Anda di halaman 1dari 3

Analisis Sperma adalah suatu pemeriksaan yang penting untuk menilai fungsi organ reproduksi

pria (untuk mengetahui apakah seorang pria fertil atau infertil). Semen harus diperiksa dari
seluruh ejakulat. Karena itu mengambilnya dari tubuh harus dengan masturbasi atau coitus
interuptus ( bersetubuh dan waktu ejakulasi,persetubuhan dihentikan dan mani ditampung
semua). Ada juga bersetubuh dengan menggunakan kondom khusus. Sebelum melakukan
pemeriksaan disarankan untuk berpuasa bersetubuh ( abstinensi ) terbaik sekitar 3-5 hari.
Pemeriksaan semen terbaik selambatnya sejam sesudah ejakulasi.
Apakah semen?
Semen adalah cairan putih atau abu-abu, terkadang kekuningan, yang dikeluarkan dari uretra
(pipa di dalam penis) pada saat ejakulasi. Fungsi semen adalah membawa jutaan sperma ke
dalam saluran reproduksi wanita.
Karakteristik Semen
Menurut WHO, berikut adalah empat kriteria yang dilihat dalam pengujian semen:
1. Volume
Pria subur rata-rata mengeluarkan 2 hingga 5 cc semen dalam satu kali ejakulasi. Secara
konsisten mengeluarkan kurang dari 1,5 cc (hypospermia) atau lebih dari 5,5 cc (hyperspermia)
dikatakan abnormal. Volume lebih sedikit biasanya terjadi bila sangat sering berejakulasi,
volume yang lebih banyak terjadi setelah lama berpuasa.
2. Konsentrasi sperma
Pria subur memiliki konsentrasi sperma di atas 20 juta per cc atau 40 juta secara keseluruhan.
Jumlah di bawah 20 juta/cc dikatakan konsentrasi sperma rendah dan di bawah 10 juta/cc
digolongkan sangat rendah. Istilah kedokteran untuk konsentrasi sperma rendah adalah
oligospermia. Bila sama sekali tidak ada sperma disebut azoospermia. Semen pria yang tidak
memiliki sperma secara kasat mata terlihat sama dengan semen pria lainnya, hanya pengamatan
melalui mikroskoplah yang dapat membedakannya.
3. Morfologi Sperma
Sperma normal memiliki bentuk kepala oval beraturan dengan ekor lurus panjang di tengahnya.
Sperma yang bentuknya tidak normal (disebut teratozoospermia) seperti kepala bulat, kepala
pipih, kepala terlalu besar, kepala ganda, tidak berekor, dll, adalah sperma abnormal dan tidak
dapat membuahi telur. Hanya sperma yang bentuknya sempurna yang disebut normal. Pria
normal memproduksi paling tidak 30% sperma berbentuk normal.
4. Motilitas (Pergerakan) Sperma
Sperma terdiri dari dua jenis, yaitu yang dapat berenang maju dan yang tidak. Hanya sperma
yang dapat berenang maju dengan cepatlah yang dapat mencapai sel telur. Sperma yang tidak
bergerak tidak ada gunanya. Menurut WHO, motilitas sperma digolongkan dalam empat
tingkatan:
Kelas a: sperma yang berenang maju dengan cepat dalam garis lurus seperti peluru kendali.
Kelas b: sperma yang berenang maju tetapi dalam garis melengkung atau bergelombang, atau
dalam garis lurus tetapi lambat.
Kelas c: sperma yang menggerakkan ekornya tetapi tidak melaju.
Kelas d: sperma yang tidak bergerak sama sekali.
Sperma kelas c dan d adalah sperma yang buruk. Pria yang subur memproduksi paling tidak 50%
sperma kelas a dan b. Bila proporsinya kurang dari itu, kemungkinan akan sulit memiliki anak.

