Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Hipotiroidisme sering terjadi pada wanita dan insidennya meningkat sesuai
usia. Sekitar 10% sampai 15% pasien lansia mengalami peningkatan TSH akibat
hipotiroidisme dan penapisan rutin kelompok berisiko tinggi sering dilakukan
pada lingkungan keperawatan primer.
Hipotiroidisme pada bayi baru lahir menyebabkan perkembangan
abnormal sistem saraf pusat. sejalan dengan perkembangan penyakit, terdapat
depresi umum hampir di semua sistem enzim seluler dan proses oksidatif. Tanda
dan gejala gangguan mempunyai rentang keluhan tidak jelas dan tidak spesifik
yang membuat sulitnya diagnosa, sampai gejala parah yang dapatmengancam
kehidupan jika tidak dikenali dan diobati. Komplikasi meliputi retardasi
mentalpada anak kecil yang tidak diobati dari lahir, tubuh pendek dan
perkembangan fisik terhambat pada anak yang lebih besar, dan koma miksedema
yang mempunyai tingkat mortilitas tinggi.
Klien yang terserang hipotiroidisme akan mengalami penurunan laju
metabolisme yang berakibat penurunan BMR (Basal Metabolism Rate) dan
konsumsi oksigen. Asupan makan dan nafsu makan berkurang tetapi berat badan
akan meningkat akibat retensi cairan dan garam serta akumulasi lemak.
Hipertiroidisme (tiroksikosis) merupakan suatu kondisi dimana kelenjar
tiroid mengalami peningkatan produksi dan sekresi hormon tiroid. Hipertiroid
pada orang dewasa terjadi sekitar tiga insiden untuk 10.000 kasus setiap tahunnya
dengan rasio wanita banding pria adalah lima banding satu. Pada anak, jarang
ditemukan hipertiroidisme. Namun, pada anak kasus biasanya terjadi pada usia
10-14 tahun. Klien yang terserang hipertiroidisme akan mengalami perubahan
pola menstruasi, masalah dengan kesuburan, kelelahan, dan kelemahan otot
(Sudiono, 2007).
Berdasarkan data di atas kita dapat menyimpulkan betapa berbahayanya
hipotiroid dan hipertiroid. Oleh karena itu, kita harus menghindari hal hal yang
dapat menyebabkan penyakit tersebut. Salah satunya adalah dengan tidak
mengkonsumsi yodium berlebihan.
1.2

Rumusan Masalah
Apa definisi dari hipotiroid dan hipertiroid?
Apa etiologi dari hipotiroid dan hipertiroid?
Apa faktor resiko dari hipotiroid dan hipertiroid?
Bagaimana patofisiologi dari hipotiroid dan hipertiroid?
Bagaimana gejala klinis dari hipotiroid dan hipertiroid?
Bagaimana penatalaksanaan dari hipotiroid dan hipertiroid?
Apa peran perawat dalam mengatasi penyakit hipotiroid dan hipertiroid?
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan hipotiroid dan
hipertiroid?

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

1.3

Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui dan memahami gangguan
dalam sistem endokrin, yakni hipotiroid dan hipertiroid dalam tubuh
manusia.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Dapat memahami definisi gangguan pada sistem endokrin, yakni
hipotiroid dan hipertiroid dalam tubuh manusia;
2. Dapat mengetahui etiologi pada gangguan sistem endokrin
hipotiroid dan hipertiroid;
3. Dapat mengetahui faktor resiko dari hipotiroid dan hipertiroid;
4. Dapat mengetahui patofisiologi dari hipotiroid dan hipertiroid;
5. Dapat mengetahui gejala klinis dari hipotiroid dan hipertiroid;
6. Dapat mengetahui penatalaksanaan pada gangguan sistem endokrin
hipotiroid dan hipertiroid;
7. Dapat mengetahui peran perawat dalam mengatasi penyakit
hipotiroid dan hipertiroid; dan
8. Dapat mengetahui asuhan keperawatan pada hipotiroid dan
hipertiroid.

1.4

Manfaat
Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tentang patofisiologi
gangguan pada sistem endokrin: hipotiroid dan hipertiroid dalam tubuh manusia
sehingga dapat bermanfaat bagi para mahasiswa keperawatan dalam melakukan
pemeriksaan dan tindakan keperawatan.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Hipotiroid
2.1.1 Definisi
Hipotiroidisme adalah keadaan kurang aktifnya kelenjar tiroid yang
menyebabkan sekresi hormon tiroid tidak terjadi atau mengalami
penurunan. Hipotiroidisme mengacu pada rendahnya kadar hormon tiroid di
dalam aliran darah. Kondisi ini disebabkan oleh disfungsi tiroid, yang dapat
terjadi karena pembedahan (tiroidektomi), terapi dengan iodin radioaktif,
atau pengobatan berlebihan dengan obat-obatan antitiroid. Hipotiroidisme
juga dapat bersifat kongenital (1 dari 4000 kelahiran hidup) atau terjadi
karena disfungsi imunologis kronis, seperti pada tiroiditis Hashimoto
(Hartono, 2012).
Gangguan umum disertai gambaran klinis yang luas, pasien dapat
asimtomatik atau dapat mengalami sakit berat disertai koma miksedema.
Koma miksedema adalah kedaruratan yang membahayakan jiwa akibat
hipotiroidisme ekstrem yang jarang terjadi. Koma miksedema biasanya
terjadi pada pasien lansia selama musim dingin setelah faktor tertentu
seperti stres, pemajanan terhadap suhu dingin yang ekstrem, atau trauma
(Hartono, 2012).
2.1.2 Etiologi
Menurut Price & Wilson (2003) etiologi hipotiroid diklasifikan
menjadi tiga, yaitu:
a. Hipotiroid congenital menetap
1) Disgenesis Tiroid
Merupakan penyebab terbesar Hipotiroidisme Kongenital non
endemik, kira-kira 85-90%. Merupakan akibat dari tidak adanya
jaringan tiroid total (agenesis) atau parsial (hipoplasia) yang dapat
terjadi akibat gagalnya penurunan kelenjar tiroid ke leher (ektopik),
disini dapat terjadi agenesis unilateral atau hipoplasia. Faktor genetik
dan lingkungan mungkin berperan pada disgenesis tiroid, namun
demikian sebagian besar penyebabnya belum diketahui.
2) Inborn Errors of Tyroid Hormonogenesis
Merupakan kelainan terbanyak kongenital karena kelainan genetik.
Defek yang didapatkan adalah:
a) Kegagalan mengkonsentrasikan yodium
b) Defek organifikasi yodium karena kelainan enzim TPO atau pada
H2O2 generating system
c) Defek pada sintesis atau transport triglobulin
d) Kelainan katifitas iodotirosin deidonase
3) Resisten TSH
Sindrom resistensi hormone, bermanifestasi sangat luas, sebagai
akibat dari berkurang atau tidak adanya respon end organ terhadap
hormone yang biologis aktif. Hal ini dapat disebabkan karena defek
pada reseptor atau post reseptor, TSH resisten adalah suatu keadaan
kelenjar tiroid refakter terhadap rangsang TSH. Hilangnya fungsi

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

reseptor TSH, akibat mutasi reseptor TSH defek molekuler pada


sebagian keluarga kasus dengan resisten TSH yang ditandai dengan
kadar serum TSH tinggi, dan serum hormon tiroid normal atau
menurun, disertai kelenjar tiroid normal atau hipoplastik.
4) Sintesis atau sekresi TSH berkurang
Hipotiroidism sentral disebabkan karena kelainan pada hipofisis atau
hipotalamus. Pada bayi sangat jarang dengan prevalensi antara 1:
25.000 sampai 1: 100.000 kelahiran.
5) Menurunnya transport T4 seluler
Sindrom ini terjadi akibat mutasi monocarboxylate transporter 8
(MCT8), merupakan fasilitator seluler aktif transport hormone tiroid
ke dalam sel. Biasanya pada laki laki menyababkan hipotiroidisme
dengan kelainan neurologi seperti kelambatan perkembangan
menyeluruh, distonia hipotoniasentral, gangguan pandangan mata
serta kadar T3 meningkat.
6) Resistensi hormon tiroid
Merupakan sindrom akibat dari tidak responsifnya jaringan target
terhadap hormone tiroid, ditandai dengan meningkatnya kadar FT4
dan FT3 dalam sirkulasi dengan kadar TSH sedikit meningkat atau
normal.
b. Hipotiroid congenital transien
1) Defisiensi yodium atau yodium yang berlebihan
Pada janin maupun pada bayi yang baru lahir sangat peka pengaruh
nya pada tiroid, sehingga harus dihindarkan penggunannya yodiu pada
ibu selama kehamilan, sumber sumber yodium termasuk obat-obatan
(kalium yodia, amidarone), bahan kontras radiologi( untuk pyelogram
intra vena, cholecytogram) dan larutan antiseptic (yodium povidon)
yang digunakan membersihkan kulit dan vagina, dapat berpengaruh.
2) Pengobatan ibu dengan obat antitiroid
Dapat terjadi pada ibu yang diberikan obat antitiroid (PTU atau
karbimasol atau metimasil) untuk penyakit graves, bayi nya ditandai
oleh pembesaran kelenjar tiroid, sehingga dapat mengakibatkan
gangguan prnafasan, khususnya bila diberikan obat yang dosisnya
tinggi.
3) Antibodi reseptor tirotropin ibu
Reseptor TSH (TSHR) meruoakan pasangan protein G merupakan
reseptor berbentuk seperti jangkar terhadap permukaan sel epitel tiroid
(tirosid) yang mengatur sintesis dan lepasnya hormone tiroid. Apabila
memblok TSH endogen dapat mengakibatkan hipotiroidisme.
c. Hipotiroid didapatkan dari
1) Primer
a) Tiroiditis Hasimoto, dengan goiter dan atropi tiroid idiopatik,
diduga sebagai stadium akhir penyakit tiroid autoimun, setelah
tiroiditis Hashimoto atau penyakit Graves.
b) Terapi iodin radioaktif untuk penyakit Graves.
c) Tiroidektami subtotal untuk penyakit Graves atau goiter nodular.
d) Asupan iodide berlebihan (kelp, zat warna kontras)

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

e) Konsumsi makanan yang bersifat goitrogenik (terong, kol,


sawi, brokoli, dan jenis sayur lainnya) dapat memperlambat
penyerapan yodium.
f) Tirokiitis subakut.
g) Penyebab yang jarang di Amerika Serikat, antara lain defisiensi
iodide, bahan goitrogenik lain seperti litium, terapi dengan obat
antitiroid, dan kelainan bawaan sintesis hormon tiroid.
2) Sekunder
Hipopituitarisme karena adenoma hipofisis, terapi ablasi hipofisis,
atau destruksi hipofisis.
3) Tersier
Disfungsi hipotalamus (jarang).
4) Resistensi perifer terhadap kerja hormon tiroid
2.1.3 Faktor Resiko
Wanita lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk mengembangkan
hipotiroidisme. Penyakit ini juga lebih sering terjadi pada orang yang lebih
tua dari usia 60. The American Thyroid Association (2012)
merekomendasikan bahwa orang dewasa, khususnya perempuan, memiliki
tes darah untuk mendeteksi masalah tiroid setiap 5 tahun dimulai pada usia
35. Menurut Smeltzer & Bare (2006) faktor-faktor tertentu dapat
meningkatkan kemungkinan seseorang terkena gangguan tiroid. Individu
mungkin perlu pengujian lebih teratur jika mereka
a. Memiliki masalah tiroid sebelumnya, seperti gondok atau operasi tiroid
b. Memiliki riwayat keluarga penyakit tiroid
c. Memiliki penyakit autoimun lainnya termasuk sindrom Sjgren, anemia
pernisiosa, diabetes tipe 1, rheumatoid arthritis, lupus atau
d. Memiliki Sindrom Turner, kelainan genetik yang mempengaruhi anak
perempuan dan perempuan
e. Lebih tua dari 60
f. Telah hamil atau melahirkan bayi dalam 6 bulan terakhir
g. Telah menerima radiasi tiroid atau ke leher atau dada
Mendapatkan diuji secara rutin membantu mengungkap masalah
tiroid-terutama masalah subklinis. Subklinis berarti seseorang tidak
memiliki gejala yang jelas. Beberapa dokter mengobati hipotiroidisme
subklinis segera, yang lain lebih memilih untuk meninggalkannya tidak
diobati tetapi memonitor pasien mereka untuk tanda-tanda bahwa kondisi ini
memburuk (Patricia, 2005).
2.1.4 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis hipotiroid tergantung pada dua hal yaitu beratnya
defisiensi hormon tiroid yang terjadi dan tingkat keakutan kelainan tersebut
terjadi. Pada hipotiroid primer di mana fungsi tiroid menurun perlahan,
gejala yang timbul lebih ringan dibandingkan pada kondisi post tiroidektomi
(Surks, 1995).
Pada sistem metabolisme terjadi penurunan laju metabolisme yang
berakibat penurunan BMR (Basal Metabolism Rate) dan konsumsi oksigen.
Penurunan termogenesis akan menimbulkan intoleransi terhadap udara

