Anda di halaman 1dari 22

DIABETES MELITUS

HASIL DISKUSI
1. Pengertian diabetes melitus (DM)
Jawab :
Menurut Buku Obat-Obat Penting, halaman 738
Diabetes mellitus, penyakit gula atau kencing manis adalah
suatu gangguan kronis yang bercirikan hiperglikemia (glukosa-darah
terlampau meningkat) dan khususnya menyangkut metabolisme
hidratarang (glukosa) di dalam tubuh. Tetapi metabolisme lemak dan
protein juga terganggu (Lat.diabetes = penerusan, mellitus = manis
madu). Harapan hidup penderita diabetes rata-rata 5-10 tahun lebih
rendah dan resikonya akan PJP adalah 2-4 kali lebih besar.
Menurut Buku Farmakologi Terapi Edisi 5, halaman 485
Diabetes melitus (DM) adalah suatu sindroma klinik yang
ditandai oleh poliurin, polidipsi dan polifagi, disertai peningkatan kadar
glukosa darah atau hiperglikemia (glukosa puasa 126 mg/dL atau
postprandial 200 mg/dL atau glukosa sewaktu 200mg/dL). Bila DM
tidak segera diatasi akan terjadi gangguan metabolisme lemak dan
protein,

dan

resiko

timbulnya

gangguan

mikrovaskular

atau

makrovaskular meningkat.
Menurut Buku ISO Farmakoterapi, halaman 26
Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolisme yang
ditandai

dengan

hiperglikemia

yang

berhubungan

dengan

abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang


NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

disebabkan

oleh

sensitivitas

insulin

penurunan
yang

sekresi

insulin

menyebabkan

atau

penurunan

komplikasi

kronis,

mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati.


Menurut Buku Farmakologi Dasar dan Klinik Vol.2 edisi 12, hal.
837
Diabetes melitus didefinisikan sebagai peningkatan glukosa
darah yang berkaitan dengan tidak ada atau kurang memadainya
sekresi insulin pankreas, dengan atau tanpa gangguan efek insulin.
Menurut Buku Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 4, hal. 335
Diabetes lebih merupakan satu kelompok sindrom yang
heterogen yang ditandai oleh peningkatan glukosa darah akibat
defisiensi relatif atau absolut insulin.
Kesimpulan :
Diabetes

Melitus

merupakan

suatu

gangguan

dimana

meningkatnya kadar glukosa darah disebabkan turunnya sensitivitas


insulin dari sel yang tidak normal. Ditandai dengan penderita yang
lebih

suka makan (Polidipsia), suka minum (Polifagia), dan sering

mengeluarkan kemih (Poliurea), serta merasa 3L (Letih, lesuh, dan


lunglai)
1. Polidipsia disebabkan karena adanya gangguan pada insulin
sehingga otak tidak merespon adanya glukosa pada tubuh
sehingga penderita akan cenderung suka makan.
2. Polifagia disebabkan karena glukosa yang berlebih akan mengikat
banyak air, dengan ini informasi akan dikirim ke otak bahwa tubuh
NUR ATIKA
AMRAN NUR, S.Farm.,Apt
AHMAD
15020130271

DIABETES MELITUS

membutuhkan asupan air sehingga penderita akan cenderung


haus dan suka minum.
3. Poliurea disebabkan karena adanya kerusakan pada ginjal dimana
ginjal bekerja berat untuk menyaring kelebihan gula bersama urin
sehingga fungsi ginjal tidak berjalan dengan baik yang membuat
ginjal biasanya sanggup menampung 5 L air hanya dapat
menampung 1 L air.
4. Cepat lelah disebabkan oleh kadar glukosa dalam darah yang
meningkat, akan tetapi sel tidak sensitif terhadap insulin sehingga
glukosa tersebut tidak dapat dimetabolisir atau dibakar dan
akhirnya tidak menghasilkan sumber energi.
Untuk orang yang berpuasa memiliki tiga kelompok, dimana
kadar gula normal 100 mg/DL, untuk gangguan toleransi glukosa
sebesar 100-125 mg/DL, dan yang menderita DM <125 mg/DL.
2. Tipe- Tipe Diabetes Melitus
Menurut Buku Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 4, halaman
336-337
a. Diabetes Tipe 1
Diabetes Tipe 1 paling sering mengenai individu dalam masa
pubertas atau dewasa muda, tetapi beberapa bentuk laten dapat
terjadi kemudian hari. Penyakit ini ditandai dengan defisiensi
absolute insulin akibat nekrosis sel- yang parah. Umumnya,
kehilangan fungsi sel- dianggap berasal dari proses yang
diperantarai-otoimun terhadap sel-, dan hal ini dapat dipicu oleh
invasi virus atau kerja toksin kimiawi. Akibat penghancuran sel-sel
ini, pankreas gagal merespon glukosa, dan diabetes Tipe 1
NUR ATIKA
AMRAN NUR, S.Farm.,Apt
AHMAD
15020130271

