Anda di halaman 1dari 10

Nama :Grace Fitriana P.

H Koibur
NIM :200852030
Kelompok 9

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2008

BAB ENAM
MENGEMBANGKAN SUARA HATI
1. Bersedia Untuk Bersifat Moral
Kesatuan Pendapat moral sering tidak tercapai biasanya disebabkan oleh 3 hal.
Penyebab pertama ialah masalah yang dihadapi. Perselisihan paham terjadi
karena tidak mrmpunyai pengetahuan dan informasi yang sama tentang suatu
masalah atau mempumpnyai pandangan ilmiah yang berbeda. Sehingga
perbedaan penilaian moral timbl karena masalah yang akan dinilai dipandang
secara berbeda.
Penyebab kedua ialah melakuan pendekatan masalah yang dihadapi secara
emosional atau dari segi kepentingan pribadi, tidak secara rasional dan obyektif.
Penyebab ketiga ialah karena seseorang memang sengaja tidak bersedia untuk
bertindak sesuai moral yaitu bertindak, baik, jujur dan adil. Yang diinginkan
hanyalah mengejar kepentingan pribadi dan tidak pernah memikirkan kepentingan
umum. Sulit sekali mencapai kesauan pengertian moral dengan mereka yang
bertindak seperti ini.
Jadi usaha untuk mencapai kesatuan pendapat moral hanya bisa tercapai jika
beberapa syarat terpenuhi, antara lain:

Semua pihak harus dalam keadaan bebas dari tekanan dan paksaan

Tidak berusaha mencari kepentingan pribadi

Tidak berat sebelah dalam mencari kewajiban moral

Bertindak sesuai prinsip yang berlaku untuk umum meskipn bertentangan


dengan kepentingan pribadi

Memiliki pengetahuan teoritis dan seluruh informasi mengenai setiap


masalah yang dihadapi

Usaha pencapaian pendapat moral dengan syarat tersebut tidak bisa dicapai oleh
semabarang orang, hanya orang yang memiliki kepribadian yang matang dan kuat
yang dapat mencapainya.
2. Mengasah Pengertian Moral Kita
a. Mendidik Suara Hati
Suara hati harus dididik karena suara hati seseorang sangat dipengaruhi oleh
perasaan moral (superego) yang terbentuk oleh pengaruh pendidikan formal &
informal yang telah terima sesuai dengan pandangan-pandangan moral
lingkungan. Dengan mendidik suara hati, dapat membantu membebaskan kita
dari prasangka-prasangka yang berkembang dilingkungan sehingga dapat
menilainya secara kritis.
Mendidik suara hati berarti kita terus menerus bersikap terbuka, mau belajar,
mau mengerti tentang semua selyk beluk masalah yang kita hadapi serta mau
memahapi pertimbangan-pertimbangan etis yang tepat mengenai masalah itu.
b. Suara Hati dan Suara Tuhan
Suara hati dan suara Tuhan tidaklah sama, meskipun seringkali dianggap sama
oleh beberapa orang. Suara hati bisa keliru sedangkan suara Tuhan tidak
pernah keliru. Suara hati mencerminkan segala pengertian dan prasangka kita
sendiri sehingga jelas merupakan suara kita sendiri. Menurut John Henry
Newman (1801-1890), suara hati dipandang sebagai jalan ang paling teoat
untuk memahami bahwa ada Tuhan. Jadi suara hati itu tidak sama dengan
suara Tuhan.
c. Tentang Nasihat Moral dan Tradisi
Dalam pembentukan penilaian moral, kita memerlukan nasihat. Kita harus
berdialog dengan orang yang bijaksana karena tanpa kebijaksanaan penilaian
moral tidak akan tercapai. Dalam tradisi lama tersimpan kebijaksanaan dan
pengalaman sebuah masyarakat sejak sekian banyak generasi. Tradisi memang
tidak seluruhnya memadai lagi sebagai landasan setiap pemecahan masalah di

