Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Pelayanan Kesehatan


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan pengertian pelayanan bahwa
pelayanan adalah suatu usaha untuk membantu menyiapkan (mengurus) apa yang
diperlukan orang lain. Sedangkan pengertian service dalam Oxford (2000)
didefinisikan sebagai a system that provides something that the public needs,
organized by the government or a private company. Oleh karenanya, pelayanan
berfungsi sebagai sebuah sistem yang menyediakan apa yang dibutuhkan oleh
masyarakat.
Pelayanan kesehatan adalah upaya, pekerjaan atau kegiatan kesehatan yang
ditujukan untuk mencapai derajat kesehatan perorangan/ masyarakat yang optimal/
setinggi-tingginya (Pusdokkes Polri, 2006).
Pelayanan kesehatan masyarakat pada prinsipnya mengutamakan pelayanan
kesehatan promotif dan preventif. Pelayanan promotif adalah upaya meningkatkan
kesehatan masyarakat ke arah yang lebih baik lagi dan yang preventif mencegah agar
masyarakat tidak jatuh sakit agar terhindar dari penyakit.
Sebab itu pelayanan kesehatan masyarakat itu tidak hanya tertuju pada pengobatan
individu yang sedang sakit saja, tetapi yang lebih penting adalah upaya-upaya
pencegahan (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif). Sehingga, bentuk
pelayanan kesehatan bukan hanya puskesmas atau balkesma saja, tetapi juga bentukbentuk kegiatan lain, baik yang langsung kepada peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit, maupun yang secara tidak langsung berpengaruh kepada
peningkatan kesehatan.

Bentuk-bentuk pelayanan kesehatan tersebut antara lain berupa Posyandu dana sehat,
polindes (poliklinik desa), pos obat desa (POD), pengembangan masyarakat atau
community development, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya peningkatan
pendapatan (income generating) dan sebagainya.
1. Menurut Dubois & Miley (2005 : 317)

Sistem pelayanan kesehatan merupakan jaringan pelayanan interdisipliner,


komprehensif, dan kompleks, terdiri dari aktivitas diagnosis, treatmen, rehabilitasi,
pemeliharaan kesehatan dan pencegahan untuk masyarakat pada seluruh kelompok
umur dan dalam berbagai keadaan.
Berbagai sistem pelayanan kesehatan meliputi : pelayanan kesehatan masyarakat,
rumah sakit-rumah sakit, klinik-klinik medikal, organisasi-organisasi pemeliharaan
kesehatan, lembaga kesehatan rumah, perawatan dalam rumah, klinik-klinik kesehatan
mental, dan pelayanan-pelayanan rehabilitasi.Pekerja sosial bekerja dalam berbagai
sistem pelayanan kesehatan.
2. Menurut Zastrow (1982 : 319 322)

Pelayanan kesehatan diorganisasi dalam komponen :


1. Praktek dokter sendiri, kurang disupervisi, hanya bertanggungjawab kepada

pasien, relatif terisolasi.


2. Setting pelayanan rawat jalan berkelompok, seperti balai-balaiPengobatatau

klinik-klinik khusus (seperti klinik ginjal, balai pengobatan gigi) atauyang


diselenggarakan di perguruan tinggi atau sekolah-sekolah, dipabrik-pabrik, di
perusahaan-perusahaan atau tempat-tempat kerja lain.
3. Setting Rumah sakit

4. Perawatan dalam rumah


5. Pelayanan kesehatan masyarakat yang diorganisir dalam berbagai tingkatan :

lokal, regional, oleh pemerintah pusat atau nasional, dan internasional.


Umumnya pelayanan kesehatan masyarakat disediakan melalui program-program
kesehatan secara lokal, lebih fokus pada promotif dan pencegahan atau upaya
perubahan

masyarakat

dalam

mengatasi

suatu

masalah

kesehatan,

seperti

memberantas penyakit menular.


