Anda di halaman 1dari 36

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
BPH (Benigna Prostat Hyperplasi) adalah pembesaran progresif dari
kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan
urine

(uretra)

(Rendy

dan

Margareth,

2012).

Hyperplasia

prostat

menyebabkan penyempitan lumen uretra. Salah satu upaya yang dapat


dilakukan untuk mengatasi penyempitan lumen adalah terapi pembedahan.
Hampir semua pembedahan mengakibatkan nyeri. Nyeri yang paling lazim
adalah nyeri insisi. Nyeri terjadi akibat luka, penarikan dan manipulasi
jaringan serta organ (Baradero, Dayrit dan Siswadi, 2005). Dalam
pelaksanaan nyeri biasanya digunakan manajemen secara farmakologi baik
analgetika narkotika atau non-narkotika. Tindakan paliatif harus didahulukan
sebelum penggunaan obat-obatan, misalnya dengan mengatur posisi yang
tepat, masase atau kompres hangat. Berdasarkan wawancara pada tanggal 18
Juni 2013 di Ruang Bougenvile RSUD Nganjuk terdapat 5 pasien dengan
penyakit BPH. Dari wawancara memperoleh data bahwa 4 dari 5 orang
mengatakan nyeri setelah dioperasi.
Angka kejadian penderita BPH sangat tinggi pada pria berusia diatas 50
tahun angka kejadianya sekitar 50%, usia 80 tahun sekitar 80% dan usia 90
tahun 100 (Arif Mansjoer, 2008). Di Indonesia BPH merupakan urutan kedua
setelah batu saluran kemih dan diperkirakan ditemukan pada 50% pria berusia
diatas 50 tahun dengan angka harapan hidup rata - rata di Indonesia yang
1

sudah mencapai 65 tahun dan diperkirakan bahwa lebih kurang 5% pria


Indonesia sudah berumur 60 tahun atau lebih. Kalau dihitung dari seluruh
penduduk Indonesia yang berjumlah 200 juta lebih, kira-kira 100 juta terdiri
dari pria, dan yang berumur 60 tahun atau lebih kira-kira 5 juta, sehingga
diperkirakan ada 2,5 juta laki-laki Indonesia yang menderita BPH (Tamalia,
2012). Dan berdasarkan data hasil rekam medik yang didapat dari RSUD
Nganjuk pada tahun 2011 jumlah penderita BPH sebanyak 37 orang, pada
tahun 2012 jumlah penderita BPH sebanyak 17 orang, dan pada tahun 2013
jumlah penderita BPH sebanyak 48 orang
Menurut Padila (2012), Penyebab yang pasti dari terjadinya Benigna
Prostat Hyperplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, namun
yang pasti kelenjar prostat sangat bergantung pada hormon androgen factor
lain yang erat kaitanya dengan BPH adalah proses penuaan, ada beberapa
factor kemungkinan penyebab antara lain : Dihydrostestosteron, Perubahan
keseimbangan hormon estrogen testoteron, Interaksi stroma epitel,
Berkurangnya sel yang mati, Teori sel stem. Sejalan dengan pertambahan
umur, kelenjar prostad akan mengalami hyperplasia. Jika prostad membesar,
maka akan meluas keatas (kandung kemih) sehingga pada bagian dalam akan
mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine. Keadaan
ini dapat meningkatkan tekanan intravesical. Sebagai kompensasi terhadap
tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dan kandung kemih berkontraksi
lebih kuat agar mempompa urin keluar. Kontraksi yang terus-menerus
menyebabkan perubahan anatomi dari kandung kemih berupa; hipertropi otot

detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sekula, dan devirtikel kandung


kemih. Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian bulibuli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara
ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau
terjadi refluks vesiko-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke
dalam gagal ginjal. Jika hal ini tidak segera diatasi, maka akan memunculkan
masalah keperawatan nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan
insisi sekunder pada TUR-P; Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
prosedur invasive: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih
sering; resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan
pembedahan; resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan
akan impoten akibat dari TUR-P; kurang pengetahuan: tentang TUR-P
berhungan dengan kurang informasi; gangguan pola tidur berhubungan
dengan nyeri sebagai efek pembedahan.
Hampir semua pembedahan mengakibatkan rasa nyeri, sehingga
intervensi yang dapat diberikan adalah menjelaskan pada klien tentang gejala
dini spasmus kandung kemih; memantau klien pada interval yang teratur
selama 48 jam untuk mengetahui gejala-gejala dini dari spasmus kandung
kemih; menjelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan
berkurang dalam 24 sampai 48 jam; memberi penyuluhan pada klien agar
tidak berkemih ke seputar kateter; menganjurkan pada klien untuk tidak
duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P; mengajarkan

penggunakan tindakan relaksasi, termasuk latian nafas dalam, visualisasi;


jagalah selang drainase urin tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan
tekanan pada kandung kemih; mengobservasi tanda-tanda vital; melakukan
kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat-obatan (analgesik atau
antispasmodik) (Padila, 2012).
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan Keperawatan pada Tn. X usia 50
tahun dengan nyeri akut pada BPH di ruang Bougenvil RSUD Nganjuk
2.

secara komprehensif dengan pendekatan proses keperawatan.


Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien post op BPH di Ruang
b.

Bougenvile RSUD Nganjuk.


Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien post op BPH

c.

di Ruang Bougenviel RSUD Nganjuk.


Mampu menyusun perencanaan keperawatan pada klien post op BPH

d.

di Ruang Bougenvile RSUD Nganjuk.


Mampu melakukan pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien post

e.

op BPH di Ruang Bougenvile RSUD Nganjuk.


Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada klien post op BPH di
Ruang Bougenvile RSUD Nganjuk.

