Anda di halaman 1dari 6

Pembagian Tugas

2. Dwitiya Bagus W

A. Wonderware
1. Satria Bagas
Stasiun Penguapan (Evaporation ) (
2. Soca Baskara
Evaporator )
B. Labview
Sensor :
1. Bambang Muharto
1. Suhu
2. Arief Wijaksano
2. Tekanan
C. Fluidsim
3. Kelembaban
1. Andri Nura
Stasiun ini bertugas untuk menguapkan air yang terdapat dalam nira encer agar nira
nenjadi kental dengan konsentrasi hampir jenuh sekitar 30-32 Be atau sekitar 60% Brix. Air
pada nira harus dihilangkan agar proses kristalisasi terjadi lebih cepat dan harus dijalankan
secara kontinyu agar beban pada Evaporator tidak terlalu berat. Jika kekentalan nira kurang
dari 32 Be maka akan memperlambat proses pemasakan nira.
Pabrik ini memiliki 1 Pre-evaporator dan 8 Evaporator.Namun dalam prosesnya hanya
1 Pre-evaporator dan 5 Evaporator yang digunakan.Sedangkan 3 sisanya digunakan sebagai
cadangan bila Evaporator yang bekerja mengalami trouble atau bilaEvaporator yang bekerja
perlu maintenance. Ke 5 Eveporator bekerja secara kontinyu. Ini dilakukian kerena jumlah air

yang terkandung dalam nira cukup besar yaitu sekitar 80-90%, maka proses penguapan ini perlu
dilakukan sebanyak-banyaknya dan seefektif mungkin.
Prinsip kerja Pre-evaporator dan evaporator adalah menguapkan sebagian besar
kandungan air yang ada dalam nira dengan menggunakan uap sebagai pemanasnya, dengan
menggunakan system quintiple effect (5 seri) dengan pararel badan akhir. Dimana nira dan uap
mengalir secara bersama dari Evaporator yang satu ke Evaporatorberikutnya. Nira dan uap
(steam) tidak berkontak langsung melainkan keduanya dipisahkan oleh rangkaian pipa nira yang
tersusun seri, sehingga hanya terjadi proses perpindahan (transfer) panas dari uap ke nira
dalam rangkaian pipa. Pre-evaporatordipakai dengan susunan tunggal (single effect)
sedangkan evaporator dengan susunan berangkai (multiple effect). Berikut proses yang terjadi
pada stasiun penguapan:
a.
Pre-evaporator
Pada proses Pre-evaporator ini nira yang berasal dari Heater III di Stasiun Pemurnian
dipompa masuk ke dalam Pre-evaporator. Uap yang digunakan pada proses ini adalah uap
bekas gilingan dan turbin dengan suhu 117C dan tekanan 0,8-1 kgf/cm. Suhu dan tekanan
ruang badan Pre-evaporator adalah 110C dan 0,5 kgf/cm. Nira (dengan konsentrasi 15-16%
Brix) dari Pre-evaporator ini akan mengalir dengan bantuan pompa ke Evaporator 1. Uap
hasilpemanasan nira diPre-evaporator digunakan untuk pemanas di Pan Masakan.

a.

Evaporator 1
Pada Evaporator 1 ini pemanas yang digunakan berasal dari uap bekas dari turbin dan
gilingan, sama seperti pada Pre-evaporator. Dengan suhu 117C dan tekanan 0,8-1 kgf/cm.
Suhu dan tekanan ruang badan Evaporator 1 adalah 108-110C dan 0,4-0,5 kgf/cm. Konsentrasi
nira yang keluar dari Evaporator 1adalah 18% Brix. Selanjutnya uap dan nira akan dialirkan
ke Evaporator 2 secara otomatis karena adanya perbedaan tekanan.
b.
Evaporator 2
Pemanas yang digunakan pada Evaporator 2 ini menggunakan uap bekas
dari Evaporator 1. Suhu dan tekanan ruang badan Evaporator 2 berkisar antara 100-102C dan
0,1 kgf/cm. Konsentrasi nira yang keluar dari Evaporator 2antara 20-25% Brix. Selanjutnya uap
dan nira akan dialirkan ke Evaporator 3secara otomatis karena adanya perbedaan tekanan.

d.