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

dingin. Asupan makan dan nafsu makan berkurang tetapi berat badan akan
meningkat akibat retensi cairan dan garam serta akumulasi lemak. Terjadi
penurunan sintesis protein, asam lemak dan lipolisis. Kadar kolesterol total
dan LDL kolesterol meningkat akibat penurunan klirens HDL kolesterol.
Kadar trigliserid bisa normal atau meningkat. Kadar homosistein juga
mengalami peningkatan. (OBrien et al, 1993; Hussein et al, 1999).
Pada sistem kardiovaskuler terjadi penurunan kontraktilitas myokard
dan denyut jantung yang mengakibatkan penurunan cardiac output dan
penurunan kapasitas latihan. Resistensi vaskuler perifer akan meningkat
yang mengakibatkan peningkatan tekanan diastolik. Penderita hipotiroid
juga sering disertai efusi pleura dan perikard (Badesch et al, 1993).
Pada sistem integumentum, dijumpai gambaran kulit kering dan pucat.
Dapat dijumpai non pitting edema oleh karena akumulasi
glikosaminoglikan. Rambut tampak kasar dan mudah rontok. Kuku mudah
pecah dan terjadi penurunan pengeluaran keringat (Heymann, 1992).
Pada sistem saraf dijumpai gejala mudah mengantuk, proses berpikir
yang menurun dan perubahan memori. Pemeriksaan imaging menunjukkan
penurunan aliran darah otak dan metabolisme yang kemungkinan mendasari
kelainan di atas. Penurunan refleks tendon dalam merupakan salah satu
tanda hipotiroid yang perlu diperiksa. Pada sistem respirasi terjadi
hipoventilasi dan hiperkapnia. Hal ini disebabkan kelemahan otot
pernafasan dan respon terhadap hipoksemia dan hiperkapnia yang tidak
memadai. Hipotiroid dapat menyebabkan atau memperberat sleep apneu
(Siafakas et al, 1992; Ladenson et al, 1988).
Pada sistem gastrointestinal dapat dijumpai konstipasi akibat
penurunan motilitas usus. Sebagaimana penyakit autoimun yang lain, terjadi
peningkatan risiko anemia pernisiosa dan atrofi gaster pada penderita
hipotiroid. Pada sistem reproduksi dapat dijumpai oligo-amenorea atau
hiper-menoragi. Pada hipotiroid primer dapat dijumpai peningkatan serum
prolaktin akibat stimulasi TRH. Hiperprolaktinemia mengakibatkan
hipogonadisme yang akan menyebabkan penurunan fertilitas dan
peningkatan risiko keguguran. Pada penderita hipotiroid pria, dapat terjadi
penurunan kadar testosteron. (Krassas et al, 1999).
Tabel 1. Gejala dan Tanda Hipotiroid (Hueston, 2001)
Gejala dan tanda
Persentase
Kelemahan
99
Perubahan kulit
97
Letargi
91
Pembicaraan lambat
90
Edema palpebra
90
Sensasi dingin
89
Berkurangnya keringat
89
Lidah tebal
82
Edema fasial
79
Rambut kasar
76
Kulit pucat
67
Mudah lupa
66
Konstipasi
61

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

2.1.5 Patofisiologi
Defisiensi produksi hormon tiroid mengakibatkan kondisi klinis yang
disebut hipotiroidisme. Hipotiroidisme, suatu penyakit kronis, 10 kali lebih
sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Hipotiroidisme terjadi pada
semua kelompok umur tetapi paling sering terjadi pada lansia yang berumur
lebih dari 50 tahun. Hipotiroidisme lebih sering terjadi daripada
hipertiroidisme (Fisher, 2002).
Hipotiroidisme dapat terjadi secara primer atau sekunder. Penyebab
primer meliputi defek kongenital, pengangkatan jaringan tiroid setelah
terapi hipertiroidisme, tidak sempurnanya sintesis hormon akibat proses
autoimun, dan pemberian antitiroid atau defisiensi iodin. Penyebab
sekundernya adalah resistansi perifer terhadap hormon tiroid, infark
hipofisis, dan gangguan hipotalamus. Hipotiroidisme sementara dapat
terjadi setelah penghentian terapi T4 atau T3 jangka panjang. Menurut
Fisher (2002) penyebab umum hipotiroidisme sementara diantaranya yaitu:
a. Kerusakan kelenjar tiroid (misalnya pembedahan, iodin radioaktif,
radiasi eksternal terhadap leher)
b. Penyakit infiltratif (misalnya sarkoidosis, amiloidosis, limfoma)
c. Penyakit otoimun (misalnya penyakit Hashimoto, pascagraves)
d. Tiroiditis (misalnya virus, pascapartum)
e. Dipicu obat (misalnya iodide, litium, amiodaron)
f. Hipotiroidisme herediter
g. Defisiensi hormon pelepasan tirotropin (TRH)
h. Defisiensi hormon pelepasan tiroid (TSH)
Hipotiroidisme biasanya mempengaruhi seluruh sistem tubuh.
Hipotiroidisme biasanya ditandai dengan laju metabolisme basal (BMR)
yang rendah dan penurunan metabolisme energy serta produksi panas.
Pasien hipotiroidisme kronis dapat mengalami miksedemia, suatu perubahan
komposisi dermis dan jaringan lain. Serabut ikat dipisahkan oleh
peningkatan jumlah protein dan mukopolisakarida. Serabut ini mengikat air,
menyebabkan edema lunak tanpa tekanan, terutama di sekitar tangan, mata,
dan kaki. Selain itu menyebakan penebalan lidah dan membran mukosa
laring dan faring, mengakibatkan bicara pelo dan suara parau (Fisher, 2002).
2.1.6 WOC (Web of Caution)
(Terlampir)
2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik
Beberapa pemeriksaan diagnostik yang dianjurkan oleh Roberts &
Ladenson (2004) adalah:
Radiografi dada mendeteksi efusi pleura. Perubahan EKG meliputi
brakikardia, pemanjangan interval PR, dan penurunan amplitudo gelombang
P dan kompleks QRS. Dan dapat terjadi blok jantung. Pada tes kimia darah
terjadi penurunan kadar T3 dan T4, iodiumnya terikat dengan protein,
peningkatan kadar TSH pada natrium, serta adanya kolesterol.
Pemeriksaan kadar tirotropin (TSH) merupakan uji diagnostik lini
pertama untuk hipotiroid. Kenaikan kadar TSH memastikan seseorang
menderita hipotiroid primer. Kadar TSH normal adalah 0,4 mU/L sampai

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

4,0 mU/L yang terdistribusi secara logaritmik, sehingga konsentrasi rata-rata


berada di batas bawah dari kisaran normal. Akibatnya, kadar TSH pada
batas atas normal (> 3,0 mU/L) kemungkinan menunjukkan disfungsi tiroid
yang masih ringan, yang berisiko berkembang menjadi hipotiroid, terutama
jika ditemukan adanya autoantibodi tiroid.
Pemeriksaan tirotropin (TSH) mempunyai keterbatasan dalam
mendiagnosis hipotirois sentral. Pada penderita hipotiroid sentral, kadar
TSH dapat rendah oleh karena penurunan produksi TSH, atau normal atau
sedikit meningkat sebagai hasil sintesis TSH dengan aktivitas biologis yang
rendah. Hipotiroid sentral dapat dicurigai pada beberapa kondisi, (1) jika
didapatkan gambaran klinis hipotiroid tanpa kenaikan kadar tirotropin, (2)
gambaran klinis defisiensi hormon hipofisis anterior lain, (3) adanya massa
pada regio sellar atau (4) pada pasien dengan hipopituitarisme (mis:
sarkoidosis, radioterapi atau perlukaan kranial, kanker dengan metastasis
hipofisis). Pada kondisi-kondisi tersebut, pemeriksaan kadar tirotropin
dilakukan bersama sama dengan pemeriksaan kadar tiroksin bebas. Kadar
tiroksin bebas yang rendah memastikan diagnosis hipotiroid sentral.
Ditemukan kadar tiroksin bebas yang rendah ini, tanpa memperhitungkan
berapa kadar TSH, harus diikuti dengan pemeriksaan lanjutan, seperti
pemeriksaan pencitraan hipofisis, tes stimulasi TRH dan tes fungsi hipofisis
yang lain. Pada kecurigaan klinis hipotiroid, kadar tiroksin bebas yang
berada pada batas bawah nilai normal pun harus dicurigai sebagai hipotiroid
sentral tahap awal, yang perlu dievaluasi lebih lanjut dengan pemeriksaan
yang lain. Sebaliknya ada kondisi lain di mana peningkatan TSH tidak
berhubungan dengan hipotiroid misalnya pada insufisiensi adrenal, gagal
ginjal atau paparan suhu yang sangat dingin. Obat-obat yang digunakan
pada kondisi darurat seperti glukokortikoid, dopamin, dobutamin dapat
menekan kadar TSH sehingga menutupi gejala hipotiroid. Sebaliknya,
pasien yang baru saja pulih dari kondisi sakit parah akan menunjukkan
kenaikan sementara kadar TSH, sehingga pemeriksaan fungsi tiroid pada
pasien yang sakit parah dapat memberikan hasil yang membingungkan.
Penggunaan obat-obat anti kejang seperti fenitoin dan karbamazepin dapat
memberikan hasil pemeriksaan TSH dan tiroksin bebas yang rendah yang
mungkin dikira sebagai hipotiroid sentral.
Tabel 2. Nilai Laboratorium pada Hipotiroid (Hueston, 2001)
Kadar TSH
Kadar FT4 Kadar FT3
Kemungkinan Diagnosis
Tinggi Rendah
Rendah
Hipotiroid primer
Tinggi Normal
Normal
Hipotiroid subklinis yang
(>10 mU/L)
cenderung berkembang
menjadi Hipotiroid klinis
Tinggi Normal
Normal
Hipotiroid subklinis yg tidak
(5-10 mU/L)
cenderung berkembang
menjadi Hipotiroid klinis
Tinggi Tinggi
Rendah
Hilangnya enzim pengubah
T4-T3, efek amiodaron
Tinggi Tinggi
Tinggi
Resistensi hormon tiroid
Perifer

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

RendahRendah

Rendah

Hipotiroid sentral (defisiensi


Tiroid hipofisis)