C. Metode dan Teknik Pengumpulan Data


Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan
asuhan keperawatan pada pasien BPH nyeri akut sebagai berikut
1. Wawancara
Instrumen pertama yang juga berfungsi untuk pengambilan data di
lapangan adalah menggunakan teknik wawancara. Pada teknik ini peneliti

dating berhadapan secara langsung dengan responden atau subjek yang di


teliti (Zaenal Arifin, 2009)
2. Observasi
Observasi adalah instrumen lain yang sering dijumpai dalam
penelitian pendidikan. Dalam penelitian kuantitatif , instrument observasi
lebih sering di gunakan sebagai alat pelengkap instrumen lain, termasuk
kuesioner dan wawancara. (Zaenal arifin, 2009)
3. Pemeriksaan fisik
Pengkajian keperawatan pada tubuh klien dipergunakan untuk
memperoleh data obyektif dari klien (Nursalam, 2009).
4. Pemeriksaan Diagnostik
Hasil-hasil pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostik, dapat
digunakan perawat sebagai data obyektif yang dapat disesuaikan dengan
masalah kesehatan klien (Nursalam, 2009).

5. Studi kepustakaan
Suatu metode untuk memperoleh sata dasar klien yang komprehensif,
perawat dapat membaca literature yang berhubungan dengan masalah klien
(Nursalam, 2009).
6. Studi Dokumentasi
Cara untuk memperoleh data dari responden adalah menggunakan
teknik dokumentasi. Pada teknik ini, peneliti memperoleh informasi (data)
dari berbagai sumber tertulis atau dokumen yang ada pada responden atau
tempat dimana

responden bertempat tinggal atau melakukan kegiatan

sehari-harinya (Zaenal Arifin, 2009)


D. Sistematika Penulisan Proposal
1. Bab I: Pendahuluan

Pendahuluan adalah bab pertama dari skripsi atau tesis yang


mengantarkan pembaca untuk dapat menjawab pertanyaan apa yang
diteliti. Untuk apa dan mengapa penilitian itu di lakukan (Bahdin, 2010).
Dalam studi kasus ini pendahuluan terdiri dari:
a. Latar Belakang
Pada bagian ini dikemukakan adanya kesenjangan antara harapan dan
kenyataan, baik kesenjangan teoritis ataupun kesenjangan praktis yang
melatar belakangi masalah yang diteliti (Bahdin, 2010).

b. Rumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat
petanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabanya (Bahdim,
2010).
c. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam
penelitian (Bahdim, 2010).
d. Manfaat Penulisan
Menunjukan kegunaan atau pentingnya penelitian bagi perkembangan
ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas (Bahdim, 2010).
e. Tempat dan waktu
Tempat dan Waktu adalah dimana dan kapan asuhan keperawatan itu
dilakukan (Bahdin, 2010).
f. Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah langkah-langkah yang ditempuh dan teknik
yang digunakan untuk mengumpulkan data (Bahdim, 2010).
g. Sistematika Penulisan
Berisi tatacara atau peraturan yang harus di ikuti dalam penulisan karya
tulis ilmiah (Bahdin, 2010).
2. Bab II : Tinjauan Pustaka
Adalah landasan teori yang digunakan oleh penullis dengan
memberikan kesempatan pada penulis untuk mengembangkan konsep

keperawatan sedemikian rupa dari berbagai sumber yang relevan, autentik


dan aktual. Penulisan kerangka konsep memungkinkan penulis menuangkan
analisis teori yang dimunculkan dan diprediksi masalah yang timbul. Dalam
kerangka konsep karya tulis ini berfokus pada teori medis tentang
BPH(Benigna Prostate Hypertrophy) dan manajemen keperawatannya yang
dikhususkan tentang nyeri akut. Komponennya antara lain :
a. Pengertian
b. Etiologi
c. Patofisiologi
d. Gambaran klinis
e. Pengelolaan kasus
f. Pohon masalah
g. Manajemen keperawatan
3. Bab III: Tinjauan Kasus
Bab ini berisi pengelolaan kasus yang dilakukan oleh penulis secara
tim dengan petugas pelayanan (pendekatan manajemen keperawatan), kasus
yang dimaksut adalah BPH (Benign Prostate Hypertrophy) dan manajemen
keperawatannya yang dikhususkan tentang nyeri akut. Bab III ini
memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan klien yang ditangani
penulis. Data yang terkumpul dalam Bab ini antara lain :
a. Pengkajian
b. Identitas klien/keluarga penanggung jawab
c. Riwayat kesehatan klien
d. Pemeriksaan fisik
e. Pola fungsional
f. Analisa data, daftar masalah
g. Perencanaan
h. Tindakan
i. Evaluasi
4. Bab IV: Pembahasan
Adalah kemampuan penulis di dalam mengupas, mengamati dan
memberikan solusi dengan alasan-alasan ilmiah yang dapat diprtanggung

jawabkan. Pada bab ini penulis berorientasi pada problem solving dengan
argumentsi ilmiah.
5. Bab V: Penutup
Penulisan pada bab ini berisi kesimpulan dan rekomendasi, sedangkan
rekomendasi lebih menekankan pada usulan yang sifatnya operasional atau
aplikatif. Dimana Bab ini terdiri dari: kesimpulan dan saran.

BAB II
KONSEP DASAR TEORI
A. Konsep BPH
1. Pengertian
Menurut Nursalam (2009), kelenjar prostat adalah salah satu organ
genetalia pria terletak sebelah inferior buli - buli dan membungkus uretra
posterior. Bila mengalami pembesaran, organ ini menyumbat uretra
posterior dan bila mengalami pembesaran pada uretra pars prostatika
sehingga menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli - buli.
Hiperplasia prostad atau BPH (Benign Prostate Hiperplasia) adalah
pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hyperplasia
beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar /
jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars
prostatika (jitowoyono & kristiyanasari, 2010)

2.

