Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Terapi bermain adalah suatu bentuk permainan yang direncanakan untuk


membantu anak mengungkapkan perasaannya dalam menghadapi kecemasan dan
ketakutan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan baginya. Bermain pada usia
2-3 tahun

adalah kegiatan serius, yang merupakan bagian penting dalam

perkembangan tahun-tahun pertama masa kanak-kanak. Hampir sebagian besar


dari waktu mereka dihabiskan untuk bermain (Elizabeth B Hurlock, 1999: 121).
Dalam bermain di rumah sakit mempunyai fungsi penting yaitu menghilangkan
kecemasan, dimana lingkungan rumah sakit membangkitkan ketakutan yang tidak
dapat dihindarkan (Sacharin, 1993: 78).
Hospitalisasi biasanya memberikan pengalaman yang menakutkan bagi
anak. Semakin muda usia anak, semakin kurang kemampuannya beradaptasi,
sehingga timbul hal yang menakutkan. Semakin muda usia anak dan semakin lama
anak mengalami hospitalisasi maka dampak psikologis yang terjadi salah satunya
adalah peningkatan kecemasan yanng berhubungan erat dengan perpisahan dengan
saudara atau teman-temannya dan akibat pemindahan dari lingkungan yang sudah
akrab dan sesuai dengannya (Whaley and Wong, 1995).
Pemberian terapi bermain ini dapat menunjang tumbuh kembang anak
dengan baik. Pada kenyataannya tidak semua anak dapat melewati masa kanakkanaknya dengan baik, ada sebagian yang dalam proses tumbuh kembangnya
mengalami gangguan kesehatan. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas,
maka perlu adanya program terapi bermain di rumah sakit khususnya di ruang
perawatan anak, sehingga diharapkan asuhan keperawatan dapat menunjang proses
penyembuhan.
1

1.2 Manfaat

Program terapi bermain dalam penanganan anak yang dirawat di rumah


sakit maka akan memudahkan anak menyatakan rasa kecemasan dan ketakutan
lewat permainan, mempercepat proses adaptasi di rumah sakit, anak dapat
berkumpul dengan teman sebayanya di rumah sakit sehingga tidak merasa
terisolir, anak mudah diajak bekerja sama dengan metode pendekatan proses
keperawatan di rumah sakit.Karena pentingnya manfaat Program terapi Bermain
dalam penanganan anak sakit dan perawat harus mampu melaksanakan hal ini
maka rencana penerapan terapi bermain terhadap anak usia sekolah berupa seni
melipat kertas origami yang berfungsi untuk meningkatkan perkembangan anak
baik kognitif, afektif, motorik dan sosial anak ini perlu segera dilaksanakan.
1.3 Tujuan Terapi Bermain
1. Tujuan Umum

Setelah mengikuti terapi bermain stress hospitalisasi pada anak


berkurang sehingga dapat mempercepat proses kesembuhan anak selain
itu juga untuk mempertahankan perkembangan anak
2. Tujuan Khusus
1. Meningkatkan perkembangan motorik halus anak usia 2-3 tahun
2. Melatih meningkatkan kognitif anak dalam pemilihan bentuk yang

tepatdalam melipat kertas origami pop up card


3. Dapat meningkatkan kemampuan sosial, afektif dan bahasa anak
yaitu berinteraksi sesama teman
1.4 Tujuan Bagi Mahasiswa
1. Tujuan Umum

Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang Proposal


Terapi Bermain Pada Anak Usia 2-3 Tahun.
2. Tujuan Khusus
2

1. Agar mahasiswa mengetahui tentang definisi bermain.


2. Agar mahasiswa mengetahui tentang kategori bermain.
3. Agar mahasiswa mengetahui tentang cirri-ciri bermain.
4. Agar mahasiswa mengetahui tentang fungsi bermain pada anak.
5. Agar mahasiswa mengetahui tentang tujuan bermain.
6. Agar mahasiswa mengetahui tentang cirri-ciri kegiatan bermain.
7. Agar mahasiswa mengetahui tentang klasifikasi bermain.
8. Agar mahasiswa mengetahui tentang syarat bermain.
9. Agar mahasiswa mengetahui tentang factor yang mempengaruhi

aktifitas bermain.
10. Agar mahasiswa mengetahui tentang hospitalisasi.

