Anda di halaman 1dari 9

5

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman
Sistematika (taksonomi) tanaman mentimun adalah sebagai berikut:
Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae, Class:
Dicotyledoneae, Ordo: Cucurbitales, Famili: Cucurbitaceae, Genus: Cucumis,
Spesies: Cucumis sativus L. (Sharma, 2002).
Perakaran mentimun memiliki akar tunggang dengan bulu-bulu akarnya.
Namun akar tersebut hanya mampu menembus hingga kedalaman 60 cm dari
permukaan

tanah.

Oleh

karena

itu

untuk

membantu

pertumbuhannya

penggemburan tanah harus dilakukan minimal hingga kedalaman tersebut


(Samadi, 2002).
Mentimun termasuk tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar
atau memanjat dengan perantaraan pemegang yang berbentuk pilin (spiral).
Batangnya basah, berbulu serta berbuku. panjang atau tinggi tanaman dapat
mencapai 50 cm 250 cm, bercabang dan bersulur yang tumbuh di sisi tangkai
daun (Rukmana, 1994).
Mentimun berdaun tunggal. Bentuk ukuran dan kedalaman lekuk daun
mentimun bervariasi, tergantung dari spesies dan kultivarnya. Panjang daun antara
7-20 cm, panjang tangkai daun 5-15 cm. Pinggiran daun berlekuk antara 3-5,
dengan susunan daun berselang-seling (Sumpena, 2001).
Bunga mentimun merupakan bunga sempurna. Berbentuk terompet dan
berukuran 2 cm 3 cm, terdiri dari tangkai bunga dan benang sari. Kelopak bunga
berjumlah 5 buah, berwarna hijau dan berbentuk ramping terletak di bagian bawah

Universitas Sumatera Utara

pangkal bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5-6 buah, berwarna kuning terang dan
berbentuk bulat, bunga mentimun merupakan bunga sempurna (Cahyono, 2003).
Buah mentimun tumbuh dari ketiak daun dengan posisi menggantung.
Buah mentimun berbentuk bulat pendek hingga bulat panjang, dengan kulit buah
yang berwarna hijau keputihan hingga hijau gelap, ada yang berbintil dan ada
yang tidak (Samadi, 2002).
Biji mentimun bentuknya pipih, kulitnya berwarna putih atau putih
kekuning-kuningan sampai coklat. Biji ini dapat digunakan sebagai alat perbanyakan tanaman (Rukmana, 1994).

Syarat Tumbuh
Iklim
Dalam masa pertumbuhan tanaman mentimun lebih cocok ditanam pada
lahan terbuka dengan suhu yang berkisar 21o C - 27o C. Panjang atau lama
penyinaran, intensitas sinar dan suhu udara merupakan faktor yang sangat penting,
karena berpengaruh terhadap munculnya bunga. Pada panjang penyinaran lebih
dari 12 jam per hari, dengan intensitas sinar dan suhu udara yang tinggi, tanaman
mentimun lebih banyak membentuk bunga jantan (gynoecious). Sebaliknya, pada
panjang penyinaran yang kurang dari 12 jam per hari, dengan intensitas sinar
matahari dan suhu udara yang rendah, ternyata tanaman mentimun lebih banyak
membentuk bunga betina (monoecious) (Samadi, 2002).
Kelembapan relatif udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun
untuk pertumbuhannya antara 50-85 %. Sedangkan curah hujan optimal yang
diinginkan tanaman sayur ini antara 200 400 mm/bulan (Sumpena, 2001).

Universitas Sumatera Utara

Tanaman mentimun kurang tahan terhadap curah hujan yang tinggi. Hal
ini mengakibatkan bunga-bunga yang terbentuk berguguran, sehingga gagal
membentuk buah. Demikian pula pada daerah dengan temperatur siang dan
malam harinya berbeda sangat menyolok, sering memudahkan serangan penyakit
tepung

atau

Powdery Mildew maupun

busuk

daun (Downy

Mildew)

(Rukmana, 1994).

