Anda di halaman 1dari 13

Sella

Gita

Aditi,

S.Kep

Fakultas

Ilmu

Keperawatan

Universitas

Padjadjaran (Jl. Raya Bandung Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com


1

PENGETAHUAN

DAN

SIKAP

MAHASISWA

AKPER

TERHADAP

PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL FLEBITIS Sella Gita Aditi 1 Hana


Rizmadewi Agustina 1 Afif Amir Amarullah

1 1 Fakultas Ilmu

Keperawatan, Universitas Padjadjaran ABSTRAK Infeksi nosokomial


merupakan infeksi yang didapat pasien setelah 3x24 jam dilakukan
perawatan. Infeksi nosokomial flebitis berkaitan dengan tindakan
invasif, seperti pemasangan infus. Komplikasi yang paling sering terjadi
adalah flebitis, terjadi hingga 75% pada pasien yang dirawat.
Pemasangan infus di RSHS dilakukan oleh perawat dan mahasiswa
keperawatan yang sedang menjalani praktik. Tujuan penelitian ini
adalah

untuk

mengetahui

gambaran

pengetahuan

dan

sikap

mahasiswa akper terhadap pencegahan flebitis. Penelitian ini adalah


deskriptif kuantitatif dengan sampel sebanyak 63 responden yang
diambil dengan teknik proportional random sampling. Hasil penelitian
menggambarkan pengetahuan mahasiswa dengan kategori kurang
(66.67%), cukup (26.98%), dan baik (6.35%). Sedangkan untuk sikap
dengan kategori mendukung (53.97%) dan tidak mendukung (46.03%).
Institusi

keperawatan

diharapkan

dapat

meningkatkan

informasi

mengenai materi pencegahan infeksi nosokomial, khususnya flebitis,


ke dalam materi perkuliahan. Sedangkan untuk pihak rumah sakit,
diharapkan juga untuk mensosialisasikan kembali kepada mahasiswa
tentang pencegahan flebitis. Kata Kunci : infeksi nosokomial, flebitis,
mahasiswa keperawatan, pengetahuan, sikap ABSTRACT Nosocomial
infections are infections that patients acquired after 3x24 hours after
hospitalization.
procedures,

Nosocomial

which

is

infections

intravenous

associated

therapy.

The

with

invasive

most

frequent

complication is phlebitis, occurring up to 75% in treated patients.


Intravenous therapy is not only done by nurses, but also by nursing
students undergoing the practice in the hospital. The purpose of this
research was to reveal the knowledge and attitude of nursing students
who are undergoing the practice about the prevention of phlebitis in

RSUP

Dr.

Hasan

Sadikin

Bandung.

This

research

design

was

quantitative descriptive research. The research was conducted with a


sample of 63 respondents, with the proportionate random sampling
technique. Technique of data collecting was by questionnaires. The
result showed that respondents have less knowledge (66.67%), enough
knowledge (26.98%), and good knowledge (6.35%). While for attitude
category of favorable (53.97%) and unfavorable (46.03%). It is
recommended for nursing institution to deliver more information and
teaching materials related to nosocomial infection, especially phlebitis.
While for the hospital, is also expected to socialize nursing students
about the prevention of phlebitis. Keywords: nosocomial infection,
phlebitis, nursing students, knowledge, attitude Sella Gita Aditi, S.Kep
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung
Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com 2 PENDAHULUAN Infeksi
nosokomial

biasa

disebut

juga

sebagai

infeksi

rumah

sakit

(hospitalacquired infection) yaitu infeksi yang bukan terjadi atau tidak


sedang dalam masa inkubasi ketika seseorang masuk rumah sakit,
melainkan infeksi yang diperoleh saat sudah di rumah sakit (Hindley,
2004). Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan
bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal
dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan
adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0%
(Ducel, G. et al, 2002). Sedangkan di Indonesia, penelitian yang
dilakukan oleh Robert Utji (2004) di sebelas rumah sakit di DKI Jakarta,
menunjukkan bahwa 9,8 % pasien dirawat inap mendapat infeksi baru
selama dirawat. Infeksi rumah sakit berkaitan dengan berbagai
prosedur tindakan invasif. Salah satu tindakan invasif yang paling
sering dilakukan di rumah sakit ialah pemasangan infus. Infus sebagai
salah satu terapi intravena merupakan prosedur yang paling sering
dilakukan di seluruh rumah sakit di dunia (Uslusoy, 2006). Menurut
Wilson tahun 2001, lebih dari 60% pasien yang dilakukan rawat inap
mendapatkan terapi melalui jalur intravena (Hindley, 2004). Tujuan
dilakukannya intervensi pemasangan kateter intravena (infus) adalah

