Anda di halaman 1dari 13

Pendahuluan

Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga bagian tengah, tuba
Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif
dan otitis media non supuratif. Masing-masing mempunyai bentuk akut dan kronis. Pada
beberapa penelitian, diperkirakan terjadinya otitis media yaitu 25% pada anak-anak. Infeksi
umumnya terjadi dua tahun pertama kehidupan dan puncaknya pada tahun pertama masa
sekolah.1
Otitis Media Akut adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena
masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah. Otits media akut (OMA) dapat terjadi
karena beberapa faktor penyebab, seperti sumbatan tuba eustachius (merupakan penyebab utama
dari kejadian otitis media yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba
eustachius terganggu), ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), dan bakteri (Streptococcus
peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis, dan bakteri piogenik lain, seperti
Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Pneumococcus vulgaris). Penyakit
ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan umumnya berlangsung dalam waktu 3-4 minggu.1
Pembahasan
Sistem Pendengaran / Sistem Auditoria
Telinga adalah organ pendengaran dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan
keseimbangan. Indra pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan
mendengar. Pendengaran merupakan indra mekanoreseptor karena memberikan respon terhadap
getaran mekanik gelombang suara yang terdapat di udara. Telinga menerima gelombang suara
yang frekuensinya berbeda, kemudian menghantarkan informasi pendengaran kesusunan saraf
pusat. Telinga dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga
dalam.2,3
Anamnesis
Saat melakukan anamnesis pada pasien dengan dengan kelainan pada telinga, anamnesis
dilakukan dengan lengkap dan terarah untuk mengetahui bagian telinga yang sakit, penyebab
Page | 1

kelainan, perkembangan penyakit. Dalam kasus ini, pasien adalah anak usia 2 tahun. Oleh karena
itu, anamnesis dilakukan adalah allo-anamnesis yaitu menanyakan keluhan kepada orang lain
yang mempunyai hubungan dengan pasien yang mengetahui perjalanan penyakit si pasien
tersebut yang biasanya merupakan ayah atau ibu anak tersebut maupun orang lain yang dekat
dengan pasien misalnya pengasuhnya.
Kemudian tanyakan keluhan utama pasien datang berobat. Kelainan telinga yang biasa
dilaporkan adalah rasa nyeri pada telinga, ada cairan keluar dari telinga dan pendengaran
menurun. Dalam kasus ini, keluhan anak laki-laki usia 2 tahun adalah seperti di bawah:
Keluhan utama: Anak laki-laki usia 2 tahun demam tiga hari lalu, tidak mau makan,
hidung mengeluarkan ingus encer. Malam hari anak tersebut tiba-tiba menangis dan
memegang kuping telinga kanan.
Anak usia bawah 2 tahun ini mulanya demam tiga hari lalu, selera makan menurun,
hidung mengeluarkan ingus encer kemudian malamnya menangis dan memegang kuping. Bila
anak tersebut memegang kuping telinganya sambil menangis, ini berarti ia sedang kesakitan di
bagian telinga baik di bagian telinga luar, tengah atau dalam. Demam menjadi pemicu kesakitan
ini. Dari anamnesis akan menjadi lebih terarah untuk mengetahui hubungan antara demam dan
sakit di telinganya. Tanyalah hal-hal yang dapat menjelaskan perkembangan penyakitnya, di
samping mencari penyebabnya.
1. Sakit telinga: Telinga yang mana? Sudah berapa lama? Ada keluar cairan atau tidak?
Sakitnya seberapa berat? Sebelum sakit telinga, apa yang terjadi?
2. Demam: Sudah berapa lama? Panas tinggi atau tidak? Mendadak tinggi atau perlahanperlahan tinggi suhunya? Selain demam ada apa lagi? Ada mengambil obatan?
3. Ingus: Pilek atau tidak? Sudah berapa lama? Ingus kental atau encer? Warna apa?
Mengalir terus atau kadang-kadang?
4. Riwayat penyakit dahulu: Dulu pernah sakit seperti ini atau tidak? Anaknya ada alergi
atau tidak? Riwayat imunisasinya lengkap atau tidak?
5. Riwayat keluarga: Ada anggota keluarga yang pernah sakit seperti ini?
6. Riwayat sosial: Bagaimana dengan kebersihan lingkungannya? Bagaimana dengan
kebersihan dirinya? Gizi tercukupi atau tidak? Kebiasaan-kebiasaan apa yang sering
dilakukan anak ini?1

Page | 2

Daripada anamnesis, anak ini mungkin mengalami kelainan pada telinga tengah
berdasarkan gejala yang ditunjukkan.
Pemeriksaan Fisik
Anak ini datang dengan keluhan demam yang kemudian diikuti dengan kelainan pada
telinga.Maka, pemeriksaan fisik kita mulai dari mengukur tanda-tanda vital. Auskultasi pada
thorax dilakukan untuk menilai irama pernafasan, bunyi pernafasan tambahan atau abnormal
untuk memeriksa infeksi salur nafas atas (ISPA).2
Pemeriksaan fisik telinga dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Bagian telinga luar
yaitu daun telinga (pinna) dan tragus diinspeksi untuk melihat tanda radang seperti bengkak atau
kemerahan. Selain itu, lesi-lesi juga dicari jika ada. Pada pasien dengan otitis eksterna, palpasi
pada pinna dan tragus menimbulkan rasa nyeri manakala pada otitis media tidak menimbulkan
nyeri. Jika nyeri tidak ada di bagian telinga luar, kelainan mungkin terjadi pada bagian telinga
tengah yang meliputi liang telinga dan membrane timpani khususnya. Pemeriksaan bagian
telinga tengah memerlukan alat yang disebut otoskop.Ia merupakan alat dengan fungsi
diagnostik dan dan operasi. Dengan menggunakan otoskop, kita dapat melihat bagian telinga
tengah, terutama liang telinga dan membrane timpani yang tidak mungkin bisa dilihat begitu
saja. Pada otoskopi, kita perhatikan permukaan liang telinga sama ada ia menyempit atau tidak
akibat peradangan, jumlah serumen, keutuhan membrane timpani dan reflex cahaya dari
membrane timpani.Pemeriksaan ini agak sedikit invasive apa lagi ia dilakukan pada anak yang
sukar memberikan kerjasama ketika pemeriksaan.
Karakteristik penting dari membran timpani termasuk kontur, warna, penembusan,
perubahan struktural, jika ada, dan mobilitas.Biasanya kontur membran sedikit cekung; kelainan
terdiri dari kepenuhan atau bengkak, atau sebaliknya, retraksi ekstrim.Warna normal membran
timpani adalah mutiara abu-abu. Eritema mungkin merupakan tanda dari peradangan atau
infeksi.3

Page | 3

Gambar 1. Membran timpani yang tampak pada otoskopi pada pasien OMA1
Pemeriksaan Penunjang
Jika dicurigai infeksi pada telinga, cairan serumen diambil untuk diperiksa
mikroorganisme yang menyebabkan infeksi tersebut. Infeksi telinga tengah biasanya disebabkan
oleh bakteri, virus dan jamur. Timpanocentesis dilakukan untuk mengekstrak cairan serumen
dekat membrane timpani. Jika cairan tersebut berada di belakang membrane timpani, membrane
timpani perlu dilakukan sedikit insisi untuk mengeluarkannya yang disebut miringotomi. Cairan
serumen yang didapatkan tadi dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop dengan pewarnaan
Gram. Kultur bakteri juga dapat dilakukan untuk mengetahui jenis bakteri penyebab infeksi.2