Evaporator 3
Pemanas yang digunakan pada Evaporator 3 ini menggunakan uap bekas
dari Evaporator 2. Suhu ruang badan Evaporator 3 berkisar antara 70-85C dengan tekanan
ruang vakum 30 cmHg. Proses pemvakuman dilakukan dengan pompa vakum. Kondisi ini
bertujuan untuk mencapai titik didih nira. Konsentrasi nira yang keluar dari Evaporator 4
berkisar antara 36-40% Brix. Selanjutnya uap dan nira dari Evaporator 3 dialirkan ke boiler.
Dari keseluruhan proses penguapan , Evaporator 1-3 menghasilkan suatu air
kondensat. Air kondensat ada 2 macam, yaitu air kondensat yang mengandung gula dan air
kondensat yang tidak mengandung gula. Air kondensat yang mengandung gula akan digunakan
dalam proses pemasakan berikutnya dan yang tidak mengandung gula akan digunakan untuk
ketel uap.

Kesimpulan : proses evaporasi digunakan untuk menghasilkan partikel uap nira yang lebih
halus.
Stasiun Pemasakan( Boiling ) (Boiler)
Sensor :
1. Suhu
2. Tekanan
Pemasakan bertujuan untuk mengkristalkan gula atau mengubah bentuk sukrosa dari zat
terlarut dalam nira menjadi padat berbentuk kristal gula. Stasiun Masakan merupakan proses
penguapan air lebih lanjut dari nira kental yang dihasilkan pada Stasiun Penguapan.
Pada Pan masakan terjadi proses penguapan untuk membuat nira kental menjadi lewat jenuh
sehingga sukrosa mengkristal. Untuk menghindari rusaknya sukrosa proses dilakukan pada
tekanan vakum 60-65 mmHg dan suhu pemanasan sekitar 60-70C. Stasiun Masakan di Ppabrik
ini memiliki 13 pan masakan.
Proses kristalisasi dalam pan masakan dilakukan terjadi dengan cara penambahan bibit
kristal yang disebut fondant. Inti Kristal ini akan membesar sehingga menjadi kristal yang
diinginkan. Kristal-kristal ini akan diperbesar dengan penambahan nira kental. Nira kental yang
akan masuk Stasiun Masakan harus memenuhi standar kekentalan (Be), yaitu berkisar antara

29-30Be. Bahan masakan tiap tahap masakan (D, D, C, A, dan A) berbeda-beda berdasarkan
Harga Kemurnian (HK) masakan yang diinginkan (HK Target).
Dari proses kristalisasi di Stasiun Masakan diperoleh larutan kristal gula yang
disebut Masecuite yang selanjutnya akan diproses lagi di Stasiun Puteran. Selain itu diperoleh
hasil samping berupa air kondensat yang dimanfaatkan sebagai air umpan di stasiun ketel.

Stasiun Kristalisasi (Crystalliser) dan pemutara ( Sentrifugal )


Sensor :
1. Kecepatan
Stasiun ini bertugas memisahkan kristal gula dari larutan sirup dalam Massecuitedengan
cara penyaringan sentrifugal. Secara umum, putaran terdiri dari dinding yang berupa saringan
dan dihubungkan dengan sumbu yang berputar sehingga ketika sumbu berputar dan
terdapat Massecuite didalamnya, maka larutannya akan terlempar ke dinding saringan karena
adanya gaya sentrifugal. Kristal gula yang memiliki diameter lebih besar daripada diameter
lubang saringan akan tertahan, sedangkan larutan sirup akan melewati saringan, sehingga akan
diperoleh kristal gula yang menempel pada saringan. Sedangkan larutan (stroop) akan keluar
menembus saringan dan jatuh kedalam penampung.
Nira kental yang airnya sebagian besar sudah diuapkan pada evaporator, kemudian
dikristalkan dalam bejana silindris yang disebut pan masak (Gambar 10). Pan masak adalah
suatu bejana vakum dengan bagian dilengkapi tubular heat exchanger. Bagian atas pan masak
merupakan tempat masakan yang dihubungkan dengan peralatan vakum (kondensor).
Untuk menghasilkan gula berkualitas baik, brix brix adalah jumlah zat padat semu yang
larut (dalam gr) setiap 100 gr larutan. nira kental harus tinggi agar proses kristalisasi berjalan
efisien dan warna nira kental harus terang (jernih). Kristalisasi bertujuan untuk mengambil gula
dalam bentuk kristal dari nira kental. Larutan nira kental diuapkan secara perlahan-lahan dalam
bejana vakum, sampai pada tingkat kejenuhan tertentu. Selanjutnya, bibit gula dalam ukuran
tertentu ditambahkan secukupnya sehingga akan mendorong proses pembesaran kristal
sukrosa dari larutan nira. Kondisi terus dipertahankan dengan cara mengatur penguapan dan
umpan nira kental secara seimbang. Setelah kristal mencapai ukuran tertentu, penguapan
diteruskan hingga mencapai brix tertentu. Campuran kristal dan larutan gula (mother liquor)

