Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI VETERINER DAN SATWA AKUATIK II

NAMA

: WADI OPSIMA

NIM

: O111 13 310

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2015

LEMBAR PENGESAHAN

Nama Mahasiswa

: WADI OPSIMA

NIM

: O111 13 310

Nama Asisten

: SITI ARYANI S.

Waktu Asistensi
No.

Jadwal Asistensi

Saran Perbaikan

Paraf Asisten

Makassar, 6 April 2015


Asisten

Praktikan

SITI ARYANI S.

WADI OPSIMA

JUDUL PRAKTIKUM
SISTEM ENDOKRIM DAN RESPIRASI

TUJUAN PRAKTIKUM
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
A. Sistem Endokrin
1. Menguji pengaruh hormon HCG terhadap produksi spermatozoa.
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang
2. Menghitung frekuensi pernapasan dan denyut nadi.
menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk
mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai pembawa pesan dan dibawa
oleh aliranLINGKUP
darah ke berbagai
sel dalam tubuh,
RUANG
PRAKTIKUM

yang selanjutnya akan menerjemahkan

pesan tersebut menjadi suatu tindakan (Soewolo, 2000).


Adapun
ruang lingkup
pratikumbuntu,
ini adalah
Sistem endokrin
disebutdalam
juga kelenjar
yaitu: kelenjar yang tidak mempunyai
1. Pengaruh
HCG terhadapsekretnya.
produksi Sekret
spermatozoa
pada katak
jantan.dinamakan
saluran
khusus hormon
untuk mengeluarkan
dari kelenjar
endokrin
2. Frekuensi
pernapasan.
hormon.
Hormon
berperan penting untuk mengatur berbagai aktivitas dalam tubuh
hewan, antara lain aktivitas pertumbuhan, reproduksi, osmoregulasi, pencernaan, dan
integrasi serta koordinasi tubuh (Supripto, 1998)
Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengeluarkan hormon ke dalam aliran
darah dan bukan ke dalam saluran yang menuju ke luar tubuh atau ke dalam salah satu
organ internal seperti kelenjar eksokrin. Sebagai contoh kelenjar paratiroid, tiroid,
pituitari, dan adrenal yang hanya berfungsi dalam sekresi hormon. Oleh karena itu,
kelenjar endokrin disebut juga kelenjar buntu (Sonjaya, 2012).
Hormon merupakan messenger (pembawa pesan) kimiawi khusus yang dihasilkan
oleh suatu bagian terbatas dari suatu organisme tempat zat dalam konsentrasi sangat
rendah efektif dalam mengatur, dan mengkoordinasikan aktifitas selnya. Kriteria tersebut
untuk menjamin dalam membedakan hormon dan enzim atau hasil-hasil metabolisme
(Sonjaya, 2012).
Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau
organ, yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel-sel. Sebagian besar hormon merupakan
protein yang terdiri dari rantai asam amino dengan panjang yang berbeda-beda. Sisanya
merupakan steroid, yaitu zat lemak yang merupakan derivat dari kolesterol. Hormon
dalam jumlah yang sangat kecil bisa memicu respon tubuh yang sangat luas (Wulangi,
1994).

TINJAUAN PUSTAKA

Hormon dari kelenjar endokrin memiliki organ sasaran yang memiliki reseptor
khusus utnuk hormon yang sesuai dan merupakan tempat yang tepat bagi suatu hormon
untuk memperlihatkan efek hayatinya. Sifat hormon tersebut dapat ditemukan pada
hampir semua hormon, salah satunya adalah hormon HCG (Human Chorionic
Gonadotrophin) yang diproduksi sewaktu usia kehamilan dini setelah konsepsi (pada