2.1.8 Penatalaksanaan
Berdasarkan Hartono (2012) terdapat dua penatalaksanaan dalam
menangani pasien hipotiroid, yaitu:
a. Farmakologi
Komplikasi hipotiroidisme yang paling serius adalah perkembangan
penyakit menjadi koma miksedema dan kematian, jika hipotiroidisme tidak
diobati. Pendekatan multisistem harus digunakan dalam perawatan
kedaruratan kondisi ini. Ventilasi mekanik digunakan untuk mengendalikan
hipoventilasi, hiperkapnea, dan henti nafas. Pemberian salin normal
hipertonik dan glukosa secara intravena mengoreksi keadaan hiponatremia
dan hipoglikema. Pemberian cairan disertai terapi vasopresor dapat
diperlukan untuk mengoreksi hipotensi.
Terapi farmakologis meliputi pemberian hormon tiroid dan
kortikosteroid. Terdapat banyak pendekatan untuk aspek penatalaksanaan
medis ini. Terapi obat awal meliputi 300 sampai 500g T4 secara intravena
untuk menjenuhkan semua protein yang berikatan dan mempertahankan
kadar T4 tetap relative normal. Dosis lanjutan dapat meliputi 100g setiap
hari. T3 oral atau intravena merupakan instruksi alternative. Panduan
penggantian T3 adalah 25g secara intravena setiap 8 jam untuk 24 sampai
48 jam pertama. Dosis T3 oral setiap 8 jam juga diresepkan. Penggantian
hormon harus diberikan secara perlahan-lahan dan pasien harus dipantau
terus menerus selama pengobatan untuk menghindari peningkatan
kebutuhan metabolic yang tiba-tiba dan infark miokard. Penggantian cairan
dan menghangatkan kembali pasien juga harus dilakukan dengan urutan
teratur untuk menghindari komplikasi.
b. Non farmakologi
Intervensi tambahan meliputi penanganan distensi abdomen dan
inpaksi feses dan penatalaksanaan hipotermia dengan penghangatan kembali
pasien secara bertahap menggunakan selimut dan kaos kaki. Alat mekanis
tidak perlu digunakan. Status neurologis dan tingkat kesadaran pasien
dipantau. Dilakukan tindakan untuk pencegahan kejang. Ketika pasien
dalam keadaan koma, perawatan meliputi pencegahan komplikasi akibat
aspirasi, imobilitas, kerusakan kulit, dan infeksi. Fungsi jantung dan
pernapasan dipantau. Pemberian cairan juga harus terus dipantau karena
memberikan resiko kelebihan beban cairan. Aspek perawatan yang penting
adalah mendeteksi tanda-tanda awal komplikasi. Seiring penyembuhan
pasien, fokus intervensinya adalah perawatan mandiri dan penyuluhan.
Tindak lanjut pasien meliputi pemeriksaan menyeluruh bagaimana
hipotiroidisme berat terjadi dan bagaimana cara terbaik untuk
menghindarinya agar tidak terjadi pada masa yang akan dating. Penyuluhan
pasien, tindak lanjut keluarga, pelaksanaan kewaspadaan medis, dan
pelibatan dukungan masyarakat mungkin diperlukan.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

2.1.9 Nursing Consideration (Peran Perawat)


Menurut Junaidi (2009) ada tiga jenis pencegahan yang dapat
dilakukan oleh perawat kepada penderita hipotiroidisme:
a. Primer
1) Faktor ini bertujuan untuk menghindari diri dari faktor resiko.
2) Berikan edukasi agar klien dan keluarga mengetahui ciri-ciri serta
informasi mengenai hipotiroid.
3) Iodisasi air minum untuk wilayah dengan resiko tinggi.
4) Berikan kapsul minyak beriodium pada penduduk di daerah endemik
berat dan sedang
b. Sekunder
1) Bertujuan untuk mendeteksi dini timbulnya penyakit.
2) Mengupayakan orang yang sakit agar sembuh.
3) Memghambat progresivitas penyakit.
c. Tersier
Tujuannya untuk mengembalikan fungsi mental, fisik, dan sosial
penderita setelah proses penyakitnya dihentikan.
1) Kontrol berkala untuk memastikan dan mendeteksi adanya
kekambuhan/penyebaran.
2) Lakukan rehabilitasi dengan membuat penderita lebih percaya diri,
fisik sehat bugar dan keluarga serta masyarakat daopet menerima
kehadirannya melalui fisioterapi.
3) Menekan munculnya komplikasi dan kecacatan.
4) Penyuluhan kesehatan secara profesional dengan memberikan materi
penyuluhan seperti: apakah itu hipotiroid dan bagaimana
penatalaksanaannya.
5) Informasikan kepada keluarga klien tentang emosi klien dan anjurkan
kepada keluarga untuk menjaga emosi klien.
6) Pemberian pengetahuan kepada klien dan keluarga tentang dosi-dosis
obat yang diberikan.
7) Informasikan kepada klien dan keluarga untuk melakukan aktivitas
yang ringan dan tidak melakukan aktivitas yang berat-berat.
2.2 Hipertiroid
2.2.1 Definisi
Hipertiroidisme (tiroksikosis) merupakan suatu kondisi dimana
kelenjar tiroid mengalami peningkatan produksi dan sekresi hormon tiroid.
Kondisi ini ditandai dengan adanya peningkatan jumlah hormon
triidotironin (T3) dan tiroksin (T4), atau peningkatan kadar TSH (Baradero,
2005). Hipertiroidisme pada orang dewasa terjadi sekitar tiga insiden untuk
10.000 kasus setiap tahunnya dengan rasio wanita banding pria adalah lima
banding satu. Pada anak, jarang ditemukan hipertiroidisme. Namun, pada
anak kasus biasanya terjadi pada usia 10-14 tahun (Sudiono, 2007).
2.2.2 Etiologi
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan hipertiroidisme,
diantaranya adalah penyakit grave, goiter multinodular beracun, tiroiditis,

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

10

dan pemasukan iodine yang belebihan pada tubuh (American Thyroid


Association, 2012).
a. Penyakit Graves
Penyakit Graves diperkirakan adalah suatu penyakit autoimun, dan
antibodi-antibodi yang adalah karakteristik-karakteristik dari penyakit
ini mungkin ditemukan dalam darah. Stress, merokok, radiasi pada
leher, obat-obatan dan, organisme-organisme yang menyebabkan
infeksi seperti virus-virus merupakan pencetus dari penyakit ini.
Penyakit ini cenderung diwariskan dalam keluarga dan lebih sering
terjadi pada wanita muda.

Gambar 1. Klien dengan Penyakit Graves


(sumber: jama.jamanetwork.com/data/journals/jama/4982/m_
jpg0706f1.jpeg)
b.

c.
d.

Goiter multinodular toxin


Kondisi ini ditandai oleh satu atau lebih nodul atau benjolan di tiroid
yang secara bertahap dapat tumbuh dan meningkatkan aktivitas mereka
sehingga output total hormon tiroid ke dalam darah lebih besar dari
biasanya.

Gambar 2. Klien dengan Goiter multinodular toxin


(sumber: medical.cdn.patient.co.uk/images/om281b.jpg)
Tiroiditis
Tiroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid mungkin terjadi
karena suatu virus (subacute thyroiditis).
Konsumsi yodium yang berlebihan

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

11

2.2.3 Faktor Resiko


Menurut Tjandra (2011) ada beberapa faktor resiko pada kasus
hipertiroid, yaitu:
a. Wanita dengan usia di atas 50 tahun
b. Kehamilan atau dalam enam bulan pasca melahirkan
c. Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
d. Stress, infeksi, trauma
e. Meminum obat yang mengandung yodium.
2.2.4 Manifestasi Klinis
Mayo Clinic Staff (2012) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa
manifestasi klinis pada pasien hipertiroid, yakni:
a. Penurunan berat badan mendadak
Bahkan ketika nafsu makan dan jumlah dan jenis makanan yang
dimakan tetap sama atau bahkan meningkat.
b. Detak jantung meningkat (tachycardia) - detak jantung tidak teratur
(aritmia) atau berdebar jantung Anda (palpitasi)
c. Kegugupan, kecemasan dan mudah tersinggung
d. Tremor
e. Berkeringat
f. Perubahan pola menstruasi
g. Peningkatan sensitivitas terhadap panas
h. Perubahan pola buang air besar, buang air besar terutama lebih sering
i. Kelenjar tiroid yang membesar (gondok), yang mungkin muncul
sebagai pembengkakan pada pangkal leher Anda
j. Kelelahan, kelemahan otot
k. Kesulitan tidur
l. Penipisan kulit
m. Kerapuhan pada rambut
n. Appetite perubahan (penurunan atau peningkatan)
o. Masalah dengan kesuburan.
2.2.5 Patofisiologi
American Thyroid Association (2012) menjelaskan patofisiologi
hipertiroid sebagai berikut:
a. Ibu dengan penyakit Graves dapat mempunyai campuran antibodi
stimulasi dan inhibisi/blocking terhadap reseptor TSH (TRAb-stimulasi
dan TSH receptor-blocking antibodies atau kita sebut TRAb-inhibisi)
sekaligus. Jenis antibodi yang sampai kepada bayi melalui plasenta
akan mempengaruhi kelenjar tiroid bayi, bayi yang dilahirkan dapat
hipertiroid, eutiroid, atau hipotiroid, tergantung antibodi yang lebih
dominan. Potensi masing-masing dari kedua jenis antibodi, beratnya
penyakit ibu, lama paparan terhadap kondisi hipertiroid di dalam
kandungan, serta obat-obatan anti tiroid dari ibu merupakan faktorfaktor yang dapat berpengaruh pada status tiroid bayi.
b. Kelenjar tiroid menjadi lebih bergumpal-gumpal ketika kita menua
seperti banyak area-area lain dari tubuh. Pada kebanyakan kasus yang
ditemukan, gumpalan ini tidak memproduksi hormon-hormon tiroid dan

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

12

c.

d.

tidak memerlukan perawatan. Namun, adakalanya suatu benjolan


mungkin menjadi tidak merespon adanya pengaturan pituitari via TSH
dan memproduksi hormon-hormon tiroid dengan dengan sendirinya.
Hal ini menjadi lebih berbahaya jika benjolan tersebut berkembang
lebih besar dari 3 cm. satu benjolan atau nodule tunggal yang
memproduksi secara bebas hormon-hormon tiroid, itu disebut sebagai
functioning nodule. Sedangkan, jika ada lebih dari satu functioning
nodule, maka disebut
Goiter multinodular toxin
Saat peradangan terjadi, kelenjar tiroid mengalami suatu akumulasi selsel darah putih yang dikenal sebagai lymphocytes (lymphocytic
thyroiditis). Pada kondisi ini, perada ngan bisa jadi mengakibatkan
kelenjar tiroid bocor, sehingga jumlah hormon tiroid yang masuk ke
darah meningkat. Lymphocytic thyroiditis umumnya terjadi setelah
suatu kehamilan dan memiliki persentase sampai dengan 8% dari
wanita-wanita setelah melahirkan. Pada kasus-kasus ini, fase hipertiroid
dapat berlangsung dari 4 sampai 12 minggu yang dapat berlangsung
sampai 6 bulan.
Kelenjar tiroid membutuhkan yodium untuk mensekresikan hormon
tiroid. Suatu kelebihan yodium dapat menyebabkan hipertiroid.
Hipertiroid yang dipengaruhi/ diinduksi oleh yodium biasanya terlihat
pada pasien-pasien yang telah mempunyai kelenjar tiroid abnormal
yang
mendasarinya.
Obat-obat
tertentu,
seperti amiodarone
(Cordarone), yang digunakan dalam perawatan persoalan-persoalan
jantung, mengandung suatu jumlah yodium yang besar dan mungkin
berkaitan dengan kelainan-kelainan fungsi tiroid.

2.2.6 Web of Caution (WOC)


(Terlampir)
2.2.7 Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Norman (2012) pemeriksaan umum yang digunakan untuk
mendiagnosa hipertiroidisme di antaranya adalah:
a. Pemeriksaan Thyroid-stimulating hormone (TSH)
TSH yang dihasilkan oleh hipofisis akan menurun pada hipertiroidisme.
Dengan demikian, diagnosis hipertiroidisme hampir selalu dikaitkan
dengan tingkat TSH yang rendah. Jika tingkat TSH tidak rendah, maka
diperlukan tes yang lainnya.
b. Pemeriksaan hormon tiroid T3 dan T4
Hormon tiroid sendiri (T3, T4) akan meningkat. Pasien yang memiliki
hipertiroidisme, memiliki tingkat hormon tiroid yang tinggi. Kadangkadang semua hormon tiroid yang berbeda yang tidak tinggi dan hanya
satu atau dua dari pengukuran hormon tiroid yang berbeda yang tinggi.
Hal ini tidak terlalu umum, karena kebanyakan orang dengan
hipertiroidisme akan memiliki semua pengukuran hormon tiroid mereka
tinggi (kecuali TSH).
c. Yodium thyroid scan akan menunjukkan jika penyebabnya adalah nodul
tunggal atau seluruh kelenjar.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

