Anda di halaman 1dari 26

BAB III

KONDISI WILAYAH UMUM

3.1 Lokasi Fieldtrip


Lokasi fieltrip yang diambil terletak lebih kurang 18 km sebelah utara kota
Batu tepatnya di Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Ketinggian : 1.500 m (dpl) dengan curah hujan rata-rata : 2.500 mm/thn dan
bertemperatur rata-rata : 10,22 o C. Tanaman yang dibudidayakan antara lain
kentang, wortel, kubis, dan paprika.
3.2 Latar Belakang Petani
Bapak Mashudi merupakan salah satu petani di Dukuh Sumber Brantas.
Beliau selama merupakan sekretaris Gapoktan Dasmoro 4. Belaiu memiliki lahan
sebesar 5 ha, dengan sawah sebesar 0,5 ha, tegal 4 ha, dan pekarangan 0,5 ha.
Setiap kali produksi beliau mengeluarkan modal sebesar 60 juta rupiah dan
menghasilkan laba bersih sebesar 40 juta rupiah.
Beliau selama ini bercocok tanam kentang, kubis, wortel, brokoli, kubis,
sawi putih, dan paprika. Beliau merupakan spesialis hidroponik. Komoditas
tanaman yang mendominasi lahan Bapak Mashudi adalah kentang. Kentang
sendiri merupakan tanaman monokultur. Sedangkan, cabe besar, bawang, kubis,
dan paprika merupakan tanaman tumpang sari yang ditanaman beliau.
3.3 Sejarah Penggunaan Lahan
Lokasi fieldtrip yang luas totalnya adalah 5 ha tersebut awalnya pada
sekitar tahun 1800-an merupakan hutan belukar yang belum terjamah oleh
manusia, kemudian pada tahun 1990-an dibuatlah lahan persawahan dengan cara
membuka hutan. Setelah tahun 1992 baru dibentuklah lahan untuk sistem
pertanian, itupun belum sistem organik, masih dengan pengolahan sistem
konvensional. Seiring dengan perkembangan zaman dan sumber daya manusia
yang semakin maju pada tahun 1992 lahan tersebut menjadi lahan pertanian

organik sampai sekarang. lahan pertanian disana memang sudah ditanami dengan
komoditas yang mendominasi adalah tanaman sayuran seperti kentang, karena
keadaan disana sangat mendukung baik dari jenis tanah, suhu, pengairan dan
radiasi matahari.
Pada awalnya pelopor pertanian organik yang berasal dari Sumber Brantas
ini dianggap gila, karena banyak petani yang masih menggap atau berfikir bahwa
bahan kimia lah salah satu pupuk yang menjadikan hasil panen lahan pertanian itu
sendiri manjadi baik. Akan tetapi Pak Masuhudi berfikir untuk menjadikan bahan
organik sebagai salah satu bahan yang harus dimasukkan kedalam lahan
pertanian. Dan ini membuat lahan pertanian yang dikelola oleh Pak Mashudi
berkembang dari tahun ke tahun, dan menjadikannya sebagai acuan atau panutan
bagi para petani lain yang berada di sekitarnya.
3.4 Penggunaaan Lahan
Pemanfaatan lahan untuk membantu bagi kebutuhan manusia perlu
pengolahan yang lebih lanjut. Penggunaan lahan (major kind of line use) sendiri
menurut Lutfi Rayes (2007 : 162) adalah penggolongan penggunaan lahan secara
umum seperti pertanian tadah hujan, pertanian beririgasi, padang rumput,
kehutanan atau daerah rekreasi.
Pengertian penggunaan lahan dikemukakan oleh Arsyad (1989 : 207),
Penggunaan lahan (land use ) dalah setiap bentuk intervensi (campur tangan )
manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materil
maupun spiritual.
Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam golongan besar yaitu
penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan non pertanian. Penggunaan
lahan dibedakan dalam garis besar penggunaan berdasar atas penyediaan air dan
komoditas yang diusahakan, dimanfaatkan atau yang terdapat diatas lahan
tersebut. Berdasarkan hal ini dapat dikenal macam macam penggunaan lahan
seperti tegalan, sawah, kebun, hutan produksi, hutan lindung, an lain lain.
Sedangkan enggunaan lahan bukan pertanian dapat dbedakan menjadi lahan
permukiman, industri dll.

