Anda di halaman 1dari 12

I.

NAMA ZAT AKTIF DAN JUMLAH TABLET YANG AKAN DIBUAT


I.1. Nama Zat
: Isoniazida
I.2. Jumlah tablet yang akan dibuat
:

II.

MONOGRAFI ZAT AKTIF


Isoniazida
C6H7N3O
BM : 137,14
Pemerian : hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa
agak pahit; terurai perlahan-lahan oleh udara dan cahaya.
Kelarutan : mudah larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol; sukar larut
dalam kloroform dan dalam eter.
Jarak lebur
: antara 1700-1730
Keasaman-kebasaan : pH larutan 10,0% b/v 6,0 sampai 7,5.
Susut pengeringan : tidak lebih dari 1 %; pengeringan dilakukan pada suhu 105 0
selama 4 jam.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.
Khasiat dan penggunaan : Antituberkulosa
Waktu hancur tablet : tidak lebih dari 30 menit.
(Sumber: Farmmakope Indonesia Edisi III, 1979 hal. )
Disolusi :
Media disolusi
: 900 mL HCl 0,1 N
Alat tipe 1
: 100 rpm
Waktu
: 45 menit.
(Sumber: Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995, hal. 473)

III.

FORMULA DAN METODE PEMBUATAN


III.1.
Formula standar atau dari literatur
R/
Tiap tablet mengandung:
Isoniazidum
100 mg
Zat tambahan yang cocok
qs.
(Fomularium Nasional,Ed. Kedua, 1978, hal: 167 )
Tiap tablet mengandung
Isoniazida
100 mg
Formula untuk 100.000 tablet :
R/
Isoniazid
10,4 kg
Starch
2g
Gelatin
125 g
Mg-stearat
125 g
Talkum
125 g
Bobot tablet : 125 mg
(Sumber: Drug Formulations Manual, First edition, 1991, hal: 188)

IV.

III.2.
R/

Usulan formula
Isoniazid
Amprotab
Laktosa
PVP
Mg-stearat
Talkum

III.3.

Metode pembuatan: Proses granulasi basah

100 mg
5%
qs
3%
1%
2%

MONOGRAFI ZAT TAMBAHAN


1. Amylum
(C6H10O5)n , dengan n = 300-1000
Pemerian

: Tidak berbau dan berasa, serbuk berwarna putih berupa

granul-granul kecil berbentuk sferik atau oval dengan ukuran dan bentuk yang
berbeda untuk setiap varietas tanaman.
Kegunaan

: Glidan; pengisi tablet dan kapsul; penghancur tablet dan

kapsul; pengikat tablet.


Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam etanol dingin (95%) dan air dingin.

Amilum mengembang dalam air dengan konsentrasi 5-10 % pada 37C.


Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal: sebagai bahan
tambahan untuk sediaan oral padat dengan kegunaannya sebagai pengikat,
pengisi, dan penghancur. Pada formulasi tablet, pasta amilum segar dengan
konsentrasi 5-25% b/b digunakan pada granulasi tablet sebagai pengikat.
Amylum paling banyak digunakan sebagai penghancur (disintegran) pada
tablet, dengan konsentrasi 3-15% b/b.
pH

: 5,5 6,5 untuk 2% b/v dalam dispersi larutan pati jagung,

pada 250C.
Densitas (bulk)

: 0,462 g/cm3 untuk pati jagung

Densitas (tapped)

: 0,658 g/cm3 untuk pati jagung

Densitas (true)

: 1,478 g/cm3 untuk pati jagung

Suhu gelatinasi

: 73 C untuk pati jagung, 720C

Aliran

: 10,8-11,7 g/det untuk pati jagung; 30 % untuk pati jagung.

Kelembaban

: 11 % untuk pati jagung, 18 % untuk pati kentang, 14%

untuk pati beras, 13% untuk pati gandum.


