Anda di halaman 1dari 92

METODE PELAKSANAAN

PROYEK :
Pembangunan Gedung Dua Lantai
Disperindagkop & UKM DIY
Jl.kusumanegara No. 126 yogyakarta

METODE PELAKSANAAN
PEMBANGUNAN GEDUNG 2 LANTAI DISPERINDAGKOP & UKM DIY
Jl.Kusumanegara no. 126 Yogyakarta

A. PEKERJAAN PERSIAPAN
A.1

Pendahuluan

Proyek Pembangunan Pembangunan Gedung 2 Lantai DISPERINDAGKOP & UKM DIY ini merupakan
Pekerjaan yang dibiayai dari sumber pendanaan : APBD DIY 2015. Jangka Waktu penyelesaian pekerjaan
tersebut direncanakan berlangsung selama 90 (sembilan puluh ) hari kalender atau setara 3 (tiga) bulan.

A.2

Lingkup Pekerjaan

Secara umum Komplek Bangunan ini merupakan bangunan baru di Jl.Kusumanegara no. 126
Yogyakarta, nantinya akan meliputi pekerjaan : Pembangunan Gudang Kantor, Lanskap, dan Bengkel.

A.3

Tahap Pelaksanaan Umum

Kontraktor Pelaksana akan menyiapkan dan menyampaikan hal-hal berikut : gambar-gambar, dokumendokumen dan informasi yang diperlukan jika hal tersebut tercantum dalam Dokumen Kontrak kepada
Konsultan Pengawas untuk dimintakan persetujuannya :
a. Gambar konstruksi dan gambar kerja
b. Metode pelaksanaan konstruksi
c. Data-data produk material
Bilamana dokumen-dokumen tersebut diatas disyahkan oleh Konsultan Pengawas, maka akan
merupakan bagian daripada Spesifikasi Teknis dari Kontrak. Seluruh jenis pekerjaan dilaksanakan sesuai
dengan elevasi, dimensi dan detail yang ditampakkan pada Gambar Konstruksi yang sudah disyahkan.
Apabila diperlukan oleh Konsultan Pengawas untuk melaksanakan suatu item pekerjaan tertentu, maka kami
juga akan menyampaikan uraian-uraian material yang diperlukan, peralatan yang dibutuhkan, denah
konstruksi, standard dan tata laksana kerja yang berhubungan dengan gambar-gambar konstruksi tersebut
untuk disyahkan oleh Konsultan Pengawas.

A.4
A.4.1

Manajemen Pelaksanaan
Manajemen Lokasi

Manajemen Lokasi merupakan sistem pengaturan tata kerja di lapangan yang meliputi pengaturan tata
letak direksi keet, gudang material, barak kerja, dan penempatan alat berat (Apabila diperlukan). Dalam hal ini
Pihak Kontraktor menggunakan lahan proyek / menyewa lahan milik penduduk setempat.
Direksi keet dibangun untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan. Pada direksi keet ditempatkan perabot
dan perlengkapan kantor, gambar kerja, dokumen spesifikasi teknis, jadwal pelaksanaan dan perlengkapan
P3K. Barak / Gudang digunakan untuk menyimpan peralatan dan material agar terjaga keamanan dan

terlindung dari kondisi cuaca yang dapat merusak/mengurangi kualitas material.

A.4.2

Manajemen Material

Sistem Manajemen Material merupakan kumpulan manajemen yang berfungsi mendukung kelengkapan
perputaran aliran material dari pembelian material sampai dengan pengontrolan volume dan aliran waktu
penggunaan material dalam proyek. Untuk menghindari keterlambatan atau kehabisan stok material yang di
pesan maka perusahaan memiliki beberapa supplier untuk satu jenis material

A.4.3

Manajemen Alat

Sistem manajemen alat merupakan kumpulan manajemen yang mendukung pelaksanaan proyek yang
mencakup penggunaan alat yang seefisien mungkin termasuk akses pergantian alat yang satu dengan yang
lain. Alat yang digunakan sesuai Daftar Alat Yang Digunakan dan atau menyesuaikan kondisi lapangan.

A.4.4

Manajemen SDM

Sistem manajemen tenaga merupakan kumpulan manajemen yang mendukung pelaksanaan proyek
yang mencakup penggunaan tenaga yang seefisien mungkin sehingga proyek dapat berjalan sesuai target.
Sistem manajemen Tenaga Inti / Tenaga Ahli ini dilakukan dengan mengirimkan tenaga ahli ke lokasi proyek
satu minggu sebelum proyek dimulai untuk mengadakan persiapan proyek. Tenaga ahli yang ditempatkan di
lapangan sesuai Daftar Personil yang ditugaskan serta Struktur Organisasi, Tugas dan Tanggung Jawab dan
atau menyesuaikan kondisi lapangan.
Personil-personil Tenaga Ahli sebagai berikut :
a. 1 (satu) orang Site Manajer
b. 1 (satu) orang Site Engineer
c. 2 (satu) orang pelaksana lapangan
d. 1 (satu) orang surveyor
e. 1 (satu) orang logistik
f. 1 (satu) orang administrasi

A.4.5

Tugas Dan Tanggung Jawab

a. Direktur :
Bertanggung Jawab kepada Pengguna Jasa / Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Melakukan koordinasi kerja dengan Pengguna Jasa/ PPK, agar pekerjaan berjalan lancar dan
sesuai dengan spesifikasi (tepat mutu, tepat waktu, tepat biaya)
Menentukan kebijakan pelaksanaan pekerjaan
b. Site Manager :
Bertanggung Jawab kepada Direktur
Memimpin, mengawasi dan membawahi tenaga teknis pelaksanaan pekerjaan secara langsung
dan melaporkannya kepada Direktur.
Membuat laporan opname atas pekerjaan yang terpasang.
Melaksanakan pekerjaan sesuai metode, jadwal dan spesifikasi.
Merencanakan dan menyediakan tenaga kerja dan peralatan.
c. Petugas K3:
Bertanggung Jawab kepada Team Leader
Mengawasi dan membawahi tenaga teknis pelaksanaan dan pekerja mengenai aspek
keamanan dan keselamatan pekerjaan.
d. Pelaksana :
Bertanggung Jawab kepada Site Manager
Mengawasi dan melaksanakan pelaksanaan pekerjaan sesuai bidangnya secara langsung dan

melaporkannya kepada Koordinator Pelaksana.


Membuat laporan opname atas pekerjaan yang terpasang sesuai bidangnya.
Melaksanakan pekerjaan sesuai metode, jadwal dan spesifikasi.
Menyediakan tenaga kerja dan peralatan.
e. Logistik :
Bertanggung Jawab kepada Site Manager
Mendatangkan, mengatur dan mengawasi jadwal pengiriman material dan peralatan serta
kebutuhan lainnya, agar pekerjaan berjalan sesuai metode, jadwal dan Net Work Planing serta
penempatan tidak mengganggu jalannya pekerjaan.
Mengelola dan mengawasi material dan peralatan.
Bertanggung jawab terhadap mutu material
Melaksanakan semua test laboratorium yang diperlukan dalam pekerjaan
f. Administrasi :
Bertanggung Jawab kepada Site Manager.
Melaksanakan tata usaha proyek mencatat hasil kemajuan proyek berupa laporan harian,
laporan mingguan, laporan bulanan, gambar yang diperlukan, serta administrasi lapangan
lainnya yang diperlukan berdasarkan laporan Pelaksana
Melaksanakan tata usaha kepegawaian, kerumahtanggaan dan kesekretariatan proyek
Melakukan penagihan beserta kelengkapan administrasi pekerjaan sesuai ketentuan
Mengatur administrasi keuangan lapangan.
Penyelesaian keuangan proyek, untuk keperluan : upah tenaga kerja, pengadaan material, dan
lainnya.

A.5
A.5.1

Inspeksi, Pengujian Dan Pengetesan


Bahan-Bahan Dan Peralatan
1. Bahan-bahan dan peralatan yang akan digunakan harus diperiksa, diuji dan di tes
sebagaimana yang tercantum dalam kontrak. Untuk mempersingkat waktu pemeriksaan,
pengujian dan pengetesan maka Kontraktor Pelaksana akan mengajukan kepada Konsultan
Pengawas dua salinan seluruh pemesanan bahan termasuk gambar-gambar dan informasi
lainnya yang mencakup bahan dan alat yang akan digunakan atau mengajukan bukti lainnya
melalui
2. surat, email atau facsimile. Pemeriksaan, pengujian dan pengetesan bahanbahan dan alat
tersebut tidak serta merta membebaskan tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk
menyediakan material dan alat yang memenuhi persyaratan sesuai kontrak.
3. Seluruh pengujian dan pengetesan harus dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana akan dan
disaksikan oleh Konsultan Pengawas, sesuai dengan standardisasi dan persyaratan.
Pengujian dan pengetesan dilaksanakan dilapangan dimana diperlukan. Pengujian dan
pengetesan yang dilaksanakan di luar lokasi pekerjaan dilakukan dilaboratorium yang
disetujui oleh Konsultan Pengawas.
4. Konsultan Pengawas mempunyai hak untuk menolak setiap bahan atau alat yang tidak sesuai

dengan persyaratan yang ada di kontrak. Kontraktor Pelaksana akan tidak berhak untuk
memperoleh tambahan pembayaran atau perpanjangan waktu untuk penyelesaian pekerjaan
berkenaan dengan penolakan bahan atau alat yang tidak sesuai dengan persyaratan
yang ada dikontrak atau karena tertundanya waktu karena pelaksanaan ulang pengujian dan
pengetesan.
5. Kontraktor Pelaksana akan menyiapkan bahan-bahan yang akan di test dan bersedia
membantu dan bekerjasama guna memberikan izin pelaksanaan pengetesan ditempat kerja
dilapangan termasuk juga menghentikan pekerjaan untuk keperluan pengetesan.
6. Kontraktor Pelaksana akan menyerahkan satu (1) asli dan satu (1) salinan untuk setiap hasil
laporan pengetesan dan catatancatatan lainnya untuk pekerjaan Sipil, arsitektur dan M&E
dengan format yan g disetujui oleh Konsultan Pengawas dalam waktu 7 hari setelah selesainya
pengetesan

A.5.2

Pengetesan Di Laboratorium Dan Lapangan


1. Kontraktor Pelaksana akan melaksanakan pengetesan lapangan untuk seluruh pekerjaan
Sipil, Arsitektur dan M&E sesuai dengan yang disyaratkan dalam kontrak .
2. Untuk pengetesan-pengetesan tersebut Kontraktor Pelaksana akan boleh menyiapkan alatalat laboratorium sendiri ataupun dari laboratorium dan alat pihak ketiga yang sudah disetujui
oleh Konsultan Pengawas.
3. Kontraktor Pelaksana akan mengajukan kepada Konsultan Pengawas bukti bahwa alat alat
pengetesan yang digunakan sudah dikalibrasi dengan benar sebelum dilakukannya
pengetesan baik itu dilaboratorium sendiri atau laboratorium pihak ketiga yang sudah disetujui
Konsultan Pengawas. Selama pelaksanaan konstruksi Kontraktor Pelaksana akan tetap harus
mempertahankan alat instrument tersebut terkalibrasi dari badan sertifikasi resmi. Informasi
kalibrasi tersebut harus dimasukkan oleh
4. Kontraktor Pelaksana akan dalam Sistem QA&QC Kontraktor Pelaksana akan.
- Kontraktor Pelaksana akan menyiapkan skedul pengetesan lapangan dan laboratorium
dengan mempertimbangkan dan mengkorelasikan juga Skedul Pelaksanaan dan
Kemajuan pekerjaan dan mengajukannya kepada Konsultan Pengawas untuk dikaji.
- Dalam pengetesan Kontraktor Pelaksana akan mengikuti prosedur QA&QC yang sudah
disetujui guna meyakinkan bahwa bahan-bahan dan alat sudah sesuai dengan
persyaratanpersyaratan Konsultan Pengawas dan hal-hal lain yang tercantum dalam
Kontrak.
- Konsultan Pengawas berhak menyaksikan pengetesan yang dilakukan oleh Kontraktor
Pelaksana akan guna keperluan pengendalian mutu pekerjaan dan sebagai bagian dari
audit system QA&QC Kontraktor akan. Alat pengetesan laboratorium atau lapangan harus
setiap saat disiapkan dan dapat diakses oleh Konsultan Pengawas. Setiap kesaksian
pengetesan dari Konsultan Pengawas bukan berarti Kontraktor Pelaksana akan lepas dari
kewajiban yang tercantum dalam Kontrak.
5. Kontraktor Pelaksana akan menunjukkan lokasi-lokasi pengetesan termasuk juga pengetesan
yang diarahkan oleh Konsultan Pengawas dan memasukkan hal tersebut dalam laporan

pengetesan.
6. Satu asli dan satu salinan dari masing-masing laporan pengetesan dan catatan-catatan lainnya
sesuai dengan yang ada dalam Dokumen Kontrak sesuai format yang disetujui oleh Konsultan
Pengawas akan diajukan ke Konsultan Pengawas sesegera mungkin dalam waktu maksimum
3 hari.

A.5.3

Jaminan Mutu Pekerjaan


1. Faham dengan Standard-standard dan Peraturan. Dalam pengadaan bahan-bahan yang ada
di item pekerjaan adalah tanggung jawab Kontraktor Pelaksana akan untuk memverifikasi
persyaratan-persyaratan secara rinci dalam standard dan peraturan guna meyakini bahwa
bahan-bahan yang disiapkan sudah memenuhi atau melampaui standard dan peraturan yang
berlaku.
2. Penolakan atas item pekerjaan yang tidak sesuai standard
3. Konsultan Pengawas mempunyai hak untuk menolak item pekerjaan yang tidak memenuhi
persyaratan minimum yang ada.

A.6
A.6.1

Survey Dan Pengukuran


Titik Kontrol Survey
1. Penggunaan titik control survey untuk elevasi dan sudut dilapangan untuk memulai pekerjaan
nantinya akan ditentukan oleh Konsultan Pengawas. Pembuatan BM dan referensi nantinya
akan dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana akan setelah disetujui oleh Konsultan Pengawas 2.
Setiap titik control survey yang rusak akibat dari Kontraktor Pelaksana akan atau Subpenyedia
harus diganti oleh Kontraktor Pelaksana akan dengan biaya sendiri. Titik kontrol yang
diperbaiki akan diperiksa oleh Konsultan Pengawas atas biaya Kontraktor Pelaksana akan.
2. Kontraktor akan boleh membuat titik kontrol sementara, akan tetapi masing-masing titik
ditempatkan dilokasi yang mantap dan aman dari gangguan pelaksanaan pekerjaan Kontraktor
akan atau Subpenyedia. Setiap titik bantu harus secara akurat berhubungan dengan titik control
survey yang permanen.
3. Masing-masing titik control survey termasuk yang sementara harus secara rutin diperiksa oleh
Kontraktor Pelaksana akan selama pelaksanaan konstruksi guna meyakinkan bahwa titik-titik
tersebut tidak rusak atau bergeser.

A.6.2

Survey Lapangan
1. Kontraktor Pelaksana akan secara bersamaan atau segera setelah memulai setting out
melakukan pengukuran dan menyiapkan profil potongan melintang dan memanjang dari
kondisi lapangan yang ada (0%)sesuai dengan instruksi dari Konsultan Pengawas untuk
persiapan Gambar-gambar Konstruksi ataupun untuk setting out struktur.
2. Hasil pengukuran akan diajukan ke Konsultan Pengawas untuk kaji ulang dan persetujuan..

A.6.3

Pematokan (Staking Out) Pekerjaan Konstruksi


1.

2.

3.

A.6.4

Kontraktor Pelaksana akan bertanggung jawab untuk menentukan patok untuk pengukuran
dan harus menyiapkan tenaga surveyoryang berpengalaman dan cakap dalam pekerjaan
tersebut yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Kontraktor Pelaksana akan dalam penawarannya harus memasukkan semua bahan-bahan,
buruh dan alat survey termasuk juga patok-patok, template dan lain-lain yang dibutuhkan
penyedia dalam melaksanakan setting out setiap pekerjaan yang dilaksanakan. Kontraktor
Pelaksana akan menggunakan alat survey yang mempunyai keakuratan yang baik guna
menetapkan titik survey yang benar dan untuk kontrol atas hasil pengukuran nantinya.
Apabila pada saat pengukuran selama masa konstruksi terdapat kesalahan atas posisi
bangunan, elevasi, dimensi dll, maka Kontraktor Pelaksana akan atas instruksi Konsultan
Pengawas harus memperbaiki kesalahan tersebut atas biaya penyedia sendiri sampai
Konsultan Pengawas menerima hasil pengukuran dimaksud

Data Survey Dan Perhitungan

Kontraktor Pelaksana akan menyerahkan seluruh data survey, informasi, perhitungan, hasil-hasil dan
catatan-catatan lain kepada Konsultan Pengawas segera setelah dokumen dimaksud siap diserahkan.

A.6.5

Survey Untuk Pengukuran Volume Pekerjaan

Apabila Pembayaran Bulanan berdasarkan persentase pekerjaan aktual terhadap total kuantitas
pekerjaan, maka penyedia harus mengukur volume/kuantitas pekerjaan dimaksud yang dilaksanakan
pada bulan bersangkutan dengan teknik pengukuran alat survey kecuali jika pengukuran volume pekerjaan
bisa langsung dilakukan berdasarkan gambar-gambar yang sudah disetujui. Pengukuran volume pekerjaan
dengan alat survey hanya bisa dilakukan dengan disaksikan oleh Konsultan Pengawas. Kontraktor
Pelaksana akan memberitahukan Konsultan Pengawas dalam waktu 24 jam sebelum pelaksanaan
pengukuran tersebut.

A.7
A.7.1

Mobilisasi Dan Biaya Tidak Langsung Personil (Indirect Cost)


Umum

Mobilisasi dimaksudkan disini adalah transportasi dari tempat asal ke lokasi pekerjaan untuk peralatan
penyedia, personil inti dan staff lainnya berdasarkan jadwal. Apabila mobilisasi alat dan personil yang
ada dalam daftar yang dibuat penyedia sudah lengkap dan dapat beroperasi, maka penyedia harus
mengajukan dokumentasi yang diperlukan ke Konsultan Pengawas untuk persetujuan dan sertifikasi
pembayaran.

A.7.2

Jadwal dan pemberitahuan transportasi alat

Bersamaan dengan pengajuan skedul pelaksanaan dan rencana kerja penyedia harus menyerahkan
ke Konsultan Pengawas rencana mobilisasi alat ke lokasi pekerjaan. Kontraktor Pelaksana akan terus
memberitahukan Konsultan Pengawas untuk kedatangan alat, dan bahan-bahan penyedia dilapangan.

1. Biaya tidak langsung personil, Kontraktor Pelaksana akan memasukkan semua biaya tidak
langsung personil Kontraktor Pelaksana akan, seperti : mobilisasi, gaji, biaya cuti, Jamsostek,
THR dan bonus personil.
2. Kontraktor Pelaksana akan menyiapkan jumlah personil minimum seperti berikut :
a. 1 (satu) orang Site Manajer
b. 1 (satu) orang Site Engineer
c. 2 (satu) orang pelaksana lapangan
d. 1 (satu) orang surveyor
e. 1 (satu) orang logistik
f. 1 (satu) orang administrasi
3. Jamsostek pekerja sesuai peraturan pemerintah untuk seluruh staf inti dan pekerja/buruh
dilapangan.
a. Biaya pengamanan eksternal (Social cost) minimum perbulan 0.09 % dari total nilai
pengajuan kontrak.
b. Kontraktor Pelaksana akan terus memberitahukan Konsultan Pengawas untuk
kedatangan personil.

A.7.3

Rapat Pra Konstruksi (Pre Construction Meeting)

Dalam waktu 3 atau 7 hari setelah Penandatanganan Kontrak, Kontraktor Pelaksana akan harus
mengikuti Rapat Pra Pelaksanaan (Pre Construction Meeting) yang dihadiri UnMuha/PCC, Manajemen
Konstruksi, dan Kontraktor Pelaksana akan untuk membahas semua hal baik yang teknis maupun yang non
teknis dalam proyek ini.

A.8
A.8.1

Demobilisasi
Umum

Demobilisasi mencakup pemulangan peralatan penyedia dan personil inti serta staff lainnya dari
lokasi pekerjaan . Apabila demobilisasi alat dan personil yang ada dalam daftar yang dibuat penyedia
sudah dipulangkan dari lokasi pekerjaan, maka penyedia harus mengajukan dokumentasi yang diperlukan
ke Konsultan Pengawas untuk persetujuan dan sertifikasi pembayaran.

A.9
A.9.1

Pengadaan Sarana
Bouwkeet (bangunan sementara).

Kontraktor Pelaksana menyediakan dan mendirikan semua bangunan sementara (bouwkeet)


untuk digunakan sebagai ruang kerja/kantor direksi dan staff petugas lapangan, sebagai ruang rapat
koordinasi, dan gudang penyimpanan dan perlindungan bahan bangunan. Setelah berakhirnya pekerjaan,
Kontraktor Pelaksana Pelaksana wajib membongkar dan menyingkirkan bangunan sementara tersebut dari
lokasi.

A.9.2

Pembangkit tenaga sementara

Setiap pembangkit tenaga sementara atau penerangan buatan yang dipergunakan untuk pekerjaan
harus disediakan oleh Kontraktor Pelaksana, termasuk pemasangan sementara kabel-kabel, meteran dan

sebagainya. Setelah pekerjaan selesai Kontraktor Pelaksana wajib menyingkirkan semua barang tersebut
dari lokasi pekerjaan, yang semua beban menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

A.9.3

Air kerja.

Air untuk keperluan pekerjaan harus diadakan apabila mungkin didapat dari sumber yang sudah
ada di lokasi kegiatan dan sebelumnya harus dikoordinasikan kepada Penanggung Jawab Kegiatan.

A.9.4

Jalan Masuk

Tempat Pekerjaan dan Jalan Sementara/jalan masuk ke tempat pekerjaan harus diadakan oleh
Kontraktor Pelaksana bilamana diperlukan atau disesuaikan d engan kebutuhan dan kepentingan
lokasi kegiatan tersebut. Selama pekerjaan Kontraktor Pelaksana harus memelihara seluruh jalanjalan sementara dan sebagainya yang mungkin diperlukan untuk memasuki bagian pekerjaan dan
menyingkirkan/membersihkan kembali pad a waktu penyelesaian pekerjaan atau jika diperintahkan juga
memperbaiki seg ala kerusakan yang diakibatkan.

A.9.5

Iklan

Kontraktor Pelaksana tidak diijinkan memuat/memasang iklan dalam bentuk apapun di dalam Iokasi
kegiatan, tanpa izin Pihak Penanggung Jawab Kegiatan.

A.10 Pengaman lapangan


A.10.1 Perlindungan Terhadap Milik Umum
Kontraktor Pelaksana harus menjaga agar jalan umum, dan hak memakai jalan, bersih dari alat-alat
mesin, bahan-bahan bangunan dan sebagainya serta memelihara kelancaran lalu lintas, baik bagi kendaraan
umum maupun pejalan kaki, selama kontrak berlangsung. Kontraktor Pelaksana harus bertanggung jawab
atas gangguan dan pemindahan yang terjadi atas utilitas (Perlengkapan umum) seperti saluran air, telepon,
listrik dan sebagainya yang disebabkan oleh operasi-operasi Kontraktor Pelaksana

A.10.2 Perlindungan Terhadap Bangunan yang Ada


Selama masa-masa pelaksanaan Kontrak, Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab penuh atas segala
kerusakan, utilitas, jalan-jalan, saluran-saluran pembuangan dan sebagainya di tempat pekerjaan, dan
kerusakan-kerusakan sejenis yang disebabkan karena operasi-operasi Kontraktor Pelaksana dalam
arti kata yang luas. Itu semua harus diperbaiki oleh Kontraktor Pelaksana hingga dapat diterima oleh
Penanggung Jawab Kegiatan.

A.10.3 Penjagaan dan Pemagaran Sementara


Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan perilindungan terhadap
pekerjaan yang dianggap penting selama pelaksanaan kontrak, siang malam. Penanggung Jawab Kegiatan
tidak bertanggung jawab terhadap Kontraktor Pelaksana, dan Sub Kontraktor Pelaksana, atas kehilangan dan
kerusakan bahan-bahan bangunan atau peralatan atau pekerjaan yang sedang dalam peiaksanaan.
Kontraktor Pelaksana wajib mengadakan, mendirikan dan memelihara pagar sementara dari seng gelombang
tinggi 3m dengan finishing cat, semua material seng yang dipakai harus baru dan tidak berkarat

10

A.10.4 Perlindungan Pekerjaan


Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab atas keamanan seluruh pekerjaan termasuk bahan- bahan
bangunan dan perlengkapan instalasi di tempat pekerjaan, hingga kontrak selesai dan diterima oleh
Penanggung Jawab Kegiatan.

A.10.5 Gangguan Pada Tetangga


Segala pekerjaan yang menurut Penanggung Jawab Kegiatan mungkin akan menyebabkan gangguan
pada penduduk yang berdekatan, hendaknya dilaksanakan sesuai pengarahan Penanggung Jawab
Kegiatan, dan semua resiko akibat gangguan ini menjadi beban Kontraktor Pelaksana.

A.10.6 Pelaksanaan pekerjaan di luar lokasi pekerjaan.


Apabila Kontraktor Pelaksana melaksanakan pekerjaan di luar lokasi pekerjaan supaya memberitahukan
kepada Konsultan Pengawas atau Penanggung Jawab Kegiatan untuk diadakan pemeriksaan.

11

B. PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN


B.1

Lingkup Pekerjaan

a. Menyediakan tenaga kerja, peralatan dan alat bantu lainnya untuk melaksanakan pekerjaan ini dengan
hasil yang baik dan sempurna.
b. Pekerjaan ini meliputi : Semua penggalian penimbunan kembali, pengurangan di bawah lantai, pengerjaan
tanah kasar dan alur pipa-pipa sub drainage serta pekerjaan-pekerjaan teknis. Penggalian dan
penimbunan kembali untuk pekerjaan mekanikal dan elektrikal termasuk bab ini.
c. Penyediaan pompa untuk membuang air tanah waktu pekerjaan galian dan pengecoran.

B.2

Pekerjaan Persiapan

a. Kontraktor menyediakan tenaga kerja, bahan perlengkapan, alat dan sarana pengangkutan serta
peralatan lain yang diperlukan untuk pekerjaan tanah.
b. Kontraktor terlebih dahulu mempelajari Laporan Penyelidikan Tanah (Geotechnical Investigation Report)
yang telah dilaksanakan di lokasi proyek, sebelum memulai pekerjaan tanah. Ringkasan Boring
Log telah dilampirkan pada Dokumen lelang, sedangkan Laporan lengkapnya bisa diminta pada Pemilik
Pekerjaan melalui Manajemen Konstruksi dengan permohonan tertulis.
c. Semua penggalian dan cara pengukuran sesuai ketentuan spesifikasi teknik dan disetujui oleh
Manajemen Konstruksi atau wakilnya (Pengawas Lapangan).
d. Karena sifat tanah yang berbeda, ada kemungkinan terjadi perubahan perancangan pada
pelaksanaan pekerjaan tanah. Perubahan tersebut dilakukan Kontraktor dengan persetujuan Manajemen
Konstruksi.

