Anda di halaman 1dari 5

I.

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mengetahui cara kerja pengelasan dengan menggunakan las listrik.
2. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengelasan dengan las listrik.

II.

DASAR TEORI
Las busur listrik adalah salah satu cara menyambung logam dengan jalan menggunakan
nyala busur listrik yang diarahkan ke permukaan logam yang akan disambung. Pada bagian
yang terkena busur listrik tersebut akan mencair, demikian juga elektroda yang menghasilkan
busur listrik akan mencair pada ujungnya dan merambat terus sampai habis. Logam cair dari
elektroda dan dari sebagian benda yang akan disambung tercampur dan mengisi celah dari
kedua logam yang akan disambung, kemudian membeku dan tersambunglah kedua logam
tersebut.
Busur listrik yang terjadi akan menimbulkan energi panas yang cukup tinggi sehingga
akan mudah mencairkan logam yang terkena. Elektroda atau logam pengisi dipanaskan
sampai mencair dan diendapkan pada sambungan sehingga terjadi sambungan las. Mula-mula
terjadi kontak antara elektroda dan benda kerja sehingga terjadi aliran arus, kemudian dengan
memisahkan penghantar timbullah busur. Energi listrik diubah menjadi energi panas dalam
busur dan dapat mencapai suhu 5500 0C.
Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan
menggunakan energi panas yang menyebabkan logam disekitar lasan mengalami sirkulasi
thermal, sehingga logam disekitar lasan mengalami perubahan metalurgi yang rumit,
deformasi dan tegangan-tegangan thermal. Hal ini erat hubungannya dengan ketangguhan,
cacat las dan retak serta mempunyai pengaruh yang fatal terhadap keamanan dari kontruksi
yang di las.
Adanya energi panas yang diterima oleh logam pada proses pengelasan mengakibatkan
perubahan-perubahan mulai dari struktur mikro sampai dengan ekspansi dan kontruksi secara
mikro. Perubahan struktur mikro ini, akan berpengaruh pada sifat-sifat mekanik logam
tersebut. Sifat-sifat mekanik ini diantaranya adalah kekuatan, keuletan, ketangguhan, dan
kekerasan.
Pada sambungan las, patah-getas menjadi lebih penting karena adanya faktor-faktor
yang mendukungnya, seperti konsentrasi tegangan yang tidak sesuai dan adanya cacat lasan.
Untuk mempertinggi keamanan las terutama pada sambungan las, diperlukan adanya
penilaian kekuatan daerah las.

Untuk menilai kekuatan daerah las, perlu adanya pengujian dengan mempertimbangkan
faktor-faktor dinamisnya yang mempengaruhinya, seperti kecepatan regang, takik, tebal plat,
tegangan sisa, konsentrasi tegangan dan regangan, kesemua ini dapat terlihat apabila
dilakukan pengujian dalam skala besar, baik dalam jumlah maupun dimensi. Akan tetapi
dipandang dari sudut ekonomis, hal ini tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, agar
kekuatan daerah las dapat terukur, dibuatlah pengujian dalam skala kecil yang distandarkan
yaitu pengujian tarik dan pengujian tekuk. Tujuan pengujian ini untuk mengetahui seberapa
besar perubahan kekuatan pada logam akibat proses pengelasan.
Pengelasan merupakan suatu proses pengerjaan logam, pengerjaan logam dapat
mempengaruhi secara mikro maupun makro dari logam tersebut. Artinya bahwa setiap logam
yang mendapat proses pengerjaan logam, dalam hal ini pengelasan, akan mengalami
perubahan.
Perubahan yang terjadi salah satunya adalah perubahan kekuatan dari logam yang
mengalami proses pengerjaan logam. Untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang
terjadi, yaitu membandingkan dengan bahan atau logam sebelum proses pengerjaan logam
(pengelasan).
Mengelas bukan hanya memanaskan dua bagian benda sampai mencair dan membiarkan
membeku kembali, tetapi membuat lasan yang utuh dengan cara memberikan bahan tambah
atau elektroda pada waktu dipanaskan sehingga mempunyai kekuatan seperti yang
dikehendaki. Kekuatan sambungan las dipengaruhi beberapa faktor antara lain: prosedur
pengelasan, bahan, elektroda dan jenis kampuh yang digunakan.

III.

METODOLOGI
3.1. Alat
1. Las listrik yang dilengkapi dengan pemegang elektroda dan klem massa
2. Gergaji besi
3. Palu
4. Alat Pelindung diri
Topeng las
Jas lab
Sarung tangan
3.2. Bahan
1. Besi
2. Elektroda Las
3.3. Prosedur Kerja
3.3.1. Pengelasan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Memotong 6 buah besi yang masing-masing panjangnya 3.4 cm


Posisikan besi dengan rancang bangunnya
Hubungkan alat las dengan listrik
Pasangkan elektroda pada elektroda holder dan kutub negatif pada work plate
Las listrik dinyalakan dengan voltase 50 V
Bagian elektroda diketuk-ketukan pada rancang bangun sampai tercipta percikan
Dekatkan posisi logam induk dan pengisi, las hingga besi induk meleleh
Jika dianggap cukup, hentikan pengelasan.

3.3.2. Pengecekan Setelah Pengelasan


1. Menunggu temperature besi hingga turun
2. Hasil las dipukul dengan palu
3. Hasil las diperhatikan, apakah besi sudah tersambung kuat

IV.

PEMBAHASAN
Las listrik merupakan proses penyambungan logam dengan memanfaatkan tenaga listrik

sebagai sumber panasnya. Las yang digunakan dalam praktikum ini adalah jenis las busur
nyala listrik, yaitu pengelasan dengan cara mengubah arus listrik menjadi panas untuk
melelehkan atau mencairkan permukaan benda kerja dengan membangkitkan busur nyala
listrik melaui sebuah elektroda. Bahan yang digunakan untuk las busur listrik adalah
elektroda. Elektroda akan dialiri oleh arus listrik untuk menghasilkan nyala busur yang akan
melelehkan elektroda sampai habis.
Berikut ini adalah prosedur pengelasan yang dapat menjadi salah satu faktor berhasil
atau tidaknya proses pengelasan:
1. Pembentukan Busur Listrik
Pada pembentukan busur listrik elektroda keluar dari kutub negatif (katoda) dan mengalir
dengan kecepatan tinggi ke kutub positif (anoda). Dari kutub positif mengalir partikel positif
(ion positif) ke kutub negatif. Melalui proses ini ruang udara diantara anoda dan katoda
(benda kerja dan elektroda) dibuat untuk menghantar arus listrik dan dimungkinkan
pembentukan busur listrik. Sebagai arah arus berlaku arah gerakan ion-ion positif. Jika
elektroda misalnya dihubungkan dengan kutub negatif sumber arus searah, maka arah arusnya
dari benda kerja ke elektroda. Setelah arus elektroda didekatkan pada lokasi jalur sambungan
disentuhkan dan diangkat kembali pada jarak yang pendek (garis tengah elektroda). Dengan
penyentuhan singkat elektroda logam pada bagian benda kerja yang akan dilas, berlangsung
hubungan singkat di dalam rangkaian arus pengelasan, suatu arus listrik yang kekuatannya
tinggi mengalir, yang setelah pengangkatan elektroda itu dari benda kerja menembus celah
udara, membentuk busur cahaya di antara elektroda dengan benda kerja dan dengan demikian
tetap mengalir. Suhu busur cahaya yang demikian tinggi akan segera melelehkan ujung
elektroda dan lokasi pengelasan. Di dalam rentetan yang cepat partikel elektroda menetes,
mengisi penuh celah sambungan las dan membentuk kepompong las. Proses pengelasan itu
sendiri terdiri atas hubungan singkat yang terjadi sangat cepat akibat pelelehan elektroda yang
terus menerus menetes.
2. Proses Penyulutan
Setelah arus dijalankan, elekteroda didekatkan pada lokasi jalur sambungan disentuhkan
sebentar dan diangkat kembali pada jarak yang pendek (garis tengah elektroda).

3. Menyalakan Busur Listrik


Penyalaan busur listrik dapat dilakukan dengan menghubungkan singkat ujung
elektroda dengan logam induk (yang akan dilas) dan segera memisahkan lagi pada jarak
yang pendek. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan:
Jika busur nyala terjadi, tahan sehingga jarak ujung elektroda ke logam induk
besarnya sama dengan diameter dari penampang elektroda dan geser posisinya ke sisi
logam induk.
Perbesar jarak tersebut (perpanjang nyala busur) menjadi dua kalinya untuk
memanaskan logam induk. Kalau logam induk telah sebagian mencair, jarak
elektroda dibuat sama dengan garis tengah penampang tadi.
4. Memadamkan Busur Listrik
Cara pemadaman busur listrik mempunyai pengaruh terhadap mutu penyambungan
maniklas. Untuk mendapatkan sambungan maniklas yang baik sebelum elektroda
dijauhkan dari logam induk sebaiknya panjang busur dikurangi lebih dahulu dan baru
kemudian elektroda dijauhkan dengan arah agak miring. Pemadaman busur sebaiknya
tidak dilakukan di tengah-tengah kawah las tetapi agak berputar sedikit
Kekuatan sambungan las dipengaruhi beberapa faktor antara lain: prosedur pengelasan,
bahan, elektroda dan jenis kampuh yang digunakan, kemiringan elektroda.