DIABETES MELITUS

menunjukkan gejala-gejala klasik defisiensi insulin (polidipsia,


polifagia, poliuria, dan kehilangan berat badan). Diabetes Tipe 1
memerlukan insulin eksogen untuk menghindari status katabolik
yang terjadi akibat dari dan ditandai oleh hiperglikemia dan
ketoasidosis yang mengancam jiwa.
Penyebab diabetes Tipe 1: Pada periode pasca-absorsi individu
normal, kadar basal insulin sirkulasi yang rendah dipertahankan
melalui sekresi insulin terjadi dalam dua menit setelah makanan
masuk sebagai respon terhadap peningkatan sementara kadar
glukosa dan asam amino sirkulasi. Hal ini berlangsung hingga 15
menit dan diikuti sekresi pascaprandial insulin. Karena fungsi sel-
sama sekali tidak berefek nyata, diabetes Tipe 1 tidak dapat
mempertahankan kadar sekresi insulin basal dan berespon
terhadap beragam bahan bakar yang bersirkulasi.
b. Diabetes Tipe 2
Sebagaian besar

diabetes yang diderita adalah Tipe 2.

Penyakit ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik, seperti


penuaan, obesitas, dan resistensi insulin perifer dan bukan oleh
proses oto-imun atau virus. Perubahan metabolik yang teramati
lebih ringan dibandingkan yang digambarkan oleh Tipe 1 (misalnya,
secara khas, pasien Tipe 2 tidak ketotik), tetapi dampak klinis
jangka panjang dapat sangat merusak (misalnya, komplikasi
vascular dan infeksi lanjutan dapat menyebabkan amputasi
ekstremitas bawah).
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

Penyebab: Pada diabetes Tipe 2, pankreas mempertahankan


beberapa fungsi sel-, tetapi sekresi insulin yang besar tidak
memadai untuk mempertahankan homeostatis glukosa. Massa sel dapat tereduksi secara bertahap pada diabetes Tipe 2 sering
obes. Diabetes Tipe 2 sering disertai penurunan sensitivitas organ
target terhadap insulin endogen ataupun eksogen. Resistensi
terhadap insulin ini dianggap sebagai penyebab utama diabetes
tipe ini.
Menurut Buku Farmakologi Dasar dan Klinik, Vol.2 edisi 12,
halaman 838
a. Diabetes Melitus Tipe 1
Tanda utama diabetes tipe 1 adalah kerusakan selektif sel
beta (sel B) dan defisiensi insulin yang parah atau absolut.
Diabetes tipe 1 dibagi lebih lanjut menjadi kausa imun dan
kausa idiopatik. Bentuk imun adalah bentuk tersering diabetes
tipe 1. Meskipun kebanyakan pasien berusia kurang dari 30
tahun saat didiagnosis, awitan dapat terjadi kapan saja.
Diabetes tipe 1 dijumpai pada semua kelompok etnik, tetapi
insiden tertinggi adalah pada orang lain dari Eropa Utara dan
dari

sardinia.

Kerentanan

tampaknya

melibatkan

suatu

keterkaitan genetik multifaktor, tetapi hanya 10-15% dari pasien


memperlihatkan riwayat keluarga yang positif.
Untuk orang dengan diabetes tipe 1, terapi sulih insulin
dibutuhkan

untuk

mempertahankan

kehidupan.