3. Menurut Johntson, M. (1988: 7 18)

Sistem kesehatan terbagi ke dalam subsitem:


1. Yang menitikberatkan pada pelayanan kuratif
2. Yang menitikberatkan pada pelayanan promotif dan preventif

2. Jenis-Jenis Pelayanan Kesehatan


1. Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (Primary health care)

Pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan yang bersifat dasar dan dilakukan
bersama masyarakat dan dimotori oleh:
-

Dokter Umum (Tenaga Medis)

Perawat Mantri (Tenaga Paramedis)

Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan


masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali
diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami ganggunan kesehatan atau

kecelakaan. Primary health care pada pokoknya ditunjukan kepada masyarakat yang
sebagian besarnya bermukim di pedesaan, serta masyarakat yang berpenghasilan
rendah di perkotaan. Pelayanan kesehatan sifatnya berobat jalan (Ambulatory
Services)
2. Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua (Secondary health care)
Pelayanan yang lebih bersifat spesialis dan bahkan kadang kala pelayanan
subspesialis, tetapi masih terbatas. Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier
(secondary and tertiary health care), adalah rumah sakit, tempat masyarakat
memerlukan perawatan lebih lanjut (rujukan). Di Indonesia terdapat berbagai tingkat
rumah sakit, mulai dari rumah sakit tipe D sampai dengan rumah sakit kelas A.
Pelayanan kesehatan dilakukan oleh:
-

Dokter Spesialis

Dokter Subspesialis terbatas

Pelayanan kesehatan sifatnya pelayanan jalan atau pelayanan rawat (inpantient


services)
3. Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga (Tertiary health care)
Pelayanan Kesehatan yang lebih mengutamakan pelayanan subspesialis serta
subspesialis luas.
Pelayanan kesehatan dilakukan oleh:
-

Dokter Subspesialis

Dokter Subspesialis Luas

Pelayanan kesehatan sifatnya dapat merupakan pelayanan jalan atau pelayanan rawat
inap (rehabilitasi)
Pelayanan kesehatan masyarakat pada prinsipnya mengutamakan pelayanan kesehatan
promotif dan preventif. Pelayanan promotif adalah upaya meningkatkan kesehatan
masyarakat ke arah yang lebih baik lagi dan yang preventif mencegah agar
masyarakat tidak jatuh sakit agar terhindar dari penyakit.
Sebab itu pelayanan kesehatan masyarakat itu tidak hanya tertuju pada pengobatan
individu yang sedang sakit saja, tetapi yang lebih penting adalah upaya-upaya
pencegahan (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif). Sehingga, bentuk
pelayanan kesehatan bukan hanya puskesmas atau balkesma saja, tetapi juga bentukbentuk kegiatan lain, baik yang langsung kepada peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit, maupun yang secara tidak langsung berpengaruh kepada
peningkatan kesehatan.

3. Syarat Pokok Pelayanan Kesehatan


Menurut Azwar (1996) suatu pelayanan harus mempunyai persyaratan pokok, hal ini
dimaksudkan persyaratan pokok itu dapat memberi pengaruh kepada pasien dalam
menentukan keputusannya terhadap penggunaan ulang pelayanan kesehatan.
1. Tersedia dan berkesinambungan

Syarat pokok pertama pelayanan yang baik adalah pelayanan kesehatan tersebut harus
tersedia di masyarakat (acceptable) serta bersifat berkesinambungan (sustainable).
Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit
ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat
dibutuhkan.

2. Dapat diterima dan wajar

Syarat pokok kedua pelayanan yang baik adalah yang dapat diterima oleh masyarakat
serta bersifat wajar artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan
kenyakinan dan kepercayaan masyarakat. pelayanan kesehatan yang bertentangan
dengan kenyakinan , adat istiadat, kebudayaan masyarakat serta bersifat tidak wajar
bukanlah suatu keadaan pelayanan kesehatan yang baik.
3. Mudah dicapai

Syarat pokok ke tiga adalah mudah dicapai (accessible) oleh masyarakat. Pengertian
ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian untuk
dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik maka pengaturan distribusi sarana
kesehatan menjadi sangat penting. Bila fasilitas ini mudah dijangkau dengan
menggunakan alat transportasi yang tersedia maka fasilitas ini akan banyak
dipergunakan. Tingkat penggunaan dimasa lalu dan kecendrungan merupakan
indikator terbaik untuk perubahan jangka panjang dan pendek dari permintaan pada
masa yang akan datang.
4. Terjangkau

Syarat pokok keempat pelayanan yang baik adalah terjangkau (affordable) oleh
masyarakat. Pengertian keterjangkauan yang dimaksud disini terutama dari sudut
biaya untuk dapat mewujudkan harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan
tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang
mahal yang hanya dapat dinikmati oleh sebahagian masyarakat saja, bukan pelayanan
kesehatan yang baik.
5. Bermutu

Syarat pokok kelima pelayanan yang baik adalah bermutu (Quality) yaitu yang
menunjukan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan,
yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan dan dipihak lain tata
cara penyelenggaraan sesuai kode etik serta standar yang telah ditetapkan.