10

(Susino, 2007)
Penggunaan lahan di Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu,
berdasarkan macam macam lahan yaitu ada tegalan dengan luas lahan sebanyak
empat hektar, lahan sawah seluas setengah kektar, dan lahan pekarangan seluas
setengah hektar.
Pola penggunaan lahan dataran tinggi :

Untuk pola penggunaan lahan di Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan


Bumiaji, Kota Batu adalah pola pertanian dengan jenis tanaman
monokultur ( tegal ) berupa kentang, wortel, sawi putih, dan paprika,
untuk persawahan ditanami cabai, bawang, dan sawi putih,

3.4.1 Jenis Penggunaan Lahan


Penggunaan lahan pada area pertanian yang diamati di di
Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dibagi menjadi
tiga, yaitu area persawahan yang notabene merupakan sistem
monokultur seluas 1/2 hektar. Daerah persawahan di Desa ini
menggunakan metode tumpangsari, yang mana dalam satu petak
terdapat tanaman cabai yang disisipi dengan tanaman baawang, kubis
dan/ atau sawi putih. Pada budidaya tanaman cabai ini petani
menggunakan mulsa plastik (sintetis),yang sebelumnya petani pernah
menggunakan mulsa organik namun sekarang sudah bralih mnggunakan
mulsa plastik. Alasan petani menggunakan mulsa plastik adalah lebih
efisien dalam biaya, efisien waktu, dan meminimalisir timbulnya
gulma. Pada metode tumpangsari ini tidak menggunakan, di area
tersebut tidak mengalami berbagai masalah tentang peledakan hama,
karena penggunaan sistem pengolahan pertanian yang organik.
Yang kedua merupakan area pekarangan, lahan seluas 1/2 ha,
Yang ketiga merupakan area tegal seluas 4 ha, area tegal tersebut
menggunakan sistem monokultur, dimana yang di tanami di tegal

11

adalah tanaman kentang. Pada area tegal ini terdapat pola tanam rotasi
tanam dan jenis tanamanyang dibudidayakan adalah kentang, worte
dan sawi putih. Disekitar lahan digunakan tanaman pagar perbatasan,
jenis tanaman yang digunakan adalah rumput gajah dan langan. Fungsi
tanama ini yaitu melindungi tanaman budidaya dari serangan hama
yang dapat merugikan petani. Untuk bibit yang di gunakan dalam
budidaya, petani setmpat memiliki strategi dengan membli karena
untuk bibit hibrida dan tidak itu sama saja paparan dari petani.
3.4.2 Sistem Budidaya
Dataran tinggi merupakaan salah satu wilayah yang baik untuk
pertumbuhan tanaman tertentu. Sehingga pada daerah ini sistem
budidaya yang digunakan oleh para petani biasanya dengan penanaman
sayuran secara tumpangsari, seperti wortel dengan kubis dan banyak
kombinasi tumpangsari lainnya. Tujuan dilakukannya tumpang sari
yaitu untuk mendapatkan komoditas yang lebih banyak dan beragam.
Karena di dataran tinggi daerah yang lebih sering terjadi hujan maka
sistem penanamannya adalah dengan pola tumpang sari.
(Efendi, 2013)
3.4.3 Tanaman Budidaya
Pada daerah dataran tinggi tanaman yang sering ditanam
adalah jenis hidroponik, sayuran seperti; kubis, wortel, dan kentang.
Pada umumnya di daerah dataran tinggi bagus untuk pertanian.
Khususnya pada tanaman sayur-sayuran, ubi-ubian, dan tanaman
palawija lainnya.
(Asraf, 2012)

12

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hama yang ditemukan + dokumentasi + perbandingan literatur
Hama yang ditemukan
Ciri
1. Kutu Daun
(Aphid sp.)
Tubuh pipih
Ukuran sangat kecil

Gejala dan Tanda

Daun menggulung atau


melekuk
Daun berwarna kekuningan
(Betha, 2012)

Tipe mulut penghisap


Antena panjang
Memilki 3 pasang tungkai
(Betha, 2012)

2. Ulat tanah (Agrotis


Epsilon sp)

Berwarna hitam,
berbintik-bintik atau garisgaris sepanjang tubuhnya
Tubuhnya lunak dan liat

Panjang tubuh 2-5 cm

Aktif merusak dan


bergerak pada malam hari
(Suwandi,2010)

13

Dedaunan dan tunas mudanya


tampak berlubang tak
beraturan
Ulat-ulat dewasa memangsa
pangkal tanaman, terutama
tanaman muda
Pada musim kemarau daerah
serangan meluas dengan cepat
(Suwandi,2010)

3. Lalat daun
( Liriomyza
huidobrensis)

4. Kumbang tanah
(Calosoma sp.)

Memiliki sayap
depan
yang keras menanduk,
sayap
belakangnya
membraneus dan melipat
saat tidak digunakan.
Bentuk tubuh bulat, oval,
oval memanjang, ramping
memanjang, atau pipih.
Mulutnya
bertipe
penggigit dan pengunyah,
tarsi selalu 3-5 ruas.
(Pracaya,2005)
Berukuran sangat kecil

dan lembut(1 mm).


Ketika muda berwarna

5. Hama Thrips
(Thrips sp)

Berwarna putih
Mata berwarna kemerahmerahan
Dada dan perut berwarna
hitam dan kuning
(Setijo,2004)

kuning dan dewasa

Timbulnya lubang bekas


tusukan pada permukaan atas
daun
(Setijo,2004)

Pucuk batang atau daun yang belum


terbuka dirusak, sehingga pada saat
daun

membuka,

potongan yang

terlihat

bekas

simetris berbentuk

segitiga atau seperti huruf V.

(Pracaya,2005)

Daun

berwarna

keperakan

bekas

tusukan,

kemudian

berubah menjadi kecokelatan.


Daun yang cairannya diisap

kecokelatan dengan

menjadi

kepala hitam.
(Pracaya,2005)

melengkung keatas.
Daun mengering.
(Pracaya,2005)

14

keriput

dan

6. Ulat Daun
(Spodoptera sp)

Tidak berbulu
Biasanya berwarna putih
(Dewinur, 2012)

Ulat menyerang daun hingga


habis daunnya. Memakan daun
dari bagian tepi kemudian ke
bagian atas maupun bawah
daun. Pada tingkat serangan
yang

parah

daun

hanya

tertinggal epidermisnya saja.


Sehingga daun menjadi tidak
berfungsi

sebagai

fotosintesis,
pertumbuhan

tempat
akibatnya

tanaman

yang

diserangnya menjadi terhambat


dan menurun.
(Dewinur, 2012)
4.1.2 Penyakit yang ditemukan + dokumentasi + perbandingan literatur
No
.
1.

Penyakit yang ditemukan


Hawar pada daun kentang
(Phytoptera infestans)

Perbandingan Literature
Ciri-ciri
Gejala dan Tanda
Bercak-bercak coklat Bercak-bercak
pada
kehitaman.
ujung
dan
tepi
(Tjahjadi,2002)
daunnya yang dapat
meluas kebawah serta
mematikan
seluruh
daun dalam waktu
sampai 4 hari.
(Tjahjadi,2002)

4.1.3 Pengaruh Hama dan Penyakit Terhadap Produksi Komoditas


Pengaruh hama dan penyakit sangat besar dalam mempengaruhi produksi
komoditas kentang yang dibudidayakan. Semakin banyak organisme pengganggu
tanaman yang tidak lain adalah hama dan penyakit maka produksi yang
dihasilakan daripada komoditas semakin turun.

15

4.1.4 Musuh Alami yang ditemukan + dokumentasi


No
.
1.

2.

Musuh alami yang


ditemukan
Kumbang kubah spot

Diadekma

Perbandingan Literature
Ciri-ciri
Peran
Tubuh lebar, oval bulat Sebagai predator
Antena pendek
daun (Aphid sp)
Tubuh terdiri dari 3-6
tanaman kentang
ruas
Berwarna cerah
(Program Nasional
PHT, 1991)

Memakan ulat daun

Berwarna hitam
Sayap transparan dan
tipis
Dapat menyerang 50
ekor larva
Siklus hidup dari telurimago 17-21 hari
(Program Nasional
PHT, 1991)

pada

Sebagai musuh alami


dan parasitoid

4.2 Pengendalian yang dilakukan oleh petani


4.2.1 Pengendalian terhadap Populasi Hama dan Penyakit
4.2.1.1 Pengendalian secara Biologi
Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan menggunakan
musuh alami sebagai pengendali hama pada lahan budidaya. Musuh alami
yang digunakan oleh petani tanaman kentang di Sumber brantas yaitu
deadekma yang digunakan untuk mengendalikan ulat tanah yang memakan
batang tanaman kentang dan juga kumbang merah merupakan musuh
alami dari kutu daun (Aphid sp) yang memakan daun tanaman kentang.

16

kutu

4.2.1.2 Pengendalian secara Mekanis


Pengendalian mekanis dapat dilakukan dengan bantuan alat oleh
manusia untuk mengendaliakan hama. Petani kentang dalam hal ini
menggunakan lay traps atau jaring untuk menangkap atau menjebak ulat
tanah dan alat perangkap yang berwarna biru dan kuning untuk hama yang
terbang seperti lalat daun.
4.2.1.3 Pengendalian secara Fisik
Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan mengubah atau
menggunakan faktor lingkungan fisik sedemikian rupa sehingga dapat
menurunkan dan mengurangi populasi dari hama dan penyakit yang
menyerang

tanaman

kentang.

