Anda di halaman 1dari 22

Percobaan VI

Kromatografi Kapur Tulis


I.

Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk memisahkan dan
mengidentifikasi zat warna dalam tinta secara kromatografi kapur tulis.

II.

Dasar Teori
Kromatografi ditemukan oleh Michael Tswett, seorang ahli botani di
Universitas Warsaw (Polandia), pada tahun 1906. Kata kromatografi berasal
dari pada perkataan Yunani "warna" dan "tulis." Kromatografi adalah metode
yang digunakan untuk memisahkan komponen dalam sampel, dimana
komponen tersebut didistribusikan diantara dua fasa yaitu fasa diam dan fasa
gerak. Fasa diam berupa padatan atau cair yang dilapiskan pada padatan atau
gel. Pada pemisahan ini senyawa-senyawa yang akan dipisahkan ditempatkan
dalam sistem yang bergerak mengalir melalui suatu sistem yang diam, dan
selama pengaliran fasa gerak akan terjadi pelarutan, adsorpsi dan penguapan
(Anonim, 2013).
Pada prinsipnya semua cara pemisahan kromatografi mengalami
proses yang sama yaitu adanya distribusi komponen-komponen dalam fasa
diam dan fasa gerak dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat-sifat
fisik komponen yang akan dipisahkan. Perbedaaan sifat tersebut di antaranya:
1. Kelarutan yang berbeda terhadap suatu pelarut.
2. Sifat untuk bertaut (adsorpsi) yang berbeda satu sama lain dengan suatu
serbuk bahan padat.
3. Sifat dapat menguap pada temperatur yang berbeda satu sama lain

Berdasarkan asas terjadinya proses pemisahan maka kromatografi


dibedakan menjadi 4, yaitu :
a. Kromatografi dengan asas adsorpsi

Kromatografi jenis ini menggunakan fasa diam padat dan fasa gerak cair
atau gas. Pemisahan komponen-komponennya akan sangat bergantung
pada perbedaan polaritas molekul-molekul yang akan dipisahkan.
b. Kromatografi dengan asas partisi
Kromatografi jenis ini memakai fasa diam cair dan fasa gerak cair.
Pemisahan komponen-komponen akan sangat tergantung pada perbedaan
Kd (Koefisien distribusi) molekul-molekul yang dipisahkan.
c. Kromatografi dengan asas filtrasi
Kromatografi jenis ini memakai fasa padat yang mempunyai sifat filtrasi
terhadap komponen yang mempunyai massa molekul relatif (Mr) yang
tinggi dan fasa padat tersebut dimiliki oleh gel atau sejenisnya sedangkan
fasa geraknya adalah cairan. Kromatografi dengan dasar filtrasi ini sangat
dipengaruhi oleh perbedaan bentuk (struktur dan ukuran molekul).
d. Kromatografi dengan asas suhu kritik.
Pada dasarnya merupakan pengembangan dari kromatografi gas, sebagai
fasa mobil dipakai CO2 dalam keadaan superkritik.
Secara teori, pemisahan kromatografi yang paling baik akan diperoleh
jika fase diam mempunyai luas permukaan sebesar-besarnya sehingga terjadi
keseimbangan yang baik antara fase gerak dan fase diam. Persyaratan kedua
agar pemisahan baik adalah fase gerak bergerak dengan cepat sehingga difusi
yang terjadi sekecil-kecilnya. Untuk memperoleh permukaan fase diam yang
luas, maka penjerap atau fase diam harus berupa serbuk halus. Sedangkan
untuk memaksa fase gerak bergerak cepat melalui fase diam yang berupa
serbuk halus, harus digunakan tekanan tinggi. Persyaratan tersebut
menghasilkan teknik high pressure liquid chromatography, yang selanjutnya
lebih dikenal sebagai high performance liquid chromatography (HPLC) atau
kromatografi cair kinerja tinggi (Yasid, 2004).
Kromatografi bergantung pada pembagian ulang molekul-molekul
campuran antara dua fase atau lebih. Tipe-tipe kromatografi absorpsi,
kromatografi partisi cairan dan pertukaran ion. Sistem utama yang digunakan
dalam kromatografi partisi adalah partisi gas, partisi cairan yang