untuk mengatasi keadaan dehidrasi, pemberian makanan, atau jalan


untuk memasukkan obatobatan (Dougherty, 2008). Apabila pemberian
cairan IV dibutuhkan dan diprogramkan oleh dokter, perawat harus
mengidentifikasi larutan yang benar, peralatan, dan prosedur yang
dibutuhkan untuk memulai, mengatur, dan mempertahankan sistem.
Perawat juga harus mengoreksi masalah serta menghentikan infus
(Potter & Perry, 2005 : 1647). Adapun berbagai komplikasi dalam
pemasangan infus yang sering terjadi antara lain : (a) Hematoma, yaitu
darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya Sella Gita
Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya
Bandung Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com 3 pembuluh darah
arteri, vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat
saat memasukkan jarum, atau tusukan berulang pada pembuluh
darah. (b) Infiltrasi, yaitu masuknya cairan infus ke dalam jaringan
sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus
melewati pembuluh darah. (c) Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi)
pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau
secara ketat dan benar. (d) Emboli udara, yaitu masuknya udara ke
dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam
cairan infus ke dalam pembuluh darah. (e) Flebitis, yaitu inflamasi pada
vena (Smeltzer & Bare, 2002). Komplikasi yang paling sering terjadi
akibat pemasangan infus adalah flebitis, terjadi hingga 75% pada
pasien yang dirawat (Sutariya & Berk, 2002). Uslusoy, 2008 juga
mengatakan

bahwa

angka

kejadian

flebitis

akibat

kateterisasi

intravena mencapai 41,8 % (Maki & Ringer, 1991) ; 64,7 % (Kocaman &
Sucuoglu, 1992) ; 62 % (Lundgren, et al, 1993) ; 67,2 % (Karadeniz, et
al, 2003) ; dan 68,8 % (Selimen, et al, 1995). Terapi IV menimbulkan
resiko yang berpotensial pada patient safety, terkait dengan resiko
yang berbeda-beda dari komplikasi kecil hingga kematian. Untuk
menekan resiko terkait dengan terapi infus, resiko-resiko perlu untuk
diidentifikasi dan dikelola (Ingram, 2005). Dalam Prevention of
Bloodstream Infections, 2008 dijelaskan lebih terperinci mengenai halhal apa saja yang direkomendasikan untuk dilakukan dan tidak

dilakukan berkaitan dengan pemasangan infus yang meliputi mengikuti


pendidikan dan pelatihan mengenai terapi infus, kebersihan tangan,
pemilihan lokasi vena, mempertahankan teknik aseptik selama insersi
kateter, monitoring area dipasangnya infus, dan penggantian infus
serta balutan. Penting bagi para petugas kesehatan untuk mengetahui
tindakan-tindakan spesifik untuk mencegah infeksi nosokomial flebitis
yang berhubungan dengan IV, termasuk mahasiswa keperawatan Sella
Gita Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl.
Raya Bandung Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com 4 yang sedang
praktik, bahkan pada ruangan-ruangan perawatan tertentu dimana
banyak terdapat mahasiswa dari berbagai institusi yang sedang
menjalani praktik, pemasangan infus lebih banyak dilakukan oleh
mahasiswa keperawatan yang sedang praktik dibanding oleh perawat.
Berbagai

intervensi

atau

tindakan

yang

harus

dilakukan

untuk

mencegah terjadinya infeksi nosokomial flebitis pada pasien yang akan


atau sudah terpasang infus merupakan suatu bentuk dari perilaku.
Menurut L. Green tahun 1980 dalam Notoatmodjo (2003) perilaku itu
sendiri dipengaruhi oleh faktor predispoding, faktor enabling, dan
faktor reinforcing. Faktor predisposing yaitu meliputi pengetahuan,
sikap, tradisi, dan nilai. Faktor enabling terdiri dari ketersediaan sarana
prasarana, sedangkan faktor reinforcing berupa peraturan, UU, sikap
dan perilaku tenaga kesehatan lain. Apabila perilaku didasari oleh
pengetahuan, kesadaran serta sikap yang positif maka perilaku
tersebut akan bersifat langgeng (Notoatmodjo, 2003). Kurangnya
pengetahuan