manusia) dan disekresikan oleh selaput plasenta. Selain itu, hormon PMSG (Pregnant
Mare Serum Gonadotrophin) pada kuda betina (setelah kopulasi). Hormon-hormon
tersebut hanya ditemukan pada wanita atau induk betina pada hewan pada saat kehamilan
usia dini (Supripto,1998).
Biokimia hormon terdiri dari dua kelas utama yaitu derivat asam amino, seperti
protein, polipeptida, peptida, amina atau kompleks protein konjugasi seperti glikoprotein
adalah hormon yang diproduksi kelenjar hipofisis, hipotalamus, medula adrenal, pineal,
tiroid, sel-sel pulau pankreas dan sel-sel dalam saluaran pencernaan. Zat ini umumnya
dapat larut dalam air dan ditranspor dalam bentuk yang tidak berikatan dalam darah.
Steroid adalah senyawa lipid larut lemak yang disintesis dari kolesterol. Zat ini diproduksi
oleh ovarium, testis, plasenta dan bagian luar kelenjar adrenal serta testosteron, esterogen,
progesteron, aldosteron dan kortisol. Zat ini bersirkulasi dalam plasma yang mentranspor
protein (Sloane, 2003).
Ovarium di samping penghasil telur, juga merupakan organ endokrin. Ovarium
menghasilkan hormon steroid estradiol dan progesteron. Pada manusia sumber utama dari
hormon kehamilan wanita adalah sel-sel yang melapisi folikel ovarium dan korpus luteum
yang terbentuk setelah terjadi ovulasi. Sel-sel folikel terutama mensekresi estradiol, dan
sel-sel luteum terutama mensekresi progesteron. Pada wanita ada 3 macam hormon
gonadotropin yang berperan yaitu (Wheeler, 2000) :
a. FSH (Folikel Stimulating Hormon) berfungsi merangsang perkembangan ovarium
dan mengurangi sekresi estrogen.
b. LH (Luteinzing Hormon) berfungsi bersama-sama dengan estrogen menstimulasi
ovulasi dan pembentukan progesteron.
c. LTH (Luteotropic Hormon) berfungsi untuk menstimulasi sekresi air susu oleh
kelenjar susu.
Jika sel telur telah dibuahi dan tertanam dalam endometrium, sel-sel trofoblas
dalam plasenta yang sedang berkembang mensekresi gonadotropin korion. Aktivitas lutein
dan luteotrofiknya yang kuat mempertahankan korpus luteum dan merangsang sekresi
progesteron selanjutnya. Salah satu gejala pertama kehamilan adalah adanya gonadotropin
korion dalam darah dan urin. Puncak produksi hormon tersebut dicapai dalam bulan
kehamilan kedua. Setelah itu kadarnya dalam darah dan urin menurun (Supripto,1998).
Dalam beberapa hari setelah penanaman blastosis, sel-sel yang akan berkembang
manjadi plasenta mulai menyekresikan Human Chorionic Gonadotropin (HCG). Aksi
hormon ini sama dengan aksi FSH dan LH, tetapi berlawanan dengan hormon-hormon ini,

sekresi HCG tidak dihambat oleh tingginya kadar progesteron dan estrogen. Jadi HCG
dalam air seni wanita hamil merupakan dasar bagi uji kehamilan yang paling sering
digunakan (Wulangi, 1994).
HCG merupakan suatu hormon yang dihasilkan oleh jaringan plasenta yang masih
muda dan dikeluarkan lewat urine. Hormon ini juga di hasilkan bila terdapat proliferasi
yang abnormal darri jaringan epitel korion seperti molahidatidosa atau chorio carsinoma.
Kehamilan akan ditandai dengan meningkatnya kadar HCG pada urin pada trimester I.
HCG disekresikan 7 hari setelah ovulasi, pemeriksaan HCG dengan metode
immunokromatografi merupakan cara yang paling tepat untuk mendeteksi kehamilan
dini, (Wheeler, 2000)
Suatu uji radioimunosasi yang peka untuk hormone gonadotropinkorion dapat
menentukan kehamilan hanya beberapa hari setelah tertanamnya embrio. Pada manusia
kira-kira minggu ke-16 kehamilan, plasenta dengan sendirinya menghasilkan cukup
progesterone sehingga korpus luteum tidak lagi diperlukan dan mengalami involusi.
Plasenta juga menghasilkan estrogen. Plasenta manusia, dan mungkin plasenta mamalia
lain, memproduksi hormone protein lain, yaitu laktogen plasenta dengan sifat yang agak
mirip dengan hormone pertumbuhan pituitari dan prolaktin (Villee, 1988).
B. SISTEM RESPIRASI
Respirasi adalah proses umum dimana organisme mengambil energi bebas dalam
lingkungannya dengan mengoksidasi substrat organik. Untuk mencapai hasil tersebut,
organisme tingkat tinggi memakan berbagai bahan makanan dan mengubah menjadi
molekul sederhana. Caranya melalui proses pencernaan molekul yang terbentuk dalam
sel-sel yang mengalami oksidasi dengan bantuan sejumlah molekul oksigen yang berasal
dari sistem pernapasan. Produk dari oksidasi (CO2 dan H2O) dikeluarkan oleh sel ke
lingkungannya (Sonjaya, 2012).
Sistem pernapasan adalah sistem yang kompleks yang berfungsi untuk menghirup
oksigen dari udara serta mengeluarkan karbon dioksida dan uap air. Dalam proses
pernapasan, oksigen merupakan zat kebutuhan utama yang diperoleh dari udara di
lingkungan sekitar. Tujuan dari proses pernapasan yaitu untuk memperoleh energi. Pada
peristiwa bernapas terjadi pelepasan energi (Sonjaya, 2012).

