Anda di halaman 1dari 16

Tari Gambyong merupakan tarian tradisional khas Jawa Tengah yang telah ada

sejak dulu. Konon, Tari Gambyong tercipta dari nama Gambyong, seorang penari
yang hidup pada zaman Kesunanan Surakarta berada di bawah pemerintahan
Sinuhun Paku Buwono keenam sekitar tahun 1800-an. Di Surakarta, Gambyong
dikenal sebagai sosok wanita yang cantik jelita.
Begitu cantiknya paras Gambyong, nama sang penari itu terkenal hingga ke
lingkungan Kesunanan Surakarta. Atas permintaan Sinuhun Paku Buwono keenam,
Gambyong ketika itu pernah mengadakan pertunjukan di lingkungan Kesunanan
Surakarta. Sejak saat itulah, tarian yang dimainkan oleh Gambyong itu dikenal
dengan
nama
Tari
Gambyong.
Awalnya, Tari Gambyong hanya dimainkan di lingkungan Kesunanan Surakarta
sebagai pertunjukan hiburan bagi Sinuhun Paku Buwono keenam dan tari
penyambutan ketika ada tamu kehormatan berkunjung ke Kesunanan Surakarta.
Namun seiring dengan perkembangan jaman, tarian ini juga dimainkan sebagai
hiburan pertunjukan bagi masyarakat luas. Biasanya, tari Gambyong dimainkan
ketika warga Jawa Tengah menyelenggarakan pesta pernikahan adat. Sebagai
promosi budaya Jawa Tengah, Gambyong juga seringkali dimainkan di beberapa
daerah
selain
Surakarta,
seperti
di
Jakarta
dan
lain-lain.
Seperangkat gamelan Jawa yang terdiri dari gong, gambang, kendang, serta kenong
menjadi musik pengiring pertunjukan Tari Gambyong. Dari sekian banyak alat
musik, yang dianggap sebagai otot tarian Gambyong yakni Kendang. Karena selama
pertunjukan berlangsung, Kendang itu yang menuntun penari Gambyong untuk
menari mengikuti lantunan tembang atau lagu berbahasa Jawa.
Gerakan para penari wanita yang lemah gemulai menjadi ciri khas dari Tari
Gambyong yang konon, gemulai gerak dari tarian itu menunjukkan sikap dan watak
para wanita Jawa Tengah yang identik dengan lemah gemulai. Kesan tersendiri juga
dapat anda temukan ketika penari Gambyong menampilkan perpaduan gerak
tangan dan kaki sambil memainkan sehelai kain selendang yang dikalungkan di
leher.
Gambaran kelembutan sikap dan watak wanita Jawa Tengah tidak hanya terlihat dari
gerak tariannya, melainkan juga dari tata rias penarinya. Selama pertunjukan
berlangsung, penari Gambyong mengenakan pakaian khas penari wanita Jawa
Tengah yakni kain kemben dengan bagian bahu terbuka sebagai atasan dan kain
panjang bermotif batik sebagai bawahan. Dalam pertunjukan Gambyong,
penampilan penari Gambyong juga dinilai memiliki peran penting. Konon, semakin
cantik paras penarinya, keistimewaan dari pertunjukan Gambyong dapat diperoleh.
Smoga kita Khususnya Orang Jawa Tengah dapat melestarikan kebudayaan kita
Ciri khas kultur budaya Jawa adalah kuatnya sistem hirarki. Dalam soal bahasa misalnya
banyak dijumpai mekanisme linguistik yang dikonstruk untuk stratifikasi sosial
tertentu.Begitu juga denga tari. Tidak semua tari di Jawa mencerminkan egalitarianisme. Ada
tari yang khusus untuk kalangan bangsawan dan kerajaan dan ada pula tari yang khsusus
untuk rakyat kecil. Hal ini karena terdesign dari mainstream budaya Jawa yang terbagi ke
dalam dua struktur mayor yaitu kebudayaan besar atau kebudayaan
tinggi dan budaya kecil atau kebudayaan rendah. Masing-masing struktur budaya ini
merefleksikan background sosio-kultural masing-masing. Budaya besar ini
merepresentasikan masyarakat elit yang berada di kuil-kuil dan istana-istana, sementara

