Anda di halaman 1dari 12

Penerapan Prinsip-Pinsip Dasar Bioetik

Kelly

102012078 / D 8

Mahasiswi Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
kelly@civitas.ukrida.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang
Kemajuan teknologi yang semakin canggih dan pesat membuat akses
informasi yang beredar saat ini seolah tak terbendung. Masyarakat semakin cerdas
dalam menentukan pilihannya termasuk dalam urusan kesehatan. Dengan akses
informasi yang tak terbatas, masyarakat semakin diperdalam pengetahuannya dalam
bidang kesehatan, terutama mengenai hak-hak yang wajib mereka dapat dan
mengenai penyakit yang mereka derita. Seorang dokter yang baik tentu harus
memperhatikan hal tersebut, agar bisa mengimbangi pasien yang datang untuk
berobat padanya.
Penerapan kaidah dasar bioetik merupakan sebuah keharusan bagi seorang
dokter karena kaidah bioetik adalah sebuah panduan dasar dan standar tentang
bagaimana seorang dokter harus bersikap atau bertindak terhadap suatu persoalan atau
kasus yang dihadapi oleh pasiennya. Kaidah dasar bioetik harus dipegang teguh oleh
seorang dokter dalam proses pengobatan pasien.
Pada kasus kali ini, penulis akan membahas tentang kasus yang dialami oleh
dokter Bagus, seorang dokter yang bertugas di suatu desa terpencil.

1.2

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ilmiah ini adalah mengetahui dan memahami
tentang prinsip-prinsip dasar bioetik beserta contoh kasusnya.

1.3

Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa Fakultas
Kedokteran UKRIDA dapat memahami kaidah dasar bioetik dengan baik dan mampu
menerapkan pinsip-prinsip dasar bioetik seperti Beneficence, Non - Maleficence,
Autonomi dan Justice apabila sudah menjadi seorang dokter di masa yang akan
datang.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Definisi bioetik
Bioetika berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang berarti
norma-norma atau nilai-nilai moral. Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang
masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran
baik skala mikro maupun makro di masa kini dan masa mendatang. Bioetika
mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi, dan hukum bahkan politik.1,3

2.2

Pembahasan Masalah
Kaidah-kaidah dasar bioetik merupakan sebuah hukum mutlak bagi seorang
dokter. Seorang dokter wajib mengamalkan prinsip-prinsip yang ada dalam kaidah
tersebut. Akan tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip
menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang
lain. Kondisi seperti ini disebut sebagai Prima Facie. Ada 4 prinsip dasar bioetik yang
sering digunakan oleh para dokter yaitu:

Beneficence

Non - Maleficence

Justice

Autonomi

2.2.1 Beneficence
Prinsip beneficence menegaskan peran dokter untuk memberikan
kemudahan dan kesenangan kepada pasien untuk memaksimalisasi akibat baik
daripada akibat buruk. Prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya antara
lain:

Mengutamakan alturisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk


kepentingan orang lain)

Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia

Memandang pasien atau keluarga atau sesuatu tidak hanya sejauh


menguntungkan dokter

Mengusahakan

agar

kebaikan

atau

manfaatnya

lebih

banyak

dibandingkan dengan keburukannya

Paternalisme bertanggung jawab / berkasih sayang

Menjamin kehidupan baik-minimal manusia

Pembatasan goal based

Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan / preferensi pasien

Minimalisasi akibat buruk

Kewajiban menolong pasien gawat darurat

Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan

Tidak menarik honorarium di luar kepantasan

Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan

Mengembangkan profesi secara terus menerus

Memberikan obat berkhasiat namun murah

Menerapkan Golden Rule Principle

Prinsip Beneficence dalam kasus dokter Bagus yaitu:

1.

Dokter Bagus bertugas dari pagi hari sampai sore hari tetapi tidak menutup
kemungkinan ia harus mengobati pasien di malam hari bila ada warga desa yang
membutuhkan pertolongannya. (Paragraf 1)
Disini dr. Bagus menunjukkan bahwa ia melayani pasien tanpa mengenal waktu,
walaupun sebenarnya ia merasa lelah. Hal tersebut tidak menurunkan niatnnya
untuk menolong pasien. Dokter Bagus rela berkorban demi orang lain.

2.

Setelah memeriksakan anak tersebut, dr. Bagus memberikan beberapa macam


obat dan vitamin serta nasehat agar istirahat yang cukup. (Paragraf 2)
Disini dokter Bagus memberi perhatian penuh kepada pasien dalam
mengusahakan agar kebaikan serta manfaatnya lebih besar dibandingkan dengan
kerugian yang akan diterima pasien.

3.

