Anda di halaman 1dari 17

114

I Komang Botha Wikrama, S.Ked


10700093

APPENDISITIS
A. Definisi
Appendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang dikenal
di masyarakat awam sesungguhnya kurang tepat karena usus buntu yang
sebenarnya adalah caecum. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini sering
menimbulkan masalah kesehatan. Peradangan akut appendiks memerlukan
tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya
(de Jong, 2010).
Appendisitis adalah peradangan pada organ appendiks vermiformis atau
yang di kenal juga sebagai usus buntu. Appendisitis dapat ditemukan pada
semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan.
Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun.
Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada
umur 20-30 tahun, insidens lelaki lebih tinggi (de Jong 2010).
B. Etiologi
Appendisitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendiks
sehingga terjadi kongesti vaskuler, iskemik nekrosis dan akibatnya terjadi
infeksi. Appendisitis akut dapat disebabkan oleh proses radang bakteria yang
dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya hiperplasia jaringan
limfa, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat.
Beberapa

faktor

yang

mempermudah

terjadinya

radang

appendiks,

diantaranya :
a.

Faktor sumbatan
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis
(90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh
hiperplasia jaringan limfoid submukosa,35% karena stasis fekal, 4%
karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh
parasit dan cacing. Obstruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat

115

ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut diantaranya : 40% pada


kasus apendisitis kasus sederhana, 65% pada kasus apendisitis akut
gangrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis akut dengan
ruptur.
b.

Faktor bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor patogenesis primer pada
apendisitis akut. Adanya fekalith dalam lumen apendiks yang telah
terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi
peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks. Pada kultur
didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes
fragilis

dan

E.coli,

Splanchicus,

Lacto-bacilus,

Pseudomonas,

Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi


adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob <10%.
Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah
erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histolytica. Ulserasi
mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. Berbagai
spesies bakteri yang dapat diisolasi pada pasien apendisitis yaitu :
Bakteri aerob fakultatif

Bakteri anaerob

Escherichia coli

Bacteroides fragilis

Viridans

Peptostreptococcus micros

streptococci

Bilophila species

Pesudomonas

Lactobacillus species

aeruginosa
c.

Enterococcus
Faktor konstipasi dan pemakaian laksatif
Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal yang berakibat
timbulnya

sumbatan

fungsional

apendiks

dan

meningkatkan

pertumbuhan kuman flora kolon biasa sehingga mempermudah


timbulnya apendisitis akut. Penggunaan laksatif yang terus-menerus dan
berlebihan

memberikan

efek

merubah

suasan

flora

usus

dan

menyebabkan terjadinya hiperesi usus yang merupakan permulaan dari


proses inflamasi. Pemberian laksatif pada penderita apendisitis akan

116

merangsang peristaltik dan merupakan predisposisi terjadinya perforasi


dan peritonitis.
d.

Kecenderungan familiar
Hal ini dihubungkan dengan terdapatnya malformasi yang herediter
dari organ, appendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik
dan letaknya yang mudah terjadi appendisitis. Hal ini juga dihubungkan
dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama denga diet rendah
serat dapat memudahkan terjadinya fekalith dan mengakibatkan obstruksi
lumen.

e.

Faktor ras dan diet


Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makan seharihari. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat
mempunyai resiko lebih tinggi dari negara yang pola makannya banyak
serat. Namun saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih
telah merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru
negara berkembang, yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke
pola makan rendah serat, memiliki resiko appendisitis yang lebih tinggi.

C. Anatomi
Appendiks merupakan organ berbentuk tabung. Pada orang dewasa
panjang dari apendiks sekitar 10 cm, diameter terluar bervariasi antara 3
sampai 8 mm dan diameter dalam lumennya berukuran antara 1 sampai 3
mm, dan berpangkal pada sekum. Lumen appendiks sempit dibagian
proksimal dan melebar di bagian distal. Namun pada bayi appendiks
berbentuk kerucut dengan pangkal yang lebar dan menyempit ke bagian
ujungnya. Bagian ujung dari appendiks dapat berlokasi dimana saja pada
kuadran kanan bawah dari abdomen atau pelvis. Basis dari appendisitis dapat
ditemukan dengan menelusuri taenia coli yang berjalan longitudinal dan
berkonfluensi pada caecum.

