Anda di halaman 1dari 5

PEMANFAATAN BIOMASSA (TONGKANG JAGUNG) SEBAGAI SUMBER ENERGI

TERBARUKAN DI PLTB PULUBALA, GORONTALO


Biomassa merupakan salah satu energi alternatif yang potensial dikembangkan mengingat
semakin terbatasnya bahan bakar konvensional di masa depan. Saat ini salah satu daerah yang
sudah mengembangkan energi biomassa di Indonesia adalah Propinsi Gorontalo.
PT PLN telah resmi mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTB) dengan
memanfaatkan tongkang jagung sebagai bahan dasar energi pembangkit generator. Ide awal
untuk pembangunan PLTB di Gorontalo ini terkait dengan tantangan yang diberikan oleh
Direktur (Operasi Indonesia Timur) PLN, Vickner Sinaga sekitar 2 tahun lalu kepada PLN
Gorontalo untuk memikirkan bagaimana caranya untuk bisa menghasilkan listrik dengan melihat
potensi lokal yang banyak tersedia di Gorontalo. Seperti yang diketahui, Gorontalo merupakan
salah satu sentra penghasil jagung terbesar di Indonesia. Dengan produksi jagung tinggi, tentu
saja tongkang jagung yang merupakan limbah dari produksi ini pun semakin tinggi. Petugaspetugas PLN Gorontalo memanfaatkan tongkang-tongkang jagung yang dihasilkan sebagai
bahan dasar dalam PLTB.
PLTB Pulubala terletak di kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Propinsi
Gorontalo. PLTB yang memakai bahan utama tongkang jagung ini pertama kali diresmikan pada
tanggal 21 Juli 2014 sebagai PLTB Tongkang Jagung pertama di Indonesia. PLTB Pulubala ini
berkapasitas 500 KW. Untuk menghasilkan listrik 1 kWh dibutuhkan 1,5 kg bonggol jagung
sehingga kebutuhan untuk mesin 500 KW sebesar 750 kg/jam.
Belum ditemukan proses terperinci mengenai bagaimana pemanfaatan tongkang jagung
sebagai pembangkit listrik tenaga biomassa di Pulubala. Namun, secara umum ada 3 cara
pemanfaatan biomassa sebagai sumber listrik.
1. Biobriket
Biomassa lain dengan cara dimampatkan sehingga bentuknya menjadi lebih teratur.
Briket yang terkenal adalah briket batubara namun tidak hanya batubara saja yang bisa di
bikin briket. Biomassa lain seperti sekam, arang sekam, serbuk gergaji, serbuk kayu, dan
limbah-limbah biomassa yang lainnya. Pembuatan briket tidak terlalu sulit, alat yang
digunakan juga tidak terlalu rumit.
2. Pirolisa

Pirolisa adalah penguraian biomassa (lysis) karena panas (pyro) pada suhu yang lebih dari
150oC. Pada proses pirolisa terdapat beberapa tingkatan proses, yaitu pirolisa primer dan
pirolisa sekunder (gambar 2.2). Pirolisa primer adalah pirolisa yang terjadi pada bahan
baku (umpan), sedangkan pirolisa sekunder adalah pirolisa yang terjadi atas partikel dan
gas/uap hasil pirolisa primer. Penting diingat bahwa pirolisa adalah penguraian karena
panas, sehingga keberadaan O2 dihindari pada proses tersebut karena akan memicu reaksi
pembakaran.

Gambar 2.1 Bagan proses pirolisa dengan energi pembakaran gas hasil pirolisa
3. Gasifikasi
Secara sederhana, gasifikasi biomassa dapat didefinisikan sebagai proses konversi bahan
selulosa dalam suatu reaktor gasifikasi (gasifier) menjadi bahan bakar (gambar 2.3). Gas
tersebut

dipergunakan

sebagai

bahan

bakar

motor

untuk

menggerakan

generator pembangkit listrik. Gasifikasi merupakan salah satu alternatif dalam rangka
program penghematan dan diversifikasi energi. Selain itu gasifikasi akan membantu
mengatasi masalah penanganan dan pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan dan
kehutanan. Ada tiga bagian utama perangkat gasifikasi, yaitu : (a) unit pengkonversi
bahan baku (umpan) menjadi gas, disebut reaktor gasifikasi atau gasifier, (b) unit
pemurnian gas, (c) unit pemanfaatan gas.

Gambar 2.2 Skema gasifikasi biomassa dan sistem pembangkit daya


Prinsip kerja Biomas adalah: bonggol kayu yang sudah dikeringkan lalu dibakar, gas hasil
pembakaran ditampung, dimurnikan, kemudian diubah menjadi tenaga listrik. Cara kerja
Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBM) dengn skala mini secara umum dilakukan
dengan fermentasi aneka bahan biomassa yang telah memenuhi syarat ( ukuran halus, C/N ratio
~ 30, PH 6,5- 7,5, memiliki perbandingan tertentu kadar kering terhadap air ) dalam digester atas
segala jenis biomassa ( dhi limbah pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, gulma air
eceng gondok dan ganggang maupun sampah organik) akan menghasilkan biogas. Pada
dasarnya, tiap 1 ton biomassa akan hasilkan 40 m3 biometan, dengan kapasitas membangkitkan
besaran daya listrik setara dengan 40 KWH. Ketersediaan bahan baku ( biomassa, sampah,
kotoran ternak) menentukan besaran ukuran digester dan generator. Setelah dilewatkan
pemurnian, biogas akan menjadi biometan ( biogas murni dari kandungan pengotor H2S,
Amoniak, sedikit H2O). Biometan, adalah bahan bakar terbarukan, yang menggantikan secara
sempurna BBM dalam menjalankan generator listrik.
Pertumbuhan kebutuhan listrik setiap tahunnya di Gorontalo mencapai 11,36%. Biaya
Pokok Produksi (BPP) listrik di Gorontalo jika menggunakan BBM adalah Rp. 2.900/kWh
sedangkan jika menggunakan PLTB Tongkol Jagung ini, BPP dapat ditekan menjadi Rp.
1.058/kWh.
Beban listrik di Gorontalo pada tahun 2014 mencapai 78 MW untuk melayani 187 ribu
pelanggan, diantaranya 70 ribu pelanggan di seluruh propinsi Gorontalo telah menggunakan
layanan listrik prabayar. Saat ini listrik di Gorontalo telah terhubung dalam sistem interkoneksi

150 kV Sulutgo (Sulawesi Utara Gorontalo). PLTB Pulubala yang masih berkapasitas 500
kilowatt ini tergolong masih kecil dibandingkan dengan kebutuhan listrik masyarakatnya. Tapi
hal ini tidak menjadi masalah karena dengan adanya PLTB ini dapat menambah pasokan listrik
di wilayah Gorontalo sekaligus memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber energi pembangkit
listriknya. Dengan kapasitas yang masih kecil, direncanakan ke depannya akan dibangun PLTB
lainnya yang berkapasitas 500 kW hingga 1 MW untuk membantu mencukupi kebutuhan listrik
masyarakat Gorontalo.
PRO DAN KONTRA ENERGI BIOMASSA SECARA UMUM
Biomassa menghasilkan jumlah karbon dioksida yang hampir sama dengan bahan bakar
fosil. Namun, pada biomassa, tidak beracun bagi tanaman yang menyerap karbon dioksida, guna
menciptakan keseimbangan karbon di udara, tidak seperti polusi bahan bakar fosil yang
berbahaya bagi lingkungan.
Kekurangannya adalah, bahan bakar biomassa lebih mahal untuk menghasilkan listrik
daripada menggunakan gas alam atau batubara. Oleh karena itu, para ilmuwan terus berusaha
mencari cara untuk menyederhanakan prosesnya sehingga energi biomassa lebih terjangkau.
Jika bahan bakar biomassa dapat dibuat lebih murah, maka seluruh dunia akan menuai
keuntungan karena lahan tempat pembuangan sampah menjadi berkurang dan juga menurunnya
efek rumah kaca. Hal ini merupakan sesuatu hal baik yang akan menyebabkan reaksi berantai
yang positif.
Misalnya, dengan mengurangi pembuangan sampah, ada sedikit peluang bagi polutan
untuk bocor ke tanah dan mencemarinya. Udara lebih bersih karena produksi biomassa akan
berada dalam sistem yang terkendali dan dapat dipastikan jumlah residu yang terkandung di
biomassa. Produksi biomassa juga akan menciptakan lapangan kerja tambahan dan
meningkatkan perekonomian di daerah-daerah tempat produksi listrik tersebut.
Intinya adalah bahwa energi biomassa menjadi alternatif yang lebih menarik sebagai
sumber listrik. Dampak terbesarnya ada di negara-negara berkembang serta orang-orang yang
tinggal di daerah terpencil dan tidak memiliki sumber daya gas alam dan batubara, mereka bisa
menikmati pasokan energi yang lebih memadai. Selain itu, dengan adanya produksi biomassa di
negara-negara ini, maka akan terbuka lapangan kerja baru dan meningkatkan taraf hidup
masyarakat setempat.

Dalam waktu dekat, cadangan sumber daya alam seperti batu bara dan gas alam akan
semakin tipis. Ketika hal itu terjadi, energi biomassa akan menjadi salah satu sumber energi
terbarukan yang layak untuk menghasilkan listrik, keperluan transportasi dan energi di rumah.