budaya kecil hidup dan berkembang dalam kawulo alit yang berada di pinggiran dan
pedesaan. Meminjam istilah Robert Reidfield bahwa kebudayaan besar merupakan pola
kebudayaan dari peradaban kota, sementara kebudayaan kecil adalah pola kebudayaan rendah
atau pedesaan.
Karena berangkat dari komunitas masyarakat yang berbeda, maka kedua kebudayaan Jawa di
atas secara otomatis juga mempunyai ciri yang beda bahkan kontras. Termasuk tari, keduanya
mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Untuk tari yang masuk dalam kamus masyarakat
elit perkotaan dan istana lebih menonjolkan sifat-sifat nilai alus (halus, lembut), regu
(pendiam), anteng (tenang) dan jatmika (selalu sopan). Jenis tari-tari yang masuk ke dalam
kategori ini seperti tari bedhaya, srimpi dan beksan. Ini berbeda dengan tari-tari yang masuk
dalam daftar kebudayaan pinggiran atau masyarakat desa. Tari-tari jenis ini dicirikan dengan
sifatnya yang kasar, brangasan, energik, yang semua itu mencerminkan karakter atau watak
masyarakat kecil.
Tari gambyong adalah tari yang muncul di ranah pinggiran masyarakat Jawa tetapi
istimewanya ia mampu menembus wilayah sentral kerajaan Jawa. Ia merupakan produk
kebudayaan wong cilik yang diangkat menjadi kebudayaannya para bangsawan Jawa.
Sehingga tari Ganbyong, yang awal mulanya berstatus sebagai tradisi kecil, maka pada
perkembangannya menjadi bagian tradisi besar.
Seluk beluk tari gambyong ini secara mendalam bisa kita telurusuri dalam bukunya Sri
Rochana Widyastutieningrum (2004) yang berjudul Sejarah Tari Gambyong. Dalam buku itu
Sri Rochana mengemukakan bahwa tari gambyong mulai digunakan dalam Serat Centhini
yang ditulis pada abad XVVIII. Akan tetapi diperkirakan tari gambyong ini merupakan
perkembangan tari tledhek atau tayub. Inilah yang menunjukkan bahwa tari Gambyong
adalah tari yang lahir dari rahim masyarakat pinggiran. Karena tayub atau ledhek adalah
cermin kebudayaan masyarakat bawah.
Tari tayub sendiri, dalam Serat Sastramirada disebutkan telah dikenal sejak zaman kerajaan
Jenggala (sekitar abad ke XII), sedangkan tari tledhek dikenal sejak zaman Demak (abad
XV), yang disebut dengan tledhek mengamen, yang dipertunjukkan dengan iringan rebana
dan kendang sastra di awali dengan vocal.
Istilah Gambyong diambil dari nama seorang penari tledhek. Penari yang bernama Gambyong
ini hidup ini pada zaman susuhunan Paku Buwana IV di Surakarta (1788-1820). Lebih jauh
menurut Sudibyo ZH, bahwa tentang adanya penari ledhek yang bernama Gambyong yang
memiliki kemahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara, sehingga menjadi pujaan
kaum muda pada zaman itu.

Masa perkembangan
Tari Gambyong mulai berkembang di era susuhunan paku Buwana IX (1861-1893) atas jasa
K.R.M.T Wreksadiningrat. Tari tersebut diperkenalkan kepada umum dan ditarikan oleh
seorang Waranggana (pesindhen). Karena sudah beralih ke struktur masyarakat bangsawan,
maka tari ini mengalami modifikasi yang membedakan dengan bentuknya yang semula.
Gerak-gerik tari ini yang awalnya begitu kasar mulai diperhalus. Hal ini terjadi, khususnya,
ketika tari Gambyong muncul sebagai Tari gambyong pareano yang diciptakan oleh Ny Bei
Montoraras pada tahun 1950. Sejak ini, tari gambyong mengalami perubahan yang drastis
seperti susunan tari, iringan tari, rias dan busananya.
Selain bentuknya yang berubah fungsinya juga mulai berubah. Pada saat bertransformasi
menjadi Pareanom ini, tari gambyong yang awalnya hanya difungsikan untuk hiburan atau
tontonan, maka kemudian beralih fungsi menjadi tari untuk menyambut tamu-tamu besar.
Tari Gambyong sering ditampilkan di Mangkunegaran pada zaman penjajahan Jepang, untuk
menjamu para tentara Jepang yang datang di mangkunegaran.
Dalam perkembangan selanjutnya, tari gambyong ini juga mampu merangsang lahirnya
bentukbentuk baru tari Gambyong yang lain, yang dikonstruksi oleh penyusun tari yang
berbeda-beda. Seperti ada tari gambyong Pangkur yang disusun oleh Soemardjo
Hardjoprasanto pada tahun 1962, kemudian tari gambyong Gambirsawit yang disusun oleh
S.Ngaliman pada tahun 1970, tari gambyong, dan tari gambyong Pancerana pada tahun
1981.
Selain susunan gerak dan fungsinya, perkembangan tari gambyong juga terdapat pada
intensifn kegiatan masyarakat yang menampilkan tari gambyong seperti pada acara perayaan,
resepsi pernikahan, pembukaan, peresmian, penajmauan tamu dan pada kegiatan lomba dan
festival. Perkembangan ini juga ditandai dengan membengkaknya jumlah penari, karena
seringkali tari Gambyong ditampilkan secara massal.
Hal yang menyebabkan tari gambyong bisa berkembang pesat dan diminati oleh masyarakat
luas di antaranya adalah bentuk estetis tari ini yang menarik. Ia mengandung unsur-insur
ketrampilan, keluwesan, kekenesan dan kelincahan seorang wanita. Geraknya lincah dan
cenderung erotis. Nilai estetis ini terdapat pada keharmonisan dan keselarasan antara gerak
dan ritme, khususnya antara gerak dan irama kendang. Estetisme tari Gambyong akan muncul
apabila penarinya menjiwai dan mampu mengekspresikan dengan sempurna, sehingga
melahoirkan gerak tari yang sensual dan erotis. Untuk mencapai ungkapan itu, maka
dibutuhkan para penari yang memenuhi satndar jogged Mataram dan Hasta Swanda. Dengan
demikian diduga kuat, ungkapan erotis-sensual Tari Gambyong inilah yang menjadi daya
tarik di masyarakat Jawa sehingga mudah berekembang. Selain itu juga dipengaruhi oleh
sifat-sifatnya yang njawani, fleksibel dan kondisional.
Kalau ditilik lagi pada awal mula kelahirannya yang berasal dari tari tayub atau tari teledhek,
sebenarnya hampir sama dengan tari ronggeng, lengger atau kethuk tilu, yang katanya untuk
pembangkit birahi dan terkesan erotis (Edi Sedyawati:1984). Atau mungkin, kalau untuk
sekarang, dengan membandingkan gerak energiknya dan kevulgaran sisi erotica dan
seksualita, tari gambyong ini hampir sama dengan goyang ngebor.