13

2.2.8 Penatalaksanaan
Menurut Milas & Rehan (2012) ada beberapa perawatan yang tersedia
untuk hipertiroidisme. Rencana terbaik untuk pasien tergantung pada gejala,
penyebab hipertiroidisme, dan apa pilihan pengobatan yang membuat pasien
paling nyaman. Dalam menentukan terapi yang paling efektif, dokter juga
akan mengambil riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, dan setiap tes
diagnostik menjadi pertimbangan. Penatalaksanaan pada pasien
hipertiroidisme dibagi menjadi penatalaksanaan farmakologi dan lifestyle.
a. Farmakologi
1) Obat antitiroid
Obat-obatan antitiroid berguna untuk mencegah tiroid memproduksi
jumlah hormon T4 dan T3 secara berlebihan. Ada 2 jenis obat
antitiroid yang digunakan dalam pengobatan, yaitu propylthiouracil
AS-(PTU) dan methimazole (juga dikenal sebagai Tapazole). Gejala
yang ada secara bertahap akan mereda dalam waktu 3 bulan,
meskipun mungkin perlu untuk tetap bergantung pada obat selama
lebih dari satu tahun. Kedua obat ini menargetkan kelenjar tiroid
secara langsung untuk mengurangi produksi hormon T4 dan T3.
2) Beta bloker
Obat ini biasanya digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi.
Beta bloker tidak akan mengurangi kadar tiroid yang ada, tetapi
dapat mengurangi detak jantung yang cepat dan membantu
mencegah palpitasi. Untuk alasan itu, dokter mungkin meresepkan
obat untuk membantu pasien merasa lebih baik. Efek samping dapat
termasuk kelelahan, sakit kepala, sakit perut, sembelit, diare atau
pusing. Beta bloker tidak untuk semua orang. Jika pasien memiliki
asma atau diabetes, obat-obat ini dapat memperburuk kondisinya.
3) Yodium Radioaktif
Obat oral ini diserap oleh kelenjar tiroid. Yodium radioaktif bekerja
secara bertahap untuk menghancurkan tiroid. Pengobatan ini efektif
menyembuhkan secara permanen hipertiroidisme, dan memiliki efek
samping yang sangat kecil pada seluruh tubuh. Namun, karena
pasien tidak akan lagi memiliki tiroid setelah selesainya pengobatan
ini, pasien diharuskan untuk melakukan terapi hormon tiroid untuk
mengganti kekurangan hormon tiroid.
4) Tiroidektomi
Tiroidektimi adalah operasi pengangkatan total atau sebagian tiroid.
Seperti halnya prosedur pembedahan, tiroidektomi menimbulkan
beberapa risiko kecil, termasuk potensi kerusakan pita suara dan
kelenjar paratiroid pasien. Sama seperti yodium radioaktif, pasien
mungkin akan memerlukan terapi tiroid penggantian hormon setelah
operasi untuk memasok hormon tiroid untuk tubuh pasien.
b. Non farmakologi (lifestyle)
1) Mendapatkan cukup kalsium dan vitamin D
Hipertiroidisme dapat menyebabkan tulang menipis, sangat penting
untuk mendapatkan cukup kalsium setiap hari untuk membantu
mencegah terjadinya osteoporosis. The Institute of Medicine

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

14

merekomendasikan 1.000 miligram (mg) kalsium per hari untuk


dewasa usia 19 sampai 50 dan pria berusia 51 hingga 70.
Rekomendasi kalsium meningkat menjadi 1.200 mg per hari jika
pasien seorang wanita usia 51 atau lebih tua atau usia pria 71 tahun
atau lebih. The Institute of Medicine juga merekomendasikan 600
internasional unit (IU) vitamin D sehari untuk usia dewasa 19 hingga
70 tahun dan 800 IU sehari untuk orang dewasa usia 71 dan lebih
tua.
2) Mengelola diet
Jika pasien telah kehilangan banyak berat badan, sebaiknya
dilakukan penambahan ekstra kalori dan protein untuk diet pasien.
Dokter atau ahli gizi dapat membantu dengan perencanaan diet.
Selain itu, makan jumlah yang benar natrium dan kalsium adalah
pertimbangan makanan penting bagi orang-orang dengan
hipertiroidisme.
3) Olahraga secara teratur
Latihan secara umum akan menjadikan tubuh merasa lebih baik,
meningkatkan otot, dan meningkatkan sistem kardiovaskular.
Latihan beban sangat penting bagi orang-orang dengan penyakit
Graves karena membantu mempertahankan kepadatan tulang.
Olahraga juga dapat membantu meningkatkan tingkat energi Anda.
4) Mempelajari teknik relaksasi.
Banyak teknik relaksasi dapat membantu untuk mempertahankan
pandangan positif, terutama ketika menghadapi penyakit. Hal ini
juga mencatat bahwa dalam penyakit Graves, stres merupakan faktor
risiko, jadi belajar untuk rileks dan mencapai keseimbangan dalam
hidup Anda dapat membantu menjaga fisik dan mental
kesejahteraan.
2.2.8 Nursing Considerations
Boucher (2006) mengungkapkan beberapa peran perawat dalam
menangani pasien hipertiroid, antara lain:
a. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai
perkembangan dari penyakit yang diderita pasien.
b. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai tindakan
yang akan dilakukan kepada pasien.
c. Memberikan obat antitiroid seperti yang diresepkan.
d. Jika yodium merupakan bagian dari pengobatan, mencampurnya
dengan susu, jus, atau air untuk mencegah terjadinya gangguan
pencernaan. Bisa diberikan melalui sedotan untuk mencegah perubahan
warna gigi.
e. Berikan persiapan antidiare.
f. Berkonsultasi dengan ahli gizi untuk memastikan makanan bergizi
dengan kalori yang memadai dan cairan.
g. Minimalkan gangguan fisik dan emosional.
h. Monitor dan catatan tanda-tanda vital pasien, berat badan, asupan
cairan, dan output urin.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

15

i. Ukur lingkar leher setiap hari untuk memeriksa perkembangan


pembesaran tiroid.
j. Evaluasi kadar elektrolit serum, dan memeriksa hiperglikemia dan
glukosuria.
k. Menilai pasien untuk tanda-tanda gagal jantung.
l. Menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin setelah tindak
lanjut karena hipotiroidisme dapat mengembang 2 sampai 4 minggu.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

16

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Hipotiroid
3.1.1 Pengkajian
Pada pengkajian dilakukan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk
memperoleh informasi dan data yang nantinya akan digunakan sebagai
dasar untuk membuat rencana asuhan keperawatan klien.
a. Biodata /identitas klien meliputi: nama, umur, jenis kelamin, agama,
bahasa, pekerjaan, kebangsaan, alamat, pendidikan, tanggal MRS, dan
diagnosa medis
b. Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan klien pada saat
dikaji. Biasanya klien mengeluh:
1) Merasa kedinginan
2) Merasa semakin gemuk
3) Capek, mengantuk terus
4) Sembelit
5) Menstruasi banyak dan sering
6) Sukar konsentrasi, daya ingat turun
7) Telinga berdenging, pendengaran berkurang
8) Mata kabur terutama pada malam hari
c. Riwayat kesehatan sekarang
Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien mencari
pertolongan, misalnya gejala awal sakit, keluhan utama seperti yang
tertera diatas. Pada orang dewasa, paling sering mengenai wanita dan
ditandai oleh peningkatan laju metabolik basal, kelelahan dan letargi,
kepekaan terhadap dingin, dan gangguan menstruasi. Bila tidak diobati,
akan berkembang menjadi miksedema nyata. Pada bayi, hipotiroidisme
hebat menimbulkan kretinisme. Pada remaja hingga dewasa,
manifestasinya merupakan peralihan dengan retardasi perkembangan dan
mental yang relatif kurang hebat serta miksedema disebut demikian
karena adanya edematus, penebalan merata dari kulit yang timbul akibat
penimbunan mukopolisakarida hidrofilik pada jaringan ikat di seluruh
tubuh.
d. Riwayat penyakit sebelumnya
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit yang sama,
riwayat ketergantungan terhadap makanan/minuman, zat dan obatobatan. Hipotiroidisme tidak terjadi dalam semalam, tetapi perlahan
selama berbulan-bulan, sehingga pada awalnya pasien atau keluarganya
tidak menyadari, bahkan menganggapnya sebagai efek penuaan. Pasien
mungkin kedokter ketika mengalami keluhan yang tidak khas seperti
lelah dan penambahan berat badan. Dokter akan meminta pemeriksaan
laboratorium yang tepat, yaitu kadar T4 rendah dan TSH yang tinggi,
sehingga diagnosis hipotirodisme dapat diketahui pada tahap awal ketika
gejalanya masih ringan.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

17

e. Riwayat penyakit keluarga


Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang
sama dengan klien.
f. Kebiasaan hidup sehari-hari, seperti:
1) pola makan (misal: mengkonsumsi makanan yang kadar yodiumnya
rendah, dan nafsu makan menurun)
2) pola tidur (misal: klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur,
sering tidur larut malam)
3) pola aktivitas (misal: klien terlalu memforsir pekerjaan sehingga
sering mengeluh kelelahan).
g. Pengkajian psikososial
Klien sangat sulit membina hubungan sosial dengan
lingkungannya, mengurung diri/bahkan mania. Klien sangat malas
beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. mengkaji bagaimana konsep
diri klien mencakup kelima komponen konsep diri.
3.1.2 Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Wajah kaku tanpa ekspresi, kulit pucat, bersisik, kering, atau
terdapat bercak-bercak pigmen putih (vitiligo: kehilanagn pigmen
sehingga kulit menjadi putih di beberapa tempat dan meluas), kuku
kering dan rapuh, rambut rontok, mata dan wajah sembab, lupus, oedema
seluruh tubuh, sakit kepala, parastesia (kesemutan), dan suara parau.
b. Auskultasi
Hipotensi, daya pompa jantung melemah/lambat, disritmia.
c. Perkusi
Suara perut dullness, refleks saraf menjadi lebih lambat, dan reflek
tendon menurun.
d. Palpasi
Jantung membengkak, denyut nadi lambat, kulit dingin, kaki dan
tungkai bawah bengkak, denyut nadi melemah, konstipasi.
e. Pemeriksaan Per Sistem
1) Sistem Hematologi
a) Anemia normokrom normositik
b) Anemia mikrositik/makrositik
c) Gangguan koagulasi ringan
2) Sistem Neurologik
a) Letargi dan mental menjadi lambat
b) Aliran darah otak menurun
c) Kejang, koma, dementia, psikosis (gangguan memori, perhatian
kurang, penurunan reflek tendon)
d) Ataksia (serebelum terkena)
e) Gangguan saraf (carfal tunnel)
f)
Tuli perseptif, rasa kecap, penciuman terganggu
3) Sistem Kardiorespiratorik
a) Bradikardi, disritmia, hipotensi
b) Curah jantung menurun, gagal jantung
c) Efusi pericardial (sedikit, temponade sangat jarang)

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

18

4)

5)

6)

7)

8)

d) Kardiomiopati di pembuluh. EKG menunjukkan gelombang T


mendatar/ inverse
e) Penyakit jantung iskemic
f)
Hipotensilasi
g) Efusi pleural
Sistem Integumen
a) Kulit kering, pecah-pecah, bersisik dan menebal
b) Pembengkakan, tangan, mata dan wajah
c) Tidak tahan dingin
Sistem Muskuloskeletal
a) Volume otot bertambah, glossomegali
b) Kejang otot, kaku, paramitoni
c) Artralgia dan efusi sinovial
d) Osteoporosis
e) Pertumbuhan tulang terhambat pada usia muda
f)
Umur tulang tertinggal disbanding usia kronologis
g) Kadar fosfatase alkali menurun
Sistem Gastrointestinal
a) Konstipasi, anoreksia, peningkatan BB, distensi abdomen
b) Obstruksi usus oleh efusi peritoneal
c) Aklorhidria, antibody sel parietal gaster, anemia pernisiosa
Sistem Renalis
a) Aliran darah ginjal berkurang, GFR menurun
b) Retensi air (volume plasma berkurang)
c) Hipokalsemia
Sistem Endokrin
a) Pada perempuan terjadi perubahan menstruasi seperti amenore /
masa menstruasi yang memanjang, menoragi dan galaktore
dengan hiperprolaktemi
b) Gangguan fertilitas
c) Gangguan hormone pertumbuhan dan respon ACTH, hipofisis
terhadap insulin akibat hipoglikemi
d) Gangguan sintesis kortison, kliren kortison menurun
e) Insufisiensi kelenjar adrenal autoimun

3.1.3 Analisis Data


Data

Etiologi

DS: dyspnea, nafas pendek


DO: Penurunan tekanan
inspirasi/ekspirasi, penurunan
pertukaran udara per menit,
menggunakan otot pernafasan
tambahan, orthopnea,
pernafasan pursed-lip, tahap
ekspirasi berlangsung sangat
lama, penurunan kapasitas
vital, Respirasi: < 11-24 x/mnt