Pengendalian

fisik

dapat

berupa

mengumpulkan larva, memotong bagian tanaman yang terserang hama dan


penyakit dan mengosongkan lahan untuk tidak ditanami. Pada hasil
kunjungan lapang di daerah sumber brantas para petani menggunakan
pembatas yang berada diluar lahan. Pembatas tersebut berasal dari
tumbuhan seperti langon dan rumput gajah yang sengaja dibiarkan supaya
hama dan penyakit tidak mengganggu pertumbuhan tanaman kentang.
4.2.1.4 Pengendalian secara Kimia
Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan
bahan-bahan kimia atau senyawa-senyawa kimia, seperti pestisida dan
sejenisnya. Petani budidaya kentang di daerah sumber brantas melakukan
pengendalian

secara

kimia

dengan

menggunakan

fungisida

(mengendaliakan jamur), pestisida (mengendalikan hama dan penyakit),


insektisida (mengendalikan serangga) dan herbisida (mengendalikan
gulma pengganggu). Jenis dan dosis yang digunakan berbeda-beda
disesuaikan dengan luas lahan dan kendala pada saat itu. Untuk
penggunaan fungisida pada lahan seluas satu hektar (1 ha) membutuhkan
1000 liter fungisida.

17

4.2.2 Pengolahan tanah (faktor edafik) + dampak


Pengolahan tanah yang dilakukan petani sama seperti biasa, seperti
pada pertanian konvensional, yaitu dengan menggunakan rotari (mesin)
seperti bajak dan alat lainnya. Total lahan yang digunakan petani adalah 5 hektar.
Pengolahan tanah yang dilakukan petani dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan
menggunakan bantuan manusia dan rotary (mesin). Tetapi mayoritas petani
melakukan pengolahan lahan sendiri karena sangat bermanfaat untuk kesuburan
tanah dan juga untuk mengetahui hama yang berada didalam tanah sehingga hama
tersebut terlihat oleh sinar matahari dan membuat hama tersebut berpindah ke tempat
lain.

4.2.3 Pemanfaatan Musuh Alami + dampak


Musuh alami dimanfaatkan atau didayagunakan untuk mengendalikan
OPT, terutama hama. Keberadaan musuh alami dilestarikan dengan cara
membiarkan rumput-rumput tumbuh di lahan dan petani selalu berhati-hati
agar tidak membunuh musuh alami. Musuh alami yang ada di lahan
perkebunan di Dusun Jurang Kwali desa Sumber Brantas kecamatan Cangar,
Batu antara lain: deadekma dan kumbang merah. Keberadaan musuh alami
tersebut dapat membantu petani dalam mengendalikan serangan hama.
4.2.4 Penggunaan Pestisida + dampak
Pada lahan kentang garapan Pak Mashudi, beliau menggunakan
insektisida dan fungisida. Insektisida yang berfungsi untuk mengurangi
jumlah lalat daun dan aphid, sedangkan untuk fungisida untuk mengurangi
jumlah

jamur

yang

menyerang

tanaman

kentang.

Fungisida

akan

disemprotkan apabila jumlah jamur yang menyerang sudah di ambang batas


ekonomi.
Dampak positif dari insektisida :
1. Mudah di dapatkan di berbagai tempat

18

2. Zatnya lebih cepat bereaksi pada tanaman yang di beri pestisida


3. Kemasan lebih praktis
4. Bersifat tahan lama untuk disimpan
5. Daya racunnya tinggi ( langsung mematikan bagi serangga
Dampak negative dari insektisida :
1)

Punahnya Spesies

2)

Peledakan Hama

3)

Gangguan Keseimbangan lingkungan

4)

Kesuburan Tanah Berkurang

Dampak positif dari fungisida :


1. membasmi jamur yang menyerang tanaman baik pada akar, batang
ataupun daun.
2. mengendalikan serangan akar gada pada tanaman
3. efektif mengatasi Phytophtora (infestan)
4. dapat diformulasikan dalam bentuk butiran yang mudah larut dalam air
5. Harganya lebih murah tapi kualitasnya lebih bagus
Daftar negative dari fungisida :
1. meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun
pada aliran air.
2. Tidak aman bagi manusia dan hewan piaraan.
3. menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman.