Simbol luruhnya otoritarianisme budaya


Secara umum tari Gambyong ini merupakan simbol sirnanya hirarkhi budaya. Dengan ini kita
tahu bahwa yang namanya estetika ternyata tidak bisa dikotak-kotak, dikapling-kapling

apalagi dibag-bagi dalam tingkatan struktur kekuasaan. Spirit estetika itu boleh saja lahir di
wilayah feriveral, namun ia akan melambung dan menerobos wilayah sentral. Dengan
demikian otoritarianisme budaya itu sebenarnya sesuatu yang ahistoris. Kalaupun diakui ada,
itu hanyalah bentuk formalisme atau institusionalismenya. Sementara budaya sendiri yang
lebih mendasarkan diri pada estetika, etika dan logika tidak akan pernah bisa dipagari secara
ketat.
Dalam ruh estetika ini akhirnya menjadi tidak jelas mana batas-batas budayanya wong cilik
dan mana budayanya orang ningrat, mana tradisi keraton mana tradisi pinggiran, mana
khasanah raja mana khasanah rakyat dan seterusnya. Toh ternyata perasaan para bangsawan
juga tidak bisa dibohongi kalau merek juga tertarik dengan tradisi masyarakat pinggiran. Para
raja-raja dan kaum bangsawan yang dalam konteks stratifikasi sosial lebih mendaulatkan diri
sebagai atasan yang lebih tinggi dari masyarakat awam, akhirnya juga tunduk di bawah
keluwesan gerak dan sentuhan erotica, seksualita maupun sensualita Gambyong. Ini artinya
substansi budaya dalam ranah logis, estetis dan etis adalah bersifat universal, dialogis dan
saling mempengaruhi. Sungguh nonsense sebuah budaya atau peradaban, seratus persen, bisa
berdiri secara netral dan otonom. Maka kalau ada segolongan masyarakat elit atau golongan
lain yang masih kukuh dan konserfativ memegang teguh budaya feodalisme
aristokratismenya maupun lokalismenya secara membabi buta, sehingga mudah membuat
jurang narsisme siapa gue dan siapa elo, itu cermin masyarakat yang tak beradab dan tak
berbudaya.
Diposkan oleh Berta Isbandini di 23.00 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

tari lagen mandra wanara

tarian tradisional indonesia


Tari Langen Mandra Wanara (Daerah Istimewa
Yogyakarta)

Asal Usul
Langen Mandra Wanara adalah salah satu bentuk drama tari Jawa yang mempergunakan
materi tari tradisi klasik gaya Yogyakarta. Drama tari yang menggambarkan banyak wanara
(kera) dan berfungsi sebagai hiburan ini merupakan perkembangan dari drama tari yang telah