zaman modern tetapi banyak masalah yang kita hadapi sebenarnya merupakan
masalah abadi kehidupan manusia. Maka jangan meremehkan tradisi. Salah
satu sikap kebribadian

oral yang matang adalah mengakui keterbatasan

kecerdasan diri sendiri dan kemudian mencari nasihat dari orang lain.
3. Tekad Moral
a. Sepi ing Pamrih atau kemurnian hati
Manusia yang bebas dari pamrih tidak perlu lagi gelisah dan prihatin tentang
dirinya sendiri, ia semakin bebas dari nafsu yang ingin memilikinya karena ia
mampu mengontrol nafsu dan emosinya. Sebaliknya ia sanggup memenuhi
kewajiban dan tanggung jawab yang telah menantinya.
b. Rasa
Rasa atau perasaan membantu kita untuk mampu mendengarkan suara hati,
agar dapat mengarahkan diri pada tanggung jawab kita sebagai manusia.
Dalam filsafat Jawa, yang disebut rasa ialah sikap dasar moral seseorang itu
sendiri. Orang yang mencapai rasa yang mendalam maka ia sanggup bertindak
sesuai tanggung jawab yang diembannya.
4. Penentuan Diri Manusia
a. Keputusan-keputusan Sehari-hari
Manusia adalah makhluk yang terbagi dalam ruang dan waktu sehingga
setiap keputusan yang telah diambil tidak mudah untuk ditari kembali.
Sehingga setiap keputusan hendaknya dipertimbangan dengan sungguhsungguh sehingga menjadi suatu keputusan yang benar yang akan diambil.
Hanya orang yang sedemikian kuat sikap jujur dan tanggung jawab yang
mampu mengambil keputusan secara tepat.

b. Sikap Dasar

Semakin

tegas kita mengambil sikap-sikap baik, semakin arah dasar

hidup kita terwujud, dan semakin arah dasar hidup kita terwujud, semakin
mudah kita mengambil sikap-sikap baik selanjutnya. Namun, selama
manusia hidup, sikap dasar belum jadi seratus persen. Walau semakin pasti
arah hidupnya, kepastian seratus persen hanya dapat tercapai ketika
manusia itu mati.
c. Kematian Manusia
Menurut filsafat, manusia dapat menentukan dirinya sendiri dengan
seratus persen hingga pasti dan definitive untuk selama-lamanya jika
memenuhi beberapa persyaratan yaitu:

Apabila ia tidak lagi terpecah-pecah hanya mengitari inti


pribadinya saja

Apabila ia menjadi sama sekali bebas, sama sekali mencapai


pusat kepribadiannya sendiri, sama sekal menguasai diri
sehingga

dapat

menentukan

diri

seutuh-utuhnya

dalam

penyerahan tanpa batas seluruh diri

Apabila ia mencapai identitsnya yang sepenuhnya dengan dirinya


sendiri

Apabila semua barang di dunia ini menjadi tembus cahaya


terhadap arti mutlak yang ada di dalamnya

Apabila seutuhya ia berhadpan dengan Yang Mutlak.

tetapi sayang syarat seperti diatas tidak mungkin terpenuhi selama


manusia itu masih hidup, tetapi hanya bisa dicapai ketika manusia itu
mencapai saat kematian. Bukan sesudah manusia itu mati tetapi tepat
sewaktu manusia itu mati. Saat kematian adalah saat dimana kita sungguhsungguh meinggalkan apa saja yang ada di dunia ini, sekaligus menjadi
saat dimana keterpecahan kita selesai , dimana kita berkumpul seakan
dalam satu titik mutlak, dimana sekaligus kemutlakan seluruh realitas
menyatakan diri, sehinga diri kita sekaligus seutuhnya dan oleh karena itu,
secara