Etiologi
Penyebab khusus hyperplasia prostat belum diketahui secara pasti,
beberapa hipotesis menyatakan bahwa gangguan ini ada kaitannya dengan
peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan.
Hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hyperplasia prostad
adalah
a. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan
estrogen pada usia lanjut.
b. Peran factor pertumbuhan sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar
prostad.
c. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostad karena kekurangan sel yang
10
mati.
d. Teori sel stem menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem
sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar
prostad menjadi berlebih (Nursalam, 2009).
Menurut Padila (2012) Selain diatas tersebut ada beberapa hipotesis yang
diduga sebagai penyebab timbulnya hyperplasia prostad, yaitu sebagai
berikut :
a. Dihydrotestosteron,
peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel
dan stroma dari kelenjar prostad mengalami hiperplasi.
b. Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testosteron.
Pada proses penuaan pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan
penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
c. Interaksi stroma - epitel.
Peningkatan epidermal growt factor atau fibroblast growth factor dan
penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi
stroma dan epitel.
d. Berkurangnya sel yang mati.
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma
dan epitel dari kelenjar prostat.

10

e. Teori sel stem.


Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.
3. Patofisiologi
Sejalan dengan bertambahnya umur , kelenjar prostat akan mengalami
hiperplasia. Jika prostad membesar, maka akan meluas keatas (kandung
kemih) sehingga pada bagian dalam akan mempersempit saluran uretra
prostatika dan menyumbat aliran urine. keadaan ini dapat meningkatkan
tekanan intravesikuler. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra
prostatika, maka otot detrusor dan kandung kemih berkontraksi lebih kuat
agar dapat memompa urine keluar. Kontraksi terus-menerus menyebabkan
perubahan anatomi dari kandung kemih berupa: hipertropi otot detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sekula, dan divertikel kandung kemih.
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan klien sebagai keluhan pada
4.

saluran kecing bagian bawah. (jitowoyono & kristiyanasari, 2010)


Manifestasi klinis
Biasanya gejala - gejala pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai
Lower Urinary Tract Symtoms (LUTS) dibedakan menjadi gejala iritatif
dan obstruktif :
Gejala iritatif yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun untuk miksi
pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang sangat mendesak
(urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria).
Sedangkan gejala obstruksi adalah pancaran lemah, rasa tidak lampias
sehabis miksi, kalaun mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus
mengedan (sraining), kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu
miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen

5.

karena overflow (Arif Mansjoer, 2008).


Pengelolaan kasus / Penatalaksanaan
a. Observasi ( watchfull waiting)

11

Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan (skor


madsen Iversen 9). Nasihat yang diberikan ialah mengurangi minum
setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat
-obat dekongestan (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi dan
tidak diperbolehkan minum alcohol agar tidak terlalu sering miksi (Arif
Mansjoer, 2008).
b. Terapi medika mentosa
1) Penghambat adrenergic
Obat - obat yang sering dipakai adalah prazosin, dexasozin,
terazosin, afluzosin, atau yang lebih efektif 1a (tamsulin). Dosis
dimulai 1mg/hari sedangkan dosis tamsulosin adalah 0,2-0,4mg/hari
(Arif Mansjoer, 2008).
2) Penghambat enzim 5-a-reduktase
Obat yang di pakai adalah finateride (Proscar) dengan dosis 1 x
5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT
sehingga prostad yang membesar akan mengecil (Arif Mansjoer,
2008).
3) Fitoterapi
Pengobatan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain
eviprostat. Misalnya pygeum afrikanu, saw palmetto, serenoa repeus,
dll. Efeknya diharapkan terjadi setelah pemberian selama 1-2 bulan
(Arif Mansjoer, 2008).
c. Terapi bedah
Waktu penanganan untuk tiap pasien berfariasi tergantung beratnya
gejala dan komplikasi. Indikasi absolut untuk terapi bedah yaitu:
1) Retensio urin berulang
2) Hematuria
3) Tanda penurunan fungsi ginjal
4) Infeksi saluran kemih berulang

12

5) Tanda-tanda obstruksi berat yaitu divertikel, hidroureter, dan


hidronefrosis
6) Ada batu saluran kemih.
Jenis pengobatan ini paling tinggi efektifitasnya (Arif Mansjoer,
2008).
d. Terapi infasif minimal.
1) Transurethral Microwave Thermoterapy (TUMT)
Jenis pengobatan ini hanya dapat dilakukan di beberapa rumah
sakit besar. Dilakukan pemanasan prostad dengan gelombang mikro
yang disalurkan ke kelenjar prostad melalui suatu transducer yang
2)
3)
4)
5)

diletakan di uretra pars prostatika.


Dilatasi balon transurethral (TUBD)
High-intensity Focused Ultrasound
Ablasi jarum Transuretra (TUNA)
Stent Prostat (Arif Mansjoer, 2008).