B.3

Syarat Pelaksanaan

a. Penggalian harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan kondisi eksisting yang ada
b. Penggalian harus dilakukan untuk mencapai garis elevasi permukaan dan kedalaman - kedalaman
yang perlu untuk pondasi, lantai dan lain-lain yang dipersyaratkan atau diperlihatkan maupun diindikasikan
pada gambar-gambar dengan cara yang sedemikian sehingga pekerjaan ini dapat selesai dengan baik
sesuai dengan spesifikasi ini dengan disetujui oleh Konsultan Pengawas/Perencana.
c. Penggalian tanah mencakup pemindahan tanah serta batu -batuan lain yang dijumpai dalam pekerjaan.
d. Penggalian untuk pondasi harus mempunyai lebar yang cukup untuk pembangunan
e. maupun memindahkan rangka/bekisting yang diperlukan dan juga untuk mengadakan pembersihan.
f. Kalau terjadi kesalahan dalam penggalian tanah untuk dasar pondasi sehingga dicapai kedalaman
yang melebihi apa yang tertera dalam gambar, maka kelebihan dari pada galian harus diurug kembali
dengan pasir dan dilakukan pemadatan sesuai yang dipersyaratkan biaya akibat pekerjaan tersebut
ditanggung oleh Kontraktor Pelaksana.
g. Lapisan atau hasil galian daerah pembangunan yang dipakai kembali, ditimbun di tempat yang ditunjuk
dan atas persetujuan Konsultan Pengawas untuk digunakan dalam pekerjaan landscaping.
h. Kalau dijumpai akan-akar/bahan yang bisa melapuk pada keadaan yang diperlihat kan dalam
gambar-gambar maka akar bahan tersebut harus diangkat dan diurug kembali dengan pasir sampai
padat.
i. Galian pondasi harus dipadatkan hingga mencapai kepadatan 90% Standard Proctor dari kepadatan

12

tanah asal yang sesuai dengan perhitungan struktur. Dalam hal pengeboran untuk keperluan pondasi
harus dipastikan tanah galian tidak mengganggu/ mengotori area di luar proyek, dan diharuskan untuk
menyediakan bak penampung lumpur sementara, semua biaya menjadi beban Kontraktor Pelaksana.
Penggalian harus dengan memperhatikan kemungkinan adanya instalasi bawah tanah seperti : air
bersih, kabel feeder, kabel FO, kabel telepon, dll. Jika terdapat kerusakan pada instalasi-instalasi ini maka
kontraktor harus memperbaiki dengan biaya dari kontraktor

j.

B.4

Level Lapangan

Level lapangan dan titik-titik atau kontur dianggap berlaku pada BM (bench mark) utama. Bilamana
Kontraktor tidak yakin dengan ketepatan dari peil pengukuran BM utama maka Kontraktor menyatakan hal ini
secara tertulis kepada Manajemen Konstruksi sebelum penggalian, pengukuran dan pemadatan
dimulai.Klaim ketidaktepatan pel pengukuran tidak akan dipertimbangkan.

B.5
B.5.1

Galian
Uraian Umum

1. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan galian pondasi seperti yang disebutkan/ditunjukkan dalam
gambar atau sesuai dengan petunjuk Manajemen Konstruksi, termasuk di dalamnya adalah pekerjaan
galian untuk septictank, reservoir, pit, saluran-saluran dan pekerjaan-pekerjaan lain sesuai gambar.
2. Galian tanah untuk septictank, reservoir, saluranair, pondasi dan galian-galian lainnya sesuai dengan
peil-peil yang tercantum di dalam gambar.
3. Semua bekas-bekas pondasi bangunan lama, batu, jaringan jalan / aspal, akar dan pohon-pohon yang
terdapat di bagian pondasi yang akan dilaksanakan dibongkar dan dibuang. Bekas-bekas pipa saluran
yang tidak terpakai disumbat. Biaya untuk pekerjaan ini sudah diperhitungkan dalam biaya penawaran.
4. Galian tanah untuk pondasi, khususnya pile cap, dilaksanakan sesuai dengan yang ditentukan dalam
gambar rencana. Dalamnya semua galian sesuai dengan gambar dan mendapat persetujuan dari
Manajemen Konstruksi sebelumnya. Dasar galian bebas dari lumpur, humus dan air, dalam keadaan
bersih dan padat, sampai dapat diberi lapisan pasir urug sesuai gambar.
5. Kontraktor melaporkan hasil pekerjaan penggalian tanah yang telah selesai, dan menurut pendapatnya
sudah dapat digunakan untuk pemasangan pondasi, khususnya pile cap, kepada Manajemen
Konstruksi untuk dimintakan persetujuannya. Semua pekerjaan yang dilaksanakan tanpa persetujuan
Manajemen Konstruksi, dapat mengakibatkan dibongkarnya kembali pekerjaan tersebut. Pekerjaan
pembongkaran dan pemasangan kembali pondasi atau pile cap adalah menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
6. Penggalian dilakukan pada bagian-bagian yang lebih tinggi dari elevasi tanah yang direncanakan
untuk ketinggian dasar struktur dan dasar pondasi, dan bila ada juga untuk parit pipa serta saluran
drainase. Hasil- hasil galian diangkut ke tempat-tempat dimana diperlukan pengurugan, bila memang
memenuhi syarat sebagai tanah urug, atau ke tempat lain yang disetujui Manajemen Konstruksi. Dalam
hal ini Kontraktor hendaknya menyediakan satu tempat yang disetujui Manajemen Konstruksi untuk
menampung tanah hasil galian, yang setelah mencapai jumlah tertentu, segera disingkirkan ke
tempat lain yang ditunjuk oleh Manajemen Konstruksi.
7. Galian tanah baru bisa dimulai setelah pemasangan patok atau bouwplank disetujui Manajemen

13

8.
9.

10.

11.

12.

13.

Konstruksi.
Penggalian sesuai dengan garis dan elevasi yang telah tertera pada gambar rencana.
Kemiringan sisi galian membentuk sudut kemiringan yang aman dengan memperhatikan stabilitas
kemiringan lereng untuk jenis tanah di lokasi kerja. Untuk penentuan sudut kemiringannya, disamping
perlu mempelajari Laporan Penyelidikan Tanah terdahulu, juga perlu meninjau karakteristik visual
lapisan tanah yang dijumpai di lokasi kerja.
Kontraktor menjaga pengaruh-pengaruh luar kepada lubang galian seperti air tanah, hujan, air
permukaan, kelongsoran, lumpur yang masuk, maupun juga benda-benda lain yang tidak diinginkan.
Biaya untuk pekerjaan ini sudah diperhitungkan dalam biaya penawaran.
Jika ada kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat hal-hal tersebut di atas, maka penyedia bertanggung
jawab penuh atas segala kerusakan tersebut dan memperbaikinya kembali sesuai dengan instruksi
Manajemen Konstruksi.
Untuk galian-galian yang memotong saluran-saluran di bawah tanah, baik itu berupa kabel listrik,
telekomunikasi, saluran air dan sebagainya, maka Kontraktor bertanggung jawab penuh agar tidak
terjadi gangguan/kerusakan pada saluran-saluran tersebut, untuk kemudian segera melapor kepada
Manajemen Konstruksi, dan bila diperlukan, memindahkannya ke tempat yang disetujui Manajemen
Konstruksi.
Penyimpanan/pembuangan tanah galian tidak boleh mengganggu kedudukan patok-patok/bouwplank,
atau bagian-bagian yang tidak diperbolehkan terganggu kedudukannya.

B.5.2

Kedalaman galian

Kedalaman galian dilaksanakan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar rencana. Namun
demikian, bila diperlukan, atau bila diperintahkan oleh Manajemen Konstruksi, lubang galian digali lebih
dalam sampai kedalaman yang diperlukan/ ditentukan, dan sampai didapat dasar galian yang bersih. Setelah
galian selesai, permukaan tanah diratakan, dibasahi seperlunya dan dipadatkan dengan baik.

B.5.3

Penggalian tanah untuk pondasi dan pile cap

a. Penggalian dilakukan sesuai dengan kebutuhan lebar lantai kerja pondasi atau pile cap, dimana lereng
tanah disebelah kiri-kanan galian dimiringkan keluar arah pondasi atau pile cap, dengan sudut kemiringan
yang aman dan stabil sehingga tidak menimbulkan keruntuhan.
b. Untuk pekerjaan penggalian tanah yang cukup luas dan dalam, serta bila lokasinya memungkinkan, maka
dipertimbangkan penggunaan alat berat dengan kapasitas yang sesuai. Kecuali dinyatakan lain dalam
gambar rencana, dasar dari galian datar (waterpass). Jika pada dasar galian terdapat akar-akar kayu,
kotoran-kotoran dan bagian-bagian tanah yang berongga (tidak padat), maka bagian itu dikeluarkan
seluruhnya, dan lubang yang terjadi diisi dengan pasir.
c. Setiap kelebihan galian di bawah permukaan yang telah ditentukan diurug kembali sampai permukaan
semula (yang direncanakan) dengan pasir , untuk mencegah turunnya struktur atas yang akan dikerjakan.
Pekerjaan pengurugan kembali tersebut dilaksanakan dengan biaya Kontraktor.
d. Penggalian lapisan 15 cm terakhir dari dasar pondasi dilakukan dengan tangan, tidak diperbolehkan
menggunakan alat-alat berat, agar bisa didapatkan dasar galian yang rata dan bersih.
e. Air yang tergenang di lapangan atau galian yang ditimbulkan oleh mata air, hujan, kebocoran pipa-pipa,
atau sebab-sebab lainnya selama pelaksanaan pekerjaan, dikeringkan dan dipompa keluar atas biaya

14

f.

Kontraktor, dimana hal ini sudah diperhitungkan dan termasuk dalam harga satuan pekerjaan.
Jika tanah galian longsor secara terus menerus, maka Kontraktor membuat turap penahan tanah atau
sheet pile atas biaya Kontraktor. Hal ini juga sudah diperhitungkan dan termasuk dalam harga satuan
galian di dalam penawaran.

B.5.4

Penggalian batuan dan batuan besar

Batu-batu besar yang dijumpai pada waktu pengisian dikeluarkan atas biaya Kontraktor. Hal ini sudah
diperhitungkan dan termasuk dalam harga satuan galian.

B.6

Pengawasan Penggalian

Semua galian diperiksa terlebih dulu oleh Manajemen Konstruksi sebelum lapisan lantai kerja,
pembesian, dan elemen-elemen lain dipasang. Bila dipadatkan keadaan kurang memuaskan atau
ternyata peil galian yang tercantum dalam galian belum mencapai kedalaman yang disyaratkan, maka
Kontraktor mendapat ijin Manajemen Konstruksi sebelum galian selanjutnya dilaksanakan.

B.7

Lantai Kerja

a. Apabila konstruksi beton bertulang akan langsung terletak di atas tanah, maka dibawahnya dibuat lantai
kerja yang rata.
b. Sebelum lantai kerja ini dibuat, maka semua lapisan tanah di bawahnya akan dipadatkan dan diratakan
dengan baik, serta kemudian dilapisi dengan lapisan pasir setebal yang disyaratkan dalam gambar.
c. Lapisan pasir ini juga selanjutnya dipadatkan sesuai dengan prosedur pemadatan, sampai didapatkan
permukaan yang padat dan rata, hal mana diperiksa dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
d. Untuk memadatkan tanah digunakan alat pemadat tanah yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
Lantai kerja dibuat dari beton mutu K-125 menurut N1-2, atau setara dengan fc 10 Mpa menurut
SKSNI-T15- 1991, kecuali bila disebutkan lain dalam spesifikasi ini.
e. Tebal dan peil lantai kerja sesuai dengan gambar. Jika tidak dinyatakan secara khusus dalam gambar,
maka tebal lantai kerja diambil setebal 10 cm.

B.8

Pengurugan Tanah

a. Material yang digunakan untuk sub-grade memenuhi standar spesifikasi AASHTO-M.57-64 dan
diperiksa terlebih dahulu di laboratorium tanah yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
b. Material yang dipakai untuk timbunan atau sub-grade memenuhi syarat pemadatan tanah untuk
mencapai 95% dari berat jenis kering maksimum (maximum dry density) menurut AASHTO-T.99.
c. Bila tanah galian ternyata tidak baik atau kurang dari jumlah yang dibutuhkan, maka penyedia
mendatangkan tanah urug yang baik dan cukup jumlahnya serta mendapatkan persetujuan dari
Manajemen Konstruksi.
d. Pengurugan tanah dibentuk sesuai dengan peil ketinggian, kemiringan dan ukuran-ukuran yang
tercantum dalam gambar rencana atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Manajemen Konstruksi.
e. Untuk mendapatkan hasil pemadatan yang baik, tanah urug ditempatkan dalam lapisan-lapisan
setebal maksimum 20 cm dan dipadatkan sebaik baiknya dengan penambahan air secukupnya
sehingga didapat pemadatan yang optimum. Bila permukaan tanah akhir akan dibuat miring, maka
kemiringan tanah diselesaikan secara rata atau bertangga sebagaimana diminta oleh Manajemen

15

Konstruksi.
f. Alat berat tidak boleh digunakan di tempat-tempat yang oleh Manajemen Konstruksi. dianggap
berbahaya atau dengan jarak yang kurang dari 45 cm terhadap saluran, batas-batas atau pekerjaan
lain yang mungkin bisa menjadi rusak oleh karenanya.
g. Pengurugan kembali dari pondasi atau pile cap dilaksanakan dengan memadatkan tanah urug dalam
lapisan- lapisan setebal maksimum 20 cm. Pengurugan ini tidak boleh dilaksanakan sebelum diperiksa
dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.

B.9

Urugan Pasir

a. Bagian-bagian yang harus diurug sampai mencapai ketinggian yang ditentukan, tanah urugan harus
cukup baik, bebas dari sisa (rumput/akar-akar lain-lainnya).
b. Pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis tebal maksimal hamparan 30 cm setiap lapisan,
kemudian tanah tersebut dilembabkan sebelum dilakukan pemadatan menggunakan alat
stamper minimal setara MTR 80 dengan cbr 4% rendam air.
c. Semua urugan kembali di bawah atau disekitar bangunan dan pengerasan harus sesuai dengan gambar
rencana. Material untuk penimbunan ini harus memenuhi spesifikasi ini.
d. Tanah sisa urugan atau tanah yang tidak dapat dipakai harus dibuang keluar site atau atas petunjuk
Konsultan Pengawas/Perencana, dengan biaya Kontraktor Pelaksana.
e. Urugan pasir disiram air kemudian ditumbuk hingga padat.
f. Bahan urugan pasir bersih, dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.

B.10 Tempat Pembuangan Material


a. Tempat pembuangan material hasil galian, sampah atau bongkaran menjadi tanggung jawab Kontraktor.
b. Kontraktor menjaga tempat pembuangan material agar tidak merusak lingkungan.
c. Timbunan tanah bekas galian dibuat dan diatur sedemikian rupa sehingga aman dari terjadinya
longsoran.

B.11 Pemompaan Air Tanah (Dewatering)


Penggalian tanah dikerjakan dalam keadaan kering. Bila karena adanya hujan, air permukaan
lingkungan, air tanah atau mata air sehingga lokasi pekerjaan atau galian menjadi tergenang, maka Kontraktor
bertanggung jawab untuk merencanakan sistem pemompaan air tanah yang sudah dimasukkan dalam biaya
penawaran lelang. Pemompaan dapat dikerjakan dengan memompa secara langsung, atau cara-cara lain
yang disetujui Manajemen Konstruksi.

16

C. PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN


C.1

Pekerjaan Pasangan Dinding Bata

C.1.1

Lingkup pekerjaan

Meliputi pengadaan bahan dan pemasangan dinding sisi dalam/luar bangunandan dinding pembatas
ruangan, pagar atau sesuai gambar.

C.1.2

Bahan

a. Batu bata yang dipasang adalah dari mutu yang terbaik, produk lokal dan disetujui Konsultan
Pengawas dan harus memenuhi NI-10
b. Semenyang digunakan satu merek dan harus memenuhi NI-18 ex SEMEN GRESIK, setara
c. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2
d. Air yang digunakan adalah air bersih tidak mengandung zat lain seperti asam, minyak, lumpur dan
harus memenuhi PUBI -1982 Pasal 9.

C.1.3

Bahan dinding untuk bagian dalam bangunan dan dinding luar bangunan

Batu bata merah biasa yang dipakai mengalami pembakaran sampai matang, bila direndam didalam air
tetap utuh, tidak pecah atau hancur. Ukuran tebal batu bata dapat disesuaikan dengan tebal dinding akhir
(finish) yang disyaratkan dalam gambar. Batu bata ringan ataupun jenis lainnya dapat digunakan untuk dinding
jika disetujui oleh Manajemen Konstruksi. Sebelum pekerjaan dimulai, memberikan contoh bahan kepada
Manajemen Konstruksi Pengawas untuk dimintakan persetujuannya. Contoh batu bata yang telah disetujui
disimpan di kantor proyek. Apabila bahan yang datang tidak sesuai dengan contoh yang telah disetujui, maka
Manajemen Konstruksi /Pengawas berhak menolak bahan tersebut dan segera mengeluarkan bahan tersebut
dari lokasi proyek dalam waktu 2 kali 24 jam.

C.1.4

Bahan untuk campuran siar bata

Bahan yang dipakai memakai pasir dan semen dengan perbandingan 1: 3 untuk pekerjaan pasangan
bata trassram dan perbandingan 1 : 5 untuk pekerjaan pasangan bata biasa.

C.1.5

Pelaksanaan
a. Sebelum batu bata dipasang, batu bata tersebut direndam dalam air sampai gelembung
udara tidak terlihat lagi. Batu bata yang dipasang utuh, kecuali untuk pasangan sudut dapat
memakai batu bata pecahan. mengerjakan pengukuran bangunan (uitzet) secara teliti dan
sesuai gambar.
b. Selama 1 (satu) hari pemasangan dinding bata tidak boleh lebih dari 1 (satu) meter
dan pengakhiran pemasangan pada satu hari dibuat bertangga menurun dan tidak tegak
bergigi, untuk menghindari retaknya dinding dikemudian hari.
c. Pada semua pasangan bata batu, satu sama lain dapat mengikat dengan sempurna,
tidak dibenarkan menggunakan batu bata pecahan kecuali untuk pasangan sudut/las-

17

d.
e.
f.

g.
h.

i.
j.

k.

C.1.6

lasan.Pada pasangan batu bata 1 batu dan pasangan yang lebih tebal disusun sesuai
dengan petunjuk/peraturan yang seharusnya.
Pada tiap pertemuan tegak lurus terdapat ikatan pemasangan yang sempurna kecuali di tiaptiap pertemuan dimana ada tiang-tiang beton yang merupakan bingkai.
Setiap pertemuan tegak lurus, terdapat ikatan pemasangan yang sempurna, kecuali ditiaptiap pertemuan dimana ada tiang-tiang beton merupakan bingkai.
Bidang dinding yang luasnya lebih dari 10 m2 ditambah kolom dan balok penguat (beton
praktis) dengan ukuran 13x13 cm, pembesian 4 bh 10 mm, beugel (ring) 8 mm tiap jarak
15 cm.
Seluruh keliling kosen-kosen pintu dan jendela, diberi kolom dan balok beton dengan
ukuran 13x13 cm, pembesian 4 bh 10 mm, beugel (ring) 8 mm tiap jarak 15 cm.
Semua pasangan baru, dijaga tidak terkena sinar matahari langsung dan Kontraktor
Pelaksanamenyediakan karung- karung yang digunakan untuk menutup pasangan serta
keadaannya basah, selain karung goni, juga dapat digunakan kajang bogor atau lainnya
untuk menutup pasangan tersebut.
Pembuatan lubang pada pasangan dinding untuk steger sama sekali tidak diperkenankan.
Bagian pasangan dinding yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan beton (kolom,
balok, listplank beton dan lain-lain) diberi stek-stek besi beton 10 mm jarak 60 cm, yang
terlebih dahulu ditanam dengan baik pada bagian kolom beton dan pada bagian yang tertanam
dalam pasangan batu bata sekurang-kurangnya 40 cm, kecuali ditentukan lain oleh
Manajemen Konstruksi/Pengawas, pemasangan stek besi dilakukan sebelum beton dicor.
Di tempat yang akan terdapat kosen pintu, kosen jendela, lubang ventilasi dan lain-lain,
penempatan pasangan batu bata hendaknya disesuaikan.
Lubang-lubang untuk instalasi listrik, plumbing, AC atau lainlain dimana diperlukan adanya
instalasi listrik, plumbing, AC dan lain-lainnya, yang ditanam pada dinding, maka dibuat
pahatan secukupnya, pahatan tersebut setelah dipasang pipa ditutup dengan adukan yang
sama, bila pahatannya untuk diisi lebih dari 1 (satu) pipa, lubang pahatan tersebut dibungkus
kawat nyamuk.

Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang terlebih dahulu
diserahkan contoh-contohnya kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan
persetujuannya.
b. Semua bahan yang dipasang harus baru, baik, tidak cacat, Warna dan tekstur bahan harus
seragam.
c. Pasangan batu bata/ batu merah, dengan menggunakan aduk campuran 1pc : 5 pasir pasangan
1pc : 3 pasir untuk trasram.
d. Untuk semua dinding luar, semua dinding lantai dasar mulai dari permukaan sloof sampai
ketinggian 30 cm diatas permukaan lantai dasar, dinding di daerah basah setinggi 160 cm dari
permukaan lantai, serta semua dinding yang pada gambar menggunakan symbol aduk
trasram/kedap air digunakan aduk rapat air dengan campuran 1 pc : 3 pasir pasang.

18

e. Batu bata merah yang digunakan batu bata merah ex. Lokal dengan kualitas terbaik, siku dan
sama ukurannya 5 x 11 x 23 cm, atau yang disetujui Konsultan Pengawas/Perencana.
f. Sebelum digunakan batu bata harus direndam dalam bak air atau drum hingga jenuh.
g. Setelah bata terpasang dengan aduk, nat/siar-siar harus dikerok sedalam 1 cm dan bersihkan
dengan sapu lidi dan kemudian disiram air.
h. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu dan
siar-siar telah dikerok serta dibersihkan.
i. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap berdiri maksimum 24 lapis
setiap harinya, diikuti dengan cor kolom praktis.
j. Bidang dinding batu yang luasnya lebih besar dari 12 m2 ditambahkan kolom dan balok
penguat (kolom & balok praktis) dengan ukuran 12 x 12 cm, dengan tulangan pokok 4 diameter
12 mm, beuguel diameter 8 mm jarak 20 cm.
k. Pembuatan lubang pasangan untuk perancah/steiger sama sekali tidak diperkenankan.
l. Pembuatan lubang pada pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan
beton (kolom) harus diberi penguat stek-stek besi beton diameter 8 mm jarak 50 cm, yang
terlebih dahulu ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan beton dan bagian yang ditanam
dalam pasangan bata sekurang-kurangnya 30 cm kecuali ditentukan lain.
m. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi dari 5% yang patah atau
lebih dari 2 bagian tidak boleh digunakan.
n. Pasangan batu bata untuk dinding batu harus menghasilkan dinding finish setebal 15 cm dan
untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm, pelaksanaan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak
lurus.
o. Dinding bata yang baru dipasang harus dibasahi dengan air terus menerus selama paling sedikit
7 hari dan tidak diperkenankan terkena sinar matahari langsung.
p. Antara sambungan dinding dengan kolom, pondasi dan balok harus dipasang angkur besi beton
dengan diameter 8 panjang 50 cm dan beton yang berhubungan langsung dengan dinding bata
harus diketrik atau dikasarkan dulu agar pasangan tembok dapat merekat dengan baik.
q. Siar-siar pasangan bata harus dikerok dan dibersihkan sebelum spesie menjadi kering sehingga
membentuk lekukan agar supaya plesteran dapat merekat dengan baik.

C.1.7

Syarat Pemeliharaan
a. Kontraktor Pelaksana wajib memperbaiki pekerjaan yang rusak/cacat, perbaikan
dilaksanakan sedemikian rupa hingga tak mengganggu pekerjaan finishing lainnya.
b. Kerusakan yang bukan disebabkan oleh tindakan pemilik pada waktu pelaksanaan, maka
c. Kontraktor Pelaksana wajib memperbaiki sampai dinyatakan diterima oleh PPK, biaya
yang timbul untuk pekerjaan ini menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana
d. Kontraktor Pelaksana wajib melakukan perlindungan terhadap pekerjaan yang telah
dilaksanakan untuk dapat dihindarkan dari kerusakan.
e. Biaya yang diadakan untuk pengamanan hasil pekerjaan ini menjadi tanggung jawab
Kontraktor Pelaksana.

19

C.2
C.2.1

Pekerjaan Plesteran Dan Acian Dinding


Lingkup pekerjaan
a. Termasuk dalam pekerjaan plesteran ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan termasuk alat-alat bantu dan alat-alat angkut yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan plesteran dinding, sehingga dapat dicapai hasil plesteran yang bermutu baik.
b. Pekerjaan plesteran dinding dikerjakan pada permukaan dinding, kolom-kolom beton, balokbalok beton, listplank beton, serta bagian lain yang diplester.
c. Plesteran boleh dikerjakan apabila seluruh instalasi jaringan listrik, telepon, antenna TV, kabel
data, AC, air bersih, air panas, air kotor/ bekas, air hujan, sudah selesai dipasang.

C.2.2

Bahan
a.
b.
c.
d.

C.2.3

Semenharus memenuhi NI-8 (dipilih dari satu produk untuk seluruh pekerjaan).
Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2.
Air harus memenuhi NI-3 pasal 10.
Penggunaan adukan plesteran :
- Adukan 1 pc : 3 pasir, dipakai untuk plesteran rapat air atau mortar DRYMIX untuk seluruh
plesteran.
- Adukan 1 pc : 5 pasir, dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
- Seluruh permukaan plesteran difinish acian dari bahan PC atau tertentu atas pentujuk
Konsultan Pengawas..

Pelaksanaan
a.
b.
c.
d.