terhadap

suatu

objek

tertentu

karena

kurangnya

informasi yang didapatkan, menyebabkan seseorang tidak dapat


memprediksi arah kejadian selanjutnya sehingga mempengaruhi sikap
yang ia tentukan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti
lakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, bahwa data yang peneliti
temukan dari Tim Pengendalian dan Pencegahan Infeksi Rumah Sakit
pada tahun 2010 yaitu kejadian flebitis menempati infeksi nosokomial
tertinggi dengan proporsi 53,42% dari semua infeksi di rumah sakit
tersebut. Data yang peneliti temukan di ruang rawat bedah umum

kelas III (KANA) yaitu pada tahun 2010 pada enam bulan terakhir
kejadian flebitis terjadi sekitar 8,46%, dan pada tahun 2011 sekitar
2,25%. Sedangkan angka kejadian flebitis di ruang rawat bedah wanita
(Kemuning Lantai 3) pada tahun 2010 selama enam bulan terakhir
yaitu Sella Gita Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Padjadjaran (Jl. Raya Bandung Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com
5 1,87%. Angka ini masih berada di atas standar yang telah ditetapkan
oleh Menteri Kesehatan RI yaitu dibawah atau sama dengan 1,5%
(Depkes RI, 2008). Dari hasil studi deskriptif Lubis, Chyntria tahun
2011, bahwa dari 48 kegiatan proses pemasangan infus yang diteliti,
37 pemasangan infus dilakukan oleh mahasiswa, dan 11 pemasangan
infus dilakukan oleh perawat, di ruang rawat bedah wanita, gedung
Kemuning RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dan didapatkan 100%
pelaksanaan tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP)
yang telah ditetapkan oleh rumah sakit itu sendiri. Berdasarkan
penelitian tersebut, didapatkan bahwa kegiatan pemasangan infus
lebih banyak dilakukan oleh mahasiswa dibandingkan oleh perawat
ruangan. Setelah melakukan observasi lanjutan, peneliti menemukan
bahwa empat dari delapan mahasiswa keperawatan yang sedang
praktik lupa mencuci tangan pada saat sebelum melakukan tindakan
ataupun sesudah tindakan, dua mahasiswa tidak mencatat tanggal
pemasangan infus pada balutan, lima mahasiswa mengabaikan teknik
aseptik

saat

mengoplos

obat.

Pada

saat

diwawancarai,

empat

mahasiswa mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa itu flebitis, dua
mahasiswa lainnya mengatakan bahwa flebitis itu adalah gumpalan
darah yang menyumbat aliran infus, sedangkan yang menjawab flebitis
adalah pembengkakan pada vena hanya satu mahasiswa. Lima
mahasiswa tersebut juga mengatakan tidak pernah mengganti balutan
IV karena tidak tahu bahwa jika balutan IV tidak secara rutin diganti
akan meningkatkan resiko terjadinya flebitis. Mereka juga mengatakan
hanya mengetahui cara memasang infus sesuai Standar Operasional
Prosedur (SOP) dan cara-cara membenarkan aliran infus yang macet.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan

dan sikap mahasiswa D-III keperawatan yang sedang menjalani praktik


terhadap pencegahan infeksi nosokomial flebitis di ruang rawat bedah
umum kelas III (KANA), ruang rawat Sella Gita Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung Sumedang Km.
21) sellagita@yahoo.com 6 bedah saraf (Kemuning Lantai 2) dan ruang
rawat bedah wanita (Kemuning Lantai 3) RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah
deskriptif

kuantitatif

dengan

sampel

berjumlah

63

responden.

Pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling


dengan menggunakan rumus Slovin. Kriteria sampel yang menjadi
responden peneliti adalah: 1. Mahasiswa Keperawatan yang sedang
menempuh jenjang D-III. 2. Mahasiswa Keperawatan yang telah
menempuh

minimal

digunakan

berupa

tingkat

(tahun

angket/kuesioner.

