Anda di halaman 1dari 6

Dengan mobilitas yang tinggi disektor lalu lintas dan faktor kelalaian manusia sebagai salah

satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat menyebabkan fraktur.
Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah raga dan rumah tangga.(7)
Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak, Fraktur yang
mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah metafisis tulang radius distal,dan
ulna distal sedangkan fraktur pada daerah diafisis yang terjadi sering sebagai faktur type
green-stick. Daerah metafisis pada anak relatif masih lemah sehingga fraktur banyak terjadi
pada daerah ini, selebihnya dapat mengenai suprakondiler humeri (transkondiler humeri)
diafisis femur dan klavikula, sedangkan yang lainnya jarang.(4,5)
Fraktur pada anak mempunyai keistimewaan dibanding dengan dewasa, proses
penyembuhannya dapat berlangsung lebih singkat dengan remodeling yang sangat baik,hal
ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta fisiologi tulang anak
yang berbeda dengan tulang orang dewasa. Selain itu proses penyembuhan ini juga
dipengaruhi oleh faktor mekanis dan faktor biologis.(6)

2.1. Definisi (7)


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang.

2.2.Anatomi dan Fisiologi (4,5,6)


Ada perbedaan yang mendasar antara fraktur pada anak dengan fraktur pada orang dewasa,
perbedaan tersebut pada anatomi, biomekanik, dan fisiologi tulang. Pada anak-anak antara
epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis sebagai daerah pertumbuhan kongenital.
Lempeng epifisis ini akan menghilang pada dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini akan
menyatu pada saat itulah pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti.
Tulang panjang terdiri dari : epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan bagian paling
atas dari tulang panjang, metafisis merupakan bagian yang lebih lebar dari ujung tulang
panjang, yang berdekatan dengan diskus epifisialis, sedangkan diafisis merupakan bagian
tulang panjang yang di bentuk dari pusat osifikasi primer.
Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang mengandung selsel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang
panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari
pembuluh darah inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu
tulang yang patah.
Pada anak, terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan. Periosteum
sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding akan menghasilkan kalus yang cepat
dan lebih besar daripada orang dewasa.
Perbedaan di atas menjelaskan perbedaan biomekanik tulang anak-anak dibandingkan orang
dewasa, yaitu :
Biomekanik tulang

Tulang anak-anak sangat porous, korteks berlubang-lubang dan sangat mudah dipotong oleh
karena kanalis Haversian menduduki sebagian besar tulang. Faktor ini menyebabkan tulang
anak-anak dapat menerima toleransi yang besar terhadap deformasi tulang dibandingkan
orang dewasa. Tulang orang dewasa sangat kompak dan mudah mengalami tegangan dan
tekanan sehingga tidak dapat menahan kompresi.
Biomekanik lempeng pertumbuhan
Lempeng pertumbuhan merupakan tulang rawan yang melekat pada metafisis yang bagian
luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian dalamnya oleh procesus mamilaris. Untuk
memisahkan metafisis dan epifisis diperlukan kekuatan yang besar. Tulang rawan lempeng
epifisis mempunyai konsistensi seperti karet yang besar.
Biomekanik periosteum
Periosteum pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah mengalami robekan
dibandingkan orang dewasa.
Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodelling yang lebih besar
dibandingkan pada orang dewasa, sehingga tulang pada anak-anak mempunyai perbedaan
fisiologi, yaitu :
Pertumbuhan berlebihan (over growth)
Pertumbuhan diafisis tulang panjang akan memberikan stimulasi pada pertumbuhan panjang,
karena tulang rawan lempeng epifisis mengalami hiperemi pada waktu penyambungan.
Deformitas yang progresif
Kerusakan permanen pada lempeng epifisis akan terjadi pemendekan atau angulasi.
Fraktur total
Pada anak-anak fraktur total jarang bersifat komunitif karena tulangnya sangat fleksibel
dibandingkan orang dewasa.

2.3.Etiologi (7,6,8)
Fraktur dapat disebabkan karena oleh :
1. Trauma
2. Non Trauma
3. Stress
1. Trauma

Trauma dapat dibagi menjadi trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung
berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, sedangkan trauma tidak
langsung bilamana titik tumpuan benturan dengan terjadinya fraktur bergantian.

2. Non Trauma
Fraktur terjadi karena kelemahan tulang akibat kelainan patologis didalam tulang, non trauma
ini bisa karena kelainan metabolik atau infeksi.