BAB 2
TERAPI BERMAIN
2.1 Jenis Permainan

Terapi bermain pada Seni Melipat Kertas Origami Pop Up Card


pada pasien anak usia 2-3 tahun di Ruang Anak RS Harapan Keluarga .
2.2 Prinsip Bermain di Rumah Sakit
1. Tidak mengganggu jadwal kegiatan keperawatan dan medis
2. Tidak ada kontra indikasi dengan kondisi penyakit pasien
3. Permainan harus sesuai dengan tahap tumbuh kembang pasien
4. Jenis permainan disesuaikan dengan kesenangan anak
5. Permainan melibatkan orangtua untuk melancarkan proses kegiatan
2.3 Hambatan Yang Mungkin Muncul
1. Pasien tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan
2. Adanya jadwal kegiatan pemeriksaan terhadap pasien pada waktu

yang bersamaan
3. Anak malas dan mengantuk
4. Anak bermain tidak sesuai dengan perintah leader
5. Anak tidak menyelesaikan permainan melipat kertas origami pop up
card
2.4 Antisipasi hambatan
1. Perawat lebih aktif dalam memfokuskan pasien terhadap permainan
2. Kolaborasi jadwal kegiatan pemeriksaan pasien dengan tenaga

kesehatanlainnya.
3. Jadwal terapi bermain disesuaikan (tidak pada waktu jam untuk
istirahat)
4. Melakukan kerjasama dengan orang tua untuk mendampingi anak
selama program terapi

2.5 Waktu dan tempat


1. Waktu permainan

Hari / Tanggal : Jumat , 10 Juli 2012


Waktu / Durasi : Pkl. 08.00 WIB 08.45 / 45 menit
2. Tempat bermain

Ruang Anak Harapan Keluarga Mataram


2.6 Strategi Pelaksanaan
No
1.

Waktu
5 Menit

Kegiatan

Penanggung Jawab

Pembukaan
Membuka kegiatan dengan

Leader

mengucapkan salam.
Memperkenalkan diri
Menjelaskan tujuan dari
terapi bermain
Kontrak waktu dengan anak dan
orang tua
2.

25 Menit

Pelaksanaan
Mengatur posisi anak
Membagikan kertas
Mengajak dan memotivasiklien

Leader
Fasilitator

Fasilitator

Leader

(anak) untuk membuat pop up


card dari kertas yangtersedia
Memulai melipat

kertasdidampingi oleh
fasilitator.
Memberi semangat pada anak

selama proses melipat kertas


Memotivasi anak untuk dapat
memilih warna kertasyang

disukainya

3.

10 Menit

Fasilitator

Evaluasi
Menanyakan kepada
anak tentang pemilihan
bentuk sesuai pola dan warna

Leader Fasilitator

kertasyang telah dilakukan


Menanyakan tentang perasaan
anak setelah diberiterapi
bermain melipatkertas origami
pop up card

4.

5 Menit

Terminasi
Menutup acara
permainandengan memberikan

Leader

reward kepada seluruh peserta


Salam penutup

2.7 Peserta

Untuk kegiatan ini peserta yang dipilih adalah pasien di Ruang perawatan Herbrayang
memenuhi kriteria :
Usia 2-3 tahun sebanyak 6-8 orang.
Tidak mempunyai keterbatasan fisik
Dapat berinteraksi dengan perawat dan keluarga
Pasien kooperatif
2.8 Sarana dan Media
1. Sarana

Ruang Bermain di ruang anak RS Harapan Keluarga


Meja
Tiker

2. Media
Kertas origami berbeda warna
Gunting
Selotip
2.9 Pengorganisasian

Jumlah leader 1 orang, fasilitator 2 orang dan 1 orang observer


dengan susunansebagai berikut:
Leader

: Erma Nely Wahyuni

Fasilitator

: Lailatirrahmah
Bq. Elingga Ayu Astrini

Observer

: Rizki Pajri Anwari

Pembagian tugas sebagai berikut:


1. Leader, tugasnya:

2.

Membuka acara permainan


Mengatur jalannya permainan mulai dari pembukaan sampai selesai.
Mengarahkan permainan.
Memandu proses permainan.
dan mengarahkan proses bermain

Fasilitator, tugasnya:
Membimbing anak bermain.
Memberi motivasi dan semangat kepada anak dalam menyusun
kertas
Memperhatikan respon anak saat bermain.
Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan perawat dan
keluarganya.

3. Observer, tugasnya:
7

Mengawasi jalannya permainan.