Tidak adekuatnya kerja


otot pernafasan

Masalah
Keperawatan
Pola nafas
tidak efektif

Penurunan fungsi
pernafasan
Depresi ventilasi
Dyspnea

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

19

DS :DO : Gangguan status mental,


Perubahan perilaku,
Perubahan respon motorik,
Perubahan reaksi pupil,
Kesulitan menelan,
Kelemahan atau paralisis
ekstrermitas, Abnormalitas
bicar

Produksi ATP dan


ADP

Gangguan
perfusi
jaringan perifer

Energi otot
Kekuatan kontraksi otot
jantung
Bradikardia
Hipotensi
CO
Suplai O2 ke otak
Gangguan neurologis

DS: Melaporkan secara verbal


adanya kelelahan atau
kelemahan (mudah
mengantuk, cepat lelah,),
Adanya dyspneu atau
ketidaknyamanan saat
beraktivitas.
DO: Respon abnormal dari
tekanan darah atau nadi
terhadap aktifitas, perubahan
ECG : aritmia, iskemia,
volume otot bertambah,
glossomegali, kejang otot,
kaku, paramitoni, artralgia dan
efusi synovial, osteoporosis,
Pertumbuhan tulang terhambat
pada usia muda
DS: pasien menyatakan sudah
tidak bisa BAB, nyeri perut,
ketegangan perut, anoreksia,
mual, perasaan tekanan pada
rektum, nyeri kepala, defekasi
dengan nyeri, peningkatan
tekanan abdominal
DO : distensi abdomen, feses
dengan darah, perubahan pola
BAB, feses gelap, penurunan
frekuensi BAB dan volume
feses, distensi abdomen, feses

Penurunan kesadaran
Produksi ATP dan
ADP

Intoleransi
aktivitas

Energy otot
Metabolisme anaerob
kelelahan

Metabolisme tubuh

Konstipasi

Aktivitas GI
Gerak peristaltic usus

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

20

keras, bising usus


hipo/hiperaktif, teraba massa
abdomen atau rektal, perkusi
tumpul, sering flatus, muntah
DS : merasa kedinginan
DO : kulit dingin, suhu tubuh
di bawah 35 C

Kadar tiroksin menurun

Hipotermi

Hipofise anterior
terangsang
Mengganggu
termoregulasi di
hipotelamus
Toleransi dingin

DS: merasa semakin gemuk,


peningkatan berat badan terus
menerus
DO: Berat badan meningkat
pada waktu yang singkat,
Asupan berlebihan dibanding
output, Distensi vena
jugularis, Perubahan pada pola
nafas, dyspnoe/sesak nafas,
orthopnoe, suara nafas
abnormal (Rales atau crakles),
pleural effusion
Oliguria, azotemia
Perubahan status mental,
kegelisahan, kecemasan
DO :DS : Aliran darah ginjal
berkurang, GFR menurun,
Retensi air (volume plasma
berkurang), Hipokalsemia

Kedinginan, menggigil
Hipotiroidisme

Kelebihan
volume cairan

pergerakan cairan ke
ruang intersitial
edema sekunder

Metabolisme tubuh

Gangguan
eliminasi urin

Filtrasi
Produksi Urine
Hormonal
Renin-angiotensin

DS : DO: Kulit kering, pecahpecah, bersisik dan menebal,


pembengkakan tangan, mata
dan wajah

Produksi urin menurun


Hipotiroid
Retensi Natrium

Risiko
kerusakan
integritas kulit

Kulit kering, pecah,


bersisik, menebal

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

21

DS : klien apatis
DO : Klien sangat sulit
membina hubungan sosial
dengan lingkungannya,
mengurung diri/bahkan mania

Hipotiroid

Hambatan
interaksi sosial

sulit membina
hubungan sosial

3.1.4 Diagnosa Keperawatan


a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi
b. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
kesadaran
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan menyeluruh.
d. Konstipasi berhubungan dengan penurunan aktivitas dan penurunan
peristalisis sekunder akibat penurunan laju metabolik.
e. Hipotermia berhubungan dengan penurunan laju metabolik.
f. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan edema sekunder akibat
pergerakan cairan ke ruang intersitial.
g. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan produksi urine
menurun.
h. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kekeringan dan edema
sekunder akibat pergerakan cairan ke ruang intersitial.
i. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan sulit membina
hubungan sosial.
3.1.5 Intervensi
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi
NOC
NIC
Tujuan :
Intervensi :
a) Respiratory status: Ventilation
a) Manajemen jalan nafas
b)Respiratory status : Airway
b) Ventilasi mekanis
patency
c) Aspiration Control
Aktivitas keperawatan :
Kriteria Hasil :
1. Memposisikan pasien untuk
a) Mendemonstrasikan batuk
memaksimalkan ventilasi
efektif dan suara nafas yang
2. Memasang mayo bila perlu
bersih, tidak ada sianosis dan
3. Melakukan fisioterapi dada
dyspneu (mampu mengeluarkan
jika perlu.
sputum, mampu bernafas dg
4. Mengeluarkan sekret dengan
mudah, tidakada pursed lips)
batuk atau suction
b) Menunjukkan jalan nafas yang
5. Mengauskultasi suara nafas,
paten (klien tidak merasa
catat adanya suara tambahan.
tercekik, irama nafas, frekuensi 6. Memberikan bronkodilator
pernafasan dalam rentang
7. Memberikan pelembab udara
normal, tidak ada suara nafas
kassa basah NaCl lembab
abnormal)
8. Mengatur intake untuk cairan
c) Tanda-tanda vital dalam rentang
mengoptimalkan
normal (tekanan darah, nadi,
keseimbangan.
pernafasan)
9. Memonitor respirasi dan
status O2:

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

22

a) Bersihkan mulut, hidung dan


secret trakea
b) Pertahankan jalan nafas paten
c) Observasi adanya tanda
hipoventilasi
d) Monitor adanya kecemasan
pasien terhadap oksigenasi
e) Monitor vital sign
f) Informasikan pada klien
teknik relaksasi untuk
memperbaiki pola nafas.
g) Ajarkan batuk efektif
h) Monitor pola nafas
b.

Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan


kesadaran
NOC
NIC
Tujuan:
Intervensi:
1. Circulation status
1. Manajemen cairan/elektrolit
2. Neurologic status
2. Pemantauan neurologis
3. Tissue Prefusion : cerebral
Aktivitas keperawatan:
Kriteria hasil:
1. Monitor TTV
1. Tekanan systole dan diastole 2. Monitor AGD, ukuran pupil,
dalam rentang yang diharapkan
ketajaman, kesimetrisan dan
2. Tidak ada ortostatikhipertensi
reaksi
3. Komunikasi jelas
3. Monitor adanya diplopia,
4. Menunjukkan konsentrasi dan
pandangan kabur, nyeri kepala
orientasi
4. Monitor level kebingungan
5. Pupil seimbang dan reaktif
dan orientasi
6. Bebas dari aktivitas kejang
5. Monitor tonus otot pergerakan
7. Tidak mengalami nyeri kepala
6. Monitor tekanan intrkranial
dan respon nerologis
7. Catat perubahan pasien dalam
merespon stimulus
8. Monitor status cairan
9. Pertahankan
parameter
hemodinamik
10. Tinggikan
kepala
0-45
tergantung pada konsisi pasien
dan order medis

c.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan menyeluruh.


NOC
NIC
Tujuan:
Intervensi:
1)Self Care : ADLs
Manajemen energi: mengatur
2)Toleransi aktivita
penggunaan energi untuk mengatasi
3)Konservasi eneergi.
atau mencegah kelelahan dan
mengoptimalkan fungsi

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

23

Kriteria hasil:
1)Berpartisipasi dalam aktivitas
fisik tanpa disertai peningkatan
tekanan darah, nadi dan RR
2)Mampu melakukan aktivitas
sehari hari (ADLs) secara
mandiri
3)Keseimbangan aktivitas dan
istirahat

Aktivitas Keperawatan
1. Observasi adanya pembatasan
dalam melakukan aktivitas
2. Kaji adanya faktor yang
menyebabkan kelelahan
3. Monitor nutrisi dan sumber
energi yang adekuat
4. Monitor pasien akan adanya
kelelahan fisik dan emosi
berlebihan
5. Monitor respon kardiovaskuler
terhadap aktivitas (takikardi,
disritmia, sesak nafas,
diaporesis, pucat, perubahan
hemodinamik)
6. Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
7. Kolaborasikan dengan Tenaga
Rehabilitasi Medik dalam
merencanakan program terapi
8. Bantu klien mengidentifikasi
aktivitas yang mampu
dilakukan
9. Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yang sesuai
kemampuan fisik, psikologi dan
sosial
10. Bantu mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
11. Bantu mendapatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
12. Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas yang disuka
13. Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
14. Bantu mengidentifikasi
kekurangan dalam beraktivitas
15. Sediakan penguatan positif bagi
yang aktif beraktivitas
16. Bantu mengembangkan
motivasi diri dan penguata
17. Monitor respon fisik, emosi,
sosial dan spiritual

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

24

d.

Konstipasi berhubungan dengan penurunan aktivitas dan penurunan


peristalisis sekunder akibat penurunan laju metabolik.
NOC
NIC
Tujuan:
Intervensi:
1. Konstipasi menurun, yang
1) Manajemen defekasi:
dibuktikan oleh defekasi
membentuk dan
2. Bowl Elimination
mempertahankan pola eliminasi
3. Hidration
defekasi yang teratur
2) Manajemen konstipasi/impaksi:
Kriteria Hasil:
mencegah dan mengatasi
1. Pola BAB dalam batas normal
konstipasi/ impaksi
2. Feses lunak
3. Cairan dan serat adekuat
Aktivitas Keperawatan :
4. Aktivitas adekuat
Manajemen konstipas
5. Hidrasi adekuat
1. Identifikasi faktor yang
menyebabkan konstipasi
2. Monitor tanda-tanda ruptur
bowel/peritonitis
3. Jelaskan penyebab dan
rasionalisasi tindakan
4. Konsultasikan dengan dokter
tentang peningkatan dan
penurunan bising usus
5. Kolaborasi jika ada tanda dan
gejala konstipasi yang menetap
6. Jelaskan manfaat diet (cairan
dan serat) terhadap eliminasi
7. Jelaskan pada klien
konsekuensi menggunakan
laxative dalam waktu lama
8. Kolaborasi dengan ahli gizi diet
tinggi serat dan cairan
9. Dorong peningkatan aktivitas
yang optimal
10. Sediakan privasi dan keamanan
selama BAB

e.

Hipotermia berhubungan dengan penurunan laju metabolik.


NOC
NIC
Tujuan:
Intervensi:
Pasien akan menunjukkan
1) Terapi hipotermia:
termoregulasi (misalnya,
menghangatkan kembali dan
penurunan suhu tubuh, perubahan
melakukan surveilans pasien
warna kulit)
yang memiliki suhu tubuh inti
kurang dari 35.
Kriteria hasil:
2) Regulasi suhu: mempertahankan
Klien menunjukkan termoregulasi
suhu tubuh dalam batas normal
(keseimbanagan antara panas
3) Pemantauan tanda vital:

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

25

yang dihasilkan, peningkatan


panas, kehilanagn panas)

menganalisis data
kardiovaskular, pernapasan, dan
suhu tubuh untuk menentukan
serta mencegah komplikasi.
Aktivitas Keperawatan:
a) Mencatat tanda-tanda vital
b) Melakukan pemantauan jantung
c) Menggunakan termometer
rentang rendah, bila perlu untuk
mendapatkan suhu yang akurat
d) Mengkaji gejala hipotermia
e) Regulasi Suhu
f) Penyuluhan untuk klien
Regulasi suhu: mengajarkan
kepada pasien, tentang tindakan
untuk mencegah hipotermia dari
pajanan dingin serta
mengajarkan indikasi hipotermia
dan tindakan kadaruratan yang
diperlukan.
g) Aktivitas kolaboratif
Untuk hipotermia berat, bantu
dengan teknik menghangatkan
suhu basal.
h) Aktivitas lain
Memberikan pakaian hangat,
alat pemanas mekanis, suhu
ruangan disesuaikan, minum air
hangat sesuai toleransi

f.