menggunakan alas tak bergerak (misalnya komatografi kolom), kromatografi


kertas dan lapisan tipis (underwood, 1999).
Pengertian kromatografi menyangkut metode pemisahan yang
didasarkan atas distribusi diferensial komponen sampel diantara dua fasa.
Menurut pengertian ini kromatografi selalu melibatkan dua fasa, yaitu fasa
diam dan fasa gerak. Fasa diam dapat berupa cairan yang terikat pada
permukaan padatan (kertas atau suatu adsorben) sedangkan fasa gerak dapat
berupa cairan eluen atau pelarut atau gas pembawa yang inert (Anonim,
2013).
Kromatografi adalah pemisahan campuran komponen-komponen
didasarkan pada perbedaan tingkat interaksi terhadap dua fasa material
pemisah. Campuran yang akan dipisahkan dibawa fasa gerak, yang kemudian
dipaksa bergerak atau disaring melalui fasa diam karena pengaruh gaya berat
atau gaya-gaya yang lain. Komponen-komponen dari campuran ditarik dan
diperlambat oleh fasa diam pada tingkat yang berbeda-beda sehingga mereka
bergerak bersama-sama dengan fasa gerak dalam waktu retensi (retention
time) yang berbeda-beda dan dengan demikian mereka terpisah (Clark, 2007).

III.

Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah
sebagai berikut:
a. Alat
1. Chamber
2. Mistar
3. Stopwatch
b. Bahan
1. Aquades

2. Etanol 95 % : air (1 : 1)
3. Kapur tulis
4. Spidol warna (hitam, ungu, hijau dan coklat)

IV.

Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Penjenuhan Eluen
a. Menyiapkan dua buah chamber dan eluen yang akan digunakan.
b. Memasukkan beberapa ml etanol 95 % : air (1 : 1) dan aquades ke
dalam masing-masing chamber, hingga eluen mencapai 1 cm dari
dasar chamber.
c. Menutup chamber dengan rapat selama 10 menit untuk proses
penjenuhan.
2. Etanol 95 % : air (1 : 1)

a. Menyiapkan 4 buah kapur tulis yang akan digunakan pada proses


penotolan.
b. Menotolkan spidol warna hitam, ungu, hijau dan coklat pada masingmasing kapur tulis dan membiarkannya kering.
c. Memasukkan ke empat kapur tulis ke dalam chamber yang berisi eluen
jenuh.
d. Menutup chamber dengan rapat untuk proses elusi.
e. Setelah eluen naik hampir di batas atas, selanjutnya mengeluarkan
kapur tersebut.
f. Mengidentifikasi komponen warna yang terpisah untuk masingmasing kapur tulis.
g. Menghitung nilai Rf.
3. Aquades
a. Menyiapkan 4 buah kapur tulis yang akan digunakan pada proses
penotolan.
b. Menotolkan spidol warna hitam, ungu, hijau dan coklat pada masingmasing kapur tulis dan membiarkannya kering.
c. Memasukkan ke empat kapur tulis ke dalam chamber yang berisi eluen
jenuh.
d. Menutup chamber dengan rapat untuk proses elusi.
e. Setelah eluen naik hampir di batas atas, selanjutnya mengeluarkan
kapur tersebut.
f. Mengidentifikasi komponen warna yang terpisah untuk masingmasing kapur tulis.
g. Menghitung nilai Rf.

V.

Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh pada percobaan ini adalah
sebagai berikut:
1. Aquades
Bahan

Eluen

Adsorben

warna
tinta
Hitam

jumla

Warna

h
Aquade

Kapur

tulis

Ungu

Kapur
Aquade

Ungu
Biru
Merah
Ungu

Jarak

Jarak

eluen

kompone

(cm)
5,5

n (cm)
1
2,3
5,4

5,7

merah

tulis

0,3
1

2
Kapur
Aquade

tulis

0,18
2
0,41
8
0,98
1

s
Hijau

Rf

Biru
Kunin
g

6,1

2
6

0,05
2
0,17

Coklat

5,5

0,3
3,2
5,1

Kapur
Hitam

tulis

0,32

Merah
Kunin

Aquade
s

7
0,98

3
0,05
4
0,58
1
0,92
7

2. Etanol 95 % : air (1 : 1)
Bahan

Jarak

Jarak

warna

elue

komponen

tinta

(cm)