Mencatat proses kegiatan dari awal hingga akhir permainan.
Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain.
Menyusun laporan dan menilai hasil permainan

2.10 Setting

Keterangan
= Anak atau Orang tua
= Fasilitator
= Leader
= Observer
= Meja
2.11 Evaluasi
1. Evaluasi Struktur

Sarana disiapkan pagi hari sebelum acara dimulai


Media dipersiapkan 1 hari sebelum pelaksanaan kegiatan
Struktur peran telah ditentukan 1 hari sebelum pelaksanaan
Kontrak dengan keluarga pasien/anak yang akan diberi terapi
bermaindilakukan 1 hari sebelum dan pagi hari sebelum
kegiatandilaksanakan.
2. Evaluasi Proses
Leader memandu terapi bermain dari awal hingga akhir kegiatan
Respon anak baik selama proses bermain berlangsung
Anak tampak aktif selama proses bermain berlangsung
Anak mau dan dapat menyusun kertas dengan baik didampingi
olehfasilitator
Keluarga ikut membantu anak selama pelaksanaan proses
bermain
Kegiatan berjalan dengan lancar dan tujuan mahasiwa tercapai
dengan baik
Masing-masing mahasiswa bekerja sesuai dengan tugasnya
masing-masing
3. Evaluasi Hasil

Kegiatan bermain dimulai tepat pada waktu yang telah


ditentukan
Anak dapat melakukan pemilihan warna sesuai dengan
yangdisukainya
Anak mengikuti proses bermain dari awal hingga akhir
Pasien / anak ikut berpartisipasi aktif dalam terapi bermain dan
dapatmenyelesaikan proses melipat kertas hingga selesa

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Bermain

Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional,


dan social dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena
dengan bermain, anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar
menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat
dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak serta suara (Wong, 2000)
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa
mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan
informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak
(Anggani Sudono, 2000)
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi
kesenangan, tanpa ada tujuan atau sasaran yang hendak dicapai (Suhendi et al,
2001)
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk
memperoleh kesenangan/kepuasan.(Supartini, 2004)

Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan aspek
terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif
untuk menurunkan stress pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental
dan emosional anak (Champbell dan Glaser, 1995). Bermain tidak sekedar
mengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan,
perawatan dan cinta kasih. Dengan bermain anak akan menemukan kekuatan
serta kelemahannya sendiri, minatnya, cara menyelesaikan tugas-tugas dalam
bermain (Soetjiningsih, 1995)
3.2 Kategori Bermain
3.2.1

Bermain aktif
Dalam bermain aktif kesenangan timbul dari apa yang dilakukan
individu. Apakah dalam bentuk kesenangan berlari atau membuat sesuatu
dengan lilin atau cat. Anak-anak kurang melakukan kegiatan bermain
secara aktif ketika mendrekati masa remaja dan mempunyai tanggung
jawab lebih besarc dirumah dan di sekolah serta kurang bertenaga karena
pertumbuhan pesat dan perubahan tubuh.
Macam-macam bermain aktif:
1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang
diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut.
Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama
permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti
apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam
permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba,
dan mengenal hal-hal baru.
2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan
karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass
media.
3. Bermain music
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah
laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman
10

sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau


memainkan alat musik.
4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak
mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di
samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi
penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk
bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.
5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi
fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di
samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar
bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri
dan kemampuannya secara realistik dan sportif.
3.2.2 Bermain pasif(hiburan)
Dalam permainan pasif atau hiburan kesenangan diperoleh dari
kegiatan orang lain, pemain menghabiskan sedikit energi. Anak yang
menikmati temannya bermain, memandang orang atau hewan ditelevisi,
menonton adegan lucu atau membaca bukuadalh bermain tanpa
mengeluarkan banyak tenaga tetapi kesenagnannya hampir seimbang
dengan anak yang menghasilkan di tempat olah raga atau bermain.
Macam-macam bermain pasif (hiburan):
1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan
memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan
berkembang kreativitas dan kecerdasannya.
2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif
maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah
pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak
meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan,
kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

11

3. Menonton televise

Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh


positif maupun negatifnya.
3.3 Ciri-ciri Bermain
1. Selalu bermaian dengan suatu benda.
2. Selalu ada timbal balik interaksi
3. Selalu dinamis
4. Ada aturan tertentu
5. Menuntut ruangan tertentu
3.4 Fungsi Bermain pada Anak

Anak bermain pada dasarnya agar ia memperoleh kesenangan, sehingga


tidak akan merasa jenuh. Bermain tidak sekedar mengisi waktu tetapi
merupakan kebutuhan anak seperti halnya makan, perawatan dan cinta kasih.
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik,
perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri,
perkembangan moral dan bermain sebagai terapi (Soetjiningsih, 1995).
Sebelum memberikan berbagai jenis permainan pada anak, maka orang
tua seharusnya mengetahui maksud dan tujuan permainan pada anak yang akan
diberikan, agar diketahui perkembangan anak lebih lanjut,mengingat anak
memiliki berbagai masa dalam tumbuh kembang yang membutuhkan stimulasi
dalam mencapai puncaknya seperti masa kritis,optimal dan sensitif.
Untuk lebih jelasnya dibawah ini terdapat beberapa fungsi bermain pada
anak diantaranya :
3.4.1
Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik
Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan
melakukan rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan
ini aktifitas anak dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai
contoh bayi dapat dilakukan rangsangan taktil,audio dan visual