ada, yaitu Langendriya yang bersumber dari Serat Damarwulan. Keduanya, baik Langendriya
maupun Langen Mandra Wanara, disajikan dalam bentuk tari dengan posisi jengkeng atau
jongkok1) disertai dengan dialog yang berupa tembang macapat. Bedanya, yang sekaligus
merupakan perkembangannya, adalah lakon yang dibawakan. Jika lokan yang dibawakan
dalam tari drama Langendriya bersumber dari ceritera yang lain, maka Langen Mandra
Wanara bersumber dari cerita Ramayana, seperti: Subali Lena, Senggana Duta, Rahwana
Gugur, dan lain sebagainya.
Konon, drama tari Langen Mandra Wanara ini telah ada, bahkan mengalami kejayaan pada
masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Pada masa itu setiap malam di istana
selalu ada kegiatan "gladen" tari atau karawitan, kecuali pada bulan Ramadhan karena bulan
tersebut dianggap sebagai bulan suci, sehingga untuk sementara ditiadakan (dihentikan). Dan,
sebagai penggantinya adalah pembacaan serat babad dalam tembang macapat yang isinya
mengisahkan tentang tokoh-tokoh babad dengan segala jasa dan suri teladannya.
Mengingat bahwa setiap bulan Ramadhan yang membaca serat babad itu hanya seorang,
maka KRT Purwodiningrat mempunyai gagasan agar pembacaaan serat babad dilakukan oleh
beberapa orang. Jadi, setiap orang berperan sebagai tokoh dalam ceritera yang ada di dalam
babad. Gagasan itu mendapat sambutan yang baik karena dirasa pembacaan lebih hidup dan
setiap pembaca ceritera babad dapat menghayati serta memberi karakterisasi terhadap tokoh
yang dibacakannya. Kemudian, gagasan tersebut digabung dengan gagasan Pangeran
Mangkubumi, yaitu penggunaan kostum yang sesuai dengan tokoh yang dibacanya. Posisi
duduk pelaku saling berhadapan. Ketika salah seorang pelaku mendapat giliran membaca,
maka orang tersebut maju dengan jalan jongkok. Perkembangan selanjutnya adalah disertai
dengan tari-tarian.
Sekitar pertengahan abad ke-20, drama tari yang disebut sebagai Langen Mandra Wanara ini
kurang diminati oleh para sutresna. Mereka merasa bahwa menari sambil berjalan dalam
posisi jongkok sangat sulit untuk dikuasai. Namun, atas anjuran Prof Dr. Priyono, menteri
Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Langen Mandra Wanara digiatkan dan ditata kembali
oleh C. Hardjasubrata. Langen Mandra Wanara rakitan baru ini tidak semuanya
mengetengahkan tari dalam posisi "jengkeng", tetapi ada bagian yang dilakukan dengan
berdiri. Selain itu, karya Patih Danurejo VII (Langen Mandra Wanara) yang pada mulanya
semua pelakunya laki-laki, bahkan peran wanita pun dilakukan oleh laki-laki, kini peran
wanitanya dilakukan oleh wanita.
Pemain, Tempat dan Peralatan
Untuk dapat mementaskan Langen Mandra Wanara dibutuhkan sekitar 45 orang yang terdiri
dari 30 orang pemain, 13 orang penabuh gamelan, satu orang waranggana, dan satu orang
dalang. Fungsi dalang adalah sebagai pengatur laku dan membantu para aktor dalam
penyampaian cerita dengan melakukan suluk (monolog). Kostum dan make up yang dipakai
selama pertunjukan mengikuti patron wayang kulit.
Pertunjukan Langen Mandra Wanara biasanya diadakan pada saat ada upacara-upacara,
seperti perkawinan dan hari-hari besar lainnya. Pertunjukkan yang kurang lebih memakan
waktu tujuh jam ini dilakukan pada malam hari dan biasanya bertempat di pendopo dengan
penerangan lampu petromaks atau listrik. Pertunjukan Langen Mandro Wanara biasanya
dilengkapi dengan alat musik gamelan Jawa lengkap (pelog dan selendro).
Langen Mondro Wanoro adalah suatu jenis kesenian tradisional yang
menyerupai wayang orang, akan tetapi berbeda dalam dialog dan

tariannya. Ceritera yang dipentaskan bersumber pada kitab Ramayana


dan satu pertunjukan hanya mengambil bagian-bagian tertentu saja dari
kitab

tersebut,

misalnya

Rahwono

Gugur,

Anggodo

Duto

dan

sebagainya.Kesenian ini biasanya diadakan untuk keperluan upacara upacara perkawinan, memperingati hari besar, dan lain-lain, yang
sekarang sedikit demi sedikit mengalami perubahan dalam bentuk
penyajiannya.
Untuk sebuah pementasan Langen Mondro Wanoro dibutuhkan
pendukung sebanyak 45 orang yang terdiri dari pria dan wanita, yaitu
30 orang sebagai pemain, 13 orang sebagai penabuh gamelan, satu orang
sebagai waranggana dan satu orang sebagai dalang. Fungsi dalang dalam
pertunjukan ini sama dengan fungsi dalang dalam wayang orang, yaitu
sebagai pengatur laku dan membantu aktor dalam penyampaian ceritera
dengan melakukan monolog atau suluk.
Kostum dan make up yang dipakai juga mengikuti patron wayang
kulit. Dalam menyampaikan ceritera para pemain menggunakan dialog
yang dilakukan dengan nembang (menyanyi) sedangkan aktivitasnya di
panggung diwujudkan melalui tarian yang dilakukan dengan jengkeng
(berdiri

di

atas

lutut). Pertunjukan

Langen

Mondro

Wanoro

ini

menggunakan konsep pentas yang berbentuk arena dan biasanya


dilakukan di pendopo.Sebagai alat penerangan kini sudah dipergunakan
petromak.
Alat musik yang dipakai adalah gamelan Jawa lengkap yaitu pelog dan
slendro, atau slendro saja. Pertunjukan dilakukan pada waktu malam hari
selama 7 jam sebelum permainan dimulai biasanya didahului oleh pratontonan yang berupa tetabuhan atau tari-tarian.
Diposkan oleh Berta Isbandini di 22.56 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

