Anda di halaman 1dari 64

TRAKSI (TRACTION)

Rohman Azzam

DEFINISI
Traksi

(traction) adl kekuatan yang dikenakan pada


suatu arah tertentu (Nettina, 1996)
Traksi adl penggunaan suatu tarikan (pada kepala,
badan atau anggota gerak) dalam dua arah, yaitu
tarikan traksi (traction) dan tarikan yang melawan
traksi (countertraction) untuk tujuan terapeutik
(Luckmann & Sorensen, 1993).
Traksi adl suatu kekuatan tarikan yang dilakukan pada
bagian tubuh atau ekstremitas, sementara kontertraksi
menarik pada arah yang berlawanan (Farrell, J, 1986)

ISTILAH TRAKSI dan


KONTERTRAKSI
Traction

dihasilkan dari suatu beban berat.


Countertraction ditimbulkan dari :
Berat badan klien
Sumber berat/beban lainnya.

Traksi

dan countertraksi harus sama/


seimbang untuk menghasilkan efek
terapeutik
Luckmann & Sorensen (1993)

HAL PENTING dlm TRAKSI


Menopang

& merentangkan ekstremitas pd


arah lurus dg pragmen-pragmen tulang.
Regangan pada anggota badan jangan
berlebihan
Memelihara kekuatan peregangan agar
konstan, baik berat maupun arahnya sampai
terjadi penyatuan tulang.
Tempatkan klien di tengah2 tempat tidur.

HAL PENTING dlm TRAKSI


(Lanjutan)

Ketika

dilakukan pada tulang panjang, arah


traksi harus satu garis dengan aksis tulang
panjang.
Jika dilakukan pada kepala atau pelvis,
maka tarikan harus segaris/searah dengan
tulang spinal.
Tempat tidur bisanya ditinggikan (trendelenburg)

HAL PENTING dlm TRAKSI


(Lanjutan)

Jika

tempat tidur tdk baik posisinya, maka:


Kountertraksi dari berat badan klien
menjadi tidak adekuat.
Klien cenderung merosot menuju kearah
kekuatan traksi. Ini akan menyebabkan
tujuan traksi tdk akan tercapai.

Luckmann & Sorensen (1993)

PERALATAN TRAKSI
Overhead

frame

Trapeze
Tali

(rope)
Plester
Perban (bandage)
Beban (weight)
Katrol/kerekan (pulley)
Wires
Pins
Gantungan beban (weight hanger)
Farrell, J. (1986)

TUJUAN TRAKSI
Mengimobilisasi

fraktur
Mengurangi fraktur, dislokasi & memelihara alignment
Mengembalikan panjang dan alignment tulang ke keadaan
normal
Menurunkan spasme otot dan mengurangi/menghi-langkan
nyeri
Memperbaiki, menghilangkan/mencegah deformitas.
Meningkatkan istirahat pada bagian yang cedera
Meningkatkan exercise/kebebasan beraktivitas di tempat
tidur

Nettina, S. (1996); Luckmann & Sorensen (1993); Farrell, J. (1986)

PRINSIP TRAKSI
Traksi harus memenuhi kriteria berikut:
1. Mempunyai tarikan yang berlawanan
(countertraction).
2. Bebas dari adanya gesekan/friksi.
3. Mengikuti suatu garis tarikan yang mantap
4. Berkelanjutan (be continuous).
5. Dilakuka pada pasien dlm posisi supine dan
kelurusan badan (body alignment) yang baik.
Farrel, J. (1986)

KEUNTUNGAN TRAKSI
Lebih

dpt exercise sendi & otot dr pd gips.


Mengurangi pembedahan dan resikonya.