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan edema sekunder akibat


pergerakan cairan ke ruang intersitial.
NOC
NIC
Tujuan:
Intervensi:
1)
Electrolit and acid base
Fluid management
balance
a)
Menimb
2)
Fluid balance
ang popok/pembalut jika
3)
Hydration
diperlukan
Kriteria hasil:
b)
Mempert
1)
Terbebas dari edema,
ahankan catatan intake dan
efusi, anaskara
output yang akurat
2)
Bunyi nafas bersih, tidak
c)
Memasa
ada dyspneu/ortopneu
ng urin kateter jika diperlukan
3)
Terbebas dari distensi
d)
Memonit
vena jugularis, reflek
or hasil lab yang sesuai dengan
hepatojugular (+)
retensi cairan (BUN, Hmt,
4)
Memelihara tekanan vena
osmolalitas urin)

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

26

sentral, tekanan kapiler paru,


output jantung dan vital sign
dalam batas normal
5)
Terbebas dari kelelahan,
kecemasan atau kebingungan
6)
Menjelaskan indikator
kelebihan cairan

e)

Memonit
or status hemodinamik (CVP,
MAP, PAP, PCWP)
f)
Memonit
or vital signs
g)
Memonit
or indikasi retensi / kelebihan
cairan (cracles, distensi vena
leher, asites, CVP, edema)
h)
Mengkaj
i lokasi dan luas edema
i)
Memonit
or masukan makanan/ cairan dan
hitung intake kalori harian
j)
Memonit
or status nutrisi
k)
Memberi
kan diuretik sesuai intruksi
l)
Membat
asi masukan cairan pada
keadaan hiponatrermi dilusi
dengan serum Na < 130 mEq/l
m)
Kolabora
si dokter jika tanda cairan
berlebih muncul memburuk
Fluid Monitoring
n)
Menentu
kan riwayat jumlah dan tipe
intake cairan dan eliminasi
o)
Menentu
kan kemungkinan faktor resiko
dari ketidakseimbangan cairan
(Hipertermia, terapi diuretik,
kelainan renal, gagal jantung,
diaporesis, disfungsi hati)
p)
Memonit
or berat badan
q)
Memonit
or serum, elektrolit, dan
osmolalitas urine
r)
Memonit
or BP, HR, dan RR
s)
Memonit
or tekanan darah orthostatik dan
perubahan irama jantung
t)
Memonit
or parameter hemodinamik
infasif

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

27

u)

Mencatat
secara akurat intake dan output
v)
Memonit
or adanya distensi leher, rinchi,
eodem perifer dan penambahan
BB
w)
Memberi
obat yang dapat meningkatkan
output urin
x)
Memonit
or tanda dari odema
g.

Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan produksi urin menurun.


NOC
NIC
Tujuan :
Intervensi :
Menunjukkan eliminasi urine
Manajemen eliminasi urine
Kriteria hasil :
Aktivitas keperawatan :
Terjadi
eliminasi
urine a) Memantau
eliminasi
urine,
(pengumpulan dan pengeluaran
termasuk frekuensi, konsistensi,
urine) yang adekuat
bau, volume, dan warna
b) Memberi informasi tentang
perkemihan normal, kebutuhan
cairan, berkemih teratur
c) Mengajarkan pasien tentang
tanda dan gejala infeksi saluran
kemih
d) Mengajarkan
pasien
untuk
segera berkemih
e) Membantu menyusun rencana
untuk meningkatkan fungsi
perkemihan

h.

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kekeringan dan edema


sekunder akibat pergerakan cairan ke ruang intersitial.
NOC
NIC
Tujuan:
Intervensi:
1. Tissue Integrity : Skin and
Pressure Management :
Mucous Membranes
1. Anjurkan pasien memakai
2. Status Nutrisi
pakaian longgar
3. Tissue Perfusion:perifer
2. Hindari kerutan pada
4. Dialiysis Access Integrity
tempat tidur
Kriteria hasil:
3. Jaga kebersihan kulit agar
1) Integritas kulit yang baik bisa
tetap bersih dan kering
dipertahankan
4. Mobilisasi pasien setiap
2) Melaporkan adanya gangguan
dua jam sekali
sensasi atau nyeri pada daerah 5. Monitor kulit akan adanya
kulit yang mengalami
kemerahan
gangguan
6. Oleskan lotion/ minyak/

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

28

3) Menunjukkan pemahaman
dalam proses perbaikan kulit
dan mencegah terjadinya
sedera berulang
4) Mampu melindungi kulit dan
mempertahankan kelembaban
kulit dan perawatan alami
5) Status nutrisi adekuat
6) Sensasi dan warna kulit
normal

baby oil pada derah yang


tertekan
7. Monitor aktivitas dan
mobilisasi pasien
8. Monitor status nutrisi
pasien
9. Memandikan pasien
dengan sabun dan air
hangat
10. Gunakan pengkajian risiko
untuk memonitor faktor
risiko pasien (Braden
Scale, Skala Norton)
11. Inspeksi kulit terutama
pada tulang yang menonjol
dan titik tekanan ketika
merubah posisi pasien.
12. Jaga kebersihan alat tenun
13. Kolaborasi ahli gizi untuk
pemberian nutrisi tinggi
protein, mineral, vitamin
14. Monitor serum albumin
dan transferin

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

29

i.

Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan sulit membina


hubungan sosial.
NOC
Tujuan:
1) Menunjukkan ketrampilan
interaksi sosial
2) Meunjukkan iklim sosial
keluarga
3) Menunjukkan keterlibatan
sosial

NIC
Intervensi:
Peningkatan sosialisasi
(memfasilitasi kemampuan
orang lain untuk berinteraksi
dengan orang lain)

Aktivitas keperawatan:
1) Penyuluhan untuk klien
Kriteria hasil:
Memberikan informasi
1) Iklim sosial keluarga (ligkungan
tentang sumber di komunitas
suportif yang bercirikan
yang membantu pasien
hubungan dan tujuan anggota
meningkatkan interaksi
keluarga)
sosial
2) Ketrampilan interaksisosial
2) Aktivitas kolaboratif
(perilaku pribadi yang
Merujuk pasien ke bidang
meningkatkan hubungan yang
disiplin lain untuk
efektif)
mengadakan, mengevaluasi
3) Keterlibatan sosial (interaksi
perencanaan guna
sosial dengan orang, kelompok,
meningkatkan/ memperbaiki
atau organisasi)
interaksi pasien
3) Aktivitas lain
a) Membuat jadwal interaksi
b) Mengidentifikasi perubahan
perilaku
c) Mengidentifikasi tugas
yang dapat memperbaiki
interaksi sosial
d) Melibatkan pendukung
sebaya dalam memberikan
umpan balik kepada pasien
e) Melakukan mediasi antara
pasien dan orang lain jika
pasien menunjukkan
perilaku negatif
3.2 Hipertiroid
3.2.1 Pengkajian
Berdasarkan Dongeos et all (2000), selain pengkajian umum seperti
data pasien, anamnesa serta pemerikasaan fisik, pengkajian khusus pada
pasien dengan hipertiroid meliputi:
a. Identitas Klien

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

30

b.

c.

d.
e.

f.

Kaji identitas klien, nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama,


tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis tentang penyakit yang
diderita serta alamat klien.
Keluhan utama
Penderita hipertiroid umumnya mengalami beberapa gejala di
berbagai system organ lainnya. Penderita merasa kekelahan, mata kabur,
palpitasi, nafsu makan naik tetapi berat badan semakin menurun.
Riwayat kesehatan sekarang
Ada tidaknya kondisi penyakit penyerta pada pasien. Kebiasaan
hidup sehari-hari mencakup aktivitas, pola makan, penggunaan obat-obat
tertentu, istirahan dan tidur.
Riwayat kesehatan dahulu
Memberikan pertanyaan kepada pasien seperti: Apakah pernah
menderita penyakit goiter?
Riwayat penyakit keluarga
Salah satu penyebab hipertiroid adalah factor genetik. Pasien diberi
pertanyaan tentang penyakit keluarga selama tiga generasi ke atas,
apakah ada anggota keluarga lain yang pernah memiliki penyakit yang
sama seperti yang diderita pasien. Penyebab genetik pada umumnya
adalah penyakit graves.
Pengkajian Psikososial
Respon emosi pasien pada hipertiroid pada umumnya labil,
perhatian yang menurun dan perilaku mania. Fluktuasi emosi
menyebabkan klien menjadi bertambah lelah.

3.2.2 Pemeriksaan fisik


a. Inspeksi
Minta pasien menengadahkan kepala, perhatikan adanya pembesaran
pada kelenjar tiroid. Selanjutnya minta pasien menelan ludah, perhatikan
gerakan pada leher depan daerah kelenjar tiroid, ada tidaknya dan
kesimetrisan.
b. Palpasi
Pemeriksa berada di belakang. Lakukan palpasi ringan dengan dua jari
tangan kanan-kiri di bawah kartilago krikoid. Beri pasien segelas air,
minta pasien menundukkan dagu dan menghisap sedikit air dan
menelannya, rasakan gerakan istmus tiroid. Dengan lembut gunakan jari
untuk menggerakkan trakea ke satu sisi dan minta pasien untuk menelan
lagi. Palpasi badan lobus utama dan kemudian palpasi tepi lateral dari
kelenjar. Ulangi prosedur untuk lobus yang berlawanan.
c. Auskultasi
Aritmia, terutama fibrilasi atrial, kemungkinan murmur sistolik, dispnea,
dan bising usus hiperaktif.
d. Review of System
1) B1 (breathing)
a) frekuensi pernafasan meningkat
b) takipnea
c) dipsneu
d) edema paru

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

31

2) B2 (blood)
a) takikardi
3) B3 (brain)
a) emosi labil, depresi
b) bicaranya cepat dan parau
c) ganguan status mental dan perilaku
d) tremor halus pada tangan
e) hiperaktif refleks tendon dalam (RTD)
4) B4 (bladder)
a) urin meningkat
5) B5 (bowel)
a) berat badan mendadak menurun
b) nafsu makan meningkat
c) makannya sering
d) kehausan
e) mual dan muntah
6) B6 (bone)
a) otot melemah
b) atrofi otot
c) gangguan koordinasi
d) kelelahan berat
3.2.3 Analisis Data

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

32

Data
DO: Sianosis >3
detik,
a. takikardi saat
istirahat, kulit halus,
hangat, dan
kemerahan
DS: Mudah lelah saat
beraktivitas, otot
terasa lemah
DO : frekuensi
pernafasan
meningkat, takipnea
DS : nafas cepat,
tersengal sengal
DO: Temperatur
tubuh meningkat
diatas 37,4 C,
kehilangan berat
badan secara tiba-tiba,
diare, urine dalam
jumlah banyak
DS: rasa haus
berlebih, keringat
banyak, klien tidak
tahan panas
DO: BAB lebih dari
3x sehari, bising usus
hiperaktif
DS: nyeri perut, klien
merasa kejang perut

DO: BB turun, diare


DS: Mual, nyeri saat
menelan

Etiologi
hipertiroid

Masalah
Keperawatan
Keletihan

Metabolisme tubuh
Konsumsi O2
Kebutuhan energi
hipertiroid

Ketidakefektifan pola
napas

Metabolisme tubuh
Konsumsi O2
Hiperventilasi
hipertiroid

Kekurangan volume
cairan

Metabolisme tubuh
Aktivitas GI
Peristaltik usus
diare
hipertiroid

Diare

Metabolisme tubuh
Aktivitas GI
Peristaltik usus
Hipertiroid

Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan

Esophagus tertekan
Disfagia

Nafsu makan menurun


DO: kenaikan suhu
Hipertiroid
Hipertermi
tubuh diatas rentang
normal, serangan atau
Metabolisme tubuh
konvulsi (kejang),
kulit kemerahan, dan
Suhu tubuh
teraba panas/ hangat
DS: DO: Perubahan aktual
Hipertiroid
Gangguan citra tubuh
struktur dan fungsi
tubuh, kehilangan
Kerja syaraf simpatis
bagian tubuh, bagian
tubuh tidak berfungsi
Pembengkakan otot
DS: Depersonalisasi
ekstraokuler
Faculty of Nursing Airlangga
University | Gangguan
33
bagian tubuh, Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid
perasaan negatif
Eksoftalmus
tentang tubuh,