Permukaan dinding yang akan diplester dibersihkan dari kotoran, debu, partikel lain.
Pencampuran menggunakan mesin mixer.
Pencampuran air secara bertahap dan diaduk sampai rata selama 3-4 menit.
Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilamana pekerjaan pasangan telah selesai dipasang,
kolom dan ring balok telah dicor, bobokan untuk instalasi listrik (pipa), AC, instalasi air
bersih dan instalasi lainnya telah ditanam dalam dinding.
e. Dinding pasangan bata yang akan diplester, sebelumnya selalu disirami air sampai jenuh
selama 3 hari, agar adukan plesteran dapat melekat dengan baik pada dinding.
f. Plesteran halus (acian) dapat dilaksanakan sesudah plesteran berumur 8 hari (kering benar).
g. Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 100 cm, dipasang tegak lurus dan menggunakan
potongan kecil kayu plywood, untuk patokan kerataan dinding, potongan plywood tersebut
dilepas apabila kepala plesteran telah mongering.
h. Ketebalan plesteran mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom yang dinyatakan dalam
gambar. Tebal plesteran 15-20 mm. Jika ketebalan melebihi dari 2 cm diberi tambahan kawat
ayam (wire mesh), untuk memperkuat daya lekat plesteran.
i. Seluruh pertemuan bidang plesteran dengan keliling kosen dibuat tali air ukuran 5 x 5 mm,
atau 6 x 6 mm atau sesuai permintaan, hasil pengerjaan lurus, rata, rapih, baik dan tidak
bergelombang.
j. Untuk permukaan yang datar, mempunyai toleransi lengkung atau cembung tidak melebihi

20

5mm untuk setiap jarak 200 cm. Jika melebihi, berkewajiban memperbaikinya dengan biaya
atas tanggungan Pihak Kami.
k. Kelembaban plesteran
dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar, tidak terlalu
tiba-tiba dan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat kering dan dilindungi dari
terik matahari langsung dengan bahan penutup yang dapat mencegah penguapan air secara
cepat.
l. Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik, atau akibat lainnya, maka
plesteran tersebut dibongkar dan diperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima oleh Manajemen
Konstruksi / Pengawas dengan biaya atas tanggungan Pihak Kami. Selama 7 (tujuh) hari
setelah pengacian selesai penyedia selalu menyiram dengan air sampai jenuh
sekurangkurangnya 1 kali sehari.
m. Sudut-sudut luar dinding : - Seluruh sudut vertical, dikerjakan dengan baik, tegak dan lurus.
n. Pekerjaan finishing (pengecatan) dapat dilakukan apabila plesteran telah berumur lebih dari
21 (dua puluh satu) hari, dan plesteran tersebut sudah benar-benar dalam keadaan kering.

C.2.4

Flow Chart Pekerjaan Dinding Plesteran

21

22

D. PEKERJAAN BETON
D.1

Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan -bahan peralatan serta pengangkutan untuk
menyelesaikan semua pekerjaan beton sesuai dengan yang tercantum dalam gambar, serta
pekerjaan yang berhubungan dengan beton, seperti acuan, besi, plat bondeck / plat combideck, beton
dan admixtures. Juga termasuk di dalam l ingkup pekerjaan ini adalah pengamanan baik pekerja
maupun fasilitas lain di sekitar sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan lancar dan aman.
b. Di dalam penawaran harga satuan beton oleh kontraktor harus sudah mencakup join-join pembesian
di dalam join antara kolom, balok, tie beam,dll.

D.2

Pengadaan, Mutu Dan Kinerja Beton

Kecuali ditentukan lain dalam persyaratan selanjutnya, maka sebagai dasar pelaksanaan digunakan
peraturan sebagai berikut :
a. Standart Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung 03 - SNI - 17262002
b. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung SNI 03 2847 2002
c. Persyaratan umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1082)-NI-3
d. Peraturan Portland Cement Indonesia 1972 / NI-8
e. Mutu dan Cara Uji Semen Portland (SII 0013 -81)
f. Mutu dan Cara Uji Semen Beton (SII 0052-80)
g. ASTM C-33 Standart Specification for Concrete Agregates.
h. Baja Tulangan Beton (SII 0136-84)
i. Jaringan Kawat Baja Las untuk Tulangan Beton (SII 0784 -83)
j. American Society for Testing Material ( ASTM )
k. Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah Setempat
l. Petunjuk Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada
bangunan Rumah dan Gedung (SKBI-2.3.5.3.1987 UDC : 699.81 : 624.04)

D.3
D.3.1

Bahan-Bahan
Semen Portland

Semen yang boleh digunakan untuk pembuatan beton harus dar i jenis semen yang telah ditentukan
dalam SII 0013-81 dan harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam standart tersebut.
Semua yang akan dipakai harus dari satu merk yang sama dan dalam keadaan baru. Semen yang
dikirim harus terlindung dari huja n dan air. Semen harus terbungkus dalam sak (kantong) asli dari
pabriknya dan dalam keadaan tertutup rapat. Semen harus disimpan di gudang dengan ventilasi yang
baik, tidak lembab dan diletakkan pada tempat yang tinggi, sehingga aman dari kemungkinan yang tidak
diinginkan. Semen tersebut tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 sak. System penyimpanan semen harus diatur
sedemikian rupa, sehingga semen tersebut tidak tersimpan terlalu lama. Semen yang diragukan mutunya
dan rusak akibat salah penyimpanan, seperti membatu, tidak diijinkan untuk dipakai. Bahan yang telah
ditolak harus segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 2 (dua) hari atas biaya

23

Kontraktor. Semen ex Holcim, Gresik 50 kg

D.3.2

Agregat

Pada pembuatan beton, ada dua ukuran agregat yang di gunakan, yaitu agregat kasar / batu pecah
dan agregat halus / pasir beton. Kedua jenis agregat ini diisyaratkan sebagai berikut :
a. Agregat Kasar, ukuran besar ukuran nominal maksimum agregat kasar harus tidak
melebihi 1/5 jarak terkecil antara bidang sampin g dari cetakan, atau 1/3 dari tebal
pelat. Atau jarak bersih minimum antar baja tulangan, berkas baja tulangan atau
tendon pratekan atao 30 mm. Gradasi Agregat tersebut secara keseluruhan harus sesuai
dengan yang diisyaratkan oleh ASTM agar tidak terjadi adanya sarang kerikil atau
rongga dengan ketentuan sebagai berikut :
Sisa di atas
( % Berat )
Ayakan 31.50 mm
0
Ayakan 4.00 mm
90-98
Selisih antar 2 ayakan
01-10
berikutnuya
b. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan bebas dari bahan bahan
organik, lumpur dan kotoran lainnya. Kadar Lumpur harus lebih kecil dari 4% berat. Agregat
halus terdiri dari butir-butir beraneka ragam besarnya dan apabila diayak harus memenuhi
syarat sebagai berikut :
Sisa di atas
( % berat )
Ayakan 4.00 mm
0.2
Ayakan 1.00 mm
10
Ayakan 0.25 mm
80-95
Kontraktor harus mengadakan pengujian sesuai dengan persyaratan dalam spesifikasi ini. Jika sumber
agregat berubah karena suatu hal, maka Kontraktor wajib untuk memberitahukan secara tertulis kepada
Konsultan Pengawas. Agregat harus disimpan di tempat yang bersih, yang keras permukaanya dan harus
dicegah supaya tidak terjadi pencampuran dengan tanah.

D.3.3

Air Untuk Campuran beton

Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh mengandung mi nyak, asam
alkali, garam, zat organis atau bahan lain yang dapat merusak beton atau besi beton. Air tawar yang
dapat diminum umumnya dapat digunakan. Air tersebut harus diperiksa pada laboratorium yang disetujui
oleh Konsultan Pengawas. Jika air pada lokas i pekerjaan tidak memenuhi syarat untuk digunakan, maka
Kontraktor harus mencari air yang memadai untuk itu.

D.3.4

Besi Beton

Besi Beton harus selalu menggunakan besi beton ulir (deformed bars) untuk tulangan utama dan
sengkang kecuali ditentukan lain dalam gambar. Agar diperoleh hasil pekerjaan yang baik, makan Baja
tulangan yang digunakan harus memenuhi ketentuan -ketentuan berikut ini :
a. Tidak boleh mengandung serpih-serpih, lipatan-lipatan, retak-retak, gelombang-

24

b.

c.
d.

e.

gelombang, cerna-cerna yang dalam, atau berlapis-lapis.


Untuk tulangan utama (tarik / tekan lentur) harus digunakan baja tulangan deform
(BJTD), dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70 % diameter
nominalnya, dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5 % diameter nominalnya.
Tulangan dengan 12 mm dipakai BJTP U 24 (polos), dan untuk tulangan dengan 16
mm memakai BJTD U 39 (deform) bentuk ulir.
Kualitas dan diameter nominal dari baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan
dengan sertifikat pengujian laboratorium, yang pada prinsipnya menyatakan nilai kuat leleh
dan berat per meter panjang dari bahan tulangan dimaksud. Kontraktor harus mengajukan
brosur atau hasil tes tulangan pada proyek sebelumnya yang memenuhi syarat dan dapat
digunakan pada pekerjaan ini dan dimasukkan dalam usulan data teknis.
Diameter nominal baja tulangan (baik deform / BJTD) yang digunakan harus
ditentukan dari sertifikat pengujian tersebut dan harus ditentukan dari rumus :
d = 4.029 B ,

atau

d = 12.47 G

d = diameter nominal dalam mm


B = berat baja tulangan (N/mm)
G = berat baja tulangan (kg/m)
f.

Toleransi berat batang contoh yang diijinkan di dalam pasal ini sebagai berikut :
DIAMETER ULANGAN BAJA
TOLERANSI BERAT YANG
TULANGAN
DIIJINKAN
< 10 mm
7%
10 mm < < 16 mm
6%
16 mm < < 28 mm
5%
> 28 mm
4%

g. Toleransi Ukuran Diameter adalah sebagai berikut


DIAMETER TULANGAN BAJA TULANGANTOLERANSI DIAMETER YANG DIIJINKAN
8 mm
12 mm
16 mm
19 mm

0.4 mm
0.4 mm
0.5 mm
0.5 mm

h. Sebelum pengiriman baja tulangan dilakukan, Penyedia Barang/Jasa harus menunjukan


sample, hasil Uji Tarik dan Diameter yang akan digunakan. Hal ini akan mempermudah dan
dapat menjaga kualitas. Dilokasi proyek kontraktor harus menyediakan alat untuk mengukur
diameter tulangan polos yaitu sket mat/jangka sorong dan alat untuk mengukur diameter
tulangan deform/ulir yaitu meteran dan timbangan.
i. Semua tulangan yang dipakai pada proyek ini baja tulangan deform / Ulir
j. Pengiriman untuk baja tulangan diform dengan diameter diatas 13mm batang baja

25

tulangan harus lonjoran / tidak ditekuk.


k. Pemakaian besi beton jenis yang tidak sesuai dengan ketentuan di atas, harus mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas. Besi Beton harus berasal dari satu pabrik
(manufactures). Tidak dibenarkan untuk menggunakan merk besi beton yang berlainan
dengan untuk pekerjaan ini. Besi beton harus dilengkapi dengan mill certificate / sertifikat

D.3.5

Admixtures Material Tambahan

Dalam keadaan tertentu boleh dipakai bahan campuran tambahan untuk memperbaiki sifat suatu
campuran beton. Jenis, Jumlah bahan yang ditambahkan dan cara penggunaan bahan tambahan harus
dapat dibuktikan melalui hasil uji. Hasil uji ini dengan menggunakan bahan semen dan agregat yang akan
dipakai pada proyek ini. Bahan campuran tambahan yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air
pencampur, memperlambat atau mempercepat pengikatan dan atau pengerasan beton harus
memenuhi Specification for Chemical Admixtures for Concrete (ASTM C494) atau memenuhi standart
Umum Bahan Bangunan Indonesia.

D.3.6

Beton dan Adukan Beton Segar


a. Kuat tekan target beton yang digunakan dalam pekerjaan ini menggunakan kuat tekan K250
b. Benda uji harus adalah silinder beton dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, yang untuk
setiap 10 m3 produksi adukan beton harus diwakili minimal dua buah benda uji. Tata cara
pembuatan benda uji tersebut harus mengikuti ketentuan yang terdapat di dalam standar
Metoda Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium (SK SNI M-62-1990-03)
c. Untuk kekentalan adukan, setiap 5 m3 adukan beton harus dibuat pengujian slump,
dengan ketentuan sebagai berikut :
Bagian Konstruksi
Nilai Slump (mm)
a. Footplate
100 20
b. Lantai Basement
100 20
c. Kolom Struktur
100 20
d. Balok struktur
100 20
e. Pelat Lantai
100 20
d. Benda Uji Beton harus teridentifikasi, dan dikelompokan berdasar waktu pemakaian saat
penuangan mortal pada Formwork/Bekesting. Untuk pekerjaan ini dilokasi proyek kontraktor
harus menyediakan alat slump test minimal 1 unit untuk uji workability dan cetakan silinder
beton/kubus beton sebanyak 10 unit Untuk pembuatan benda uji beton.
e. Apabila ada hal-hal yang belum tercakup di dalam persyaratan teknis ini, Pelaksana harus
mengacu pada seluruh ketentuan yang tercakup di dalam Bab 5, Tata Cara Pembuatan
Rencana Campuran Beton Normal ( SK SNI T-15-1990-03 ).

D.4
D.4.1

Pengujian Mutu Bahan


Umum
a. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk melaksanakan segala pengujian termasuk
mempersiapkan contoh benda uji dengan jumlah sesuai dengan yang diisyaratkan.

26

b. Kontraktor harus menyerahkan hasil pengujiannya setelah hasil uji diperoleh untuk
persetujuan oleh konsultan pengawas.
c. Jika pengujian dan pelaksanaan tidak memenuhi syarat, maka Kontraktor harus melaksanakan
pengujian ulang dengan campuran yang lain dan selanjutnya mengevaluasi kembali hasil uji
tersebut hingga diperoleh hasil yang diinginkan.
d. Semua pengujian dan pemeriksaan di lapangan harus dilakukan sesuai dengan pengarahan
Konsultan Pengawas.
e. Untuk semua bahan semen dan besi beton yang dikirim ke lapangan, Kontraktor harus
mendapatkan salinan sertifikat pengujian dari Pabrik, dimana pengujian dilakukan secara
berkala, dengan cara sesuai dengan spesifikasi ini.

D.4.2

Laboratorium Penguji
a. Sebelum pekerjaan beton dilakukan, Kontraktor wajib mengusulkan suatu laboratorium
penguji material yang akan digunakan pada proyek ini. Laboratorium bertanggung jawab
untuk melakukan semua pengujian dengan spesifikasi ini.
b. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan peralatan penguji di lapangan
seperti tersebut berikut ini, berikut tenaga ahli yang menguasai bidangnya.
c. Alat Penguji agregat kasar dan agregat halus.
d. Alat Pengukur kadar air (moisture content) dari agregat
e. Alat Pengukur kelecakan beton (slump)
f. Alat pembuat benda uji, termasuk bak penyimpanan untuk merawat benda uji pada
temperatur yang normal dan terhindar dari sengatan matahari.
g. Jika menggunakan beton Ready Mix, maka peralatan yang disebut (a) dan (b) di atas
harus dipersiapkan pada pabrik beton ready mix.

D.4.3

Pengujian Agregat
a. Pengujian Pendahuluan Agregat
Kontraktor harus melakukan pengujian pendahuluan agregat sebagai berikut:
1) Sieve analysis
2) Pengujian Kadar lumpur dan Kotoran lain.
3) Pengujian Unsur Organis
4) Pengujian kadar clorida dan Sulfat.
Hasil pengujian tersebut harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan (a) dan (b) dengan pengujian kadar air dari tiap jenis agregat harus
dilakukan terhadap contoh untuk setiap Trial Mix.
b. Benda Uji Agregat
Kontraktor harus melaksanakan pengujian atas agregat yang akan digunakan untuk
menghasilkan beton seperti yang disyaratkan. Jumlah minimum untuk pengujian agregat yang
dipakai untuk pekerjaan beton adalah sebagai berikut :
Type Pengujian
Minimum Satu Contoh
Sieve Analysis
Setiap Minggu
Moisture Content
Setiap Minggu

27

Clay, Silt, dan Kotoran


Kadar Organis
Kadar Klorida dan Sulfat

Setiap Hari
Setiap Minggu
Setiap 500 m3 Beton

Jika hasil pembuatan beton yang dilakukan oleh kontraktor tidak memuaskan, maka
konsultan pengawas berhak untuk meminta pengujian tambahan dengan beban biaya
Kontraktor. Dan sebaliknya mungkin jumlah pengujian dapat dikurangi jika hasil yang diperoleh
ternyata memuaskan.
c. Pengujian Beton
1) Benda Uji Beton, Benda Uji harus diberi kode / tanda yang menunjukan tanggal
pengecoran, lokasi pengecoran dari bagian struktur yang bersangkutan. Benda uji
harus diambil sebelum beton dituang ke lokasi penggocoran sesuai dengan yang
disaratkan oleh konsultan pengawas.Jumlah benda uji beton :
i. Pada awal pelaksanaan, harus dibuat minimum 1 benda uji per 1,50 m3
beton hingga cepat dapat diperoleh 30 benda uji yang pertama benda
uji harus berbentuk silinder berukuran 15 cm x 30 cm. benda uji bentuk
lainya dapat digunakan bentuk lainya dapat digunakan bila disetujui oleh
konsultan pengawas. Selanjutnya pengambilan benda uji sebanyak 3
(tiga) buah dilakukan setiap satu mixer . Benda uji tersebut ditentukan
secara acak oleh konsultan pengawas dan harus dirawat sesuai dengan
persyaratan.
ii. Jumlah uji beton untuk uji kuat tekan dari setiap tekan dari setiap mutu
beton mutu yang dituang pada suatu hari harus diambil minimal satu kali.
Pada setiap satu kali pengambilan contoh beton harus dibuat dua buah
spesimen kubus. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji
tekan dua spesimen ini yang diuji pada umur yang ditentukan, yaitu umur 7
hari dan 28 hari.
iii. Jika hasil uji beton kurang memuaskan, maka konsultan pengawas dapat
meminta jumlah benda uji yang lebih besar dari ketentuan di atas. Dengan
beban biaya ditangung oleh kontrator.
2) Laporan Hasil Uji Beton, Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas uji beton dari
boratorium penguji untuk disahkan oleh Konsultan Pengawas. Laporan tersebut harus
dilengkapi dengan perhitungan tekanan beton Karakteristik.
3) Evaluasi Kualitas Beton berdasarkan Hasil Uji Beton
i. Deviasi Standart S, Deviasi Standart produksi neton ditetapkan
berdasarkan jumlah 30 buah hasil tes kubus atau silinder. Deviasi yang
dihitung dari jumlah contoh kubus yang kurang dari 30 buah harus dikoreksi
dengan faktor pengali seperti tercantum dalam tabel berikut :

28

ii. Kuat Tekan Rata-rata ( fcr ), Target fcr yang digunakan sebagai dasar dalam
menentukan proporsi campuran beton harus diambil sebagai nilai yang
terbesar dari Formula berikut ini :
fcr = fc + 1.64 s atau fcr = fc + 2.64 S 40 kg/cm2
iii. c) Kuat Tekan sesungguhnya, Tingkat kekuatan suatu beton dikatakan
tercapai dengan memuaskan, jika kedua syarat berikut dipenuhi :
1. Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji yang masing masing
terdiri dari hasil uji kuat tekan tidak kurang (fc + 0.82 N)
2. Tidak satupun dari hasil uji tekan (rata-rata dari 2 benda uji)
mempunyai nilai di bawah 0.85 fc. Bila salah satu dari kedua syarat
di atas tidak dipenuhi, maka harus diambil langkah untuk
meningkatkan rata-rata hasil uji kuat tekan berikutnya atas
rekomendasi KP.
iv. Pengujian Tidak Merusak (Non Destructive Test), Jika hasil Evaluasi
terhadap mutu beton yang disyaratkan ternyata tidak dapat dipenuhi,
maka jika diminta oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor harus
melaksanakan pengujian beban dan lain-lain. Semua biaya pengujian ini
menjadi tanggung jawab Kontraktor. Lokasi dan banyaknya pengujian akan
ditentukan secara khusus dengan melihat kasus perkasus.
d. Pengujian Besi Beton
1) Benda Uji Besi Beton
i. Sebelum besi beton dipesan, Kontraktor wajib mengambil benda uji besi
beton masing-masing 2 buah dengan ukuran panjang 100 cm sesuai dengan
diameter dan mutu yang akan digunakan. Selanjutnya benda uji besi beton
harus diambil dengan disaksikan oleh Konsultan Pengawas sebanyak 2 buah
untuk setiap 20 ton untuk masing masing diameter besi beton. Uji besi beton
terdiri dari uji tarik dan uji lentur.
ii. Pengujian mutu besi juga akan dilakukan setiap saat bilamana dipandang
perlu oleh Konsultan Pengawas. Contoh besi beton yang diambil untuk
pengujian tanpa disaksikan Konsultan Pengawas tidak diperkenankan dan
hasil uji dianggap tidak sah. Semua biaya uji tersebut sepenuhnya menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
iii. Benda uji harus diberi tanda dengan kode yang menunjukkan tanggal
pengiriman, lokasi terpasang bagian struktur yang bersangkutan dan lain-lain
data yang perlu dicatat.
iv. Besi batangan harus di uji coba kekuatannya dibawah kesaksian

29

pengawas.
v. Pengetesan dilakukan setiap saat bilamana dipandang perlu oleh pengawas.
Besi beton yang digunakan harus diuji minimal 5 batang perdiameter tiap
pendatangan material. Semua biaya percobaan tersebut sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor.
vi. Jika akibat suatu alasan, seperti hasil uji yang kurang memuaskan,
maka Konsultan Pengawas berhak untuk meminta pengambilan contoh
benda uji lebih besar dari yang ditentukan di atas, dengan beban biaya
ditanggung oleh kontraktor.
2) Laporan Hasil Uji Besi Beton, Kontraktor harus membuat dan menyusun hasil uji
besi beton dari laboratorium penguji untuk diserahkan kepada Konsultan Pengawas
dan laporan tersebut harus dilengkapi dengan kesimpulan apakah kualitas besi beton
tersebut memenuhi syarat yang telah ditentukan.

D.5
D.5.1

Syarat-syarat Pelaksanaan
Slump

Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump, yang jika tidak ditentukan secara khusus adalah antara
8 12 cm untuk beton umumnya, sedang tiang bor slump sebagai berikut, Beton diambil sebelum dituangkan
ke dalam cetakan beton (begisting). Cetakan slump dibasahkan dan ditempatkan di atas permukaan yang
rata. Cetakan diisi sampai kurang lebih sepertiganya. Kemudian beton tersebut ditusuk-tusuk 25 kali dan setiap
tusukan harus masuk sampai dengan satu lapisan di bawahnya. Setelah bagian atas diratakan, segera cetakan
diangkat perlahan-lahan dan diukur penurunannya.

D.5.2

Persetujuan Konsultan Pengawas

Sebelum semua tahap pelaksanaan berikutnya dilaksanakan, Kontraktor harus mendapatkan


persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas. Laporan harus diberikan kepada Konsultan Pengawas paling
lambat 3 hari sebelum pekerjaan dilaksanakan. Hal-hal khusus akan didiskusikan secara lebih mendalam
antara semua pihak yang berkepentingan. Semua tahapan pelaksanaan tersebut harus dicatat secara baik
dan jelas sehingga mudah untuk ditelusuri jika suatu saat data tersebut dibutuhkan untuk pemeriksaan.

D.5.3

Persiapan dan Pemeriksaan

Kontraktor tidak diijinkan untuk melakukan pengecoran beton tanpa ijin tertulis dari Konsultan
Pengawas. Kontraktor harus melaporkan kepada konsultan Pengawas tentang kesiapannya untuk melakukan
pengecoran dan laporan tersebut harus disampaikan beberapa hari sebelum waktu pengecoran, sesuai
dengan kesepakatan di lapangan, untuk memungkinkan Konsultan Pengawas melakukan Pemeriksaan
sebelum pengecoran dilaksanakan. Kontraktor harus menyediakan fasilitas yang memadai seperti tangga
ataupun fasilitas lain yang dibutuhkan agar Konsultan Pengawas dapat memeriksa pekerjaan secara aman
dan mudah. Tanpa fasilitas tersebut, Kontraktor tidak akan diizinkan untuk melakukan pengecoran. Semua
koreksi yang terjadi akibat pemeriksaan tersebut harus segera diperbaiki dalam waktu 1 x 24 jam dan
selanjutnya kontraktor 1 x 24 jam selanjutnya kontraktor harus mengajukan ijin lagi untuk dapat melaksanakan
pengecoran. Tidak dibenarkan adanya penambahan waktu akibat koreksi yang timbul, kecuali ditentukan

30

oleh pemberi tugas / Konsultan Pengawas, Persetujuan untuk melakukan pengecoran tidak berarti
membebaskan Kontraktor dari tanggung jawab sepenuhnya atas ketidaksempurnaan ataupun kesalahan yang
timbul. Sebelum pengecoran dilakukan harus dipastikan bahwa semua peralatan yang akan tertanam di dalam
beton sudah terletak pada tempatnya dan semua kotoran sudah dibersihkan dari lokasi pengecoran. Demikian
pula untuk siar pelaksanaan harus dilakukan sesuai dengan persyaratan.

D.5.4

Siar Pelaksanaan

Kontraktor harus mengusulkan lokasi siar pelaksanaan dalam gambar kerjanya. Siar pelaksanaan harus
diusahakan seminimum mungkin, agar perlemahan struktur dapat dikurangi. Siar pelaksanaan tidak
dijinkan untuk melalui daerah yang diperkirakan sebagai daerah basah, seperti toilet, reservoir dll. Jika tidak
ditentukan lain, maka lokasi siar pelaksanaan harus terletak pada daerah dimana gaya geser adalah minimal,
umumnya terletak pada sepertiga bentang tengah dari panjang efektif struktur. Pada pengecoran beton yang
tebal dan volume yang besar, lokasi siar pelaksanaan harus dipertimbangkan sedemikian rupa, sehingga tidak
menyebabkan perbedaan temperatur yang besar pada beton yang tersebut, yang berakibat retaknya
beton, disamping adanya tegangan residu yang tidak diinginkan. Siar pelaksanaan dapat dibuat secara
horizontal dan pengecoran dapat dibagi menjadi berlapis- lapis. Lokasi siar pelaksanaan tersebut harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas. Kontraktor harus mempertimbangkan di dalam penawarannya, segala hal
yang berhubungan dengan siar pelaksanaan seperti erstop, perekat beton, dowel dsb, maupun pembersih
permukaan beton agar dapat dijamin lekatan antara beton lama dan baru. Siar pelaksanaan harus bersih dari
semua kotoran dan bekas beton yang tidak melekat dengan baik, dan sebelum pengecoran dilanjutkan, harus
dikasarkan sedemikian rupa sehingga agregat besar menjadi terlihat tetapi tetap melekat dengan baik.