KERUGIAN TRAKSI
Hospitalisasi

lama.
Klien diharuskan bedrest.
Luckmann & Sorensen (1993)

APLIKASI TRAKSI
Application of
Traction

Skin traction

Skeletal traction

Nettina, S. (1996)

TEKNIK-TEKNIK TRAKSI
Continuous vs
Intermitten
traction

Skeletal
traction

Traction
Techniques

Running vs
Suspension
traction

Skin
traction
Luckmann & Sorensen (1993)

Continuous vs Intermitten
Traction
Traksi

dpt kontinu (konstan) atau intermiten


(secara periodik dihilangkan dg
mengangkat bebannya)
Tipe kontinu: utk penanganan bbrp fraktur
dan dislokasi
Tipe intermiten: utk penanganan arthritis
(menurunkan kontraktur), gg punggung
(menghilangkan nyeri & spasme otot)

Running vs Suspension
Traction
Running

traction (traksi lurus):

Menggunakan tarikan langsung pd bagian

cedera tanpa gantungan di atas tempat tidur


atau belat penopang keseimbangan.
Tarikan pd satu bidang, dpt unilateral/ bilateral
Dpt dilakukan pd skin/skeletal traction
Contoh: Bucks traction

Running vs Suspension
Traction (Lanjutan)

Figure cited from Luckmann & Sorensen (1993)

Running vs Suspension
Traction (Lanjutan)
Suspension

traction (balanced):

Menggunakan suatu tarikan pd bagian yg cede-

ra & juga menopang ekstremitas dlm suatu gantungan/belat penyangga dg berat penyeimbang
yg dicantelkan pada jeruji di atas kepala
Tarikan tetap sama meskipun klien melakukan
pergerakan sebab kontertraksi akan tetap
kekendurannya karena kemampuan
pergerakannya.

Running vs Suspension
Traction (Lanjutan)

Figure cited from Luckmann & Sorensen (1993)

Running vs Suspension
Traction (Lanjutan)
Klien memungkinkan lebih dapat bergerak dan

melakukan aktivitas dari pada running traction.


Kelebihannya:
Perawatan lebih mudah
Klien lebih nyaman
Meningkatkan sirkulasi ke bagian yg terkena
Menurunkan penekanan yg lama pd area
tubuh yg sering tertekan (menurunkan
terjadinya dekubitus)

Running vs Suspension
Traction (Lanjutan)
Dapat dilakukan pada kulit maupun tulang dan

dapat digunakan jenis belat/bidai (splint) atau


gantungan (hammock)
Contoh: Russells traction

Running vs Suspension
Traction (Lanjutan)

Figure cited from Luckmann & Sorensen (1993)

Skin Traction
Tarikan

dikenakan pada kulit dan jaringan lunak,


kemudian kekuatan tarikan ditransmisikan ke tulang
Alat: plester, perban elastik, tali/kain gendongan
(sling), halter, belt.
Keuntungan: tdk ada alat yg dimasukan ke dlm
tulang, shg kemungkinan infeksi lebih kecil.
Kerugian: alat2 tsb diatas, menempel langsung dg
kulit, shg berpotensi terjadi iritasi kulit & masalah
karena penekanan

Skin Traction (Lanjutan)


Pada org dewasa digunakan sementara utk
mengontrol spasme otot & nyeri.
Pada anak digunakan sbg tindakan definitif.
Dpt digunakan sebelum pembedahan dlm
mengatasi hip fractur (Buck traction),
femoral shaft fracture (Russells traction)
Traksi pada pelvis & servikal digunakan utk
mengatasi gangguan/cedera punggung.

Skin Traction (Lanjutan)


Kontraindikasi

bagi pasien dgn:


Sirkulasi kulit buruk
Diabetes
Varicose ulser
Dermatitis
Cedera pada kulit & jaringan lunak.
Arteriosklerosis

Skin Traction (Lanjutan)

Figure cited from Ferrell, J. (1986)

Skin Traction (Lanjutan)

Figure cited from Ferrell, J. (1986)

Skin Traction (Lanjutan)

Figure cited from Luckmann & Sorensen (1993)

Skeletal Traction
Dilakukan

melalui pembedahanmengebor mulai dari kulit,


otot, hingga tulang, kemudian memasukan kawat (Kirschner
wires), atau pen (Steinmann pins) menembus tulang.
Wires dan pins meupakan baja stenlis
Saat memasang wires dan pins hindari mengenai sendi,
tendon, arteri dan saraf, hematoma fraktur, kulit yang
infeksi/abrasi/kemerahan
Insersi scr steril, dg anestesi lokal/umum
Sering digunakan dlm mengatasi fraktur femur, humerus,
tibia dan servical.
Berresiko terjadi komplikasi osteomielitis.

