Anda di halaman 1dari 23

Usulan Penelitian

STUDI EKSPERIMEN PENENTUAN


KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS
KONVEKSI PADA SUB BULUH
VERTIKAL SUSUNAN SILINDER
SEGIEMPAT DENGAN PENDINGIN
NANOFLUIDA ZrO2

Brain Aulia Biandika


140310100016
Universitas Padjadaran

LATAR BELAKANG
PENELITIAN
Penggunaan energi nuklir pada Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklir (PLTN) sudah tentu memiliki potensi
bahaya disebabkan banyaknya bahan radioaktif
yang dimilikinya sehingga perhatian terhadap aspek
keselamatan PLTN harus diutamakan. Salah satu
pemikiran yang banyak mendapat perhatian dan
telah mulai diterapkan dalam perancangan PLTN
generasi baru adalah sistem keselamatan pasif dan
menerapkan nanofluida dalam sistem pendingin,
baik sistem pendingin primer maupun sistem
pendingin teras darurat.

IDENTIFIKASI MASALAH
Bagaimana cara menentukan nilai
koefisien
perpindahan
panas
konveksi pada sub buluh vertikal.
Bagaimana pengaruh penggunaan
nanofluida ZrO2 sebagai fluida kerja
pada sub-buluh vertikal.

BATASAN MASALAH
Menggunakan nanofluida ZrO2
menggunakan alat uji pada subbuluh vertikal dengan geometri
segiempat.

TUJUAN PENELITIAN
Menentukan
koefisien
perpindahan
panas pada sub-buluh segiempat
dengan nanofluida ZrO2.
Mengetahui proses perpindahan panas
konveksi
pada
sub-buluh
vertikal
menggunakan nanofluida ZrO2.
Mengetahui
manfaat
penerapan
nanofluida ZrO2 sebagai fluida kerja
pada sub-buluh vertikal.

Perpindahan Panas Konveksi


Adalah transport energi dengan kerja gabungan
dari konduksi panas, penyimpanan, energi dan
gerakan
mencampur.
Proses
terjadi
pada
permukaan padat (lebih panas atau dingin)
terhadap cairan atau gas (lebih dingin atau panas).

q = h A (T)
q = Laju perpindahan panas konveksi
h = Koefisien perpindahan panas konveksi (w/m 2 0C)
A = Luas penampang (m 2)
T = Perubahan atau perbedaan suhu ( 0C; K)

Bilangan Nusselt
bilangan Nusselt (Nu) merupakan bilangan tak
berdimensi yang merepresentasikan gradien
temperatur tak berdimensi.
Bilangan
Nusselt
(Nu)
menyatakan
rasio
perpindahan panaskonveksidankonduksinormal
terhadap batas dalam kasus perpindahan panas
pada permukaanfluida.

Dengan :
L=panjang karakteristik
k=konduktivitas termalfluida
h=koefisien perpindahan panaskonveksi

Dh merupakan diameter hidrolika


yang dapat dirumuskan sebagai
berikut:

Dalam persamaan ini, P dan D


masing-masing adalah lebar pitch
dan diameter silinder pemanas.

Bilangan Prandtl
Bilangan tak berdimensi lain adalah bilangan
Prandtl (Pr) yang merupakan parameter yang
menyatakan perbandingan ketebalan lapisan
batas hidrodinamik dan termal, dengan kata lain
bilangan Prandtl merupakan penghubung antara
medan kecepatan dengan medan termal.

dengan :
Cp = panas spesifik fluida (J/kg.K)
= viskositas fluida (Pa.det)
k = konduktivitas thermal (W/m2K)

Bilangan Reynold
Bilangan
Reynold
adalah
rasioantaragayainersia
terhadap
gayaviskos(/L)
yang
mengkuantifikasikan
hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu
kondisi aliran tertentu.
Bilangan reynold merupakan suatu besaran yang
tidak berdimensi. Biasanya bilangan reynold ini
digunakan untuk mengetahui jenis-jenis aliran
yang terjadi pada suatu wadah, semisal pipa dan
Dengan :
lain-lain.
U
= vs= kecepatan fluida, (m/s)
L= panjang karakteristik,
= viskositas absolut fluida dinamis, (kg/ms)
= viskositas kinematik fluida: = / , (m2/s)
= kerapatan (densitas) fluida. (kg/m3)

Bilangan Grashof
Bilangan Grashof, Gr adalah perbandingan dari
gaya apung terhadap gaya geser. Gaya apung
dalam konveksi alami ditukar menjadi gaya
momentum dalam konveksi paksa.

Dengan:
g = percepatan gravitasi bumi
= volumetrik koefisien ekspansi termal (sama dengan kirakira 1 / T, untuk cairan yang ideal, di mana T adalah temperatur
absolut)
Ts = suhu permukaan
T = suhu massal
D = diameter
= viskositas kinematik

Perpindahan Panas Konveksi


Alamiah
Konveksi alamiah adalah perpindahan panas
antara fluida yang bergerak dengan suatu
permukaan
yang
bersinggungan
langsung
dengan fluida tersebut, dimana gerakan fluida ini
disebabkan karena adanya perbedaan kerapatan
akibat dari perbedaan temperatur didalam fluida.

