Anda di halaman 1dari 21

Journal Reading

Ronald B. Postuma,MD, MSc. Anthony E. Lang, MD.Renato P. Munhoz,


MD.Katia Charland, PhD.Amelie Pelletier, PhD.Mariana Moscovich,
MD.Luciane Filla, MD.Debora Zanatta, RPh.Silvia Rios
Romenets,MD.Robert Altman, MD.Rosa Chuang, MD.Binit Shah, MD
Copyright 2012 by AAN Enterprises, Inc. Neurology 79 August 14, 2012

Latar Belakang
Untuk melihat peranan kafein sebagai
antagonis adenosin nonselektif
didalam tubuh dan dalam menurunkan
gejala penyakit parkinson. Kafein
yang memiliki peran sebagai
antagonis nonselektif reseptor
adenosin sangat menarik jika
dikaitkan dengan penyakit parkinson.

Penyakit Parkinson adalah bagian dari


parkinsonism yang patologis ditandai dengan
degenerasi ganglia basalis terutama di pars
compacta substansia nigra disertai dengan
inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewys bodies)
Parkinsonism adalah sindroma yang ditandai
dengan tremor waktu istirahat, rigiditas,
bradikinesia dan hilangnya refleks postural
akibat penurunan dopamine karena beberapa
sebab.

Kafein memiliki berbagai efek pada tubuh


manusia; seperti mempengaruhi
hormon,metabolisme, otot, jantung, ginjal,
dan fungsi pernapasan. Kafein juga
mempengaruhi sistem saraf pusat, di mana
ia bertindak sebagai stimulan dengan
pengikatan adenosine,pada reseptornya.
Adenosine mempengaruhi aktivitas sel
saraf, dan bekerja berlawanan dengan
kafein.

Sementara adenosin memiliki efek


menenangkan karena memperlambat
aktivitas sel-sel saraf, kafein malah
mempercepat aktivitas sel-sel ini.
Dengan demikian, kafein
mengurangi kelelahan,
meningkatkan kewaspadaan,
meningkatkan suasana hati,
menimbulkan perasaan berenergi,
meningkatkan konsentrasi.

Metode
Uji coba terkontrol secara acak selama 6
minggu menilai penggunaan kafein dengan
dosis 100-200 mg kafein dua kali sehari
dibandingkan dengan plasebo dalam rasio 1:1
pada pasein yang mengalami penyakit
parkinson. Pasien yang memenuhi syarat untuk
dimasukkan jika mereka pasien parkinson
dengan mengantuk siang hari yang berlebihan
dilihat dari skala Epworth Sleepiness score
[ ESS ] 10)

Peneliti melakukan penelitian di klinik Pusat


McGill University Health, Toronto Western
Hospital, dan Catholic University of Parana,
Curitiba.
Penelitian pada kafein vs plasebo dilakukan
selama 6 minggu. Untuk pertama dalam 3
minggu , dosis kafein adalah 100 mg pada dua
kali sehari, setelah bangun dan segera setelah
makan siang. Setelah 3 minggu, dosis
ditingkatkan menjadi 200 mg dua kali sehari.

Hasil
Hasil utama adalah ESS . ESS adalah
kuesioner di mana pasien diminta
untuk melaporkan kecenderungan
mereka untuk jatuh tertidur di delapan
situasi yang berbeda.Dilaporkan
dalam skore 0-3 (0 = Tidak ada
kesempatan untuk tidur-tiduran, 1 =
Sedikit kesempatan, 2 = Kesempatan
sedang, 3 = kemungkinan tinggi) .

Hasil sekunder lainnya termasuk yang berikut :


Kerusakan pada motorik, dinilai dengan Unified Parkinson Disease
Rating Scale (UPDRS). UPDRS Bagian III dilakukan dalam penilaian
efek kafein pada setiap kunjungan klinik, 1-2 jam setelah asupan
kafein / plasebo tablet .
Clinical Global Impression of Change(CGI - C), dengan EDS sebagai
target
perbaikan gejala, dengan skore-3 (memburuk)hingga +3 (ada
perbaikan)
The Fatigue Severity Scale (FSS).
The Pittsburgh Sleep Quality Index.
The Beck Depression Inventory.
The Parkinsons Disease Questionnaire
The Short Form36 (SF-36) Quality of Life Scale.
Tolerabilitas dan efek samping dari kafein, melalui daftar
pertanyaanyang menilai iritabilitas, penyakit gastrointestinal, nyeri,
diare,mengantuk, jantungberdebar, gelisah, berkeringat, dan efek
samping lainnya

Discussion
Peneliti tidak menemukan manfaat
yang signifikan dari kafein pada pasien
parkinson yang mengalami mengantuk
yang berlebihan di siang hariyang
dilihat dari ESS skore. Namun, peneliti
menemukan peningkatan manifestasi
motorik yang dilihat dengan UPDRS
bagian III mengalami peningkatan 3,2
poin, dan peningkatan 4,7 poin pada
total UPDRS.

Pada pasien Parkinson biasanya mengalami


ganguuan pada bagian otak dibagian ganglia
basalis, dimana terjadi kematian sel substansia
nigra yang mengandung dopamine, kafein yang
berfungsi sebagai antagonisme dari adenosin-2A
(A2A) reseptor, yang terlibat dalam aktivitas
neuronal striatopallidal dalam jalur tidak
langsung, berupaya agar reseptor adenosin yang
terlokalisasi dengan reseptor D2 dopaminergik,
tidak menghambat efek dari transmisi
dopaminergik.

Kafein juga dapat meningkatkan


bioavailabilitas dan memperpanjang
efek klinis dari levodopa (perhatikan
bahwa efek klinis kafein dapat
bertahan bahkan setelah tingkat
penurunan levodopa)

Kesimpulan
Dari hasil penelitian, peneliti tidak menemukan
manfaat yang signifikan dari kafein pada pasien
parkinson dengan mengantuk siang hari yang
berlebihan yang dilihat dari ESS skore.
Peneliti menemukan peningkatan manifestasi
perbaikan gerak motorik dan kekakuan otot pada
pasien parkinson yang dinilai dari skore UPDRS
dengan - 3,2 poin. Melihat adanya manfaat kafein
pada perbaikan gerakan motoric pasien parkinson,
maka penelitian lebih lanjut pada kafein sangat di
perlukan