Insulin

farmakologik diberikan melalui injeksi ke jaringan subkutis


NUR ATIKA
AMRAN NUR, S.Farm.,Apt
AHMAD
15020130271

DIABETES MELITUS

dengan menggunakan alat injeksi manual atau suatu pompa


insulin yang secara kontinu menginfuskan insulin dibawah kulit.
b. Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes tipe 2 ditandai oleh resistensi jaringan terhadap
efek insulin dikombinasikan dengan defisiensi relatif sekresi
insulin. Seorang pasien mungkin lebih mengalami resistensi atau
defisiensi sel beta yang lebih besar, dan kelainannya mungkin
ringan atau parah. Meskipun para pasien ini insulin diproduksi di
sel-sel beta, jumlahnya kurang memadai untuk mengatasi
resistensi, dan glukosa arah meningkat.
c. Diabetes Melitus Tipe 3
Sebutan tipe 3 merujuk kapada berbagai kausa spesifik
lain peningkatan glukosa darah: pankreatektomi, pankreatitis,
penyakit non-pankreas, pemberian obat, dan sebagainya.

d. Diabetes Melitus Tipe 4


Diabetes

gestasional

(gestational

diabetes,GD)

didefinisikan sebagai setiap kelainan dalam kadar glukosa yang


diketahui

pertama

kali

sewaktu

kehamilan.

Diabetes

gestasional didiagnosis pada sekitar 7% dari semua kehamilan


di AS. Selama kehamilan, plasenta dan hormon-hormon
plasenta menciptakan suatu hormon-hormon insulin yang
paling nyata pada trimester terakhir. Penilaian resiko untuk
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

diabetes disarankan dimulai sejak kunjungan pranatal pertama.


Wanita berisiko tinggi perlu segera menjalani pemeriksaan
penyaring. Pemeriksaan penyaring dapat ditunda bagi wanita
beresiko rendah sampai usia gestasi 24 sampai 28 minggu.
Kesimpulan :
Secara umum diabetes dibagi menjadi 4 Tipe, yakni :
a. Diabetes tipe 1 merupakan tipe diabetes yang ditandai dengan
rusaknya sel yang parah sehingga menyebabkan sel tidak
dapat memproduksi insulin. Hal ini disebabkan oleh faktor
autoimun.
b. Diabetes tipe 2 merupakan diabetes yang paling sering diderita
dimana sel masih bisa memproduksi insulin tetapi dalam jumlah
yang sedikit. Tipe diabetes ini disebabkan oleh faktor genetik dan
gaya hidup.
c. Diabetes tipe Gestasional merupakan diabetes yang dapat diderita
pada saat kehamilan yang disebabkan karena meningkatnya
hormon-hormon pertumbuhan dan plasenta yang resistensi
terhadap insulin (sel tidak peka terhadap insulin). Selain itu faktor
nutrisi juga berperan dalam peningkatan kadar gula saat
kehamilan.
d. Diabetes tipe lain merupakan diabetes yang disebabkan oleh
kelainan pankreas berupa pankreatitis (Radang Pankreas) dan
pankreatomi (Trauma).
3. Mekanisme Sekresi Insulin
Menurut Buku Farmakologi Terapi Edisi 5, halaman 482
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

Mekanisme bagaimana glukosa oral dapat merangsang sekresi


insulin. Masuknya glukosa ke sel- melalui glucose transporter 2
(GLTU2), suatu transporter yang spesifik. Kemudian glukosa ini
mengalami fosforilasi oleh glukokinase. Enzim ini terurama terdapat
diorgan tempat terjadinya regulasi metabolisme glukosa seperti hepar
atau sel pankreas.
Sekresi insulin sangat tergantung dari kadar Ca ++ intrasel.
Metabolisme glukosa yang di induksi oleh glukokinase menyebabkan
perubahan rasio ATP/ADP, dan hal ini menyebabkan menutupnya
kanal ion K+ yang sensitif ATP (ATP-sensitive K+ channel) dan terjadi
depolarisasi sel . Sebagai

kompensasi, terjadi aktivitas kanal Ca +

dan ion ini akan masuk ke sel . Selanjutnya Ca ++ intrasel ini


merangsang sekresi insulin dari granulanya.

NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

Menurut Buku At Glance, halaman 78


Kesimpulan :
a. Sekresi insulin pada saat puasa
Pada saat berpuasa, glukosa dalam darah akan menurun,
otomatis energi atau ATP juga ikut menurun. Hal ini menyebabkan
kanal kalium (K+) terbuka sehingga kalium keluar dari dalam sel
(Hiperpolarisasi). Di samping itu kanal Ca 2+ tertutup sehingga Ca2+
tidak dapat masuk kedalam sel. Hal ini menyebabkan produksi
akan insulin menurun. Fungsi insulin disini untuk menyeimbangkan
glukosa dalam darah.
b. Sekresi insulin pada saat setelah makan
Setelah makan, kadar glukosa dalam darah akan meningkat
dimana glukosa dibawa masuk ke dalam sel
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