TARI RAMAYANA
Persembahan Tarian Ramayana

MENGENAI TARIAN RAMAYANA / RAMAYANA BALLET


Persembahan tarian Ramayana atau lebih popular disebut Ramayana Ballet adalah seni
persembahan yang cantik dan mengagumkan. Persembahan ini mampu menyatukan ragam
kesenian Jawa berupa tari, drama dan muzik dalam satu panggung persembahan untuk
mengetengahkan kisah Ramayana.
Kisah Ramayana yang dibawakan pada persembahan ini serupa dengan yang terpahat pada
dinding Candi Prambanan. Cerita Ramayana yang terpahat di candi Hindu tercantik mirip
dengan cerita dalam tradisi lisan di India. Jalan cerita yang panjang itu dirangkum dalam
empat bahagian cerita, iaitu: penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian
Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama dan Sinta.
Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang
rupawan dengan diiringi muzik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita
dan meneliti setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Tak ada dialog yang
terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan
cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas.
Cerita bermula ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk menentukan pendamping
Dewi Shinta (puterinya) yang akhirnya dimenangi Rama Wijaya. Dilanjutkan dengan
pengembaraan Rama, Shinta dan adik lelaki Rama yang bernama Laksmana di Hutan
Dandaka. Di hutan itulah mereka bertemu Rahwana yang ingin memiliki Shinta kerana
dianggap sebagai jelmaan Dewi Widowati, seorang wanita yang telah lama dicarinya.
Untuk menarik perhatian Shinta, Rahwana mengubah seorang pengikutnya yang bernama
Marica menjadi Kijang. Usaha itu berhasil kerana Shinta terpikat dan meminta Rama
memburunya sementara Shinta ditinggalkan sendirian dan diberi perlindungan berupa
lingkaran sakti agar Rahwana tak boleh menculik. Perlindungan itu gagal kerana Shinta
berjaya diculik setelah Rahwana mengubah diri menjadi sosok Durna.
Di akhir cerita, Shinta berjaya direbut kembali dari Rahwana oleh Hanoman, sosok kera yang
lincah dan perkasa. Namun ketika dibawa kembali, Rama justeru tak mempercayai Shinta
lagi dan menganggapnya telah ternoda. Untuk membuktikan kesucian diri, Shinta diminta
membakar raganya. Kesucian Shinta terbukti kerana raganya sedikit pun tidak terbakar. Rama
pun akhirnya menerimanya kembali sebagai isteri.
Anda tak hanya boleh menjumpai tarian saja, tetapi juga adegan menarik seperti permainan
bola api dan kelincahan penari berakrobat. Permainan bola api yang menawan boleh dijumpai
ketika Hanoman yang semula akan dibakar hidup-hidup justeru berjaya membakar kerajaan
Alengkadiraja milik Rahwana. Sementara akrobat boleh dijumpai ketika Hanoman berperang

dengan para pengikut Rahwana. Permainan api ketika Shinta hendak membakar diri juga
menarik untuk disaksikan.
Di Yogyakarta, terdapat dua tempat untuk menyaksikan Sendratari Ramayana. Pertama, di
Purawisata yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, sebelah timur Kraton Yogyakarta.
Purawisata telah memecahkan rekod Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2002
setelah mementaskan Tarian Ramayana setiap hari tanpa pernah berhenti selama 25 tahun.
Anda juga akan mendapat pakej makan malam sekaligus melihat persembahan tarian
Ramayana. Tempat menonton yang lain adalah di Candi Prambanan, tempat cerita Ramayana
terpahat di relief pada dinding candinya.

Kesenian ini menggabungkan kesenian tarian dan drama. Sehingga menghasilkan tontonan
menarik yang dapat dinikmati dengan mudah. Ceita yang diangkat dalam pertunjukan
kesenian Sendra Tari Ramayana diangkat dari kisah Rama dan Shinta.
Alkisah, negeri Mantili yang dipimpin seorang raja bernama Prabu Janaka (ayah Dewi
Shinta) mengadakan sayembara untuk menentukan calon suami bagi Dewi Shinta. Sayembara
tersebut dimenangkan oleh putra mahkota kerajaan Ayodya, yang bernama Raden Rama
Wijaya. Dan kemudian menikahlah keduanya.
Suatu ketika Rama Wijaya beserta istrinya, dengan disertai Leksmana (adik Rama),
mengembara dan berburu di hutan Dandaka. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan
Sarpakenaka (adik Rahwana) dan terjadilah pertempuran di antara mereka. Sarpakenaka yang
kalah segera melarikan diri dan melaporkan kekalahanya pada kakaknya, yaitu Rahwana. Ia
bercerita bahwa dia telah bertemu dengan seorang wanita cantik yang bersama dua ksatria.
Prabu Rahwana, yang sedang mengadakan pasewakan Agung bersama Kumbokarno,
Indrajid, dan Patih Prahasta, serta rakyat, langsung murka dan memanggil Kalamarica untuk
membantunya membunuh kesatria tersebut.
Sesampainya di hutan Dandaka, Prabu Rahwana tertarik dengan kecantikan Shinta, dan
menganggap Shinta sebagai titisan Dewi Widyowati. Prabu Rahwana pun menginginkan
Shinta untuk dijadikan permaisurinya. Maka dicarilah akal, yaitu dengan merubah
Kalamarica menjadi seekor Kijang Kencana, untuk menggoda Shinta dan para ksatria
Ayodya.
Rencana Prabu Rahwana berhasil. Setelah Shinta melihat keelokan kijang kencana tersebut,
Shinta meminta Rama untuk menagkapnya. Rama pun berusaha menangkap kijang tersebut.

Ia mengejarnya dan meninggalkan Shinta bersama Leksmana.