Tanah
Pada dasarnya mentimun dapat tumbuh dan beradaptasi di hampir semua
jenis tanah. Tanah mineral yang bertekstur ringan sampai pada tanah yang
bertekstur liat berat dan juga pada tanah organik seperti tanah gambut dapat
diusahakan sebagai lahan penanaman mentimun. Kemasaman tanah yang optimal
untuk mentimun adalah antara 5,5 6,5. Tanah yang banyak mengandung air,
terutama pada waktu berbunga, merupakan jenis tanah yang baik untuk
penanaman mentimun. Jenis tanah yang cocok untuk penanaman mentimun di
antaranya aluvial, latosol dan andosol (Sumpena, 2001).
Tanah berfungsi sebagai media dasar bagi tanaman, maka harus mampu
memberikan lingkungan yang cocok bagi tanaman (lingkungan biologis dan nonbiologis) agar akar tanaman dapat menyerap unsur hara dan air dengan baik.
Tanaman mentimun tidak dianjurkan untuk ditanam pada tanah becek, karena bisa
mengakibatkan kematian (Samadi. 2002).

Universitas Sumatera Utara

Evaluasi Karakter
Identifikasi sifat-sifat kuantitatif dan kualitatif sumber genetik dapat
dilakukan melalui karakterisasi dan evaluasi, sehingga akan mempermudah
pemilihan tetua persilangan (Soedomo 2000).
Karakterisasi bertujuan untuk menghasilkan deskripsi tanaman yang
penting artinya sebagai pedoman dalam pemberdayaan genetik dalam program
pemuliaan (Setiamihardja 1990).
Karakter yang telah diwariskan berbeda dalam heritabilitas, sebuah
karakter seperti hasil, sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan dan
akan memiliki heritabilitas rendah, karakter yang tidak besar dipengaruhi
oleh

lingkungan

biasanya

memiliki

heritabilitas

yang

tinggi

(Polhman and Sleeper, 1995).


Varietas
Varietas adalah sekumpulan individu tanaman yang dapat dibedakan oleh
setiap sifat (morfologi, fisiologi, sitologi, kimia, dan lain-lain) yang nyata untuk
usaha pertanian dan bila diproduksi kembali akan menunjukkan sifat-sifat yang
dapat dibedakan dari yang lainnya (Mangoendidjojo, 2003).
Penampilan tanaman dikendalikan oleh sifat genetik di bawah pengaruh
faktor-faktor

lingkungan.

Kendali

genetik

pada

penampilan

tanaman

diekspresikan melalui proses biokimia dan fisiologis. Perbedaan susunan genetik


merupakan

salah

satu

faktor penyebab keragaman penampilan tanaman.

Program genetik yang akan diekspresikan pada suatu fase atau keseluruhan fase
pertumbuhan yang berbeda dapat diekspresikan pada berbagai sifat tanaman yang
mencakup

bentuk

dan fungsi tanaman yang

menghasilkan keragaman

Universitas Sumatera Utara

pertumbuhan tanaman. Keragaman penampilan tanaman akibat perbedaan


susunan genetik selalu mungkin terjadi sekalipun bahan tanam yang digunakan
berasal dari jenis tanaman yang sama (Sitompul dan Guritno, 1995).
Varietas Hercules mempunyai percabangan yang banyak dan tahan
terhadap penyakit Downy Mildew. Buah berwarna hijau, panjang 15-20 cm dan
diameter 4 cm. Umur panen 35 hari setelah tanam dengan hasil 10-16
buah/tanaman (Sumpena, 2001).
Varietas Mercy memiliki keunggulan berumur genjah, sangat produktif
dan cocok disegala musim dan tahan terhadap penyakit Downy Mildew, dapat
dipanen pertama pada umur 30 hari setelah tanam, ukuran panjang 20-25 cm
dengan diameter 2-5 cm, kulit buah berwarna hijau, dan potensi daya hasilnya
11.063 ton per hektar (Sumpena, 2001).
Varietas lokal berasal dari petani setempat. Umur berbunga 20 30 hst
dan umur panen 30 35 hst. Warna buah muda sangat beragam, yaitu putih, hijau
atau hijau keputihan, sedangkan warna buah tua kuning atau coklat. Panjang buah
antara 12 19 cm. Produksinya antara 8 14 ton/ha. Ketahanan simpan varietas
ini 2 6 hari (Sumpena, 2001).
Pupuk
Pupuk urea adalah pupuk yang paling banyak digunakan di Indonesia.
Sifat penting dari pupuk ini adalah mudah larut dalam air dengan kandungan N
yang tinggi (46%) (Hasibuan, 2008).
Pupuk hayati mempunyai perbedaan yang besar dibandingkan dengan
pupuk kimia baik ditinjau dari respon terhadap tanaman, penyediaan hara maupun
dampaknya terhadap lingkungan seperti pada Tabel 1.