Hitam

Eluen

Adsorben jumlah

Etanol 95

Kapur

% : air (1 :

tulis

Warna

Ungu
Biru

Merah

Biru
Ungu

(cm)
4,8

Rf

3,5
4,4

0,729
0,917

4,6

4,5

0,978

4,7

4
3,2

0,851
0,681

1)
Ungu
Etanol 95
% : air (1 :
Hijau

Kapur
tulis

1)
Kapur
Etanol 95

tulis

Coklat

% : air (1 :
1)
Etanol 95

3
Kapur

Biru
Kuning
Ungu

tulis

% : air (1 :
1)

VI.

Perhitungan
a. Aquades
1. Hitam
jarak eluen = 5,5 cm
jarak komponen 1 ungu = 1 cm
jarak komponen 2 biru = 2,3 cm
jarak komponen 3 merah = 5, 4 cm
Nilai Rf
jarak yang ditempuh komponen dari garis awal
Rf =
jarak yang ditempuh eluen dari garis awal
Komponen 1
1 cm
Rf =
5,5 cm
= 0,182
Komponen 2

4,8

4,5
4,4
4

0,938
0,917
0,833

2,3 cm
5,5 cm
= 0, 418

Rf =

Komponen 3
5, 4 cm
Rf =
5,5 cm
= 0,981

2. Ungu
jarak eluen = 5, 7 cm

jarak komponen 1 ungu = 0,3 cm


jarak komponen 2 merah = 1 cm
Nilai Rf
jarak yang ditempuh komponen dari garis awal
Rf =
jarak yang ditempuh eluen dari garis awal
Komponen 1
0,3 cm
Rf =
5, 7 cm
= 0, 052
Komponen 2
1 cm
Rf =
5, 7 cm
= 0,175
3. Hijau

jarak eluen = 6,1 cm


jarak komponen 1 biru = 2 cm
jarak komponen 2 kuning = 6 cm
Nilai Rf
jarak yang ditempuh komponen dari garis awal
Rf =
jarak yang ditempuh eluen dari garis awal
Komponen 1
2 cm
Rf =
6,1 cm
= 0,327
Komponen 2
6 cm
Rf =
6,1 cm
= 0,983
4. Coklat
jarak eluen = 5,5 cm
jarak komponen 1 hitam = 0,3 cm
jarak komponen 2 merah = 3, 2 cm
jarak komponen 3 kuning = 5,1 cm
Nilai Rf
jarak yang ditempuh komponen dari garis awal
Rf =
jarak yang ditempuh eluen dari garis awal
Komponen 1
0,3 cm
Rf =
5,5 cm
= 0, 054

Komponen 2
3, 2 cm
Rf =
5,5 cm
= 0,581
Komponen 3
5,1 cm
Rf =
5,5 cm
= 0,927
b. Etanol 95 % : air (1 : 1)
1. Hitam
jarak eluen = 4,8 cm

jarak komponen 1 ungu = 3,5 cm


jarak komponen 2 biru = 4, 4 cm
Nilai Rf
jarak yang ditempuh komponen dari garis awal
Rf =
jarak yang ditempuh eluen dari garis awal
Komponen 1
3,5 cm
Rf =
4,8 cm
= 0, 729
Komponen 2
4, 4 cm
Rf =
4,8 cm
= 0,917
2. Ungu
jarak eluen = 4, 6 cm
jarak komponen 1 merah = 4,5 cm

Nilai Rf
jarak yang ditempuh komponen dari garis awal
Rf =
jarak yang ditempuh eluen dari garis awal
Komponen 1
4,5 cm
Rf =
4, 6 cm
= 0,978
3. Coklat
jarak eluen = 4, 7 cm

jarak komponen 1 biru = 4 cm


jarak komponen 2 ungu = 3, 2 cm
Nilai Rf
jarak yang ditempuh komponen dari garis awal
Rf =
jarak yang ditempuh eluen dari garis awal
Komponen 1
4 cm
Rf =
4, 7 cm
= 0,851
Komponen 2
3, 2 cm
Rf =
4, 7 cm
= 0, 681

4. Hijau

jarak eluen = 4,8 cm


jarak komponen 1 biru = 4,5 cm
jarak komponen 2 kuning = 4, 4 cm
jarak komponen 3 ungu = 4 cm

Nilai Rf
jarak yang ditempuh komponen dari garis awal
Rf =
jarak yang ditempuh eluen dari garis awal
Komponen 1
4,5 cm
Rf =
4,8 cm
= 0,938
Komponen 2
4, 4 cm
Rf =
4,8 cm
= 0,917
Komponen 3
4 cm
Rf =
4,8 cm
= 0,833

VII.