12

melalui rangsangan ini perkembangan sensorik dan motorik akan


meningkat.Hal tersebut dapat dicontohkan sejak lahir anak yang telah
dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di kemudian hari
kemampuan visualnya akan lebih menonjol seperti lebih cepat
mengenal

sesuatu

yang

baru

dilihatnya.Demikian

juga

pendengaran,apabila sejak bayi dikenalkan atau dirangsang melalui


suara-suara maka daya pendengaran dikemudian hari anak lebih cepat
berkembang dibandingkan tidak ada stimulasi sejak dini.
3.4.2

Membantu Perkembangan Kognitif


Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan.
Hal ini dapat terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan
mencoba melakukan komunikasi dengan bahasa anak, mampu
memahami obyek permainan seperti dunia tempat tinggal, mampu
membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna,
memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang
digunakan dalam permainan,sehingga fungsi bermain pada model
demikian akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya.

3.4.3

Meningkatkan Sosialisasi Anak


Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai
contoh dimana pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan
terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang
dunianya sama, pada usia toddler anak sudah mencoba bermain
dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan
yang lain, kemudian bermain peran seperti bermain-main berpura-pura
menjadi seorang guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak,
menjadi seorang ibu dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah
sudah mulai menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga

13

harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang


lain.
3.4.4

Meningkatkan Kreatifitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas,
dimana anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang
ada dan mampu memodifikasi objek yang akan digunakan dalam
permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui model permainan
ini, seperti bermain bongkar pasang mobil-mobilan.

3.4.5

Meningkatkan Kesadaran Diri


Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak
untuk ekplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain
yang merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan, anak
mau belajar mengatur perilaku, membandingkan dengan perilaku
orang lain.

3.4.6

Mempunyai Nilai Terapeutik


Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman
sehingga adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat
bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya.

3.4.7

Mempunyai Nilai Moral Pada Anak


Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya,
terutama dari orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas
bermain, anak akan mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilainilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat
menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga akan belajar nilai
moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan mana yang
salah, serta belajar bertanggung-jawab atas segala tindakan yang telah
dilakukannya. Misalnya, merebut mainan teman merupakan perbuatan
yang tidak baik dan membereskan alat permainan sesudah bermain
14

adalah membelajarkan anak untuk bertanggung-jawab terhadap


tindakan serta barang yang dimilikinya. Sesuai dengan kemampuan
kognitifnya, bagi anak usia toddler dan prasekolah, permainan adalah
media yang efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan
dengan memberikan nasihat. Oleh karena itu, penting peran orang tua
untuk mengawasi anak saat anak melakukan aktivitas bermain dan
mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk atau benar/salah.
3.5 Tujuan Bermain

Melalui fungsi yang terurai diatas, pada prinsipnya bermain mempunyai


tujuan sebagai berikut :
Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat
sakit
anak
mengalami
gangguan
dalam
pertumbuhan
dan
perkembangannya. Walaupun demikian, selam anak dirawat di rumah sakit,
kegiatan sitimulasi pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap
dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.
3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat
dirumah
3.6 Ciri-Ciri Kegiatan Bermain
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smith et al; Garvev; Rubin,
Fein dan Vandenberg (Johnson et al, 1999) diungkapkan adanya beberapa cirri
kegiatan bermain yaitu :
1. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsic, maksud muncul atas keinginan
pribadi serta untuk kepentingan sendiri
2. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh
emosi-emosi yang positif
3. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktivitas ke
aktivitas lain
4. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir
1.

15

5. Bebas memilih, dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi

konsep bermain pada anak-anak kecil.


3.7 Klasifikasi Bermain
Ada beberapa jenis permainan, baik ditinjau dari isi permainan, karakter
social dan kelompok usia anak. Dibawah ini akan dibahas secara rinci satu per
satu :
3.7.1 Berdasarkan isi permainannya
1. Bermain Afektif Sosial
Bermain ini menunjukkan adanya perasaan senang dalam
berhungan dengan orang lain hal ini dapat dilakukan seperti orang tua
memeluk adanya sambil berbicara, bersandung kemudian anak
memberikan respons seperti tersenyum tertawa, bergembira, dan lainlain. Sifat dari bermain ini adalah orang lain yang berperan aktif dan
anak hanya berespons terhadap simulasi sehingga akan memberikan
kesenangan dan kepuasan bagi anak.
2. Bermain Bersenang-senang
Bermain ini hanya memberikan kesenangan pada anak melalui
objek yang ada sehingga anak merasa senang dan bergembira tanpa
adanya kehadiran orang lain. Sifat bermain ini adalah tergantung dari
stimulasi yang diberikan pada anak, mengingat sifat dari bermain ini
hanya memberikan kesenangan pada anak tapa memperdulikan
kehadiran orang lain, seperti bermain boneka-bonekaan, binatangbinatangan, dan lain-lain.
3. Bermain Keterampilan
Bermain ini menggunakan objek yang dapat melatih
kemampuan keterampilan anak yang diharapkan mampu untuk
berkreatif dan terampil dalam sebagai hal. Sifat permainan ini adalah
sifat aktif dimana anak selalu ingin mencoba kemampuan dalam
keterampilan tertentu seperti bermain dalam bongkar pasang gambar,
disni anak selalu dipacu untuk selalu terampil dalam meletakkan
gambar yang telahdi bongkar, kemudian bermain latihan memakai baju
dan lain-lain.

16

Bermain Dramtik
Macam bermain ini dapat dilakukan anak dengan mencoba
melakukan berpura-pura dalam berpeilaku seperti anak memperankan
sebagai orang dewasa, seorang ibu dan guru dalam kehidupan seharihari. Sifat dari permainan ini adalah anak dituntut aktif dalam
memerankan sesuatu. Permainan dramatic ini dapat dilakukan apabila
anak sudah mampu berkomunikasi dan mengenal kehidupan social.
5. Bermain Menyelidiki
Macam bermain ini dengan memberikan sentuhan pada anak
4.

untuk berperan dalam menyelidiki sesuatu atau memeriksa dari alat


permainan seperti mengocok untuk mengetahui isinya dan permainan
ini bersifat aktif pada anak dan dapat digunakan untuk
mengembangkan kemampuan kecerdasan pada anak. Sifat permainan
tersebut harus selalu diberikan stimulasi dari orang lain agar selalu
bertambah dalam kemampuan kecerdasan anak.
6. Bermain Konstruksi
Bermain ini bertujuan untuk menyusun sesuatu pbjek
permainan agar menjadi sebuah konstruksi yang benar seperti
permainan menyusun balok. Sifat dari permainan ini adalah aktif di
mana anak selalu ingin menyelesaikan tugas-tugas yang ada dalam
permaianan dan akan dapat membangun kecerdasan pada anak.

3.7.2 Berdasarkan Karakter Social


1. Solitary Play

Di mulai dari bayi bayi (toddler) dan merupakan jenis


permainan sendiri atau independent walaupun ada orang lain di
sekitarnya. Hal ini karena keterbatasan sosial, ketrampilan fisik dan
kognitif. Sifatnya adalah aktif akan tetapi bentuk stimulasi tambahan
kurang, karena dilakukan sendiri dalam perkembangan mental pada
anak, kemudian dapat membantu untuk menciptakan kemandirian pada
anak.

17

Pararel Play
Bermain secara sendiri tetapi di tengah-tengah anak lain yang
sedang bermain akan tetapi tidak ikut dalam kegiatan orang lain. Sifat
dari bermain ini adalah anak aktif secara sendiri tetapi masih masih
dalam satu kelompok, dengan harapan kemampuan anak dalam
menyelesaikan tugas mandiri dalam kelompok tersebut terlatih dengan
baik.
3. Associative Play
Permainan kelompok dengan tanpa tujuan kelompok. Yang
2.

mulai dari usia toddler dan dilanjutkan sampai usia prasekolah dan
merupakan permainan dimana anak dalam kelompok dengan aktivitas
yang sama tetapi belum terorganisir secara formal.
4. Cooperative Play
Suatu permainan yang terorganisir dalam kelompok, ada tujuan
kelompok dan ada memimpin yang di mulai dari usia prasekolah.
Permainan ini dilakukan pada usia sekolah dan remaja.
5. Onlooker Play
Anak melihat atau mengobservasi permainan orang lain tetapi
tidak ikut bermain, walaupun anak dapat menanyakan permainan itu
dan biasanya dimulai pada usia toddler.
6. Therapeutic Play
Merupakan pedoman bagi tenaga tim kesehatan, khususnya
untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikososial anak selama
hospitalisasi. Dapat membantu mengurangi stres, memberikan
instruksi dan perbaikan kemampuan fisiologis (Vessey & Mohan, 1990
dikutip oleh Supartini, 2004). Permainan dengan menggunakan alatalat medik dapat menurunkan kecemasan dan untuk pengajaran
perawatan diri pada anak-anak. Pengajaran dengan melalui permainan
dan harus diawasi seperti: menggunakan boneka sebagai alat peraga
untuk melakukan kegiatan bermain seperti memperagakan dan
melakukan gambar-gambar seperti pasang gips, injeksi, memasang
infus dan sebagainya.

