Anda di halaman 1dari 16

LATIHAN BAB 1

1. Jelaskan latar belakang historis tenaga kerja di Indonesia :


Jawab : Perkembangan sejarah tenaga kerja di Indonesia sudah berjalan panjang, sepanjang
sejarah bangsa ini ada, yaitu masih terpecah-pecah dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil
dengan berbagai karakter budaya dan kelompok etnisnya masing-masing. Sejarah ini
berlanjut dengan masa penjajahan Belanda yang berumur 350 tahun dan dilanjutkan dengan
masa penjajahan Bangsa Jepang selama 3,5 tahun, masa orde lama 20 tahun, dan masa
orde baru 32 tahun. Masa yang begitu panjang ternyata belum mampu meningkatkan
kesejahteraan bagi tenaga kerja. Berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah ternyata
belum mampu mengangkat tingkat kesejahteraan tenaga kerja, sehingga tenaga kerja
Indonesia sangat terpuruk dalam hal kualitas hidup. Penghargaan yang sangat berbeda ini
secara lebih jauh perlu diteliti, mengapa penghargaan terhadap tenaga kerja yang bekerja di
dalam negeri demikian kecil, sementara diluar negeri mereka mendapat penghargaan yang
lebih baik.
Maraknya penanaman modal baik oleh PMA maupun PMDN, seharusnya dapat berdampak
yang lebih baik kepada tenaga kerja Indonesia, sebab dengan demikian lapangan kerja yang
tersedia akan semakin banyak. Tetapi hal ini tidak diikuti oleh penghargaan dan gaji yang
sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja. Gaji selalu dikaitkan dengan kebutuhan fisik mininum
(KFM), sehingga gaji minimum yang diberikan kepada tenaga kerja Indonesia didasarkan
kepada upah minimum regional (UMR). Dan hal ini menjadi salah satu nilai jual oleh
pemerintah kepada PMA atau PMDN bahwa upah tenaga kerja Indonesia sangat kompetitif
(murah). Untuk mengenal secara lebih dekat dengan TKI (tenaga kerja Indonesia) ini, maka
sebaiknya kita melihat kebelakang mengenai perkembangan TKI dari waktu ke waktu. Yaitu
Perbudakan, Kerja rodi dan Punale Sanksi.

2. Apa yang dimaksud dengan pengertian di bawah ini, jelaskan !


a. Perbudakan
b. Kerja Rodi
c. Punale Sanksi
Jawab : a. Perbudakan adalah orang yang melakukan pekerjaan di bawah pimpinan orang lain
dan budak tidak mempunyai hak apapun, yang mereka miliki hanya kewajiban melakukan

pekerjaan. Mengikuti segala perintah, mengikuti semua petunjuk dan aturan dari pihak
pemilik budak.
b. Kerja Rodi adalah pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan untuk kepentingan bersama
yaitu kepentingan suku atau desa sebagai satu kesatuan, pekerjaan tersebut untuk keperluan
kerajaan atau untuk keperluan raja.
c. Punale Sanksi adalah Perburuhan biasa, yaitu dimana pekerjaan dilakukan oleh buruh biasa
untuk dan di bawah pimpinan seorang majikan dapat menerima upah disana-sini sudah ada
tetapi tidak dapat meluas. Punale sanksi ini memberikan kepada pengusaha kekuasaan
terhadap buruhnya yang dapat menimbulkan perlakuan tidak baik dan keadaan yang buruk.