Dengan C dan m adalah konstanta yang nilainya


dievaluasi dengan data eksperimen.

Perpindahan Panas Konveksi


Paksa
Konveksi paksa adalah perpindahan panas antara
fluida yang bergerak dengan suatu permukaan
yang bersinggungan langsung dengan fluida
tersebut, dimana gerakan fluida ini disebabkan
karena energi luar, seperti pompa maupun kipas.
Korelasi perpindahan panas konveksi paksa ini
biasanya dinyatakan dalam bentuk hubungan
antara bilangan Nusselt (Nu) dengan bilangan
Prandtl (Pr) dan Reynolds (Re).
dengan C, m dan n adalah konstanta-konstanta
empirik.

Pengertian Sub Buluh


Analisis sub-buluh adalah salah satu metode yang
banyak digunakan untuk menyelesaikan persoalan
aliran di dalam banyak buluh yang terhubung secara
kontinyu di sepanjang buluh seperti yang dijumpai
pada teras reaktor atau penukar kalor.
Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan volume
atur sub buluh, yaitu:
sub buluh dengan pusat fluida pendingin (coolantcentered subchannel)
sub buluh dengan pusat batang bahan bakar (rodcenter subchanel),

Gambar 2. Opsi Sub buluh [Todreas dkk, 1990]

Nanofluida ZrO2
Nanofluida merupakan perpaduan nanopartikel dengan
ukuran 1-100 nm dilarutkan dengan fluida kerja, baik fluida
air maupun fluida cair yang lainnya.
Nanofluida secara teori memiliki konduktivitas termal yang
lebih besar dibandingkan dengan konduktivitas termal fluida
cair yang biasanya. Sehingga dapat meningkat kinerja
perpindahan panas pada alat penukar kalor maupun alatalat industri yang menggunakan media fluida sebagai media
perpindahannya.
Pendinginan suatu sistem dapat diperbaiki salah satunya
dengan mengganti fluida pendingin dari fluida konvensional
menjadi fluida air yang dicampur dengan partikel nano
(fluida nano). Sudah banyak fluida nano digunakan untuk
memperbaiki efektivitas pendinginan.

Tabel 1. Hasil pengukuran konduktivitas termal dari riset-riset


sebelumnya
[Saidur, et al, 2011]

Metode Penelitian
Pengkajian Teori dengan cara
studi literatatur

Persiapan Penelitian
Persiapan dan penyusunan Alat dan Bahan
Pengecekan & Kalibrasi Alat Ukur

Melakukan eksperimen untuk


pengambilan data

Melakukan perhitungan koefisien


perpindahan panas nanofluida
ZrO2

Pembahasan & Analisis data

Gambar 3. Diagram alir


penelitian

Alat dan Bahan Penelitian

Gambar 4. Skema rangkaian alat uji

Gambar 5. Geometri daerah sub-buluh


segiempat

Gambar 6. Alat uji sub-buluh vertikal dengan fluida


kerja nanofluida ZrO2

Metode Penelitian
a) Menyusun peralatan eksperimen yang meliputi
pembuatan model elemen bakar, sistem penyediaan
air, seksi uji (test section), sistem kelistrikan, dan
sistem pencatat data seperti data temperatur, laju
aliran fluida dan daya listrik.
b) Melakukan kalibrasi pada alat-alat ukur suhu
(termokopel)
c) Melakukan eksperimen untuk memperoleh data-data
perpindahan panas konveksi pada sub-buluh vertikal
untuk air murni dan naofluida sebagai fluida kerja.
d) Melakukan analisis data, perhitungan, koefisien
perpindahan panas konveksi pada sub-buluh vertikal
susunan segiempat

Prosedur Penelitian
Mengatur debit aliran primer yang masuk pada seksi uji dengan laju alir
konstan sebesar 3, 6, 8, 10, 12, 14, dan 16 liter/menit sedangkan laju alir
sekunder konstan 20 liter/menit.
Kemudian terhadap susunan pemanas yang ditempatkan pada bagian seksi uji
dilakukan perubahan daya pemanas dengan cara mengatur tegangan kerja
pada pemanas. Daya pemanas mulai dari 250 W, 350 W, 500 W, 650 W, dan
750 W.
Selanjutnya mengukur arus, tegangan dan daya listrik yang dibutuhkan untuk
setiap pengujian secara langsung menggunakan amperemeter, voltmeter dan
wattmeter. nilainya dijaga konstan untuk setiap tahap pengujian
Untuk setiap pengujian juga dilakukan pencatatan suhu fluida pendingin dan
suhu permukaan pemanas pada 5 titik pengukuran dengan ketinggian yang
berbeda. Pencatatan suhu untuk setiap pengujian dilakukan setelah pemanas
dijalankan selama 3 jam sehingga diharapkan kondisi steady state telah
dicapai.
Termokopel yang digunakan untuk pengukuran suhu ini disambungkan secara
langsung pada data akusisi sehingga nilai suhunya dapat langsung didapatkan.

SEKIAN
TERIMA KASIH