18

3.7.3 Berdasarkan Kelompok Usia Anak 2-3 Tahun

Anak usia toddler menunjukkan karakteristikyang khas, yaitu


banyak bergerak, tidak bias diam dan mulai mengembangkan otonomi dan
kemampuannya untuk mandiri. Oleh karena itu, dalam melakukan
permainan, anak lebih bebas, spontan, dan menunjukkan otonomi baik
dalam memilih mainan maupun dalam aktivitas bermainnya. Anak
mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Oleh karena itu seringkali
mainannya dibongkar-pasang, bahkan dirusaknya. Untuk itu harus
diperhatikan keamanan dan keselamatan anak dengan cara tidak
memberikan alat permainan yang tajam dan menimbulkan perlukaan.
Jenis permainan yang tepat dipilih untuk anak usia toddler adalah
solitary play dan parallel play. Pada anak usia 1 sampai 2 tahun lebih
jelas terlihat anak melakukan permainan sendiri dengan mainannya sendir,
sedangkan pada usia lebih dari 2 tahun sampai 3 tahun, anak mulai dapat
melakukan permainan secara parallel karena sudah dapat berkomunikasi
dalam kelompoknya walaupun belum begitu jelas karena kemampuan
berbahasa blum begitu lancar. Jenis alat permainan yang tepat diberikan
adalah boneka, pasir, tanah liat dan lilin warna-warni yang dapat
dibentuk benda macam-macam
3.8 Syarat Bermain
Ada beberapa hal yang dipersyaratkan untuk dapat melakukan kegiatan
bermain yang baik untuk anak, yaitu :
3.8.1 Perhatikan factor usia anak
Sesuaikan mainan/aktivitas dengan kematangan motorik anak, yaitu
sejauh mana gerakan-gerakan otot tubuh siap melakukan gerakan-gerakan
tertentu. Juga sesuaikan dengan kognisinya, yaitu sejauh mana anak
mampu memahami permainan itu. Jika terlalu sulit, anak jadi malas
bermain dan jika kelewat gampang ia cepat bosan. Untuk itu pilihlah
mainan yang dapat merangsang kreativitas anak.
3.8.2 Tidak harus sehat
Tentu akan lebih baik jika anak dalam kondisi sehat. Namun anak
yang sakitpun diperbolehkan untuk bermain, malah bias mempercepat

19

proses kesembuhannya.tentunya jenis permainannya disesuaikan kondisi


fisik. Misalnya pilih permainan yang bisa dilakukan ditempat tidur seperti
melipat, mewarnai, menggambar atau mendengarkan dongeng,
memainkan jari-jemari sambil bercerita, main tebak-tebakan, dll.
3.8.3 Lama bermain
Tergantung karakteristik anak, ada yang aktif dan pasif. Namun
sebaiknya bermain tak terlalu lama agar anak tak mengabaikan tugastugas lainnya seperti makan, mandi dan tidur. Untuk bayi, cukup 10-30
menit karena rentang perhatiannya pun masih terbatas. Untuk anak yang
lebih besar, buatlah komitmen lebih dulu. Missal, boleh main selama 1
jam, setelah itu makan atau mandi. Namun kita hurus konsisten dengan
aturan itu agar anak tidak bingung. Bagi anak yang sakit, jika ia butuh
banyak istirahat, jangan dipaksa.
3.8.4 Pastikan mainannya aman

Terlebih untuk bayi, keamanan mainan harus diperhatikan betul.