3. Jelaskan mengenai undang-undang penghapusan kerja paksa yang sudah diratifikasi


oleh negara Indonesia dari Konvensi ILO nomor 105 tersebut ?
Jawab : Pada saat ini Negara Indonesia sudah tidak mengizinkan suatu perusahaan atau
perorangan melakukan kerja paksa terhadap seorang pekerja. Hal ini sesuai dengan UndangUndang Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengesahan Konvensi ILO Nomor 105 mengenai
Penghapusan Kerja Paksa. Konvensi ILO (Organisasi Perburuhan Internasional), nomor 105
menyatakan bahwa Negara anggota ILO telah memutuskan tentang penerimaan usulan yang
menyangkut penghapusan bentuk-bentuk tertentu dari kerja paksa atau kerja wajib yang
merupakan pelanggaran hak manusia sebagaimana tertera dalam Piagam PBB dan disebutkan
dalam Deklarasi Universal tentang Hak Azasi Manusia. Dan memutuskan bahwa usulanusulan ini harus berbentuk Konvensi Internasional. Menerima pada tanggal 5 Juni tahun 1957
Konvensi nomor 105, yang dapat disebut sebagai Konvensi Penghapusan Kerja Paksa seperti
tersirat pada pasal 1 yaitu Tiap Anggota Organisasi Perburuhan Internasional yang
meratifikasi Konvensi ini wajib menekan dan tidak akan menggunakan kerja paksa dalam
bentuk apapun .
a) Sebagai cara penekanan atau pendidikan politik atau sebagai hukuman atas
pemahaman atau pernyataan pandangan politik atau secara ideologis pandangan
yang bertentangan dengan sistim politik, sosial dan ekonomi yang sah.
b) Sebagai cara untuk mengerahkan dan menggunakan tenaga kerja untuk maksud
pembangunan ekonomi.
c) Sebagai cara untuk membina disiplin tenaga kerja.

d) Sebagai hukuman karena keikutsertaan dalam pemogokan.


e) Sebagai pelaksanaan diskriminasi rasial, sosial, bangsa dan agama.
Juga pasal 2 Konvensi nomor 105 ILO ini menegaskan pada tiap anggotanya sebagai berikut :
Tiap Anggota Organisasi Perburuhan Internasional yang meratifikasi Konvensi ini wajib
mengambil tindakan efektif untuk menjamin penghapusan segera dan sepenuhnya atas kerja
paksa atau kerja wajib sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 1 Konvensi ini.

4. Jelaskan mengenai Industri konstruksi dan permasalahannya ?


Jawab : Proyek konstruksi merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan tertentu,
kompleksitas, bersifat unik, tidak biasa, banyak resiko, tidak permanent dan siklus hidup dari
beberapa kegiatan dan perlu ditangani secara sistematis. Untuk memudahkan penanganan
proyek konstruksi, biasanya dipimpin oleh seorang proyek manajer (PM) yang bertanggung
jawab secara keseluruhan untuk mengimplementasikan dan menyelesaikan proyek tersebut.
Industri konstruksi mempunyai empat bentuk proyek yaitu proyek Pemukiman (Residential
Construction), Bangunan Gedung (Building Construction), Bangunan Industri (Industrial
Construction), Dan Bangunan Rekayasa Berat (Heavy Engineering Construction). Dalam
proses pembangunan pada industri faktor yang berhubungan dengan tenaga kerja sangat
terkait dengan masalah lingkungan kerja aman, membuat pekerjaan aman dan membuat
perasaan aman bagi pekerja.

5. Jelaskan mengenai manajemen keselamatan kerja yang efektif dalam industri


konstruksi ?
Jawab : Dalam melaksanakan proyek PM tidak dapat bekerja sendiri, tetapi bekerja dalam
bentuk satu tim yang terdiri dari berbagai keahlian dan ketrampilan. Agar proyek konstruksi
dapat dilaksanakan dengan selamat, maka PM harus mampu untuk membuat pekerjaan
dengan manajemen keselamaatan (Safety Management) yang menerapkan ukuran
keselamatan sebelum terjadinya kecelakaan. Manajemen keselamatan yang efektif
mempunyai tiga tujuan utama yaitu Untuk membuat lingkungan kerja aman, Untuk membuat
pekerjaan aman, Untuk membuat perasaan aman bagi pekerja.
Usaha-usaha pencegahan timbulnya kecelakaan kerja perlu dilakukan sedini mungkin.
Adapun tindakan yang mungkin dilakukan adalah :

Mengidentifikasi setiap jenis pekerjaan yang berisiko mengelompokkannya sesuai

tingkat risikonya
Adanya pelatihan bagi para pekerja konstruksi sesuai keahliannya
Melakukan pengawasan secara lebih intensif terhadap pelaksanaan pekerjaan
Menyediakan alat perlindungan kerja selama durasi proyek
Melaksanakan pengaturan di lokasi proyek konstruksi.