kedua).
Kuisioner

Instrumen
untuk

yang

variabel

pengetahuan diukur dengan menggunakan daftar pertanyaan multiple


choice dengan masing-masing pertanyaan memiliki 1 jawaban benar
dari 3 pilihan jawaban yang tersedia. Untuk setiap jawaban benar
mendapat skor 1 dan setiap jawaban yang salah bernilai 0. Hasil lalu
dipresentasikan dan selanjutnya data hasil persentasi dimasukkan
dalam kategori menurut Arikunto, 2002 yaitu baik (76% - 100), cukup
(60% - 75%), dan kurang (< 60%). Sedangkan untuk variabel sikap
diukur dengan menggunakan skala likert. Dimana pengolahannya
menggunakan skoring menurut Azwar, 2003 dengan ketentuan sebagai
berikut: Sangat Setuju = 5, Setuju = 4, Entahlah = 3, Tidak Setuju =
2, Sangat Tidak Setuju = 1 untuk pernyataan positif (favorable).
Sangat Setuju = 1, Setuju = 2, Entahlah = 3, Tidak Setuju = 4, Sangat
Tidak Setuju = 5 untuk pernyataan negatif (unfavorable). Sella Gita
Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya
Bandung Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com 7 Setelah dihitung
nilai mean, selanjutnya dimasukkan kedalam kategori mendukung atau
favorable (nilai T mean) dan tidak mendukung atau unfavorable
(nilai T < mean). Kuesioner untuk variabel pengetahuan menggunakan
uji validitas isi, dari 33 soal pertanyaan yang diajukan, didapatkan 32

soal pertanyaan penelitian setelah dilakukan perbaikan. Sedangkan


untuk variabel sikap dilakukan validitas konstruk, yaitu menggunakan
rumus Pearson Product Moment. Hasil uji konstruk pada 30 soal
pernyataan didapatkan 26 soal yang dinyatakan valid, dengan nilai
koefisien validitasnya adalah dari rentang nilai 0,304 hingga 0,743.
Setelah itu dilakukan perbaikan dan didapatkan 30 soal pernyataan
penelitian. Uji reliabilitas untuk variabel sikap dalam penelitian ini
menggunakan metode Alpha Cronbach. Hasil uji Reliabilitas didapatkan
hasil yang reliabel yaitu pada hasil 0,779. Teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini berupa analisis univariat. Lokasi
penelitian yang digunakan adalah Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan
Sadikin Bandung. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 5 s/d 18 Juni
2012. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik Responden
Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan dan Pernah Memasang Infus atau Tidak No. Tingkat
Pendidikan F % Pernah Memasang Infus F % 1. Tingkat II 25 39.68
Sudah Pernah 55 87.30 2. Tingkat III 38 60.32 Belum Pernah 8 12.70
Total 63 100 Total 63 100 Sella Gita Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung Sumedang Km.
21) sellagita@yahoo.com 8 2. Pengetahuan dan Sikap Tabel 1.2
Distribusi

Frekuensi

Pengetahuan

dan

Sikap

Responden

No.

Pengetahuan F % Sikap F % 1. Baik 4 6.35 Mendukung 34 53.97 2.


Cukup 17 26.98 3. Kurang 42 66.67 Tidak Mendukung 29 46.03 Total 63
100 Total 63 100 Hasil penelitian pada bulan Juni 2012 terhadap 63
orang mahasiswa D-III keperawatan yang sedang menjalani praktik di
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, didapatkan gambaran pengetahuan
responden tentang pencegahan infeksi nosokomial flebitis yaitu dalam
kategori kurang (42 responden atau 66.67%). Hasil ini Berbeda dengan
penelitian yang dilakukan oleh Indriya, Ade (2011) dengan jumlah
sampel sebanyak 59 mahasiswa keperawatan di Universitas Sumatera
Utara

sebagai

responden

yang

memiliki

pengetahuan

tentang

pemasangan terapi intravena mencegah flebitis dalam kategori baik


sebanyak 74,6% dan kategori sedang sebanyak 25,4%. Banyak faktor

yang

memungkinkan

kurangnya

pengetahuan

mahasiswa

D-III

keperawatan yang sedang menjalani praktik di RSUP Dr. Hasan Sadikin


Bandung, hal ini bisa disebabkan karena kurangnya pendidikan dan
informasi pendukung tentang pencegahan infeksi nosokomial flebitis di
perkuliahan. Institusi pendidikan memiliki kewajiban untuk mendidik
dan memberikan informasi secara spesifik kepada mahasiswanya
tentang pencegahan infeksi nosokomial, salah satunya adalah flebitis,
sebagai bekal yang mendasar sebelum mahasiswa terjun untuk praktik
di rumah sakit dan berhubungan langsung dengan pasien. Hal inilah
yang perlu di evaluasi oleh Sella Gita Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung Sumedang Km.
21)