Setelah memeriksakan anak tersebut, dr. Bagus menyarankan agar anak


tersebut dirawat di rumah sakit yang berada di kota. (Paragraf 3)
Dapat kita lihat bahwa dr. Bagus telah melakukan suatu tindakan yang
berhubungan dengan prinsip Beneficence yaitu mengusahakan agar kebaikan
atau manfaat lebih banyak dibandingkan dengan keburukannya, dan
meminimalisasi akibat buruk.

4.

Baiklah kalau begitu saya akan memberi ibu obat dan oralit untuk anak ibu,
nanti ibu berikan obat tersebut sesuai dengan aturan dan usahakan anak ibu
minum oralit sesering mungkin, nanti sore setelah selesai tugas saya akan
mampir ke rumah ibu untuk melihat kondisi keadaan anak ibu. (Paragraf 3)
Dapat dilihat jika dokter Bagus juga menjalankan prinsip Beneficence yang ke
15 yaitu, memberikan obat berkhasiat namun murah kepada pasiennya. Ia juga
rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk melihat kondisi keadaan anak
tersebut setelah ia selesai bertugas.

5.

Pak, yang hanya dapat saya lakukan adalah memberi obat-obatan penunjang
agar anak bapak tidak terlalu menderita, kata dr. Bagus sambil menyerahkan
obat kepada orang tua pasien. (Paragraf 4)
Dokter Bagus memberikan obat penunjang untuk meminimalisasi akibat buruk
agar pasien tidak terlalu menderita.

6.

Melihat kondisi pasien yang baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan
pulang dengan diberi beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang
kembali untuk kontrol. (Paragraf 5)
Disini dokter Bagus memberi perhatian penuh kepada pasien dalam
mengusahakan agar kebaikan serta manfaatnya lebih besar dibandingkan dengan
kerugian yang akan diterima pasien.

7.

Dokter Bagus curiga pasien tersebut menderita penyakit jantung sehingga ia


membuat surat rujukan ke rumah sakit yang berada di kota. (Paragraf 6)
Dokter Bagus mengusahakan agar kebaikan atau manfaat lebih banyak
dibandingkan dengan keburukannya dan meminimalisasi akibat buruk.

8.

Dokter Bagus tidak menanggapi keluhan si ibu muda tadi dan segera membuat
surat rujukan untuk ibu tersebut ke LAB KLINIK Cepat tepat langganannya
yang berada di kota, jauh dari puskesmas. (Paragraf 7)
Dokter Bagus mengusahakan agar kebaikan atau manfaat lebih banyak
dibandingkan dengan keburukannya dan meminimalisasi akibat buruk.

9.

Demikianlah kegiatan sehari-hari dr. Bagus dan tanpa terasa sudah 25 tahun
dokter Bagus mengabdi di desa tersebut. (Paragraf 7)
Disini dokter Bagus menunjukkan sisi altruisme, ia menolong dan rela
berkorban demi kepentingan orang lain, serta tidak mementingkan dirinya
sendiri.

2.2.2 Non Maleficence


Non - maleficence adalah suatu prinsip dimana seorang dokter tidak
melakukan perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan dengan
resiko terkecil bagi pasien yang dirawat olehnya. Prinsip non-malficence
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Menolong pasien emergensi

Mengobati pasien yang luka

Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)

Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien

Tidak memandang pasien sebagai obyek

Mengobati secara tidak proporsional

Mencegah pasien dari bahaya

Menghindari misrepresentasi dari pasien

Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian

Memberikan semangat hidup

Melindungi pasien dari serangan

Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/kerumahsakitan yang merugikan pihak pasien/keluarganya

Prinsip non - maleficence dalam kasus dr. Bagus yaitu:


1.

Dokter Bagus meminta kesediaan pasien keempat untuk menunggu di luar


karena ia akan terlebih dahulu memberi pertolongan pada pemuda yang tidak
sadarkan diri tersebut. (Paragraf 5).
Disini dokter Bagus lebih mengutamakan untuk menolong pasien emergensi.

2.

Pak mantri tolong umumkan ke pasien, saya akan istirahat makan sejenak,
kata dr. Bagus. (Paragraf 8)
Dokter Bagus mencegah pasien dari bahaya karena kelalaiannya dengan
istirahat makan terlebih dahulu.