19

4.2.5 Penggunaan Variets Tahan + Dampak


Bapak Mashudi untuk pengendalian OPT pada tanaman kentangnya
menggunakan bibit kentang yang dibuat sendiri karena saat di lapang kualitas
yang menggunakan bibit hibrida dengan yang dibuat sendiri lebih tahan yang
membuat sendiri bibit kentangnya.
Dampak negatif varietas tahan :
1. Waktu dan biaya pengembangan yang besar
2. Keterbatasan sumber ketahanan
3. Timbulnya biotipe hama
4. Sifat ketahanan yang berlawanan
Dampak positif varietas tahan :
1.

Penggunaan

praktis

dan

secara

ekonomi

menguntungkan
2. Sasaran pengendalian yang spesifik
3.

Evektifitas pengendalian bersifat komulatif dan


persisten

4. Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya


5. Dampak negative terhadap lingkungan terbatas
4.3 Pembahasan
Pada area lahan pengamatan yang dilakukan di Desa Sumber
Brantas, Kecamatan Cangar, Batu pada tanggal 11 Mei 2013, komoditas yang
di budidayakan oleh kelompok tani Bapak Mashudi adalah tanaman kentang.
Beliau merupakan anggota kelompok tani Anjasmoro 4 yang menjabat
sebagai sekretaris.
Untuk pengolahan tanah lahan pertanian tersebut dilakukan sama
dengan yang di perlakukan pada dengan tanah konvensional, yaitu dengan
menggunakan tenaga manusia dan rotari (mesin). Pengolahan tanah dilakukan

20

dengan membuat bedengan dengan jarak 70 cm antar bedeng dan jarak antar
tanaman sekitar.
Jenis pupuk yang digunakan oleh Bapak Mashudi adalah pupuk
organik dan pupuk sintesis. Pupuk organik yang digunakan oleh Bapak
Mashudi yaitu pupuk kandang dari kotoran ayam, kambing, dan sapi. Akan
tetapi penggunaan pupuk didominasi dengan kotoran ayam karena banyak
terdapat di daerah tersebut dan kotoran kambing tidak lebih dari 30%. Untuk
pupuk sintesis atau kimia beliau menggunakan SP 36, ZK, UREA, dan NPK.
Dalam budidaya tanaman kentang petani menggunakan mulsa sintesis
yaitu mulsa plastik, tujuannya untuk menghalau serangan hama pada tanaman
kentang. Penggunaan mulsa organik atau jerami menurut Bapak Mashudi
tidak efektif karena biaya yang dikeluarkan lebih mahal daripada
menggunakan mulsa sintesis atau plastik. Tidak hanya menggunakan mulsa
saja, petani juga menggunakan tanaman pagar untuk menghalau serangan
hama yaitu menggunakan rumput gajah dan langon juga sebagai pembatas
lahan.
Pola penggunaan lahan setempat yaitu dengan sistem monokultur
untuk budidaya tanaman kentang. Metode lain yang digunakan di lahan beliau
yaitu tumpang sari dimana komoditas yang dibudidayakan seperti cabai besar,
bawang merah, kubis, dan sawi. Cabai besar adalah tanaman utamanya karena
umurnya yang panjang. Rotasi tanaman atau pergiliran tanaman dengan
menanam kentang wortel kubis, untuk satu hektarnya produksi yang
dihasilkan mencapai 15-20 ton kentang.
Dari hasil pengamatan, ditemukan Organisme Penggangu Tanaman
(OPT) yaitu antara lain Aphid sp, trips, lalat daun, ulat tanah dan kumbang
tanah. Namun dikatakan bahwa OPT tersebut masih dapat dikendalikan,
dengan mengoptimalkan peranan musuh alami yang ada, seperti diadekma
dan kumbang kubah spot. Keberadaan organisme penggangu tanaman (OPT)
dan musuh alami yang ada di lahan dikatakan seimbang karena terjaganya
komunitas tanaman dan hewan yang berhubungan dengan lingkungan (baik
fisik maupun kimia) pertanian yang diubah oleh manusia dan bersifat
berkelanjutan, sehingga tanaman budidaya tumbuh sehat. Selain organisme

21

yang ditemukan tersebut dalam pengamatan dilahan juga ditemukan gulma


tanaman budidaya yaitu rumput teki dan semanggiyang jumlahnya sedikit
sehingga tidak terlalu berpengaruh pada tumbuh kembang tanaman kentang.
Keberadaan gulma tidak terlalu mempengaruhi tanaman kentang asalkan
gulam tersebut tidak sampai menutupi tanaman budidaya. Penyebab daun
gosong atau terkena hawar daun karena jamur.
Untuk pengendalian OPT yang ada (hama dan penyakit), petani
melakukan pemantauan pada lahan budidaya setiap hari dan pemberian
pestisida dilakukan 3 hari sekali.
1. Pengendalian biologis yang dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami
misalnya yang di katakan Bapak Suroto memanfaatkan kumbang kubah
spot untuk mengendalikan kutu daun (Aphid sp) dan diadekma untuk
mengendalikan ulat tanah yang menyerang tanaman budidayanya. Selain
itu Bapak Suroto juga memanfaatkan rumput-rumputan seperti rumput
gajah dan langon untuk mengendalikan hama dan sebagai pembatas lahan.
2. Pengendalian mekanis yang dilakukan dengan pengambilan secara
langsung apabila saat pemantaun ditemukan hama tersebut selain itu
dengan menggunakan metode lay trap untuk menangkap ulat dan
perangkap kuning dan biru untuk menangkap kumbang daun.
3. Pengendalian kimia, dikatakan di area lahan kentang yang dibudidayakan
oleh kelompok tani daerah setempat dengan penggunaan pestisida kimia
atau sintesis. Pestisida yang digunakan meliputi NPK, ZK, UREA, dan SP
36. Pemberian pestisida dilakukan setiap 3 hari sekali.
4. Pengendalian kultur, yaitu dengan menggunakan rotasi tanam. Dalam satu
kali rotasi masa tanam di tanami kentang wortel - kubis. Penanam
tanaman secara bergulir di suatu lahan pertanian tersebut ditanam secara
berselang seling untuk memberikan waktu pada tanah mengembalikan
kesuburannya. Pada lahan Bapak Mashudi menggunakan varietas yang
mereka buat sendiri dari pada varietas yang lain karena kualitas varietas
yang dibuat sendiri lebih baik. Pada lahan tersebut juga memanfaatkan
sistem tanam tumpang sari untuk mengurangi biaya pengolahan lahan,
mudah dalam menanggulangi hama, memudahkan proses pembersihan

22

atau penyiangan dan yang terakhir adalah meningkatkan hasil produksi


atau panen.
Namun untuk pengendalian hama dengan memperhatikan batas
ambang ekonomi. Apabila jumlah OPT melebihi ambang ekonomi, maka
petani akan melakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia
dan pemusnahan dengan herbisida, disabit dan dibakar. Dikatakan oleh Bapak
Mashudi hama yang mendominasi biasanya kutu daun dan trips namun
populasi tersebut masih bisa antisipasi dengan menggunakan pestisida dan
musuh alami.
Untuk penggunaan varietas tahan dikatakan tidak menggunakan
varietas tahan yang hibrida. Benih yang digunakan merupakan hasil buatan
beliau sendiri seperti kentang dan wortel, kualitasnya juga sama dengan benih
yang hibrida.

Perbandingan Literatur
Berdasarkan literatur yang diperoleh, pertanian yang menerapkan
system pertanian organik yaitu sistem budidaya pertanian yang mengandalkan
bahan-bahan alami dan menggunakan bahan kimia sintetis adalah cara kedua
yang digunakan oleh petani. Pengolahan pertanian organik didasarkan pada
prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Pada pertanian
organik harus didasarkan pada aspek-aspek yaitu:
1. Pengelolaan tanaman yang baik
Pengelolaan tanaman yang baik meliputi:
1. Rotasi tanaman (Mengisi unsur hara dalam tanah)
2. Pola-pola alami untuk berbagai macam bentuk kebun (Mencegah
serangan hama)
3. Tanaman campuran,

bukan

monokultur

(Mengurangi

jumlah

perkembangan hama)
4. Tanaman penghambat hama (Memperlambat serangan berbagai macam
hama)
5. Penanaman berpasangan (Tanaman akan saling membantu satu sama
lain)

23

6. Membuat & menggunakan umpan serta perangkap (Menjaga rendahnya


jumlah hama)
7. Menggunakan binatang untuk mengontrol hama (Metode yang efektif
dan efisien untuk mengontrol hama)
8. Membuat & menggunakan pestisida alami (Mendukung lingkungan
yang lebih sehat)
9. Membuat & menggunakan pestisida kimia sebagai alternatif kedua
penggunaan pestisida
10. Kontrol biologis (Mekanisme pengontrolan hama alami dalam skala
yang lebih luas)