LATIHAN BAB 2
1. Jelaskan kedudukan hukum perburuhan dalam KUH Perdata ?
Hukum perburuhan dalam KUH Perdata berada dalam bab VII A, yaitu tentang
perjanjian-perjanjian untuk melakukan pekerjaan yang merupakan bagian dari
buku ketiga tentang perikatan. Dalam bab VII A ini diuraikan tentang persetujuanpersetujuan untuk melakukan pekerjaan yang terdiri dari :

Bagian kesatu, yang berisikan tentang ketentuan-ketentuan umum, yang diuraikan


dalam bentuk pasal dimulai dari pasal 1601 yang terdiri dari pasal 1601a sampai
dengan pasal 1601c.

Bagian kedua, yang berisikan tentang persetujuan perburuhan umumnya, yang


diuraikan dalam pasal 1601d sampai pasal 1601y (pasal yang terakhir ini sudah
dicabut).

Bagian ketiga, menjelaskan tentang kewajiban majikan, yang diuraikan dalam


pasal 1602 terdiri dari 1602a sampai dengan pasal 1602z.

Bagian ke empat, menjelaskan tentang kewajiban buruh yang diuraikan dalam


pasal 1603 meliputi pasal 1603a sampai dengan pasal 1603d.
KITAB UNDANG-UNDANG
HUKUM PERDATA

BAB VIIA

PERJANJIAN

PERJANJIAN PERBURUHAN

Melaksanakan pekerjaan
secara mandiri

Hubungan antara buruh


dan majikan

Gambar 2.1. Kedudukan Hukum Perburuhan dalam KUH Perdata

Bagian ke lima, menjelaskan tentang bermacam-macam cara berakhirnya


perjanjian (hubungan) kerja yang diterbitkan dari persetujuan. Hal ini dijelaskan
mulai dari pasal 1603e sampai dengan pasal 1603w.

2. Jelaskan hakekat, arti dan sifat hukum perburuhan ?


Arti kata hukum perburuhan
Ada beberapa pendapat tentang arti kata dari Hukum Perburuhan, pendapat
tersebut antara lain adalah :

Molenaar, mengatakan bahwa arbeidsrecht adalah bagian dari hukum yang


berlaku yang pada pokoknya mengatur hubungan antara buruh dan majikan,
antara buruh dengan buruh dan antara buruh dengan penguasa.

Mr.M.G. Levenbach merumuskan arbeidsrecht adalah sesuatu yang meliputi


hokum yang berkenaan dengan hubungan kerja, dimana pekerjaan tersebut
dilakukan dibawah pimpinan dan dengan keadaan penghidupan yang langsung
bersangkut paut dengan hubungan kerja .

Mr. N.E.H. van Esveld tidak membatasi lapangan arbeidsrecht pada hubungan
kerja, dimana pekerjaan dilakukan di bawah pimpinan, arbeidsrecht adalah juga
meliputi pula pekerjaan yang dilakukan oleh swa pekerja yang melakukan
pekerjaan atas tanggung jawab dan resiko sendiri.
Hakekat hukum perdata
Dibandingkan dengan hubungan antara pembeli dan penjual barang, antara
mereka yang tukar menukar barang, maka hubungan antara buruh dengan majikan
adalah berbeda dalam dua hal, yaitu :

Pembeli, penjual dan mereka yang tukar menukar barang. Baik yuridis maupun
sosiologis adalah merdeka, bebas untuk melakukan atau tidak melakukan jual beli
atau tukar menukar.

Hubungan antara pembeli-penjual dan hubungan antara penukar timbul dan


lenyap segera setelah masing-masing melakukan pembayaran, penyerahan dan
penukaran.