Pembahasan
Kromatografi kapur tulis merupakan proses pemisahan komponen
warna dengan menggunakan kapur tulis sebagai fasa diamnya. Kromatografi
ini didasarkan pada adsorbsi, yaitu penyerapan oleh kapur tulis dengan
menggubakan eluen tertentu (Clark, 2007).

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk memisahkan dan


mengidentifikasi zat warna dalam tinta secara kromatografi kapur tulis (Staf
Pengajar Pemisahan Dasar-dasar Analitik, 2013).
Prinsip kerja dari kromatografi kapur tulis adalah adsorbsi atau
penyerapan. Kromatografi ini disebut juga kromatografi padat-cair. Artinya,
fasa gerak yang digunakan berbentuk padat yaitu kapur tulis. Sedangkan fasa
diam yang digunakan berbentuk cair yaitu aquades dan etanol 95 % : air
dengan perbandingan 1 : 1 (Khopkar, 2002).
Ada beberapa perbedaan antara kromatografi kapur tulis dengan
kromatografi kertas. Misalnya, ditinjau dari prinsip kerja dari keduanya. Pada
kromatografi kapur tulis, prinsip kerjanya adalah adsorbsi atau penyerapan.
Kapur tulis akan menyerap eluen sehingga komponen warna sampel yang
ditotolkan padanya dapat terpisah. Pada kromatografi kapur tulis, fasa gerak
yang digunakan berbentuk padat yaitu kapur tulis, sedangkan fasa diam yang
digunakan berbentuk cair, biasanya campuran etanol 95 % : air (1 : 1).
Sedangkan pada kromatografi kertas, prinsip kerjanya adalah partisi (caircair). Dimana adanya perbedaan kelarutan pada tiap-tiap komponen yang
dipisahkan berdasarkan fasa diam dan fasa geraknya. Pada kromatografi
kertas, baik fasa diam maupun fasa gerak yang digunakan berbentuk cair.
Adapun fasa gerak yang biasanya digunakan pada kromatografi kertas ini
adalah etanol 95 % : air (1 : 1). Sedangkan fasa diamnya adalah air yang
terikat pada selulosa kertas. Jadi, air yang terikat pada selulosa kertas akan
menyerap eluen hingga komponen warna dari sampel dapat terpisah
(Underwood, 2009).
Fase diam adalah fase pada teknik kromatografi yang berfungsi
sebagai penyerap. Fase ini cenderung menahan komponen campuran. Fase
gerak adalah fase yang membawa migrasi komponen yang akan dipisahkan,
fase ini cenderung menghanyutkan campuran. Adapun eluen atau fasa gerak
yang digunakan pada percobaan ini adalah campuran etanol 95 % dan air
dengan perbandingan 1 : 1. Eluen ini digunakan karena telah memenuhi

syarat-syarat eluen yang baik yaitu, kurang polar dari fasa diam, memiliki
densitas yang rendah, kemurnian yang memadai, viskositas yang rendah dan
stabilitas yang memadai. Sedangkan fase diam yang digunakan adalah kapur
tulis (Yasid, 2004).
Hal pertama yang dilakukan pada percobaan ini adalah menjenuhkan
eluen. Yaitu dengan cara memasukkan eluen (aquades dan campuran etanol 95
% dan air (1 : 1) ke dalam chamber dan menutupnya dengan rapat selama 10
menit. Alasan untuk menutup chamber adalah untuk meyakinkan bawah
kondisi dalam chamber terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Eluen dijenuhkan
agar mencegah penguapan pelarut, karena eluen yang digunakan mudah
menguap (Anonim, 2013).
Ada beberapa tahap yang digunakan pada percobaan ini, antara lain
sebagai berikut:
1. Penotolan
Pada tahap ini, hal yang pertama kali dilakukan adalah
menyediakan 8 buah kapur tulis dan beberapa spidol warna (hitam, ungu,
hijau dan coklat). Selanjutnya, melakukan penotolan pada ke delapan
kapur tulis dengan warna-warna yang berbeda untuk setiap kapurnya. Jadi,
dua buah kapur tulis ditotolkan dengan warna yang sama. Pada saat
penotolan, totolan yang dibuat harus sekecil mungkin. Karena jika totolan
dibuat terlalu besar, maka akan menyebabkan terjadinya perembesan dan
dapat menghasilkan kromatogram yang tidak baik.