definitive

berhadapan

dengan

kemutlakan

yang

bernilai

menyeluruh dan harus mengambil sikap dimana segala keterbatasan,


kekaburan , keterpisahan baik dari pihak kita mau[in dari pihak realitas
yang kita hadapi itu hilang, sehingga sikap yang kita ambil waktu itu
adalah sikap kita yang seutuhnya.
5. Pertimbangan Tambahan : Suara Hati dan Superego
a. Struktur Kesadaran Manusia Menurut Freud
Freud mengidentifikasikan unsure-unsur utama kesadaran manusia
sebagai, Id, Ego dan Superego. Dengan Id adalah kecondongan irrasional
yang muncul ke dalam diri kita dengan tuntutan-tuntutan mereka: nafsu,
naluri dan insting, kebutuhan dan keingingan-keinginan spontan, seperti
lapar dan haus, dorongan seksual, dan sebagainya. Superego adalah
perasaan bersalah yang kiata rasakan bila kita melekukan pelanggaran.
Sedangkan Ego adalah aku yang dan keinginan kita. Pusat kedirian kita
adalah Ego.
Ego selalu bertindak berhadapan dengan dorongan dari Id dan ancaman
dari relitas luar, dan superego yang menegur kalau dalam bereaksi
terhadap Id dan realitas luar Ego tidak bertindak sesuai semestinya.
b. Superego
Superego dalam arti yang sesungguhnya ialah perasaan bersalah yang
otomatis, jadi tidak berdasarkan pertimbangan dulu. Di sini Superego
bertindak sebagai seorang sensor atau pengawas terhadap diri kita (ego).
Supergo terbentuk tergantung pendidikan seseorang ketika ia masih kecil.
Mula-mula anak kecil belum dapat merasa bersalah. Tetapi seiring dengan
berjalannya waktu sesuai dengan pengarahan dan didikan orang tuanya
superegonya mulai terbentuk dengan sendirinya.

c. Superego dan Suara Hati

Suara hati berbicara karena mengerti hal yang secara obyktif merupakan
tanggung jawab dan bahwa bertindak sesuai tanggung jawab dan
kewajiban obyektif merupakan tindakan yang bernilai bagus. Unsure
pengertian yang disertai faham tentang nilai tindakan yang diharuskan
itulah

yang

khas

dari

suara

hati.

Sedangkan

superego

hanya

menekan,mengerem, menegur, tidak menpedulikan tepat tidaknya


tindakan dari sudut tanggung jawab.
Suara hati adalah kemampuan Ego. Suatu bentuk pengertian, dan
pengertian sendiri merupakan kemampuan ego, bukan superego. Superego
menyediakan orientasi kuat bagi suara hati, disertai daya kuat untuk
menertibkan ego agar tidak mudah menyeleweng dari kewajibannya.
Tetapi superego yang sering bertindak otomatis penilaiannya tidak boleh
dterima begitu saja.
d. Kesadaran Moral yang Dewasa.
Kesadaran moral yang dewasa adalah kesadaran moral yang ditentukan
oleh kesadaran nilai Ego. Seseorang dapat mencapai kesadaran ini tidak
hanya tergantung pada bakatnya melainkan juga tergantung pada
pendidikan yang telah diterimanya.

BAB TUJUH

TOLOK UKUR PERTANGGUNGJAWABAN MORAL


1.

Pengantar Permasalahan
Ada dua salah paham tentang tugas etika normative yang harus dicegah.
Yang pertama, mencari norma moral secara langsung dan konkret dapat dipergunakan
dalam kehidupan sehari-hari bukanlah tugas dari etika umum tetapi tugas dari etika
khusus. Etika umum bertugas untuk mencari prinsip-prinsip yang paling mendasar
yang mendasari semua norma moral yang lebih konkret.
Yang kedua, etika adalah ilmu yang reflektif dan kritis yang tidak bertugas untuk
memasang norma-norma karena dan pandangan moral dengan sendirinya sudah
terdapat dalam masyarakat. Yang menjadi tujuan etika normative adalah mencari
prinsip dasar yang memungkinkan kita menghadapi pandangan-pandangan normative
moral yang terdapat yang terdapat dalam masyarakat atau yang diperjuangkan oleh
pelbagai ideology secara rasionla dan kritis. Atau dengan kata lain kita mencari-cari
norma dasar untuk menilai dengan kritis norma-norma moral yang sudah beredar.
Dengan demikian dengan menggunakan pendekatan akan kritis negative, kita tinggal
merumuskan unsure-unsur mana saja yang telah memperlihatkan diri sebagai hakiki
bagi segenap tuntutan moral. Unsure-unsur itulah prinsip-prinsip moral dasar.