Yuridis buruh memang bebas, prinsip negara kita, tidak seorang pun boleh di
perbudak, diperulur atau diperhamba, perbudakan, perdagangan budak dan
perhambaan dan segala perbuatan serupa apapun bertujuan kepada atau ke arah itu
dilarang.
Secara sosiologis buruh tidak bebas, sebagai orang yang tidak mempunyai bekal
hidup lain selain tenaga yang mereka miliki, ia terpaksa untuk bekerja pada orang
lain. Majikan inilah yang pada dasarnya menentukan syarat-syarat kerja yang ada.
Tenaga buruh terutama menjadi kepentingan majikan, merupakan sesuatu yang
demikian melekatnya pada pribadi buruh, sehingga buruh itu selalu harus
mengikuti tenaganya ketempat dan pada saat majikan memerlukan serta
mengeluarkannya menurut kehendak majikan itu. Dengan demikian pada buruh,
jasmaniah maupun rohaniah juga tidak bebas.
Segala sesuatu mengenai hubungan antara buruh dan majikan itu diserahkan
kepada kebijaksanaan kedua belah pihak yang langsung berkepentingan itu, maka
masih sukar tercapainya suatu keseimbangan antara kepentingan kedua belah
pihak yang sedikit banyak memenuhi rasa keadilan sosial yang merupakan tujuan
pokok juga diperburuhan. Karena itu penguasa baik dengan maupun tidak dengan
bantuan organisasi buruh, mengadakan peraturan-peraturan dan tindakan-tindakan
yang bertujuan melindungi pihak yang lemah (menempatkan pada kedudukan
yang layak sebagai kemanusiaan).

Sifat hukum perburuhan


Walaupun kepada buruh dan majikan diberi kebebasan untuk mengadakan
peraturan-peraturan yang tertentu (hukum perburuhan otonom), namun peraturanperaturan itu tidak boleh bertentangan dengan peraturan-peraturan dari pemerintah
yang bermaksud mengadakan perlindungan.
Peraturan-peraturan ini pada umumnya merupakan perintah atau larangan dengan
menggunakan kata-kata harus, wajib, dan tidak boleh atau dilarang. Sanksi
terhadap pelanggaran atas peraturan ini biasanya ialah tidak sahnya atau batalnya

tindakan yang melanggar itu, bahkan sering kali juga tindakan melanggar itu
diancam pula dengan pidana kurungan atau denda.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata / (KUH) Perdata pasal 1605s menetapkan
bahwa dalam hal upah buruh seluruhnya atau sebagian ditetapkan berupa
pemondokan, makan atau keperluan hidup lainnya, majikan wajib memenuhinya
menurut kebiasaan setempat.
Peraturan Perburuhan di Perusahaan Perindustrian melarang majikan menetapkan
upah lain dari pada uang. Penyimpangan hanya dapat dilakukan dengan ijin dari
Menteri Tenaga Kerja. Berhubungan dengan segala sesuatu itu maka setengah
orang

mengatakan

bahwa

hukum

perburuhan

sifatnya

bukanlah

lagi

privaatrechtelijk (soal perdata), melainkan publiekrechtelijk.


Campur tangan negara dengan hubungan perorangan, yaitu antara buruh dengan
majikan, didunia ekonomi liberal dengan laisser faire yang seluas-luasnya dan
sebebas-bebasnya, memang merupakan suatu kekangan terhadap kebebasan itu,
setidak-tidaknya suatu keistimewaan.
3. Bagaimana kesempatan kerja yang ada diindonesia periode tahun 1970-an, dan 1980an, serta kondisi yang terjadi pada tahun 2000-an ini ?
Pada periode 1971-90, pertumbuhan penduduk di Indonesia mencapai 2,3 persen
per tahun. Pada periode 1990-95, angka tersebut menurun menjadi 1,7 persen per
tahun.
Keberhasilan menekan laju pertumbuhan tersebut membawa peningkatan dalam
jumlah penduduk usia produktif. Jika tahun 1985 jumlah penduduk yang berusia
antara 15-60 tahun berjumlah 90 juta, tahun 1998 menjadi 102 juta orang (naik
13,33 persen), dan pada akhir PELITA VI, 1998, berjumlah lebih dari 124 juta
orang (naik 21,56 persen).
Meningkatnya tenaga kerja golongan usia muda dan tenaga kerja wanita dalam
pasar kerja turut pula menekan usaha peningkatan kesempatan kerja.
Kesempatan kerja pada tahun 2000-an dijelaskan pada jawaban no. 4
4. Bagaimana pertumbuhan kesempatan kerja dan pengangguran ?