dengan bantuan

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

GLUT2. Glukosa yg dibawa masuk ke dalam sel tadi kemudian


diubah

menjadi

glukosa

fosfat

dengan

bantuan

enzim

glukokinase dalam proses fosforilase. Kemudian Glukosa 6 fosfat


diubah menjadi asam piruvat yang akan berubah menghasilkan
ATP. Meningkatnya ATP menyebabkan penutupan kanal kalium (K +)
dan terjadi penumpukan K + atau disebut juga depolarisasi.
Setelah itu kanal kalsium (Ca2+) terbuka dan Ca2+ masuk ke dalam
sel dan menyebabkan sekresi insulin.
4. Mekanisme Kerja Insulin
Menurut Buku Farmakologi Ulasan Bergambar edisi 4, halaman
339-341
a. Sediaan insulin kerja-cepat dan kerja-singkat
Empat sediaan insulin masuk dalam kategori ini : insulin
regular, insulin lispro, dan insulin glulisine. Insulin regular
merupakan zinc insulin berbentuk kristalin yang mudah larut, kerja
singkat. Insulin regular biasanya diberikan subkutan (atau
intravena

pada

kegawatdaruratan),

dan

dengan

cepat

menurunkan kadar glukosa darah. Insulin regular, insulin lispro,


dan insulin aspart merupakan kategori kehamilan B. insulin
glulisine belum diteliti pada kehamilan. Karena awitan kerja yang
cepat dan durasi kerjanya singkat, bentuk lispro, aspart, dan
glulisine digolongkan sebagai insulin kerja-cepat.
c. Insulin kerja-sedang
Neutral protamine Hagedorn (NPH) insulin merupakan
suspensi insulin zinc berbentuk kristalin yang dikombinasikan
NUR ATIKA
AMRAN NUR, S.Farm.,Apt
AHMAD
15020130271

DIABETES MELITUS

pada pH netral dengan polipeptida muatan netral, protamina.


Durasi kerjanya sedang. Hal ini disebabkan absorbsi lambat
insulin

karena

konjugasinya

dengan

protamin

sehingga

membentuk kompleks yang kurang larut. NPH insulin hanya boleh


diberikan secara subkutan (tidak pernah intravena) dan berguna
dalam mengobati semua bentuk diabetes, kecuali diabetes
ketoasidosis atau hiperglikemia emergensi.
d. Sediaan insulin kerja-panjang
Insulin glargine : titik isoelektrik insulin glargine lebih rendah
dibandingkan insulin manusia, yang menyebabkan presipitasi
pada lokasi penyuntikan sehingga memperluas kerjanya. Obat ini
lebih lambat awitannya dibandingkan NPH insulin dan memiliki
efek glikemik panjang dan datar-tidak memiliki puncak. Seperti
insulin lainnya, obat ini harus diberikan secara subkutan.
Insulin detemir : insulin detemir memiliki rantai samping asam
lemak. Tambahan rantai samping asa6pm lemak. Tambahan rantai
samping asam lemak meningkatkan kaitan dengan albumin.
Disosiasi lambat dari albumin mengakibatkan sifat kerja-lama
yang serupa dengan insulin glargine.
Kesimpulan :
Dari

keempat

pembagian

insulin

dapat

dibedakan

berdasarkan onset (Efek dari awal pemberian hingga masuk ke


dalam tubuh) dan durasi (Efek ketika bereaksi hingga efek hilang)
kerja dari insulin.
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