2.

Jawaban-jawaban Yang Tidak Memadai


Bagaimana kita dapat mengetahui sikap-sikap dan tindakan-tindakan mana yang
seharusnya kita ambil kalau kita mau bertanggung jawab secara moral?
Ada beberapa jawaban-jawaban yang kita tolak karena bertentangan dengan
kesardaran moral, antara lain yang berbunyi : Sesuaikan diri dengan norma-norma
masyarakat. Jawaban ini tidak mencukupi dengan alasan karena norma masyarakat
sendiri belum tentu dapat dibenarkan. Masyarakat bisa betul tapi bisa pula keliru.
Maka norma masyarakat tidka mungkin menyediakan orientasi yang terakhir. Etika
normatiflah yang merupakan alat kritis untuk mempersoalkan norma-norma yang
begitu saja diterima dalam suatu masyarakat.

Jawaban yang tidak memadai yang lain ialah : ikutilah saja selalu suara hatimu.
Jawaban in juga kurang memadai karena suara hati seseorang juga belum tentu selalu
benar. Karena itu suara hati perlu dididik. Dan untuk mendidiknya memerlukan
prinsip-prinsip obyektif.
3.

Etika Wahyu
Agama memberikan bimbingan dan motivasi kuat kepada kita, tetapi kita tetap harus
mempergunakan akal budi kita untuk memahami apa yang dituntut dari kita secara
moral. Karena orang beragama belum tentu bermoralitas tinggi, kembali tergantung
pada pribadi orang tersebut, apakah ia mau menjalankan normal yang talah diajarkan
oleh agamanya atau tidak.

4.

Etika Peraturan
Etika peraturan adalah etika yang melihat hakikat moralitas dalam ketaatan terhadap
sejumlah peraturan. Etika peraturan tidak mampu untuk mempertanggungjabakan
dirinya sendiri dan sekaligus mematika kemampuan untuk bertanggung jawab.
Karena etika peraturan tidak menghubungkan peraturan-peraturan dengan nilai-nilai
yang mendasari mereka, peraturan itu sendiri yang menjadi ini moralitas.

5.

Etika Situasi
Etika situasi adalah sebuah pendekatan dan teori dalam etika yang sangat dipengaruhi
oleh filsafat eksistensialisme dan personalisme. Etika situasi adalah lawan ekstrem
dari etika peraturan. Kalau etika peraturan menyingkirkan paham tanggung jawab dan
membawahkan manusia terhadap suatu system peraturan yang kaku sebaliknya etika
situasi menolak adanya peraturan dan norma-norma moral yang berlaku di manamana dan bagi siapa saja dan mengembalikan moralitas pada tanggung jawab
individual masing-masing orang berdasarkan panggilan unik setiap situasi.

6.

Relativisme Moral
Menurut relativisme, norma moral hanya berlaku relative terhadap lingkungan atau
wilayah tertentu. Maka menurut relativisme percuma kita mencari tolok ukur umum

bagi kelakuan moral manusia, karena tolok ukur itu di mana-mana berbeda adanya.
Relativieme moral terbatas atau moderat memang harus diterima. Yang dulu sudah
kita lihat, dibenarkan juga oleh etnologi dan antropologi: norma moral konkret hanya
berlaku relative, tidak universal dan tidak mutlak. Kiranya hidup manusia selalu
berdasarkan pada paham-paham dasar moral yang sama.