Salah satu prioritas pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan oleh


program pembangunan nasional (Propenas 2000-2004 dan sejalan dengan GBHN
1999-2004) adalah mempercepat pemulihan ekonomi dan memperluas landasan
pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan yang berdasarkan sistem ekonomi
kerakyatan. Indikator berhasilnya program pembangunan nasional tersebut antara
lain : pertumbuhan ekonomi mencapai 6-7 persen, inflasi terkendali sekitar 3-5
persen, menurunkan tingkat pengangguran menjadi sekitar 5,1 persen, dan
menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi sekitar 14 persen pada tahun 2004.
Selain masalah upah, persoalan mendasar ketenagakerjaan di Indonesia saat ini
menyangkut tingkat pengangguran. Ini disebabkan pertambahan angkatan kerja
baru jauh lebih besar dibanding pertumbuhan lapangan kerja produktif yang dapat
diciptakan setiap tahun. Pasca krisis moneter, gap tersebut semakin membengkak
tajam. Pada tahun 1998 tingkat pengangguran mencapai 5,7 persen.
Pola Pengangguran
Tabel di bawah ini mengungkapkan beberapa hal menarik.
Tabel 2.1. : Struktur Pengangguran Menurut Tingkat Pendidikan (%)

Sumber : Statistik Tahunan Indonesia 1985, 1995, 1998


1.

Tahun 1998, hampir separuh (49 persen) penganggur ternyata berpendidikan


menengah atas (SMTA Umum dan Kejuruan).

2.

Tahun periode 1982-1998, terjadi peningkatan pengangguran berpen-didikan


menengah ke atas (SMTA, Akademi dan Sarjana) secara signifi-kan dari 26
persen menjadi 57 persen, atau meningkat hampir 120 persen.

3.

Laju peningkatan pengangguran di sekolah menengah kejuruan lebih rendah


daripada sekolah menengah umum, baik pada menengah pertama maupun pada
menengah atas.

4.

Persentase peningkatan tingkat pengangguran berpendidikan sarjana adalah


paling tinggi, yang melonjak dari 0,57 persen pada 1982 menjadi 5,02 persen
pada 1998.

5. Bagaimana cara mengatasi pengangguran yang ada di Indonesia saat ini?


Jawab : Cara mengatasi pengangguran di Indonesia dengan cara meningkatkan kesempatan
kerja dan meningkatkan tingkat partisipasi kerja.
Secara teoritis, ada tiga cara pokok untuk menciptakan kesempatan kerja atau berusaha dalam
jangka panjang.
Cara pertama adalah dengan memperlambat laju pertumbuhan penduduk yang diharapkan
dapat menekan laju pertumbuhan sisi penawaran tenaga kerja. Tetapi seperti dikemukakan di
atas, cara ini tidak memadai bagi Indonesia karena angka kelahiran memang tidak relatif
rendah dan dampaknya terhadap pertumbuhan tenaga kerja kurang signifikan dalam jangka
pendek.
Cara kedua adalah dengan meningkatkan intensitas pekerja dalam menghasilkan output
(labour intensity of output). Tetapi dalam jangka panjang, cara ini tidak selalu berhasil karena
tidak selalu kondusif bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
Cara ketiga adalah melalui pertumbuhan ekonomi. Cara ini bukan tanpa kualifikasi karena
secara empiris terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja tidak terdapat
hubungan otomatis atau niscaya, tetapi justru tantangannya menjadi riil, karena hubungan
yang tidak otomatis itu, maka peranan pemerintah menjadi strategis dan crucial untuk
merancang strategi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga "ramah" terhadap
ketenagakerjaan (employment - friendly - growth).
6. Sebutkan dan jelaskan beberapa masalah mendasar struktural yang secara langsung
mempengaruhi peningkatan kesempatan kerja ?

