelvis AP

Kesan : Fraktur collum femoralis dextra

V.

DIAGNOSIS KERJA
Closed fracture collum femoralis dextra

VI.

TERAPI
IVFD RL 28 tpm
Ketorolac 30 mg/8 jam/ intravena
Ranitidin 50 mg/8 jam/ intravena
Pasang skin traksi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. PENDAHULUAN
Tulang mempunyai banyak fungsi yaitu sebagai penunjang jaringan
tubuh, pelindung organ tubuh. Tulang juga memungkinkan gerakan dan dapat
berfungsi sebagai tempat penyimpanan garam mineral, tetapi fungsi-fungsi dari
tersebut bisa saja hilang dengan terjatuh, benturan atau kecelakaan yang
menyebabkan patah tulang atau fraktur.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang, sering diikuti oleh kerusakan
jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot
dan persarafan.1 Dengan bertambahnya usia, angka kejadian fraktur femur
meningkat secara eksponensial. Meskipun dapat dipulihkan dengan operasi,
fraktur femur menyebabkan peningkatan biaya kesehatan.
Sampai saat ini, fraktur femur makin sering dilaporkan dan masih tetap menjadi
tantangan bagi ahli orthopaedi.1 Walaupun penatalaksanaan di bidang orthopaedi
dan geriatri telah berkembang, akan tetapi mortalitas dalam satu tahun pasca
trauma masih tetap tinggi, berkisar antara 10 sampai 20 persen. Sehingga
keinginan untuk mengembangkan penanganan fraktur ini masih tetap tinggi.
Penatalaksanaan fraktur femur harus dilaksanakan secepat dan sebaik mungkin
karena jika ada gangguan suplai darah ke kaput femur yang tidak dikontrol
dengan baik, dapat menyebabkan peningkatan kemungkinan terjadinya avaskular
nekrosis.1
2. ANATOMI
Tulang femur adalah tulang terpanjang yang ada di tubuh kita. Tulang ini
memiliki karakteristik yaitu:2
Artikulasi kaput femoralis dengan acetabulum pada tulang panggul. Dia terpisah
dengan collum femoris dan bentuknya bulat,halus dan ditutupi deengan tulang

rawan sendi. Konfigurasi ini memungkinkan area pegerakan yang bebas. Bagian
caput mengarah ke arah medial, ke atas, dan kedepan acetabulum. Fovea adalah
lekukan ditengah caput, dimana ligamentum teres menempel. Collum femur
membentuk sudut 1250 dengan corpus femur. Pengurangan dan pelebaran sudut

yang patologis masing masing disebut deformitas coxa vara dan coxa valga.
Corpus femur menentukan panjang tulang. Pada bagian ujung diatasnya terdapat
trochanter major dan pada bagian posteromedialnya terdapat trochanter minor.
Bagian anteriornya yang kasar yaitu line trochanteric membatasi pertemuan antara
corpus dan collum. Linea aspera adalah tonjolan yang berjalan secara longitudinal
sepanjang permukaan posterior femur, yang terbagi, pada bagian bawah menjadi
garis- garis suprakondilar. Garis suprakondilar medial berakhir pada adductor

tubercle.
Ujung bawah femur teridiri dari condilus femoral, medial dan lateral femur
epicondilus medial. Bagian tersebut menunjang permukaan persendian dengan
tibia pada sendi lutut. Lateral epycondilus lebih menonjol dari medila
epycondilus, hal ini untuk mencegah pergeseran lateral dari patella. Kondilus
kondilus itu didipisahkan bagian posteriornya dengan sebuah intercondylar notch
yang dalam. Femur bawah pada bagian anteriornya halus untuk berartikulasi
dengan bagian posterior patella.2

Gambar 1. Tulang paha, femur, tampak depan, belakang, medial


*Dikutip dari kepustakaan 2,3

Anatomi normal osseus pada femur cukup jelas. Proyeksi normal x ray
nya adalah AP dan lateral. Jika terdpat Fraktur femur sebenarnya sangat
jelas, seperti yang biasa diperkirakan, mungkin saja frakturnya
transversal, spiral, atau comminut fraktur, dengan variasi sudut dan
bagian bagian yang tumpang tindih.4

2. DEFINISI
Pengertian dari fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.
Sedangkan fraktur colum femur adalah fraktur yang terjadi pada colum
femur. Fraktur kolum femur merupakan

fraktur intrakapsular yang

terjadi pada bagian proksimal femur, yang termasuk kolum femur adalah
mulai dari bagian distal permukaan kaput femoris sampai dengan bagian
proksimal dari intertrokanter.