Setelah lama menunggu, Shinta mulai cemas karena Rama tidak juga kunjung kembali. Ia
lalu meminta Leksmana untuk pergi mencari Rama. Leksmana pun menuruti permintaan
Shinta. Namun sebelum meningalkan Shinta, Leksmana mengelilingi tubuh Shinta dengan
lingkaran magis untuk menjaga keselamatan Shinta.
Sepeniggal Leksmana, Rahwana berusaha menculik Shinta. Usahanya gagal karena Shinta
dilindungi lingkaran magis yang sangat kuat. Kembali Rahwana mencari akal. Rahwana pun
merubah dirinya menjadi Brahmana (petapa) tua. Ia berpura-pura meminta sedekah pada
Shinta. Ketika Shinta mengulurkan tanganya untuk memberikan sedekah, lengan Shinta yang
keluar dari lingkaran pelindungnya langsung ditarik oleh Rahwana, dan cepat-cepat dibawa
menuju Alengka.
Perjalanan Rahwana terhambat oleh seekor burung garuda bernama Jatayu, yang merupakan
sahabat Prabu Janaka. Jatayu langsung menyerang Rahwana. Namun dalam pertempuran,
Jatayu kalah dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat.
Sementara itu, Rama berhasil memanah kijang tersebut, yang langsung berubah kembali
menjadi Kalamarica. Pertempuran pun kembali terjadi. Akhirnya Kalamarica terbunuh oleh
anak panah Rama. Leksmana yang menyusul Rama segera mengajaknya kembali menemui
Shinta. Namun ketika mereka tiba di tempat semula, mereka tidak menemukan Shinta.
Keduanya pun segera mencari keberadaan Shinta.
Dalam perjalanan, mereka menemukan Jatayu yang mengalami luka parah. Rama yang
mengira Jatayu sebagai penculik Shinta hampir saja memanahnya. Namun dicegah oleh
Leksmana. Setelah menceritakan keadaan yang sebenarnya, Jatayu mati di depan Rama dan
Leksmana. Dalam keadaan sedih, datang seekor kera putih bernama Hanoman yang diutus
oleh pamannya, yaitu Sugriwa, untuk mencari ksatria yang dapat membantunya mengalahkan
Subali yan tak lain adalah kakak Sugriwa. Subali telah merebut Dewi Tara kekasihnya.
Karena Sugriwa bukanlah tandingan Subali yang lebih sakti, dia tidak dapat melawannya.
Setelah diceritakan Hanoman, Rama bersedia membantu Sugriwo untuk mengalahkan Subali.
Terjadilah peperangan antara Subali dan anak buahnya dengan Sugriwa yang dibantu Rama
dan Leksmana. Berkat bantuan Rama, Subali dapat dikalahkan, dan Dewi Tara pun kembali
kepangkuan Sugriwa.
Untuk membalas budi, Sugriwa mau membantu Rama, lalu mengutus Hanoman untuk
menyelidiki kerajaan Alengka untuk menyelidiki keberadaan Shinta. Dan sementara itu,
Rama beserta kera-kera berangkat untuk membendung samudra sebagai jalan menuju
Alengka.
Di kerajaan Alengka, Rahwana sedang berusaha membujuk Shinta untuk menjadi istrinya,
namun selalu ditolak oleh Shinta. Hal ini membuat Rahwana marah, dan ingin membunuh
Shinta. Namun dapat dicegah oleh Trijata, kemenakan Rahwana. Trijata berjanji untuk
menjaga Shinta dan akan membujuknya.
Dalam kesedihannya, Shinta dikagetkan dengan tembang yang dinyanyikan oleh Hanoman.
Setelah kehadirannya diketahui Shinta, Hanoman segera menghadap dan menyampaikan

maksudnya sebagai utusan Rama. Setelah menghadap Shinta, Hanoman ingin mengetahui
kekuatan kerajaan Alengka, maka dirusaknya taman kerajaan.
Namun, Hanoman dapat tertangkap oleh Indrajid, putra Rahwana. Hanoman pun dibawa
menghadap Rahwana. Karena marah, Rahwana berniat membunuh Hanoman, namun dicegah
oleh Kumbakarno, adik Rahwana. Karena dianggap menentang, Kumbokarno justru diusir
dari kerajaan. Dan Hanoman dijatuhi hukuman yaitu dibakar hidup-hidup. Namun, bukannya
mati terbakar, Hanoman menggunakan api yang untuk membakar dirinya tersebut untuk
membakar kerajaan Alengka, dan meloloskan diri unuk menemui Rama.
Setelah Rama selesai membendung samudra, Hanoman datang untuk memberitahukan
keadaan kerajaan Alengka dan kekuatan bala tentara Prabu Rahwana. Mendapat laporan
tersebut, Rama Wijaya merasa gembira, dan segera mengutus Hanoman, Anggodo, Anila, dan
Jembawana untuk memimpin prajurit menyerang kerajaan Alengka. Bala tentara yang sedang
berjaga di tepi batas kerajaan, tiba-tiba diserang oleh prajurit kera, sehingga terjadilah perang
campuh yang sangat dahsyat.
Dalam peperangan tersebut, Indrajid dan Kumbakarna sebagai senopati kerajaan Alengka,
gugur terkena panah pusaka Rama, dan dihimpit oleh gunung Sumawang yang dibawa oleh
Hanoman. Rahwana pun mengamuk akibat kematian saudara-saudaranya. Rahwana pun
menantang untuk bertempur Rama. Namun akhirnya, Rahwana pun dapat dikalahkan oleh
Rama, dan gugur di medan tempur.
Setelah usai pertempuran tersebut, Shinta diantarkan Hanoman menemui Rama. Namun,
ternyata Rama menolak, karena meragukan kesucian Shinta selama di Alengka. Maka Rama
meminta Shinta membuktikan kesuciannya. Dan untuk pembuktian, Shinta dengan sukarela
membakar diri. Dan karena kejuuran dan ketulusannya, serta atas bantuan Dewa Api, Shinta
selamat dari kobaran api tersebut. Setelah Rama yakin akan kesucian Shinta, Rama membawa
shinta kembali ke kerajaan Ayodya
Diposkan oleh Berta Isbandini di 22.42 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