Jawab : Pertama, menyangkut kebijaksanaan kependudukan. Di satu sisi program Keluarga


Berencana dan berbagai program yang ditujukan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk
terbukti telah berhasil. Keberhasilan menekan laju pertumbuhan tersebut membawa
peningkatan dalam jumlah penduduk usia produktif. Meningkatnya tenaga kerja golongan
usia muda dan tenaga kerja wanita dalam pasar kerja turut pula menekan usaha peningkatan
kesempatan kerja. Kelompok tenaga kerja ini muncul sebagai akibat rendahnya tingkat
pendapatan.
Kedua, berkaitan dengan penyebaran penduduk antara Pulau Jawa dan di luar Jawa.
Meskipun terdapat tanda-tanda berkurangnya proporsi jumlah penduduk yang berdiam di
Pulau Jawa dibanding dengan luar Jawa, laju pengurangan relatif sangat kecil sehingga
ketimpangan penyebaran penduduk ini masih tetap merupakan masalah utama.
Ketiga, menyangkut kualitas tenaga kerja. Jika kualitas dilihat dari tingkat pendidikan yang
dicapai, faktor ini sungguh memprihatinkan. Alokasi anggaran untuk sektor pendidikan di
Indonesia memang terus meningkat, tetapi secara persentase masih sekitar 10 persen, lebih
kecil dibanding dengan negara industri baru seperti Malaysia dan Korea Selatan yang alokasi
anggaran pendidikannya rata-rata mencapai 20 persen. Demikian pula dari sudut GNP,
periode 1968-1993, pengeluaran pemerintah untuk sektor pendidikan ternyata secara rata-rata
di bawah 2.5 persen, dibandingkan Malaysia dan Singapura masing-masing 10 persen dan 5
persen.
Keempat, berkaitan dengan adanya kesenjangan antara program pendidikan dengan arah
pembangunan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin tingginya pendidikan semakin kesulitan
dalam mendapatkan pekerjaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa di satu pihak kebutuhan
tenaga kerja terampil golongan menengah dan keahlian sarjana masih belum teratasi
sementara penawaran kelas tenaga kerja tersebut justru berlebih. Besar kemungkinan ini
disebabkan adanya gap yang serius antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Karena itu
sangat mendesak perencaana tenaga kerja yang mengaitkan dunia pendidikan dan pasar
kerja.
Kelima, kurang berkembangnya informasi pasar tenaga kerja sehingga menimbulkan
kesenjangan permintaan dan penawaran tenagakerja. Masih adanya lowongan kerja yang
tidak terisi ini besar kemungkinan disebabkan dua hal. Pertama, kualitas penawaran
tenagakerja tidak sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Kedua, kurang rapinya lalu
lintas informasi permintaan dan penawaran tenagakerja.
Keenam, menyangkut perkembangan di sektor formal dan informal. Bagaimanapun juga
eksistensi sektor informal tidak dapat diabaikan, bahkan dalam kelesuan ekonomi sektor

informal berfungsi sebagai "katup pengaman" menampung ledakan penduduk yang masuk
pasar kerja.

Sektor informal telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap

pembangunan ekonomi nasional. Ada beberapa permasalahan utama dalam sektor informal
ini. Pertama menyangkut kualitas sumberdaya manusia. Hal lain adalah tingkat produktivitas
di sektor informal lebih rendah daripada sektor formal, sehingga pertambahan kesempatan
kerja baru di sektor informal tidak dapat meningkatkan produktivitas. Sebaliknya justru
dapat menurunkan tingkat produktivitas. Di samping itu, kurangnya dukungan baik dari segi
penataan aturan-aturan yang seringkali merugikan sektor ini, maupun dukungan finansial
dalam membuka peluang perluasan di sektor informal menyebabkan sektor ini kurang
berkembang. Melihat masalah di atas kiranya perlu diupayakan keserasian pengembangan
kerjasama sektor formal dengan informal. Strategi pembangunan ekonomi yang berorientasi
pada peningkatan kualitas SDM akan banyak membantu pekerja di sektor informal dalam
memperluas pilihan usahanya.

LATIHAN BAB 3
1. Jelaskan ciri-ciri industri jasa konstruksi yang kalian ketahui ?
Jawab : Ciri ciri Industri Jasa Konstruksi :
a.
b.
c.
d.

Produk berbentuk fisik (bangunan), termasuk jenis industri barang.