Skeletal Traction (Lanjutan)

Figure cited from Ferrell, J. (1986)

Skeletal Traction (Lanjutan)

Figure cited from Ferrell, J. (1986)

Skeletal Traction (Lanjutan)

Figure cited from Ferrell, J. (1986)

TIPE TRAKSI
Running Traction

Types of Traction
(Nettina, S., 1996)

Balanced
Suspension Traction

TIPE TRAKSI (Lanjutan)


Bucks Traction

Russells
Traction

Types of Traction
(Luckmann & Sorensen,
1993)

Pelvic Traction

Cervical
Traction

Bucks Traction
Traksi

kulit yg digunakan dg cara menarik lurus satu atau


kedua kaki.
Traksi ini kontinu. Jika beban akan dilepaskan, maka traksi
manual harus dilakukan sampai beban di pasang kembali.
Digunakan utk:
Mengimobilisasi anggota badan dlm waktu yg singkat (spt fraktur

paha sebelum dilakukan ORIF: open reduction internal fixation) /


menurunkan spasme otot.
Pengobatan arthritis, dislokasi paha, cedera pelvis dan fraktur pada
kaki bagian atas/bawah.
Kontraindikasi:

diabetes gangren, dermatitis stasis,


arteriosklerosis, varicositis, ulkus pada kaki

Bucks Traction (Lanjutan)

Figure cited from Luckmann & Sorensen (1993)

Cervical Traction
Digunakan

guna memegang ekstensi kepala


utk mengatasi keseleo (sprain), ketegangan/
regangan (strain) dan spasme otot.
Dapat dilakukan dg menggunakan:
Halter (seperti tali leher kuda). Utk strain yg

berat, traksi dg 4-6 pound (1.8-2.7 kg) utk


beberapa hari
Skeletal traksi, memakai halo apparatus: utk
menstabilkan fraktur/dislokasi tulang belakang,
cervical, atau torakal bagian atas

Cervical Traction (Lanjutan)

Figure cited from Luckmann & Sorensen (1993)

Cervical Traction (Lanjutan)


Halo

apparatus tdd:
Bagian kepala dg 4
pin: 2 di anterior, 2 di
posterior
Bagian badan, dimana
bagian kepala
dikaitkan denga jaket
bagian badan
Tujuan halo traksi:
immobilisasi.
Figure cited from Thompson, (1986)

Pelvic Traction
Traksi

pelvic menggunakan pengikat yang


dikenakan di atas dan mengelilingi iliac crest.
Pengikat dikaikan pd spreader bar dan sistem
katrol.
Banyak dokter menganjurkan penggunaan bantal
dibawah kaki, adapula bagian kaki ditinggikan
(trendelenburg).
Posisi yang lebih disukai adl posisi Williams (tiap
paha dan pergelangan kaki pleksi 30o.

Pelvic Traction (Lanjutan)


Rak

gantungan di atas kepala klien dpt


membantu klien mengangkat dari tempat
tidur.
Pengikat harus dipastikan pas pd pelvic
agar traksi adekuat.
Traksi ini lebih sering intermitten tetapi dpt
pula kontinu.

Pelvic Traction (Lanjutan)

Figure cited from Luckmann & Sorensen (1993)

Russells Traction
Merupakan

modifikasi dari Bucks traction, hanya


ditambahkan tarikan vertikal dg cara
menempatkan sling (semacam kain gendong) di
bawah kaki diatas pergelangan kaki
Traksi ini dpt dipergunakan utk mengimmobilisasi:
fraktur paha/femur terutama pada remaja
Fraktur tibia pada org dewasa

Russells Traction (Lanjutan)

Figure cited from Luckmann & Sorensen (1993)

METODE SIMPUL TALI


Simpul

harus aman
Tali traksi jangan
digunakan ulang,
krn setelah dipakai
tali akan rusak
Gbr cara membuat
simpul
Figure cited from Ferrell, J. (1986)

ATTENTIONS
Countertraction
Line of
Pull

Friction
Attentions

Positioning

Continuousness

Countertraction
Ketika

pasien melihat ke arah traksi (ke arah kaki) harus


diwaspadai kemungkinan posisinya merosot ke arah
bagian kaki tempat tidur shg kontertraksi tdk adekuat
Pada Bucks traction :
Kontertraksi ideal adl posisi trendelendurg.
Jmlh beban tdk lebih dari 5 lb.