D.5.5

Pengangkutan dan Pengecoran Beton

Beton harus diangkut dengan cara sedemikian rupa, sehingga dapat tiba dilokasi proyek dalam
keadaan yang masih memenuhi spesifikasi teknis. Jika lokasi pembuatan cukup jauh dari proyek, maka
harus digunakan admixtures yang dapat memperlambat proses pengerasan dari beton. Pada saat beton
diangkut ke lokasi pengecoran juga harus diperhatikan, agar tidak terjadi pemisahan antara bahan-bahan
dasar pembuat beton. Pada saat pengecoran tinggi jauh dari beton segar harus kurang dari 1.50 meter. Hal
ini sangat penting agar tidak terjadi pemisahan antara batu pecah yang berat dengan pasta beton sehingga
dapat mengakibatkan kwalitas beton menjadi menurun. Untuk itu harus disiapkan alat bantu seperti piuap
tremi sehingga syarat ini dapat dipenuhi. Sebelum pengecoran beton harus dijaga agar tetap dalam kondisi
plastis dalam waktu yang cukup, sehingga pengecoran beton dapat dilakukan dengan baik. Kontraktor harus
mengajukan jumlah alat dan personil yang akan mendukung pengecoran beton, yang dianalisa
berdasarkan besarnya volume pengecoran yang akan dilakukan. Sebagai gambaran setiap alat pemadam
maupun memadatkan sekitar 5 8 m3 beton segar per jam. Beton segar dicampurkan harus ditempatkan
sedekat mungkin dengan lokasi akhir, sehingga masalah segregasi dan pengerasan beton dapat dihindarkan
dan selama pemadatan beton masih bersifat plastis.
Pengecoran pada kolom dan shear wall harus mengunakan tremi corong, agar tinggi jatuh beton
maksimal 50cm. Pengecoran lantai dan atap harus dilakukan sekaligus tidak boleh berhenti, jika hujan
kontraktor wajib memasang terpal agar beton tidak tercampur air. Sebelum dilakukan pengecoran, bagesting
harus dibersihkan dari kotoran kotoran dan dampah akibat pekerjaan. Pengecoran kolom yang ada
pertemuan dengan dinding harus dipasang angkur untuk dinding setiap jarak 50 cm tulangan 10 mm,

31

panjang angkur 60 cm

D.5.6

Selimut beton

DAFTAR PERLINDUNGAN BETON


BAGIAN KONSTRUKSI
SELIMUT
1. Plat
2. Dinding dan Keping
3. Balok
4. Kolom
5. Pondasi

D.6
D.6.1

BETON ( cm )
2,0
3,0
3,0
3,0
5,0

Pemadatan Beton
Alat Pemadat Beton / Concrete Vibrator

Beton yang akan dicor harus segera dipadatkan dengan alat pemadat (vibrator) dengan tipe yang
disetujui oleh Konsultan Pengawas Pemadatan tersebut bertujuan untuk mengurangi udara pada beton yang
akan mengurangi kwalitas pada beton. Pemadatan tersebut berkaitan dengan kelecakan (workability) beton.
Pada cuaca panas kelecakan beton menjadi sangat singkat, sehingga slump yang rendah-rendah biasanya
merupakan masalah. Untuk itu harus disediakan vibrator dalam jumlah yang memadai, sesuai dengan
besarnya pengecoran yang akan dilakukan. Minimum harus dipersiapkan satu vebriator cadangan yang akan
dipakai, jika ada vebriator cadangan yang akan dipakai, jika ada vebriator yang rusak pada saat pemadatan
sedang berlangsung. Alat pemadat harus di tempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menyentuh besi
beton. Pada saat pengecoran, Kontraktor harus menyediakan vibrator minimal 3 buah

D.6.2

Lokasi Pemadatan yang Sulit

Pada lokasi yang diperkirakan sulit untuk dipadatkan seperti pada pertemuan balok kolom, dinding beton
yang tipis dan pada lokasi pembersihan yang rapat dan rumit, maka kontraktor harus mempersiapkan metode
khusus untuk pemadatan beton yang disampaikan kepada Konsultan Pengawas paling lambat 3 hari
sebelum pengecoran dilaksanakan, agar tidak terjadi keropos pada beton, sehingga secara kualitas tidak
akan disetujui.

D.6.3

Pemadatan Kembali

Jika permukaan beton mengalami keretakan dalam kondisi masih plastis, maka beton tersebut harus
dipadatkan kembali sesuai dengan rekomondasi Konsultan Pengawas agar retak tersebut dapat
dihilangkan.

D.6.4

Metode Pemadatan Lain

Jika dipandang perlu Kontraktor dapat mengusulkan cara pemadatan lain yang dipandang dapat
menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara permukaan dan inti beton. Hal ini dapat
menyebabkan keretakan struktur dan terjadinya tegangan menetap pada beton, tanpa adanya beban yang
bekerja.

32

D.7

Temperatur Beton Segar

Dalam waktu 2 menit setelah contoh diambil, sebuah termometer yang mempunyai skala 5 s/d 100o
C, harus dimasukkan ke dalam contoh tersebut sedalam 100 mm. Jika temperatur sudah stabil selama 1
menit, maka temperatur tersebut harus dicatat dengan ketelitian 1o C.

D.8
D.8.1

Perawatan Beton
Tujuan Perawatan

Perawatan beton bertujuan antara lain untuk menjaga agar tidak terjadi kehilangan zat cair pada saat
pengikatan awal terjadi dan mencegah penguapan air dari beton pada umur beton awal dan juga mencegah
penguapan air dari beton pada umur beton awal dan juga mencegah perbedaan temperatur dalam
beton yang dapat menyebabkan terjadinya keretakan dan penurunan kualitas beton. Perawatan beton
harus dilakukan begitu pekerjaan pemadatan beton selesai dilakukan. Untuk itu harus dilakukan perawatan
beton sedemikian sehingga tidak terjadi penguapan yang cepat terutama pada permukaan beton yang
baru dipadatkan.

D.8.2

Lama Perawatan

Permukaan beton harus dirawat secara baik dan terus menerus dibasahi dengan air bersih selama
minimal 7 hari segera setelah pengecoran selesai. Untuk elemen vertikal seperti kolom dan dinding beton,
maka beton tersebut harus diselimuti dengan karung yang dibasahi terus menerus selama 7 hari.

D.8.3

Perlindungan Beton Tebal

Untuk pengecoran beton dengan ketebalan lebih dari 600 mm, maka permukaan beton harus dilindungi
dengan material (antara lain stereo foam) yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, agar dapat memantulkan
radiasi akibat panas. Material tersebut harus dibuat kedap, agar kelembaban permukaan beton dapat
dipertahankan.

D.8.4

Acuan Metal

Setiap acuan yang terbuat dari metal, beton ataupun material lain yang sejenis, harus didinginkan
dengan air sebelum pengecoran dilakukan. Acuan tersebut dihindari dari terik matahari langsung, karena
sifatnya yang mudah menyerap dan mengantarkan panas. Perlakuan yang kurang baik akan
menyebabkan retak-retak yang parah pada permukaan beton.

D.8.5

Curing Compound

Cara lain yang banyak digunakan saat ini adalah dengan menggunakan curing compound. Jenis dan
type curing compound yang digunakan harus disetujui oleh Konsultan Pengawas. Harus diperhatikan agar
tidak terjadi penurunan temperatur yang cepat pada permukaan beton sehingga dapat menyebabkan
keretakan pada permukaan beton.

D.9
D.9.1

Acuan / Begisting
Umum
a. Kontraktor harus membuat acuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara struktur baik

33

b.
c.
d.
e.

kekuatan, stabilitas maupun kekakuannya serta layak untuk digunakan. Acuan merupakan
suatu bagian pekerjaan struktur yang berguna untuk membentuk struktur beton agar
sesuai gambar kerja rencana.
Jenis acuan harus sesuai dengan yang disyaratkan di dalam spesifikasi ini. Kontraktor dapat
mengusulkan alternatif acuan dengan catatan bahwa harus disetujui oleh Konsultan
Pengawas. Di dalam penawarannya Kontraktor wajib menawarkan sesuai dengan yang
ditentukan di dalam spesifikasi.
Semua bagian acuan yang sudah selesai digunakan harus dibongkar dan dikeluarkan dari lokasi
pekerjaan. Tidak dibenarkan adanya bagian acuan yang tertanam di dalam struktur beton.
Pada struktur beton kedap air, cara pemasangan acuan dan bukaan pada acuan dan bukan
pada acuan harus dibuat sedemikian rupa, sehingga bukaan tersebut harus dapat ditutup
dengan sempurna, sehingga bukaan tersebut harus dapat ditutup dengan sempurna,
sehingga bebas dari kebocoran. Semua pengikat acuan (ties) harus dilengkapi dengan material
tertentu seperti water haffles, sehingga pada saat dicor akan menyatu dengan struktur beton.

D.10 Syarat-syarat Pelaksanaan


D.10.1 Struktur Acuan
Acuan berikut elemen pendukungnya harus dianalisa sedemikian rupa, sehingga mampu memikul beban
kesemua arah yang mungkin terjadi (kuat), tanpa mengalami deformasi yang berlebihan (kaku) dan harus
memenuhi syarat stabilitas. Deformasi dibatasi tidak lebih dari 1/360 bentang. Peninjauan terhadap
kemungkinan beban diluar beban beton juga harus dipertimbangkan, seperti kemungkinan beban konstruksi,
angin, hujan dan lain-lain. Semua analisa dan perhitungan acuan berikut elemen pendukungnya harus
diserahkan kepada konsultan pengawas untuk mendapatkan persetujuannya, sebelum pekerjaan dilakukan.

D.10.2 Dimensi Acuan


Semua ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar srtuktur adalah ukuran bersih penampang beton,
tidak termasuk plester / finishing. Tambahan elemen tertentu seperti bentuk / profil khusus yang tercantum
di dalam gambar arsitektur juga harus dipertimbangkan baik sebagai beban maupun dalam analisa biaya.

D.10.3 Gambar Kerja


Kontraktor harus membuat gambar kerja khusus acuan berdasarkan analisa yang dilakukannya. Gambar
kerja tersebut harus lengkap disertai ukuran dan detail-detail sambungan yang benar dan selanjutnya
diserahkan kepada Konsultan Pengawas untuk persetujuannya. Tanpa persetujuan tersebut Kontraktor
tidak diperkenankan untuk memulai pembuatan acuan di lapangan.

D.10.4 Tanggung Jawab


Walaupun sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas, tanggung jawab sepenuhnya atas kekuatan,
kekakuan dan stabilitas acuan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor. Jika terjadi hal-hal yang tidak
sesuai dengan perkiraan ataupun kekeliruan yang mengakibatkan timbulnya biaya tambahan, maka semua
biaya tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor. Acuan harus dibuat sesuai dengan yang dibuat di dalam
gambar kerja. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan gambar kerja harus segera dibongkar.

34

D.10.5 Stabilitas Acuan


Semua acuan harus diberi penguat datar dan silang sehingga kemungkinan bergeraknya acuan selama
pelaksanaan pekerjaan dapat dihindari. Konsultan Pengawas berhak untuk meminta Kontraktor untuk
memperbaiki acuan yang dianggap tidak / kurang sempurna dengan beban biaya Kontraktor.

D.10.6 Inspeksi Konsultan Pengawas


Semua acuan dengan penunjang-penunjang harus diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan
dilakukannya inspeksi dengan mudah oleh Konsultan Pengawas.

D.10.7 Detail Acuan


Penyusunan acuan harus sedemikian rupa hingga pada waktu pembongkarannya tidak menimbulkan
kerusakan pada bagian beton yang bersangkutan.

D.10.8 Akurasi
Acuan harus dapat menghasilkan bagian konstruksi yang ukuran kerataan / kelurusan, elevasi dan
posisinya sesuai dengan gambar-gambar konstruksi. Toleransi ukuran dan posisi harus sesuai dengan yang
tercantum dalam spesifikasi ini.

D.10.9 Sistem Pengaliran Air


Acuan harus bersih dan dibasahi terlebih dahulu sebelum pengecoran. Harus dipersiapkan sistem
pengaliran air sedemikian, sehingga pada saat dibasahkan, air dapat mengalir ke tempat yang diinginkan dan
acuan tidak tergenang oleh air. Acuan harus dipasang sedemikian rupa sehingga akan terjadi kebocoran
atau hilangnya air semen selama pengecoran, tetap lurus (tidak berubah bentuk) dan tidak tergoyang.

D.10.10 Ikatan Acuan di Dalam Beton


Sebelumnya dengan mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas baut-baut dan tie Rod yang
diperlukan untuk ikatan-ikatan dalam beton harus diatur sedemikian, sehingga bila acuan dibongkar kembali,
tidak akan merusak beton yang sudah dibuat.

D.10.11 Acuan Beton Exposed


Jika ada harus dilapisi dengan menggunakan release agent pada permukaan acuan yang menempel
pada permukaan beton. Berhubung release agent berpengaruh pula pada warna permukaan beton,
maka pemilihan jenis dan penggunaannya harus dilakukan dengan seksama. Cara pengecoran beton
harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga siar-siar pelaksanaan tidak merusak penampilan beton
exposed tersebut. Merk dan jenis release agent yang telah disetujui bersama, tidak boleh diganti dengan merk
jenis lain. Untuk itu Kontraktor harus memberitahukan terlebih dahulu nama pedangang dari release agent
tersebut, data bahan-bahan bersangkutan, nama produsennya, jenis bahan-bahan mentah utamanya, caracara pemakaiannya, resiko-resiko dan keterangan lain yang dianggap perlu untuk memperoleh persetujuan
tertulis dari Konsultan Pengawas.

D.10.12 Bukaan Untuk Pembersihan


Pada bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari acuan kolom atau dinding harus ada bagian

35

yang mudah dibuka untuk inspeksi dan pembersihan.

D.10.13 Persetujuan Konsultan Pengawas.


Setelah pekerjaan di atas selesai, Kontraktor harus meminta persetujuan dari Konsultan Pengawas dan
minimum 3 (tiga) hari sebelum pengecoran. Kontraktor harus mengajukan permohonan tertulis untuk izin
pengecoran kepada Konsultan Pengawas.

D.10.14 Anti Lendut (Chambers)


Kecuali ditentukan lain dalam gambar, maka semua acuan untuk balok dan plat, harus dipersiapkan
dengan memakai anti lendut dengan besar sbb
Lokasi
% Terhadap Bentang
Ditengah bentang balok
0.3
Diujung balok kantilever
0.5

D.10.15 Pembongkaran Acuan


Pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati, dimana bagian konstruksi yang dibongkar acuannya
harus dapat memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaannya. Pembongkaran acuan dapat dilakukan
setelah mencapai waktu sbb
Elemen Struktur
Waktu Minimum
Sisi-sisi balok kolom dan dinding
3 hari
Balok dan plat beton (tiang penyanggah tidak
21 hari
dilepas)
Tiang-tiang penyanggah plat
21 hari
Tiang-tiang penyanggah balok-balok
21 hari
Waktu pembongkaran tersebut hanya merupakan kondisi normal dan harus dipertimbangkan secara
khusus jika pada lantai-lantai tersebut bekerja beban dan mengusulkan metode dan perhitungan yang akan
digunakan, dan usulan tersebut harus mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas. Tidak ada
biaya tambah untuk biaya tersebut. Semua akibat yang timbul akibat usulan tersebut menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
Setiap rencana pekerjaan pembongkaran acuan harus diajukan terlebih dahulu secara tertulis untuk
disetujui Konsultan Pengawas. Pekerjaan pembongkaran acuan kolom paling cepat dilakukan setelah umur
beton 3 (tiga) hari dan harus dilaporkan dan disetujui sebelumnya oleh Konsultan Pengawas.

D.11 Beton Non Struktural


D.11.1 Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya untuk melaksanakan
pekerjaan seperti dinyatakan dalam gambar, dengan hasil yang baik dan sempurna.
b. Pekerjaan ini meliputi beton sloof, beton kolom praktis, lantai beton untuk bangunan yang
dimaksudkan termasuk pekerjaan besi beton dan pekerjaan bekisting/acuan, dan semua pekerjaan
beton yang bukan struktur, seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
c. Ketentuan ketentuan dalam pekerjaan beton dalam pasal ini mengikat untuk pekerjaan beton
nonstruktur

36

D.11.2 Syarat syarat pelaksanaan


a. Digunakan mutu U24, dan, U39. Besi harus bersih dari lapisan minyak/lemak dan bebas dari cacat
seperti serpih-serpih. Penampang besi harus bulat serta memenuhi persyaratan SNI-2 (PBI 1971)
Biladipandang perlu Kontraktor diwajibkan untuk memeriksa mutu besi beton ke laboratorium
pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor.
b. Tulangan yang dipakai untuk pekerjaan kolom praktis, balok latei, dan ring balk menggunakan
tulangan D10mm ulir dengan sengkang 8 150
c. Apabila tidak ditunjukkan dalam gambar, Kolom praktis dan ring balk harus dipasang tiap pasangan
dinding seluas maksimal 9m2 , atau setiap jarak 3m.
d. Angkur angkur dinding dipasang setiap jarak 50 cm tulangan 10mm dengan panjang angkur 60
cm
e. Mutu beton yang dicapai dalam pekerjaan beton non struktur adalah 17.5 MPA dan harus Memenuhi
persyaratan yang ditentukan dalam PBI-1971.
f. Pembuatan tulangan-tulangan untuk batang lurus atau yang dibengkokkan, sambungan kait-kait dan
pembuatan sengkang (ring), persyaratannya harus sesuai SNI DT-91-0008- 2007.
g. Pemasangan dan penggunaan tulangan beton harus disesuaikan dengan gambar konstruksi.
h. Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin agar besi tersebut tidak berubah
tempat selama pengecoran, dan harus bebas dari papan acuan atau lantai kerja dengan memasang
selimut beton sesuai dengan ketentuan dalam SNI DT-91-0008-2007.
i. Kontraktor diwajibkan melaksanakan pekerjaan persiapan dengan membersihkan dan menyiram
cetakan-cetakan sampai jenuh, pemeriksaan ukuran-ukuran dan ketinggian, pemeriksaan
penulangan dan penempatan penahan jarak.
j. Pengecoran harus dilakukan dengan sebaik mungkin dengan menggunakan alat penggetar
untuk menjamin beton cukup padat dan harus dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti
keropos dan sarang-sarang koral/split yang dapat memperlemah konstruksi.
k. Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak disepuh seng, diameter
kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat pengikat besi beton/rangka harus
memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam SNI DT-91-0008-2007.
l. Beton harus dilindungi dari pengaruh panas, hingga tidak terjadi penguapan cepat. Persiapan
perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan harus diperhatikan.

D.11.3 Pekerjaan Stek


Pekerjaan stek kolom, stek tangga dan stek kolom praktis
a. Besi stek kolom harus memenuhi syarat-syarat spesifikasi/peraturan yang berlaku.
b. Besi beton harus terpasang sesuai dengan Gambar Kerja dan turut dicor sampai batas permukaan
atas sloof
c. Besi lurus setelah selesai pekerjaan cor.
d. Stek tulangan diatas 12mm, tidak dibenarkan ditekuk.

37

D.11.4 Syarat-syarat Pengamanan Pekerjaan :


a. Beton yang telah dicor dihindarkan dari benturan benda keras selama 3 x 24 jam setelah pengecoran.
b. Beton dilindungi dari kemungkinan cacat yang diakibatkan dari pekerjaan-pekerjaan lain.
c. Bila terjadi kerusakan, Kontraktor diwajibkan untuk memperbaikinya dengan tidak mengurangi
mutu pekerjaan. Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
d. Bagian beton setelah dicor selama dalam pengerasan harus selalu dibasahi dengan air terus menerus
selama 1 (satu) minggu atau lebih (sesuai ketentuan dalam SNI DT-91-0008-2007).

38

E. PEKERJAAN LANTAI
E.1

Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan dan alat-alat bantu
yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang
bermutu baik.
b. Pekerjaan sub lantai ini dilakukan di bawah lapisan finishing lantai yang berlangsung diatas tanah
(lantai dasar yang tidak memakai plat beton) serta sesuai detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam
gambar.

E.2

Persyaratan bahan
a. Semen harus memenuhi NI-8, SII 0013-81 dan ASTM C 1500-78A.. ex Holcim, setara
b. Pasir beton yang digunakan harus memenuhi PUBI 82 pasal 11 dan SII 0404-80.
c. Kerikil/split harus memenuhi PUBI 82 pasal 12 dan SII 0079-79 / 0087-75 / 0075-75.
d. Air harus memenuhi persyaratan dalam PUBI 82 pasal 9, AFNOR P.18-303 dan NZS-3121/1974.
e. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan persyaratan ; PBI 1971 (NI-2) PUBI 1982
dan (NI-8).

E.3

Gambar Detail Pelaksanaan


a. Kontraktor Pelaksana wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan) berdasarkan pada
gambar dokumen kontrak dan telah disesuaikan dengan keadaan di lapangan.
b. Kontraktor Pelaksana wajib membuat shop drawing untuk detail-detail khusus yang belum tercakup
lengkap dalam gambar kerja/dokumen kontrak:
c. Dalam shop drawing harus jelas dicantumkan semua data yang diperlukan termasuk keterangan
produk, cara pemasangan atau persyaratan khusus yang beium tercakup secara lengkap di dalam
gambar kerja / dokumen kontrak sesuai dengan spesifikasi pabrik.
d. Shop drawing sebelum dilaksanakan harus mendapat persetujuan terlebih dahuiu dari Konsultan
Pengawas.

E.4

Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Bahan-bahan yang dipakai sebelum digunakan terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya,
untuk mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas.
b. Material lain yang tidak ditentukan dalam persyaratan di atas, tetapi dibutuhkan untuk penyelesaian/
penggantian dalam pekerjaan ini harus baru, kualitas terbaik dan jenisnya dan harus disetujui
Konsultan Pengawas.
c. Pekerjaan sub lantai dilakukan langsung di atas tanah, maka sebelum pasangan sub lantai
dilaksanakan terlebih dahulu Iapisan urug di bawahnya harus sudah dikerjakan dengan
sempurna dengan ketebalan sampai dengan elevasi yang diminta pada gambar (telah dipadatkan
sesuai persyaratan), rata permukaannya dan telah mempunyai daya dukung maksimum.
d. Pekerjaan sub lantai merupakan campuran antara PC, pasir beton dan kerikil atau split dengan
perbandingan 1:3:5.
e. Tebal lapisan sub lantai minimal dibuat 50 mm atau sesuai yang disebutkan/ disyaratkan dalam detail

39

f.

E.5

gambar.
Permukaan lapisan sub lantai dibuat rata/waterpas, kecuali pada lantai ruangan-ruangan yang
disyaratkan dengan kemiringan tertentu. Perlu diperhatikan mengenai kemiringan lantai agar sesuai
yang ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.

Pekerjaan Screed Lantai

E.5.1

Lingkup Pekerjaan

a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan dan alat-alat bantu
yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang
bermutu baik.
b. Pekerjaan lantai screed meliputi area di atas plat-plat atap, serta untuk seluruh detail seperti yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar.

E.5.2

Persyaratan Bahan

a. Semen yang digunakan harus dari mutu terbaik tipe I, dari satu hasil produk yang disetujui
b. Konsultan Pengawas serta memenuhi syarat- syarat dalam NI-8, SII 0013-81 dan ASTM C150-78A.
ex Holcim, setara
c. Pasir harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam PUBI1982 pasal 11 dan SII 0404-80.
d. Air harus memenuhi persyaratan dalam PUBI 1982 pasal 9, AFNOR P. 18-303 dan NZS
3121/1974.
e. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan yang disyaratkan dalam NI-2,NI-8 dan PUBI
1982.

E.5.3

Gambar Detail Pelaksanaan

a. Kontraktor Pelaksana wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan) berdasarkan pada
gambar dokumen kontrak dan telah disesuaikan dengan keadaan di lapangan.
b. Kontraktor Pelaksana wajib membuat shop drawing untuk detail-detail khusus yang belum tercakup
lengkap dalam gambar kerja/dokumen kontrak:
c. Dalam shop drawing harus jelas dicantumkan semua data yang diperlukan termasuk keterangan
produk, cara pemasangan atau persyaratan khusus yang beium tercakup secara lengkap di dalam
gambar kerja / dokumen kontrak sesuai dengan spesifikasi pabrik.
d. Shop drawing sebelum dilaksanakan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan
Pengawas.

E.5.4

Syarat-Syarat Pelaksanaan

a. Bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang terlebih dahulu diserahkan
contoh-contohnya kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuannya.
b. Lantai screed dilakukan bila dasar lantai yang merupakan beton tumbuk atau plat beton telah
dibersihkan dari segala kotoran, debu dan bebas dari pengaruh pekerjaan yang lain.
c. Bahan lantai screed merupakan campuran dari bahan PC dan pasir dengan perbandingan 1pc:3ps.
d. Lapisan atas/finish lantai screed adalah acian PC tanpa campuran bahan lain, yang dilapiskan ke

40

e.

f.

g.
h.

i.

j.
k.

seluruh permukaan lantai dan diratakan. Tebal acian minimum 2 (dua) mm setelah diratakan dan
dilicinkan, atau bahan/ material lain sesuai yang disebutkan/disyaratkan dalam gambar detail atau
sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.
Tebal adukan Iantai screed termasuk acian minimal dibuat 50 mm atau sesuai yang ditentukan oleh
Konsultan Pengawas, dari adukan 1 PC : 5 pasir. Permukaan Iantai screed harus betul-betul rata,
kecuali bila disyaratkan lain, bebas cacat (retak-retak), sehingga siap dipasang lantai Vinyl dan bahan
finishing lainnya.
Sebagai persiapan sebelum Iantai screed dilakukan, alas Iantai screed harus dibersihkan dengan
sikat kawat dan air, supaya agregate muncul dan memberi ikatan yang baik dengan screed. Cara lain
adalah membuat permukaan beton menjadi kasar dengan cara yang disetujui Konsultan
Pengawas. Setelah dibersihkan, alas lapisan dibasahi (semalam) dan setelah kering dilapis cairan
semen (air semen) maximum 20 menit, selanjutnya screed dicor.
Untuk screeding daerah yang luas di atas 25 m2 mixing harus mengikuti syarat-syarat mixing untuk
beton (mechanical mixing dan weight batcher harus digunakan).
Pengecoran harus dilakukan sekaligus. Untuk daerah yang luas pengecoran mengikuti lajur selebar
3 (tiga) m dan pengecoran sebuah lajur hanya boleh dilakukan 24 jam setelah lajur sebelahnya dicor.
Permukaan ujung dari lajur screed yang terdahulu harus dibasahi dahulu dengan air semen atau
dengan diberi Calbond atau bahan lain yang setara sebelum lajur sebelahnya dicor.
Peralatan dan Compaction,Screed harus di compact dengan beam vibrator dan perhatian harus
diberikan pada ujung-ujung yang sering tertinggal. Bila perataan diperlukan (untuk finishing yang
membutuhkannya), maka perataan dengan papan screed harus menunggu minimum 1,5 jam dan
maximum 2,5 jam untuk menghindari pendebuan permukaan screed. Toleransi perbedaan tinggi
dalam satu ruang besar dengan luas 25 m2 maximum 15 mm. Toleransi perbedaan antara 2 jalur
maximum 1 mm. Screed harus ditrowel sehingga diperoleh permukaan yang betul-betul rata. Setelah
ditrowel, permukaan yang memerlukan pengecatan harus ditunggu sampai cukup kering dan
memenuhi syarat untuk dicat
Screed harus selalu dibasahi selama 7 hari.
Pemasangan bahan-bahan finishing Iantai pada plat beton bertulang (konvensional) dapat dilakukan
minimum setelah 4 (empat) minggu, kecuali jika dipergunakan curing agent/ additive dapat
mengikuti persyaratan produk.