sellagita@yahoo.com

institusi

pendidikan

agar

para

mahasiswanya mengetahui pencegahan infeksi nosokomial flebitis


yang meliputi hand hygiene, tindakan aseptik pada saat pemasangan
infus, tindakan aseptik pada saat pemberian obat melalui infus,
pemilihan dan pergantian lokasi infus dan balutan, monitoring area
dipasangnya infus, dan tindakan aseptik pada saat mengganti balutan
IV. Pendidikan tentang pengetahuan tersebut harus diberikan secara
jelas dan lengkap oleh pihak institusi keperawatan, dan disosialisasikan
kembali oleh pihak Tim PPIRS pada saat penerimaan mahasiswa
keperawatan yang akan menjalani praktik di RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung,

mengingat

sangat

pentingnya

pencegahan

infeksi

nosokomial, khususnya flebitis, yang masih menjadi trend issue di


dunia pelayanan kesehatan. Hasil penelitian yang menunjukkan
banyaknya mahasiswa keperawatan yang belum tahu tentang standar
pencegahan infeksi nosokomial flebitis, dapat disimpulkan bahwa
masih perlunya upaya peningkatan pengetahuan kepada mahasiswa
keperawatan yang sedang menjalani praktik di RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung tentang pencegahan infeksi nosokomial flebitis. Faktor
pencetus kedua yang dianggap menjadi dasar seseorang dalam
berperilaku adalah sikap. Sikap merupakan reaksi atau respon yang
masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
Berdasarkan hasil penelitian dari 63 responden, sebagian responden

yaitu sebanyak 34 orang (53.97%) memiliki sikap yang mendukung


terhadap

pencegahan

mendukung

tersebut,

infeksi

nosokomial

mungkin

flebitis.

dipengaruhi

oleh

Sikap

yang

pengetahuan,

kebijakan, fasilitas, komitmen, niat, keyakinan, nilai yang dianut,


motivasi, faktor budaya, serta tuntutan pekerjaan yang menuntut
setiap calon perawat untuk bersikap profesional. Dalam hal ini lebih
banyaknya responden yang memiliki pengetahuan kurang tidak bisa
dijadikan dasar yang kuat, Sella Gita Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung Sumedang Km.
21) sellagita@yahoo.com 10 tidak selalu pengetahuan yang baik akan
memiliki sikap yang positif (mendukung) pada seseorang. Selain itu,
sikap yang mendukung tidak hanya diperoleh melalui pengetahuan
saja

namun

diperlukan

proses

yang

meliputi

kesediaan

dan

internalisasi (Azwar, 2003). Hasil analisis tentang komponen-komponen


sikap pada instrumen penelitian yang meliputi aspek kognitif, afektif,
dan konatif menunjukkan bahwa dari ketiga aspek tersebut, responden
kurang dalam aspek kognitif sikap. Hal ini menunjukkan bahwa untuk
aspek afektif dan konatifnya sendiri sudah cukup baik sehingga yang
harus

diperbaiki

adalah

dari

aspek

kognitif

sikapnya.

Untuk

memperbaiki aspek kognitif sikapnya, maka hal ini berkaitan dengan


aspek

pengetahuan,

dimana

pengetahuan

responden

akan

mempengaruh sikap yang ia tentukan. Karena itu, pemberian informasi


yang mendukung akan sangat membantu untuk kurangnya aspek
kognitif ini. Apabila perilaku didasari oleh pengetahuan, kesadaran
serta sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng
(Notoatmodjo,

2003).

Begitu

pula

dalam

menerapkan

standar

pencegahan infeksi nosokomial flebitis, dengan didasari sikap yang


positif maka mahasiswa cenderung untuk mengikuti seluruh aturan
dan anjuran dalam menerapkan standar tersebut di rumah sakit. Untuk
itu, agar program pencegahan infeksi nosokomial, khususnya flebitis,
bisa berjalan dengan baik maka sikap mahasiswa keperawatan yang
sedang menjalani praktik di rumah sakit harus ditingkatkan dengan
cara