2. Proses Elusi atau Pengembangan


Setelah totolan pada kapur tulis kering, selanjutnya memasukkan 4
buah kapur tulis yang telah ditotol tadi ke dalam chamber yang berisi
aquades jenuh. Dan memasukkan 4 buah kapur tulis yang lain ke dalam
chamber yang berisi campuran etanol 95 % dan air (1 : 1) yang telah
bersifat jenuh. Setelah memasukkan kapur, menutup rapat chamber untuk
proses elusi. Pada saat memasukkan kapur ke dalam chamber, jangan

sampai kapur terjatuh dan totolan terendam eluen. Karena hal itu dapat
membuat kromatogram menjadi tidak baik.
Proses elusi akan berlangsung dengan metode ascending ataupun
descending. Metode ascending (menaik) dilakukan dengan memanfaatkan
gaya kapiler, sedangkan metode descending (menurun) dilakukan dengan
memanfaatkan gaya gravitasi. Pada percobaan ini, metode yang digunakan
adalah metode ascending. Dimana, eluen akan bergerak naik karena
adanya gaya kapiler (Yasid, 2004).
Proses elusi dihentikan ketika eluen telah naik hampir pada batas
atas kapur tulis.
3. Identifikasi Warna
Setelah proses elusi dihentikan, selanjutnya mengeluarkan kapur
tulis dari dalam chamber. Lalu, membiarkan kapur tulis kering untuk
proses identifikasi komponen warna yang terpisah.
Pada eluen aquades, untuk spidol warna hitam terpisah menjadi 3
komponen warna yaitu ungu, biru dan merah. Untuk spidol ungu, terpisah
menjadi 2 komponen warna yaitu ungu dan merah. Sedangkan untuk
spidol hijau, terpisah menjadi 2 komponen warna yaitu biru dan kuning.
Lain lagi untuk spidol coklat yang terpisah menjadi 3 komponen warna
yaitu hitam, merah dan kuning.
Pada eluen etanol 95 % : air (1 : 1), untuk spidol warna hitam
terpisah menjadi 2 komponen warna yaitu ungu dan biru. Untuk spidol
ungu, terpisah menjadi 1 komponen warna yaitu merah. Sedangkan untuk
spidol hijau, terpisah menjadi 3 komponen warna yaitu ungu, biru dan
kuning. Lain lagi untuk spidol coklat yang terpisah menjadi 2 komponen
warna yaitu biru dan ungu.
Seharusnya, komponen warna hitam adalah biru, coklat, ungu dan
merah. Sedangkan komponen warna coklat adalah orange dan kuning.
Sedangkan hijau, komponen warnanya adalah biru dan kuning. Lain lagi
dengan ungu, yang seharusnya terpisah menjadi warna merah dan biru.