2. Meningkatkan Predator Hama Alami


Cara yang alami untuk mengontrol hama yang telah berlangsung
selama berabad-abad adalah hubungan yang saling mempengaruhi dalam
ekosistem. Hal ini meliputi tersedianya jumlah predator hama untuk
mengendalikan hama itu sendiri.
Untuk meningkatkan predator hama alami dapat dilakukan dengan:
1. Penanaman berpasangan, bermacam bunga dan tanaman herbal di
antara tanaman sayuran dan pohon buah-buahan (Menarik diadekma
dan kumbang kubah spot)
2. Membangun habitat bagi predator hama dengan batang kayu kering,
bambu tua atau tumpukan batu (Kadal pemangsa serangga, laba-laba
pemangsa kumbang dan katak akan hidup disitu)
3. Memberi pembatas lahan ( supaya kumbang kubah spot dapat hidup
pada lingkungan tersebut)
4. Menanam pepohonan di dekat kebun, pertanian atau kebun buahbuahan (Menarik serangga predator)
(Arifin, 2012)
3. Benih

24

Penggunaan benih organik atau benih buatan sendiri yang memiliki


kualitas baik dan memiliki kualitas yang sama dengan benih hibrida
lainnya.
4. Pupuk
Sumber-sumber pupuk organik didapat dari kotoran cacing tanah,
sisa tanaman yang membusuk, kompos dari gandum dan beras, pupuk
hijau, kotoran ternak, buah-buahan dan sayur-sayuran yang terfermentasi
secara utuh.
5. Lingkungan
Tak ada sumber polusi dalam jarak 30 km. Daerah penyangga
dibangun di sekitar lahan pertanian organik untuk menghindari polusi
lingkungan dan kontaminasi dari pertanian non organik. Kontrol yang
mengagumkan atas manusia dan mobil yang keluar masuk area pertanian.
6. Sumber Air
Air irigasi harus berasal dari sumber yang tidak terkena polusi
dengan pengukuran kualitas air standar yang akan dilakukan tiap hari
untuk memastikan air tersebut bebas dari pencemaran serta pH-nya harus
sesuai dengan parameter standar.
(Anonymous, 2012)
4.4 Rekomendasi
Dari hasil pengamatan langsung dilapangan dengan perbandingan
literatur yang di dapat, pengolahan yang diterapkan oleh kelompok tani
Anjasmoro 4 Bapak Mashudi secara garis besar sesuai dengan yang ada di
literatur. Namun ada beberapa yang berbeda atau kurang dari pengolahan
pertanian tersebut, yang pertama untuk penggunaan benih saat penanaman
pada lahan tersebut masih digunakan benih yang dibuat sendiri. Dalam hal
pergiliran tanaman atau rotasi tanaman sebaiknya disesuaikan dengan kondisi
lahan karena pergiliran tanaman ini bertujuan agar unsur hara dalam tanah
terbaharui dan pada saat penanaman hasilnya lebih maksimal.
Yang kedua penyediaan habitat bagi predator hama seperti tanaman
atau rumput-rumputan pagar dan kondisi lingkungan. Saat pengamatan

25

ditemukan rumput-rumutan serta penanaman pohon di sekitar area budidaya


karena dikatakan beliau memanfaatkan peran rumput-rumputan di area lahan
tersebut sebagai inang dan habitat untuk musuh alami yang bermanfaat.
Yang ketiga pada lahan tersebut tidak ada pola-pola alami untuk
berbagai macam bentuk kebun, sebenarnya pola-pola alami tersebut baik
untuk mencegah serangan hama. Namun pada lahan tersebut dominan
ditanami dengan pola monokultur.
Dari beberapa kekurangan ataupun perbedaan cara pengolahan yang
dilakukan kelompok tani Bapak Mashudi sudah baik dan perlu di pertahankan
agar sistem pertanian tersebut menjadi sistem pertanian yang berkelanjutan
dan terus berproduksi tinggi sehingga menguntungkan secara ekonomis dan
tidak merusak keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut.