4. Perilaku

Masyarakat

dalam

Pemanfaatan

Pelayanan

Kesehatan
Sebelum mulai membahas model utama dan kecendurungan dalam menggunakan
pelayanan kesehatan, kita akan memperhatikan konsep kerangka kerja utama dari
pelayanan kesehatan tersebut. Pada prinsipnya ada dua kategori pelayanan kesehatan:
(1) kategori yang berorientasi kepada publik (masyarakat) dan (2) kategori yang
berorientasi pada perorangan (pribadi). Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam
kategori publik terdiri dari sanitasi, imunisasi, kebersihan air, dan perlindungan
kualitas udara. Pelayanan kesehatan masyarakat lebih diarahkan langsung kearah
publik dari pada kearah individu-individu yang khusus. Di lain pihak pelayanan
kesehatan pribadi adalah langsung kearah individu.
Seperti kebanyakan pengobatan, pelayanan kesehatan ditujukan langsung kepada
pemakai pribadi (individual costumer). Studi tentang penggunaan pelayanan
kesehatan dikaitkan dengan penggunaan pelayanan kesehatan pribadi. Karena itu, kita
akan mengatasi bahasan kita mengenai penggukuran pelayanan kesehatan ke kategori
pelayanan kesehatan pribadi.
Anderson dan Newman (1973) membuat suatu kerangka kerja teoritis untuk
pengukuran penggunaan pelayanan kesehatan pribadi. Sehubungan dengan hal yang
Universitas Sumatera Utarasangat penting dari artikel mereka adalah diterimanya
secara luas defenisi dari dimensi-dimensi penggunaan atau pemanfaatan pelayanan
kesehatan.

Anderson dan Newman (1973) menyamakan 3 dimensi dari kepentingan utama dalam
pengukuran dan penentuan pelayanan kesehatan, yaitu tipe, tujuan atau maksud, dan
unit analisis.
a. Tipe
Tipe digunakan untuk memisahkan berbagai pelayanan kesehatan antara satu dengan
yang lainnya. Anderson dan Newman menunjukkan bahwa ada perbedaan
kecendurungan-kecendurungan jangka panjang dan jangka pendek untuk berbagi tipe
dari pelayanan (seperti rumah sakit, dokter gigi, perawatan di rumah, dan lain-lain).
Mereka juga menunjukkan penemuan-penemuan riset bahwa faktor-faktor penentu
(determinan) individual bervariasi agak besar untuk penggunaan tipe-tipe yang
berbeda pelayanan kesehatan. Karena kedua faktor ini (cenderung dan faktor
penentunya berbeda) maka masuk akal bahwa satu komponen utama dalam
pengaturan pelayanan kesehatan menjadi tipe dari pelayanan kesehatan yang
digunakan.
b.Tujuan
Disini mereka menyerahkan 4 perbedaan dari perawatan: I primary, II secondary, III
tertiary, dan IV custodial. Perawatan I dikaitkan dengan perawatan pencegahan
(preventive care). Perawatan II dikaitkan dengan perawatan perbaikan (pengembalian
individu ke tingkat semula dari fungsionalnya). Perawatan III dikaitkan dengan
stabilitasdari kondisi yang memperhatikan penyakit jangka panjang. Perawatan IV
dikaitkan semata-mata dengan kebutuhan pribadi dari pasien dan tidak dihubungkan
dengan perawatan penyakit.
c. Unit Analisis

Unit analisis merupakan dimensi ke-3 dalam rangka kerja Anderson dan Newman
yangmendukung 3 perbedaan diantara unit-unit analisis, yaitu: kontak, volume,
episode.
Alasan utama bagi perbedaan ini adalah bahwa ciri-ciri khas individu mungkin
menjadi tanggung jawab bagi sejumlah episode, sedangkan ciri-ciri khas dari sistem
pembebasan (khususnya pada dokter) mungkin menjadi tanggung jawab utama bagi
sejumlah akibat dari kontak kunjungan sebagai akibat dari setiap episode penyakit.
Jadi karena jumlah kontak, episode, dan volume pelayanan yang digunakan ditentukan
oleh faktor-faktor yang berbeda, maka pengukuran penggunaan pelayanan kesehatan
akan membuat suatu perbedaan di antara unit-unit pelayanan kesehatan yang berbeda.