Adapun terdapat perbedaan pada hasil komponen warna, hal ini


dikarenakan kesalahan praktikan pada saat melakukan percobaan
(Anonim, 2013).
Setelah proses identifikasi selesai, langkah selanjutnya adalah
menghitung nilai Rf. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus berikut:
jarak yang ditempuh komponen
Rf =
jarak yang ditempuh eluen
Untuk nilai Rf pada eluen aquades, spidol hitam antara lain
komponen 1 ungu adalalah 0,182. Untuk komponen 2 biru adalah 0,418.
Lain lagi dengan komponen 3 merah adalah 0,981. Selanjutnya untuk
spidol ungu, komponen 1 ungu nilai Rfnya adalah 0,052. Untuk
komponen 2 merah adalah 0,175. Untuk spidol hijau, komponen 1 biru
nilai Rfnya adalah 0,327. Sedangkan untuk komponen 2 kuning adalah
0,983. Lain lagi dengan spidol coklat, untuk komponen 1 hitam nilai
Rfnya adalah 0,054. Sedangkan untuk komponen 2 merah dan komponen
3 kuning nilai Rfnya adalah 0,581 dan 0,927.
Selanjutnya, untuk etanol 95 % : air (1 : 1). Spidol hitam memiliki
nilai Rf 0,729 dan 0,917 untuk komponen 1 ungu dan komponen 2 biru.
Untuk spidol ungu, nilai Rfnya adalah 0,978 untuk komponen 1 ungu.
Sedangkan untuk spidol coklat, komponen 1 biru nilai Rfnya adalah 0,851
dan komponen 2 ungu adalah 0,681. Yang terakhir, spidol hijau yang
memiliki nilai Rf 0,938, 0,917 dan 0,833 untuk komponen warna biru,
kuning dan ungu.
Ternyata, eluen aquades lebih baik digunakan dibanding dengan
campuran etanol 95 % dan air (1 : 1). Karena, pada eluen aquades, proses
elusi berlangsung cepat dan kompone warna yang terpisah sangat jelas
terlihat. Sedangkan untuk eluen etanol 95 % dan air, proses elusinya berjalan
sangat lambat dan komponen warna sulit teridentifikasi.

Jika eluen yang digunakan bersifat polar, maka fasa diam akan
semakin cepat menyerap eluen sehingga proses elusi berlangsung singkat.
Sedangkan jika eluen yang digunakan bersifat nonpolar, maka fasa diam akan
menyerap eluen dengan lambat sehingga mengakibatkan proses elusi
berlangsung lambat (Yasid, 2004).
Semakin besar afinitas, maka eluen akan bergerak cepat menaiki fasa
diam. Dan hal ini mengakibatkan waktu elusi semakin cepat. Begitupun
sebaliknya, semakin kecil afinitas maka eluen akan bergerak lambat. Dalam
hal ini, waktu elusi akan semakin lambat. Kesimpulannya, afinitas dan waktu
elusi berbanding lurus (Anonim, 2013).

VII.

Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
1. Prinsip dasar dari kromatografi kapur tulis adalah adsorbs atau
penyerapan. Kromatografi ini merupakan kromatografi padat-cair.
Dimana, fasa diam yang digunakan berbentuk padat (kapur tulis) dan
fasa gerak yang digunakan berbentuk cair (etanol 95 % : air = 1 : 1).
2. Adapun nilai Rf yang diperoleh adalah sebagai berikut:
a. Aquades
1. Hitam
Komponen 1 ungu = 0,182
Komponen 2 biru = 0,418
Komponen 3 merah = 0,981
2. Ungu
Komponen 1 ungu = 0,052
Komponen 2 merah = 0,175
3. Hijau
Komponen 1 biru = 0,327
Komponen 2 kuning = 0,983
4. Coklat
Komponen 1 hitam = 0,054

Komponen 2 merah = 0,581


Komponen 3 kuning = 0,927
b. Etanol 95 % : air (1 : 1)
1. Hitam
Komponen 1 ungu = 0,729
Komponen 2 biru = 0,917
2. Ungu
Komponen 1 merah = 0,978
3. Coklat
Komponen 1 biru = 0,851
Komponen 2 ungu = 0,681
4. Hijau
Komponen 1 biru = 0,938
Komponen 2 kuning = 0,917
Komponen 3 ungu = 0,833

Daftar Pustaka
Anonim. 2013. Kromatografi. http://id.wikipedia.org/wiki/Kromatografi. Diakses
pada tanggal 1 Juni 2013.

Clark, Jim. 2007. Kromatografi. http://www.chem-istry.org/


materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi1/. Diakses pada tanggal 21
Mei 2013.
Day & Underwood. 1999. Kimia Analisis Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Khopkar, SM. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.
Staf Pengajar Pemisahan Analitik. 2013. Penuntun Praktikum Dasar-dasar
Pemisahan Analitik. UNTAD: Palu.
Yasid. 2004. Kromatografi. Semarang: Erlangga.

Lampiran
1. Proses elusi dengan eluen etanol 95 % : air (1 : 1)

2. Proses elusi dengan eluen aquades

3. Kromatogram dengan eluen etanol 95 % : air (1 : 1)

4. Kromatogram dengan eluen aquades