41

F. PEKERJAAN PLAFOND
F.1

Ketentuan Umum
a. Pekerjaan langit-langit ini (plafond) baru boleh dilakukan setelah seluruh pekerjaan instalasi seperti
kabel- kabel, pipa-pipa dan peralatan lainnya yang berada didalam plafond sudah selesai dipasang
dan telah diuji coba (ditest).
b. Bahan yang dipasang baru, baik, tidak cacat dan telah mendapatkan persetujuan dari Perencana.
c. Seluruh pekerjaan langit-langit sudah termasuk pembuatan lubang lampu (armature), grille
exhaust dan lubang-lubang lainnya yang berada pada plafond. Biaya pembuatan lubang tersebut
dimasukkan pada harga pekerjaan langit-langit (plafond).
d. Lokasi Man Hole pada langit-langit (plafond)
mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Manajemen konstruksi.

F.2

Lingkup Pekerjaan
a. Meliputi penyediaan bahan dan pemasangan langit-langit (plafond), alat-alat Bantu, rangka dan
penggantung, list sudut, koef plafond dan pekerjaan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan langitlangit.
b. Membuat gambar kerja (shop drawing) untuk disetujui perencana.
c. Menyediakan contoh-contoh bahan dan diajukan kepada Manajemen Konstruksi/ Pengawas/
Perencana untuk disetujui / di ACC.
d. Membuat mock-up untuk disetujui / di ACC Manajemen Konstruksi/ Pengawas/ Perencana.

F.3

Bahan
Plafond gypsum t : 9 mm, Jaya metalfuring
Plafond kalsiboard t : 3 mm, Jaya metalfuring

F.4

Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang terlebih dahulu
diserahkan contoh-contohnya kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan
persetujuannya.
b. Semua bahan yang dipasang harus baru, baik, tidak cacat, basah, dan tidak melengkung,
Warna dan tekstur bahan harus sama.
c. Contoh material ukuran sebenarnya yang menunjukkan pola dan warna. Kontraktor harus
membuat Mock-up yang mewakili sistem pemasangan ceiling.
d. Kontraktor harus menyerahkan Fotocopy lengkap spesifikasi teknik dari pabrik termasuk detail
instruksi untuk pemasangan material.
e. Material harus dikirim dalam pelindung tertutup atau container dari pabrik dengan nama pabrik,
warna, ukuran dan tipe.
f. Material harus dipegang/dijaga dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan sesuai dengan
instruksi dari pabrik.
g. Material harus disimpan dalam ruangan, ditutup, ditumpuk rata, terangkat dari lantai dan

42

terlindung dari air, yangsemuanya sesuai petunjuk pabrik.

F.5

Pelaksanaan
a. Sebelum rangka dipasang Kontraktor Pelaksana akan mengajukan contoh bahan
kepada Manajemen
Konstruksi/Pengawas untuk disetujui.
b. Seluruh instalasi M&E yang berada di atas plafond telah terpasang dan telah di test.
c. Setelah seluruh rangka plafond terpasang, bidang permukaan harus rata, waterpass dan
tidak bergelombang.
d. Penggantung untuk rangka plafond tiap jarak 120 x 120 cm atau sesuai gambar.
e. Bahan penutup langit-langit memakai gypsumboard, naad mati / tanpa naad,
sambungan- sambungan panel ditutup dengan compound dan dilapisi kain kassa kualitas baik.
f. Lembaran gypsum direkatkan pada rangka plafond dengan menggunakan sekerup tiap jarak
20 cm atau sesuai gambar, ditanam sedalam 12 mm dari permukaan panel gypsum, agar
dapat terisi
oleh compound.
g. Seluruh pertemuan sudut antara plafond dengan dinding diberi list profil aluminium ukuran 10
mm x 10 mm atau sesuai gambar.
h. Dalam pengerjaan plafond ini, sudah termasuk pembuatan lubang armature, biayanya
dimasukan ke dalam harga satuan plafond.

43

F.6

Flow Chart Pekerjaan Plafond

44

G. PEKERJAAN KACA
G.1

Bahan
Kaca jendela/pintu :
Produksi Asahimas, setara.
Jenis float glass.
Warna Bening
Tebal 5 mm dan 8mm atau sesuai gambar
Bahan kaca dan cermin, harus sesuai SII 0189/78 dan PBVI 1962, digunakan setara produk Asahi
Mas.
Kaca tempered tebal sesuai dengan gambar merk Asahi Mas, dan kaca laminasi produk Asahi Mas.

G.2

Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang terlebih dahulu diserahkan
contoh-contohnya kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuannya.
b. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan
dalam buku ini dan mengikuti semua persyaratan/petunjuk dari produsen.
c. Pekerjaan ini harus dikerjakan oleh perusahaan aplikator yang telah berpengalaman untuk jenis
pekerjaan dan volume yang minimal sama dengan proyek ini, dan harus disetujui oleh Konsultan
Perencana/Pengawas
d. Semua bahan yang telah terpasang harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.
e. Bahan yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan, dan diberi tanda untuk
mudah diketahui, tanda-tanda tidak boleh menggunakan kapur, tanda-tanda harus dibuat dari
potongan kertas yang direkatkan dengan menggunakan lem aci.
f. Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat-alat pemotongan kaca khusus.
g. Pemotongan kaca harus disesuaikan ukuran rangka, minimal 10 mm masuk kedalam alur kaca pada
frame/rangka.
h. Pembersih akhir dari kaca menggunakan kain katun yang lunak dengan mengunakan cairan
pembersih kaca merk clear.
i. Hubungan kaca dengan kaca dan kaca dengan frame/kusen harus diisi dengan lem silikon merk
ABA/GE warna transparan atau dengan warna senada dengan warna frame, cara pemasangan dan
persiapan pemasangan harus mengikuti petunjuk yang dikeluarkan produsen kaca dan produsen
sealant termasuk pemasangan setting block, alat bantu pemasangan dan lain-lain.
j. Kaca dan cermin dan kaca harus terpasang rapi, sisi tepi harus lurus dan rata, tidak diperkenankan
retak dan pecah pada sealant/tepinya, bebas dari segala noda dan bekas goresan.

G.3

Pelaksanaan
a. Buat cerukan pada dinding bagian atas dan bawah kaca sedalam dan selebar 1,5cm.
b. Beri sedikit perkuatan dengan adukan semen pada dasar cerukan untuk pegangan lis "U". Dapat pula
dengan memaku lis "U" ke dalam cerukan agar lis terpegang kuat.
c. Tempatkan lis aluminium berbentuk "U" dengan ukuran 1cm pada kedua cerukan itu.
d. Berikan sealant sepanjang bagian atas dan bawah cerukan dari lis aluminium itu. Lalu, masukkan

45

kaca dengan posisi miring.


e. Berikan sealant pada bagian sisi kaca bagian atas dan bawah yang tertanam pada cerukan agar kaca
tertanam rapat.
f. Tutup celah yang terbentuk pada sisi ujung kaca bagian kiri dan kanan dengan sealant.
g. Bersihkan kaca dengan koran basah

46

H. PEKERJAAN RAILLING DAN SUNSCREEN


H.1
H.1.1

Pekerjaan Railing Tangga


Bahan
a. Tiang railing besi hollow dan handrail yang dibentuk sesuai gambar rencana.
b. Bagian kaki/tanggul dari beton bertulang yang merupakan satu kesatuan dari pekerjaan struktur,
Pada dinding void yang mempunyai ketinggian + 10 cm dari muka lantai atau sesuai gambar
harus sudah disiapkan dudukan untuk pasanganpasangan railing.
c. Bagian ini diberi plint sesuai gambar rencana dan bagian permukaan atas dinding tersebut
dipasang keramik atau material lain sesuai gambar rencana.

H.1.2

Pelaksanaan
a.
b.
c.
b.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
c.

H.2
H.2.1

Marking As & elevasi untuk posisi railing tangga sesuai gambar kerja.
Tentukan letak tiang railing sesuai gambar kerja.
Pasang Tiang Railing pada awal trap
Tangga & pada bordes lantai atasnya.
Tarik benang antara kedua tiang railing.
Pasang tiang railing sesuai jarak yang telah ditentukan.
Matikan dudukan tiang railing.
Pasang railing horizontal dengan menumpu pada tiang.
Sambung railing horizontal untuk trap berikutnya.
Ratakan & haluskan sambungan serta bersihkan railing tangga yang telah terpasang.
Cek ketegakan tiang, kemudian matikan dengan Dynabolt dan agar diperhatikan sistem Joint
bagian bawah (Plat Tangga dengan Cover Plat).

Pekerjaan Plat Sunscreen


Umum
a. Lingkup Pekerjaan seperti tertera dalam gambar dan dilokasi yang ditentukan, meliputi pula
penyediaan tenaga kerja, bahan dan peralatan untuk terlaksanya pekerjaan ini dengan hasil
yang baik.
b. Syarat-syarat umum dan bahan pekerjaan atap plat beton sepenuhnya mengikuti Peraturan
Beton Indonesia (PBI) tahun 1971 (NI-2) dimana pelaksanaan pekerjaan dan aturan-aturan
lainnya.

H.2.2

Bahan
a. Bahan disesuaikan dengan Bab Pekerjaan Beton
b. Untuk waterproofing plat atap digunakan jenis Sheet Membrane ex. Grace (The 3000) atau
setara, dan penggunaannya disesuaikan dengan persyaratan pabrik.

47

H.2.3

Pelaksanaan
a. Harus sesuai dengan bab pekerjaan beton. Harus diperhatikan arah kemiringan atap dan harus
sudah dipersiapkan corong/lubang-lubang cucuran talang dan lain-lain sehingga tidak perlu
membobok beton yang sudah dicor.
b. Atau untuk talang yang direncanakan pada shaft-shaft yang telah disiapkan yang fungsinya
juga sebagai saluran jaringan (ducting) AC, maka waktu pengecoran harus dipasang sparing,
hal ini harus dikonsultasikan dengan Tim Teknis / Konsultan Supervisi.
c. Finishing dilakukan setelah dak beton kering betul dan mendapat persetujuan dari Tim Teknis
/ Konsultan Supervisi apakah atap tersebut memenuhi syarat untuk difinish.
d. Sebagian finishing untuk meratakan dan memberikan kemiringan atap, mula-mula diberi
plesteran dengan adukan 1 bagian pc : 3 bagian pasir
e. Pada saat ini dicek kemiringan-kemiringan atap, setelah itu diberi finish akhir dengan lapisan
waterproofing. Sedangkan untuk atap dak beton yang memang dibuat miring, maka kemiringan
tersebut disesuaikan dengan rencana dalam gambar bestek.

48

I.

PEKERJAAN KOSEN, PINTU DAN JENDELA SERTA KACA


I.1

Pekerjaan Kusen

I.1.1

Umum

Material kosen, pintu, jendela adalah material yang berkaitan erat dengan arsitekturnya dan termasuk
material halus, finishing yang perlu diperhatikan prosedurnya baik mulai dari pemasangan sampai
pemeliharaannya. Untuk menghindari resiko salah pemasangan, ukuran dan material kosen maupun
accesoriesnya, untuk itu penyedia memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Mengadakan pemeriksaan pengukuran di lapangan, agar ukuran kosen yang dipasang telah
disesuaikan dengan ukuran di lapangan dan membuat shop drawings, lalu diajukan kepada
Manajemen Konstruksi dan Perencana untuk dimintakan persetujuannya.
b. Mengajukan contoh-contoh bahan yang digunakan pada proyek ini.
c. Bahan yang cacat dan bernoda tidak boleh digunakan, bahan yang dipasang sesuai dengan
contoh bahan yang sudah disetujui Perencana/Manajemen Konstruksi.
d. Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, pengerjaan, pemasangan alat-alat bantu, alat-alat
angkut dari gudang ke lokasi proyek dan peralatan lainnya.
e. Sebelum kosen dibuat/dipesan, diwajibkan membuat mock-up kosen, pintu, jendela dengan
skala 1 : 1, lengkap dengan kunci, engsel, kaca dan finishing melamik di proyek untuk diperiksa
dan di ACC terlebih dahulu oleh Manajemen Konstruksi dan Perencana Arsitektur.
f. Pemasangan kosen dilakukan paling akhir setelah dinding diplester dan diaci, naad/pertemuan
kosen dengan dinding diberi sealent.

I.1.2

Bahan Kusen Alumunium

Profil Alumunium bermutu baik merek ALEXINDO, setara


a. Alloy / Billet
: menggunakan bahan asli, tidak terbuat dari bahan-bahan scrap / sisa, standard
bahan 6063
b. Standard
: SII 0692 82
c. Tebal Anodising : 10 micron (minimal)
d. Ukuran Profil
: minimal 45 mm x 100 mm (4)
e. Tebal Profil
: minimal 1 mm
f. Finish & warna
: Powder Coating
g. Pemakaian
: sesuai gambar

I.1.3

Aksesoris & Perlengkapannya

a. Sekrup, hardware & parts menggunakan stainless Steel


b. Angkur-angkur tanam : Baja
c. Bagian yang berhubungan dengan alumunium diberi lapisan galvanized 25 micro, bagian lain
diberi zinchromat type alkid

49

I.1.4

Bahan Sealant

a. Sealent Setaraf Dow Corning atau G.E sealent yang dipakai harus sesuai dengan persyaratan
fungsinya, untuk structural glazing, curtain wall atau fungsi lain dengan rekomendasi dari pabrik,
pemakaian 1 tube maksimal 150 cm

I.1.5

Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang terlebih dahulu
diserahkan contoh-contohnya kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan
persetujuannya.
b. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor Pelaksana diwajibkan untuk meneliti gambargambar yang ada sesuai kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk
mempelajari bentuk pola, penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail sesuai
gambar-gambar.
c. Semua profil dilapisi plastik PVC atau polythilene film.
d. Pengiriman barang-barang harus hati-hati dan tidak boleh terjadi kerusakan.
e. Setiap unit pintu dan jendela alumunium yang dikirim ke lapangan harus sudah diperiksa
kualitasnya oleh QC dan distempel stiker Customer Service.
f. Penimbunan material kusen di tempat pekerjaan harus ditempatkan pada ruang/tempat dengan
sirkulasi yang baik, tidak terkena cuaca langsung dan terlindung dari kerusakan dan
kelembaban.
g. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan contoh/ sample bahan kusen dan kaca, contoh
kontruksi dan membuat shop drawing guna mendapat persetujuan Konsultan Pengawas,
h. sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai Semua ukuran harus sesuai gambar dan merupakan
ukuran jadi. Pemotongan dan pembuatan kusen dilakukan dengan mesin di luar tempat
pekerjaan/pemasangan.
i. Semua unit alumunium harus terpasang dengan hubungan siku-siku, tegak lurus dan mengikuti
patokan (bench mark) dari Kontraktor Pelaksana.
j. Sebelum diadakan pemasangan maka perlu adanya pengukuran di lapangan dan koordinasi
dengan pekerjaan lain, sehingga ukuran lubang (opening) sesuai dengan shop drawing.
k. Semua pengerjaan harus dilaksanakan oleh tenaga kerja yang terbaik.
l. Pada pekerjaan kusen harus dipasang klos-kloS bangkirai panjang minimal 30cm pada engselengsel pintu dan engsel jendela.
m. Semua unit pintu dan jendela alumunium yang sudah terpasang harus selalu dalam keadaan
terproteksi dengan plastik pelindung agar tidak tergores maupun cacat dan kotor. n. Screw
dipakai M8 harus dipasang dengan jarak maksimal 75cm
n. Setelah pemasangan kusen atau daun pintu & jendela Kontraktor Pelaksana diwajibkan
memberikan perlindungan sedemikian rupa sehingga terhindar dari kerusakan kerusakan oleh
benturan-benturan benda-benda lain dan dari kelembaban ataupun terkena cuaca langsung.
o. Apabila terjadi cacat atau kerusakan-kerusakan baik yang terlihat maupun yang
tersembunyi, Kontraktor Pelaksana wajib memperbaiki ataupun mengganti dengan yang baru

50

sampai dengan disetujui oleh Konsultan Perencana/Pengawas dengan seluruh biaya


ditanggung oleh Kontraktor Pelaksana.

I.1.6

Pelaksanaan
a. Buat lobang untuk sekrup fischer pada sisi dinding dalam, tandai juga titiknya pada kusen pintu
atau jendela. Kedalaman lubang harus sama dengan panjang fischer.
b. Masukkan dari arah sebelah kanan atau kiri. Buat lobang pada kusen yang bertepatan dengan
fisher tadi dan masukkan sekrup, kencangkan menggunakan obeng. Kemudian tutup dengan
karet penutup, sehingga sekrup tidak terlihat. Potong dan rapikan karet penutup menggunakan
pisau pemotong (cutter)Masukan kusen kedalam lobang, mengatur agar posisinya pas dengan
menggunakan alat beji, setelah posisi pas maka Kontraktor Pelaksanastel kelurusan kusen
dengan dinding, ketegakan dan kedataran sampai benar-benar bagus.
c. Daun pintu atau jendela tersebut dimasukan ke lobang kusen, kemudian pasangsemua
aksesorisnya seperti engsel, roda, rel, hendle, door closer dan yang lainya.
d. Kemudian finishing tembok dengan menggunakan bahan mortar/ semen dan sealent. pengisian
dilakukan sampai tertutup semua celah antara dinding dan kusen.
e. Selama proses pelaksanaan pembangunan berlangsung maka rawan terjadi goresan atau
benturan sehingga terjadi kerusakan kusen. oleh karena itu Kontraktor Pelaksana buat
pelindung dengan bahan isolasi plastik atau kertas

I.2
I.2.1

Pekerjaan Kunci Dan Penggantung / Engsel


Bahan
a. Semua Hardware yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam
buku Spesifikasi Teknis, bila terjadi perubahan atau penggantian Hardware akibat dari
pemilihan merek, Kontraktor Pelaksana wajib melaporkan hal tersebut kepada Konsultan
Pengawas dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan.
b. Semua anak kunci harus dilengkapi dengan tanda pengenal dari pelat alumunium
berukuran 3 x 6 cm dengan tebal 1 mm, atas biaya dari kontraktor
c. Harus disediakan lemari penyimpanan anak kunci dengan Backed Enamel Finish yang
dilengkapi dengan kait-kaitan untuk anak kunci lengkap dengan nomor pengenalnya. Lemari
berukuran lebar x tinggi adalah 40 x 50 cm, dengan tebal 15 cm berdaun pintu tunggal memakai
engsel piano dan handle alumunium.
d. Anak kunci harus dibuatkan MASTER KEY tiap lantai dan GRAND MASTER KEY untuk
keseluruhan ruangan, seluruh biaya menjadi beban Penyedia Jasa/ Kontraktor Pelaksana

I.2.2

Pelaksanaan
a. Engsel atas dipasang + 25 cm (as) dari permukaan atas pintu. Engsel bawah dipasang + 25 cm
(as) dari permukaan bawah pintu. Engsel tengah dipasang ditengah-tengah antara kedua
engsel tersebut.
b. Untuk pintu toilet, engsel atas dan bawah dipasang + 25 cm dari permukaan pintu, engsel tengah
dipasang ditengah-tengah antara kedua engsel tersebut.

51

c. Penarik pintu (door pull) dipasang 1050 mm (as) dari permukaan lantai.
d. Pemasangan lockease, handle dan backplate harus rapi, lurus dan sesuai dengan letak posisi
yang telah ditentukan oleh Konsultan Pengawas, apabila hal tersebut tidak tercapai,
Kontraktor Pelaksana wajib memperbaiki tanpa tambahan biaya.
e. Door Stopper dipasang pada lantai, letaknya diatur agar daun pintu dan kunci tidak membentur
tembok pada saat pintu terbuka.
f. Door Holder didasar daun pintu dipasang 6 cm dari tepi daun pintu.
g. Pemasangan harus baik sehingga pada saat ditekan ke bawah, karpet holder akan
menekan lantai pada posisi yang dikehendaki. Door holder dipasang hanya pada pintu yang
tidak menggunakan door closer.
h. Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus dilakukan pengujian secara
kasar dan halus.
i. Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya.
j. Kontraktor Pelaksana wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan keadaan di lapangan
dan disetujui Konsultan Perencana/Pengawas. Di dalam shop drawing harus jelas dicantumkan
semua data yang diperlukan termasuk keterangan produk, cara pemasangan atau detail-detail
khusus yang belum tercakup secara lengkap di dalam gambar dokumen kontrak, sesuai dengan
Standar Spesifikasi Produsen.

52

J. PEKERJAAN PENGECATAN
J.1

Lingkup Pekerjaan
a. Meliputi penyediaan bahan-bahan, alat-alat bantu dan penyediaan tenaga kerja.
b. Seluruh permukaan dinding telah difinish, plafond telah selesai dikerjakan, kosenkosen/pintu/jendela telah selesai dipasang.
c. Mengajukan brosur-brosur cat dinding/cat plafond/politur melamik dan bahan-bahan lainnya yang
diperlukan.
d. Membuat mock-up pada dinding/plafond untuk dipilih dan disetujui warnanya.

J.2
J.2.1

Pekerjaan Cat Dinding / Tembok Untuk Interior


Bahan
a. Cat Dasar
Cat dasar yang digunakan harus mengikuti ketentuan sbb :
i. Alkali Resisting Primer/Alkali Resistant Sealer untuk cat interior dan eksterior
pada bidang permukaan plesteran, beton, Ex Mowilex, setara
ii. Quick-Drying Metal Primer Chromate/Zinc Chromate Primer untuk bidang
permukaan besi dan logam lainnya.
b. Cat Akhir
Cat akhir yang digunakan harus mengikuti ketentuan sbb :
i. Acrylic Emulsion Exterior Grade Fungi/Acrylic Resin/Weathershield
untuk cat eksterior dan interior pada bidang permukaan plesteran, beton,
atau lainnya. Merek Catylac/setara warna ditentukan kemudian
ii. Synthetic Super Gloss/Synthetic Enamel untuk cat pada bidang permukaan
besi dan logam lainnya atau seperti ditunjukan pada gambar.
c. Persyaratan lain, Semua material cat, baik cat dasar cat akhir maupun bahan
pengencernya, harus merupakan produk asli keluaran satu produsen yang sama. Tidak
dibenarkan melakukan pencampuran cat sendiri (mengoplos) atau menggunakan material yang
berbeda dengan yang telah ditentukan/disyaratkan oleh produsen.

J.2.2

Syarat Pelaksanaan
a. Kontraktor Pelaksana harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis cat pada
lembaran Plywood atau papan Gypsum ukuran 30 x 30 cm2, dan pada bidang- bidang tersebut
harus dicantumkan dengan jelas warna, formula cat, jumlah lapisan dan jenis lapisan (dari cat
dasar s/d lapisan akhir).
b. Semua bidang contoh tersebut harus diperlihatkan kepada Konsultan Pengawas dan Konsultan
Perencana, jika contoh-contoh tersebut telah disetujui secara tertulis oleh Konsultan Pengawas,
selanjutnya Kontraktor Pelaksana dapat membuat mock-up.
c. Permukaan dinding yang akan dicat harus kering minimal telah berusia 28 hari dan bebas dari
kotoran, debu, minyak, olie dengan pH max. 7. Apabila permukaan dinding kadar alkalinya masih

53

diatas pH 7 meskipun plesteran telah c ukup lama maka bidang dinding tersebut harus dicuci
terlebih dahulu menggunakan larutan Asam HCL dengan kadar 10% kemudian bilas dengan air
bersih dan biarkan dinding mengering.
d. Selanjutnya dinding diampelas permukaannya selanjutnya dibersihkan dengan air dan biarkan
dinding mengering, jika terdapat pengkristalan/pengapuran bidang dinding tersebut harus dicuci
dengan larutan washing compound kemudian bilas dengan air bersih sampai larutan tersebut
tidak tersisa dan biarkan mengering.
e. Aplikasikan Under Coat Tembok/Alkali Resisting Primer dengan pengencer air bersih sebanyak
10 20 %, aplikasikan 1 lapis sampai merata dengan kuas atau rol dan biarkan mengering,
apabila sampai tahap ini bidang dinding masih timbul pengkristalan/pengapuran maka
bidang dinding tersebut harus di coating 1 lapis dengan Wall Sealer dan biarkan mengering.
Cat Dasar ini diaplikasikan 2 kali dengan ketebalan masing-masing 40
f. Setelah benar-benar kering, baru ditutup dengat cat akhir sebanyak 2 kali pengecatan dengan
ketebalan masing-masing 35

J.2.3

Pelaksanaan
a. Dinding yang akan dicat sudah diplester dan diaci dengan baik, dan telah mengering
dengan sempurna.
b. Warna cat telah disetujui Manajemen Konstruksi/Pengawas/Perencana.
c. Permukaan dinding diamplas sampai halus, abu-abu yang melekat dibersihkan.
d. Setelah dibersihkan, lalu diberi lapisan cat Dasar Dulux sebanyak 1 lapis sampai benar-benar
rata.
e. Setelah lapisan alkali resisting primer mengering, lalu diamplas halus.
f. Setelah seluruh permukaan dinding diamplas halus, lalu diberi lapisan cat sampai benar-benar
rata warnanya dan hasilnya dapat diterima oleh Manajemen Konstruksi / Pemberi
Tugas/Perencana.
g. Cara pengecatan mengikuti technical data dari Produsen.
h. Pengecatan halus menggunakan roller, sedangkan kwas hanya pada tempat-tempat tertentu
saja.
i. Cara-cara pengecatan mengikuti petunjuk/spesifikasi yang dikeluarkan oleh pabrik cat.
j. Aplikasi pengecatan, dilakukan oleh tenaga yang telah berpengalaman dan telah mendapatkan
rekomendasi dari
k. Manajemen Konstruksi/Pengawas atau dari produksi cat.
l. memberikan surat jaminan yang dikeluarkan oleh pabrik cat, bahwa cat yang dipakai, mulai
dari cat dasar dan cat akhir adalah benar dari produksi yang sama.

J.3
J.3.1

Pekerjaan Cat Dinding / Tembok Untuk Exterior


Bahan
d. Cat Dasar
Cat dasar yang digunakan harus mengikuti ketentuan sbb :

54

i. Alkali Resisting Primer/Alkali Resistant Sealer untuk cat interior dan eksterior
pada bidang permukaan plesteran, beton, Ex Mowilex, setara
ii. Quick-Drying Metal Primer Chromate/Zinc Chromate Primer untuk bidang
permukaan besi dan logam lainnya.
e. Cat Akhir
Cat akhir yang digunakan harus mengikuti ketentuan sbb :
i. Acrylic Emulsion Exterior Grade Fungi/Acrylic Resin/Weathershield
untuk cat eksterior dan interior pada bidang permukaan plesteran, beton,
atau lainnya. Merek Catylac/setara warna ditentukan kemudian
ii. Synthetic Super Gloss/Synthetic Enamel untuk cat pada bidang permukaan
besi dan logam lainnya atau seperti ditunjukan pada gambar.
f. Persyaratan lain, Semua material cat, baik cat dasar cat akhir maupun bahan
pengencernya, harus merupakan produk asli keluaran satu produsen yang sama. Tidak
dibenarkan melakukan pencampuran cat sendiri (mengoplos) atau menggunakan material yang
berbeda dengan yang telah ditentukan/disyaratkan oleh produsen.

J.3.2

Syarat Pelaksanaan
g. Kontraktor Pelaksana harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis cat pada
lembaran Plywood atau papan Gypsum ukuran 30 x 30 cm2, dan pada bidang- bidang tersebut
harus dicantumkan dengan jelas warna, formula cat, jumlah lapisan dan jenis lapisan (dari cat
dasar s/d lapisan akhir).
h. Semua bidang contoh tersebut harus diperlihatkan kepada Konsultan Pengawas dan Konsultan
Perencana, jika contoh-contoh tersebut telah disetujui secara tertulis oleh Konsultan Pengawas,
selanjutnya Kontraktor Pelaksana dapat membuat mock-up.
i. Permukaan dinding yang akan dicat harus kering minimal telah berusia 28 hari dan bebas dari
kotoran, debu, minyak, olie dengan pH max. 7. Apabila permukaan dinding kadar alkalinya masih
diatas pH 7 meskipun plesteran telah c ukup lama maka bidang dinding tersebut harus dicuci
terlebih dahulu menggunakan larutan Asam HCL dengan kadar 10% kemudian bilas dengan air
bersih dan biarkan dinding mengering.
j. Selanjutnya dinding diampelas permukaannya selanjutnya dibersihkan dengan air dan biarkan
dinding mengering, jika terdapat pengkristalan/pengapuran bidang dinding tersebut harus dicuci
dengan larutan washing compound kemudian bilas dengan air bersih sampai larutan tersebut
tidak tersisa dan biarkan mengering.
k. Aplikasikan Under Coat Tembok/Alkali Resisting Primer dengan pengencer air bersih sebanyak
10 20 %, aplikasikan 1 lapis sampai merata dengan kuas atau rol dan biarkan mengering,
apabila sampai tahap ini bidang dinding masih timbul pengkristalan/pengapuran maka
bidang dinding tersebut harus di coating 1 lapis dengan Wall Sealer dan biarkan mengering.
Cat Dasar ini diaplikasikan 2 kali dengan ketebalan masing-masing 40
l. Setelah benar-benar kering, baru ditutup dengat cat akhir sebanyak 2 kali pengecatan dengan
ketebalan masing-masing 35

55

J.3.3

Pelaksanaan

a. Dinding yang akan dicat sudah diplester dan diaci dengan baik, dan telah mengering dengan
sempurna.
b. Warna cat telah disetujui Manajemen Konstruksi /Pengawas/Perencana.
c. Permukaan dinding diamplas sampai halus, abu-abu yang melekat dibersihkan.
d. Setelah dibersihkan, lalu diberi lapisan cat Dasar Jenis Weathershield sebanyak 1 lapis sampai
benar-benar rata. Setelah lapisan alkali resisting primer mengering, lalu diamplas halus.
e. Setelah seluruh permukaan dinding diamplas halus, lalu diberi lapisan cat Duluxweathershield
sampai benar-benar rata warnanya dan hasilnya dapat diterima oleh Manajemen
Konstruksi/Pemberi
f. Tugas/Perencana.
g. Cara pengecatan dan pengecatan cat mengikuti technical data dari Produsen.
h. Pengecatan halus menggunakan roller, sedangkan kwas hanya pada tempat-tempat tertentu saja.
i. Cara-cara pengecatan mengikuti petunjuk/spesifikasi yang dikeluarkan oleh pabrik cat.
j. Aplikasi pengecatan dilakukan oleh tenaga yang telah berpengalaman dan telah mendapatkan
rekomendasi dari Konsultan Pengawas/Pengawas atau dari produksi cat.
k. memberikan surat jaminan yang dikeluarkan oleh pabrik cat, bahwa cat yang dipakai, mulai dari cat
dasar dan cat akhir adalah benar dari produksi yang sama.

J.4
J.4.1

Pekerjaan Cat Langit-langit (Plafond)


Bahan

Synthetic Super Gloss/Synthetic Enamel untuk cat pada bidang permukaan besi dan logam lainnya atau
seperti ditunjukan pada gambar

J.4.2

Pengecatan
b. Pengecatan langit-langit meliputi :
a. Plafond beton
b. Plafond gypsum, plafond calsiboard c. Dan plafond lainnya sesuai gambar
c. Setelah bahan langit-langit terpasang, permukaan langit-langit (plafond) dibersihkan dari
berbagai macam kotoran, lubanglubang paku/skrup telah diisi dan diratakan dan telah diamplas
sampai halus,
d. lalu diberi lapisan cat dasar Dulux sebanyak 1 lapis sampai benar-benar rata. Setelah lapisan
alkali resisting primer dan telah mengering lalu diamplas halus.
e. Setelah seluruh permukaan plafond diamplas halus, lalu diberi lapisan cat Dulux sampai benarbenar rata warnanya dan hasilnya dapat diterima oleh Manajemen Konstruksi / Pemberi Tugas
/ Perencana.
f. Cara pengecatan dan pengecatan cat mengikuti technical data dari Dulux.
g. Pengecatan halus menggunakan roiler, sedangkan kwas hanya pada tempat-tempat tertentu
saja.
h. Cara-cara pengecatan mengikuti petunjuk/spesifikasi yang dikeluarkan oleh pabrik cat.

56

i.
j.

J.5

Aplikasi pengecatan, dilakukan oleh tenaga yang telah berpengalaman dan telah
mendapatkan rekomendasi/ pengawasan dari produksi cat.
memberikan surat jaminan yang dikeluarkan oleh pabrik cat, bahwa cat yang dipakai, mulai dari
meni / cat dasar / cat akhir adalah benar dari produksi Dulux.

Pekerjaan Cat Finishing Melamik

J.5.1

Bahan
-

J.5.2

Bahan untuk finishing kosen, pintu dan jendela bagian dalam memakai finishing melamik ex.
Propan raya atau setara.
Bahan untuk finishing bagian luar memakai finishing melamik Polyurethane agar tahan air dan
tahan sinar ultra violet.

Pengerjaan

a. Pekerjaan melamik ini untuk finishing :


Railing kayu
Dinding lambrisering kayu
Plafond lambris kayu
Dan pekerjaan lainnya sesuai gambar dan perincian biaya pekerjaan.
b. Sebelum pekerjaan dimulai, mengajukan contoh warna melamik kepada Manajemen Konstruksi
/Pengawas/Perencana untuk disetujui dan membuat mock-up di proyek.
c. Pekerjaan finishing melamik dikerjakan oleh Sub Kontraktor Pelaksana yang ahli dalam pengerjaan
melamik.
d. Hasil pengerjaan rapih, rata dan sama warnanya.

J.6

Pekerjaan Cat Listplank Atap

J.6.1

Bahan
Bahan untuk finishing listplank atap memakai finishing cat minyak ex. Glotek / setara.

J.6.2

Pengerjaan

a. Sebelum pekerjaan dimulai, mengajukan contoh


warna kepada Manajemen
Konstruksi/Pengawas/Perencana untuk disetujui dan membuat mock-up di proyek.
b. Pekerjaan finishing listplank atap dikerjakan oleh Sub yang ahli dalam pengerjaan melamik. c. Hasil
pengerjaan rapih, rata dan sama warnanya.

J.7

Pekerjaan Waterproofing

Sebelum pekerjaan lapisan waterproofing dilakukan, harus mengajukan contoh bahan dan brosur.
Lantai atau dinding yang akan diberi lapisan waterproofing tidak akan dibobok akibat adanya pekerjaan lain
terutama pekerjaan M & E.

57

J.7.1

Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan waterproofing ini meliputi penyediaan bahan, pemasangan, penyediaan alat-alat


bantu dan pembersihan. Waterproofing dipasang pada :
Lantai KM/WC lantai tingkat
Plat dan atap beton dan bak bunga
Atap konsol/kantilever
Balkon (jika ada)
Roof garden (jika ada)
Ground reservoir/ground watertank (jika diijinkan oleh DireksiPekerjaan)
Dan daerah basah lainnya

J.7.2

Bahan

a. Bahan untuk lantai KM/WC lantai tingkat, memakai coating ex Sika.


b. Untuk balkon, plat dak atap memakai jenis membrane ex Bithutene tebal 1,5 mm.

J.7.3

Pelaksanaan

a. Permukaan beton yang akan dilapis waterproofing


dibersihkan dari kotoran puing-puing dan
sampah lainnya.
b. Pekerjaan waterproofing dilakukan oleh pekerja yang ditunjuk oleh pabrik pembuatnya.
c. Sparing-sparing pipa air kotor, roof drain/floor drain di grouting memakai bahan yang sama.
d. Pertemuan dengan dinding dinaikkan setinggi 20 cm dan lantai untuk di KM/WC dan plat dak atap
dinaikkan setinggi 40 cm.
e. Setelah waterproofing dikerjakan, lalu diadakan pengetesan dimana permukaan plat beton yang telah
dilapis waterproofing direndam air selama 14 hari setinggi 5 10 cm.
f. Bila ternyata hasil test rendam menunjukkan tidak ada kebocoran, maka membuat Berita Acara
Pemeriksaan dengan Manajemen Konstruksi , bahwa pemasangan waterproofing tersebut
telah di test dan telah dilaksanakan dengan baik tanpa ada kebocoran.
g. Melakukan proteksi/perlindungan dengan lapisan plesteran (discreed) memakai adukan 1pc:3pasir
+ lapisan kawat ayam dan dihaluskan, kecuali untuk lantai KM/WC, balkon, selesai diplester kasar.
Kemiringan screed dibuat kearah roof drain/floor drain.
h. Kontraktor Pelaksanamelakukan perlindungan terhadap pekerjaan waterproofing yang telah
dikerjakan terhadap kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh pekerjaan yang dilakukan oleh
lainnya.

J.7.4

Jaminan

Memberikan jaminan kedap air secara cuma-cuma selama 5 tahun terhadap kebocoran, dengan
sertifikat jaminan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya. Sertifikat jaminan tersebut diserahkan kepada
Pemberi Tugas/Manajemen Konstruksi pada saat penyerahan pertama. Sebelum pekerjaan lapisan
waterproofing dilakukan,
harus mengajukan contoh bahan dan brosur. Lanta1 atau d1nd1ng yang
akan diberi lapisan waterproofing tidak akan dibobok akibat adanya pekerjaan lain, terutama pekerjaan M&E.

58

K. PEKERJAAN PENUTUP ATAP


K.1

Pekerjaan Rangka Atap Baja Ringan

K.1.1

Bahan

a. Rangka utama pada gedung kantor menggunakan kuda-kuda baja Ringan setara Gigasteel,
bentuk dan ukuran sesuai spesifikasi masing-masing produsen.
b. Usuk dan reng menggunakan baja ringan setara Gigasteel
c. Bahan baja yang digunakan untuk rangka kuda-kuda, struktur pengaku dan reng adalah baja high
tensile strength , dengan mechanical properties seperti Tabel 1.
STEEL GRADE
G 550
Minimum Yield Strength 550 MPa
Ultimate Tensile Strength 550 MPa
Modulus of elasticity
200 000 MPa
Shear Modulus
80 000 MPa
d. Lapisan anti karat baja ringan (coating) berupa Galvalume, dengan spesifikasi teknis pada tabel 2
di bawah ini.
Minimum coating mass
100 gr/m2
Triple spot test (both surface)
100 gr/m2
COATING CLASS
AZ 100
Komposisi
55% Al , 43,5% Zn dan 1,5% Si
Top Chord dan Bottom Chord menggunakan:
a. Z95 / 075 profil Z tinggi 95 mm dan tebal 0,75
b. Z75 / 075 profil Z tinggi 75 mm dan tebal 0,75
Rangka pengisi (Web) menggunakan:
a. CN75/ 075 profil C tinggi 75 mm dan tebal 0
b. CN65/ 075 profil C tinggi 65 mm dan tebal 0
Profil yang digunakan untuk reng adalah: B 32/0 45 profil B tinggi profil 320
e. Persyaratan Baut

K.1.2

Kelas Ketahanan Korosi Minimum


Panjang (termasuk kepala baut)
Kepadatan Alur
Diameter Bahan Dengan alur
Tanpa alur

Kelas 2
16mm
16 alur/inci
4,80 mm
3,80 mm

Kekuatan Mekanikal Gaya geser satu baut


Gaya aksial
Gaya Torsi

5,10 KN
8,60 KN
6,90 KN

Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Seluruh pekerjaan konstruksi kuda-kuda baik bahan maupun pemasangan harus sesuai
dengan persyaratan dari produsen/pabrik.

59

b. Kontraktor wajib melampirkan :


i. Surat Dukungan ASLI dari produsen baja ringan. ii. Brosur ASLI.
ii. Hasil uji Sifat Mekanis dan Lapisan dari Lab. Uji Balai Bahan dan Barang
Teknik Jakarta .
iii. Surat Keterangan Verifikasi Software dari Laboratorium Rekayasa
Struktur Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi
Bandung atau dari institusi yang secara resmi diakui pemerintah.
iv. Laporan Hasil Pengujian Full Scale Test dari Laboratorium Pengujian
Pusat Litbang Permukiman Bidang Struktu r dan Konstruksi Bangunan,
Departemen Pekerjaan Umum .
c. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diwajibkan meneliti gambar-gambar dan kondisi di
lapangan.
d. Perhatikan semua ukuran, sambungan dan hubungannya dengan material lain, dengan
mengikuti semua petunjuk gambar rencana secara seksama.
e. Kontraktor diminta untuk menyiapkan gambar methode kerja.
f. Untuk unit yang dipasang harus diberi tanda-tanda agar tidak terjadi kesalahan
pemasangan.
g. Tambahkan perkuatan dan angkur yang dianggap perlu dan harus dipasang walaupun
tidak termasuk dalam gambar ( lengkap dengan pemakaian ramset untuk beton).

K.1.3

Pelaksanaan

a. Kuda-kuda dibentuk dengan menyatukan batang-batang profil berketebalan paling tidak 1 mm


dengan di skrup dengan menggunakan bor listrik dan hexagonal socket.
b. Kuda-kuda inti dirakit terlebih dahulu dan selanjutnya dilakukan perakitan kuda-kuda pendukung
ataupun penahan. Sistim interlock antara kuda-kuda dapat menjamin kestabilan kuda-kuda
terhadap semua beban yang bekerja pada rangka atap tersebut.
c. Jarak antara satu kuda-kuda ke kuda-kuda lainnya tidak lebih dari 150 cm. Pengurangan jarak kudakuda dilakukan sesuai dengan pemilihan bahan penutup atap yang digunakan.
d. Sekrup yang digunakan adalah tipe 12 14 x 20 mm HWFS yang dilapisi anti karat

K.2

Pekerjaan Genteng Penutup Atap

K.2.1

Bahan

a. Jenis atap yang digunakan adalah atap genteng Press Kebumen finish cat.
b. Bahan-bahan tersebut harus diangkut dan digudangkan di lapangan.

K.2.2

Syarat-syarat pelaksanaan

a. Sebelum atap dipasang harus di cek dulu kekuatan konstruksi atap dan bidang konstruksi atap
sudah rata (baik)
b. Penyedia barang/jasa harus mengajukan contoh bahan kepada Konsultan Pengawas, Pengelola
Teknik Pekerjaan sebelum mendatangkan material. Bahan yang didatangkan harus sama dengan
contoh genteng yang disetujui.

60

a. Penutup atap boleh dipasang setelah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas


b. Pemasangan fibersemen harus dijaga kerapiannya

K.2.3

Pelaksanaan

Penempatan reng dan penutup atap lembaran metal bergelombang dipasang sedemikian rupa untuk
menjamin tidak terjadinya ketidakrataan permukaan atap, kebocoran atap dan lendutan pada atap.

K.3

Pekerjaan Listplank Atap

K.3.1

Bahan.

a. Lisplang menggunakan setara Kalsiplank finish woodstain dengan ukuran sesuai dengan gambar
kerja dipasang pada tempat yang ditunjukkan dalam gambar kerja.
b. Rangka Lisplang menggunakan rangka baja ringan sebagaimana yang dipakai pada rangka atap
dengan ukuran sesuai gambar kerja
c. Sebelum mengerjakan pekerjaan kontraktor harus mengajukan contoh bahan untuk dimintakan
persetujuan Konsultan Pengawas/Pengelola teknis

K.3.2

Syarat-syarat pelaksanaan.

a. Rangka yang terpasang harus benar-benar lurus dan dengan sudut pemasangan sesuai pada
gambar sehingga saat pemasangan lisplang tidak bergelombang.
b. Penggantung lisplang harus sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil yang lurus dan tidak
melengkung
c. Apabila hasil pemasangan lisplang terjadi lendutan-lendutan atau kekurangan- kekurangan lain,
kontraktor harus mengganti dan memperbaiki bila diminta

K.4
K.4.1

Pekerjaan Atap Baja Gedung Bengkel


Bahan-Bahan Struktur/Konstruksi Utama.
a. Semua material profil, pelat dan kisi-kisi yang akan dibuat harus terbuat dari jenis baja karbon
yang memenuhi persyaratan A.S.T.M A36 atau yang setara,ST 37, dengan tegangan ijin
1600kg/cm2, tegangan leleh 2400kg/cm2.
b. Bahan-bahan pengikat konstruksi utama : baut-baut, mur-mur/sekrup-sekrup dan ring-ring
disyaratkan dari baja karbon dengan persyaratan ASTM A36 atau A325 dan telah terlapis
Cadmium.
c. Semua bahan baja yang dipergunakan harus merupakan bahan baru, yaitu bahan yang
belum pernah dipergunakan sebelumnya dan harus disertai sertifikat pengiriman dari pabrik.

K.4.2

Persyaratan
a. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Gedung SNI 03-1729-2002
b. American Institute of Steel Construction (AISC) Manual of Steel Construction 8 th Edition 1989

61

K.5
K.5.1

Syarat-Syarat Pelaksanaan
Gambar Kerja

Sebelum pekerjaan fabrikasi di pabrik dimulai, Kontraktor Pelaksa na harus menyiapkan gambar-gambar
kerja yang menunjukan detail-detail lengkap dari semua komponen, panjang serta ukuran las, jumlah,
ukuran serta tempat baut -baut serta detail-detail lain yang diperlukan.

K.5.2

Ukuran-ukuran;

Kontraktor Pelaksana wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap semua ukuran dan
dimensi yang tercantum pada gambar kerja.

K.5.3

Pengecatan

Semua bahan konstruksi baja harus dilapis cat. Cat dasar adalah jenis zink chromate dan pelaksanaan
pengecatan dilakukan satu kali di pabrik dan satu kali di lapangan dengan warna cat yang berbeda.

K.5.4

Pemasangan Akhir
a. Peralatan untuk pemasangan harus sesuai dan sebanding dengan pekerjaa nnya dan dalam
kondisi kerja yang baik. Bila dijumpai bagian-bagian konstruksi yang tidak dapat dipasang atau
ditempatkan sebagaimana mestinya sebagai akibat kesalahan fabrikasi atau perubahan bentuk
maka keadaan itu harus segera dilaporkan kepada Konsultan Pengawas untuk diperoleh cara
perbaikannya.
b. Termasuk sebagai peralatan pemasangan adalah : Sabuk pengaman dan tali-tali harus
digunakan oleh para pekerja khususnya pada saat bekerja ditempat yang tinggi, disamping
pengaman yang berupa jaringan.
c. Bagian profil baja harus diangkat dengan baik dan ikatan -ikatan sementara harus
digunakan untuk mencegah terjadinya tegangan-tegangan yang melewati tegangan ijin.
Ikatan-ikatan itu tetap dipasang sampai keseluruhan konstruksi selesai.
d. Sambungan-sambungan dikerjakan dengan las.

K.6

Pelaksanaan
a. Kontraktor Pelaksana yang melakukan pengelasan pada dasarnya harus memperhatikan
b. Sifat mampu las (weldability) material baja dengan berdasarkan 3 aspek pokok :
Sifat-sifat kimia, metalurgi dan fisik material.
Keamanan hasil las sesuai tujuan desain konstruksi.
Cara-cara produksi sehubungan metode pengelasan yang dipakai.
c. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan las harus memenuhi standar JIS, AWS atau DIN.
d. Adapun penyambungan las pada dasarnya metode pengelasan yang dipakai adalah las
listrik (arc welding). Batang elektroda yang dipakai harus sesuai dengan standar AWS : E70xx
e. Pengelasan untuk sistem pemipaan di tapak harus mengikuti persyaratan ASME Unifired
f. Pressure Vessel atau dapat juga persyaratan JIS.Z 3801 -3211 dan dilakukan ahli las
dengan sertifikat kelas pengelasan bejana tekan, bukan pakar yang dikeluarkan oleh
Departemen Tenaga Kerja.

62

g. Pengelasan Pipa Baja harus menggunakan las dari jenis las bususr listrik (Electric
ArcWelding) dengan elektroda las yang sesuai untuk bahan pipa tersebut dalam arti bahwa
komposisi struktur logam hasil las-lasan tersebut sesuai dengan komposisi struktur logam dari
pipa, fitting dan sejenisnya.
h. Pada saat pengelasan, Plange, Pipa atau fitting atau lainnya harus menggunakan pemegang
(jig or fixture) sehingga terjamin kelurusan, kesejajaran dan ketegaklurusan dari barang - barang
yang disambung.

63

L. PEKERJAAN LANDSCAPE
L.1

Pekerjaan tata lansekap

L.1.1

Penanaman Rumput Gajah Mini


a. Tanah digemburkan dengan cangkul dan dibalikan dengan kedalaman 20cm setelah itu ratakan.
b. Rumput dicacah menjadi potongan lebih kecil sekitar 3cm-5cm. Benamkan rumput ketanah yang
sudah digemburkan sampai seluruh akarnya tertimbun. Pola penanamanya dibuat secara zig-zag
untuk memaksimalkan pertumbuhan agar lebih rapat dan rapi.
c. Perkuat posisi rumput dengantanah ddengan memukul pelan permukaan rumput agar akarnya kokoh
didalam tanah.
d. Ratakan permukaan rumput dengan tanah menggunakan balok kayu atau batu bata. Biarkan selama
seminggu untuk melihat pertumbuhan akarnya.
e. Taburkan Pupuk urea dan NPK secara merata setelah dua minggu kemudian.
f. Kemudian siram dengan air dengan menggunakan gembur atau ceret dengan lubang kecil dan
banyak. Jangan mengunakan gayung atau sejenisnya untuk menghindari penumpukan genangan air
yang bia membuat busuk akar rumput

L.1.2

Penanaman Bungan Iris

a. Pastikan menanam bunga iris dalam area yang terkena sinar matahari secara langsung. Jika
ditempatkan dalam area yang teduh, tanaman ini tidak akan berbunga. Hanya daunnya saja yang
tumbuh lebat.
b. Tanaman ini tidak perlu ditancapkan terlalu dalam ke tanah, karena sistem perakarannya tidak
tumbuh ke dalam tanah, melainkan di bawah permukaan tanah saja.
c. Pemupukan juga tidak perlu terlalu banyak. Cukup sekali dalam setahun diberi pupuk kandang, pada
akhir musim hujan. Penyiraman pun tidak perlu setiap hari. Cukup dijaga agar tanah tetap lembab.
d. Untuk mengendalikan bentuk tanaman dan peremajaan, lakukan pemangkasan setiap 2 bulan.
Potong sekitaar 5 cm di atas akar simpang. Hal ini akan merangsang pertumbuhan tunas yang lebih
besar, sehingga akan berbunga lebih banyak pada musim berikutnya.
e. Perbanyakan bunga iris dapat dilakukan dengan menggunakan akar simpang yang menjalar. Namun
jika dilakukan dengan menggunakan biji, kemungkinan kegagalan lebih besar. Lebih baik dilakukan
pada akhir musim kemarau. Ambil batang dan potong, lalu tanam di tempat lain. Benih ini akan segera
tumbuh di musim hujan dan dalam jangka waktu setahun, telah siap untuk berbunga

L.1.3

Penananman Heleconia

a. Benih siap tanam di kebun bila telah memiliki tiga lembar daun yang membuka penuh, dengan
ketinggian rata-rata mencapai 25 cm;
b. Tanam satu benih tanaman dalam satu lubang dengan jarak tanam heliconia ukuran kecil 50 cm x 50
cm, dan jarak antartanaman 100 cm. Adapun jarak tanam untuk heliconia ukuran besar adalah 200
cm x 100 cm, dengan jarak antartanaman 300 cm;
c. Bila menggunakan benih dari polibag, lepaskan benih dengan hati-hati;
d. Lakukan penyiraman tanah hingga cukup basah (lembab).

64

L.1.4

Penanaman Tanaman Pucuk Merah

a. Memilih biang tanaman pucuk merah yang berkualitas bagus


b. Merendam pucuk merah potongan yang akan dijadikan bibit dengan disinfektan, dan perangsang
akar
c. Menanam bibit pucuk merah di media tanam dari tanah merah murni di yang dimasukkan polybag
ukruan 10, memasukkan ke ruang sungkup selama 40 hari
d. Memindahkan yang hidup ke kantong 18 dengan media campuran tanah merah dan sekam mentah
e. Siapkan tanaman pucuk merah yang akan di gunakan untuk penyetekan.
f. Memotong pucuk pucuk dari tanaman menggunakan pisau cutter .Potong tanaman pucuk merah
sekitar 15-20 cm yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalau tua.
g. Pangkas daun bahan yang mau di stek dan sisahkan beberapa helai daunn. Tujuan penyisaan daun
ini adalah untuk memudahkan dalam mengontrol tanaman masih hidup atau sudah mati.
h. Tanam bahan stek pada posisi miring atau tegak,dan beri zat pengatur perangsang tumbuh untuk
merangsang pertumbuhan akar. Letakkan tanaman yang sudah di stek ke tempat yang teduh,
sehingga mengurangi penguapan dan stres pada tanaman.

L.2
L.2.1

Pekerjaan Paving Block


Pemasangan Paving
a. Pertama dilakukan pemeriksaan kepadatan tanah dasar, baik galian / timbunan, sebagai dasar
perletakan lapisan pondasi
b. Kemudian dilakukan pekerjaan lapis pondasi diatas tanah dasar ( lapisan base dan sub base ).
c. Setelah itu pasang beton penyokong yang diikuti beton pembatas dan tambahkan adukan beton
pada bagian belakang / punggung beton pembatas tsb
d. Pasang pasir alas dg ketebalan 5 - 6 cm, ratakan dengan jidar kayu (Pasir alas adalah pasir dg
ketebalan tertentu sebagai alas perletakan paving block).
e. Pasang benang pembantu searah & tegak lurus / 45 terhadap jalan / area kerja.
f. Pemasangan paving block dilakukan setelah penentuan arah dan bentuk pola dengan
menggunakan benang pembantu, pemasangan paving blok dimulai dari satu arah.
g. Lakukan pemadatan dengan plat getar / stamper plate / vibro, supaya terjadi penguncian akibat
pengisian celah dari pasir alas yang terdesak ke atas & pasir pengisi yang dipasang bersamaan
dengan vibro.
h. Pasang pasir pengisi, ratakan dg sikat ijuk dan penggetar / vibro secara bersamaan.
i. Pemasangan paving dilakukan secara diagonal dari pinggir, setelah 34 baris dapat dilakukan
simultan di beberapa bagian.

L.2.2

Pemasangan Kansten Dan Beton Penyokong

Beton pembatas atau biasa disebut beton kanstin adalah salah satu bagian perkerasan block beton
terkunci yang fungsinya menjepit dan menahan lapisan paving block agar tidak tergeser pada waktu menerima
beban, sehingga blok tetap saling mengunci. Beton pembatas harus terpasang sebelum penebaran pasir alas.
Bentuk beton pembatas bermacam-macam dan proses pembuatannya beraneka-ragam ada yang dari beton
pracetak, beton cor ditempat, baik secara manual atau dengan alat slipform. Untuk perkerasan paving blok

65

mutu beton pembatas yang berhubungan dengan jalur lalu lintas kendaraan minimum fc 25,0 MPa. Bilamana
digunakan beton pembatas dari beton pracetak, beton pembatas harus dipasang di atas beton penyokong agar
terjadi ikatan yang baik antara beton pembatas dan pondasisehingga tidak mudah tergeser. Untuk itu dilakukan
hal sebagai berikut :
a. tebarkan selapis beton penyokong setebal minimum 7 cm;
b. pasang beton pembatas di atas beton penyokong tersebut sewaktu masih dalam keadaan
basah, sehingga ketinggian dan kelurusaan beton pembatas sesuai dengan benang pembantu;
c. tambahkan adukan beton pada bagian belakang beton pembatas;
d. setelah beton penyokong dalam keadaan setengah kering, barulah ditimbun dengan tanah,
mutu beton penyokong minimum fc 17,5 MPA;
e. beton pembatas sering dikombinasikan dengan tali air dan mulut air sebagai saluran untuk
membuang air hujan; apabila pertemuan antara beton pembatas dan lapisan blok tidak diberi
tali air biasanya beton pembatas mudah terkena gesekan roda kendaraan.Penebaran Pasir
Alas Pasir alas adalah pasir dengan ketebalan tertentu sebagai alas perletakan paving blok.
Pasir alas harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Butiran pasir alas adalah pasir kasar dengan besar butir maksimum 9,5 mm seperti
pasir beton, tajam, keras dan bersih dari lumpur, garam atau kotoran lain;
Pada saat penebaran harus dalam keadaan kering atau kadar air kurang dari 10% dan
bersifat gembur;
Tebal pasir berkisar antara 5 sampai 6 cm dan setelah dipadatkan tidak boleh lebih 5
cm; untuk mendapatkan ketebalan yang seragam, agar menggunakan alat perata yaitu
jidar kayu dengan mengikuti rel pembantu dari blok beton yang disusun sejajar
memanjang ; selain itu juga dapat digunakan benang pembantu sebagai referensi.
Pasir alas ini tidak boleh digunakan untuk mengisi lubang-lubang pada pondasi untuk
memperbaiki tinggi pondasi;
Lapis atas pondasi di bawah pasir alas harus diratakan dan diperbaiki sebelum
penebaran pasir alas dimulai Untuk jalan dengan lebar kurang dari 3 m, beton pembatas
yang dipasang dapat berfungsi sebagai rel pembantu;
Untuk jalan dengan lebar lebih dari 3 m, perataan pasir alas dilaksanakan secara tahap;
Sebaiknya pasir alas diletakkan secara gundukan kecil di daerah lokasi pemasangan
agar sewaktu menarik jidar tidak terlalu berat dan dapat memudahkan pelaksanaan;
Pasir alas yang sudah dirataakan dijaga agar tidak terganggu seperti terinjak atau
dipakai menumpuk bahan;
Setiap tahap, luas maksimim adalah 30 m2 dengan demikian pada sore hari dapat
tertutup seluruhnya oleh paving blok;
Untuk pekerjaan yang akan dilanjutkan maka pasir alas disisakan 1 m dari baris terakhir
paving blok;
Pasir alas yang belum sempat ditutup oleh paving blok, keesokan harinya agar
digemburkan dan diratakan kembali;
volume pasir yang diperlukan sebagai pasir alas setebal 50 mm adalah 5 m3 setiap
100 m2 paving blok.

66

L.2.3

Filler / pengisi nat

Pengisian nat tidak penuh memungkinkan paving akan mudah bergerak dan air lebih mudah masuk ke
dalam sela-sela paving sehingga mengakibatkan abu batu jenuh air. Jika abu batu jenuh air akan membuat
permukaan paving bergelombang dan mudah bergerak / bergeser.

L.2.4

Sand bedding / abu batu / pasir di bawah paving

Ketebalan abu batu padat untuk alas paving di atas beton tidak boleh lebih dari 35 cm. Abu batu padat
adalah setelah paving di atas abu batu dipadatkan, bukan karena abu batu dipadatkan terlebih dahulu sebelum
paving dipasang. Saat paving dipasang abu batu digelar dengan ketebalan 4-6 cm, dan akan menjadi 35 cm
setelah paving dipadatkan. Tujuannya agar tidak ada penurunan lagi setelah perkerasan paving block
menerima beban atau dilintasi kendaraan.

67

M. PEKERJAAN MEKANIKAL
M.1

Lingkup Pekerjaan

M.1.1 Pekerjaan tata Udara


a. Sistem Tata Udara untuk ruangan-ruangan tertentu seperti ditunjukan dalam gambar berupa
Fan Coil Unit (FCU) dan Condensing Unit (CU) lengkap dengan pipa yang menghubungkan
FCU dan CU beserta system drain. Berlaku pada sistem tata udara sistem Multi V.
b. Ventilasi mekanis (Exhaust Fan) untuk beberapa titik seperti ditunjukan dalam gambar
Mekanikal.
c. Penyediaan dan pemasangan kabel-kabel, panel-panel, dan peralatan elektrikal sehingga
system dapat bekerja dengan baik.

M.1.2 Pekerjaan Plumbing


Yang dimaksud dengan pekerjaan plumbing disini adalah penyediaan dan pengadaan bahan- bahan,
tenaga serta pemasangan peralatan-peralatan, bahan-bahan utama, bahan-bahan pembantu dan lainlainnya sesuai dengan gambar rencana dan/atau seperti yang dispesifikasikan disini, sehingga diperoleh
instalasi plumbing yang lengkap dan bekerja baik siap untuk dipergunakan. Spesifikasi ini melingkupi
kebutuhan untuk pelaksanaan pekerjaan plumbing, sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar rencana,
yang terdiri dari, dan tidak terbatas pada :
a. Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi air bersih sesuai dengan gambar rencana dan
buku spesifikasi ini.
b. Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi air panas sesuai dengan gambar rencana dan
buku spesifikasi ini
c. Pengadaan dan pemasangan peralatan-peralatan bantu bagi seluruh peralatan plambing.
d. Pengetesan dan pengujian dari seluruh instalasi plumbing .
e. Mengadakan masa pemeliharaan selama waktu yang ditentukan oleh Pemberi Tugas (3 bulan).
f. Pembuatan shop drawing bagi instalasi yang akan dipasang dan pembuatan as built drawing
bagi instalasi yang telah terpasang.

M.2

Bahan

M.2.1 Pekerjaan Tata Udara


a. Bahan-bahan pipa dan isolasi
Pipa Refrigeran yang menghubungkan FCU dan CU berupa tembaga yang
sesuai
dengan standar yang berlaku.
Bahan isolasi pipa yang digunakan adalah Polyethylene dengan ketebalan 25 30 mm
dengan densitas 35-40 kg/m3.
Isolasi pipa tersebut dibungkus dengan Aluminium Foil Double Sided. Kemudian dibungkus
lagi dengan duct tape.
Pipa buangan air hasil kondensasi(drain) adalah pipa PVC kelas D (5 Kg/cm2).

68

b. FCU dan CU dan Exhaust Fan yang digunakan harus :


Mempunyai bahan yang standar dengan pabrik pembuat.
Digerakkan dengan motor listrik yang sesuai dengan standar PUIL dan kondisi
setempat.
c. Setiap unit fan yang berhubungan dengan udara luar harus dilengkapi dengan insect screen
dari bahan nylon.

M.3

Ketentuan Tata Udara

M.4

Tahap Persiapan

M.4.1 Peraturan Dasar


Tata cara pelaksanaan yang tercantum dalam peraturan pembangunan yang sah berlaku di Republik
Indonesia ini harus betul betul ditaati, kecuali bila dibatalkan oleh rencana Kerja dan Syarat syarat.

M.4.2 Gambar Kerja/shop drawing


Kontraktor harus membuat gambar detail untuk pelaksanaan pekerjaan (shop drawing) termasuk detail
support/penyangga berikut perhitungannya yang telah disetujui oleh Pengawas/Direksi.

M.4.3 Sarana Kerja


Kontraktor diharuskan :
Mengirim contoh bahan yang akan digunakan
Menyerahkan daftar peralatan kerja yang digunakan sebelum dilakukan pemesanan
Menyediakan peralatan. kerja yang baik untuk pelaksanaan, yang memenuhi persyaratan
keselamatan kerja

M.4.4 Pemeriksaan Bahan./Material


Apabila pengawas/Direksi meragukan kualitas bahan atau alat tertentu, maka bahan tersebut akan
dikirim ke Laboratonium Penyelidikan Bahan atas biaya Kontraktor

M.4.5 Penolakan dan Penyingkiran


Bahan yang dinyatakan tidak baik oleh pengawas/Direksi, harus segera disingkirkan dari lokasi proyek
oleh Kontraktor

M.4.6 Jalur Instalasi yang existing


Sebelum melaksanakan pekerjaan instalasi, Kontraktor harus mengetahui lintasan dan posisl dari
instalasl listrik, ground system, air dan sanitasi yang ada hubungannya dengan pekerjaan mekanikal.

69

M.5

Tahap Pelaksanaan

M.5.1 Penunjukan Sub Kontraktor


Dalam hal pelaksanaan instalasi ini diserahkan kepada Sub Kontraktor ertanggungjawaban seluruh
pekerjaan ini tetap menjadi beban Kontraktor utama. Penunjukan Sub Kontraktor ini sebelumnya harus
mendapat persetujuan dari Pengawas/Direksi;

M.5.2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Kontraktor harus mematuhl peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Perlengkapan keselamatan
kerja yang dibutuhkan harus disediakan. Cara-cara kerja yang kurang aman atau selamat harus dihindarkan.
Kontraktor juga harus memperhatikan keselamatan keria, termasuk kesehatan para pekeda dan kebersihan
lingkungan. Perhatian diharapkan pula terhadap lokasi lokasi pemondokan pekeria didekat job site, agar tidak
terlalu mengganggu waktu kerja.

M.5.3 Seleksi Tenaga Kerja


Kontraktor harus berusaha untuk mengadakan seleksi tenaga kerja, baik mengenai keahlian ataupun
kesehatannya. Bagi tukang tukang las dan pipa, serta kejuruan kejuruan lain yang dianggap perlu, harus lulus
dari ujian ataupun penilaian dari pengawas/Direksi. Bilamana dikemudian hari, dalam proyek ini didapati
tenaga tenaga kerja yang ternyata tidak cukup ahli, Pengawas/Direksi berhak untuk minta tenaga kerja tersebut
diganti.

M.5.4 Prosedur dan Cara Kerja


Kontraktor wajib melaksanakan prosedur dan cara kerja yang terbaik (tepat, cepat dan selamat).
Kontraktor wajib mengkonsultasikan kedua hal tersebut kepada Pengawas/Direksi, untuk dimintakan
persetujuannya guna pelaksanaan. Hasil kerja harus menunjukkan "workmanship"yang baik, dalam bentuk
kerapiannya.

M.5.5 Pengujian Sambungan


Pada prinsipnya semua sambungan harus diuji atas kebocoran, dengan beban uji, Terutama untuk
sambungan las harus mengalami uji tekan, baik sebelum terpasang ataupun setelah terpasang. Uji tekan ini
secara detail diuraikan dalam setiap jenis pekeiaan, dalam pasal pasal yang bersangkutan.

M.5.6 Pembersihan/Pembilasan Pipa


Sebelum diadakan uji coba, seluruh pipa Jaringan sistim instalasi harus dibersihkan bagian dalamnya
dengan dibilas (flushing). Air bilas harus cukup bersih, tidak mengandung Lumpur, atau larutan larutan lain,
yang justru akan menempel pada dinding dalam pipa. Pembilasan harus dilaksanakan untuk beberapa waktu
sehingga semua kotoran akibat pemasangan pipa dapat dikeluarkan. Pada akhir proses pembilasan, air bilas
yang masih terdapat di dalam pipa harus dikeluarkan (drained), untuk menghindarkan pengerusakan pipa,
akibat kemungkinan adanya sifat sifat jelek dari air bilas.

70

M.5.7 Uji Coba Sistim Instalasi


Uji coba harus dilakukan untuk mengetahui berjalan tidaknya mekanisme dari sistim yang bersangkutan.
Pernborong harus menunjukkannya dalam berbagai variasi alternatif, sejauh kemampuan mekanisme dari
sistim yang bersangkutan. Kerapatan/kekedapan penutup suatu katup, didalam sistim, harus juga diuji coba.
Begitu pula terhadap kebocoran stuffing box dari katupnya sendiri.
Pengujian harus disaksikan oleh Pengawas/Direksi, yang juga berhak untuk memerintahkan alternatif
alternatif yang dipilihnya, sehingga memuaskan.

M.6

Tahap Penyelesaian

M.6.1 Pemeriksaan./Commissioning
Pada awal dari tahap penyelesaian perlu diadakan pemeriiksaan/ commissioning. Obyek commissioning
adalah membuktikan bahwa setiap outIet sudah berfungsi, dengan kapasitas yang diminta. Semua valve sudah
bekeria dengan bagus. Baik dalam pembukaannya maupun penutupannya.
Semua kegagalan/kekurangberhasiIan harus dicari sebabnya, dan diupayakan cara cara mengatasinya.
Pemeriksaan/commissioming dilakukan oleh Kontraktor. Pengawas dan Pengguna Barang/Jasa perlu
dibuatkan Berita Acara atas hasil hasil dari pemeriksaan/commissioning.

M.6.2 Serah Terima


Sebelum serah terima dilakukan, dari Kontraktor kepada Pengawas/Direksi, maka harus dilakukan :
a. Punch list atas semua pekerjaan, yang menunjukkan bahwa segala sesuatu dari
bahan/material/peralatan sudah terpasang pada tempatnya. Bahan/ material/peralatan untuk
persedlaan (serep) sudah tersedia sernua. Juga fasilitas fasilitas yang kiranya diperlukan sudah
siap.
b. Pembersihan jobsite, atas segala sisa sisa benda keda, dan kotoran-kotoran. Jobsite/gedung
harus tampak rapi, begitu pula instalasi instalasi yang termasuk dalam lingkup kerja.
c. Perhitungan kerja tambah/kurang sudah disusun dengan rapi, dan disetujui oleh
pengawas/Direksi.

M.6.3 Melatih Operator


Sesudah pekerjaan selesai, dan berjalan dengan baik, Kontraktor harus menyediakan tenaga yang cukup
ahli untuk memberikan latihan kepada. tenaga tenaga (operasi dan/atau maintenance), yang ditunjuk oleh
Pemberi Tugas. Kontraktor diharuskan pula menyiapkan dokumen cara operasi dan maintenance dari sistim
sistim yang termasuk dalam lingkup kerja.

M.6.4 As Built Drawing


Kontraktor harus membuat as built drawing, yaitu gambar instalasi terpasang yang sebenarnya. As built
drawing ini harus secepatnya diserahkan kepada. Pengawas/Direksi untuk mendapatkan komentar/koreksi.
Kontraktor wajib mengadakan revisi terhadap as built drawing, sesuai dengan petunjuk Pengawas/Direksi, as
built drawing ini akan menjadi dokumen bagi proyek.

71

M.6.5 Perawatan dan Garansi


Kontraktor bertanggung jawab atas perawatan dan instalasi yang dipasangnya selama masa
pemellharaan.

72

N. PEKERJAAN ELEKTRIKAL
N.1

Lingkup Pekerjaan

Kontraktor harus melaksanakan pengadaan, pemasangan, pengujian dan serah terima di lapangan
instalasi listrik seperti yang disebutkan di bawah ini dan/atau diperlihatkan dalam gambar. Sebelum serah
terIma dilakukan seluruh sistim beserta komponen komponennya harus lengkap, bekerja dengan balk sesual
dengan unjuk kerja yang diinginkan, dan lulus dalam pengujiannya.
a. Pekerjaan listrik tegangan menengah, trafo dan sistem distribusi daya listrik
Trafo yang digunakan adalah TRANSFORMATOR INDOOR KAPASITAS DAYA 500
KVA VOLTAGE :380/220 VAC, 50 Hz, 3 PHASA. Produksi Scheneider Transformer, Unindo,
Trafindo, B&D.
b. Pekerjaan Panel
Panel LV MDP
Panel Kapasitor Bank.
Panel Sub-distribusi(Sub-Distribution Panel/SDP)
Panel penerangan(Lighting Panel/LP)
Panel AC
Panel Power Workshop
Panel Pompa
c. Pekerjaan penerangan dan stop kontak
Armatur dan lampunya
Saklar-saklar (tunggal, seri, tukar, dimmer)
Stop kontak biasa (KKB)
Kabel instalasi penerangan dan stop kontak
Pipa pelindung kabel instalasi penerangan dan stop kontakdengan kelengkapanya
Flexible conduit dan stop kontaksambung ke titik-titik lampu
d. Pekerjaan Sistem Telepon
Private Automatic Branch Exchange (PABX)
Stop kontaktelepon
Pipa pelindung kabel beserta kelengkapanya
Kabel instalasi telepon
TTB (Telepon Terminal Box) Pesawat telepon
e. Pekerjaan Alarm.
Main Control Fire Alarm
Fixed Temperature Heat detector
Smoke Detector
Break Glass
Alarm Lamp
Alarm Bell
Kabel Instalasi dalam pipa conduit
FTB (Fire Terminal Box)

73

f. Pekerjaan sistem jaringan computer / komunikasi data (LAN)


g. Pekerjaan CCTV
h. Pekerjaan sistem pembumian
i. Pekerjaan-pekerjaan lainnya yang menunjang pekerjaan diatas.
Sistim distribusi daya terdiri dari :
a. Panel Cubicle Tegangan Menengah.
b. Transformator indoor kapasitas 500 kva.
c. Panel Cubicle Tegangan Rendah
d. Panel sub-distribusi(SDP)
e. Panel daya(PP)
f. Panel penerangan(LP)
g. Kabel daya tegangan rendah 1 KV
h. Pekerjaan lainya yang tidak disebutkan di sini yang menunjang pekerjaan-pekerjaan
tersebut di atas.

N.2

Peraturan Dan Standard

Pada dasarnya semua bahan dan peralatan harus sesuai dengan ketentuan yang tertera pada
peraturan-peraturan seperti :
a. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000.
b. Peraturan Instalasi Listrik (PIL),
c. Syarat-Syarat Penyambungan Listrik (SPLN),
d. Standard Lain : AVE Belanda, VDE/DIN Jerman, IEC Standard, JIS Jepang, NFC Perancis, NEMA
USA.
e. Petunjuk dari pabrik pembuat peralatan,
f. Peraturan lainnya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, seperti TELKOM,
Dit.Jen.Bina Lindung, PLN dan Pemerintah Daerah setempat.

N.3

Dokumen Dan Informasi

Kontraktor harus menyerahkan dokumen dan informasi yang disebutkan di bawah ini kepada pengawas
sebagal bahan pemeriksaan dan persetujuan, masing masing sebanyak 3 (tiga) set.

N.4

Shop Drawings

Gambar gambar ini menunjukkan dimensi, diagram, uraian dan data peralatan,material, komponen dan
sistim secara lengkap dan terperinci, serta sudah disesuaikan dengan kondisi lapangan dan slap untuk
dilaksanakan

N.5

Brosur brosur Teknis

Dokumen ini dicetak oleh pabrik pembuat komponen, peralatan dan material,yang memperlihatkan
dengan tepat mengenal jenis dan kapasitas barang-barang yang akan diadakan dan dipasang. Dokumen
harus asli, bukan fotocopy

N.6

Metoda Pelaksanaan dan Pengujian


Uraian lengkap dan terperinci mengenai tata cara perakitan, pemasangan dan pengujian yang akan

74

dilaksanakan, dan disertai cara perlindungan dari kecelakaan, baik terhadap peralatan maupun personil
As Built Drawing
Garnbar gambar ini memperlihatkan keseluruhan sistim, peralatan, komponen dan material sesuai
dengan yang terpasang di lapangan

N.7

Buku Petunjuk Operasi dan Perawatan

Uraian dan instruksi mengenai cara mengoperasikan dan merawat sistim dan peralatan, termasuk jadwal
pemeliharaan dan daftar suku cadang yang diperlukan dalam perawatan

N.8

Program Pelatihan

Kontraktor harus membuat program pelatihan (training) untuk operator Pemberi Tugas, dimana
pelaksanaannya diatur oleh pengawas. Program ini terutama berisi penjelasan dan/atau peragaan materi yang
disebutkan dalam buku petunjuk operasi dan perawatan.

N.9

Bahan, Peralatan Dan Tenaga Pelaksana


a. Semua bahan./material dan peralatan yang akan dipasang harus dalam keadaan baik, 100 % baru,
dan lulus pengujian di pabrik dan/atau di lapangan
b. Kontraktor harus menyerahkan contoh (sample) bahan/material sesuai dengan yang disyaratkan
dalam spesifikasi ini kepada pengawas sebelum pengadaannya. Pengawas berhak menolak
pengadaan bahan/matenial yang tidak sesual dengan spesifikasi atau yang sudah disetujui
(approved sample)
c. Kontraktor harus mengerahkan teknisi dan/atau tenaga pelaksana yang berpengalaman dalam
bidang pekerjaan ini. Mereka harus berada. di tempat pada saat pekerjaan berlangsung, dan
bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut.

N.10 Pengetesan
a. Kontraktor pekerjaan instalasi ini harus melakukan semua. testing dan pengukuran pengukuran yang
dianggap perlu untuk memeriksa/mengetahui apakah seluruh instalasi telah dapat berfungsi dengan balk
dan memenuhl semua persyaratan.
b. Semua tenaga, bahan dan perlengkapannya yang perlu untuk testing tersebut merupakan tanggung jawab
Kontraktor. Termasuk peralatan khusus yang perlu untuk testing dari seluruh sistim ini, seperti dianjurkan
oleb pabrik, harus disediakan Kontraktor. Semua pengetesan dan atau. pengukuran tersebut harus
disaksikan oleh team pelaksana. pembangunan

N.11 Spesifikasi Umum Pekerjaan Listrik


N.11.1 Kabel Daya Tegangan Rendah.
a. Kabel daya. tegangan rendah yang dipakal adalah berdasarkan ukuran dan type yang sesuai dengan
gambar. Kabel daya tegangan rendah ini harus sesual standar SIl atau standar PLN.
b. Sebelum dan sesudah dipasang, kabel TR harus ditest dengan pengujian-penguiian sebagai berikut:
1) Test insulasi
2) Test kontinuitas
3) Test tahanan pentanahan

75

N.12 Pekerjaan Tegangan Rendah.


N.12.1 Umum
Type panel adalah tertutup (metal enclosed), wall mounting, lengkap dengan semua komponen
komponen pasangan dalam panel sesuai gambar rencana.

N.12.2 Standar
Panel harus dibuat mengikuti standar IEC dan standar lainnya seperti VDE/DIN, BS, NEMA, dan lain
sebagainya

N.12.3 Karekteristik Panel


Tegangan kerja
400 Volt
Tegangan uji
3000 Volt
Tegangan uji impuls
20.000 Volt
Frekwensi
50 Hz
Arus nominal busbar SDP minimal 1,5 kali kapasitas Circuit Breaker Utama.

N.12.4 Kabel Instalasi


Kabel daya jenis NYY seperti ditunjukan pada gambar setara merk : Supreme, Kabelindo, Kabel Metal,
Tranka Kabel.

N.12.5 Pipa Instalasi Pelindung Kabel


Adalah pipa PVC kelas AW, elbow, socket, Junction box, clamp dan accessories lainnya harus sesual
yang satu dengan lainnya, yaitu tidak kurang dari . Pipa fleksible harus dipasang untuk melindungi kabel
antara kotak sambung (Junction box) dan amature lampu. Sedangkan pipa untuk instalasi penerangan dan.
stop kontak menggunakan pipa PVC.

N.13 Pekerjaan Panel Daya (PP)


N.13.1 Umum
Type panel adalah tertutup (metal enclosed), wall mounting, lengkap dengan semua komponen
komponen pasangan dalam panel sesuai gambar rencana.

N.13.2 Standar
Panel harus dibuat mengikuti standar IEC dan standar lainnya seperti VDE/DIN, BS, NEMA, dan lain
sebagainya

76

N.13.3 Karekteristik Panel


Tegangan kerja
400 Volt
Tegangan uji
3000 Volt
Tegangan uji impuls
20.000 Volt
Frekwensi
50 Hz
Arus nominal busbar SDP minimal 1,5 kali kapasitas Circuit Breaker Utama.

N.13.4 Kabel Instalasi


Kabel daya jenis NYY seperti ditunjukan pada gambar setara merk : Supreme, Kabelindo, Kabel Metal,
Tranka Kabel.

N.14 Panel Penerangan (PP)


N.14.1 Umum
Type panel adalah tertutup (metal enclosed), wall mounting, lengkap dengan semua komponen
komponen pasangan dalam panel sesuai gambar rencana.

N.14.2 Bahan Dan Peralatan


Lampu dan armatur harus sesuai dengan yang dimaksud dalam gambar detail elektrikal:
a. Semua armatur yang terbuat dari bahan metal harus mempunyai terminal pembumian.
b. Semua lampu flourecent dan lampu discharge dikompensasi dengan kapasitor
c. Reflector harus mempunyai pemantul yang baik
d. Box tempat ballast, starter, terminal block harus cukup besar dan harus dibuat sedemikian rupa
sehingga panas yang ditimbulkan tidak mengganggu kelangsungan kerja dan umur teknis
komponen lampu. Ventilasi dalam box harus cukup.
e. Kabel-kabel dalam saluran harus diberikan saluran atau klem-klem tersendiri sehingga tidak
menempel pada ballast.
f. Box terbuat dari plat baja dengan ketebalan minimum 0,5 mm dicat warna dasar tahan karat,
kemudian dicat akhir dengan cat oven warna Putih atau warna lain yang disetujui.
g. Ballast harus mempunyai dudukan yang kuat dalam lampu, tetapi mudah untuk dibuka dan
diangkat.
h. Ballast harus dari satu merk yang setara dengan Phillips, Nais, Atco atau Shcwabe.
i. Tabung lampu fluorescent harus dari merk Phillips atau Osram, type TLD no 54.
j. Armature lampu pijar terdiri dari dudukan dan diffuser.
k. Lubang-lubang untuk ventilasi harus ada dan ditutup dengan kasa nylon untuk mencegah
masuknya serangga. Diffuser terpasang dalam dudukan dengan ulir, tidak boleh memakai paku
skrup.
l. Armature lampu setara dari merk SAKA, Creation.
Fixture lampu TL 2 x 36 W , armatur RM ALML, sesuai yang disebutkan di gambar.