3. Stress
Fraktur stress terjadi karena trauma yang terus-menerus pada suatu tempat
tertentu.
2.4.Klasifikasi (2,6,8)
Klasifikasi fraktur pada anak dapat dikelompokkan berdasarkan radiologis, anatomis, klinis
dan fraktur yang khusus pada anak.
A. Klasifikasi Radiologi
- Fraktur Buckle atau torus
- Tulang melengkung
- Fraktur green-stick
- Fraktur total
B. Klasifikasi Anatomis
- Fraktur epifisis
- Fraktur lempeng epifisis
- Fraktur metafisis
- Fraktur diafisis
C. Klasifikasi Klinis
- Traumatik
- Patologik
- Stress
D. Fraktur khusus pada anak

- Fraktur akibat trauma kelahiran


Fraktur yang terjadi pada saat proses kelahiran sering terjadi pada saat melahirkan bahu bayi,
(pada persalinan sungsang). Fraktur yang terjadi biasanya disebabkan karena tarikan yang
terlalu kuat yang tidak disadari oleh penolong.
- Fraktur salter-Haris
Klasifikasi salter haris untuk patah tulang yang mengenai lempeng epifisis distal tibia dibagi
menjadi lima tipe :
Tipe 1 : Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya masih utuh.
Tipe 2 : Periost robek di satu sisi sehingga epifisis dan cakram epifisis lepas sama sekali dari
metafisis.
Tipe 3 : Patah tulang cakram epifisis yang melalui sendi
Tipe 4 : Terdapat fragmen patah tulang yang garis patahnya tegak lurus cakram epifisis
Tipe 5 : Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan kematian dari
sebagian cakram tersebut.
Beberapa jenis fraktur khusus pada anak

Ada 2 jenis fraktur khusus pada anak yaitu di daerah epifisis dan di lempeng epifisis. Fraktur
epifisis jarang terjadi tanpa disertai dengan fraktur lempeng epifisis, yang dibagi dalam :
1. Fraktur avulsi akibat tarikan ligamen
2. Fraktur kompresi yang bersifat komunitif
3. Fraktur osteokondral
Fraktur pada lempeng epifisis merupakan 1/3 dari seluruh fraktur pada anak-anak. Lempeng
epifisis berupa diskus tulang rawan yang terletak diantara epifisis dan metafisis.
Banyak klasifikasi fraktur lempeng epifisis, yaitu menurut Poland, Salter-Harris, Aitken,
Weber, Rang dan Ogend. Tapi yang paling sering digunakan adalah menurut Salter-Harris
karena paling mudah, praktis dan memenuhi syarat untuk terapi dan prognosis.
Klasifikasi menurut Salter-Harris dibagi dalam lima tipe, yaitu (6,7) :
Tipe I

Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya masih utuh.
Tipe II

Garis fraktur melalui sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan
membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga disebut tanda Thurston-Holland.

Tipe III

Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian sepanjang garis
lempeng epifisis.
Tipe IV

Merupakan fraktur intra-intraartikuler yang melalui permukaan sendi memotong epifisis serta
seluruh lapisan lempeng epifisis dan berlanjut pada sebagian metafisis.
Tipe V

Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan kematian dari sebagian
cakram tersebut.
2.5.Diagnosa (2,6,7)
Diagnosis fraktur ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yaitu radiologis. Pada anak biasanya diperoleh dengan alloanamnesis dimana
ditemukan adanya riwayat trauma dan gejala-gejala seperti nyeri, pembengkakan, perubahan
bentuk dan gangguan gerak. Pada pasien dengan riwayat trauma yang perlu ditanyakan
adalah waktu terjadinya, cara terjadinya, posisi penderita dan lokasi trauma. Bila tidak ada
riwayat trauma berarti merupakan fraktur patologis.
Pada pemeriksaan fisik dilakukan :
Look (Inspeksi)
- Deformitas : angulasi ( medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi (rotasi,
perpendekan atau perpanjangan).
- Bengkak atau kebiruan.
- Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak)
Feel (Palpasi)
- Tenderness (nyeri tekan) pada derah fraktur.
- Krepitasi.
- Nyeri sumbu.
Move (Gerakan)
- Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif.
- Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya.
Pemeriksan trauma di tempat lain seperti kepala, thorak, abdomen, tractus urinarius dan
pelvis.

Pemeriksaan komplikasi fraktur seperti neurovaskular bagian distal fraktur yang berupa
pulsus arteri, warna kulit, temperatur kulit, pengembalian darah ke kapiler (Capillary refil
test), sensasi motorik dan sensorik.
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pemeriksan Radiologi. Untuk
melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya. Foto rontgen minimal
harus dua proyeksi yaitu AP dan lateral.
2.6.Penyembuhan Fraktur pada Anak(2,6,7,8)
Proses penyembuhan fraktur adalah suatu proses biologis alami yang akan terjadi pada setiap
fraktur. Setiap tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut.
Proses penyembuhan mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan bila
lingkungannya memadai maka bisa sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis seperti
imobilisasi sangat penting untuk penyembuhan, selain itu faktor biologis juga sangat esensial
dalam penyembuhan fraktur.
Proses penyembuhan fraktur berbeda-beda pada tulang kortikal (pada tulang panjang), tulang
kanselosa (pada metafisis tulang panjang dan tulang-tulang pendek) dan pada tulang rawan
persendian.