16

6. Pathwasys / Pohon masalah


hormone estrogen &
testosterone tidak
seimbang

Factor usia

Sel prostad umur panjang

Sel stroma pertumbuhan


berpacu

Sel yang mati kurang

Prolikerasi abnormal sel


strem
Produksi stroma dan epitel
berlebihan

Prostad membesar

TURP

Penyempitan lumen
ureter prostatika
Obstruksi
GANGGUAN
ELIMINASI URIN
Retensi Urin

Rangsangan Syaraf
Diameter Kecil
Iritasi mukosa
Gate
kontrol
terbuka
kandung
kencing,
terputusnya jaringan
NYERI AKUT

Luka
Pemasangan DC
Tempat masuknya
mikroorganisme
RESIKO
INFEKSI

Kurangnya informasi terhadap


pembedahan

ANSIETAS

Hidro ureter

hidronefritis

Keterangan:
: Di teliti
: Tidak diteliti

Gambar 2.1. Pathways BPH, Nanda 2013

17

B. Manajemen Asuhan Keperawatan Pada BPH Nyeri Akut


1. Konsep dasar nyeri
a. Definisi
Nyeri akut adalah sensori yang tidak menyenangkan dan
pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau potensial
kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan. Menurut
Asosiasi Study Nyeri Internasional : serangan mendadak atau pelan
intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan
akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan
(Nanda, 2012)
b. Fisiologi nyeri
Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya
rangsangan. Reseptor nyeri tang dimaksud adalah nocireceptor,
merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki sedikit atau
bahkan tidak memiliki myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa,
khususnya pada visera, persedian, dinding uteri, hati dan kandung
empedu. Reseptor nyeri dapat memberikan respons akibat adanya
stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat berupa zat-zat
kimiawi seperti histamin, bradikidin, prostaglandin, dan macam-macam
asam yang dilepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan akibat
kekurangan oksigenasi. Stimulasi yang lain dapat berupa termal, listrik
atau mekanis.
Selanjutnya, stimulasi yang diterima oleh reseptor tersebut
ditransmisikan berupa impuls-impuls nyeri ke sumsum tulang belakang
oleh dua jenis serabut yang bermyelin rapat atau serabut A (delta) dan
serabut lamban (serabut C). Impuls-impuls yang ditransmisikan oleh

18

serabut delta A mempunyai sifat inhibitor yang ditransmisikan ke


serabut C. Serabut-serabut eferen masuk ke spinal melalui akar dorsal
(dorsal root) serta sinaps pada dorsal horn. Dorsal horn terdiri atas
beberapa lapisan atau laminae yang saling bertautan. Di antara lapisan
dua dan tiga terbentuk substantia gelatinosa yang merupakan saluran
utama impuls. Kemudian impuls nyeri menyeberangi sumsum tulang
belakang pada interneuron dan bersambung ke jalur spinal asendens
yang paling utama, yaitu jalur spinothalamic tract (STT) atau jalur
spinothalamus dan spinoreticular tract (SRT) yang membawa informasi
tentang sifat dan lokasi nyeri. Dari proses transmisi terdapat dua jalur
mekanisme terjadinya nyeri, yaitu jalur opiate dan jalur non-opiate.
Jalur opiate ditandai oleh pertemuan reseptor pada otak yang terdiri atas
jalur spinal desendens dari thalamus yang melalui otak tengah dan
medulla ke tanduk dorsal dari sumsum tulang belakang yang
terkonduksi dengan nociceptor impuls supresif. Serotonin merupakan
neurotransmitter dalam impuls supresif. Sistem supresif lebih
mengaktifkan stimulasi nociceptor yang ditransmisikan oleh serabut A.
Jalur non-opiate merupakan jalur desenden yang tidak memberikan
respons

terhadap

naloxone

yang

kurang

banyak

diketahui

mekanismenya (Alimul, 2006).


c. Klasifikasi Nyeri
Nyeri secara umum dibagi menjadi dua, yakni nyeri akut dan
kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan
cepat menghilang, yang tidak melebihi 6 bulan dan ditandai adanya

19

peningkatan tegangan otot. Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul


secara perlahan-lahan, biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama,
yaitu lebih dari 6 bulan. Ditinjau dari sifat terjadinya, nyeri dapat dibagi
ke dalam beberapa kategori, diantaranya nyeri tertusuk dan nyeri
terbakar.
Selain klasifikasi nyeri di atas, terdapat jenis nyeri yang spesifik,
diantaranya nyeri somatis, nyeri visceral, nyeri menjalar (referent pain),
nyeri psikogenik, nyeri phantom dari ekstremitas, nyeri neurologis, dan
lain-lain. Nyeri somatis dan nyeri visceral ini umumnya bersumber dari
kulit dan jaringan di bawah kulit (superfisial) pada otot dan tulang.
Nyeri menjalar adalah nyeri yang terasa pada bagian tubuh yang
lain, umumnya terjadi akibat kerusakan pada cedera organ visceral.
Nyeri psikogenik adalah nyeri yang tidak diketahui secara fisik yang
timbul akibat psikolgis. Nyeri phantom adalah nyeri yang disebabkan
karena salah satu ekstremitas diamputasi. Nyeri neurologis adalah
bentuk nyeri yang tajam karena adanya spasme di sepanjang atau di
beberapa jalur saraf (Alimul, 2006).
d. Faktor yang mempengaruhi nyeri
Menurut Kozier dan Erb (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi
nyeri antara lain:
1) Etnis dan nilai budaya
Latar belakang etnis dan warisan budaya telah lama diketahui
sebagai faktor yang mempengaruhi reaksi dan ekspresi seseorang
terhadap nyeri. Perilaku yang berhubungan dengan nyeri adalah
bagian dari proses sosialisasi.
2) Tahap perkembangan

