Anda di halaman 1dari 4

PEMBELAJARAN TEACHER-CENTERED DAN LEARNER-CENTERED

TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA


Oleh
Citra Wahyuni

Dalam konteks pendekatan pembelajaran dikenal dua sisi, guru sebagai


pusat pembelajaran (teacher-centered) dan siswa sebagai pusat pembelajaran
(learner-centered). Keduanya menjadi titik utama dalam suatu proses dan arah
pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam suatu lembaga pendidikan.
Menyikapi dua pendekatan dalam pembelajaran ini terdapat pro dan kontra terkait
manakah yang terbaik bagi pembelajaran.
Proses pembelajaran yang berpusat pada guru telah dikenal sejak lama
sebagai suatu pendekatan yang efektif untuk mempelajari materi secara tuntas dan
tepat waktu. Seiring berkembangnya informasi, teknologi serta kebutuhan peserta
didik, transformasi dalam pendekatan pembelajaran berubah dari pembelajaran
yang berpusat pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa (learnercentered). Kurikulum yang dipakai di Indonesia, yakni kurikulum 2013 juga
menganut pendekatan pembelajaran learner-centered yang diyakini mampu
mengeksplorasi kemampuan siswa dengan lebih optimal.
Kedua pendekatan ini mempunyai keunggulaan dan kelemahan dalam
penerapannya pada proses pembelajaran, termasuk dalam hal memotivasi siswa.
Pembelajaran teacher-centered yang terstruktur dan tidak memperhatikan
perkembangan siswa berimbas pada pemberian motivasi yang hanya dari luar
bukan dari dalam diri siswa. Sedangkan pembelajaran learner-centered yang
melibatkan siswa untuk mengkontrusksi pemahaman, berkolaborasi, dan
menumbuhkan rasa percaya diri dapat memotivasi diri siswa itu sendiri (Santrock,
2004).

Oleh karena itu, pembelajaran learner-centered diyakini sebagai

pendekatan yang lebih baik dan mampu mengatasi masalah dalam belajar yang
cenderung pasif, satu arah, dan dapat memotivasi siswa secara intrinsik.

Research indicates that students who are intrinsically motivated achieve


higher than those who are only extrinsically motivated (Gottfried (dalam Parsons
et al, 2001). Motivasi intrinsik adalah motivasi dari diri sendiri (self-determined)
(Santrock, 2004). Siswa yang memiliki motivasi intrinsik yang kuat dalam belajar
mempunyai ketertarikan dan minat secara personal dalam suatu pelajaran. Siswa
akan menggali ide dan kreativitasnya dengan baik untuk pencapaian tujuannya
karena merasa sesuatu pelajaran atau tugas tersebut menantang. Hal inilah yang
tidak terdapat pada pembelajaran teacher-centered.
Grund et al (2013, p.13) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa motivasi
akademik siswa dipengaruhi dari bagaimana siswa itu terlibat dalam proses
pembelajaran. Pembelajaran learner-centered mempertimbangkan pengaruh sosial
terhadap pembelajaran. Pembelajaran dipengaruhi oleh interaksi sosial, hubungan
interpersonal, dan komunikasi dengan orang lain (Santrock,2004). Siswa terlibat
dalam kegiatan yang dapat mengeksplorasi pendapat dan pemikiran

melalui

kegiatan kelompok sehingga memunculkan iklim positif dalam proses belajar.


Tidak seperti pembelajaran teacher-centered dimana pembuatan peraturan hanya
dibuat oleh guru, pada learner-centered siswa diajak untuk membuat peraturan
dalam kelas. Peraturan tersebut dibuat secara bersama-sama karena peraturan
tersebut yang akan mempengaruhi aktivitas di kelas. Keterlibatan siswa di kelas
tersebutlah yang membuat siswa mempunyai keinginan belajar dari dalam dirinya
karena siswa merasa mempunyai kesempatan untuk aktif dalam pembelajaran (AlZube, 2013, p.5-6).
Unlike in the teacher-centred approach, the students in the
student-centred approach do not have many orders to take from
their instructors since most of the activities are based on what the
students plan themselves (Al-Zube, 2013, p.5-6). Pembelajaran
learner-centered menggiring siswa untuk menetapkan langkahlangkah, strategi, serta pemecahan masalah dalam pencapaian
pembelajaran. Mereka dapat mengatur diri sendiri, mengevaluasi,
dan mencari metode-metode yang dapat membantu mereka dalam
proses pencapaian dalam belajar (Santrock,2004). Markant (2013,1)
dalam penelitiannya menjelaskan bahwa kinerja pembelajaran

dapat ditingkatkan ketika siswa yang merencanakan dan memiih


sendiri bagaimana ia belajar dan memperoleh informasi Kegiatan
tersebut dapat meningkatkan proses kognitif, motivasi, perhatian,
dan keterpaduan dalam belajar.
Beberapa

prinsip

dari

pembelajaran

learner-centered

menyediakan konsep pembelajaran yang interaktif dan melibatkan


siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran
yang

berpusat

pada

kebutuhan

dan

perkembangan

siswa

menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri siswa untuk belajar dan


menggali kreativitas untuk pencapaian akademik. Dari beberapa
pandangan dan hasil penelitian yang telah dijabarkan, disimpulkan
bahwa pembelajaran learner-centered dapat memotivasi siswa
secara intrinsik.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Zube, Ahmad Fayez Mutlaq. (2013). The Difference Between


Learner-Centered Approach And The Teacher-Centered
Approach In Teaching As A Foreign Language. Educational
Research International, 5-6
Grund, Axel. Brassler, Nina K. Fries, Stefan. (2013).Torn Between
Study and Leisu
re: How Motivational Conflicts Relate toStudents Academic
and Social Adaptation. American Psychological Association,
13. doi: 10.1037/a0034400
Markant, Douglas B. & Gureckis, Todd M. (2013). Is It Better to
Select or to Recei
ve? Learning via Active and Passive Hypothesis Testing.
American Psychological Association, 1. doi:
10.1037/a0032108
Parsons, Richard D. Hinson, Stephanie Lewis. Sardo-Brown, Deborah. (2001).
Canada: Wardsworth
Santrock, John W. (2004). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana