Anda di halaman 1dari 5

Bab 1

Pasang surut
1.1 Umum
Dalam rekayasa pengembangan kawan di daerah pantai, reklamasi lahan pasang surut,
reklamasi daerah delta dan perencanaan pelabuhan, maka pengetahuan tentang pasang surut
sangatlah penting. Pasang surut terutama terjadi karena gaya tarik bulan, matahari, dan
planet-planet lainnya. Pengaruh gaya gravitasi yang berbeda-beda dapat diprediksi dengan
tepat karena gerakan rotasi dan revolusi bumi, bulan, matahari, dan planet-planet lainnya
berlangsung dengan keteraturan yang sangat tinggi. Periode pasang surut setiap hari terutama
ditentukan oleh rotasi bumi yang berperiode 24 jam. Dalam waktu bersamaan bulan
mengelilingi bumi (ber-revolusi) kurang lebih sekali dalam 28 hari. Dengan demikian suatu
titik di bumi akan menghadap ke bulan sekali dalam 24 jam 51 menit, selisih waktu 51 menit
menyebabkan besar gaya tarik bulan bergeser terlambat 51 menit dari air tinggi yang
ditimbulkan oleh gaya tarik matahari. Bidang dimana bumi berotasi mengelilingi matahari
disebut bidang eliptis, sudut inklinasi bumi terhadap bidang eliptis ini sebesar 66.50
sedangkan sudut inklinasi bulan terhadap rotasi bumi adalah 509. Posisi bulan dengan jarak
terdekat terhadap bumi disebut perigee dan jarak terjauh disebut apogee. Kondisi pasang
akan terjadi pada saat perigee, sebaliknya kondisi surut terjadi pada saat apogee. (1)

Perbandingan factor pengaruh bulan dan matahari, terhadap permukaan laut di bumi sesuai
dengan gaya-gaya yang bekerja satu sama lainnya, secara teoritis dengan beberapa anggapan
antara lain kedalaman air pada muka bumi homogen, mengabaikan geseran, viskositas, dan
beberapa asumsi merata, maka bila: m1= masa bumi= 4,1.1023 slugs; m2= massa bulan=
0,0125 m1; m3= massa matahari = 319,500 m1; d= diameter bumi = 7.926 mil ; L1 = jarak
bumi-bulan = 30d ; L2 = jarak bumi-matahari = 11.600d ; Perbandingan tersebut adalah:
Gayatarik /bumi
F 1 m1. m2 m1. m3
=
=
:
=2,26:1
Gaya tarik mata h ari/bumi F 2
L 12
L 22

Menurut perhitungan yang lebih teliti nilai perbandingan tersebut adalah 2,34:1 (2,5:1,
Darmanto 1988). Hukum gaya tarik tersebut mengikuti hokum gaya tarik yang oleh Newton
(1687) dinyatakan sebagai berikut:

F=G

m1. m 2
X2

Dengan:
F = gaya tarik-menarik (Newton)
G = Konstanta gravitasi (67x10-12m3kg-1s-2).
m1,2 = massa benda 1 dan 2 (kg)
x = jarak antara kedua benda (m)
Bila suatu benda dipermukaan bumi dengan massa m, maka jarak benda tersebut ke pusat
bumi adakah sama dengan jejari bumi r = 6.23x106 m. Besarnya gaya tarik bumi yang terasa
sebagai berat benda adalah (Nizam, 1994):
F = mg = G

m .m e

G=

g r2
me

r2
Massa bumi 5.98x1024 kg.
Massa bulan 0.0123 kali massa bumi (mm = M x me), jarak pusat bumi-pusat bulan adalah
63.3 kali jejari bumi (rme = Kre). Dengan demikian gaya tarik-menarik yang terjadi antara dua
benda angkasa tersebut adalah:
F=G

me . me
rme
2

gM m e
K2

R6 merupakan index untuk mengklasifikasikan apakah suatu daerah pasang surutnya signifikan
atau tidak. Umumnya dipakai klasifikasi berikut:
Tideless R6 < 0.91 (m)
Micro tidal 0.91 < R6 < 2.13 (m)
Meso tidal 2.13 < R6 < 4.27 (m)
Macro tidal 4.27 < R6
Defant (1938) membagi pasang surut menjadi 4 jenis berdasarkan besarnya angka bentuk
(form number), yaitu perbandingan antara jumlah amplitude komponen K1 dan O1 dengan

jumlah amplitude komponen M2 dan S2, yang dinyatakan dalam persamaan (ITB, 1988) (dalam
Suhardjono, 1997).:

F=

Z ( K 1) + Z(O 1)
Z( M 2)+ Z (S 2)

Gambar 2-6 menunjukkan macam pasang surut, yang didasarkan pada kriteria angka
bentuk adalah sebagai berikut:

F < 0.25 :

Pasang harian ganda (semi diurnal). Dalam 1 hari terjadi 2 kali air pasang

0.25 < F < 1.5 :

dan 2 kali air surut, dengan ketinggian hamper sama.


Campuran, terutama semi diurnal. Dalam 1 hari terjadi 2 kali air pasang

1.5 < F < 3.0 :

dan 2 kali air surut dengan ketinggian berbeda.


Campuran, terutama diurnal. Dalam 1 hari terjadi 1 kali air pasang dan 1
kali air surut. Kadang-kadang terjadi 2 kali air pasang dalam 1 hari

dengan
F > 3.0 :

perbedaan yang besar pada tinggi dan waktu.


Pasang harian tunggal (diurnal). Dalam 1 hari terjadi 1 kali air pasang dan
1 kali air surut.

Sebagai contoh pada Gambar 2-9., komponen pasang surut Z (K1) = 0.72, Z(O1) = 0.51,
Z(M2) = 0.28, dan Z(S2) = 0.16, sehingga didapat angka F = 2.9. Berarti pasang surut tersebut
termasuk jenis campuran, terutama diurnal (mixed, predominantly diurnal tide), (Kurk C.B,
1983, dalam Suhardjono, 1997).