dinamai masakan. Kristal dipisahkan dari mother liquor (sirup) dengan cara sentrifugasi. Proses
masak pada PG-PG di Jawa Timur umumnya dilakukan secara bertingkat, yaitu: A, C dan D.
Masakan A
Proses masak tahap pertama dengan menggunakan bahan baku nira mentah dinamakan
masakan A. Bibit gula dalam proses masak A adalah gula hasil proses masakan C, dengan
dengan ukuran kristal sekitar 0,4 mm. Kristal yang dihasilkan dari proses masak ini disebut gula
A dan sirupnya disebut sirup A. Gula A dicampur dengan air atau klare dipisahkan dengan mesin
sentrifugal menghasilkan gula putih dan larutan klare. Gula putih selanjutnya dikeringkan dan
dikemas sebagai gula produk.
Masakan C
Didalam sirup A masih terkandung banyak sukrosa yang belum jadi kristal. Sukrosa
tersebut kemudian diambil kembali melalui proses masak berbahan baku sirup A atau biasa
disebuit masakan C. Pada proses masakan C, bibit yang digunakan adalah gula D dengan ukuran
kristal sekitar 0,2 mm. Proses masak berlangsung sebagaimana pada masakan A, namun karena
kandungan sukrosa pada sirup A sudah menurun, maka kristalisasi pada masak C butuh waktu
lebih lama. Gula C diambil dengn cara sentrifugasi, sedangkan sirupnya digunakan untuk bahan
baku pada masak D.
Masakan D
Masakan D bisanya menggunakan bahan baku campuran sirop C dan sirup A. Proses
masak D berlangsung jauh lebih lama dibanding masak A, karena tingkat kemurnian sukrosa
bahan yang digunakan rendah. Khusus untuk masakan D, setelah turun dari bejana masak
dilanjutkan dengan kristalisasi lanjut dengan pendinginan di palung pendingin sampai lebih dari
24 jam.Setelah dipisahkan di mesin sentrifugal, gula D dilebur kembali dan dicampur dengan
nira kental dan sirup D atau lebih dikenal dengan tetes.
Deskripsi sistem
Proses Kristalilasi gula pasir dimulai dengan nira murni yang diuapkan pada evaporator.Pada
sistem yang dibuat menggunakan 3 evaporator.Evaporator menggunakan sensor suhu,
kelembaban dan tekanan. Proses evaporator berlangsung sekuensial dimulai dari evaporator I
yang mempunyai tekanan dan suhu yang paling tinggi, selanjutnya uap nira akan mengalir ke
evaporator II yang mempunyai tekanan yang lebih kecil dan setelah itu akan mengalir ke
evaporator III.
Dari evaporator III, uap nira akan masuk ke boiler untuk dipanaskan. Sensor yang digunakan
adalah sensor suhu dan sensor tekanan.Untuk menghindari rusaknya sukrosa proses dilakukan
pada tekanan vakum 60-65 mmHg dan suhu pemanasan sekitar 60-70C.
Selanjutnya adalah proses kristalisasi, Nira kental yang airnya sebagian besar sudah diuapkan
pada evaporator, kemudian dikristalkan dalam bejana silindris . Bejana silindris diputar
sehingga Kristal gula yang memiliki diameter lebih besar daripada diameter lubang saringan
akan tertahan, sedangkan larutan sirup akan melewati saringan, sehingga akan diperoleh kristal
gula yang menempel pada saringan.

1. Jelaskan bbrp pengertian berikut:


a. Otomasi industry
b. Sistem produksi dan jenisnya
c. Sistem otomasi dan jenisnya
2. Jelaskan diagram sistem otomasi industry serta berikan contohnya
3. Jelaskan bbrp hal yg perlu diperhatikan utk membuat otomasi dr suatu sistem industry
4. Jelaskan sistem kendali di industry dan berikan contohnya utk tiap jenisnya
5. Apa saja yg perlu diperhatikan dlm suatu sistem pengukuran utk kepentingan otomasi industry
6. Berikan contoh industry yg bisa dilakukan otomasi dan jelaskan sistem kerjanya.