5. Upaya Promosi Kesehatan Dalam Pelayanan Kesehatan


Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan
masyarakat setinggi-tingginya dapar terwujud. Di Indonesia hal ini sejalan dengan
arah Rencana Pembangunan Kesehatan Jangka Panjang / RPKJMN (2005-2024) yang
menekankah arah pembangunan kesehatan lebih kearah promotif dan preventif yang
seimbang dengan upaya kuratif dan rehabilitatif, dengan visi masyarakat yang mandiri
untuk hidup sehat.
Peningkatan kualitas derajat kesehatan masyarakat menurut Hendrik L Blum
dipengaruhi oleh lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan.
Lingkungan dan perilaku memegang peranan paling besar dalam meningkatkan
kualitas derajat kesehatan masyarakat. Pengaruh lingkungan tidak sekedar hanya
lingkungan fisik saja tetapi juga non fisik seperti sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Lingkup promosi kesehatan berdasarkan tingkat pelayanan kesehatan mencakup
semua aspek dalam pelayanan kesehatan mulai dari promotif, preventif, kuratif dan

rehabilitatif. Artinya upaya promosi kesehatan ada pada aspek promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif. Kadangkala ranah promosi kesehatan terkesan hanya pada
upaya promotif dan preventif saja. Secara sasaran memang upaya promotif dan
preventif sebagian besar (hampir sekitar 85%) sasarannya adalah orang sehat,
sementara sasaran upaya kuratif dan rehabilitatif adalah orang sakit (sekitar 15%).
Pendekatan upaya pembangunan kesehatan seharusnya dilakukan secara holistik atau
secara makro, tidak menyelesaikan masalah kesehatan pada waktu seseorang sakit
saja atau secara mikro.
Komitmen internasional sebenarnya sudah mulai mengarahkan akan pentingnya upaya
penyelesaian

masalah

kesehatan

secara

menyeluruh

atau

holistik

dengan

memperhatikan determinan sosial yang mempengaruhi kesehatan. Ottawa Charter


(1986) merupakan pertemuan internasional pertama tentang promosi kesehatan yang
menekankan pada 5 (lima) area promosi kesehatan yaitu :
1. Pengembangan kebijakan Publik yang mendukung kesehatan (developing

healthy public policy),


2. Penguatan gerakan masyarakat untuk hidup sehat (strengthening community

action),
3. Menciptakan lingkungan dan suasana yang mendukung kesehatan (creating

supportive environment),
4. Peningkatan

kemampuan individu dan masyarakat untuk hidup sehat

(developing personal skill),


5. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorienting health services)

Dalam piagam Ottawa tersebut juga mencantumkan ada 9 (sembilan) faktor sebagai
prasyarat untuk kesehatan, yaitu: 1) Perdamaian/keamanan; 2) Tempat tinggal; 3)
Pendidikan; 4) Makanan; 5) Pendapatan; 6) Ekosistem yang stabil dan seimbang; 7)
Sumber daya yang berkesinambungan; 8) Keadilan social; dan 9) Pemerataan. Hasil
pertemuan internasional promosi kesehatan Ottawa Charter banyak diilhami dari
pemikiran tentang Primary Health Care (1978) yang pada waktu itu di Indonesia
dikenal dengan istilah Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD).
Pertemuan internasional promosi kesehatan telah dilakukan sebanyak 7 (tujuh) kali
pertemuan, mulai dari tahun 1986 di Canada dengan Ottawa Charternya, hingga
pertemuan yang ke-7 di Nairobi Afrika Selatan tahun 2009. Penerapan dari pertemuan
promosi kesehatan internasional tersebut menghasilkan strategi promosi kesehatan
ala Indonesia yaitu Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan Masyarakat yang dilandasi
dengan Kemitraan.
Berdasarkan hal itu, pengertian promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama
masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mampu berperan serta
secara aktif dalam pengembangan UKBM, sesuai sosial budaya setempat dan di
dukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Pengertian promosi
kesehatan tersebut mengandung makna bahwa upaya promosi kesehatan harus
teringtegrasi dalam upaya menurunkan kesenjangan determinan sosial kesehatan.

6.