Diagnosis Kerja
Otitis Media Akut (OMA)
Otitis Media Akut adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena
masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah. Otitis media adalah peradangan sebagian
atau seluruh mukosa telinga tengah, tube eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Banyak
ahli membuat pembagian dan klasifikasi otitis media. Secara mudah, otitis media terbagi atas
otitis media supuratif dan otitis media supuratif (=otitis media serosa, otitis media sekretoria,
otitis media musinosa, otitis media efusi/OME).
Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronik, yaitu otitis media supuratif
akut (otitis media akut = OMA) dan otitis media supuratif kronik (OMSK/OMP). Begitu juga
otitis media serosa terbagi menjadi otitis media serosa akut (barotrauma = aerotitis) dan otitis
media serosa kronik. Selain itu terdapat juga otitis media spesifik, seperti otitis media spesifik,
seperti otitis media tuberkulosa atau otitis media sifilitika. Otitis media yang lain ialah otitis
media adhesive.1,2
Page | 4

Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan faring.
Secara fisiologi terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba kedalam telinga tengah oleh
silia mukosa tuba eustachius, enzim dan antibody.
Otitis media akut terjadi karena faktor pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan tuba
eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba eustachius
terganggu, pencegahan invasi kuman kedalam telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman
masuk kedalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Dikatakan juga pencetus terjadinya OMA
ialah infeksi saluran napas atas (ISPA). Pada anak, semakin sering anak terserang infeksi saluran
napas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah
karena tuba eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal
Insiden terjadinya otitis media pada anak yang berumur lebih tua berkurang karena telah
berkembang sempurna dan diameter tuba eustachius meningkat, sehingga jarang terjadi obstruksi
dan disfungsi tuba. Selain itu, sistem pertahanan tubuh anak masih rendah sehingga mudah
terkena ISPA lalu terinfeksi ditelinga tengah. Adenoid merupakan salah satu oragan di
tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh. Pada anak adenoid relative lebih
besar dibandingkan orang dewasa.4
Posisi adenoid yang berdekatan dengan muara tuba eustachius sehingga adenoids yang
besar dapat mengganggu terbukanya tuba eustachius. Selain itu, adenoid dapat terinfeksi akibat
ISPA kemudian menyebar ketelinga tengah melalui tuba eustachus.
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tandatanda yang bersifat cepat dan singkat. Gejala dan tanda klinik local atau sistemik dapat terjadi
secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta
otore apabila telah terjadi perforasi

membrane timpani. Pada pemeriksaan otoskopi juga

dijumpai efusi telinga tengah.terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah
ditandai dengan membengkak pada membrane timpani atau bulging, mobilitas yang terlihat pada
membrane timpani terdapat cairan dibelakang membrane timpani dan otore.4
Kriteria diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut, yaitu:5
1 Penyakit muncul secara mendadak dan bersifat akut.
2 Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan ditelinga tengah.
Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu diantara tanda berikut: seperti
menggelembungnya membrane timpani atau bulging, terbatas atau tidak ada gerakan
Page | 5

pada membrane timpani, terdapat bayangan cairan dibelakang membrane timpani dan
terdapat cairan yang keluar dari telinga.
3 Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya
salah satu diantara tanda berikut: seperti kemerahan atau erytema pada membrane
timpani, nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.
Keparahan OMA dibagi atas dua kategori: yaitu ringan-sedang dan berat. Criteria diagnosis
ringan-sedang adalah terdapat cairan di telinga tengah, mobilitass membrane timpani yang
menurun, terdapat bayangan cairan dibelakang membrane timpani, membengkak pada membrane
timpani, dan otore yang purulen. Selain itu, juga terdapat tanda dan gejala inflamasi pada telinga
tengah, seperti demam, otalgia, gangguan pendengaran, tinnitus, vertigo dan kemerahan pada
membra timpani. Tahap berat meliputi semua criteria tersebut dengan tambahan ditandai dengan
demam melebihi 390c, dan disertai dengan otalgia yang bersifat sedang sampai berat.5
Epidemiologi
Sekita 70% anak di bawah 3 tahun mengalami minimal satu kali episode otitis media (OM)
dilaporkan bahwa kasus OM lebih banyak ditemukan pada neonates hingga anak usia 7 tahun
dengan puncak insiden pada usia 2 tahun.1
Etiologi
1