26

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil fieldtrip di dusun jurang kuali, Desa Sumber Brantas
yaitu pengamatan budidaya tanaman kentang, dapat diambil kesimpulan bahwa
budidaya kentang di wilayah tersebut cocok digunakan budidaya tanaman
tersebut. Hal tersebut didapat dari hasil pengamatan dan nara sumber bahwa hasil
panen yang didapat 15-20 ton/hektarnya, gangguan hama disana juga relatif kecil,
hanya ditemukan 6 hama yang cara pengendalaiannya digunakan pengendalian
hama terpadu yaitu penggunaan musuh alami. Sedangkan penyakit yang
ditemukanada satu jenis yaitu hawar daun kentang yang penyebarannya tidak
berlebih dan dapat diatasi dengan fungisida. Pengendalian yang digunakan oleh
petani kentang tersebut menggunakan pengendalian biologi, kimia, mekanis, dan
fisik. Penyakit yang menyerang tanaman kentang adalah hawar daun yang
disebabkan oleh jamur.
Perlakuan yang diterapkan oleh para petani dalam pengendalian biologi
yaitu menggunakan musuh alami seperti kumbang kubah spot dan diadikma.
Untuk pengendalian mekanis petani menggunakan bantuan alat yaitu lay trap dan
alat perangkap yang berwarna kuning dan biru. Alat lay trap digunakan untuk
menangkap ulat tanah dan untuk perangkap perekat digunakan untukl menangkap
kumbang. Pengendalian fisik petani menggunakan penggunaan faktor lingkungan
yaitu dengan memodifikasi lahan yang digunakan petani dengan memberikan
tanaman pagar disekitar tanaman seperti langon dan rumput gajah. Pengendalian
kimia menggunakan pestisida, fungisida dan insektisida. Pestisida yang digunakan
yaitu NPK, SP 36, Urea dan ZK. Pemupukan yang dilakukan dengan pemberian
27

pupuk kandang seperti ayam, kambing dan sapi, akan tetapi petani lebih
mengunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam.
Jadi secara keseluruhan pertanian kentang disana sangat baik dan cocok
dengan kondisi lahan yan ada didaerah tersebut. Pola penanaman dan cara
penanganan yang digunakan juga baik secara umumnya.

5.2 Saran
Saran untuk petani kentang sebaiknya menggunakan pestisida alami dan
pupuk organik dalam pengendalian hama serta penanganannya. Hal tersebut
bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan dan menjaga
kesehatandari hasil produk yang dihasilkan.
Saran untuk praktikum, tetap pertahankan laporan dengan menulis
tanganuntuk menjaga kedisiplinan dan pengetahuan para mahasiswa.

28

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, A.L, A. Widodo dan K. Hidayat. (1993) Studi Sistem Aplikasi Pestisida
Dalam Usaha Tani Hortikultura dan Upaya Pengendaliannya di Sub DAS
Brantas Jawa Timur.

Vol. 5 (1) : 1-12. Jurnal Universitas Brawijaya,

Malang.
Anonymous (1993)

Movement of Pesticides in The Enviroment, Extension

Toxicology Network, pp. 1-5 . Oregon State University.


Anonymous.2012.http://www.melileaindo.co.id/index.php?
option=com_content&task= view&id=122&Itemid=119. Diakses tanggal 13
Mei 2013.
Arifin, Nuzulul. 2012. nuzulularifin.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-falsefalse-en-us-x-none.html. Diakses tanggal 13 Mei 2013
Asraf,Muhammad.2012.IklimDataranTinggi.http://inikampusku.blogspot.com/
2012/05/iklim-dataran-tinggi.html. diakses pada 15 Mei 2013
Betha. 2012. Gejala Serangan pada Tanaman kentang. Jakarta: Bumi Aksara
Dewinur. 2012. Dasar Hama dan Penyakit Tumbuhan. Unmuh: Malang
Efendi.2013.Sistem Budidaya Tanaman Holtikultura di Indonesia.http://dasarh o r
tikultura.wordpress.com/5-sistem-budidaya-tanaman-hortikultura-di-ind
onesia/. diakses pada 15 Mei 2013
Ekha, I. 1991. Dilema Pestisida, Tragedi Revolusi Hijau. Yogyakarta: Kanisius
29

Harun, Y, R.T. M. Sutamihardja, Soeratno Partoatmodjo dan R.E. Soeriaatmadja.


(1996)

Telaah Residu Pestisida Pada Sayuran yang dijual di Pasar

Swalayan dan Pasar Bogor, J.Hort. 6(1) : 71-79, Lembang, Jawa Barat.
Pitojo, Setijo. 2004. Benih Kentang. Yogyakarta: Kanisius
Pracaya. 2005. Hama pada Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya
Program Nasional PHT. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Yogyakarta. Kanisius
Suseno.2007.Penggunaan

Lahan.

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR.PEND
.GEOGRAFI/196006151988031-JUPRI/LAHAN.pdf. Diakses pada 16
Mei 2013
Tjahjadi. 2002. Hama Penyakit dan Tanaman. Yogyakarta: Kanisius
Wihardjo, Suwandi. 2010. Bertanam Semangka. Yogyakarta: Kanisius

30

LAMPIRAN

31

32

33

34