Saluran pernapasan atau tractus respiratorius (respiratory tract) adalah bagian


tubuh manusia yang berfungsi sebagai tempat lintasan dan tampat pertukaran gas yang
diperlukan untuk proses pernapasan. Saluran ini berpangkal pada hidung dan berakhir
pada paru-paru (Waluyo, 2010).
Organ-organ yang menyusun sistem pernapasan terdiri dari (Waluyo, 2010) :
1. Hidung (Cavum Nasalis)
Hidung berfungsi sebagai alat untuk menghirup udara, penyaring udara yang akan
masuk ke paru-paru, dan sebagai indera penciuman.
2. Tekak (Faring)
Faring merupakan persimpangan antara rongga hidung ke tenggorokan (saluran
pernapasan) dan rongga mulut ke kerongkongan (saluran pencernaan). Pada bagian
belakang faring terdapat laring. Laring disebut pula pangkal tenggorok. Pada laring
terdapat pita suara dan epiglotis atau katup pangkal tenggorokan. Pada waktu menelan
makanan epiglotis menutupi laring sehingga makanan tidak masuk ke dalam
tenggorokan. Sebaliknya pada waktu bernapas epiglotis akan membuka sehingga udara
masuk ke dalam laring kemudian menuju tenggorokan.
3. Tenggorokan (Trakea)
Tenggorokan berbentuk seperti pipa dengan panjang kurang lebih 10 cm. Di paruparu trakea bercabang dua membentuk bronkus. Trakea tersusun atas 1620 cincin
tulang rawan yang berbentuk huruf C. Bagian belakang cincin tulang rawan ini tidak
tersambung dan menempel pada esofagus. Hal ini berguna untuk mempertahankan
trakea tetap terbuka. Lapisan terdalam terdiri atas jaringan epitelium bersilia yang
menghasilkan banyak lendir. Lendir ini berfungsi menangkap debu dan mikroorganisme
yang masuk saat menghirup udara. Selanjutnya, debu dan mikroorganisme tersebut
didorong oleh gerakan silia menuju bagian belakang mulut. Akhirnya, debu dan
mikroorganisme tersebut dikeluarkan dengan cara batuk. Silia-silia ini berfungsi
menyaring benda-benda asing yang masuk bersama udara pernapasan.

5. Bronkiolus
Bronkiolus merupakan cabang dari bronkus. Bronkiolus bercabang-cabang menjadi
saluran yang semakin halus, kecil, dan dindingnya semakin tipis. Bronkiolus tidak
mempunyai tulang rawan tetapi rongganya bersilia. Setiap bronkiolus bermuara ke
alveolus.
6. Alveolus
Bronkiolus bermuara pada alveol yang memiliki struktur berbentuk bola-bola mungil
yang diliputi oleh pembuluh-pembuluh darah. Epitel pipih yang melapisi alveoli
memudahkan darah di dalam kapiler-kapiler darah mengikat oksigen dari udara dalam
rongga alveolus.
7. Paru-paru
Paru-paru terletak di dalam rongga dada. Rongga dada dan perut dibatasi oleh siuatu
sekat disebut diafragma. Paru-paru ada dua buah yaitu paru-paru kanan dan paru-paru
kiri. Paru-paru kanan terdiri atas tiga gelambir (lobus) yaitu gelambir atas, gelambir
tengah dan gelambir bawah. Sedangkan paru-paru kiri terdiri atas dua gelambir yaitu
gelambir atas dan gelambir bawah. Paru-paru diselimuti oleh suatu selaput paru-paru
(pleura). Kapasitas maksimal paru-paru berkisar sekitar 3,5 liter.
Udara yang keluar masuk paru-paru pada waktu melakukan pernapasan biasa disebut
udara pernapasan (udara tidal). Volume udara pernapasan pada orang dewasa lebih
kurang 500 nl. Setelah melakukan inspirasi biasa, masih bisa menarik napas sedalamdalamnya.
Udara yang dapat masuk setelah mengadakan inspirasi biasa disebut udara
komplementer, volumenya lebih kurang 1500 ml. Setelah melakukan ekspirasi biasa,
masih bisa menghembuskan napas sekuat-kuatnya. Udara yang dapat dikeluarkan
setelah ekspirasi biasa disebut udara suplementer, volumenya lebih kurang 1500 ml.
Walaupun telah mengeluarkan napas dari paru-paru dengan sekuat-kuatnya ternyata
dalam paru-paru masih ada udara disebut udara residu. Volume udara residu lebih
kurang 1500 ml. Jumlah volume udara pernapasan, udara komplementer, dan udara

Proses pernapasan pada dimulai dari hidung. Pada saat masuk,


udara disaring oleh bulu hidung yang terdapat di bagian dalam lubang
hidung.