20

Usia dan tahap perkembangan pasien adalah variabel penting


yang akan mempengaruhi reaksi maupun ekspresi pasien terhadap
rasa nyeri.
3) Lingkungan dan individu pendukung
Lingkungan yang asing seperti

rumah

sakit,

dengan

kebisingan, cahaya dan aktivitasnya, dapat menambah nyeri. Selain


itu, orang kesepian yang tidak mempunyai individu pendukung dapat
merasakna nyeri hebat, sebaliknya orang yang memiliki individu
pendukung disekitarnya merasakan sedikit nyeri. Beberapa orang
lebih suka menarik diri ketika merasa nyeri, sebaliknya yang lain
lebih menyukai distraksi dari orang lain dan aktivitas di sekitarnya.
Keluarga yang menjadi pemberi asuhan dapat menjadi pendukung
yang penting untuk orang yang sedang merasakan nyeri. Dengan
meningkatnya pasien yang rawat jalan dan melakukan perawatan di
rumah, keluarga mendapat tanggung jawab yang lebih besar dalam
penatalaksanaan nyeri.
4) Pengalaman nyeri sebelumnya
Pengalaman nyeri sebelumnya mengubah sensitivitas pasien
terhadap nyeri. Orang yang sudah pernah mengalami nyeri atau telah
terpajan penderitaan orang dekatnya yang mengalami nyeri sering
kali merasa lebih terancam terhadap nyeri yang diantisipasi
dibandingkan orang yang tidak memiliki pengalaman nyeri.
5) Makna nyeri
Beberapa pasien mungkin lebih siap menerima nyeri
dibandingkan dengan pasien lain, hal ini bergantung pada kondisi
dan interpretasi pasien terhadap makna nyeri tersebut. Seseorang

21

pasien yang menghubungkan nyeri dengan hasil akhir positif dapat


menahan nyeri dengan sangat mengagumkan.
6) Kecemasan dan stress
Kecemasan sering disertai nyeri. Ancaman karena ketidak
tahuan dan ketidakmampuan mengontrol nyeri atau kejadian
disekitarnya sering menambah persepsi nyeri. Keletihan juga
mengurangi kemampuan seseorang untuk mengatasi nyeri, sehingga
meningkatkan persepsi nyeri. Ketika nyeri mengganggu tidur,
keletihan dan ketegangan otot sering terjadi dan meningkatkan nyeri.
Orang yang sedang mengalami nyeri tetapi percaya bahwa mereka
dapat mengontrol nyerinya dapat menurunkan rasa takut dan
kecemasannya sehingga menurunkan persepsi nyeri. Persepsi
kurangnya control terhadap nyeri atau merasa tidak berdaya
cenderung meningkatkan persepsi nyeri.
e. Intensitas Nyeri
Penggunaan skala intensitas nyeri adalah metode yang mudah dan
dapat dipercaya dalam menentukan intensitas nyeri. Sebagian besar
skala menggunakan rentang 0 5 atau 0 10 dengan 0
mengindikasikan

tidak

nyeri

dan

nomor

yang

tertinggi

mengindikasikan kemungkinan nyeri terhebat bagi individu tersebut.


0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Tidak
nyeri
nyeri
nyeri
nyeri sangat
nyeri
Nyeri
ringan
sedang
hebat
hebat
terhebat
Gambar 2.2 Skala intensitas nyeri 10 poin dengan kata-kata penjelas
(Kozier dan Erb, 2009).
Dimasukannya kata-kata penjelas pada skala dapat membantu
beberapa pasien yang mengalami kesulitan dalam menentukan nilai

22

nyerinya. Pasien diminta untuk menunjukkan skala yang paling baik


mewakili intensitas nyerinya.
Tidak semua pasien mengerti atau menghubungkan nyeri yang
dirasakan ke skala intensitas nyeri berdasarkan angka. Termasuk di
dalamnya

adalah

anak-anak

yang

dapat

mengkomunikasikan

ketidaknyamanan secara verbal, pasien lansia yang mengalami


kerusakan kognitif atau komunikasi. Maka, untuk pasien tersebut, skala
tingkat nyeri wajah Wong-Baker mungkin lebih mudah digunakan.
Skala wajah memiliki skala nomor pada setiap ekspresi sehingga
intensitas nyeri dapat didokumentasikan.

Tidak
Nyeri
Nyeri agak
Nyeri
Nyeri
nyeri
sedikit
banyak
banyak
sekali
Gambar 2.3 Skala tingkat wajah Wong-Boker (Kozier & Erb,

Nyeri
hebat

2009).
f. Penatalaksanaan Nyeri
1) Mengurangi faktor yang dapat menghambat nyeri, misalnya
ketidakpercayaan,

kesalahpahaman,

ketakutan,

kelelahan

dan

kebosanan (Alimul, 2006).


2) Memodifikasi stimulasi nyeri dengan menggunakan teknik-teknik
seperti:
a) Teknik latihan pengalihan
Kegiatan yang dapat dilakukan dalam teknik latihan pengalihan
antara lain, menonton televisi, berbincang-bincang dengan orang
lain, mendengarkan musik, dan lain-lain (Alimul, 2006).
b) Teknik relaksasi

23

Menganjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan mengisi


paru-paru dengan udara, menghembuskannya secara perlahan,
melemaskan otot-otot tangan, kaki, perut dan punggung serta
mengulangi hal yang sama sambil terus berkonsentrasi hingga
didapat rasa nyaman, tenang, dan rileks (Alimul, 2006).
c) Stimulasi kulit
Stimulasi kulit dilakukan untuk menghilangkan nyeri. Masase,
mandi air hangat, kompres menggunakan kantong es dan
stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS) merupakan langkahlangkah sederhana dalam upaya menurunkan persepsi nyeri.
Kompres panas dan dingin dapat menghilangkan nyeri dan
meningkatkan proses penyembuhan (Potter & Perry, 2005).
3) Pemberian obat analgesik
Analgesik merupakan metode yang paling umum untuk
mengatasi nyeri (Potter & Perry, 2005). Pemberian obat analgesik
dilakukan guna memblok transmisi stimulasi agar terjadi perubahan
persepsi dengan cara mengurangi kortikol terhadap nyeri (Alimul,
2006). Ada tiga jenis analgesik, yaitu non-narkotik dan obat anti
inflamasi nonsteroid (NSAID), analgesik narkotik dan obat
tambahan atau koanalgesik.
KATEGORI OBAT
ANALGESIK NON-NARKOTIK
Asetaminofen (Tylenol)