Distribusi ukuran partikel : 2-32 m untuk pati jagung
10-100 m untuk pati kentang
2-10 m untuk pati beras
5-35 m untuk pati gandum
2-45 m untuk pati teerigu
Suhu pengembangan: 65 untuk pati jagung
640 untuk pati kentang
550 untuk pati beras
Stabilitas
Pati kering dan tanpa pemanasan stabil jika dilindungi dari kelembaban yang
tinggi. Jika digunakan sebagai penghancur pada tablet dibawah kondisi normal
pati biasanya inert. Larutan pati panas atau pasta secara fisik tidak stabil dan
mudah ditumbuhi mikroorganisme sehingga menghasilkan turunan pati dan
modifikasinya yang berbentuk unik.
(Sumber: Handbook of Pharmaceutical Excipient, 5th, 2006, hal.725-726)

2. Povidon (PVP)
1-Ethenyl-2-pyrrolidinone homopolymer.
(C6H9NO)n
Pemerian

BM = 2500 3 juta.
: serbuk sangat halus, berwarna putih sampai krem, tidak atau

hampir tidak berbau, higroskopik.


Kegunaan : pensuspensi, pengikat tablet.
Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : biasa digunakan
pada sediaan padat. Larutan povidon dapat digunakan sebagai coating agent.
Pemakaian :

Pembawa obat : 10 25 %

Pendispersi : sampai 5%

Suspending agent : sampai 5%

Pengikat, pengisi, atau penyalut tablet : 0,5 5%


pH

: 3,0 7,0 untuk larutan 5% b/v

Densitas

: 1,17-1,18 g/cm3

Higroskopisitas : sangat higroskopis, sejumlah lembab yang nyata terabsobsi


pada kelembaban relatif yang rendah.
Titik leleh

: melembut pada 150C.

Indeks refraksi
Kelarutan

: nD = 1,54 1,59

: larut dalam asam, kloroform, etanol, keton, metanol, dan air.

Praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon dan minyak mineral.


Stabilitas

: Povidone stabil dalam siklus pemanasan yang pendek sekitar

110 -130C.
Penyimpanan : disimpan dalam wadah tertutup, sejuk, dan kering.
Inkompatibilitas : dengan senyawa amonium kuarterner.
(Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 1994, hal.519)

3. Lactose
C12H22O11 (anhidrat)

BM = 342,30

C12H22O11.H2O (monohidrat) BM = 360,31


Pemerian

: Serbuk atau hablur berwarna putih, partikel kristal putih atau

serbuk; tidak berbau, berasa agak manis : -lactose hampir 15% semanis
sukrosa, sedangkan -lactose lebih manis daripada bentuk -nya.

Kegunaan

: Pengisi tablet dan kapsul dan pengisi inhaler serbuk kering.

Kelarutan

Pada suhu 20C praktis tidak larut dalam kloroform, etanol dan eter.

Larut dalam 4,63 bagian air pada suhu 20 0 C; 3,14 bagian air pada suhu
400C; 2,04 bagian air pada suhu 500C; 1,68 bagian air pada suhu 600 C; 1,07
bagian air pada 800C.

Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : sebagai pengisi


pada tablet dan kapsul.
Higroskopisitas

: Laktosa monohidrat stabil dalam air dan tidak

terpengaruh oleh kelembaban pada suhu kamar. Tetapi bentuk amorf,


tergantung pada pengeringannya, dapat dipengaruhi oleh kelembaban dan bisa
mengalami konversi menjadi monohidrat.
Titik leleh

: 201-202C untuk -lactose monohidrat


223C untuk -lactose anhidrat
252,2C untuk -lactose anhidrat

Densitas

: 1,540 untuk -lactose monohidrat


1,589 untuk -lactose anhidrat

Kelembaban : Laktosa anhidrat secara normal mengandung air 1% b/b


Laktosa monohidrat mengandung air hampir 5% b/b.
Stabilitas

: Pada penyimpanan, laktosa dapat berubah warna

menjadi coklat.
Inkompatibilitas

: Reaksi kondensasi antara laktosa dengan gugus amin

primer dapat menghasilkan produk berwarna coklat. Reaksi ini terjadi lebih
cepat dengan bentuk amorf dibandingkan laktosa kristal.
Penyimpanan : Disimpan pada wadah tertutup baik, ditempat kering dan
sejuk.
(Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 4th ed, 2003, hal.323-331).