Setelah

kerongkongan

melewati

bagian

atas

rongga

hidung,

(naro-pharinx)

udara

lalu

masuk

kebawah

ke

untuk

selanjutnya masuk tenggorokan (larynx), kemudian udara masuk ke


batang tenggorok atau trachea, dari sana diteruskan ke saluran yang
bernama bronchus atau bronkus. Saluran bronkus ini terdiri dari
beberapa tingkat percabangan dan akhirnya berhubungan di alveolus
di paru-paru. Udara yang diserap melalui alveoli akan masuk ke dalam
kapiler yang selanjutnya dialirkan ke vena pulmonalis atau pembuluh
balik paru-paru. Gas oksigen diambil oleh darah dan darah akan
dialirkan ke serambi kiri jantung dan seterusnya. Selanjutnya udara
yang mengandung gas karbon dioksida akan dikeluarkan melalui
hidung kembali (Wheeler, 2000).
Frekuensi atau cepat lambatnya pernapasan manusia dipengaruhi oleh beberapa
factor, baik dari luar maupun dalam, yaitu umur, jenis kelamin, aktivitas tubuh, suhu
tubuh, dan posisi tubuh. Makin banyak organ tubuh yang bekerja dan makin berat kerja
organ tersebut, makin tinggi kebutuhan energy yang diperlukan, sehingga laju
metabolism dan irama pernapasan semakin cepat (Supripto,1998).

MATERI DAN METODE


A. Waktu dan Tempat
Praktikum Fisiologi Sistem Endokrin dan Respirasi dilaksanakan pada hari
Senin tanggal 6 April 2015 bertempat di Laboratorium Terpadu Program Studi
Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
B. Alat dan Bahan
Sistem Endokrin
Alat yang digunakan pada praktikum sistem endokrin adalah:

Mikroskop
Objek glass
Cover glass
Pipet
Spuit 3 cc.

Bahan yang digunakan pada praktikum sistem endokrin adalah:

Katak bufo (jantan dewasa)


Urin wanita hamil (bawah 3 bulan)

Sistem Respirasi
Alat yang digunakan pada praktikum sistem respirasi adalah stopwatch.
Bahan pada praktikum sistem respirasi adalah 3 orang mahasiswa.

C. Metode
Cara kerja pada pengamatan sistem endokrim dan respirasi :

Sistem Endokrin
1. Suntikkan urin wanita hamil SC pada katak.
2. Tunggu 1-1,5 jam.
3. Gunakan pipet untuk koleksi semen pada kloaka katak.
4. Letakkan semen pada objek glass, tutup dengan cover dan amati di bawah
mikroskop.
5. Interpretasi: apabila urin yang digunakan adalah urin wanita hamin (bawah 3
bulan), maka semen katak akan teramati di bawah mikroskop.
Sistem Respirasi
Frekuensi Pernapasan
1. Persiapkan 3 orang/mahasiswa
2. Setiap orang di istirahatkan selama 5 menit dan hitung frekuensi pernapasan
dan denyut nadinya

Sistem Respirasi
1. Persiapkan 3 orang/mahasiswa
2. Pelaku pertama diistirahatkan selama 5 menit dan dihitung respirasinya.
3. Pelaku kedua melakukan aktivitas lari-lari kecil selama 5 menit dan dihitung
lagi.
4. Pelaku ketiga melakukan kegiatan berlari dan melompat kemudian dihitung.
5. Bandingkan dan catat hasilnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Sistem Endokrin
Dalam percobaan sistem endokrin tidak ditemukan spermatozoa di bawah
mikroskop.

Sistem Respirasi

Percobaan I (pelaku diistrahatkan selama 5 menit )


Nama
Mukh. Yusuf

Umur
20 tahun

Jenis Kelamin
Laki-laki

Frekuensi Pernapasn
22 kali/menit

Percobaan II (pelaku melakukan akvitas lari-lari kecil)


Nama
Juliantihara

Umur
20 tahun

Jenis Kelamin
Perempuan

Frekuensi Pernapasn
40 kali/menit

Percobaan II (pelaku melakukan akvitas lari-lari kecil)


Nama
Muh. Reza

Umur
22 tahun

Jenis Kelamin
Laki-laki

Frekuensi Pernapasn
72 kali/menit

B. Pembahasan
Sistem Endokrim
Saat dilakukan pengujian pengaruh hormon HCG terhadap produksi
spermatozoa prosedur yang dilakukan yaitu katak jantan disuntikkan urin wanita hamil
di bawah 3 bulan sebanyak 3 cc kemudian ditunggu selama 1-1,5 jam, kemudian
dilakukan pengambilan urin. Kemudian sperma diletakkan diatas objek glass dan
ditutup menggunakan cover glass. Namun, urin yang diambil tidak dapat diamati di
bawah mikroskop. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu katak yang

Sistem Respirasi
Dalam praktikum ini, praktikan melakukan percobaan mengenai sistem respirasi
dilakukan tiga percobaan. Percobaan pertama dilakuka oleh Mukh. Yusuf yaitu
perhitungan frekuensi napas setalah istrahat 5 menit. Hasil frekuensi napas yang
didapatkan yaitu 22 kali/menit. Pada percobaan kedua yaitu aktivitas lari-lari kecil yang
dilakukan oleh Juliantihara didapatkan hasil frekuensi napas 40 kali/menit. Sedangkan
pada percobaan ketiga yanitu berlari dan melompat didapatkan frekuensi napas 72
kali/menit.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan frekuensi yang berbeda dari
berbagai aktivitas. Hal ini disebabkan karena semakin berat aktivitas seseorang maka
frekuensi napasnya semakin cepat. Hal ini sesuai dengan pendapat (Supripto,1998)
bahwa frekuensi atau cepat lambatnya pernapasan manusia dipengaruhi oleh beberapa
factor, baik dari luar maupun dalam, yaitu umur, jenis kelamin, aktivitas tubuh, suhu
tubuh, dan posisi tubuh. Makin banyak organ tubuh yang bekerja dan makin berat kerja
organ tersebut, makin tinggi kebutuhan energi yang diperlukan, sehingga laju
metabolism dan irama pernapasan semakin cepat.

LAMPIRAN

Sistem Endokrin

Menyuntikkan urin wanita hamil (dibawah 3 bulan)


pada katak

Menunggu 1-1,5 jam

Mengamati sperma dibawah mikroskop

Sistem Respirasi

Pelaku diistrahatkan selama 5 menit

Pelaku melakukan aktivitas lari-lari kecil

Pelaku melakukan kegiatan berlari dan melompat

RANGKUMAN
Adapun rangkuman dalam pratikum kali ini adalah :
1. HCG mempunyai fungsi atau efek yang sama dengan LH yaitu yang mengatur
produksi progesteron pada hewan betina dan testosteron pada hewan jantan dan
proses spermatogenesis. Pada praktikum ini tidak ditemukanadanya sperma karena
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu katak yang digunakan dalam praktikum
adalah katak betina, konsentrasi spermatozoa pada katak jantan yang terlalu
sedikit,urin yang digunakan adalah urin wanita hamil diatas 3, urin yang digunakan
adalah urin yang diambil lebih dari 2 jam sehingga kadar HCGnya berkurang, serta
katak yang digunakan masih terlalu muda atau belum mencapai kematangan
seksualnya.
2. Frekuensi atau cepat lambatnya pernapasan manusia dipengaruhi oleh beberapa
factor, baik dari luar maupun dalam, yaitu umur, jenis kelamin, aktivitas tubuh,
suhu tubuh, dan posisi tubuh. Makin banyak organ tubuh yang bekerja dan makin
berat kerja organ tersebut, makin tinggi kebutuhan energi yang diperlukan,
sehingga laju metabolism dan irama pernapasan semakin cepat.

DAFTAR PUSTAKA
Sonjaya, Herry. 2012. Dasar Fisiologi Ternak. IPB Pres: Bogor.
Sloane, E. 2003. Anatomi dan Fisiologi. EGC: Jakarta.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Proyek Pengembangan Guru Sekolah
Menengah IBRD Loan No. 3979: Jakarta.
Supripto. 1998. Fisiologi Hewan. Penerbit ITB :Bandung.
Waluyo, Joko.2010. Biologi Umum. Jember Universiy Press: Jember.
Wheeler, L. 2000. Jendela IPTEK Tubuh Manusia. Balai Pustaka: Jakarta.
Wulangi, K.S. 1994. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Depdikbud : Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai