Anda di halaman 1dari 2

Secara keseluruhan film Sang Pencerah bagus ditinjau dari segi kandungan, alur cerita,

seni penataan musik, dan cara memerankan dapat menikmati nonton film Sang Pencerah, mampu
memberikan
atensi
terhadap
film
tersebut.
Muhammad Darwis (nama KH Ahmad Dahlan) sebelum ke Mekkah) selalu bertanya di dalam
hatinya. Mengapa agama yang diyakininya sebagai rahmatan lilalamin (rahmat atau kebaikan
bagi seluruh alam) justru tidak nampak. Secara fakta banyak sekali masyarakat yang terlantar
dan seakan-akan dibiarkan,orang-orang miskin dibiarkan melarat seakan sudah menjadi takdir
mereka. Tidak ada yang tergerak hatinya untuk memperbaiki hidup dan kehidupan mereka.
Pemahaman agama juga bercampur aduk dengan kepercayaan mistik berlebih-lebihan. Sesajen
berbagai jenis makanan terbuang begitu saja. Upacara tahlilan sangat berlebihan. Bahkan mereka
yang sudah kehilangan saudaranya juga harus melaksanakan tahlilan yang berlebihan, membuat
masyarakat menjadi sedih lahir dan batin. Masyarakat menganggap bahwa tahlilan adalah
kewajiban agama. Ahmad Dahlan merasa yakin bahwa ini bukan atas beragama. Pasti ada
kesalahan pemahaman terhadap agama yang sebenarnya untuk rahmatan lilalamin.
Ketika Ahmad Dahlan membahas semua itu dengan ayahandanya yang diperankan oleh
Ikrangera, sang ayah tidak sepenuhnya menerima. Dikatakannya bahwa agama itu bukan soal
akal saja, tetapi juga harus dengan hati. Ahmad Dahlan tetap tidak bisa menerima situasi
demikian, Inilah yang menjadi awal perjuangannya. Ahmad Dahlan lalu pergi menunaikan
ibadah haji ke Mekah al Mukaramah. Di sanalah Ahmad Dahlan sempat membaca pemikiranpemikiran
Jamaluddin
Al-Afghani
dan
Muhammad
Abduh.
Muhammad Abduh (1849-1905) pemikir modern dari Mesir yang menekankan betapa pentingya
akal. Seperti yang dituangkan di dalam Surah Al-Baqarah (30-34) tentang kejadian manusia,
jelas sekali bahwa kelebihan manusia di atas makhluk hidup lainnya adalah karena kekuatan
akalnya. Akal-fikiran itulah yang membuat manusia layak menjadi khalifatul-fil-ardli (pemimpin
di muka bumi). Abduh berprinsip bahwa kebebasan berpikir untuk selalu bertanya dan
berinovasi adalah modal kemajuan sebuah negara. Negara maju, menurut Abduh, adalah negara
yang pandai menggunakan otaknya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan terus berkembang
sesuai dengan kemajuan zaman. Itulah kelebihan orang Barat ketimbang Timur. Dalam konteks
ini barangkali Abduh berpendapat "saya melihat Islam di negara Barat, tetapi sedikit Muslim.
Dan saya melihat banyak Muslim di Timur, tetapi tidak ada Islam".
Rupanya pemikiran Abduh sejalan dengan apa yang dipikirkanAhmad Dahlan. Tidak heran kalau
Ahmad Dahlan sering berpendapat bahwa guru agama bukanlah yang menentukan segalanya.
Kebenaran harus bersama-sama dicari, bukan hanya milik guru. Dengan bekal nalar yang kuat
ditambah pengetahuan agama yang semakin banyak selama di Makkah al-Mukaramah, Ahmad
Dahlan semakin memiliki modal untuk melakukan perubahan. Sepulang dari Mekah, Ahmad
Dahlan dijadikan Imam Masjid di Kauman dan berhak memberikan tausiah. Ceramah-

ceramahnya agak berbeda dengan para kiai umumnya waktu itu yang sangat menekankan
penerimaan tanpa banyak bertanya, Ahmad Dahlan justru menekankan betapa pentingnya akal,
bertanya dan diskusi adalah modal awal untuk maju. Dengan bekal pengetahuannya tentang ilmu
bumi dan penggunaan kompas, AD mempertanyakan arah sholat yang sudah bertahun-tahun
diterima sebagai suatu kebenaran. Inipun membuat hampir semua jamaah terutama para kiainya
tersinggung. Mereka tidak mau menerima penjelasan berbasis ilmu pengetahuan yang dipakai
Ahmad Dahlan. Perjuangannya semakin mendapat tantangan dan tidak jarang KHAD
dikategorikan orang kafir. Akan tetapi Ahmad Dahlan semakin kuat bahwa perubahan harus
dilakukan. Maka Ahmad Dahlan mempelajari organisasi-organisasi modern yang mengajak pada
perubahan, terutama Budi Utomo. Dari situ muncullah inspirasi pendirian Muhammadiyah.
Maka lahirlah Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1912.
http://www.antaranews.com/berita/220957/resensi-sang-pencerah-mengenalpendiri-muhammadiyah