TARI JAIPONG
TARI JAIPONG

Tari ini diciptakan oleh seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira, sekitar tahun 1960an, dengan tujuan untuk menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan yang digali dari
kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara, khususnya Jawa Barat. Meskipun termasuk seni tari
kreasi yang relatif baru, jaipongan dikembangkan berdasarkan kesenian rakyat yang sudah
berkembang sebelumnya, seperti Ketuk Tilu, Kliningan, serta Ronggeng. Perhatian Gumbira
pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan
mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran

atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid
dari beberapa kesenian menjadi inspirasi untuk mengembangkan kesenian jaipongan.
Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi
terbentuknya tari pergaulan ini. Di kawasan perkotaan Priangan misalnya, pada masyarakat
elite, tari pergaulan dipengaruhi dansa Ball Room dari Barat. Sementara pada kesenian rakyat,
tari pergaulan dipengaruhi tradisi lokal. Pertunjukan tari-tari pergaulan tradisional tak lepas
dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi
berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara bergaul. Keberadaan
ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum
pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda,
diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat,
kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab,
kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak
tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai
cerminan kerakyatan.
Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang
berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada
seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi,
Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola
tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian
sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng
Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran
diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan
pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan,
nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan
tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing
Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.
Tarian ini mulai dikenal luas sejak 1970-an. Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada
awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan
pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan
warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian
itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Perkembangan

Jaipongan Mojang Priangan


Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser
Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari
berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang
handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal
kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan

yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira
mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di
TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi
pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan
oleh pihak swasta dan pemerintah.
Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni
tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian.
Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk
menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub
malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha
semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan
nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di
Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).
Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas,
dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada
pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di
Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan
Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di
daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu;
2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya
dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi
melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian
pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah
jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum
Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul
Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian
tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati
Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy,
Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.
Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal
ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing
yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian
pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari
Jaipongan. Tari Jaipongan banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di
masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan,
kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern
yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah
diplopori oleh Mr. Nur & Leni.
Diposkan oleh Berta Isbandini di 22.05 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

Selasa, 12 Maret 2013


tari angguk
TARI ANGGUK (YOGYAKARTA)

Asal-usul
Kesenian Angguk merupakan satu dari sekian banyak jenis kesenian rakyat yang
ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian angguk berbentuk tarian
disertai dengan pantun-pantun rakyat yang berisi pelbagai aspek kehidupan
manusia, seperti: pergaulan dalam hidup bermasyarakat, budi pekerti, nasihatnasihat dan pendidikan. Dalam kesenian ini juga dibacakan atau dinyanyikan
kalimat-kalimat yang ada dalam kitab Tlodo, yang walaupun bertuliskan huruf Arab,
namun dilagukan dengan cengkok tembang Jawa. Nyanyian tersebut dinyanyikan
secara bergantian antara penari dan pengiring tetabuhan. Selain itu, terdapat satu
hal yang sangat menarik dalam kesenian ini, yaitu adanya pemain yang ndadi atau
mengalami trance pada saat puncak pementasannya. Sebagian masyarakat
Yogyakarta percaya bahwa penari angguk yang dapat ndadi ini memiliki jimat
yang diperoleh dari juru-kunci pesarean Begelen, Purworejo.
Tarian angguk diperkirakan muncul sejak zaman Belanda 1, sebagai ungkapan rasa
syukur kapada Tuhan setelah panen padi. Untuk merayakannya, para muda-mudi
bersukaria dengan bernyanyi, menari sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari
sinilah kemudian melahirkan satu kesenian yang disebut sebagai angguk. Tari
angguk biasa digelar di pendopo atau di halaman rumah pada malam hari. Para
penontonnya tidak dipungut biaya karena pertunjukan kesenian angguk umumnya
dibiayai oleh orang yang sedang mempunyai hajat (perkawinan, perayaan 17
Agustus-an dan lain-lain).
Jenis-jenis Angguk dan Pemain
Tarian yang disajikan dalam kesenian angguk terdiri dari dua jenis, yaitu: (1) tari
ambyakan, adalah tari angguk yang dimainkan oleh banyak penari. Tarian ambyakan
terdiri dari tiga macam yaitu: tari bakti, tari srokal dan tari penutup; dan (2) tari
pasangan, adalah tari angguk yang dimainkan secara berpasangan. Tari pasangan
ini terdiri dari delapan macam, yaitu: tari mandaroka, tari kamudaan, tari cikalo ado,
tari layung-layung, tari intik-intik, tari saya-cari, tari jalan-jalan, dan tari robisari.
Pada mulanya angguk hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja. Namun, dalam
perkembangan selanjutnya tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Para
pemain angguk ini mengenakan busana yang terdiri dari dua macam, yaitu busana
yang dikenakan oleh kelompok penari dan busana yang dikenakan oleh kelompok
pengiring. Busana yang dikenakan oleh kelompok penari mirip dengan busana
prajurit Kompeni Belanda, yaitu: (1) baju berwarna hitam berlengan panjang yang
dibagian dada dan punggunya diberi hiasan lipatan-lipatan kain kecil yang