4. Octadecanoic acid Mg salt (Magnesium stearat)


C36H70MgO4

BM = 591,27

Pemerian

: hablur sangat halus, putih terang, dapat diendapkan

atau digiling, tidak berasa, kerapatan bulk rendah, berbau lemah dari asam
stearat dan rasa yang khas, licin saat disentuh dan cepat meresap pada kulit.
Kegunaan

: lubrikan untuk tablet dan kapsul.

Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : digunakan


untuk kosmetik, makanan, dan formulasi obat. Biasanya digunakan sebagai
lubrikan pada pembuatan kapsul dan tablet dengan jumlah antara 0,25 5,0 %.
Digunakan juga sebagai basis krim.
Kelarutan :

Praktis tidak larut dalam etanol, etanol (95%), eter, dan air.

Sedikit larut dalam benzen hangat dan etanol (95%) hangat.

Densitas

: 1,03 1,08 g/cm3.

Sifat aliran

: sulit mengalir, bubuk kohesif.

Polimorfisme : trihidrat, bentuk asikular dan dihidrat, bentuk lamellar


Titik leleh

: 117-150 C (sampel yang komersil).


126-1300 C (Mg-stearat yang sangat murni)

Stabilitas

: Mg-stearat stabil dan disimpan dalam wadah yang tertutup

baik ditempat kering dan sejuk.


Inkompatibilitas

: dengan asam kuat,alkali, dan garam besi.

(Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 5th ed, 2006, hal.430-433).

5. Talk
Pemerian

: Serbuk sangat halus, putih sampai putih abu-abu, tidak

berbau, tidak berasa. Langsung melekat pada kulit, sangat lembut bila
disentuh.
Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam larutan asam dan alkali, pelarut

organik, dan air.


Keasaman-kebasaan : pH 7-10 untuk 20% w/v larutan terdispersi.

Kegunaan

: Anticaking agent, glidan, pengisi tablet dan kapsul, lubrikan

tablet dan kapsul.


Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : digunakan pada
sediaan oral padat sebagai lubrikan dan pengisi. Pemakaian :
Glidan dan lubrikan tablet : 1-10%

Pengisi tablet dan kapsul : 5-30%

Kekerasan

: 1 - 1,5

Higroskopisitas: talk tidak mengabsorpsi sejumlah air pada suhu 25C dan
kelembaban relatif naik hingga 90%.
Distribusi ukuran partikel
Indeks bias
BJ

: bervariasi

: nD20 = 1,54 1,59

: 2,7 - 2,8

Stabilitas : stabil, talk dapat disterilisasi dengan pemanasan pada 160C selama
tidak lebih dari 1 jam atau dengan penyinaran menjadi etilenoksida atau dengan
irradiasi gamma. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, ditempat kering dan
sejuk.
Inkompatibilitas

: Dengan senyawa amonium kuarterner.

(Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 4th ed, 2003, hal.641).


V.

ALASAN PEMILIHAN METODE DAN ZAT TAMBAHAN


a. Alasan pemilihan metode
Tablet isoniazida dicetak dengan metode granulasi basah, karena isoniazida
merupakan zat aktif yang termostabil, dengan titik lebur yaitu antara 170 01730. Selain itu, metode granulasi basah digunakan agar dihasilkan granul
yang memilki ukuran partikel lebih besar agar sifat alir baik dan untuk
memperoleh massa cetak dengan kompresibilitas yang baik.
b. Alasan pemilihan zat aktif
Laktosa digunakan sebagai pengisi untuk tablet Ca-laktat. Pengisi dapat
membuat bobot tablet sesuai dengan yang diharapkan.
Povidon (PVP) digunakan sebagai pengikat untuk pembuatan tablet Ca-laktat.
Pengikat digunakan untuk membentuk granul atau menaikkan kekompakka

kohesi bagi tablet. PVP sebagai pengikat digunakan dengan cara dibuat dalam
bentuk larutan dalam air.
Amprotab/amilum. digunakan sebagai penghancur untuk memudahkan
hancurnya tablet saat kontak dengan cairan saluran cerna. Amilum memiliki
sifat yang inert bila ditambahkan dalam suatu formula tablet.
Mg-stearat digunakan sebagai lubrikan, yang berfungsi untuk mengurangi
gesekan atau friksi pada saat proses pembuatan tablet.
Talk digunakan sebagai glidan dalam pembuatan tablet Ca-laktat ini dan
berfungsi untuk meingkatkan aliran granul dari hopper ke dalam die. Selain itu
juga talk juga dapat berfungsi

sebagai anti adheren untuk mencegah

penempelan tablet pada punch atau dinding die.


VI.
VII.
VIII.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN


PROSEDUR PEMBUATAN
Kalsium laktat dan bahan pembantu ditimbang sesuai dengan yang dibutuhkan.
1. Isoniazida, amprotab, dan laktosa yang telah ditimbang, dicampur hingga
homogen.
2. Larutan PVP (PVP dilarutkan sempurna dalam air) ditambahkan sedikitsedikit kedalam campuran isoniazida, Amprotab, Laktosa hingga diperoleh
3.
4.
5.
6.

campuran/massa yang baik (dapat dikepal namun dapat dihancurkan kembali).


Campuran dibentuk menjadi granul dengan menggunakan ayakan nomor 14.
Granul dikeringkan dalam lemari pengering/oven pada suhu 50-600C.
Tentukan kadar air dengan menggunakan moisture analyzer.
Jika granul telah memenuhi persyaratan kadar air ( 2%), granul diayak

kembali dengan ayakan nomor 16.


7. Lakukan evaluasi granul.
8. Granul dicampur dengan fasa luar yang telah ditimbang.
9. Lakukan pencetakan tablet.
10. Lakukan evaluasi tablet.
IX.

EVALUASI
a. Granul atau masa siap cetak
1. Penetapan Kadar air
Sebanyak 2 g granul ditimbang, kemudian disimpan dalam piring dan
ratakan, lalu masukkan ke dalam alat moisture balance. Diamkan beberapa waktu
hingga skala menunjukkan angka yang tetap. Kadar air granul dapat dibaca pada
skala tetap.
2. Penetapan Bobot Jenis Nyata, Bobot Jenis Mampat, Kadar Pemampatan, dan
Porositas

Sebanyak 100 g (B) granul atau serbuk dimasukkan ke dalam gelas ukur
250 mL, catat volumenya (V 0). Selanjutnya dilakukan pengetukan dengan alat.
Volume pada ketukan ke 10, 50, dan 500 diukur, lalu dilakukan perhitungan
sebagai berikut :

B
V0
BJ nyata =

g/mL

B
Vmampat
BJ mampat =

g/ml

V0 Vmampat
V0

100 0 0

Kadar Pemampatan =

(1 BJ mampat )
BJsejati

100 0 0

Porositas=
3. Kecepatan aliran

timbang beker glass kosong (Wo)


set skala pada posisi 0
masukkan granul ke corong
alat dihidupkan
catat waktu alir (t)
timbang beker glass berisi granul (Wt)
Wt Wo
t
hitung aliran granul :

4. Sudut istirahat

dengan menggunakan prosedur yang sama pada prosedur 3


ukur tinggi puncak taburan serbuk (h)
ukur diameter lingkaran yang terbentuk dari taburan serbuk (d=2r)
hitung sudut yang terbentuk dari taburan serbuk tersebut antara bidang
datar denag tinggi granul : tan a = h/r

b. Tablet
1. Penampilan
Tablet diamati secara visual, apakah terjadi ketidakhomogenan zat
warna atau tidak, bentuk tablet, permukaan cacat atau tidak dan bebas dari
noda atau bintik-bintik. Bau tablet tidak boleh berubah.
2.

Keseragaman Ukuran
Diambil secara acak 10 tablet, lalu diukur diameter tebalnya
menggunakan jangka sorong.

3.

Keragaman Bobot
Diambil 10 tablet secara acak lalu timbang masing-masing tablet.
Hitung bobot rata-rata dan penyimpangan terhadap bobot rata-rata.

4.

Kekerasan Tablet
Dilakukan menggunakan hardness tester terhadap 10 tablet yang
diambil secara acak. Kekerasan diukur berdasarkan luas permukaan tablet
dengan menggunakan beban yang dinyatakan dalam kg. Satuan kekerasan
adalah kg/cm2. Dihitung kekerasan rata-rata dan standar deviasinya.

5.