Pilih yang tidak mudah rusak/pecah ataupun terurai seperti manik-manik
karena di khawatirkan akan masuk mulut atau lubang telingan/hidung.
Jangan pula memberikan mainan yang bertali panjang, berukurang kecil
dan menggunakan listrik. Selain itu secara umum mainan anak haruslah
tidak boleh ada bagian yang mudah tertelan, tidak tajam atau berujung
runcing, catnya tidak beracun (nontoxic), tidak mudah mengelupas, tidak
menjepit dan tidak menimbulkan api.
3.8.5 Dampingi anak
Penting diingat, mainan bukan pengganti orang tua, melainkan
sarana untuk mendekatkan hubungan orang tua dengan anak jadi, selalu
dampingi anak kala bermain. Tanpa arahan kita anak akan bermain sendiri
tanpa mengenal tujuan dari permainan tersebut. Oleh karena itu kita perlu
selalu mendampingi mereka dalam bermain. Hal ini juga untuk mengatasi
segala persoalan yang dihadapi tiap anak, seperti sulitnya berkonsentrasi
terhadap suatu kegiatan. Situasi ini juga dapat memacu pertumbuhan

20

harga diri anak dengan memberikan penghargaan pada setiap hasil


kegiatan atau penemuan-penemuan anak dalam proses bermain.
3.9 Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
Ada 5 (lima) factor yang mempengaruhi aktivitas bermain pada anak, yaitu :
3.9.1 Tahap perkembangan anak

Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan


tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. Tentunya permainan anak
usia bayi tidak lagi efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak
usia sekolah. Demikian juga sebaliknya karena pada dasarnya permainan
adalah alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan
demikian, orang tua dan perawat harus mengetahui dan memberikan jenis
permainan yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan
perkembangan anak.
3.9.2 Status kesehatan anak
Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi, walaupun
demikian, bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat sedang sakit.
Kebutuhan bermain pada anak sama halnya dengan kebutuhan bekerja
pada orang dewasa. Yang penting pada saat kondisi anak sedang menurun
atau anak terkena sakit, bahkan dirawat di rumah sakit, orang tua dan
perawat harus jeli memilihkan permainan yang dapat dilakukan anak
sesuai dengan prinsip bermain pada anak yang sedang dirawat di rumah
sakit.
3.9.3 Jenis kelamin anak
Ada bebarapa pndangan tentang konsep gender dalam kaitannya
dengan permainan anak. Dalam melaksanakan aktivitas bermain tidak
membedakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Semua alat
permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau perempuan untuk
mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas dan kemampuan social
anak. Akan tetapi, ada pendapat lain yang meyakini bahwa permainan
adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri
sehingga sebagian alat permainan anak perempuan tidak dianjurkan untuk
digunakan oleh anak laki-laki. Hal ini di latarbelakangi oleh alasan
21

adanya tuntutan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan


dan hal ini dipelajari melalui media permainan.
3.9.4 Lingkungan yang mendukung
Terselenggaranya aktivitas bermain yang baik untuk perkembangan
anak salah satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya dan lingkungan
fisik rumah. Fasilitas bermain tidak selalu harus yang dibeli di took atau
mainan jadi, tetapi lebih diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi
dan kreativitas anak, bahkan sering kali mainan tradisional yang dibuat
sendiri dari/atau berasal dari benda-benda di sekitar kehidupan anak akan
lebih merangsang anak untuk kreatif, keyakinan keluarga tentang moral
dan budaya juga mempengaruhi bagaimana anak di didik melalui
permainan. Sementara lingkungan fisik sekitar lebih banyak
mempengaruhi ruang gerak anak untuk melakukan aktivitas fisik dan
motorik. Lingkungan rumah yang cukup luas untuk bermain
memungkinkan anak mempunyai cukup ruang gerak untuk bermain,
berjalan, mondar-mandir, berlari, melompat dan bermain dengan teman
sekelompoknya.
3.9.5 Alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai bagi anak
Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk
anak. Pilih yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. Label yang
tertera pada mainan harus dibaca terlebih dahulu sebelum membelinya,
apakah mainan tersebut sesuai dengan usia anak. Alat permainan tidak
selalu harus yang dibeli di took atau mainan jadi, tetapi lebih diutamakan
yang dapat menstimulus imajinasi dan kreativitas anak, bahkan seringkali
mainan tradisional yang dibuat sendiri dari atau berasal dari benda-benda
di sekitar kehidupan anak, akan lebih merangsang anak untuk kreatif. Alat
permainan yang harus didorong, ditarik, dan dimanipulasi, akan
manegajarkan anak untuk dapat mengembangkan kemampuan koordinasi
alat gerak. Permainan membantu anak untuk meningkatkan kemampuan
dalam mengenal norma dan aturan serta interaksi social dengan orang
lain.