a. Insulin kerja cepat dan kerja singkat memiliki onset lambat dan
durasi 3-4 jam.
b. Insulin kerja sedang memilik onset lamabat dan durasi 4-6 jam
c. Insulin kerja panjang memilik onset dan durasi yang lambat
d. Kombinasi insulin
e. Insulin Rapid memiliki onset dan durasi yang cepat.
5. Penggolongan Obat Diabetes beserta mekanisme kerjanya
Menurut Buku Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 4, halaman
342-348
a. Sulfonilurea
Agen-agen ini diklasifikasikan sebagai perangsang sekresi
insulin (insulin secretagogue) karena agen-agen ini mencetuskan
pelepasan insulin dari sel-sel pankreas. Obat-obat primer yang
digunakan saat ini adalah tolbutamid dan derivat generasi dua ,
glyburide, glipizide, dan glimepirid.
Mekanisme kerja sulfonilurea: hal ini meliputi 1) stimulasi
pelepasan insulin oleh sel-sel pankreas dengan cara
menghambat kanal K+ sensitif-ATP, mengakibatkan depolarisasi
dan pemasukan Ca2+ , 2) penurunan produksi glukosa hepatik,
dan 3) peningkatan sensitivitas perifer terhadap insulin.
b. Analog Meglitinide
Agen golongan ini meliputi repaglinide dab neteglinide.
Meskipun bukan merupakan sulfonilurea, obat-obat ini memiliki
kerja yang sama.
Mekanisme kerja: seperti sulfonilurea, kerja obat-obat ini
bergantung kepada fungsi sel-sel pankreas. Obat-obat ini
berikatan pada lokasi yang berbeda pada reseptor sulfonilurea
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

yang terkait kanal kalium sensitif-ATP; dengan demikian,


mengawali
pelepasan

serangkaian
insulin.

reaksi

Namun,

yang

berbeda

puncaknya
dengan

adalah

sulfonilurea,

meglitinide memiliki awitan cepat dan durasi kerja yang pendek.


Obat-obat ini terutama efektif dalam pelepasa dini insulin yang
terjadi setelah makan sehingga dikategorikan sebagai regulator
glukosa pascaprandial. Terapi kombinasi agen-agen ini dengan
metformin atau glitazone tampaknya lebih baik dari pada
monoterapi dengan salah satu dari dua agen tersebut dalam
perbaikan kontrol glikemik. Meglitinide tidak boleh digunakan
dalam bentuk kombinasi dengan sulfonilurea karena mekanisme
kerjanya yang tumpah tindih.
c. Biguanid
Metformin, satu-satunya biguanid yang saat ini tersedia,
digolongkan sebagai penyintesis insulin; obat ini meningkatkan
ambilan glukosa dan penggunaannya oleh jaringan-jaringan
target

sehingga

menurunkan

resistensi

insulin.

Seperti

sulfonilurea, metformin memerlukan insulin untuk kerjanya, tetapi


obat ini berbeda dengan sulfonilurea karena tidak memicu
sekresi insulin. Hiperinsulinemia bukan merupakan masalah.
Mekanisme kerja: mekanisme kerja utama metformin adalah
reduksi keluaran (output) glukosa hepatik, sebagian besar
dengan menghambat glukoneogenesis hepatik. Metformin juga
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

memperlambat absorbsi gula oleh usus dan meningkatkan


ambilan dan penggunaan glukosa diperofer. Sifat obat ini yang
sangat

penting

adalah
batas

kemampuannya

hiperlipidemia

dalam

sedang

lipoprotein

berdensitas-rendah

menurunkan

(konsentrasi
rendah

kolestrol

[low-density

lopoprotein/LDL] dan lipoprotein berdensitas-sangat rendah


[very-low density lipoprotein/VLDL] menurun, dan kolestrol
lipoprotein

berdensitas

tinggi

[high-density

lipoprotein/HDL]meningkat). Efek ini dapat muncul hingga 4-6


minggu penggunaan. Pasien sering mengalami penurunan berat
badan karena kehilangan nafsu makan. Algoritme terapi ADA
merekomendasikan metformin sebagai obat pilihan untuk
diabetes tipe 2 yang baru terdiagnosis. Metformin mung
digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan slah satu agen
lainnya, begitu pula dengan insulin. Hipoglikemia terjadi ketika
metformin digunakan dalam bentuk kombinasi.
d. Agen- Agen Penghambat -Glukosidase
Akarbose dan meglitol merupakan obat-obat peroral yang
aktif yang digunakan untuk terapi pasien dengan diabetes Tipe 2
Mekanisme kerja: obat-obat ini digunakan saat permulaan
makan. Obat-obat ini bekerja menunda pencernaan karbohidrat
sehingga

mengakibatkan

penurunan

kadar

glukosa

pascaprandial. Kedua obat ini menghasilkan efek dengan


NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

menghambat -glukosidase yang terikat membran secara


reversible pada batas vili virus. Enzim ini bertanggung jawab
pada hidrolisis ologosakarida menjadi glukosa dan gula-gula
lainnya.
e. Thiazolidinedione Atau Glitazone
Kelompok

lain

agen

penyitesis

insulin

adalah

thiazolidinedion (TZD) atau, lebih akrab disebut glitazone.


