Anda di halaman 1dari 13

BENTUK-BENTUK PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :
KELOMPOK 3
1.

UMI KALSUM

2.

BERKAT SASTRA

3.

SITI RAHMAH

4.

NURLINA

5.

FRISLIYANTI

6.

NATALIA SIREGAR

7.

SAFRI SIHOMBING

8.

RAHMAD JAYA LAIA

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
2015

Bentuk-bentuk Pencegahan Osteoporosis


a. Pencegahan Primer
Dilaksanakan

bila

belum

ditemukan

adanya

tanda-tanda

Osteoporosis dengan menghindari faktor resiko, seperti :


1. Diet yang mengandung cukup kalsium (300 mg/hari)
Kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang, karena itu
kebutuhan akan kalsium harus dipenuhi. Sumber kalsium yang
terbaik adalah makanan, tetapi bila tidak mencukupi maka
diperlukan tambahan kalsium dari suplemen kalsium. Kalsium
dapat ditemukan antara lain dalam sereal, kerang, ikan teri, ikan
sardin dan susu, yoghurt, sitrun, keju, buah, dan sayuran.
Jenis buah dan sayuran yang berperan dalam pencegahan
Osteoporosis, seperti sawi hijau, kangkung, daun hijau, selada,
papaya, jagung, mangga, mentimun, alpukat, pisang, jeruk, anggur,
apel, dan cabai (Wirakusumah, 2007).
2. Mengkonsumsi makanan yang lebih bervariasi
Karena makanan yang tidak bervariasi

membuat

penyerapan kalsium semakin berkurang. Wanita-wanita tertentu


hanya dapat menyerap sekitar 15 persen saja dari makanan mereka,
sementara yang lain mampu menyerap tiga kali lebih banyak, kata
Robert

Harey

MD,

Dewan

Penasehat

Ilmiah

mengenai

Osteoporosis di kantor pengkajian Teknologi Amerika. Tetapi


penyebab

lain

adalah

cara

memasak

makanan-makanan

mengkhilangan mineral penting tersebut, atau tidak dapat diserap


tubuh dengan baik.
3. Mengkonsultasikan ke dokter tentang kemungkinan perlunya
mengkonsumsi metabolit aktif vitamin D3, terapi pengganti
hormon Estrogen, dan penggunaan segala obat dalam waktu lama
Suplemen vitamin D dan kalsium melalui makanan
mengurangi
merupakan

perkembangan
komponen

Osteoporosis

esensial

dalam

pada

lansia

pencegahan.

dan
Terapi

penggantian estrogen-progesteron atau modulator reseptor estrogen

adalah riwayat kanker payudara pada individu (personal) atau


keluarga riwayat individu (personal) mengalami pembentukan
bekuan darah (Corwin, 2009).
4. Berhenti merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol dan steroid.
Karena hal tersebut merupakan faktor yang dapat menghambat
penyerapan kalsium atau mengganggu pembentukan tulang
(Corwin, 2009).
5. Olahraga rutin
Hidup aktif dan latihan jasmani atau fisik (olahraga) secara
rutin dengan unsur perbenaan pada anggota gerak tubuh
(kaki,lutut) dan penekanan pada tulang, misalnya jalan sehat,
aerobik, jogging, renang, bersepeda dan senam pencegahan
Osteoporosis.

Program

latihan

juga

sebaiknya

dimonitor

berdasarkan panduan dari dokter. Para peneliti meyakini bahwa


tiga jenis latihan yang terbaik bagi tulang adalah menanggung
beban, memberi pukulan,dan melatih tekanan. Untuk mereka yang
mengalami kesulitan dalam berolahraga, misalnya karena arthritis,
dapat memilih olahraga yang lebih ringan, seperti berenang,dan
jalan kaki.
Olahraga menahan beban, bahkan pada usia yang sangat tua
(>85 tahun), terbukti meningkatkan densitas dan massa otot, dan
memperbaiki daya tahan fisik dan keseimbangan (Corwin, 2009).
Program latihan seperti Tai Chi juga terbukti berguna
sebagai pencegahan terapi osteoporosis (Ming Chan,et all, 2003).
Dosis olahraga harus tepat karena terlalu ringan kurang
bermanfaat,

sedangkan

terlalu

berat

pada

wanita

dapat

menimbulkan gannguan pola haid yang justru akan menurunkan


densitas tulang. Jadi olahraga sebagai bagian dari pola hidup sehat
dapat

menghambat

kehilang

mineral

tulang,

membantu

mempertahankan postur tubuh, dan meningkatkan kebugaran


secara umum untuk mengurangi risiko jatuh (Kawiyana, 2009).

b. Pencegahan Sekunder
Jika telah dinyatakan mengalami atau adanya tanda-tanda terkena
Osteoporosis, maka perlu berkonsultasi dengan dokter tentang:
1. Mengkonsumsi kalsium 500-1200 mg/hari, tergantung usia
Mengkonsumsi kalsium dilanjutkan pada periode
menopause.

Suplemen

Kalsium

melalui

makanan

dapat

mengurangi perkembangan Osteoporosis pada lansia dan periode


menopause (Corwin, 2009)
2. Terapi Sulih Hormon (TSH)
Setiap perempuan pada saat menopause mempunyai resiko
Osteoporosis. Salah satunya yang dianjurkan adalah memakai ERT
(Esterogen Replacement Therapy) pada mereka yang tak
mengalami kontraindikasi. ERT menurunkan resiko fraktur sampai
50 persen pada tulang panggul.
3. Estrogen, dengan atau tanpa kombinasi progesteron pada wanita
menopause
4. Latihan fisik yang bersifat spesifik dan individual
Prinsipnya
sama
dengan
latihan

beban

dan

peregangan (stretching) pada aksis tulang. Latihan tak dapat


dilakukan secara massal karena perlu mendapat supervise dari
tenaga medis.
5. Kalsitonin
Kalsitonin adalah hormon yang dikenal untuk berpartisipasi
dalam metabolisme kalsium dan fosfor. Bekerja menghambat
resorpsi tulang dan dapat meningkatkan massa tulang apabila
dihunakan selama dua tahun.
6. Perbanyak mengkonsumsi vitamin D3, tergantung kebutuhan
pasien
Vitamin D membantu tubuh menyerap dan memanfaatkan
kalsium. Sekitar 25 hidroksi vitamin D dianjurkan diminum setiap
hari pagi hari bagi pasien yang menggunakan suplemen kalsium.

Suplemen vitamin D melalui makanan mengurangi perkembangan


Osteoporosis (Corwin, 2009).
7. Bifosfonat
Obat golongan bifosfonat bekerja dengan cara menghambat
kerja sel penghancur tulang secara berlebihan.. Obat-obatan yang
dikenal sebagai bisfosfonat (misalnya alendrodat, risedronat, dan
ibandronat) terbukti mengurangi resorpsi tulang dan mencegah
pengeroposan tulang. Obat-obatan ini, dalam kombinasi dengan
suplemen vitamin D dan kalsium, digunakan untuk terapi dan
pencegahan

osteoporosis.

Bisfosfonat

secara

signifikan

meningkatkan densitas tulang terutama pada panggul dan spina,


dan

dapat

digunakan

pada

osteoporosis

akibat

obat

(glukokortikoid) (Corwin, 2009).


Bisfosfonat

juga

digunakan

sebagai

adjuvans

kemoterapeutik pada terapi kanker karena potensinya untuk


mencegah metasis tulang. Bisfosfonat tidak mudah diabsorbsi oleh
tubuh sehingga harus digunakan pada lambung yang kosong
dengan segelas penuh air. Pasien harus tetap tegak lurus dan
menahan diri dari makan selama periode tertentu setelah itu, untuk
memastikan absorbs dan mencegah efek samping gastrointestinal.
Oleh karena itu, kepatuha untuk menggunakan bisfosfonat sering
menjadi masalah. Baru-baru ini, sediaan oral satu kali per bulan
yang dapat memperbaiki kepatuhan telah disetujui oleh FDA.
Selain itu, percobaan klinis yang meneliti keefektifan ibandronat
intravena yang diberikan satu kali setiap tiga bulan sedang
dilakukan. Kebutuhan untuk dirawat di rumah sakit dapat
mengurangi popularitas pilihan ini. Keamanan jangka panjang
sediaan tersebut tidak diketahui (Corwin, 2009).
Alendronat (Fosamax 10 mg PO sekali sehari), yaitu suatu
bisfosfonat, terbukti efektif untuk mencegah dan mengobati
osteoporosis (Graber, 2006).

8. Raloxifene
Pengguna raloxifene yang ideal adalah wanita-wanita
dengan risiko osteoporosis dan penyakit jantung yang tidak
menjalani TSH (Terapi Sulih Hormon). Atau bisa juga wanita
pascamenopause yang memiliki risiko osteoporosis dan risiko
tinggi kanker payudara (Rosenthal, 2009).
c. Pencegahan Tersier
Setelah pasien mengalami komplikasi Osteoporosis seperti, fraktur
patah tulang), jangan dibiarkan melakukan gerak (mobilisasi) terlalu lama.
Sejak awal perawatan, disusun rencana mobilisasi, mulai mobilisasi pasif
sangat aktif dan berfungsi mandiri. Dokter akan memberikan obat, terapi
latihan maupun alat ortose sesuai dengan kondisi. Beberapa obat yang
bermanfaat adalah bishosponate,kalsitonin aatau NSAID bila nyeri.
Pencegahan tersier dilakukan setelah sistem ditangani dengan
strategi-strategi pencegahan sekunder. Pencegahan tersier difokuskan pada
perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien secara optimal. Tujuan
utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk
mencegah

reaksi

timbul

kembali

atau

regresi,

sehingga

dapat

mempertahankan energi. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali


pada pencegahan primer.
Hal-hal yang dapat dilakukan bila sudah terjadi patah tulang akibat
osteoporosis :
1. Operasi
2. Pemasangan gips
3. Penggunaan korset/brace
4. Penggunaan tongkat/kursi roda
5. Program rehabilitasi medis
Pencegahan Rehabilitasi yang dapat diaplikasikan yaitu adalah desain ruangan
khusus lansia dengan osteoporosis untuk mencegah terjadinya cedera ataupun
fraktur. Contoh desainnya adalah sebagai berikut :

1. Rancang ruangan harus mempertimbangkan resiko terpeleset dan


tersandung yang mungkin dialami lansia; seperti penggunaan material,
finishing, dan covering yang tidak menimbulkan resiko terpeleset.
Perhatian pada pertemuan antara dua permukaan lantai yang berbeda untuk
menghindari resiko terpeleset atau tersandung.
2. Penggunaan pegangan tangan di kedua sisi koridor terutama di toilet dan
kamar mandi. Pegangan tangan tidak memiliki sudut yang tajam sehingga
dapat menyangkut pakaian maupun melukai tangan lansia.

3. Memperhatikan Material yang digunakan :

Lantai tidak boleh licin atau lebih baik kalau seluruhnya tertutup
karpet atau sudut yang gelap dan berbahaya diberi penerangan
setiap sudut untuk mengurangi resiko jatuh dan terpeleset.

Perlu perhatian penggunaan material dari kuningan, marmer licin,


cermin dan permukaan lainnya yang berkilau dan bercahaya; dapat
memantulkan cahaya sehingga membingungkan lansia dan dapat
menyebabkan jatuh. Cahaya yang menyilaukan atau refleksi dari
suatu permukaan dikurangi sehingga detail pada cahaya yang tidak
terlalu menusuk indera penglihatan lansia.

Hindari peralatan yang memiliki sudut yang dapat melukai


penghuni.

4. Untuk area tidak aman, gunakan penghalang seperti pagar dan gerbang
sehingga meningkatkan keamanan dan keselamatan lansia. Hindari jalan

terutama jalan taman yang tergenang air atau tanaman dan semak yang
menghasilkan buah karena beresiko terpeleset.
5. Ergonomis

Perhatian pada rancangan tempat duduk dan sarana lainnya,


meliputi sudut, tinggi, stabilitas yang disesuaikan dengan kondisi
lansia agar nyaman digunakan oleh lansia. Pintu dan jendela harus
mudah dibuka oleh lansia. Rak harus mudah dijangkau lansia.
Perabotan kecil dapat dengan aman dipindahkan oleh lansia.

Jendela dapat dibuka dengan mudah dan memiliki kawat kassa


untuk menangkal masuknya serangga. Jendela dirancang agar
penghuni tidak dapat jatuh keluar jendela yang terbuka atau tidak
dapat menjadi jalan masuk bagi tamu tak diundang.

Pegangan pintu harus mudah digunakan oleh lansia dan tenaga


kerja lainnya. Hindari penutup otomatis pintu karena dapat melukai
lansia. Pintu geser di rancang tidak dapat menjepit jari jika dibuka
atau ditutup. Sebaiknya arah pintu bila di buka tidak mengarah ke
area sirkulasi karena dapat tidak sengaja melukai orang yang
kebetulan melewati area sirkulasi tersebut.
rancangan jendela dengan mempertimbangkan kemampuan lansia
untuk mengatur pencahayaan dan angin yang masuk secara
mandiri; jendela juga berada di posisi yang kondusif bagi lansia
yang menggunakan kursi roda untuk melihat pemandangan di luar.
Lemari dan tempat penyimpanan lainnya yang mudah dijangkau
lansia dengan kursi roda.
Kamar tidur harus cukup luas agar tempat tidur dapat dipindahkan
atau digeser menggunakan tempet tidur beroda dengan mudah; dan
cukup luas untuk menambah sarana-prasarana lain yang
dibutuhkan sesuai kondisi fisik lansia serta menggunakan gorden
pada kamar berbagi untuk menjaga privasi lansia.

Space untuk mobilisasi lansia yang menggunakan kursi roda. Lebar


koridor cukup untuk lalu-lalang penghuni di tempat tidur beroda,
kereta dorong, kursi roda dan sarana mobilitas lainnya dengan di
dampingi tenaga kerja. Keleluasaan untuk bergerak di dalam
ruangan seperti di sekitar meja dan kursi.

Mempertimbangkan tipe meja yang digunakan; seperti untuk


mengakomodasi lansia yang menggunakan kursi roda lebih baik
menggunakan meja dengan satu tiang penyanggah daripada
menggunakan meja dengan empat kaki, namun meja jenis ini
kurang aman untuk bersandar dengan tangan.

Pemilihan karpet di ruang tamu dan kamar tidur atau ruangan


lainnya sebaiknya mudah dibersihkan dan mudah dilalui oleh
lansia yang menggunakan kursi roda atau tongkat.

6. Tersedia Sistem panggilan darurat diletakkan pada area yang mudah


dijangkau oleh lansia (terutama di daerah kamar mandi dan toilet) dengan
mempertimbangkan resiko jatuh, kecelakaan dan pertolongan darurat.
Namun, tombol panggilan tidak dipasang di dekat pegangan tangan di
dinding karena memungkinkan pemanggilan tenaga kerja secara tidak
sengaja.
7. Instalasi listrik: Pertimbangkan keamanan instalasi listrik dari sambaran
petir dan kebutuhan genset di panti jompo. Kabel listrik tidak dipasang
melintang di lantai, jalur mobilitas, dan jalan setapak karena dapat
mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.
8. Letak dan Desain Kamar Mandi :

Kamar mandi sebaiknya diposisikan di dekatatau bahkan


menyatudengan kamar tidur dan ruang keluarga. Pasalnya,
Kebanyakan waktu lansia dihabiskan di kedua ruang tersebut. Hal
ini tentu akan mempermudah para lansia mengakses kamar mandi
tanpa perlu bersusah payah.

Kamar mandi sebaiknya didesain luas atau tidak terlalu sempit,


sehingga memudahkan mobilitas lansia di kamar mandi.

Utamakan memilih furnitur yang tidak licin. Membersihkan


furnitur kamar mandi secara rutin juga bisa menghindarkan
munculnya jamur yang dapat membuat permukaan furnitur
menjadi licin.

Alas kamar mandi juga harus diperhatikan. Jika perlu, tambahkan


karpet atau matt sebagai alas lantai kamar mandi agar tidak licin.
Penggunaan karet yang dapat menyerap air juga bisa dijadikan
alternatif alas kamar mandi.

Selain alas, furnitur penting lain yang wajib ada di kamar mandi
lansia adalah handel atau pegangan tangan. Letakkan handel besi di
sekitar toilet, area mandi, dan pintu kamar mandi. Handel itu akan
memudahkan lansia untuk berdiri dan berjalan.

Sebaiknya, gunakan WC duduk, karena akan mempermudahkan


lansia untuk berdiri setelah buang hajat. Selain itu, letakkan juga
kursi plastik yang bermanfaat bagi lansia di kamar mandi.

Bagi lansia, sebaiknya mandi menggunakan pancuran


atau shower ketimbang bak mandi. Gunakan sistem air otomatis
seperti selang atau pancuran, baik untuk membersihkan diri setelah
buang air maupun saat mandi. Dengan demikian, lansia tidak perlu
bersusah payah mengangkat gayung, yang dapat mengakibatkan
otot terkilir.

Biasanya para lansia lebih mudah gerah. Jadi sebaiknya pilih


pencahayaan atau lampu dengan watt rendah, sehingga radiasi
panas dapat diminimalkan. Selain itu, memanfaatkan cahaya
matahari sebagai pencahayaan alam di siang hari juga bisa
membantu. Selain sinarnya yang lebih hangat (bukan panas),
nuansa yang dihasilkan juga lebih menyenangkan.

Daftar Pustaka
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta: EGC
http://books.google.co.id/books?id=0bMJ2p9GdAC&pg=PA343&dq=pencegahan+osteoporosis&hl=id&sa=X&e
i=BMyoUJazItGGrAeploH4Bg&ved=0CDcQ6AEwBQ#v=onepage&q=p
encegahan%20osteoporosis&f=false
Graber, Mark, et all. 2006. Buku Saku Dokter Keluarga University of
Iowa. Jakarta: EGC

http://books.google.co.id/books?id=7v1_9WFTCgC&pg=PA340&dq=pencegahan+osteoporosis&hl=id&sa=X&
ei=BMyoUJazItGGrAeploH4Bg&ved=0CDQQ6AEwBA#v=onepage
&q=pencegahan%20osteoporosis&f=false

Rosenthal, M. Sara, Ph.D. 2009. Pedoman untuk Wanita Revolusi Terapi


Hormon. Yogyakarta: Bentang Pustaka
http://books.google.co.id/books?
id=bTI0DRBZKMQC&pg=PA202&lpg=PA202&dq=raloxifene+adalah&s
ource=bl&ots=SUDrnpUtPx&sig=bmeYtXWx7kFcze_AyDCv2YGsf6I&h
l=id&sa=X&ei=orCsUM2MAcWdmQXLuoHYDw&ved=0CDsQ6AEwB
A#v=onepage&q=raloxifene%20adalah&f=false
Wirakusumah, E. 2007. Mencegah Osteoporosis. Yogyakarta: Niaga
Swadaya
http://books.google.co.id/books?id=0bMJ2p9GdAC&pg=PA343&dq=pencegahan+osteoporosis&hl=id&sa=X&e
i=BMyoUJazItGGrAeploH4Bg&ved=0CDcQ6AEwBQ#v=onepage&q=p
encegahan%20osteoporosis&f=false
I Ketut Siki Kawiyana. 2009. Osteoporosis Patogenesis Diagnosis dan
Penaganan Terkini. J Peny Dalam Volume 10 No. 2 Hal. 167
Kai Ming Chan, Mary Anderson, Edith M.C Lau. 2003. Exercise
interventions: Defusing The Worlds Osteoporosis Time Bomb. Bulletin of
the World Health Organization, 81 (11) p. 827