Disfungsi atau sumbatan tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media
yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu,

sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga akan terganggu
ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), inflamasi jaringan di sekitarnya (misal : sinusitis,
hipertrofi adenoid), atau reaksi alergi (misalkan rhinitis alergika). Pada anak-anak, makin
sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut (OMA).
Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak

horisontal.
Bakteri
Bakteri yang umum ditemukan sebagai mikroorganisme penyebab adalah Streptococcus
peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis, dan bakteri piogenik lain,
seperti Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Pneumococcus
vulgaris.6

Page | 6

Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan faring.
Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah
oleh silia mukosa tuba eustachius, enzim dan antibody.
Otitis media akut (OMA) terjadi karena factor pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan
tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba
eustachius terganggu, pencegahan infasi kuman ke dalam telinga tengah juga terganggu,
sehingga kuman masuk kedalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Dikatakan juga, bahwa
pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran napas atas.
Pada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran napas, makin besar kemungkinan
terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba eustachiusnya pendek,
lebar dan letaknya agak horizontal.6
Patofisiologi
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas (ISPA) yang disebabkan
oleh bakteri, kemudian menyebar ke telinga tengah melewati tuba eustachius. Ketika bakteri
memasuki tuba eustachius maka dapat menyebabkan infeksi dan terjadi pembengkakan,
peradangan pada saluran tersebut. Proses peradangan yang terjadi pada tuba eustachius
menyebabkan stimulasi kelenjar minyak untuk menghasilkan sekret yang terkumpul di belakang
membran timpani. Jika sekret bertambah banyak maka akan menyumbat saluran eustachius,
sehingga pendengaran dapat terganggu karena membran timpani dan tulang osikel (maleus,
incus, stapes) yang menghubungkan telinga bagian dalam tidak dapat bergerak bebas. Selain
mengalami gangguan pendengaran, klien juga akan mengalami nyeri pada telinga.
Otitis media akut (OMA) yang berlangsung selama lebih dari dua bulan dapat
berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila faktor higiene kurang diperhatikan,
terapi yang terlambat, pengobatan tidak adekuat, dan adanya daya tahan tubuh yang kurang baik.

Gejala Klinis
Otitis media akut dalam perjalanan penyakit dibagi menjadi lima stadium, bergantung
pada perubahan pada mukosa telinga tengah yaitu stadium oklusi tuba eustachius, stadium
hiperemis atau stadium pre-supurasi, stadium supurasi, stadium perforasi dan stadium resolusi.2,6
Page | 7

Stadium Oklusi Tuba Eustachius: Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah gambaran
retraksi membrane timpani akibat terjadinya tekanan negative didalam telinga tengah, akibat
absorbs udara. Kadang-kadang membrane timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau
berwarna kerut pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini
sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.

Stadium Hiperemis: Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di
membrane timpani atau seluruh membrane timpani tampak hiperemis serta edem. Secret
yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.

Stadium Supurasi atau Stadium Pre-supurasi: Edema yang terlihat pada mukosa telinga
tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, sehingga terbentuknya eksudat yang purulent di
kavum timpani, menyebabkan membrane timpani menonjol (bulging) kearah liang telinga
luar. Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri
ditelinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di cavum timpani tidak berkurang, maka
terjadi iskemia, akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada venavena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membrane timpani
terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Ditempat ini akan
terjadi rupture. Bila tidak dilakukan insisi membrane timpani (miringotomi) pada stadium ini,
maka kemungkinan besar membrane timpani akan rupture dan nanah keluar dari liang telinga
luar. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila
terjadi rupture, maka lubang tempat rupture (perforasi) tidak mungkin menutup kembali.

Stadium Perforasi: Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau
virulensi kuman yang tinggi, maka akan terjadi rupture membrane timpani dan nanah keluar
mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang
menjadi tenang, suhu badab turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut
dengan otitis media akut stadium perforasi.

Stadium Resolusi: Bila membrane timpani tetap utuh, maka keadaan membrane timpani
perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka secret akan
berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah,
maka resolusi dapat terjadi walaupun tanda pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila
perforasi menetap dengan secret yang keluar terus menerus atau hiang timbul. OMA dapat

Page | 8

menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa bila secret menetap di cavum
timpani tanpa terjadinya perforasi.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari OMA tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien.6
a

Stadium Hiperemi: Nyeri dan rasa penuh dalam telinga karena tertupnya tuba eustachius

yang mengalami hiperemi dan edema, demam, dan pendengaran biasanya masih normal
Stadium Oklusi: Nyeri dan demam bertambah hebat. Pada anak : panas tinggi disertai

muntah, kejang, dan meningismus, dan pendengaran mulai berkurang


Stadium Supurasi: Keluar sekret dari telinga, nyeri berkurang karena terbentuk drainase
akibat membran timpani ruptur, dan demam berkurang. Gangguan pendengaran

d
e

bertambah karena terjadi gangguan mekanisme konduksi udara dalam telinga tengah
Stadium Koalesen:Nyeri tekan pada daerah mastoid, dan terasa berat pada malam hari
Stadium Resolusi: Pendengaran membaik atau kembali normal.

Penatalaksanaan
Pengobatan
Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya7
a

Pada stadium oklusi pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba
eustachius, sehingga tekanan negative di telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat
tetes hidung. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik (anak<12 tahun) atau HCl efedrin
1% dalam larutan fisiologik untuk yang berumur di atas 12 tahun dan pada orang dewasa.
Selain itu sumber infeki harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit

adalah kuman, bukan oleh virus atau alergi.


Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika.
Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin intramuscular agar didapatkan
konsentrasi yang adekuat di dalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis yang
terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan kekambuhan. Pemberian
antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka
akan diberikan eritromisin. Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/kg
BB per hari, dibagi dalam 4 dosis, atau amoksisilin 40 mg/kg BB/hari dibagi dalam 3
dosis, atau eritromisin 40 mg/kg BB/hari.

Page | 9

Pada stadium supurasi selain diberikan antibiotika , idealnya harus disertai dengan
miringotomi, bila membrane timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala

klinis lebih cepat hilang dan rupture dapat dihindari.


Pada stadium perforasi sering terlihat secret banyak keluar dan kadang terlihat secret
keluar secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga
H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya secret akan hilang dan

perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.


Pada stadium resolusi, maka membrane timpani berangsur normal kembali, secret tidak
ada lagi dan perforasi membrane timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya
akan tampak secret mengalir diliang telinga luar melalui perforasi dimembran timpani.
Keadaan ini dapat disebabkan karena berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada
keadaan demikian dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan
secret masih tetap banyak, kemungkinan telah terjadi mastoiditis.
Bila OMA berlanjut dengan keluarnya secret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu,

maka keadaan ini disebut otitis media supuratif sub akut. Bila perforasi menetap dan secret tetap
keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut otitis media
supuratif kronik (OMSK). Pada pengobatan OMA terdapat beberapa factor risiko yang dapat
menyebabkan kegagalan terapi. Risiko tersebut digolongkan menjadi risiko tinggi kegagalan
terapi dan risiko rendah.2,7
Pembedahan
Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani OMA rekuren, seperti
miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesis, dan adenoidektomi.
1

Miringotomi: ilah tindakan insisi pada pars tensa membrane timpani, supaya terjadi
drainase secret dari telinga tengah ke liang telinga luar. Syaratnya adalah harus dilakukan
secara a-vue (dilihat langsung) anak harus tenang sehingga membrane timpani dapat
dilihat dengan baik. Lokasi mirigotomi ialah di kuadran posterior inferior. Bila terapi
diberikan sudah adekuat, miringotomi tidak perlu dilakukan, kecuali terdapat pus di
telinga tengah. Indikasi miringotomi pada anak dengan OMA adalah nyeri berat, demam,
komplikasi OMA seperti paresis nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem
saraf pusat. Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami
kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotic pada satu episode OMA. Salah satu tindakan
miringotomi atau timpanosintesis dijalankan terhadap anak OMA yang respon kurang
Page | 10

memuaskan terhadap terapi second-line, untuk mengidentifikasi mekroorganisme melalui


kultur.
2

Timpanosintesis: merupakan pungsi pada membrane timpani, dengan analgesia local


supaya mendapatkan secret untuk tujuan pemeriksaan. Indikasi timpanosintesis adalah
terapi antibiotic tidak memuaskan, terdapat komplikasi supuratif, pada bayi baru lahir
atau pasien yang sistem imun tubuh rendah.

Adenoidektomi: efektif dalam menurunkan resiko terjadinya otitis media dengan efusi
dan OMA rekuren. Pada anak yang pernah menjalankan miringotomi dan insersi tuba
timpanosintesis, tapi hasil masih tidak memuaskan. Pada anak kecil dengan OMA
rekuren yang tidak pernah didahului dengan insersi tuba, tidak dianjurkan adenoidektomi,
kecuali terjadi obstruksi jalan napas dan rinosinusitis recuren.7

Pemeriksaan diagnostik6
a. Pemeriksaan audiometri: Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu
audiometri. Alat ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon.
Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik
sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif
derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh.
Manfaat audiometri
1) Untuk kedokteran klinik, khususnya penyakit telinga
2) Untuk kedokteran klinik Kehakiman,tuntutan ganti rugi
3) Untuk kedokteran klinik Pencegahan, deteksi ktulian pada anak-anak
b. Test Rinne: Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara
hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.
c. Test Weber: Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran
tulang antara kedua telinga pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan
garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Menurut
pasien, telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Jika telinga pasien
mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga
tersebut. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar
maka berarti tidak ada lateralisasi.
Page | 11

d. Test Swabach: Tujuan: Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara
pemeriksa (normal) dengan probandus.
Dasar :Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh :
Getaran yang datang melalui udara. Getaran yang datang melalui tengkorak, khususnya
osteo temporale.
Komplikasi
Sebelum adanya antibiotic, OMA dapat menimbulkan komplikasi mulai dari abses
subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Sekaran jenis komplikasi tersebutbiasanya
didapat pada OMA supuratif kronik. Komplikasi OMA dibagi atas komplikasi intratemporal
(perforasi membrane timpani, masstoiditis akut, paresis nervus fasialis, labirinitis, petrositis),
ektratemporal (abses subperiosteal), dan intracranial (abses otak, tromboflebitis).2
Pencegahan
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya OMA pada anak
antara lain: Pencegahan terjadinya ISPA pada bayi dan anak-anak, menganjurkan pemberian ASI
minimal selama enam bulan, meghindarkan pemberian susu botol ketika anak dalam keadaan
berbaring, hindari pajanan terhadap asap rokok.6
Kesimpulan
Otitis media akut merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Beberapa
literature mengatakan bahwa sebeb terjadinya otitis media akut pada anak terutama disebabkan
oleh sumbatan tuba eustachius dan ISPA. Apabilan di dapati anak dengan nyeri telinga atau
riwayat menarik-narik daun telinga pada bayi, keluarnya cairan dari telinga, berkurangnya
pendengaran, demam, sulit makan, mual, dan muntah, serta rewel harus kita curigai kea rah otitis
media akut. Diagnosis dini dan pengobatan yang adekuat dapat menghindari komplikasi dan
prognosisnya baik.

Daftar Pustaka
1

Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita selekta. Edisi IV. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI;2014.h.1015-18.

Page | 12

Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorokan kepala dan leher. Edisi VI. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007.h.65-9.

Bickley LS.Pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan bates.EdisiV.Jakarta: EGC;2012.h.89-90.

Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Edisi III. Jakarta: EGC;2008.h.384.

Arvin BK. Nelson ilmu kesehatan anak. Edisi 15. Jakarta: EGC;2007.h.2208-11.

De Jong S. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2012.h.445.

Hasan R, Alatas H, Latif A, dkk. Ilmu kesehatan Anak. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2005.h.918-20.

Page | 13