Mengolah bahan baku/ bahan mentah, termasuk jenis industri barang.
Ditawarkan lebih dulu, baru diproduksi, termasuk industri jasa.
Produksi bersamaan dengan konsumsi, tetapi terkadang tidak bersa-maan

(turn key project), termasuk jenis industri barang/jasa.


e. Produk dapat disimpan, termasuk jenis industri barang.
f. Lokasi produksi tidak tetap, termasuk jenis industri jasa.
g. Standar produk tidak tetap, termasuk jenis industri jasa.
2. Apa perbedaan yang paling menonjol antara industri jasa konstruksi dengan industri
barang atau industri jasa yang lain ?
Jawab : Perbedaan yang dapat dilihat secara jelas bahwa kegiatan industri jasa konstruksi
termasuk/bersifat industri barang dan jasa (campuran). Karakter industri jasa konstruksi juga
berbeda dengan industri lainnny, misalnya kegiatannya bersifat proyek yang bukan rutin yang
tergantung pada tersedianya ; biaya, mutu dan waktu pelaksanaan, antara satu proyek dengan
proyek lainnya tidak ada yang sama sehingga dikatakan unik, pelaksanaan proyek dilakukan
tahap demi tahap, pihak yang terlibat cukup banyak, proses produksi selalu baru, dan
keahlian tenaga kerja pada berbagai proyek tidak standar.

3. Jelaskan karakter industri jasa konstuksi yang kalian ketahui ?


Karateristik Industri Jasa Konstruksi memiliki karakter sebagai berikut :
1. Industri jasa konstruksi bersifat proyek bukan rutin, sehingga pelaksanaannya
sangat tergantung pada terbatasnya; biaya, mutu dan waktu.
2. Antara satu proyek dengan proyek lainnya tidak ada yagn sama, sehingga
lebih dikenal dengan keunikannya antara lain dalam hal :
a. Metode pelaksanaan
b. Waktu pelaksanaan
c. Tenaga kerja yang digunakan
d. Peralatan yang diperlukan
e. Bentuk dan jumlah pekerjaan yang akan dilakukan
f. Keahlian yang diperlukan
g. Pihak yang terlibat dan sebagainya
3. Pelaksanaan proyek dilakukan tahap demi tahap, dimana setiap tahap melalui
proses pengendalian yang ketat

4. Pihak yang terlibat cukup banyak (seperti; kontraktor, konsultan perencana,


konsultan pengawas/MK, Quantity Surveying, Value Engineering, Kontraktor
Spesialis, Sub Kontraktor, Supplier bahan atau alat, Mandor, Pemilik, dan
lainnya.)
5. Proses produksi dalam industry jasa konstruksi berlangsung dengan sesuatu
yang selalu baru, seperti; kondisi kerja, lokasi kerja, sarana & prasarana yang
dibutuhkan, suasana lingkungan kerja, tata letak lapangan, proses kerja, dan
cuaca.
6. Keahlian tenaga kerja pada berbagai proyek tidak standar, ini dapat ditinjau
dari segi; perilaku, kebiasaan/adat istiadat, jenis keahlian, komposisi kepada
tukang, tukang, dan pembantu tukang.

4. Sebutkan jenjang karir dan jabatan yang ada pada tenaga kerja informal industry jasa
konstruksi yang anda ketahui?
Jenjang Karir dan Jabatan yang ada pada tenaga kerja informal industry jasa
konstruksi terdiri dari mandor, kepala tukang, tukang, dan laden/pembantu tukang.
5. Jelaskan tenaga kerja pada industry jasa konstruksi di Indonesia?
a. Jika dalam kordinasi perusahaan kontraktor sebagai pelaksanana konstruksi
i. Tenaga kerja lapangan, dipimpin mandor
ii. Tenaga kerja kontraktor dilapangan
iii. Tenaga kerja kontraktor dikantor pusat
iv. Tenaga ahli
b. Tenaga Kerja industry jasa konstruksi juga dapat diuraikan lebih lanjut
menjadi
i. Tenaga kerja kontraktor
ii. Tenaga kerja sub kontraktor atau kontraktor spesialis
iii. Tenaga kerja supplier
iv. Tenaga kerja konsultan
c. Tenaga Kerja yang berada di bawah mandor
i. Kepala Tukang
ii. Tukang
iii. Pembantu Tukang/ Kenek atau Laden
6. Uraikan dengan rinci peranan pemerintah dalam tenaga kerja konstruksi?
1. Peranan dibidang Politik
Besarnya peranan pemerintah di bidang politik terlihat pada dinamika
hubungan antara aur permintaan dan penawaran tenaga kerja yang sebagian
besar tergantung pada proyek pemerintah sector jasang konstruksi
2. Peranan dibidang Ekonomi