Motilitas sperma juga dapat terkendala bila sperma saling berhimpitan secara kelompok sehinga
menyulitkan gerakan mereka menuju ke sel telur.
Penghitungan Sperma (Sperm Count)
Kesuburan pria ditentukan oleh kombinasi keempat kriteria di atas, yaitu jumlah sperma
berbentuk sempurna dalam semennya yang dapat bergerak agresif. Misalnya, seorang pria yang
memproduksi 20 juta sperma per ml, 50% -nya bermotilitas bagus dan 60% -nya berbentuk
sempurna, maka dia dikatakan memiliki hitungan sperma 20 x 0,5 x 0,6 = 6 juta sperma bagus
per ml. Bila volume ejakulasinya adalah 2 ml, maka total sperma bagus dalam sampelnya adalah
12 juta.
Setelah Anda melakukan analisis sperma, kini tiba saatnya membaca hasil analisis sperma
tersebut untuk mengetahui tingkat kesuburan Anda:
Untuk pengetahuan Anda, standar yang telah ditetapkan WHO adalah:
Volume : 2 ml atau lebih
pH : 7,2 sampai dengan 8,0
Konsentrasi spermatozoa: 20 juta spermatozoa / ml atau lebih
Jumlah total spermatozoa : 40 juta spermatozoa per ejakulasi atau lebih
Motilitas spermatozoa : Dalam waktu 1 jam setelah ejakulasi, sebanyak 50% dari jumlah total
spermatozoa yang hidup, masih bergerak secara aktif.
Morfologi permatozoa : 30% atau lebih memiliki bentuk yang normal
Vitalitas spermatozoa : 75% atau lebih dalam keadaan hidup
Jumlah sel darah putih : lebih sedikit dari 1 juta sel/ml
Dari standar yang telah disebutkan tersebut, dokter akan membuat suatu simpulan yang akan
diterima oleh Anda sebagai hasil analisis sperma. Adapun macam dan definisi dari kesimpulan
tersebut adalah:
1. Normozoospermia: Karakteristik normal.
2. Oligozoospermia: Konsentrasi spermatozoa kurang dari 20 juta per ml.
3. Asthenozoospermia: Jumlah sperma yang masih hidup dan bergerak secara aktif, dalam waktu
1 jam setelah ejakulasi, urang dari 50%.
4. Teratozoospermia: Jumlah sperma dengan morfologi normal kurang dari 30%.
5. Oligoasthenoteratozoospermia: Kelainan campuran dari 3 variabel yang telah disebutkan
sebelumnya.
6. Azoospermia: Tidak adanya spermatozoa dalam sperma
7. Aspermia: Sama sekali tidak terjadi ejakulasi sperma
Dari interpretasi inilah, awal masalah ketidaksuburan sebuah pasangan dapat terungkap. Dengan
demikian, dokter dan timnya akan dapat membuat suatu rencana pengobatan untuk menjadi
solusi ketidaksuburan seorang pria.
Apabila hasil analisis sperma menyatakan nilai normal, kemungkinan besar penyebab
ketidaksuburan terdapat pada sang wanita. Oleh karena itu, analisis kesuburan wanita dapat
dijalankan sebagai langkah lanjut.
Berikut ini beberapa hal yang akan diperiksa saat analisis sperma di lakukan:

Hitungan sperma (sperm count). Angka yang normal untuk ini adalah 200 juta per sentimeter
kubik.
Kelincahan gerak (motilitas). Uji ini, yang diberi nilai dari buruk sampai istimewa,
menyatakan tingkat aktivitas sperma. Jika sperma tidak bergerak, mereka tidak dapat sampai ke
telur. Sederhana sekali.
Morfologi. Ini memberi informasi tentang bentuk sperma anda. Bisa mikro (dalam hal ini
berarti terlalu kecil), bisa makro (dalam hal ini berarti terlalu besar). Ukuran yang diharapkan
adalah sedang.
pH. Semen harus bersifat agak basa -7,0 hingga 8,5.
Viskositas. Semen harus mudah dituang.
Volume. Yang normal dalam hai ini adalah dua hingga lima sentimeter kubik (kira-kira 1/2
hingga 1 sendok teh).