meningkatkan

pengetahuan

dan

pemahaman

tentang

pencegahan infeksi nosokomial flebitis. Dalam penelitian yang telah


dilakukan, terdapat keterbatasan pada saat penelitian yaitu dalam
menentukan responden, peneliti hanya mengambil responden pada
tingkat pendidikan jenjang D-III keperawatan saja, hal ini dikarenakan
karena Sella Gita Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Padjadjaran (Jl. Raya Bandung Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com
11 tidak adanya responden pada tingkat pendidikan jenjang S1
keperawatan pada saat penelitian. SIMPULAN Pengetahuan mahasiswa
keperawatan yang sedang menjalani praktik di RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung terhadap pencegahan infeksi nosokomial flebitis, dari 63
responden hanya sebagian kecil dari responden atau sebanyak 4 orang
(6.35%) yang memiliki pengetahuan dengan kategori baik, sebagian
kecil dari responden atau sebanyak 17 orang (26.98%) memiliki
pengetahuan

dalam

kategori

cukup,

dan

sebagian

besar

dari

responden yaitu sebanyak 42 orang (66.67%) memiliki pengetahuan


yang kurang. Sikap mahasiswa keperawatan yang sedang menjalani
praktek di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dari 63 responden,
sebagian responden yaitu sebanyak 34 orang (53.97%) mendukung
terhadap

pencegahan

infeksi

nosokomial

flebitis

dan

hampir

setengahnya dari responden atau sebanyak 29 orang (46.03%) lainnya


tidak mendukung terhadap pencegahan infeksi nosokomial flebitis.
SARAN 1. Untuk Institusi Pendidikan Keperawatan Hasil penelitian ini
diharapkan dapat dijadikan bahan agar sistem pendidikan dapat
menyiapkan lulusan perawat yang memenuhi kompetensi dengan cara
meningkatkan

informasi

secara

lebih

spesifik

mengenai

materi

pencegahan infeksi nosokomial, khususnya flebitis, dan meningkatkan


kompetensi

skill

lab

mahasiswa

mengenai

standar

praktek

pemasangan infus, meliputi cara pemasangan infus sesuai Sella Gita


Aditi, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya
Bandung

Sumedang

Operasional

Prosedur

Km.

21)

(SOP)

sellagita@yahoo.com

dan

pengelolaannya

12
dalam

Standar
upaya

pencegahan komplikasi akibat pemasangan infus. 2. Untuk Pihak RSHS


Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi

pihak rumah sakit untuk mengoptimalkan pelayanan keperawatan


terhadap pasien dengan mensosialisasikan kembali pencegahan infeksi
nosokomial kepada semua staff tenaga kesehatan yang berhubungan
langsung

dengan

mengevaluasi

pasien,

pelaksanaan

termasuk
standar

mahasiswa

operasional

keperawatan,

prosedur

(SOP)

pemasangan infus, membuat standar operasional prosedur (SOP)


tentang

perawatan

mencantumkan

kateter

informasi

intravena

pendukung

(pengelolaan
berupa

poster

infus),
dan

menyosialisasikan kembali kepada perawat atau tenaga kesehatan


lainnya, khususnya mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat. 3.
Untuk Mahasiswa keperawatan Hasil penelitian ini diharapkan menjadi
acuan untuk mahasiswa keperawatan agar meningkatkan pengetahuan
tentang pencegahan infeksi nosokomial flebitis. Bagi mahasiswa yang
memiliki

sikap

yang

mendukung

diharapkan

bisa

terus

mempertahankan dan meningkatkannya untuk meminimalisir kejadian


infeksi nosokomial, khususnya flebitis. 4. Untuk Penelitian Selanjutnya
Untuk penelitian selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lebih
lanjut mengenai pelaksanaan dan evaluasi terhadap pencegahan
infeksi nosokomial flebitis di rumah sakit. Sella Gita Aditi, S.Kep
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung
Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com 13 UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam penyelesaian artikel ini penulis banyak mendapat bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan
yang baik ini perkenankan penulis untuk mengucapkan rasa terima
kasih kepada: 1. Ibu Hana Rizmadewi Agustina S.Kp., M.N., selaku
dosen pembimbing utama yang telah memberikan arahan serta
motivasi. Terima kasih untuk segala kebaikan yang diberikan, semoga
Allah SWT senantiasa melapangkan dan memudahkan jalan kebaikan
kepada Ibu dalam menghadapi segala urusan. 2. Bapak Afif Amir
Amarullah S.Kp., M.Kes., selaku dosen pembimbing pendamping yang
telah meluangkan waktu, memberikan bimbingan, pengarahan &
saran. Semoga Allah SWT melimpahkan kebahagiaan kepada Bapak
dan keluarga. 3. Ibu Maria Komariah S.Kp., M.Kes., Bapak Irman