117

Appendiks menerima suplai darah dari cabang appendikular arteri


ileocolica. Arteri ini terletak posterior dari ileum terminalis, masuk ke
mesoapendiks dekat dari basis appendiks. Percabangan arteri kecil terbentuk
pada titik tersebut dan meneruskan diri sebagai arteri caecal. Perdarahan
appendiks berasal dari arteri appendikularis yang merupakan arteri tanpa
kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi,
appendiks akan mengalami gangren.

Suplai darah ileum terminalis, caecum, dan appendiks

118

Pengaliran aliran limfatik dari appendiks menuju nodus limfatikus yang


terletak sepanjang perjalanan arteri ileocolica. Inervasi dari appendiks berasal
dari elemen simpatis pleksus mesenteric superior (T10-L1), oleh karena itu
nyeri visceral pada appendisitis bermula di sekitar umbilicus. Serabut
afferentnya berasal dari elemen parasimpatis nervus vagus.
D. Fisiologi
Appendiks tidak memiliki fungsi yang sesuai dengan bentuk
anatomisnya sebagai organ berongga, dimana fungsi dari appendiks ini tidak
diketahui dengan pasti. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT
(gut associated lymphoid tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna
termasuk appendiks, ialah IgA. Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai
pelindung terdapat infeksi. Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak
mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfe di sini kecil
sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh
tubuh.
Mukosa

appendiks

memiliki

kemampuan

yang

sama

dalam

memproduksi cairan, musin, dan enzim-enzim proteolitik, Appendiks dapat


menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir tersebut normalnya dicurahkan
ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum.
E. Patofisiologi
Sebagian besar appendiks disebabkan oleh sumbatan yang kemudian
diikuti oleh infeksi. Beberapa hal ini dapat menyebabkan sumbatan, yaitu
hiperplasia jaringan limfoid, fekalith, benda asing, striktur, kingking,
perlengketan (Kevin P. Lally, 2004)
Bila bagian proksimal appendiks tersumbat, terjadi sekresi mukus yang
tertimbun dalam lumen appendiks, sehingga tekanan intra luminer tinggi.
Tekanan ini akan mengganggu aliran limfe sehingga terjadi edema dan
terdapat luka pada mukosa, stadium ini disebut Appendisitis Akut Ringan.
Tekanan yang meninggi, edema dan disertai inflamasi menyebabkan obstruksi
aliran vena sehingga menyebabkan trombosis yang memperberat iskemi dan

119

edema. Pada lumen appendiks juga terdapat bakteri, sehingga dalam keadaan
tersebut suasana lumen appendiks cocok buat bakteri untuk diapedesis dan
invasi ke dinding dan membelah diri sehingga menimbulkan infeksi dan
menghasilkan pus. Stadium ini disebut Appendisitis Akut Purulenta (Kevin
P. Lally, 2004)
Proses tersebut berlangsung terus sehingga pada suatu saat aliran darah
arteri juga terganggu, terutama bagian ante mesenterial yang mempunyai
vaskularisasi minimal, sehingga terjadi infark dan gangren, stadium ini
disebut Appendisitis Gangrenosa. Pada stadium ini sudah terjadi
mikroperforasi, karena tekanan intraluminal yang tinggi ditambah adanya
bakteri dan mikroperforasi, mendorong pus serta produk infeksi mengalir ke
rongga abdomen. Stadium ini disebut Appendisitis Akut Perforasi, dimana
menimbulkan peritonitis umum dan abses sekunder. Tapi proses perjalanan
appendisitis tidak mulus seperti tersebut di atas, karena ada usaha tubuh untuk
melokalisir tempat infeksi dengan cara Walling Off oleh omentum,
lengkung usus halus, caecum, colon, dan peritoneum sehingga terjadi
gumpalan massa plekmon yang melekat erat. Keadaan ini disebut
Appendisitis Infiltrate.
Appendisitis infiltrate adalah suatu plekmon yang berupa massa yang
membengkak dan terdiri dari appendiks, usus, omentum, dan peritoneum
dengan sedikit atau tanpa pengumpulan pus. Usaha tubuh untuk melokalisir
infeksi bisa sempurna atau tidak sempurna, baik karena infeksi yang berjalan
terlalu cepat atau kondisi penderita yang kurang baik, sehingga appendikular
infiltrate dibagi menjadi dua :
a.

Appendikuler infiltrate mobile

b.

Appendikuler infiltrate fixed

Perforasi mungkin masih terjadi pada walling off yang sempurna


sehingga akan terbentuk abses primer. Sedangkan pada walling off yang
belum sempurna akan terbentuk abses sekunder yang bisa menyebabkan
peritonitis umum.
Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi
akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan

120

jaringan sekitarnya dan menimbulkan obstruksi. Perlengketan ini dapat


menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada suatu ketika
organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai mengalami
eksaserbasi akut. Appendisitis terjadi dari proses inflamasi ringan hingga
perforasi, khas dalam 24-36 jam setelah munculnya gejala, kemudian diikuti
dengan pembentukan abses setelah 2-3 hari.

Patofisiologi Appendisitis

121

F. Gejala Klinis
Terdapat beberapa gejala yang mungkin timbul pada pasien dengan
appendisitis akut, diantaranya: (PDT FK Unair, 2010)
1. Sering nyeri perut pada regio epigastrium dan regio umbilikal, setelah
beberapa jam, biasanya sekitar 6-8 jam nyeri berpindah dan menetap ke
regio kanan bawah.
2. Kemudian diikuti dengan mual dan muntah
3. Suhu badan dapat sub febril sampai 38,3oC. Suhu yang lebih tinggi harus
diwaspadai terjadi appendisitis perforasi, abses appendiks atau penyebab
yang lain.
G. Diagnosis
a. Anamnesis
Untuk menegakkan diagnosis pada apendisitis didasarkan atas anamnesis
ditambah dengan pemeriksaan laboratorium sarta pemeriksaan penunjang
lainnya. Gejala appendisitis ditegakkan dengan anamnesis, ada 4 hal
penting yaitu :
o Nyeri mula mula di epigastrium (nyeri visceral) yang
beberapa waktu (+ 6-8 jam) kemudian menjalar ke perut kanan
bawah.
o Muntah oleh karena nyeri visceral
o Demam
o Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan,
penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan pada
daerah perut.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi
Kadang penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut.
Tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran
spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi
perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau
abses appendikuler.

122

2) Auskultasi
Peristaltik

usus sering normal. Peristaltic dapat hilang pada ileus

paralitik karena peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata.


3) Palpasi (PDT FK Unair, 2010)
Nyeri tekan pada regio kuadran kanan bawah terutama pada
titik Mc. Burney.
Nyeri tekan dengan defans muscular lokal.
Rebound phenomena, menekan perut regio kiri bawah dan
dilepas mendadak, akan dirasakan nyeri pada perut regio kanan
bawah.
Rovisng

sign,

menekan

abdomen

daerah

kiri

bawah

(kontralateral) dan perut terasa nyeri pada sisi kanan bawah.


Psoas sign, mengangkat tungkai kanan secara aktif dalam
ekstensi timbul nyeri perut kanan bawah.
Obturator sign, flexi dan endorotasi sendi panggul kanan
secara aktif timbul nyeri perut kanan bawah.
Nyeri tekan sisi kanan atas pada pemeriksaan colok dubur.

Keterangan Alvarado score

Interpretasi dari Modified Alvarado Score :


14

: sangat mungkin bukan appendisitis akut

57

: sangat mungkin appendisitis akut

8 10 : pasti appendisitis akut

Penanganan berdasarkan skor Alvarado

123

14

: observasi

57

: antibiotik

8 10 : operasi dini
c. Pemeriksaan Penunjang (PDT FK Unair, 2010)

Leukositosis berkisar antara 10.000 sampai 18.000/mm3


Urinalis dapat membantu mentingkirkan kelainan dari traktus
urinarius.
Pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu. Tidak
jarang dapt terlihat pelebaran caecum dan dilatasi usus halus pada
kuadran kanan bawah. Kadang-kadang terlihat bayangan opak

(fekolit) di regio iliaka kanan.


Pemeriksaan USG menunjukkan adanya penebalan dinding appendiks
(target sign) dengan diameter anteroposterior lebih dari 6mm.
Gambaran fekolit dan cairan periappendikular semakin memperkuat
diagnosis. Terutama berguna pada wanita usia produktif untuk
menyingkirkan kelainan ginekologi. Sensitivitas 55-96% , spesifisitas

85-98%.
Pemeriksaan CT-scan kadang diperlukan bila pemeriksaan fisik dan
USG tidak dapat menegakkan diagnosis terutama pada anak, orang tua
atau pasien gemuk. Gambaran CT-scan menunjukkan penebalan
dinding appendiksi dan peningkatan diameter appendiks > 6mm.
disertai dengan penebalan mesoappendiks (dirty fat).

H. Diagnosa Banding (PDT FK Unair, 2010)


1. Pada dewasa muda, diagnosis banding wanita dan pria berdeda
a. Pada wanita : KET, mittelschmerz, endometriosis, salpingitis, konstipasi
kronik, enteritis.
b. Pada laki-laki muda : Gastroenteritis akuta, batu saluran kemih sisi
kanan, torsio testis dan epidimitis akut.
2. Pada penderita lebih tua : adenitis mesenterika akuta, divertikulitis,
perforasi ulkus peptikum, kolesistitis, pankreatitis akut, obstruksi usus,
karsinoma sekum, oklusi vaskuler mesenterik, ruptur aneurisma aorta dan
penyakit-penyakit yang terdapat pada dewasa muda.

124

I.

Penatalaksanaan
Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah
apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. Penundaan
appendiktomi sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau
perforasi. Insidensi appendiks normal yang dilakukan pembedahan sekitar
20%. Pada appendisitis akut tanpa komplikasi tidak banyak masalah. Pada
apendisitis akut, abses, dan perforasi diperlukan tindakan operasi apendiktomi
cito.
Untuk pasien yang dicurigai Apendisitis :
Puasakan
Penelitian

menunjukkan

bahwa

pemberian

analgesik

tidak

akan

menyamarkan gejala saat pemeriksaan fisik.


Pertimbangkan DD/ KET terutama pada wanita usia produktif.
Berikan antibiotika IV pada pasien dengan gejala sepsis dan yang
membutuhkan Laparotomi.
1. Terapi Non-Operatif
Penelitian menunjukkan pemberian antibiotika intravena dapat berguna
untuk appendisitis akut bagi mereka yang sulit mendapatkan intervensi
operasi (misalnya untuk pekerja di laut lepas), atau bagi mereka yang
memiliki resiko tinggi untuk dilakukan operasi.
Rujuk ke dokter spesialis bedah.
2. Terapi Operatif
Antibiotika preoperatif (persiapan preoperatif)
Pemberian antibiotika preoperatif efektif untuk menurunkan terjadinya
infeksi post operasi.
Diberikan antibiotika spektrum luas dan juga untuk gram negatif dan
anaerob.
Antibiotika preoperatif diberikan oleh ahli bedah.
Antibiotika profilaksis harus diberikan sebelum operasi dimulai.
Biasanya digunakan antibiotik kombinasi, seperti Cefotaxime dan
Clindamycin, atau Cefepime dan Metronidazole. Kombinasi ini dipilih

125

karena frekuensi bakteri yang terlibat, termasuk Escherichia coli,


Pseudomonas aeruginosa, Enterococcus, Streptococcus viridans,
Klebsiella, dan Bacteroides.
Indikasi Appendiktomi :
- Appendisitis akut
- Appendisitis kronik
- Periapendikular infiltrat dalam stadium tenang
- Apendiks terbawa dalam operasi kandung kemih
- Apendisitis perforata
3. Terapi Post Operatif
Pada appendisitis nonperforasi, dirawat dalam 24-48 jam pasca bedah
Diberikan diet cairan secepatnya dan ditingkatkan sesuai dengan
kebutuhan dan toleransi penderita
Pada appendisitis perforasi, antibiotik sefalosporin generasi 2 atau 3
dan metronidazole diteruskan hingga gejala klinis

dan hasil

pemeriksaan laboratorium menunjukkan tidak adan infeksi sistemik.


J.

Komplikasi
1. Apendikular infiltrat : infiltrat atau massa yang terbentuk akibat mikro
atau makro perforasi dari appendiks yang meradang kemudian ditutupi
oleh omentum, usus halus atau usus besar.
2. Apendikular abses : abses yang terbentuk akibat mikro atau makro
perforasi dari appendiks yang meradang kemudian ditutupi oleh omentum,
usus halus atau usus besar.
3. Perforasi : gejalanya ialah nyeri berat dan demam >38,3 0C
4. Peritonitis : peritonitis lokal dihasilkan dari perforasi gangren appendiks,
yang kemudian dapat menyebar ke seluruh rongga peritoneum. Gejalanya
ialah : peningkatan kekakuan oto abdomen, distensi abdominal dan demam
tinggi.

K. Prognosis
Mortalitas adalah 0,1% jika appendisitis akut tidak pecah, dan 15% jika
pecah pada orang tua. Kematian biasanya dari sepsis, emboli paru, atau

126

aspirasi. Prognosis membaik dengan diagnosis dini sebelum perforasi dan


antibiotik yang adekuat. Morbiditas meningkat dengan ruptur dan usia tua.

127

PERIAPENDIKULAR INFILTRAT
A. Definisi
Apendisitis

infiltrate

adalah

proses

radang

apendiks

yang

penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum dan usus-usus dan peritoneum


disekitarnya sehingga membentuk massa (appendiceal mass). Umumnya
massa apendiks terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila
tidak terjadi peritonitis umum. Massa apendiks lebih sering dijumpai pada
pasien berumur lima tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah
berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk
membungkus proses radang (Reksoprodjo, 1995)
B. Patofisiologi
Infiltrat apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang
dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam
waktu 24-48 jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan
membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus
halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular. Didalamnya
dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi.
Jika

tidak

terbentuk

abses,

apendisitis

akan

sembuh

dan

massa

periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri


secara lambat (de Jong, 2010)
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih
panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan
daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi.
Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan
pembuluh darah (Mansjoer, 2000)
Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi
mikroorganisme, daya tahan tubuh, fibrosis pada dinding apendiks, omentum,
usus yang lain, peritoneum parietale dan juga organ lain seperti vesika
urinaria, uterus tuba, mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan

128

ini. Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi maka
akan timbul peritonitis. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi
masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalam cavum
abdominalis, oleh karena itu pendeita harus benar-benar istirahat (bedrest).
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi
akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan
jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang
diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi
dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut.
C. Gejala Klinis
Appendisitis infiltrat didahului oleh keluhan appendisitis akut yang
kemudian disertai adanya massa periapendikular. Gejala klasik apendisitis
akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang
berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri beralih kekuadran kanan,
yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga
keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya
juga terdapat konstipasi tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang
menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan
semakin progresif (Mansjoer, 2000).
Jika sudah terbentuk abses yaitu bila ada omentum atau usus lain yang
dengan cepat membendung daerah apendiks maka selain ada nyeri pada fossa
iliaka kanan selama 3-4 hari (waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan
abses) juga pada palpasi akan teraba massa yang fixed dengan nyeri tekan dan
tepi atas massa dapat diraba. Jika apendiks intrapelvinal maka massa dapat
diraba pada RT (Rectal Touche) sebagai massa yang hangat.
D. Penatalaksanaan
Apendektomi dilakukan pada infiltrate periapendikuler tanpa pus yang
telah ditenangkan. Sebelumnya, pasien diberi antibiotic kombinasi yang aktif
terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu

129

sekitar 6-8 minggu kemudian, dilakukan apendektomi. Pada anak kecil,


wanita hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak membaik
atau berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya.
Bila sudah terjadi abses, dilanjutkan drainase saja; apendektomi
dikerjakan setelah 6-8 mingu kemudian. Jika, pada saat dilakukan drainase
bedah,

apendiks

apendektomi.

mudah

diangkat,

dianjurkan

sekaligus

dilakukan

130

DAFTAR PUSTAKA

De Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah; Editor, Sjamsuhidajat dkk Edisi 3.
Jakarta: EGC. p755-762.
Prof. dr. Syukur, Abdul, SpB-KBD, dkk. 2010. Apendisitis Akut dalam
Pedoman Diagnosis dan Terapi. Bag/SMF Ilmu Bedah Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. Ed.X. Surabaya: RSUD dr.
Soetomo. p50-52.
Brunicardi C, Anderson DK, Billiar T, Duhn DL, Hunter JG, Mathews JB,
Pallock RC. 2010. The Appendix on Chapter 30 in Schwartzs
Principles of Surgery 9ed ebook. New York: McGraw-Hills.
Kevin P. Lally, Charles S. Cox JR. Dan Richard J. Andrassy. 2004. Appendix
on Chapter 47 in Sabiston Textbook of Surgery 17ed ebook. New york:
Saunders;.p1381-1400
Dudley H.A.F. 1992. Apendisitis Akut dalam Hamilton Bailey Ilmu Bedah Gawat
Darurat edisi 11. Gajah Mada Unv Press. Hal 441-452

Reksoprodjo, S., dkk.1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf
Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bina Rupa
Aksara. Jakarta.
Mansjoer,A., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua.
Penerbit

Media Aesculapius

Indonesia. Jakarta.

Fakultas

Kedokteran

Universitas