Universitas Sumatera Utara

10

Tabel 1. Ciri Utama Pupuk Hayati dan Pupuk Kimia


Ciri
Pupuk Hayati

Pupuk Kimia

Respon tanaman
Tanaman target
Penyediaan hara

Lambat
Khusus-luas
Tidak langsung

Cepat
Luas
Langsung

Proses hubungan dengan tanaman


Dampak lingkumgan

Biologis
Tidak ada

Kimia
Ada

(Hasibuan, 2008).
Pupuk organik Golden Harvest adalah pupuk dengan bahan aktif mikroba
asli Indonesia yang ramah lingkungan. Jadi pupuk ini tidak mengandung
logam

berat

atau

bakteri

salmonella.

Perpaduan

antara

pupuk

kimia dan Golden Harvest ternyata memberikan hasil yang memuaskan,


selain

tidak

mengganggu

lingkungan,

produktivitasnya

melimpah

(http://pupukhayatigoldenharvest.blogspot.com, 2010).
Pupuk hayati Golden Harvest berisikan micro biologi yang berguna
untuk mengurai unsur hara N,P,K dan lain-lain yang terdapat di dalam tanah
menjadi senyawa yang mudah di serap oleh tanaman dan mampu mengurai
pestisida di tanah, memudahkan penyerapan fosfat, mempercepat pembusukan
dan sebagainya (sehingga bisa di pakai di Lahan Gambut, Tanah kritis, dan Lahan
Cadas). Dan ternyata perpaduan antara pupuk hayati dengan pupuk anorganik
(kimia) juga dapat memperbanyak jumlah daun yang tumbuh, jumlah cabang,
sehingga produktivitas tinggi dan ramah lingkungan. Manfaat Golden Harvest
untuk Tanah: (1) terhadap sifat fisik tanah: meningkatkan daya sanggah air tanah,
meningkatkan daya simpan hara, meningkatkan aerasi (kandungan oksigen) tanah,
mengurangi kepadatan tanah, (2) terhadap sifat kimia tanah: meningkatkan
ketersediaan unsur hara di dalam tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation
tanah, meningkatkan kelarutan unsur "P" dalam tanah, (3) terhadap sifat biologi

Universitas Sumatera Utara

11

tanah: meningkatkan aktivitas mikro organisme yang terdapat didalam tanah,


populasi mikroba yang menguntungkan di dalam tanah. Manfaatnya buat petani,
dapat menghemat penggunaan pupuk kimia dan kompos sampai dengan 50%,
produktivitas meningkat (meningkatkan hasil panen 20% - 50%), cocok untuk
berbagai jenis tanaman, dan kebutuhan, ukuran buah, umbi, biji lebih besar dan
berat