Terlihat pada kehidupan ekonomi di pedesaan dan tumbuhnya pusat-pusat


perkotaan. Sehingga pada daerah pedesaan tidak banyak kegiatan konstruksi
besar yang berlangsung. Pemerintah juga memegang kendali penuh atas krisis
ekonomi yang terjadi disuatu wilayah bahkan Negara.
7. Jelaskan kenapa pada masa setelah krisis ekonomi tahun 1997 1998 pertumbuhan
tenaga kerja sektor konstruksi menjadi berkurang?
Pada masa setelah krisis ekonomi tahun 1997 1998 pertumbuhan tenaga kerja sektor
konstruksi menjadi berkurang karena APDB turun masing-masing 11,4 dan 36,4
persen, hal ini mengakibatkan beberapa proyek di hentikan sementara. Sementara
tenaga kerja berkurang masing-masing sekitar 1 juta dan 600 ribu orang.
8. Uraikan perjalanan tenaga kerja yang saudra ketahui!
Dalam upaya alih sumber mata pencaharian, para keluarga mencoba mengadu nasib di daerah
perkotaan. Daerah-daerahperko-taan telah menjadi konsentrasi kegiatan ekonomi termasuk
kegiatan konstruksi dan hal ini mendorong penduduk desa mencari nafkah di kota.
Pertumbuhansektorkonstruksi di daerah-daerah perkotaan ini disebabkan oleh kebutuhan
pemerintah akan prasarana fisik di satupihak, dan kebutuhan investor domestik maupun
investor asing dalam mengembangkan kegiatan usaha mereka di pihak yang lain.
Kepentingan politik dan ekonomi pemerintah dalam mengembangkan daerah-daerah
perkotaan, telah menciptakan lapangan kerja bagi penduduk yang berasal dari desa.
Berkenaan dengan nafkah bagi penduduk desa, perpindahan kepusat-pusat perkotaan telah
menciptakan suatu hubungan ekonomis antara pedesaan dan perkotaan dalam bentuk suplay
tenaga kerja dan arus uang.

9. Uraikan dan jelaskan pola migrasi, urbanisasi, dan jaringan tenaga kerja konstruksi di
indonesia!
-Migrasi
Migrasi masuk (In Migration): Masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan
(area of destination)

Migrasi Keluar (Out Migration): Perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah
asal (area of origin)
Migrasi Neto (Net Migration): Merupakan selisih antara jumlah migrasi masuk dan
migrasi keluar Apabila migrasi yang masuk lebih besar dari pada migrasi keluar maka
disebut migrasi neto positif sedangkan jika migrasi keluar lebih besar dari pada
migrasi masuk disebut migrasi neto negatif.
Migrasi Semasa/Seumur Hidup (Life Time Migration): Migrasi semasa hidup
adalah mereka yang pada waktu pencacahan sensus bertempat tinggal di daerah yang
berbeda dengan daerah tempat kelahirannya tanpa melihat kapan pindahnya.
- Urbanisasi
Bertambahnya proporsi penduduk yang berdiam di daerah kota yang disebabkan oleh proses
perpindahan penduduk ke kota dan/atau akibat dari perluasan daerah kota dan pertumbuhan
alami penduduk kota. Definisi urban berbeda-beda antara satu negara dengan negara lainnya
tetapi biasanya pengertiannya berhubungan dengan kota-kota atau daerah-daerah pemukiman
lain yang padat. Klasifikasi yang dipergunakan untuk menentukan daerah kota biasanya
dipengaruhi oleh indikator mengenai penduduk, indikator mengenai kegiatan ekonomi,
indikator jumlah fasilitas urban atau status adrninistrasi suatu pemusatan penduduk.
10. Jelaskan mengenai formalisasi tenaga kerja industri jasa konstruksi!
Formalisasi secara sederhana dapat berarti sebagai pengakuan dan pengesahan hasil yang
dicapai seorang pekerja atau suatu kelembagaan. Formalisasi dapat ditempuh dengan cara
pembekalan dan peningkatan ketrampilan melalui jalur pelatihan.