Pelayanan

Kesehatan

Dalam

Upaya

Menurunkan

Kesenjangan Determinan Sosial Kesehatan


Determinan sosial kesehatan secara umum diartikan sebagai suatu kondisi sosial yang
melatari kehidupan seseorang yang dapat mempengaruhi kesehatan atau penyakit.
Secara umum determinan sosial yang mempengaruhi kesehatan adalah kelas sosial,

awal kehidupan dan modal sosial. Kelas sosial masyarakat menengah ke atas
berdampak positif terhadap kualitas kesehatan seseorang. Namun sebaliknya kelas
sosial masyarakat menengah ke bawah berdampak negatif terhadap kualitas
kesehatan. Selanjutnya pendekatan awal kehidupan menjelaskan bahwa kualitas
kesehatan seseorang pada saat dewasa sangat dipengaruhi oleh perlakuan yang positif
terhadap kesehatannya pada waktu mereka masih kecil bahkan sejak dalam
kandungan. Sedangkan pendekatan modal sosial menjelaskan bahwa intervensi
pembangunan terhadap lingkungan sekitar (sarana, fasilitas jalan, ketersediaan
fasilitas lainnya) dapat berdampak positif terhadap kualitas kesehatan.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 diperoleh informasi
bahwa banyak masalah kesehatan erat kaitannya dengan perilaku dan lingkungan.
prevalensi merokok penduduk diatas 15 tahun yang merokok setiap hari sebesar
28,2% artinya ada sekitar 28,2 % penduduk berumur diatas 15 tahun berisiko terhadap
penyakit yang dapat disebabkan oleh rokok.
Penyelesaian masalah kesehatan tersebut harus secara menyeluruh memperhatikan
aspek sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan. Contoh upaya peningkatan cakupan
penimbangan balita tidak hanya melibatkan unsur kesehatan saja tetapi juga perlu
melibatkan lintas sektor lainnya seperti PKK, tokoh agama, Kepala Desa dan
perangkat pemerintah daerah lainnya, juga yang tidak kalah pentingnya perla
melibatkan

organisasi

kemasyarakat

dan

dunia

usaha.

Beberapa upaya promosi kesehatan yang telah dilakukan dalam rangka menurunkan
determinan sosial kesehatan antara lain:

1. Dukungan promosi kesehatan dalam mengembangkan kebijakan sehat


melalui upaya sosialisasi dan advokasi kepada lintas program dan sektor
Pusat Promosi Kesehatan

turut mendorong beberapa kebijakan berwawasan

kesehatan khususnya terkait sosialisasi dan advokasi pengembangan Kawasan Tanpa


Rokok (KTR). Kebijakan yang telah dikembangkan antara lain: Perjanjian Bersama
antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian dalam Negeri tentang KTR tahun
2010

2. Penguatan kemitraan melalui organisasi masyarakat dan dunia usaha


Pusat Promosi Kesehatan telah mengembangkan kemitraan dengan 17 Organisasi
Masyarakat dan kemitraan dengan 23 Dunia Usaha melalui Corporate Social
Responsibility (CSR) untuk mendukung pelaksananaan pembangunan kesehatan.
3. Kampanye Kesehatan dalam rangka menciptakan lingkungan yang kondusif
melalui berbagai saluran media dan berbagai kesempatan.
Pusat Promosi Kesehatan telah melakukan kampanye berkaitan dengan program
prioritas dan MDGs, mendukung Hari-Hari Besar Kesehatan, dan mendukung event
nasional lintas sektoral seperti Hari Anak Nasional (HAN), dll.

4. Mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM)


melalui Gerakan Masyarakat dan Mobilisasi Sosial
Pusat Promosi Kesehatan telah mengembangan Desa Siaga Aktif, peningkatan
kualitas posyandu dan UKBM lainnya (poskedes, poskestren) melalui upaya
pembinaan, pengembangan PHBS di 5 tatanan, dan melakukan gerakan masyarakat
dalam pembudayaan PHBS.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, ada beberapa simpulan dan rekomendasi
dalam menurunkan determinan sosial kesehatan, sbb:

Masalah kesehatan sangat komplek sehingga penyelesaiannya memerlukan


peran aktif tidak hanya sektor kesehatan saja. Tingkat kesehatan tidak hanya
ditentukan oleh faktor biologis ditingkat mikro tetapi lebih ditentukan oleh
berbagai faktor sosial, ekonomi, politik ditingkat makro secara menyeluruh.

Implementasi pencapaian tujuan kesehatan masyarakat memerlukan langkahlangkah kebijakan intersektoral dan pendekatan multidisiplin yg dapat
mengubah sosial determinan tersebut.

Pemerintah baik pusat, provinsi, kabupaten/kota; swasta dan masyarakat perlu


mengupayakan pendorongan kebijakan investasi sosial dan ekonomis yg lebih besar di
masyarakat guna mewujudkan kondisi sosial dan lingkungan fisik yg menguntungkan
bagi tingkat kesehatan masyarakat yang tinggi dan berkeadilan.