77

Fixture lampu TL 2 x 18 W , armatur RM ALML, sesuai yang disebutkan di gambar.


Fixture lampu E27 18 Watt, armatur Down Light inbouw, sesuai yang disebutkan di gambar.
Fixture lampu E27 10 Watt, armatur Down Light inbouw, sesuai yang disebutkan di gambar.
Fixture Lampu E27 18 W, Armature Downlight Surface, sesuai yang disebutkan di gambar.
Fixture lampu Industrial, HPI T 250 Watt, sesuai yang disebutkan di gambar.
Lampu Jalan, HPL N 150 Watt , tinggi tiang 7 m, sesuai yang disebutkan di gambar.

N.14.3 Standar
Panel harus dibuat mengikuti standar IEC dan standar lainnya seperti VDE/DIN, BS, NEMA, dan lain
sebagainya

N.14.4 Karekteristik Panel


Tegangan kerja
400 Volt
Tegangan uji
3000 Volt
Tegangan uji impuls
20.000 Volt
Frekwensi
50 Hz
Arus nominal busbar SDP minimal 1,5 kali kapasitas Circuit Breaker Utama.

N.14.5 Kabel Instalasi


Kabel daya jenis NYY seperti ditunjukan pada gambar setara merk : Supreme, Kabelindo, Kabel Metal,
Tranka Kabel.

N.14.6 Jaringan Instalasi


Proses pemasangan jaringan dengan menggunakan kabel tanah mengikuti ketentuan- ketentuan
sebagai berikut :
a. pemasangan kabel tanah di dalam tanah harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa
sehingga kabel tersebut terhindar dari kerusakan mekanis dan kimiawi yang mungkin timbul
pada tempat dimana kabel tersebut dipasang.
b. pelaksanaan pemasangan kabel yang tidak dapat memenuhi kedalaman 1,20 meter, maka
penanaman kabelnya dilakukan sebagai berikut:
Minimum 0,80 meter di bawah permukaan tanah yang dilewati kendaraan
Minimum 0,60 meter di bawah permukaan tanah yang tidak dilewati kendaraan
(pedestrian)
Kabel tanah harus diletakan pada pasir atau tanah halus, galian tanah tersebut harus
stabil, kuat, rata dengan ketentuan tebal lapisan pasir atau tanah halus tersebut tidak
lebih dari 10 cm di sekelilling kabel tanah tersebut.
Pada bagian atas pasir urug halus dipasang beton cetak pelindung kabel dengan
ukuran 40 cm x 20 cm x tebal 7 cm atau sesuai gambar perencanaan.
Pada kondisi dimana terdapat kabel PLN tegangan menengah atau tinggi dan kabel

78

c.
d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

telekomunikasi maka kabel tanah harus di tempatkan di atas kabel PLN (jarak 30 cm)
dan kabel telekomunikasi (jarak 3 cm).
Pada persilangan dimana terdapat kabel tanah dan kabel lainya harus diambil salah
satu tindakan pengamanan yang disebutkan dalam ketentuan di bawah ini, kecuali jika
salah satu kabel yang bersilangan itu terletak dalam satu saluran pemasangan batu
beton dan semacam itu yang mempunyai tebal dinding yang sekurang-kurangnya 6 cm.
Di atas kabel tanah yang terletak di bawah, harus dipasang tutup pelindung dari lempengan atau
pipa beton atau sekurang-kurangnya dari bahan yang tahan lama atau yang sederajat.
Di atas kabel yang terletak di atas, dipasang pipa belah beton atau dari bahan lain yang cukup
kuat, tahan lama dan tahan api. Pipa belah ini harus dipasang menjorok keluar sekurangkurangnya 0,5 meter dari kabel yang terletak di bawah diukur dari sisi luar kabel.
Stop kontak biasa (KKB), Stop kontak biasa (KKB) yang dipakai adalah stop kontak satu fasa.
Semua stop kontakharus memiliki terminal fasa, netral dan pentanahan. Stop kontak harus
dari satu tipe yaitu untuk pemasangan rata dinding dengan rating 250 Volt, 10 Amp. Merk yang
boleh dipakai Panasonic, Shneider Electric dan Konsultan Pengawas.
Stop kontak 3 fasa, Stop kontak yang dipakai adalah stop kontak tiga fasa. Semua stop kontak
harus memiliki terminal fasa, netral dan pentanahan. Stop kontak harus dari satu tipe yaitu
untuk pemasangan rata dinding dengan rating 380 Volt. Merk yang boleh dipakai Panasonic,
Shneider Electric dan Konsultan Pengawas.
Sakelar Dinding, Sakelar harus dari satu tipe yaitu untuk pemasangan rata dinding, tipe
rocker, mempunyai rating 250 Volt, 10 Amp dari jenis single atau double gangs atau
multiple gangs(grid switch), RCS. Merk yang boleh dipakai hanya Berker, Panasonic, Shneider
Electric dan Konsultan Pengawas.
Kotak untuk sakelar dan stop kontak, Kotak harus dari bahan baja dengan kedalaman
minimal 35 mm, kotak harus mempunyai terminal pentanahan. Sakelar dan stop
kontakdipasang dalam kotak dengan menggunakan baut.pemasangan dengan cakar yang
mengembang tidak diperbolehkan.
Kabel instalasi, Kabel instalasi stop kontakdan penerangan harus kabel inti tembaga dengan
inflasi PVC, satu inti atau lebih(NYY atau NYM). Kabel harus mempunyai penampang minimum
2,5 mm2 seperti yang ditunjukkan pada gambar. Kode warna insulasi kabel harus memenuhi
ketentuan dalam PUIL sebagai berikut :
Fasa R, S, T
: merah, kuning, hitam
Netral
: biru
Pembumian
: hijau dan kuning
Sambungan kabel harus di buat baik secara listrik dengan menggunakan konus
penyambungan(lasdop) plastic atau konektor lain yang di setujui pengawas. Sambungan
kabel hanya boleh dilakukan dalam kotak penyambungan (T-doos). Di dalam pipa tidak
boleh ada sambungan kabel. Kabel harus dari merk Supreme, Kabelindo, Jembo dan kabel
Metal. Lasdop harus dari merk 3 M, T & B.
Pipa instalasi pelindung kabel yang dipakai adalah PVC conduit khusus untuk instalasi

79

listrik. Pipa, elbow, junction box dan kelengkapan lainnya harus sesuai antara satu dan
lainya. Diameter yang dipakai adalah 20 mm dan 25 mm. Pipa flexible harus dipasang untuk
melindungi kabel antara junction box dan armature lampu. PVC conduit setara merk : EGA,
Clipsal

N.14.7 Pemasangan Lampu


a. Semua fixture penerangan dan perlengkapan-perlengkapan harus dipasang oleh tukangtukang yang berpengalaman dengan cara yang harus disetujui oleh pengawas dan seperti
ditunjukan dalam gambar.
b. Pada waktu diselesaikan pemasangan fixture penerangan, seluruhnya harus dalam
keadaan yang baik dan siap untuk bekerja dalam kondisi sempurna serta bebas dari semua
cacat/kekurangan.
Pada waktu pemeriksaan akhir semua fixture dan semua perlengkapan harus siap
menyala. Semua fixture dan perlengkapan harus bersih dari debu, plester dan lain-lain. Semua
reflector, kaca, panil pinggir atau bagian-bagian lain yang rusak sebelum pemeriksaan akhir harus
diganti oleh kontraktor tanpa biaya tambahan.

N.14.8 Pemasangan Sakelar dan Stop Kontak


Kecuali tercatat atau dipersyaratkan lain, tinggi pemasangan saklar adalah 150 cm dari
permukaan lantai dan untuk stop kontak biasa harus 30 cm dari permukaan lantai. Apabila ada lebih
dari lima sakelar dinding atau stop kontakbiasa ditempatkan pada lokasi yang sama, maka dua deret
stop kontaktunggal, ganda atau multi gangs harus dipasang satu di atas yang lain dan titik tengah
deretan tersebut harus berada 1,45 cm di atas permukaan lantai. Stop kontakbiasa dekat pintu atau
jendela harus dipasang 20 cm dari pinggir kusen dari sisi kunci seperti ditunjukan dalam gambargambar arsitektur, kecuali ditunjukan lain oleh pengawas

N.15 Pemasangan Kabel Tray Dan Ladder


N.15.1 Bahan

Kabel Tray
Kabel Ladder
Gantungan
Kabel NYA
Fitting dan Jointing

N.15.2 Pelaksanaan

Lantai bersih daribekisting


Marking Jalur Kabel tray
Tandai lokasi gantungan
Bor lubang untuk dinaset gantungan

80

Pasang gantungan
Pasang tray
Hubungkan tray satu denganyang lain dengan kabel NYA 2,5 mm

N.15.3 Pelaksanaan Kabel Tray


a.
b.
c.
d.

Marking jalur tray sesuai shopdrawing, tandai lokasi pengeboran untuk gantungan
Bor lokasi gantungan
Pasang gantungan tray sesuai dengan ketinggian yang diminta
Tray dengan lebar 100 cm ke atas harus dipasang support pada tiap balok struktur
atasnya
e. Pasang kabel tray
f. Pada setiap sambungan pasang penghubung grounding dengan kabel NYA 2,5 mm.

N.15.4 Urutan Pelaksanaan Kabel Ladder


a.
b.
c.
d.
e.

Marking jalur ladder sesuai shopdrawing, tandai lokasi pengeboran untuk gantungan
Bor lokasi gantungml support
Pasang gntung & nl support ladder
Pasang kabel ladder
Pada setiap sambungan pasang penghubung grounding dengan kabel NYA 2.5 mm.

81

N.15.5 Flow Chart Pekerjaan Instalasi Stop Kontak

82

N.16

Pekerjaan Instalasi Telepon

N.16.1 Bahan

PABX kapasitas 2 co line / 32 extension , produk Panasonic dan yang setara.


Stop kontakdibuat rata dinding, terbuat dari bahan baja yang dilapisi bahan anti karat. Stop
kontaktelepon yang boleh digunakan adalah dari merk : Panasonic, Shneider Electric dan MK
Kabel telepon harus dari jenis pasangan dalam berinsulasi PVC, diameter konduktor 0,6 mm,
kapasitas 2 pair. Untuk jenis pasangan luar(under ground) berinsulasi Galvanized Steel type
Armouredant Polyethylene Sheated, konduktor 0,6 mm, kapasitas sesuai dengan yang
ditunjukan dalam gambar perencanaan.
Pipa instalasi pelindung kabel yang dipakai adalah PVC conduit khusus untuk instalasi listrik.
Pipa, elbow, junction box dan kelengkapan lainya harus sesuai antara satu dan lainya. Diameter
yang dipakai adalah 20 mm dan 25 mm. PVC conduit harus dari merk: EGA, ClipsalPesawat
telepon
Pesawat telepon yang dipakai harus dari jenis digital, tipe meja dan dari jenis push Buton dialing
yang disetujui oleh PT.TELKOM.

N.16.2 Peralatan

Tang, Obeng dll


Waterpass
Kunci pas

N.16.3 Bahan yang digunakan

PAI3X
Pesawat Telepon
Konduit
Outlet Telepon
Kabel instalasi
Terminal Box
Material Bantu

N.16.4 Pelaksanaan

Pemasangan instalasi Konduit


Pemasangan Kabel Instalasi Telepon
Pemasangan Instalasi Rak Kabel
Pemasangan Terminal Box
Pemasangan Outlet Telepon
Pemasangan Peralatan Utama

83

N.16.5 Flow Chart Pekerjaan Instalasi Telepon

84

N.17

Pekerjaan Instalasi CCTV

N.17.1 Material
a.
b.
c.
d.
e.
f.

TV Monitor
Camera
Kabel instalasi
Konduit
Terminal Box
Material Bantu

N.17.2 Peralatan
a. Tang, Obeng, dll
b. Waterpass
c. Bending conduit

N.17.3 Urutan Pemasangan


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Pemasangan instalasi konduit


pemasangan instalasi kabel CCTV
Pemasangan instalasi rak kabel
Pemasangan terminal box
Pemasangan peralatan CCTV
Urutan Pelaksanaan Pemasangan CCTV
Marking lokasi penempatan TV monitor dan Camera
Pasang TV Monitor
Pasang Camera

N.18 Sistem Pentanahan (Grounding)


a. Semua bagian metal yang dalam keadaan tidak bertegangan harus dihubungkan menjadi
satu secara elektrik dengan baik dan dihubungkan dengan kawat tembaga (BC)
berpenampang 25 mm2, dihubungkan dengan rod tembaga berdiameter sesuai dengan
gambar, ditanam sedalam 6 m atau sampai diperoleh tahanan pentanahan maksimum 5
Ohm.Kawat grounding dapat dipergunakan kawat telarijang (BC = Bare Copper Conductor)
b. Besarnya kawat grounding yang dapat dipergunakan minimal berpenampang sama dengan
penampang kabel masuk (incoming feeder) untuk penampang kabel lebih kecil dari 50 MM2
, atau sesuai gambar

85

O. PEKERJAAN PLUMBING
O.1

Pekerjaan Penyediaan Air Bersih

O.1.1 Bahan

Bahan/material pipa untuk distribusi air bersih adalah GIP pipe, Pipa dan fitting yang digunakan
harus mengikutl standar SII dan harus disertai sertifikat hasil pengujian
Katup katup (valve) untuk ukuran lebih kecjl atau sama dengan 50 mm dibuat danri bahan
kuningan dengan system penyambungan menggunakan ulir /screwed, sedangkan yang lebih
besar dari 50 mm dibuat dari bahan GIP, dengan system sambungan ulir
Penggantung pipa. (hanger) dan penjepit pipa (klem) harus dari bahan metal yang digalvanis.

O.1.2 Pemasangan

Untuk sambungan yang menggunakan ulir harus memiliki spesifikasi panjang ulir
Sebelum dilakukan penyambungan, baglan yang berulir harus dibersihkan terlebih dahulu dari
kotoran kotoran yang melekat
Setiap pemasangan katup yang menggunakan ulir harus digunakan sepasang water moer
(union coupling) untuk mempermudah pekerjaan pemeliharaan
Semua ujung yang terakhir, yang tidak dilanjutkan lagi harus ditutup dengan dop/plug atau blank
flanged
Pipa pipa harus diberi penyangga, pipa pipa tegak yang menempel sepanjang kolom atau
dinding dan pada setiap percabangan atau belokan harus diberi pengikat (klem).
Penyangga pipa harus dipasang pada lokasi lokasi yang ditentukan
Apabila lokasi penggantung pipa berhimpitan dengan katup, maka penyangga tersebut harus
digeser dari posisi tersebut dengan catatan pipa tidak akan melengkung apabila katup tersebut
dilepas.
Pipa pipa induk dan distribusi harus ditest dengan tekanan hidrostatik sebesar 8 kg/cm2 dan
dalam waktu minimum 8 jam, tekanan tersebut tidak turun/nalk serta tidak terjadi kebocoran
Instalasi yang hasil testnya tidak baik, segera diperbaiki. Biaya pengetesan, alat alat yang
diperlukan dan biaya perbaikannaya ditanggung oleh Kontraktor
Pipa pipa yang ada di atas langit langit, sepanjang kolom, dinding dan pada tempat tempat yang
terlihat harus dicat dengan wama sebagal berikut:
- Pipa air bersih dengan warna biru
- Pipa instalasi fire hydrant dengan warna merah
- Pipa air bekas dan air kotor dengan warna abuabu
- Pipa air hujan dengan warna putih
Sebelum air bersih dipakai, maka air yang ada dalam pipa dibuang dulu, kemudian sistim
pemipaan diisi dengan larutan yang mengandung 50 mg/I Chloor dan didiamkan selama 24 jam.
Setelah 24 jam sistim dibilas dengan air bersih sampai kadar sisa Chloor 2 mg/l.
Tanki Air Atas (Roof Tank)

86

Tanki air atas dibuat dan bahan Fiber Glass Reinforced Plastic (FRP), dipasang 1 buah dengan kapasitas
5000 It. Type tanki yang digunakan adalah vertical type, dilengkapi dengan lubang inlet, outlet, drain, manhole
dan ventilasi. Tanki ditempatkan pada dudukan yang kuat, konstruksi beton besi WF

O.2

Pekerjaan Instalasi Sanitary

O.2.1 Bahan
a. Untuk instalasi air bersih dengan pipa PPR PN 10 produksi Wafin, Genova.
b. Untuk Instalasi air kotor dengan PVC kelas AW dengan ukuran pipa diameter 3 dan 4 .
c. Untuk fitting dipergunakan bahan Malleable Iron Screwed Fitting (galvanized).

O.2.2 Pemasangan

O.3

Sambungan sambungan antara pipa PVC, diberi solvent cement darl kualitas balk yang disetujui oleh
pengawas/Direksi
Pada pipa vent, semua ujung pipa atau fitting yang terakhir tidak dilanjutkan lagi harus ditutup dengan
dop atau plug dari bahan material yang sama.
Pipa PVC untuk saluran air kotor dan limbah manusia yang tertanam harus diberi pondasi bantalan
beton I pc + 3 ps + 5 krI pada setiap Jarak 3 m, pondasi ini juga dipasang pada bagian sambungan
pipa percabangan dan belokan.
Pipa tegak (riser) harus diberikan bantalan beton pondasi pada bagian pertemuan antara pipa tegak
dan datar di lantai dasar
Pipa pipa sebelum disambungkan ke fixture harus ditest dahulu terhadap kebocoran kebocoran.
Instalasi yang hasil testnya tidak balk, segera diperbaiki. Biaya pengetesan, alat alat yang diperlukan
dan blaya perbalkan ditanggung Kontraktor.
Penanaman pada tembok harus ditutup oleh pekeriaan finishing
Plpa pipa harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak ada hawa busuk keluar, dan tidak ada
rongga rongga udara, letaknya harus lurus. Untuk pipa air kotor mendatar yang berukuran lebih besar
dari 80 mm harus dibuat kemiringan minimal I % (satu persen), dan pipa yang berukuran lebih kecil
atau sama dengan 80 mm harus dibuat kemiringan minimal 2 % (dua persen). Pipa limbah manusia
harus dipasang dengan kemiringan minimal 2 % (dua persen)
Pada Ujung buntu dilengkapi dengan lubang pembersih (clean out) dengan ukuran diameter 50 mm
atau 80 mm,
Ujung ujung pipa dan lubang lubang harus didop/plug selama pemasangan, untuk mencegah kotoran
masuk ke pipa.

Pekerjaan Instalasi Air Bersih

Pipa instalasi plumbing siap terpasang seluruhnya


Siapkan alat penekanan tekanan, pompa system mekanik atau pompa motor dan alat ukur tekanan
(pressure gauge)
Hubungkan pipa outlet dari instalasi pompa penekan ke pipa input instalasi bangunan. Pengetesan
dilaksanakan dengan cara bagian demi bagian dari panjang pipa maksimal 50 meter atau atas
petunjuk Pengawas/Direksi
Setelah selesai hubungan antara pipa instalasi bangunan dan alat pompa penekan, kran yang

87

O.4

berhubungan ke instalasi diseluruh posisi ditutup dengan plug sesual dimensi kran
Pipa instalasi stap ditest, pompa penekan dijalankan sampai pressure gauge menunjukkan tekanan
8 kg/cm2 atau atas petunjuk pengawas/ Direksi
Tekanan 8 kg/cm2 ini harus tetap berlangsung selama 8 jam terus menerus (atau atas petunjuk
pengawas/Direksi) tidak ada penurunan, kecuali akibat perubahan cuaca
Untuk pemeriksaan tekanan bias dibuat daftar, dalam daftar ini tercantum tekanan per jam maupun
keadaan cuaca pada saat uji tekan dilakukan
Sesuai penguiian, sebelum pipa instalasi air bersih siap dipakai, maka pipa diisi larutan yang
mengandung 50 mg Chloor/lIter, dan didiamkan selarna 24 jam. Setelah itu pipa instalasi dibilas
dengan air bersih sampai kadar sisa. chloor 2 mg/I

Pekerjaan Instalasi Pipa Air Kotor, Pipa Limbah Manusia

O.4.1 Bahan
Untuk Instalasi air kotor dengan PVC kelas AW dengan ukuran pipa diameter 3 dan 4 .

O.4.2 Pemasangan Instalasi Air Kotor


a. Untuk instalasi air kotor, biasanya langsung melalui buangan dari closet dan terminal,
sedangkan untuk air buangan adalah sisa air buangan melalui wastafel, bak cuci dan floor
drain (pembuangan pada lantai) yang mengalir secara gravitasi dari masing-masing genitor
menuju bak penampungan (septic tank, STP).
b. Untuk American Standard biasanya pipa air kotor dan pipa air buangan dipisahkan, akan
tetapi sistim Japan Standard digabung menjadi satu.
c. Yang perlu diperhatikan dalam pemasangannya adalah :
o Untuk air kotor dibuat dengan kemiringan ( 1)
o Untuk air buangan dibuat dengan kemiringan ( 1 li) Masing-masing pipa air kotor
& air buangan harus dilengkapi pettrap (saluran leher angsa) untuk mencegah bau.

88

P. INSTALASI FIRE ALARM


P.1

Lingkup Pekerjaan

Yang tercakup dalam pekerjaan ini adalah pengadaan dan pemasangan sistem fire alarm dan unit Fire
Extinguisher Unit.

P.2

Alat dan Bahan


a. Master Control Fire Alarm ( MCFA ) / Fire Alarm Control Panel mempunyai kapasitas
minimal 5 zones. Harus mempunyai perlengkapan-perlengkapan standar seperti :
o Indicator/signal zones sesuai dengan jumlah zone.
o Buzzer/Horn
o Fire Brigade Telephone Line
o Fire Fighting ( Fire Pump ) Line
o Signal otomatis dan manual monitor untuk memberi petunjuk terjadinya gangguan
open circuit maupun short circuit pada jaringan loop ataupun gangguan inatalasinya.
Panel dibua dari konstruksi rangka besi tebal plat 1,5 mm cat finis warna merah. MCFA
diletakkan di ruang Kontrol Engineering (Operator)
o Integrated dan instruksi ke pressurization fan pada saat tejadi kebakaran
o Pada Indicator Zones, harus menunjukkan lokasi tiap zones untuk mempermudah
identifikasi
b. Power Supply Tegangan input Power Supply 220 V, 50 Hz, output disuaikan kebutuhan
peralatan fire Alarm. Dalam keadaan catu daya PLN Terputus (Emergency) maka
dipergunakan supply battery yang dapat melayani sistem selama 12 jam baterai harus jenis
Nickel Cadmium (NiCad). Pengisian Baterai Otomatis. Sisitem Penghubungan antara
perlengkapan Fire Alarm dengan PLN atau Batterai adalah otomatis, yaitu bila catu PLN terputus
maka pencatunya dari baterai, bila catu PLN Hidup/terhubung maka pencatunya dari PLN
lagi yang dilakukan secara otomatis.
c. Fire Alarm Detector, Maximum Fixed Temperature detector mempunyai daerah cakup :

d. Alarm Bell, Dipasang outblow, Vibration type, Diameter 6 , minimum 89 dB pada jarak 1 feet.
e. Manual Break Glass/Manual Call Point, Indoor type, dipasang Flush atau surface mounted
mudah direset.
f. Horn Alarm / Alarm Bell. Dipasang indoor dan outdoor, daerah terbuka, parkir atau tempat
lainnya lengkap dengan tiang, mempunyai frekuensi dan amplitudo yang cukup sehingga
dapat terdenganr dengan jelas didalam bangunan atau tempat lain.
g. Smoke Detector. Smoke detector yang digunakan adalah sistem photoelectric smoke detector.
h. Kabel Instalasi Sistem Instalasi dari terminal Box ke Fire Detector, manual Call Point, atau Alarm
Bell dipergunakan kabel NYA 1,5 mm2 sistem konduit. Sedangkan kabel feeder menggunakan
tipe NYCY. Semua kabel menggunakan produk Supreme, Kabelindo, Kabelmetal.
i. Portable Fire Extinguisher unit / Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Portable Fire Fighting Extinguisher unit. Portable Fire Fighting Extinguisher unit adalah unit pemadam

89

pada diding atau lemari fire. Untuk unit Fire Extinguisher di Ruang Genset mengguanakan tipe Trolley
CO2 kapasitas 25 kg.

P.3

Pelaksanaan
a. Sambungan pipa digunakan sambungan las (welded Joint) dengan menggunakan elektroda.
las yang berkualitas baik
b. Pada penyambungan Pipa dengan menggunakan flens perlu dilengkapi dengan ring type
gasket untuk menjamin sambungan terhadap kebocoran
c. Pelaksanaan water proofing terhadap kebocoran sebelum, pemasangan dan pada pelaksanaan
pekerjaan penyambungan
d. Pipa pipa diharuskan ditest terhadap kebocoran , pengetesan harus diketahui dan disetujui
pengawas/Direksi
e. Apabila pada. waktu pengetesan diketahui ada. kegagalan pada. salah satu sistim, maka. biaya.
penggantian peralatan dan biaya perbaikan menjadi tanggung jawab, Kontraktor
f. Sebelum pekerjaaan dimulal Kontraktor harus menyerahkan daftar dan brosur brosur
material/peralatan yang akan dipasang
g. Instalasi pipa harus dilengkapi dengan penggantung pipa, penyangga dengan jarak tertentu dan
memenuhi syarat
h. Commissioning dan testing dari peralatan yang terpasang wajib dilaksanakan untuk mengetahui
bahwa pekerjaan pemasangan peralatan sudah baik dan benar

P.4

Flow Chart Pekerjaan Instalasi Fire Alarm

90

91

P.5

Pengujian Pada Sistim Pemadarn Kebakaran

Untuk melakukan pengujian sistim pemadarn kebakaran Kontraktor harus mengkoordinasikan terlebih
dahulu dengan pengawas/Direksi.
Prosedur pengujian :
a. Pipa instalasi sistim hidran siap terpasang seluruhnya
b. Siapkan alat penekan tekanan, pompa sistim mekanik atau pompa motor dan alat ukur tekanan
(pressure Gauge).
c. Hubungan pipa outlet dari instalasi pompa penekan ke pipa input instalasi bangunan. Pengujian
dilaksanakan dengan cara bagian demi baglan darl panjang pipa maksimal 50 meter atau atas
petunjuk pengawas/Direksi
d. Setelah selesal hubungan antara pipa instalasi bangunan dan alat pompa penekan, Kran yang
berhubungan ke instalasi seluruh posisi ditutup dengan plug sesual dimensi kran
e. Pipa instalasi siap ditest, pompa penekan dijalankan sampai pressure gauge menunjukkan
angka 10 kg/cm2, atau atas petunjuk pengawas/Direksi
f. Angka 10 kg/cm2 ini harus tetap berlangsung selama 8 jam terus menerus (atau atas petunjuk
pengawas/Direksi) dan tidak ada penurunan, kecuali karena perubahan cuaca
g. Untuk pemeriksaan tekanan dibuatkan daftar, dalam daftar itu tercantum tekanan per jam
maupun keadaan temperatur pada saat test pipa dilakukan

92