Friabilitas
Dilakukan dengan menggunakan alat friabilator terhadap 10 tablet
yang diambil secara acak. Parameter yang diuji adalah kerapuhan tablet
terhadap bantingan selama waktu tertentu. Friabilitas dipengaruhi oleh sudut
tablet yang kasar, kurang daya ikat serbuk, terlelu banyak serbuk halus,
pemakaian bahan yang tidak tepat, massa cetak terlalu kering.
1.
2.
3.
4.
5.

diambil 10 tablet secara acak


tablet dibersihkan dari debu kemudian ditimbang (Wo)
tablet dimasukkan dalam alat
alat dinyalakan selama 4 menit
tablet dibersihkan dan ditimbang (Wt)
Tablet yang baik memiliki friabilitas kurang dari 1 %.

6.

Wo Wt
100%
Wo

Friksibilitas
Dilakukan dengan menggunakan alat friabilator terhadap 10 tablet
yang diambil secara acak. Parameter yang diuji adalah kerapuhan tablet
terhadap gesekan antar tablet selama waktu tertentu.

1.
2.
3.
4.
5.

diambil 10 tablet secara acak


tablet dibersihkan dari debu kemudian ditimbang (Wo)
tablet dimasukkan dalam alat
alat dinyalakan selama 4 menit
tablet dibersihkan dan ditimbang (Wt)
f

Wo Wt
100%
Wo

7. Uji Waktu Hancur Tablet Tidak Bersalut (FI IV)


Masukkan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang,
masukkan 1 cakram pada tiap tabung dan jalankan alat, gunakan air bersuhu
37 + 2 sebagai media kecuali dinyatakan menggunakan cairan lain dalam
masing-masing monografi. Pada akhir batas waktu seperti yang tertera pada
monografi, angkat keranjang dan amati semua tablet : semua tablet harus
hancur sempurna. Bila 1 tablet atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi
pengujian dengan 12 tablet lainnya : tidak kurang 16 dari 18 tablet yang diuji
harus hancur sempurna.
8.

Prosedur pengerjaan uji disolusi :


Masukkan sejumlah volume media disolusi seperti yang tertera dalam
masing-masing monografi ke dalam wadah, pasang alat, biarkan media
disolusi hingga suhu 37 derajat dan angkat thermometer. Masukkan satu tablet
kedalam alat, hilangkan gelembung udara dari permukaan sediaan yang di uji
dan segera jalankan alat pada laju kecepatan seperti yang tertera dalam
masing-masing monografi. Dalam interval waktu yang ditetapkan atai pada
tiap waktu yang dinyatakan, ambil cuplikan pada daerah pertengahan antara

permukaan. Media disolusi dan bagian atas dari keranjang berputar ataupun
daun dari alat dayung, tidak kurang 1 cm dari dinding wadah. Laukukan
penetapan seperti yang tertera dalam masing-masing monografi.

X.

ASPEK FARMAKOLOGI
a. Dosis : DM : sehari 10 mg/kg. (Sumber: FI III, hal: )
Dosis lazim : 300 mg sehari
b. Indikasi : pengobatan TBC, profilaksis.
c. Efek samping : insomnia, gelisah, hiperrefleksi, konfulsi, mual, muntah,
anemia aplastik, trombositophenia, demam, eosinofilia, reumatoid, dermatosis,
dan sindrom lupus.
(Sumber: Remingtons Pharmaceutical Sciences, 18th edition, hal: 1222)
d. Kontraindikasi : tidak diberikan pad pasien dengan penyakit hati. Pada
pasien diabetes melitus, alkoholik kronik, gangguan fungsi hati dan gangguan
fungsi ginjal atau untuk pasien dengan pemberian obat hepatotoksik.
e. ADME
Isoniazida diabsorpsi dengan cepat dari saluran cerna. Konsentrasi puncak
plasma 1-2 jam setelah pemberian. Isoniazida tidak dianggap berikatan dengan
protein plasma dan berdifusi ke dalam jaringan tubuh dan cairan tubuh,
termasuk cairan cerebrospinal. Eliminasi dari tubuh tergantung pada kecepatan
asetilasi. Pada pasien dengan fungsi ginjal normal sekitar 50-70% dari dosis
dikeluarkan lewat urin.
(Sumber: Martindale Pharmaceutical, 28th editions, 1982, hal: 1573 )
9. ETIKET
10. DAFTAR PUSTAKA