Somantri S.Kp., M.Kep., dan Ibu Wiwi Mardiah, S.Kp., M.Kes, selaku
dosen pembahas yang telah memberikan banyak masukan, saran serta
kritik yang membangun dalam penyusunan penelitian ini. 4. Rumah
Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung yang telah
memberikan izin sehingga penulis bisa menyelesaikan penelitian ini,
serta kepada Kepala Ruangan Ruang Rawat Bedah Umum Kelas III
(Kana), Kepala Ruangan Ruang Rawat Bedah Saraf, dan Kepala
Ruangan Ruang Rawat Bedah Wanita, terima kasih atas kerjasama dan
bantuannya dalam pelaksanaan penelitian ini. 5. Seluruh responden
yang telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. 6. Keluarga
tercinta, Mama dan Alm. Papa serta kedua Adikku tersayang. Terima
kasih atas doa dan dukungannya selama penulis menyusun penelitian
ini. 7. Teman-teman seperjuangan angkatan 2008 dan sahabat-sahabat
serta teman-teman yang penulis sayangi. 8. Seluruh pihak yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu, atas segala kontribusi, motivasi,
bimbingan dan saran selama penulis menyelesaikan penelitian ini.
Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan.
Sella

Gita

Aditi,

S.Kep

Fakultas

Ilmu

Keperawatan

Universitas

Padjadjaran (Jl. Raya Bandung Sumedang Km. 21) sellagita@yahoo.com


14 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Edisi Revisi V. Jakarta : Rineka Cipta. Azwar, S.
2002. Sikap Manusia dan Pengukurannya. Edisi ke-2. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar. Dougherty, L. 2008. Peripheral cannulation. Nursing
Standard. 22, 52, 49-56. Date of acceptance: July 21 2008. Ducel, G. et
al. Prevention of hospital-acquired infections, A practical guide. 2nd
edition. World Health Organization. Department of Communicable
disease, Surveillance and Response : 2002 Hindley, G. 2004. Infection
Control in Peripheral Cannulae. Nursing Standard. 18, 27, 37-40. Date
of Acceptance: December 18 2002. Indriya, Ade. 2010. Tingkat
Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Tentang

Teknik

Pemasangan

Dan

Perawatan

Kateter

Intravena

Mencegah Flebitis. Ingram, Paula; Lavery, Irene. Peripheral intravenous


therapy: key risks and implications for practice. Nursing Standard 19.

46 (Jul 27-Aug 2, 2005): 55-64; quiz 66. Kozier, Barbara, dkk. 2010.
Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik Edisi
7 Volume 2. Jakarta : EGC. Lubis, Chyntria. 2011. Gambaran Proses
Pemasangan Infus di Ruang Bedah Umum Wanita, Gedung Jamkesmas
RSUP Hasan Sadikin Bandung. Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
2008.

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

129/Menkes/SK/II/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah


Sakit

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia.

http://dinkessulsel.go.id/new/images/pdf/pdf_rs/kepmenkes
%20129%20tahun% 20200 8%20-%20spm%20rs.pdf. (diakses tanggal
26 Januari 2012). Notoatmodjo, S. 2003b. Pendidikan dan Perilaku
Kesehatan. Jakarta : P.T. Rineka Cipta. Potter, Patricia A. & Perry, Anne
G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik Edisi 4 Volume 2. Jakarta : EGC. Prevention of bloodstream
infections. In : Betsy Lehman Center for Patient Safety and Medical
Error Reduction, JSI Research and Training Institute, Inc. Prevention and
control of healthcare-associated infections in Massachusetts. Part 1:
final

recommendations

of

the

Expert

Panel.

Boston

(MA):

Massachusetts Department of Public Health; 2008 Jan 31. p. 69-82.


Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan
MedikalBedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Volume 1. Jakarta : EGC.
Sutariya B, Berk W. Vascular access. In: Tintinally J, Kelen G,
Stapczynski S, eds. Emergency Medicine. 5th ed. New York : McGrawHill, 2000:103-4. Uslusoy, Esin & Mete, Samiye. Predisposing factors to
phlebitis

in

descriptive

patients
study.

with

Journal

peripheral
of

the

intravenous

American

Practitioners 20. 4 (Apr 2008): 172-80.

catheters:

Academy

of

Nurse