3. ETIOLOGI
Kebanyakan fraktur terjadi akibat taruma yang disebabkan oleh
kegagalan tulang menahan tekanan membengkok, memutar dan tarikan.

Fraktur kolum femur sering tejadi pada wanita yang disebabkan oleh
kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca
menopause. Trauma yang dapat menyebabkan fraktur dapat berupa trauma
langsung dan trauma tidak langsung.
Trauma Langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan
terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya
bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
Trauma Tidak Langsung
Apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah
fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan
fraktur pada clavicula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap
utuh.5,6

4. KLASIFIKASI
Fraktur dapat terbagi menjadi 3 klasifikasi, yaitu:
1.Klasifikasi etiologis
Fraktur traumatik
Yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba
Fraktur patologis
Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan
patologis di dalam tulang, misalnya tumor tulang primer atau
sekunder, mieloma multipel, kista tulang, osteomielitis dan

sebagainya.
Fraktur stres
Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat
tertentu.5
2.Klasifikasi klinis
Fraktur tertutup (simple fracture)

Adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan

dunia luar.
Fraktur terbuka (compound fracture)
Adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar
melalui lika pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from

within (dari dalam) atau from without (dari luar)


Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)
Adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi, misalnya
malunion, delayed union, nonunion, infeksi tulang.2
3.Klasifikasi radiologis

FRAKTUR LEHER FEMUR


Tingkat kejadian yang tinggi karena faktor usia yang merupakan akibat dari

berkurangnya kepadatan tulang


Fraktur leher femur dibagi atas intra- (rusaknya suplai darah ke head
femur) dan extra- (suplai darah intak) capsular. Diklasifikasikan
berdasarkan

anatominya.

Intracapsular

dibagi

kedalam

subcapital,

transcervical dan basicervical. Extracapsular tergantung dari fraktur


pertrochanteric

Gambar 2.1*Dikutip
dari kepustakaan 7,8

Biasanya pada wanita dewasa; dibawah usia 60 tahun, laki-laki lebih sering

terkena (biasanya extrakapsular fraktur)


Sering ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi berbagai macam obat

seperti corticosteroids, thyroxine, phenytoin and furosemide


Kebanyakan hanya berkaitan dengan trauma kecil
Fraktur Intracapsular diklasifikasikan
Grade I :Incomplete, korteks inferior tidak sepenuhnya rusak
Grade II
:Complete, korteks inferior rusak, tapi trabekulum tidak angulasi
Grade III :Slightly displaced, pola trabekular angulasi
Grade IV :Fully displaced, grade terberat, sering kali tidak ada kontinuitas tulang 9

Gambar 2.2
*Dikutip dari kepustakaan9

10

5. PATOFISIOLOGI
Fraktur biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan
sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang
akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atu tidak lengkap.
Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur

tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.10


Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma
tersebut

kekuatannya

melebihi

kekuatan

tulang,ada

faktor

yang

mempengaruhi terjadinya frakturya itu ekstrinsik (meliputi kecepatan,


sedangkan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan), intrinsik
meliputi kapasitas tulang mengabsorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan
adanya densitas tulang tulang yang dapat menyebabkan terjadinya patah
pada tulang bermacam-macam, antara lain trauma langsung dan tidak
langsung, akibat keadaan patologi serta secara spontan.10
6. GEJALA KLINIS
Gejala klinis dari fraktur collum femur ini adalah nyeri terus menerus dan
bertambah beratnya sampai tulang dismobilisasi. Dapat juga terjadi deformitas
dimana daya tarik kekuatan otot menyebbakan fragmen tulang berpindah dari
tempatnya. Terjadi perubahan kesimbangan dan kontur terjadi, seperti :
a. Rotasi pemendekan tulang
b. Penekanan tulang.
Pemendekan tulang terjadi karena kontraksi otot yang melekat di atas dan
bawah tempat fraktur.1,13 Dapat juga ditemukan krepitasi, teraba akibat gesekan
antara fragmen satu dengan lainnya. Terjadi pembengkakan lokal dan perubahan
warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan gangguan sirkulasi yang
mengikuti fraktur. Bengkak muncul secara cepat dari lokasi dan
ekstravasasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur. Selain itu
juga terdapat ekimosis dari perdarahan subculaneous, spasme otot (spasme

11

involunters dekat fraktur), kehilangan sensasi, pergerakan abnormal, dan syok


hipovolemi.13

7.

DIAGNOSIS
Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang didapatkan : adanya riwayat trauma/ jatuh yang diikuti
nyeri pinggul, pada pemerikasaan didapatkan posisi panggul dalam keadaan fleksi,
eksorotasi dan abduksi.
A. PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
1. Syok, anemia atau pendarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen
3. Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.2
B. PEMERIKSAAN LOKAL
1. Inspeksi (Look)
Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal,
angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang
penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki
hubungan dengan fraktur, cedera terbuka
2. Palpasi (Feel)
Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal
dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera
pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan
3. Pergerakan (Movement)
Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk
menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian
distal cedera.
4. Pemeriksaan neurologis
12

Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan


motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonotmesis
atau neurotmesis. Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik
karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita
serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya. 4
5. Pemeriksaan radiologi
Macam-macam pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan untuk
menetapkan kelainan tulang dan sendi :
Foto Polos
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur.
Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan
keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan bidai yang
bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologis.
Tujuan pemeriksaan radiologis :
Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
Untuk konfirmasi adanya fraktur
Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta
pergerakannya
Untuk menentukan teknik pengobatan
Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru.5
Contoh foto pemeriksaan radiologis :

CT-Scan
Suatu jenis pemeriksaan untuk melihat lebih detail mengenai bagian
tulang atau sendi, dengan membuat foto irisan lapis demi lapis.
Pemeriksaan ini menggunakan pesawat khusus.11,12

13

Gambar 4.1. Fraktur femur

MRI
MRI dapat digunakan untuk memeriksa hampir semua tulang, sendi, dan
jaringan lunak. MRI dapat digunakan untuk mengidentifikasi cedera
tendon, ligamen, otot, tulang rawan, dan tulang.12
Gambar 4.2. Fraktur collum femur.

8. TERAPI
1. Terapi konservatif :
Proteksi
Misalnta mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan
kedudukan baik.
Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur
dengan kedudukan baik.1,13
Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Reposisi dapat dengan anestesi umum atau anestesi local dengan
menyuntikkan obat anestesi dalam hemotoma fraktur. Fragmen distal
dikembalikan pada kedudukan semula terhadap fragmen proksimal dan
dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips.1,14
Traksi
Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh
atau dipasang gips setelah tidak sakit lagi . pada anak-anak dipakai traksi
kulit (traksi Hamilton russel / traksi Bryant)

14

Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-anak
waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi
definitive, bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips.
Untuk prang dewasa traksi definitf harus traksi skeletal berupa balanced
traction.14
2. Terapi operatif:
Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis :
a. Reposisi tertutup- fiksasi externa
Setelah reposisi baik berdasarkan control radiologi intraoperatif maka
dipasang alat fiksasi externa. Fiksasi externa dapat model sederhana
seperti Roger Anderson, Judet, screw dengan bone cement atau llizarov
yang lebih canggih.
b. Reposisi tertutup dengan control radiologis diikut fiksasi interna
Misalnya : reposisi tertutup fraktur supra condylair humerus pada anak
diikuti dengan pemasangan parallel pins. Reposisi tertutup fraktur collum
pada anak diikuti planning dan immobilisasi gips. Cara ini sekarang terus
diekmbangkan menjadi close nailing: pada fraktur femur dan tibia,
yiatu pemasnagan fiksasi interna intra meduller (pen) tanpa membuka
frakturnya.14
Terapi operatif dengan membuka frakturnya :
a. Reposisi terbuka dan fiksasi interna
ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)
Keuntungan cara ini adalah :
- Reposisi anatomis
- Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar
Indikasi ORIF :
Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi
Misalnya : fraktur talus, fraktur collum femur
Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
Misalnya : fraktur avulsi, fraktur dislokasi
Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan
Misalnya : fraktur monteggia, fraktur galeazzi, fraktur antebrachii, fraktur
pergelangan kaki

15

Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik


dengan operasi
Misalnya : fraktur femur.1
b. Excicional arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi. Misalnya :
fraktur caput radii pada orang dewasa, fraktur collum femur yang
dilakukan operasi Girldlestone.
c. Excisis fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan excise caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore
atau yang lainnya.
9. KOMPLIKASI
Dapat terjadi komplikasi local pada system vaskuler seperti compartment
syndrome (Volkmann ischemia) dantrauma vaskuler (trauma pembuluh darah.
Selain itu dapat juga terjadi komplikasi pada system neurologis seperti lesi
medulla spinalis atau saraf perifer. Selain komplikasi local dapat juga terjadi
komplikasi sistemik yaitu emboli lemak.1
Pada fraktur juga sering ditemukan komplikasi lanjut seperti :
a. Delayed union: fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam 4
bulan.
b. Nonunion: apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai
adanya nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft.
c. Malunion: bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, maka
diperlukan pengamatan terus menerus selama perawatan. Angulasi sering
ditemukan.

Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai

sehingga dieprlukn koreksi berupa osteotomi.