memanjang serta berkelok-kelok; (2) celana sepanjang lutut yang dihiasi pelet
vertikal berwarna merah-putih di sisi luarnya; (3) topi berwarna hitam dengan pinggir
topi diberi kain berwarna merah-putih dan kuning emas. Bagian depan topi ini
memakai jambul yang terbuat dari rambut ekor kuda atau bulu-bulu; (3) selendang
yang digunakan sebagai penyekat antara baju dan celana; (4) kacamata hitam; (5)
kaos kaki selutut berwarna merah atau kuning; dan (6) rompi berwarna-warni.
Sedangkan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring adalah: (1) baju biasa;
(2) jas; (3) sarung; dan (4) kopiah.
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Angguk diantaranya adalah:
(1) kendang; (2) bedug; (3) tambur; (4) kencreng; (5) rebana 2 buah; (6) terbang
besar dan (6) jedor.
Nilai Budaya
Seni apa pun pada dasarnya mengandung nilai estetika, termasuk seni tari
angguk.yang ada di kalangan masyarakat Yogyakarta. Namun demikian, jika
dicermati secara seksama kesenian ini hanya bernilai estetis dan berfungsi sebagai
hiburan semata. Akan tetapi, justuru yang menjadi rohnya adalah nilai kesyukuran.
Dalam konteks ini adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
kemurahannya (memberi hasil panen yang melimpah). (gufron)
Diposkan oleh Berta Isbandini di 23.48 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

tari srimpi

Tari Serimpi adalah jenis tarian tradisional Daerah Jawa Tengah. Tarian ini diperagakan oleh
empat orang penari yang semuanya adalah wanita. Jumlah ini sesuai dengan arti kata serimpi
yang berarti 4. Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi empat penari sebagai simbol
dari empat penjuru mata angin yakni Toya (air), Grama (api), Angin(udara) dan Bumi (tanah).
Sedangkan nama peranannya adalah Batak, Gulu, Dhada dan Buncit yang melambangkan
tiang Pendopo.
Nama serimpi sendiri oleh Dr. Priyono dikaitkan dengan akar kata impi atau mimpi.
Gerakan lemah gemulai tarian serimpi yang berdurasi hingga 1 jam itu dianggap mampu
membawa para penonton ke alam lain (alam mimpi). Konon, munculnya tari Serimpi berawal
dari masa kejayaan Kerajaan Mataram, saat Sultan Agung memerintah antara 1613-1646.
Dan tarian ini dianggap sakral karena hanya dipentaskan dalam lingkungan keraton sebagai

ritual kenegaraan hingga peringatan Naik Takhta Sultan.


Namun pada tahun 1775, ketika Kerajaan Mataram pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta
dan Kesultanan Surakarta, tari serimpipun kemudian terbagi menjadi dua aliran yakni gaya
Kesultanan Yogyakarta dan Gaya Kesultanan Surakarta. Tari Serimpi di Kesultanan
Yogyakarta digolongkan menjadi Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel, Serimpi Genjung.
Sedangkan di Kesultanan Surakarta digolongkan menjadi Serimpi Anglir Mendung dan
Serimpi Bondan.
Sebagai tari klasik di kalangan istana Yogyakarta, Tari Serimpi telah menjadi seni yang
adhiluhung serta dianggap sebagai pusaka Kraton. Tema yang ditampilkan pada Tari Serimpi
menggambarkan pertikaian antara dua hal yang bertentangan yakni antara baik dan buruk,
benar dan salah, akal manusia dan nafsu manusia. Ekspresi peperangan dalam tarian ini
terlihat jelas dalam gerakan yang sama dari dua pasang prajurit ditunjang properti berupa
senjata antara lain keris kecil atau cundrik, jebeng, tombak, jemparing dan pistol.
Kostum yang digunakan adalah kostum pengantin puteri Kraton Yogyakarta yakni dengan
dodotan dan gelung bokor sebagai motif hiasan kepala. Namun seiring perkembangan jaman
telah beralih menggunakan kain seredan dan baju tanpa lengan dengan hiasan kepala
berjumbai bulu burung kasuari serta gelung dengan ornamen bunga ceplok dan jebehan.
(Sumarti)
Diposkan oleh Berta Isbandini di 23.47 1 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Posting Lama Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Arsip Blog

2013 (9)
o Maret (9)

tarian keraton yogyakarta

Tari gambyong

tari lagen mandra wanara

TARI RAMAYANA

TARI JAIPONG

tari angguk

tari srimpi

tari golek menak

Tari golek menak

Mengenai Saya

Berta Isbandini
Lihat profil lengkapku
Template Watermark. Diberdayakan oleh Blogger.

Anda mungkin juga menyukai