Maskipun insulin diperlukan untuk kerja obat-obat ini, obat-obat
ini tidak memicu pelepasan insulin dari sel pankreas sehingga
tidak terjadi hiperinsulinemia. Troglitazone merupakan agen
pertama dari kelompok ini yang disetujui untuk terapi Tipe 2,
tetapi telah ditarik setelah sejumlah kematian akibat akibat
hepatotoksisitas dilaporkan. Saat ini, dua anggota kelompok ini
telah tersedia, pioglitazone, dan rosiglitazone.
Mekanisme kerja: meskipun mekanisme pasti TZD menurunkan
resistensi

insulin

masih

diungkap,

agen

ini

diketahui

menargetkan reseptor- yang-diaktifasi-proliferatot peroksisom


(peroxisome proloferator-activated receptor /PPAR )- suatu
reseptor hormon nukleus. Ligan-ligan untuk PPAR mengatur
produksi adiposit dan sekresi asam lemak, serta metabolisme
glukosa, yang mengakibatkan peningkatan sensitivitas insulin
pada jaringan adipose, hepar, dan otot rangka. Hiperglikemia,
hiperinsulinemia, hipertriasilgliserolemia, dan peningkatan kadar
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

HbA1C diperbaiki. Menariknya kadar LDL tidak terpengaruh oleh


monoterapi pioglitazone atau ketika obat digunakan dalam
bentuk kombinasi dengan agen-agen lain, sedangkan kadar LDL
meningkat dengan rosiglitazone. Kadar HDL meningkat dengan
kedua obat.
f. Analog Amilin Sintetik
Pramlintid

merupakan

analog

amilin

sintetik

yang

diindikasikan sebagai tambahan bagi terapi insulin saat waktu


makan pada pasien dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2. Dengan
bekerja

sebagai

pengosongan

amilinomimetik,

lambung,

menurunkan

pramlintid

menunda

sekresi

glukagon

pascaprandial, dan memperbaiki kepuasan. Pramlintid diberikan


melalui suntikan subkutan dan harus disuntikkan segera
sebelum makan . ketika pramlintid dimulai, dosis insulin kerja
cepat dan kerja pendek harus diturunkan 50% sebelum makan
untuk menghindari resiko hipoglikemia berat. Pramlintide tidak
boleh dicampur dalam spuit yang sama dengan sediaan insulin
apapun. Efek samping terutama terjadi pada saluran cerna dan
terdiri dari mual, anoreksia dan muntah. Pramlintide tidak boleh
diberikan pada pasien yang mengalami gastroparesis diabetikum
(penundaan pengosongan lambung) atau dengan riwayat
ketidakwaspadaan terhadap hipoglikemia.
g. Penghambat Dipeptidil Peptidase-IV
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

Sitagliptin merupakan penghambat dipeptidil peptidase-IV


(DPP) yang aktif peroral dan digunakan untuk terapi pasien
dengan diabetes Tipe 2. Saat ini, agen-agen lain dalam kategori
ini sedang dikembangkan.
Mekanisme kerja: Sitagliptin menghambat anzim DPP-IV yang
bertanggung jawab untuk inaktivasi hormon-hormon incretin,
seperti peptida 1-mirip-glukagon (glucagon-like peptide-1/GLP1).

Pemanjangan

aktivitas

hormon-hormon

inkretin

mengakibatkan peningkatan pelepasan insulin sebagai respons


terhadap makan dan reduksi sekresi glukagon yang tidak sesuai.
Sitagliptin dapat digunakan sebagai monoterapi atau dalam
bentuk kombinasi dengan sulfonilurea, metformin, atau glitazone.
h. Inkretin Mimetik
Glukosa oral mengakibatkan sekresi insulin yang lebih
tinggi dibanding yang terjadi ketika muatan glukosa yang setara
diberikan secara intravena. Efek ini disebut sebagai efek
inkretin dan perang penting hormon-hormon saluran cerna
terutama GLP-1 dan polopeptida penghambat gester dalam
pencernaan

dan

absorbsi

zat

nutrisi,

termasuk glukosa.

Eksenatide merupakan inkretin mimetik dengan rangkaian


polipeptida

sekitar

50%

yang

homolog

dengan

GLP-1.