INDIKASI
Nyeri pasca operasi ringan
Demam

Asam asetilsalisilat (aspirin)


NSAID
Ibuprofen (Motrin, Nuprin)

Dismenore

24

Naproksen (Naprosyn)
Indometasin (Indocin)
Piroksikam (Feldene)
Ketorolak (Toradol)

Nyeri kepala vascular


Arthritis rheumatoid
Gout
Nyeri pasca operasi, nyeri
traumatik berat

ANALGESIK NARKOTIK
Meperidin (Demerol)
Metilmorfin (Kodein)
Morfin sulfat
Fentanil (Sublimaze)
Butofanol (Stadol)
Hidromorfon HCL (Dilaudid)
ADJUVAN
Amitriptilin (Elavil)
Hidroksin (Vistaril)
Klorpromazin (Thorazine)
Diazepam (Valium)

Nyeri kanker
Infark miokard

Cemas
Depresi
Mual
Muntah

Tabel 2.1 Jenis analgesik dan indikasi terapi (Potter & Perry,
2005).
2.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan BPH (Benigna Prostat


Hiperplasia)
a. Pengkajian
Pengkajian adalah sistematika dari pengumpulan, verifikasi, dan
komunikasi data tentang klien. Data harus relevan sesuai format yang
dirancang sebagai tanggung gugat dari profesi keperawatan kepada
publik ( Gordon, 1995 dikutip Potter & Perry, 2005 ).
1) Data Subyektif
a) Identitas pasien
(1)Usia

: Insiden penyakit BPH meningkat seiring


bertambahnya umur, dan umur 50 tahun

25

keatas adalah mayoritas penderita dari


BPH.
(2)Jenis kelamin : Mayoritas adalah laki- laki
b) Riwayat penyakit sekarang
c) Keluhan Utama
P : Apakah ada peristiwa yang menjadi faktor penyebab nyeri,
apakah nyeri berkurang saat beristirahat?
Q : Seperti apa rasa nyeri yang dirasakan, apakah seperti tertusuk
tusuk atau dipukul?
R : Dimana letak nyeri yang dirasakan klien? Harus ditunjukkan
dengan tepat oleh klien.
S : Seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan oleh klien, dan klien
menerangkan seberapa jauh nyeri mengganggu aktifitas
sehari - harinya.
T : Berapa lama nyeri dirasakan, apakah bertambah parah saat
pagi, siang atau malam hari, tanyakan gejala yang timbul saat
nyeri dirasakan.
d) Riwayat penyakit dahulu
Biasanya pada pasien hipertensi memiliki riwayat penyakit
dahulu seperti aterosklerosis, diabetes militus, penyakit jantung
dan penyakit ginjal.
e) Riwayat penyakit kelurga
Biasanya adanya riwayat penyakit keluarga dengan penyakit yang
f)

sama.
Pola fungsi kesehatan
(1) Pola Nutrisi
Pada pasien hipertensi dapat mengalami mual dan muntah
serta terjadi perubahan berat badan pada akhir-akhir ini.
(2) Pola Eliminasi
Pada pasien hipertensi dapat terganggu akibat riwayat
penyakit ginjal pada masa lalu atau saat ini.

26

(3) Pola Istirahat dan Tidur


Pada pasien hipertensi dapat mengalami ganguan istirahat
karena nyeri.
(4) Pola Aktivitas dan Latihan
Pada pasien hipertensi mengalami lemah, letih, kelelahan,
nafas pendek dan gaya hidup yang monoton.
2) Data Obyektif
a) Pemeriksaan Umum
(1) Keadaan umum : lemah, gelisah
(2) Kesadaran
: composmentis/apatis/somnolen/sopor
koma GCS : 15 atau kurang.
(3) TTV
Tensi
: Lebih dari 140/90 mmHg
Suhu
: Normal 36,6 - 37,2 C atau meningkat.
Nadi
: Meningkat lebih dari 100x/menit
Pernapasan

: Normal 16-20x/menit atau meningkat.

b) Pemeriksaan Head to toe


(1) Kepala
Untuk pemeriksaan kepala tidak ada masalah jadi dapat
disimpulkan hasilnya normal, kriteria normal pemeriksaan
fisik kepala adalah :
Inspeksi

: Kepala tegak dan stabil, tengkorak bulat dan


lonjong diarea frontal anterior dan oksipital
posterior, simetris, rambut hitam lebat (Perry,
2005)

Palpasi

: tidak ada benjolan atau massa.

(2) Mata
Inspeksi

: Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak


anemis (karena tidak terjadi pendarahan)

27

Palpasi

: Tidak ditemukan pembengkakan pada mata


akibat edema.

(3) Hidung
Inspeksi

:Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan


cuping hidung.

Palpasi

: Normal tidak ada bengkak atau nyeri tekan.

(4) Mulut
Inspeksi

: Dapat terjadi karies pada gigi, bibir dapat


berwarna kehitaman akibat dari merokok dan
konsumsi alkohol.

(5) Telinga
Untuk periksaan telinga tidak ada masalah, jadi dapat
disimpulkan hasilnya normal, kriteria normal pemeriksaan
telinga adalah :
Inspeksi

: Kanal telinga normalnya melengkung dengan


panjang 2,5 cm pada orang dewasa, dilapisi
dengan kulit berbulu halus. Aurikula sejajar
satu sama lain. Titik atas perlekatan berada
pada satu garis lurus dengan sudut mata.
Warna sama dengan wajah tanpa deformitas
atau nodul. Halus tanpa lesi (Perry, 2005).