Pasien

biasanya mengangkat badannya menggunakan


trapeze (mongkey pull) tiap 2-3 jam sekali, oki perlu hrs
mengobservasi posisi pasien tiap 2-3 jam sekali.
Jika perlu, bantu pasien dlm pergerakan

Friction
Friksi

dapat mengganggu tarikan


Friksi disebabkan oleh:
Komponen traksi
Bed linen
Pasien itu sendiri

Sumber

friksi:

Simpul menekan katrol


Footplates atau splints menyentuh ujung tempat tidur
Beban menyentuh tempat tidur
Linen menutupi tali pengikat

Line of pull
Garis

tarikan hrs dicek pada semua pasien


dg traksi
Garis tarikan hrs tdk terpengaruh oleh
perubahan apapun.
Posisi pasien hrs dicek scr reguler utk
memastikan letak tubuh segaris dengan
tarikan

Continuousness
Traksi

kontinu penarikannya harus tetap


dipertahankan.
Jika tidak, tidak akan ada penarikan
kekuatan didalam suatu garis yg menetap,
karena pelepasan beban akan mengganggu
kontinuitas
Observasi plester dari kemungkinan terlepas
dan pastikan semua katrol berfungsi normal.

Positioning
Body

alignment pasien diatas kasur harus

baik.
Bagian kaki dari tempat tidur harus
ditinggikan utk mendapatkan kontertraksi
yang adekuat.
Pembatasan pergerakan tdk terlalu perlu.

KOMPLIKASI
Infeksi

pin tracts pada traksi skeletal s.d.


osteomielitis
Kerusakan kulit dan dermatitis di bawah traksi kulit
Komplikasi immobilisasi:

Penumonia stasis
Tromboplebitis
Dekubitus
Infeksi saluran kemih dan batu urinari
Konstipasi
Nettina, S. (1996); Farrell, J. (1986)

Perawatan kulit
Saat

pasien dimandikan lakukan inspeksi kulit.


Back and buttocks massage punggung 3-4 kali sehari
utk meningkatkan sirkulasi.
Bila kulit keringberi lotion.
Bila kulit basah ingin dikeringkan dan tdk iritasidpt
digunakan alkohol.
Untuk mencegah dekubitus, alasi bagian yg tertekan
(misal: tumit) dg sarung tangan yg diisi air.
Ajarkan pasien cara menggunakan trapeze (monkey
pull) utk mengangkat badan shg mengurangi penekanan.

Tromboplebitis
Tingkatkan

pergerakan ekstremitas
Gunakan elastic stocking

Pneumonia stasis/hipostatic
Pd

pasien inaaktiflatih deep brreathing


and couggh
Obs status respiratori, sukar bernafas,
batuk, nyeri, & bunyi nafas.

MELEPASKAN TRAKSI
Dilakukan

oleh dokter
Jika memakain wire: dokter akan
mengangkat wire dg cara:

Menekan kulit disekitar wire


Memotong wire di bawah permukaan kulit
Menarik wire dari sisi yg berlawanan
Selanjutnya kulit tempat insersi ditutup dg kasa
steril.

PENGKAJIAN
Kaji

Nyeri, deformitas, pembengkakan, fungsi


motor dan sensori, dan status sirkulasi pada
ekstremitas yang terkena
Kaji kondisi kulit pada ekstremitas yang terkena,
baik di bawah traksi kulit dan disekitar traksi
skeletal, juga pada bagian dimana terdapat
penonjolan tulang di seluruh tubuh
Kaji tanda dan gejala komplikasi

PENGKAJIAN -- Lanjutan
Kaji

peralatan traksi untuk keamanan dan


efektivitasnya
Pasien ditempatkan pada kasur yang rata
Tali dan katrol harus dalam alignmen yang baik
Tarikan harus harus segaris dengan aksis tulang panjang
Faktor lain yg dapat menurunkan atau mengubah arah harus

dieliminasi:

Beban harus bebas menggantung


Katrol harus tidak terobstruksi dan tidak kontak dengan peralatan lain

Jumlah beban pada traksi kulit tdk melebihi toleransi kulit


Kaji reaksi emosional

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
2.
3.
4.
5.