3.2.4 Diagnosa Keperawatan


a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kebutuhan oksigen
yang meningkat
b. Diare berhubungan dengan peningkatan peristalsis akibat peningkatan
kecepatan metabolik
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
hipermetabolik
d. Hipertermi, faktor resiko :ketidakmampuan untuk mengompensasi
kelebihan aktivitas tiroid
e. Keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi,
iritabilitas sistem saraf pusat
f. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan persepsi peran
3.2.5 Intervensi Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kebutuhan oksigen yang
meningkat
Tujuan/ kriteria evaluasi NOC
Intervensi prioritas NIC
a. Respiratory status : Ventilation 1. Posisikan
pasien
untuk
b. Respiratory status : Airway
memaksimalkan ventilasi
patency
2. Pasang mayo bila perlu
c. Vital sign Status
3. Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
Setelah tindakan keperawatan
4. Keluarkan sekret dengan batuk
selama 1x24jam pasien
atau suction
menunjukkan keefektifan pola
5. Auskultasi suara nafas, catat
nafas, dengan kriteria hasil:
adanya suara tambahan
1. Mendemonstrasikan batuk
6. Berikan bronkodilator
efektif dan suara nafas bersih,
7. Monitor respirasi dan status
tidak ada sianosis, dyspneu
oksigen
(mampu mengeluarkan
8. Pertahankan jalan nafas paten
sputum, mampu bernafas
9. Observasi adanya tanda tanda
mudah, tidak ada pursed lips)
hiperventilasi
2. Menunjukkan jalan nafas paten 10. Monitor
adanya
kecemasan
(klien tidak merasa tercekik,
pasien terhadap oksigenasi
irama nafas, frekuensi
11. Monitor vital signs
pernafasan dalam rentang
12. Informasikan pada pasien dan
normal, tidak ada suara nafas
keluarga tentang tehnik relaksasi
abnormal)
untuk memperbaiki pola nafas.
3. Tanda-tanda vital dalam
13. Ajarkan bagaimana batuk efektif
rentang normal (tekanan darah, 14. Monitor pola nafas
nadi, pernafasan)
b. Diare berhubungan dengan peningkatan peristalsis akibat peningkatan
kecepatan metabolik
Tujuan / kriteria evaluasi NOC
Intervensi prioritas NIC

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

34

Defisit volume cairan akan


1) Pengelolaan elektrolit : peningkatan
dicegah, dibuktikan dengan
keseimbangan cairan dan
keseimbangan cairan,
pencegahan komplikasi akibat kadar
keseimbangan elektrolit dan asam
elektrolit serum yang tidak normal
basa, hidrasi yang ade kuat, dan
atau tidak diinginkan (misalnya :
status nutrisi yang adekuat.
kalsium, kalium, natrium dan fosfat
dalam serum)
Hasil yang disarankan NOC
2) Pemantauan cairan : pengumpulan
1) Keseimbangan elektrolit dan
dan analisis data pasien untuk
asam-basa; keseimbangan
mengatur keseimbangan cairan.
elektrolit dan non elektrolit
3) Pengolaan hipovolemia : ekspansi
dalam ruang intrasel dan
cairan intravaskuler pada pasien
ekstrasel.
yang mengalami penurunan
2) Hidrasi: jumlah air dalam
volume.
ruang intrasel dan ekstrasel
4) Terapi intravena (IV) : pemberian
tubuh.
dan pemantauan cairan dan obat
3) Status nutrisi: asupan makanan
intravena.
dan cairan: jumlah makanan
dan cairan yang masuk ke
dalam tubuh selama 24 jam.
c.

Perubahan nutrisi kurang dari


hipermetabolik
Tujuan/Kriteria Evaluasi NOC
Menunjukkan status gizi: asupan
makanan, cairan, dan zat gizi,
ditandai dengan indikator berikut
(sebutkan nilainya 1-5: tidak
adekuat, ringan, sedang, kuat,
adekuat total). Makanan oral,
pemberian makanan lewat selang,
atau nutrisi parenteral total.
Hasil yang disarankan NOC
1) Status Gizi: tingkat zat gizi
yang tersedia untuk memenuhi
kebutuhan metabolik,
2) Status gizi: asupan makanan
dan cairan: jumlah makanan
dan cairan yang dikonsumsi
tubuh selama waktu 24 jam.
Status gizi : nilai gizi :
keadekuatan zat gizi yang
dikonsumsi tubuh
d.

kebutuhan tubuh berhubungan dengan


Intervensi Prioritas NIC
Mandiri
1) Tentukan motivasi pasien untuk
mengubah kebiasaan makan.
2) Ketahui makanan kesukaan pasien,
3) Pantau kandungan nutrisi dan
kalori pada catatan asupan
4) Buat perencanaan makan dengan
pasien untuk dimasukkan ke dalam
jadwal makan, lingkungan makan,
kesukaan/ ketidaksukaan pasien
dan suhu makanan.
Kaloborasi
5) Diskusikan dengan ahli gizi dalam
menentukan kebutuhan protein
untuk pasien dengan
ketidakadekuatan asupan protein
atau kehilangan protein
6) Rujuk ke program gizi di
komunitas yang tepat, jika pasien
tidak dapat menyiapkan makanan
yang adekuat.

Hipertermi, faktor resiko: ketidakmampuan untuk mengompensasi


kelebihan aktivitas tiroid

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

35

Tujuan/Kriteria Evaluasi NOC


Pasien akan menunjukkan
termoregulasi, dibuktikan dengan
indikator gangguan sebagai
berikut: (sebutkan 1-5: ekstrem,
berat, sedang, ringan, atau tidak
ada gangguan).
1) suhu kulit dalam rentang yang
diharapkan
2) suhu tubuh dalam batas normal
3) nadi dan pernafasan dalam
rentang yang diharapkan
4) perubahan warna kulit tidak
ada
5) keletihan dan mudah
tersinggung tidak tampak

Intervensi Prioritas NIC


Mandiri
1) Lepaskan pakaian yang berlebihan,
tutupi pasien dengan selembar
pakaian
2) Gunakan waslap dingin pada
aksila, kening ,leher, lipatan paha
3) Gunakan selimut dingin
Kolaborasi
4) Berikan obat antipiretik, sesuai
dengan kebutuhan
Monitoring
5) Pemantauan tanda vital:
pengumpulan dan analisis data
kardiovaskuler, respirasi, suhu
tubuh
6) Regulasi suhu: mempertahankan
suhu tubuh dalam rentang normal.
7) Pengobatan demam: pengelolaan
pasien dengan hipertermi yang
disebabkan oleh faktor-faktor yang
bukan dari lingkungan
8) Kewaspadaan hipertermi maligna:
pencegahan atau penurunan respon
hipermetabolik terhadap obat
farmakologis yang digunakan

e.

Keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi,


iritabilitas sistem saraf pusat
Tujuan/ kriteria evaluasi NOC
Intervensi prioritas NIC
1) Pasien akan beradaptasi
Mandiri
terhadap keletihan yang
1) Pantau bukti adanya keletihan fisik
dibuktikan dengan konsentrasi,
dan emosi yang berlebihan pada
penghematan energi,
pasien
ketahanan, dan status nutrisi:
2) Pantau asupan nutrisi untuk
energi
memjamin keadekuatan sumber
2) Pasien akan menunjukan
energi.
penghematan energi,
3) Pantau lokasi dan sifat
dibuktikan dengan indikator
ketidaknyamanan atau nyeri
berikut (ditunjukkan dengan
selama bergerak atau beraktivitas
ketentuan 1-5: tidak ada,
4) Diskusi dengan pasien/ keluarga
ringan, sedang, berat, sangat
cara memodifikasi lingkungan
berat )
rumah untuk mempertahankan
a) Tingkat daya tahan adekuat
aktivitas biasanya dan untuk
untuk beraktivitas
mengurangi keletihan.
b) Mempertahankan nutrisi
5) Kurangi aktivitas yang prioritasnya
yang adekuat
rendah
c) Keseimbangan antara
Kolaborasi

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

36

aktivitas dan istirahat


Konsultasi dengan ahli gizi tentang
d) Gunakan teknik penghematan cara untuk meningkatkan asupan
energi
makanan yang berenergi tinggi
e) Adaptasi gaya hidup dengan
tingkat energi.
f.

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan persepsi peran


Tujuan/Kriteria Evaluasi NOC
Intervensi Prioritas NIC
Setelah dilakukan tindakan
1) Kaji secara verbal dan nonverbal
keperawatan selama 2x24 jam
respon klien terhadap tubuhnya
gangguan body image pasien
2) Monitor frekuensi mengkritik
teratasi dengan kriteria hasil:
dirinya
1) Body image positif
3) Jelaskan tentang pengobatan,
2) Mampu mengidentifikasi
perawatan, dan prognosis penyakit
kekuatan personal
4) Dorong klien mengungkapkan
3) Mendiskripsikan secara faktual
perasaannya
perubahan fungsi tubuh
5) Identifikasi arti pengurangan
4) Mempertahankan interaksi
melalui pemakaian alat bantu
sosial
6) Fasilitasi kontak dengan individu
lain dalam kelompok kecil
3.3

Kasus
Ny. W, 38 tahun dirawat di RS UA sejak 2 hari lalu. Pasien merasa cepat
lelah, sulit tidur, dan pandangan mata menjadi kabur sejak sebulan lalu dan
makin memburuk akhir-akhir ini. Pasien menyatakan nafsu makannya
meningkat, cepat lapar tapi berat badannya menurun. Pasien mengalami
diare, sering BAK. Suara pasien terdengar parau dan terlihat pembesaran
kelenjar di leher yang dikeluhkan mengakibatkan nyeri telan. T: 38 0C
RR:25x/menit BB: 40Kg TB: 158 TD: 130/90.

3.3.1 Pengkajian
a. Identitas klien
Nama
: NY. W
Jenis Kelamin
: wanita
Umur
: 38 tahun
b. Keluhan utama
Nafsu makan meningkat tetapi BB menurun.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Susah tidur, intensitas makan meningkat.
d. Riwayat kesehatan dahulu : tidak terkaji
e. Riwayat penyakit keluarga : tidak terkaji
f.
Pengkajian psikososial
Gelisah mengenai pembesaran yang terjadi pada lehernya.
g. Dasar data pengkajian klien
1) aktivitas/ istirahat
Gejala: insomnia, sensitivitasnya meningkat, otot lemah, kelelahan
berat.
Tanda: atrofi otot

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

37

2) Sirkulasi
Gejala: palpitasi dan nyeri dada (angina)
Tanda: disritmia, takikardi saat istirahat, syok
3) Eliminasi
Gejala: urine jumlah banyak, perubahan dalam feses (diare)
4) Intergritas ego
Gejala: mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik.
Tanda: emosi labil, depresi
5) Makanan/ cairan
Gejala: kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan
meningkat, makannya sering
Tanda: pembesaran tiroid, goiter, edema non-pitting terutama
daerah pretibial
6) Neurosensori
Tanda: bicaranya cepat dan parau
7) Nyeri/ kenyamanan
Gejala: nyeri orbital, fotofobia.
8) Pernafasan
Tanda: frekuensi pernafasan meningkat
9) Keamanan
Gejala: tidak toleransi terhadap panas,keringat yang berlebihan
Tanda: suhu 38C
3.3.2 Pemeriksaan Fisik
Review of System
B1 (breathing)
B2 (blood)
B3 (brain)
B4 (bladder)
B5 (bowel)
B6 (bone)

: RR meningkat, Takipnea
: Takikardi
: emosi labil, depresi
: urin meningkat
: Berat badan mendadak menurun
: otot melemah, atrofi otot

3.3.3 Analisis Data

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

38

Data

Etiologi

DO: BAB lebih dari


3x sehari, bising usus
hiperaktif
DS: nyeri perut, klien
merasa kejang perut
DO: RR meningkat
(25x/menit)
DS: Dyspneu

Metabolisme tubuh

Masalah
Keperawatan
Diare

Aktivitas GI
Peristaltik usus
hipertiroid

Ketidakefektifan pola
nafas

Metabolisme tubuh
Konsumsi O2

DO: Suhu tubuh 38


C, kulit kemerahan,
dan teraba panas/
hangat
DS: DO: Sianosis >3
detik,
b. takikardi saat
istirahat, kulit halus,
hangat, dan
kemerahan
DS: Mudah lelah saat
beraktivitas, otot
terasa lemah

Hiperventilasi
Hipertiroid

Hipertermi

Metabolisme tubuh
Suhu tubuh
hipertiroid

Keletihan

Metabolisme tubuh
Konsumsi O2
Kebutuhan energi

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

39

3.3.4 Diagnosa Keperawatan


a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan asupan yang kurang
dari kebutuhan metabolik sekunder akibat laju metabolik yang
berlebihan
b. Diare berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
c. Hipertermi berhubungan dengan proses peningkatan laju metabolisme.
d. Keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi,
iritabilitas sistem saraf pusat
3.3.5 Intervensi Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan asupan yang kurang
dari kebutuhan metabolik sekunder akibat laju metabolik yang
berlebihan
Tujuan/Kriteria Evaluasi NOC
Intervensi Prioritas NIC
Pasien akan menunjukkan pola
1) Mengidentifkasi adanya masalah
pernafasan kembali normal.
paru atau obstruksi jalan nafas yang
membahayakan oksigenasi serebral
Hasil yang disarankan:
atau menandakan infeksi paru.
1) Pola nafas efekif
2) Memaksimalkan oksigen pada darah
2) DA normal
arteri dan membantu dalam
3) Tidak terjadi sianosis
pencegahan hipoksia. Jika pusat
pernafasan tertekan, mungkin
diperlukan ventilasi mekanik.
3) Nafas dalam dapat meningkatkan
asupan oksigen yang masuk.
4) Perubahan dapat menandakan
awitan kompliasi pulmonal atau
menandakan lokalisasi keterlibatan
otak. Pernapasan lambat , periode
apnea dapat perlunya ventilasi
mekanis.
5) Memudahkan ekspansi paru dan
menurunkan kemungkinan lidah
jatuh yang menyumbat jalan nafas.
b.