serta

lebih

tahan

busuk,

daun

lebih

lebar,

lebih

rimbun

dan sehat, tanaman lebih sehat, lebih tahan hama dan sedikit gulma
(http://www.mail-archive.com agromania,2011).
EM merupakan bahan yang membantu mempercepat proses pembuatan
pupuk organik dan meningkatkan kualitasnya. Selain itu, EM juga bermanfaat
memperbaiki struktur dan tekstur tanah menjadi lebih baik, serta menyuplai unsur
hara yang dibutuhkan tanaman. Penggunaan EM akan membuat tanaman menjadi
lebih subur, sehat dan relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Berikut
ini beberapa manfaat EM bagi tanaman dan tanah.
1. Menghambat pertumbuhan hama dan penyakit tanaman dalam tanah.
2. Membantu meningkatkan kapasitas fotosintesis tanaman.
3. Membantu proses penyerapan dan penyaluran unsur hara dari akar ke daun.
4. Meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk.
5. Meningkatkan kualitas pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman.
(Hadisuwito, 2007).
Pemberian EM4 dalam bentuk larutan untuk memperbaiki sifat biologi
tanah, mempercepat dekomposisi perombakan karena mengandung bakteri asam
laktat yang dapat memfermentasikan bahan organik yang tersedia. Penggunaan

Universitas Sumatera Utara

12

EM4 mempunyai beberapa keuntungan yang dapat meningkatkan produksi


tanaman dan mengatur keseimbangan mikroorganisme tanah (Higa, 1993).
EM4 merupakan pupuk hayati cair yang mengandung mikroorganisme,
salah satunya yaitu bakteri pelarut fosfat dan mikoriza. Terdapat beberapa jenis
fungi dan bakteri, seperti: Bacillus polymyxa, Pseudomonas striata, Aspergillus
awamori, dan Penicillium digitatum yang diidentifikasi mampu melarutkan
bentuk P tak larut menjadi bentuk tersedia bagi tanaman (Susanto. 2002).

Heritabilitas
Kemajuan dalam proses seleksi yang bergantung pada evaluasi visual
pada fenotip dapat menyebabkan kesalahan yang lebih besar, khususnya jika
heritabilitas rendah. Variasi genotip suatu karakter sukar diperkirakan secara
visual, misalnya jumlah daun, kekuatan tanaman dan komponen panen. Pada
karakter yang heritabilitasnya rendah, pertumbuhan gen berlangsung lambat
walaupun penggabungan gen-gen dapat dicapai. Seleksi akan sangat efektif pada
tanaman yang heritabilitasnya tinggi. Tanaman yang heritabilitasnya tinggi akan
mudah terlihat dalam populasi (Welsh, 1991).
Heritabilitas dinyatakan sebagai presentase dan merupakan bagian
pengaruh genetik dari penampakan fenotif yang dapat diwariskan dari tetua dan
keturunannya. Heritabilitas tinggi menunjukka n bahwa varian genetik besar dan
varian lingkungan kecil. Dalam kebanyakan program pemuliaan tanaman, tujuan
dari pemuliaan tanaman meliputi lebih dari satu sifat. Heritabilitas dapat diduga
dengan menunjukkan cara perhitungan, antara lain dengan perhitungan varian
keturunan dan dengan perhitungan komponen varian dan analisis varian
(Mangoendidjojo, 2003).

Universitas Sumatera Utara

13

Heritabilitas dapat didefenisikan sebagai bagian keragaman genetik dan


keragaman total (keragaman fenotif). Besarnya heritabilitas suatu karakter
kuantitatif dapat diduga melalui suatu desain persilangan galur murni.
(p) = (g) + (e)
(p) = ragam fenotip
(g) = ragam genetik
(e) = ragam lingkungan
Besarnya heritabilitas dapat digunakan untuk menduga kemajuan seleksi dalam
suatu program pemuliaan.

=
h=

atau

(Makmur, 1988).
Gen dari tanaman tidak dapat menyebabkan berkembangnya suatu
karakter terkecuali bila mereka berada dalam kondisi yang sesuai dan sebaliknya
tudak ada pengaruhnya terhadap berkembangnya kaarakteristik dengan mengubah
tingkat keadaan lingkungan terkecuali gen yang diperlukan ada (Allard, 2005).
Heritabilitas dinyatakan sebagai persentase dan merupakan bagian
pengaruh genetik dari penampakan fenotip yang dapat diwariskan dari tetua
kepada turunannya. Heritabilitas tinggi menunjukkan bahwa variabilitas genetik
besar dan variabilitas lingkungan kecil. Dengan makin besarnya komponen
lingkungan, heritabilitas makin kecil (Crowder, 1997).

Universitas Sumatera Utara