(6) Leher

28

Inspeksi

: Warna sama dengan warna kulit lain, integritas


kulit baik, bentuk simetris

Palpasi

: Tidak terjadi distensi pada vena juggularis

(7) Thoraks
Inspeksi

: Bentuk thoraks normal simetris, Tidak ada


pergerakan otot intercostae.

Palpasi

: Tidak terdapat nyeri tekan pada thoraks.

(8) Paru
Inspeksi

: Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya


tergantung pada riwayat penyakit klien yang
berhubungan dengan paru.

Palpasi

: Fokal fremitus paru normal, kanan dan kiri


sama.

Perkusi
Auskultasi

: Suara perkusi paru normal sonor


: Suara nafas normal, tak ada wheezing atau
suara tambahan lainnya seperti stridor dan
ronchi.

(9) Jantung
Inspeksi

: Tidak tampak iktus jantung.

Palpasi

: Nadi meningkat, iktus tidak teraba.

Auskultasi

: Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.

(10) Abdomen

29

Inspeksi

: Penonjolan pada daerah supra pubik retensi


urin.

Palpasi

: Akan terasa adanya ballottement dan ini akan


menimbulkan pasien ingin buang air kecil.

Perkusi

: Redup

Auskultasi

: Suara

peristaltik

terdengar

setiap

5-20x

perdetik, terdengar denyutan arteri renalis,


arteri

iliaka

dan

aorta.

(jitowiyono

&

kristiyanasari, 2010)
(11) Penis
Inspeksi

: uretra kemungkinan adanya penyebab lain


misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu
uretra/femosis

(12) Pemeriksaan radiologi


Pada pemeriksaan radiologi ditujukan untuk, menetukan
volume BPH, menentukan derajat disfungsi buli-buli dan
volume residual urin, dan mencari ada tidaknya kelainan baik
yang berhubugan dengan BPH atau tidak. Beberapa
pemeriksaan Radiologi:
(a) BOF : untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
(b) Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat
ada tidaknya refluk vesiko ureter/struktur uretra
(c) USG : untuk menentukan volume urine, volume residual
urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas
(13) Pemeriksaan endoskopi
(14) Pemeriksaan Uroflowmetri

30

Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan


obstruksi leher buli-buli.
(15) Pemeriksaan laborat
(a) Ureum, creatinin, elektrolik untuk melihat gambaran
fungsi ginjal.
(b) RFT
(c) Serum Acid Phosphatase. (jitowiyono & kristiyanasari,
2010).
b. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan sumbatan saluran
pengeluaran pada kandung kemih.
2) Nyeri akut berhubungan dengan agent injuri fisik, nyeri paska
bedah.
3) Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan sebagai
efek sekunder dari prosedur pembedahan.
4) Resiko perdarahan berhubugan dengan iritasi mukosa kandung
kencing, terputusnya jaringan.

c. Perencanaan keperawatan
1) Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine,
obstruksi uretra sekunder, dan pembesaran prostat dan obstruksi
uretra.
Tujuan : Dalam waktu 124 jam pola berkemih normal.
Kriteria hasil :

31

a) Menunjukkan residu pasca berkemih kurang dari 50 ml dengan


tak adanya tetesan/kelebihan aliran.
b) Berkemih dalam jumlah yang cukup, tidak teraba distensi
kandung kemih.
c) Tidak terjadi keraguan saat miksi.
d) Inkontinensia/menetes tidak terjadi lagi.
Rencana tindakan dan rasional :
a) Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba
dirasakan.
Rasional : Meminimalkan retensi urine distensi berlebihan pada
kandung kemih.
b) Observasi aliran urine, perhatikan ukuran dan kekuatan
pancaran urine.
Rasional : Untuk mengevaluasi obstruksi dan pilihan
intervensi.
c) Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.
Rasional : Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran
perkemihan atas, yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal.
Adanya

defisit

kemampuannya

aliran
untuk

darah

ke

memfiltrasi

substansi.
d) Perkusi atau palpasi area suprapubik.

ginjal
dan

mengganggu

mengkonsentrasi

32

Rasional : Distensi kandung kemih dapat dirasakan di area


suprapubik.
e) Dorong masukan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi
jantung, bila di indikasikan.
Rasional : Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi
ginjal serta membersihkan ginjal dan kandung kemih dari
pertumbuhan bakteri.
f) Lakukan Manuver Crede jika perlu
Rasional : Lakukan kateterisasi untuk mengeluarkan urine
residu, jika diperlukan pasang kateter.
g) Berikan atau dorong untuk perawatan kateter dan perineal.
Rasional : Menurunkan risiko infeksi asenden.
h) Ajarkan tekhnik bladder training dan rendam duduk sesuai
indikasi.
Rasional

Menguatkan

otot-otot

kandung

kemih,

meningkatkan relaksasi otot, penurunan edema dan dapat


meningkatkan upaya berkemih.
i) Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik)
Rasional : Mengurangi spasme kandung kemih sehubungan
dengan iritasi oleh kateter.
2) Nyeri akut berhubungan dengan agent injuri fisik, nyeri paska
bedah.

33

Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 124 jam


diharapkan nyeri berkurang.
Kriteria hasil :
a) Pasien melaporkan nyeri hilang atau terkontrol.
b) Skala nyeri 0-1.
c) Menunjukkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik
sesuai indikasi untuk situasi individu.
d) Pasien tampak rileks.
Rencana tindakan dan rasional :
a) Observasi nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10).
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu dalam
menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
b) Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan
selang bebas dari lekukan dan bekuan.
Rasional : Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem,
menurunkan resiko distensi atau spasme buli - buli.
c) Pertahankan tirah baring bila diindikasikan
Rasional : Tirah baring mungkin diperlukan pada awal fase
retensi akut.Namun ambulasi dini dapat memperbaiki pola
berkemih normal dan menghilangkan nyeri kolik.
d) Berikan

tindakan

kenyamanan

(sentuhan

terapeutik,

pengubahan posisi, pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik.