22

Orang tua dan anak dapat memilih mainan bersama-sama, tetapi


yang harus diingat bahwa alat permainan harus aman bagi anak. Oleh
karena itu, orang tua harus membantu anak memilihkan mainan yang
aman.
3.10 Hospitalisasi

Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individu


karena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman,
seperti : lingkungan asing, berpisah dengan orang yang berarti, kurang
informasi, kehilangan kebebasan dan kemandirian, pengalaman yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan, semakin sering berhubungan dengan
rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil atau sebaliknya, perilaku
petugas rumah sakit..
3.10.1 Prinsip Permainan Pada Anak Di Rumah Sakit
1. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang
sedang dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring,
harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan
anak tidak boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat
bermain khusus yang ada di ruangan rawat.
2. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan
sederhana
3. Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak
4. Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama
5. Melibatkan orang tua
3.10.2 Keuntungan Bermain Pada Anak Di Rumah Sakit
1. Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan

perawat
2. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk
mandiri. Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan
perasaan mandiri pada anak
3. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa
senang pada anak, tetapi juga akan membantu anak
23

mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih tegang


dan nyeri
4. Permainan yang terapeutuk akan dapat meningkatkan kemampuan
anak untuk mempunyai tingkah laku yang positif
3.10.3 Tujuan Bermain Di Rumah Sakit
Kebutuhan bermain mengacu pada tahapan tumbuh kembang
anak, sedangkan tujuan yang ditetapkan harus memperhatikan prinsip
bermain bagi anak di rumah sakit yaitu menekankan pada upaya
ekspresi sekaligus relaksasi dan distraksi dari perasaan takut, cemas,
sedih, tegang dan nyeri.
3.10.4 Proses Kegiatan Bermain

Uraikan kegiatan bermain yang akan dilakukan. Ingat bahwa


perawat hanya sebagai fasilitator dan kegiatan bermain harus
dilakukan secara aktif oleh anak dan orang tuanya. Kegiatan bermain
yang dijalankan mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Apabila permainan akan dilakukan dalam kelompok,
uraikan dengan jelas aktivitas setiap anggota kelompok dalam
permainan dan kegiatan orang tua setiap anak.
3.10.5 Alat Permainan Yang Diperlukan
Alat permainan yang digunakan tidak harus yang baru dan bagus.
Gunakan alat permainan yang dimiliki anak atau yang tersedia di
ruang perawatan. Yang penting adalah alat permainan yang digunakan
harus menggambarkan kreativitas perawat dan orang tua, serta dapat
menjadi media untuk eksplorasi perasaan anak.
3.10.6 Pelaksanaan Kegiatan Bermain

Selama kegiatan bermain respons anak dan orang tua harus


diobservasi dan menjadi catatan penting bagi perawat, bahkan apabila
tampak adanya kelelahan pada anak permainan tidak boleh di
teruskan. Proses dalam melakukan permainan merupakan hal yang
terpenting, bukan semata-mata hasilnya.

24

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional,


dan social dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan
bermain, anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan

25

diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal
waktu, jarak serta suara (Wong, 2000)
Terapi bermain adalah suatu bentuk permainan yang direncanakan untuk
membantu anak mengungkapkan perasaannya dalam menghadapi kecemasan dan
ketakutan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan baginya. Bermain pada
usia 2-3 tahun adalah kegiatan serius, yang merupakan bagian penting dalam
perkembangan tahun-tahun pertama masa kanak-kanak. Hampir sebagian besar
dari waktu mereka dihabiskan untuk bermain (Elizabeth B Hurlock, 1999: 121).
Dalam bermain di rumah sakit mempunyai fungsi penting yaitu menghilangkan
kecemasan, dimana lingkungan rumah sakit membangkitkan ketakutan yang
tidak dapat dihindarkan (Sacharin, 1993: 78).
4.2 Saran

Kami mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk mahasiswa dan


mahasiswi untuk menambah pengetahuan tentang Terapi Bermain pada Anak
Usia 2-3 Tahun. Kami juga merasa pada makalah ini banyak kekurangan, karena
kurangnya referensi dan pengetahuan pada saat pembuatan makalah ini kami
sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun pada pembaca
agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Alimul Hidayat, A.Aziz.2005.Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1.Jakarta:salemba
medika.
Perry, A,G & Potter, P.A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta:EGC.
Soetjiningsih.2005.Buku Ajar II Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta:Idai
Wong,D.L.1995.Nursing Care of Instants and Children.St.Louis Mosby.
Foster and humsberger . 1998 . Family Centered Nursing Care of Children . WB
sauders Company . Philadelpia USA

26

Hurlock E B . 1991 . Perkembangan Anak Jilid 1 . Erlangga . Jakarta


Whaley and Wong . 1991 . Nursing Care Infants and Children . Fourth Edition .
Mosby Year Book . Toronto . Canada
Noname . 2006 . Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak .

27