Diare berhubungan dengan peningkatan laju metabolism


Tujuan/Kriteria Evaluasi NOC
Intervensi Prioritas NIC
1) Diare akan dapat dikendalikan/ 1) lakukan tindakan untuk
dihilangkan yang ditunjukkan
mengistirahatkan usus besar
dengan eliminasi defekasi
(misalnya, puasa atau diet cair)
yang efektif, keseimbangan
2) Anjurkan pasien untuk makan
elektrolit dan asam/basa,
dalam porsi kecil , sering dan
keseimbangan cairan, hidarasi
jumlah ditingkatkan secara
yang adekuat.
bertahap.
2) Menunjukkan eliminasi
3) Konsulkan dengan ahli diet untuk
defekasi efektif, ditandai
penyesuian diet yang diperlukan
dengan indikator gangguan
4) Konsultasikan dengan dokter jika

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

40

(ditunjukkan dengan ketentuan


1-5: ringan, sedang, berat,
sangat berat, ekstream)
a) Pola eliminasi dalam
rentang yang diharapkan
b) Diare tidak ada
c) Darah dan lendir dalam
feses tidak ada
d) Nyeri keram tidak ada
e) kembung tidak ada

tanda dan gejala diare yang terus


menerus.
5) Ajarkan pasien / anggota keluarga
untuk mencatat warna, volume,
frekuensi dan konsistensi feses.
6) Pantau nilai laboratorium dan
laporkan ketidaknormalan
7) Evaluasi catatan asupan kandungan
nutris

c.

Hipertermi berhubungan dengan proses peningkatan laju metabolisme.


Tujuan/Kriteria Evaluasi NOC
Intervensi Prioritas NIC
Pasien akan menunjukkan
Mandiri
termoregulasi, dibuktikan dengan
1) Lepaskan pakaian yang berlebihan
indikator gangguan sebagai berikut:
dan tutupi pasien dengan hanya
(sebutkan 1-5: ekstrem, berat,
selembar pakaian
sedang, ringan, atau tidak ada
2) Gunakan waslap dingin pada
gangguan).
aksila, kening ,leher, lipatan paha
1) suhu kulit dalam rentang yang
3) Gunakan selimut dingin
diharapkan
Kolaborasi
2) suhu tubuh dalam batas normal
4) Berikan obat antipiretik, sesuai
3) nadi dan pernafasan dalam
dengan kebutuhan
rentang yang diharapkan
Monitoring
4) perubahan warna kulit tidak ada 5) Pemantauan tanda vital:
5) keletihan dan mudah
pengumpulan dan analisis data
tersinggung tidak tampak
kardiovaskuler, respirasi, suhu
tubuh
6) Regulasi suhu: mempertahankan
suhu tubuh dalam rentang normal.
7) Pengobatan demam: pengelolaan
pasien dengan hipertermi yang
disebabkan oleh faktor-faktor yang
bukan dari lingkungan
8) Kewaspadaan hipertermi maligna:
pencegahan atau penurunan respon
hipermetabolik terhadap obat
farmakologis yang digunakan
d.

Keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi,


iritabilitas sistem saraf pusat
Tujuan/ kriteria evaluasi NOC
Intervensi prioritas NIC
1) Pasien akan beradaptasi
Mandiri
terhadap keletihan yang
1) Pantau bukti adanya keletihan fisik
dibuktikan dengan konsentrasi,
dan emosi yang berlebihan pada
penghematan energi, ketahanan,
pasien
dan status nutrisi: energi
2) Pantau asupan nutrisi untuk
2) Pasien akan menunjukan
memjamin keadekuatan sumber

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

41

penghematan energi, dibuktikan


dengan indikator berikut
(ditunjukkan dengan ketentuan
1-5: tidak ada, ringan, sedang,
berat, sangat berat )
a) Tingkat daya tahan adekuat
untuk beraktivitas
b) Mempertahankan nutrisi
yang adekuat
c) Keseimbangan antara
aktivitas dan istirahat
d) Gunakan teknik penghematan
energi
e) Adaptasi gaya hidup dengan
tingkat energi.

energi.
3) Pantau lokasi dan sifat
ketidaknyamanan atau nyeri
selama bergerak atau beraktivitas
4) Diskusi dengan pasien/ keluarga
cara memodifikasi lingkungan
rumah untuk mempertahankan
aktivitas biasanya dan untuk
mengurangi keletihan.
Kolaborasi
5) Konsultasi dengan ahli gizi tentang
cara untuk meningkatkan asupan
makanan yang berenergi tinggi

BAB IV
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Hipotiroidisme adalah keadaan kurang aktifnya kelenjar tiroid yang
menyebabkan sekresi hormon tiroid tidak terjadi atau mengalami penurunan.
Hipotiroidisme mengacu pada rendahnya kadar hormon tiroid di dalam aliran
darah. Hipotiroidisme dapat terjadi secara primer atau sekunder. Penyebab
primer meliputi defek kongenital, pengangkatan jaringan tiroid setelah terapi
hipertiroidisme, tidak sempurnanya sintesis hormon akibat proses autoimun,
dan pemberian antitiroid atau defisiensi iodin. Penyebab sekundernya adalah
resistansi perifer terhadap hormon tiroid, infark hipofisis, dan gangguan
hipotalamus. Wanita lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk
mengembangkan hipotiroidisme. Penyakit ini juga lebih sering terjadi pada
orang yang lebih tua dari usia 60. Manifestasi klinis hipotiroid tergantung pada
dua hal yaitu beratnya defisiensi hormon tiroid yang terjadi dan tingkat
keakutan kelainan tersebut terjadi. Pemeriksaan diagnostik yang dapat
dilakukan yaitu radiografi dada dan pemeriksaan TSH.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

42

Hipertiroidisme (tiroksikosis) merupakan suatu kondisi dimana kelenjar


tiroid mengalami peningkatan produksi dan sekresi hormon tiroid. Ada
beberapa faktor yang dapat menyebabkan hipertiroidisme, diantaranya adalah
penyakit grave, goiter multinodular beracun, tiroiditis, dan pemasukan iodine
yang belebihan pada tubuh. Gejala klinis yang dpat timbul, antara lain
penurunan berat badan mendadak, detak jantung meningkat, tremor,
berkeringat, dan perubahan pola menstruasi. Pemeriksaan diagnostik yang
dapat dilakukan yaitu pemeriksaan TSH dan pemeriksaan hormon tiroid T3 dan
T4.
3.2

Saran
Berdasarkan materi yang telah dijelaskan dalam makalah ini, maka
perawat seyogyanya mengerti dan memahami akan medikasi. Sehingga
perawat dapat mengimplementasikannya dalam proses penanganan terhadap
pasien. Maka asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien akan berjalan
dengan baik dan maksimal. Karena jika perawat tidak paham mengenai
medikasi akan menghambat penanganan terhadap pasien dan penanganan
menjadi kurang maksimal bahkan dapat merugikan pihak pasien.

DAFTAR PUSTAKA
American
Thyroid
Association.
2012.
What
is
Hyperthyroidsm.
http://www.thyroid.org. Diakses pada 8 Maret 2013 pukul 08.13
Badesch, D. B., Wynne, K. M., Bonvallet, S., Voelkel, N. F., Ridgway, C. &
Groves, B. M.
1993. Hypothyroidism and primary pulmonary
hypertension: an autoimmune pathogenetic link? Ann Intern Med, 119, 446.
Baradero, M., et al. 2005. Klien Gangguan Endokrin: Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC
Boucher, M. A., dkk. 2006. Handbook of Medical-Surgical Nursing. New York:
Lippincott Williams & Wilkins.
Bunevicius R, Kazanavicius G, Zalinkevicius R, Prange AJ Jr. 1999. Effects of
thyroxine as compared with thyroxine plus triiodothyronine in patients with
hypothyroidism. N Engl J Med 340:424-9.
Digeorge, A. Hipotiroidisme. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Vol. 3.
Jakarta : EGC. 2000; Hlm 1937-1944.
Doenges, M. E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Jakarta : EGC

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

43

Hartono, A. 2012. Medikal Bedah Endokrin. Tangerang: Binarupa Aksara.


Ladenson, P. W., Goldenheim, P. D. & Ridgway, E. C. 1988. Prediction and
reversal of
blunted ventilatory responsiveness in patients with
hypothyroidism. Am J Med, 84, 877-83.
Mayo
clinic
staff.
2012.
Hyperthyroidism
(overactive
thyroid).
http://www.mayoclinic.com/health/hyperthyroidism/DS00344/DSECTION=
symptoms. Diakses pada 8 Maret 2013, pukul 08.09
Mc Dermott MT, Woodmansee WW, Haugen BR, Smart A, Ridgway EC. The
Management of subclinical hyperthyroidism by thyroid specialists. Thyroid
2004,90-110
Milas, K & Rehan, K. M. 2012. Treatments for Hyperthyroidism. Vertical Health LLC
Nettina, S. M. 2002. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC.
Norman, J. 2012. Diagnosing Hyperthyroidism: Overactivity Of the Thyroid
Gland. Vertical Health LLC.
Patricia G. M, Dorrie F, Carolyn M. H, Barbara M. G. Critical Care Nursing : A
Holistic Approach. Lippincott Williams & Wilkins Inc., USA 14:1292-4.
Price, S., & Wilson, L. 2003. Pathophysiology: clinical consepts of disease
processes. St. Louis, MO : Mosby
Rumahorbo, H. 1999. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Endokrin. Jakarta: EGC.
Siafakas, N. M., Salesiotou, V., Filaditaki, V., Tzanakis, N., Thalassinos, N. &
Bouros, D. 1992. Respiratory muscle strength in hypothyroidism. Chest,
102, 189-94.
Smeltzer, S. & Bare, B. 2006. Brunner & Sudderth textbook of medical surgical
nursing (11 ed). Philadelphia, Lappincott Williams & Wilkins
Sudiono, J. 2007. Gangguan Tumbuh Kembang Dentokraniofasial. Jakarta: EGC.
Surks, M, I., & Sievert, R. 1995. Drugs and thyroid function. New England
Journal of Medicine
Susanto, R. 2009. Kelainan Tiroid masa Bayi. Thyroidology Update. Semarang:
Bag. Ilmu Kesehatan Anak RS dr. Kariadi.
Tjandra, H. 2011. Mencegah dan Mengatasi Penyakit Tiroid. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Walter, M. A. 2007. Effects Of Antithyroid Drugs On Radioiodine Treatment:
Systematic
Review And Meta-Analysis Of Randomised Controlled
Trials. BMJ Publishing Group Ltd.

Faculty of Nursing Airlangga University | Gangguan


Pada Sistem Endokrin Hipotiroid dan Hipertiroid

44