34

Rasional : Menurunkan tegangan otot, memfokusksn kembali


perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
e) Kolaborasi pemasangan kateter.
Rasional : Pengaliran kandung kemihg menurunkan tegangan
dan kepekaan kelenjar.
f) Kolaborasi dalam pemberian obat analgesik sesuai indikasi
Rasional : Diberikan utnuk mengurangi nyeri.
3) Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan sebagai
efek sekunder dari prosedur pembedahan.
Tujuan : Dalam waktu 12 x 24 jam tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil:
a) Tidak ada tanda dan gejala infeksi.
b) pengangkatan jahitan pasca bedah dapat dilakukan pada
hari ke-10.
Intervensi dan rasional :
a) Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter
reguler.
Rasional : Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi lanjut.
b) Observasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil,
nadi dan pernapasan cepat, gelisah
Rasional : Pasien yang mengalami TUR Prostat beresiko untuk
syok bedah sehubungan dengan manipulasi atau instrumentasi.

35

c) Ganti balutan dengan sering (insisi suprapubik/retropubik dan


perineal)
Rasional : Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan
memberikan media untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan
resiko infeksi luka.
d) Observasi drainase dari luka, sekitar kateter suprapubik
Rasional : Adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan resiko
untuk infeksi, yang diindikasikan dengan eritema, drainase
purulen.
e) Kolaborasi: pemberian antibiotik sesuai indikasi
Rasional : Mungkin diberikan secara profilaksis sehubungan
dengan peningkatan resiko pada prostatektomi.
4) Resiko perdarahan berhubugan dengan iritasi mukosa kandung
kencing, terputusnya jaringan.
Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 1 x 24 diharapkan
tidak terjadi perdarahan.
Kriteria hasil :
a) Klien tidak menunjukan tanda-tanda perdarahan.
b) Tanda tanda vital dalam batas normal.
c) Urine lancar lewat kateter.
Rencana tindakan dan rasional :

36

a) Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah


pembedahan dan tanda tanda perdarahan.
Rasional : menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda
tanda perdarahan.
b) Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalam saluran
kateter.
Rasional : gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan
peregangan dan perdarahan kandung kemih.
c) Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk
memudahkan defekasi.
Rasional : dengan peningkatan pada fosa prostatic yang akan
mengendapkan perdarahan.
d) Pemantauan traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan
kapan traksi dilepas.
Rasional : traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke
sisi fosa prostatic, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas
3 6 jam setelah pembedahan. (Nanda, 2013)

37

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Surabaya : Lentera Cendekia.
Baradero Mary, Mary Wilfrid Dayrit dan Yakobus Siswadi. 2008. Prisip dan
Praktek Keperawatan Perioperatif. Jakarta : EGC.
Berman, Audrey Dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Klinis. Jakarta : EGC
Hidayat, A. Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi Konsep
dan Proses Keperawatan Buku 1. Jakarta : Salemba Medika.
Kristiyanasari Weni, S.kep, Ns. 2010. Asuhan Keperawatan Post Operasi.
Yogyakarta : Nusa Medika.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapus.
Nanda. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
Nanda. Yogyakarta : Media action publishing.
Nur Tanjung, Bahdin. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Proposal, Skripsi,
Tesis dan Memperkenalkan Diri Jadi Penulis Artikel Ilmiah. Jakarta :
Kencana.
Nursalam & fransiska, S.Kep, Ns. 2009. Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba
Medika.
Padila, S.Kep, Ns. 2012. Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Potter, Patricia A. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep Proses
dan Praktik . Jakarta : EGC.
Rendi Clevo, Margareth. 2012. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah dan
Penyakit dalam. Yogyakarta : Nuha Medika.

38
Lampiran 1

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

40

Kepada Yth
Calon Responden
Di Ruang Bougenvile RSUD Nganjuk

Dengan hormat,
Untuk memenuhi persyaratan tugas akhir Diploma III Keperawatan, saya
mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Satria Bhakti Nganjuk, bermaksud akan
melaksanakan usulan studi kasus dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Tn.X USIA 50 TAHUN DENGAN NYERI AKUT POST OP PADA BPH
(BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA) DI RUANG BOUGENVILE RSUD
NGANJUK.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, penulis mengharapkan kesediaan
saudara/saudari untuk bersedia menjadi responden dalam penulis yang saya
lakukan dengan mengisi kuesioner sesuai petunjuk dan apa adanya. Untuk
kerahasiaan identitas dan informasi yang saudara/saudari berikan, penulis akan
jamin semua untuk kepentingan penelitian ini.
Demikian permohonan penulis, atas perhatian dan kesediaan saudara/saudari
saya ucapkan terima kasih.
Nganjuk,

2014

Hormat saya

FENDI YULI PRASETIYO

39
Lampiran 2

INFORMED CONSENT
Penulis yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bersedia ikut
berpartisipasi sebagai calon pasien dalam Usulan Studi Kasus Mahasiswa
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Prodi Diploma III Keperawatan Satria
Bhakti Nganjuk.
Tanda tangan penulis menujukan bahwa penulis telah diberikan
informasi mengenai tujuan dan manfaat di dalam penelitian ini, sehingga
Penulis bersedia untuk berpartisipasi dalam usulan Studi Kasus ini.

Nganjuk,

2014

Responden

( )