2.2.3 Autonomi
Dalam pinsip autonomi, seorang dokter wajib menghormati martabat dan
hak pasien. Setiap pasien diberi hak untuk berpikir secara logis dan membuat
keputusan sendiri. Prinsip autonomi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien

Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi


elektif)

Berterus terang

Menghargai privasi

Menjaga rahasia pasien

Menghargai rasionalitas pasien

Melaksanakan informed consent

Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri

Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien

Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan,


termasuk keluarga pasien sendiri

Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non
emergensi

Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikann pasien

Menjaga hubungan (kontrak)

Prinsip autonomi dalam kasus dr. Bagus yaitu :


1. Setelah memeriksakan anak tersebut, dr. Bagus menyarankan agar anak
tersebut dirawat di rumah sakit yang berada di kota. Namun ibu tersebut
menolak karena tidak mempunyai uang untuk berobat. (Paragraf 3)
Disini dokter Bagus menunjukkan bahwa setiap keputusan itu berada di tangan
pasien dan ia tidak mengintervensi keputusan dari ibu tersebut yang menolak
untuk dirawat di rumah sakit yang berada di kota.
8

2. Dokter Bagus menjelaskan kepada orang tuanya bahwa kondisi anaknya tidak
dapat ditingkatkan dan sangat sulit bagi mereka untuk membeli obat-obatan
mahal tersebut. (Paragraf 4)
Disini dr. Bagus berterus terang tentang keadaan pasien yang sesungguhnya.
3. Walau dengan berat hati, istri pemuda tersebut menyetujui tindakan yang
akan dilakukan dokter Bagus. (Paragraf 5)
Disini terlihat bahwa pasien dewasa dan kompeten dalam mengambil
keputusan sendiri.
4. Melihat kondisi pasien yang baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan
pulang dengan diberi beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang
kembali untuk kontrol. (Paragraf 5).
Dapat dilihat bahwa dokter Bagus tetap menjaga hubungannya dengan pasien
melalui kontrol rutin yang dilakukannya.
2.2.4 Justice
Justice adalah suatu prinsip dimana seorang dokter wajib memberikan
perlakuan sama rata serta adil untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien
tersebut. Dokter harus memberikan kontribusi yang sesuai dengan kebutuhan
pasien.5 Prinsip justice mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Memberlakukan segala sesuatu secara universal

Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan

Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang


sama

Menghargai hak sehat pasien

Menghargai hak hukum pasien

Menghargai hak orang lain

Menjaga kelompok rentan

Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA, status


social, dan sebagainya

Tidak melakukan penyalahgunaan

Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien

Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya

Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil

Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan


kompeten

Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah atau tepat

Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit atau


gangguan kesehatan

Bijak dalam makroalokasi

Prinsip justice dalam kasus dr. Bagus yaitu :


1.

Pada suatu pagi hari, ketika ia datang ke puskesmas sudah ada 5 orang pasien
yang sedang mengantri. Dokter bagus memeriksa pasien sesuai nomor urut
pendaftaran, hal ini dilakukannya agar pemeriksaan pasien berjalan tertib
teratur. (Paragraf 2)
Disini dokter Bagus menunjukkan keadilannya dalam menangani pasien. Ia
memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama. Ia
memeriksa pasiennya secara teratur menurut nomor urut pendaftaran agar
pemeriksaan berjalan dengan tertib, lancar dan tidak membeda-bedakan pasien.

2.

Dokter Bagus meminta kesediaan pasien keempat untuk menunggu diluar


karena ia akan terlebih dahulu memberi pertolongan pada pemuda tersebut.
(Paragraf 5).

10

Di sini dokter Bagus menjalankan prinsip Justice yang ke tiga, yaitu memberi
kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama. Ia lebih
mengutamakan untuk menolong pasien emergensi.
2.3

Identifikasi Istilah
Asites merupakan keadaan patologis berupa terkumpulnya cairan dalam rongga
peritoneal abdomen2
Amputasi adalah tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh2
Kemoterapeutik adalah antimikroba yang dihasilkan secara sintesis-pabrik4

BAB III
PENUTUP

3.

Kesimpulan
Prinsip-prinsip dalam bioetik ada 4 yaitu beneficence, non maleficence, autonomy
dan justice. Keempat prinsip tersebut dapat dilihat dari setiap tindakan yang dilakukan
oleh seorang dokter. Hal ini terlihat dari hasil pembahasan mengenai kasus dokter
Bagus yang melakukan prinsip-prinsip bioetik dalam kegiataanya sehari-hari sebagai
seorang dokter.

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Chang, William. 2009. Bioetika : Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius.


2. Davey, Patrick. 2005. At A Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.
3. Hanafiah, J., M. Jusuf, Amri Amir. 2009. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan (4th
ed). Jakarta: EGC.
4. Manuaba, Ida Bagus Gde. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi Ed 2.
Jakarta: EGC.
5. Sachrowardi, Qomariyah S., Ferryal Basbeth. 2011. Bioetika : Isu & Dilema. Jakarta:
Pensil-324.

12