16

d. Kaku sendi lutut: setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan


pergerakan pada sendi lutut. Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi
periartikuler atau adhesi intrmuskuler. Hal ini dapat dihindari apabila
fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal.
e. Osteporosis post trauma.13
10. PROGNOSIS
Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang
menakjubkan. Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur
dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang
hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur mulai terjadi segera setelah
tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan
memadai sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis yang penting seperti
imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan,
selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat esensial
dalam penyembuhan fraktur.
11. PENCEGAHAN
Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada
umumnya fraktur disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh
baik ringan maupun berat. Pada dasarnya upaya pengendalian kecelakaan dan
trauma adalah suatu tindakan pencegahan terhadap peningkatan kasus
kecelakaan yang menyebabkan fraktur.

Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari
terjadinya trauma benturan, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam
melakukan aktifitas yang berat atau mobilisasi yang cepat dilakukan

17

dengan cara hati hati, memperhatikan pedoman keselamatan dengan


memakai alat pelindung diri.13

Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurangi akibat akibat yang
lebih serius dari terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan
pertama yang tepat dan terampil pada penderita. Mengangkat penderita
dengan posisi yang benar agar tidak memperparah bagian tubuh yang
terkena fraktur untuk selanjutnya dilakukan pengobatan. Pemeriksaan
klinis dilakukan untuk melihat bentuk dan keparahan tulang yang patah.
Pemeriksaan dengan foto radiologis sangat membantu untuk mengetahui
bagian tulang yang patah yang tidak terlihat dari luar. Pengobatan yang
dilakukan dapat berupa traksi, pembidaian dengan gips atau dengan
fiksasi internal maupun eksternal.14

Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier pada penderita fraktur yang bertujuan untuk
mengurangi terjadinya komplikasi yang lebih berat dan memberikan
tindakan pemulihan yang tepat untuk menghindari atau mengurangi
kecacatan. Pengobatan yang dilakukan disesuaikan dengan jenis dan
beratnya fraktur dengan tindakan operatif dan rehabilitasi. Rehabilitasi
medis diupayakan untuk mengembalikan fungsi tubuh untuk dapat
kembali melakukan mobilisasi seperti biasanya.14 Penderita fraktur yang
telah mendapat pengobatan atau tindakan operatif, memerlukan latihan
fungsional perlahan untuk mengembalikan fungsi gerakan dari tulang
yang

patah.

Upaya

rehabilitasi

dengan

mempertahankan

dan

memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi

18

antara lain meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler,


mengontrol ansietas dan nyeri, latihan dan pengaturan otot, partisipasi
dalam aktivitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktivitas ringan secara
bertahap.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Staff pengajar bagian ilmu bedah FKUI Jakarta. Kumpulan kuliah ilmu bedah.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004.p.484-7.
2. Omar Faiz, David Moffat. Anatomy at Glance. Cardiff University, 2002. Page
93.
3. Putz, R., Pabst. R. Atlas Anotomi Manusia Sobotta Jilid 2. Edisi 21. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran. 2000. Hal. 276,278.
4. Fred A, Mettler, Jr., M.D., M.P.H. Essentials of Radiology. Univercity of New
Mexico, 1996. Page 337
5. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Penerbit PT Yarsif
Watampone, Jakarta, 2009. Hal 82-85, 92-94, 355-361, 364
6. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Iwan Ekayuda (editor),
FK UI, Jakarta, 2006. Hal 31
7. Pradip R. Patel. Lecture Notes Radiologi, Edisi Kedua. Penerbit Erlangga
Medical Series, Jakarta, 2005. Hal 232
8. P.E.S. Palmer., W.P. Cockshott., V. Hegedus., E. Samuel. Manual of
Radiographic Interpretation for General Practitioners. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal 108-109
9. Holmes, Erskin J., Misra, Rakesh R. A-Z of Emergency Radiology. Cambridge
University, 2004. Page 140-143
10. Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses proses penyakit Volume 2. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. Hal
1365
11. AO Foundation. Open Complete Articular Multifragmentary Distal Femoral
Fracture. [online]. 2009. [Cited August 16]. Available from
http://www2.aofoundation.org
12. American Academy of Orthopaedic Surgeons. Hip Fracture. [online]. 2009.
[Cited August 16]. Available from http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?
topic=A00392
13. Anonim. Fraktur collum femur. In: Mansjoer A,Wardhani WI, Setiowulan W.
Kapita selekta kedokteran. Edisi ke-3 (2). Jakarta: Media Aesculapius FKUI;
2000.p.355-6.

20

14.

Anonim. Fraktur. In: Sjamsihidajat, Jong WD, editors. Dalam Buku

Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2005.p.881.

21