Eksenatide tidak hanya memperbaiki sekresi insulin yang


tergantung-glukosa,
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

tetapi

juga

memperlambat

waktu

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

pengosongan

lambung,

menurunkan

asupan

makanan,

menurunkan sekresi glukosa pascaprandial dan mendorong


proliferasi

sel

hiperglikemia

Akibatnya

pascaprandial

kenaikan
direduksi

berat
dan

badan
kadar

dan
HbA 1C

diturunkan. Sebagai polipeptida, eksenatide harus diberikan


secara subkutan. Penurunan penggunaannya disebabkan oleh
durasi kerjanya yang singkat, yang memerlukan injeksi yang
sering. Sedian sekali-seminggu sedang diteliti. Eksenatide dapat
digunakan sebagai terapi tambahan pada pasien dengan
diabetes Tipe 2 yang gagal mencapai kontrol glikemik yang
adekuat

dengan

sulfonilurea,

metformin,

glitazone,

atau

kombinasi obat-obat tersebut. Serupa dengan pramlintid, efek


samping utama terdiri dari mual, muntah dan diare.
Kesimpulan :
Antidiabetes dibedakan menjadi
1. Sulfonilurea, dimana obat ini dapat
a. Menstimulasi pelepasan insulin oleh sel pankreas
b. Menurunkan produksi glukosa hepatik
c. Meningkatkan sensitifitas perifer terhadap insulin, agar insulin
peka terhadap reseptor.
Sulfonilurea dibedakan menjadi 2 generasi. Generasi
pertama, yaitu tolbutamid sedangkan generasi kedua, yaitu
gliburid, glipizid, dan glimepirid.
2. Analog meglitinide

NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

Mekanisme kerja obat ini sama dengan golongan obat sulfonilurea


dimana obat ini bekerja meningkatkan sekresi insulin. Yang
termaksuk obat golongan ini adalah repaglinid dan nateglinid.
3. Biguanid
Obat ini

bekerja

menurunkan

produksi

glukosa

hepatik

(glukoneogenesis) sehingga terjadi perombakan glukosa baru.


Yang termasuk obat golongan ini adalah metformin.
4. Penghambat - glukosidase
Obat ini bekerja menghambat enzim glukosidase sehingga tidak
dapat terabsorbsi. Enzim glukosidase adalah enzim yang berfungsi
membantu hidrolisis karbohidrat dari yang berbentuk kompleks
menjadi yang lebih sederhana. Yang termasuk obat golongan ini
adalah akarbose dan miglitol.
5. Thiazolidinedione / glitazone
Pada golongan ini terdapat reseptor PPAR yang mengaktivasi
peroksisom yang terletak pada jaringan otot atau jaringan lemak
yang membantu proses masuknya glukosa dalam jaringan otot atau
jaringan lemak yang terletak pada adiposa sehingga glukosa dalam
darah menurun. Yang termaksuk obat golongan ini adalah
pioglitazon dan rosiglitazon.
6. Analog amilin sintetik
Obat ini seanalog dengan pramlintid yang bekerja menurunkan
sekresi glukagon sehingga meningkatkan kadar glukosa dalam
darah. Apabila menurun sekresi glukagonya maka produksi gula
juga menurun. Yang termasuk obat golongan ini adalah pramlintide.
7. Dipeptidil peptidase- IV
NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

Obat ini bekerja menghambat enzim DPP IV yang bertanggung


jawab

menginaktivasi

hormon

inkretin.

Inkretin

mimetik

meningkatkan sekresi insulin agar dapat menetralkan kadar gula


darah. Yang termaksuk obat golongan ini adalah sitagliptin,
vildagliptin, alogliptin, dan saksagliptin
8. Inkretin mimetik
Eksenatid merupakan contoh inkretin mimetik dimana inkretin
dapat meningkatkan insulin pada saat pengosongan lambung.

NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Sulistia Gan, dkk. 2012. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. FK
UI : Jakarta.
Harvey, Richard A. 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 4. EGC :
Jakarta.
Katzung, Bertram G, dkk. 2013. Farmakologi Dasar dan Klinik Vol 2 Edisi
12. EGC : Jakarta.
Neal, M.J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima. Erlangga :
Jakarta.
Sukandar, Yulinah,.dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. PT.ISFI PenertbitJakarta
Tjay Tan Hoan. 2007. Obat-Obat Penting. PT Elex Media Komputindo :
Jakarta

NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt

DIABETES MELITUS

NUR ATIKA
AHMAD
15020130271

AMRAN NUR, S.Farm.,Apt