Kerusakan mobilitas fisik b.d. terapi traksi dan


kondisi patologis.
Perubahan perfusi jaringan perifer b.b. cedera
atau terapi straksi
Resiko kerusakan integritas kulit b.d. penekanan
pada jaringan lunak
Resiko infeksi b.d. invasi bakteri pada tempat
traksi skeletal.
Resiko perubahan eliminasi: konstipasi b.d.
penurunan motilitas intestinal.
Nettina, S. (1996)

INTERVENSI
1.

Meminimalkan efek dari immobilisasi:

Dorong ROM aktif pd otot & sendi yang


tdk terkena (utk mempertahankan kekuatan
dan fungsinya).
Dorsifleksi kaki tiap jam (utk menghindari
footdrop & membantu venous return)

INTERVENSI (Lanjutan)
2.

Meningkatkan perfusi jaringan

Kaji fungsi ssensori dan motorik dari saraf khusus


yg mungkin terganggu:
N. peronealcek sensasi pd dorsal kaki dan
terjadinya footdrop.
N. radialanjurkan klien ekstensikan ibu jari;
cek sensasi pada ibu jari dan jari telunjuklainnya
N. Mediancek sensasi ibu jari, jari tengah dan
jari telunjuk

Kaji keadekuatan sirkulasi (warna, suhu, gerakan,


capilary refill)

Laporkan segera jika terjadi perubahan status


neurovaskuler.

INTERVENSI (Lanjutan)
3.

Memelihara integritas kulit

Obs penonjolan tulang dan bagian yg tertekan scr


sering

Obs iritasi kulit sekitar balutan traksi

Obs utk mengetahui titik penekanan antara kulit dg


traksi.

Laporkan adanya keluhan rasa terbakar (burning)


di bawah traski

Kurangi/hilangkan penekanan tanpa mengganggu


efektivitas traksi.
Pastikan linen dan pakaian bebas dari lipatan
Gunakan kasur khusus anti dekubitus, pelindung
tumit atau lutut

INTERVENSI (Lanjutan)

Lakukan perawatan khusus bagian punggung


dg interval reguler , krn pasien dipertahankan pada posisi supine
Pastikan pasien menggunakan trapeze (mongkey
pull) utk mengangkat dirinya sendiri dan
mengurangi penekanan bagian belakang
Lakukan backrubs.

INTERVENSI (Lanjutan)
4.

Mencegah infeksi

Monitor vital signs (fever & tachycardia)


Obs tanda2 infeksi, terutama disekitar pemasangan
pin (Steinman pin)

Pin hrs immobil pada tulang, dan kulit harus kering.


Jika diduga infeksi, ketukan diarea tibia dpt
menimbulkan nyeri
Kaji tanda infeksi lainnya: panas, kemerahan, demam

Bersihkan daerah pemasangan pin dg tehnik


a/antiseptik.
Kultur drainage dari tempat pemasangan pin.

INTERVENSI (Lanjutan)
5.

Mencegah konstipasi.

Kaji pola defekasi klien


Obs bising usus
Tingkatkan intake cairan 2-2.5 L/hari
Berikan diet tinggi serat
Tingkatkan aktivitas

DAFTAR PUSTAKA
Farrel, J. (1986). Illustrated guide to orthopedic nursing. (3rd
ed.). Philadelpia: J.B. Lippincott Company.
Luckmann & Sorensen. (1993). Medical surgical nursing a
psychophysiologic approach. (4th ed.). Philadelphia: W.B.
Saunder Company.
Nettina, S. (1996). The Lippincott manual of nursing
practice. (6th ed.). Lippincott: Lippincott-Raven Publisher.
Thompson, J.M., et al. (1986). Clinical nursing practice. St.
Louis: C.V. Mosby Company

Sekian

Wassalam

Anda mungkin juga menyukai