Anda di halaman 1dari 3

AL-KINDI

Nama

: Nur Fathonah Sadek (1)

Pekerjaan : S2

: Ilmu Pangan, IPB

S1

: Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB

Al-Kindi dikenal sebagai filosof muslim pertama yang juga mahir


dalam menguasai beragam ilmu pengetahuan. Ilmuwan kelahiran Kufah
pada tahun 801 M tersebut bernama lengkap Abu Yusuf Ya'qub bin Ishak
bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy'ats bin Qais AlKindi. Al-Kindi berasal dari sebuah keluarga pejabat. Sang ayah, Ibnu AsSabah, pernah menduduki jabatan Gubernur Kufah pada era kepemimpinan
Al-Mahdi (775-785) dan Harun Arrasyid (786-809). Kakeknya, Asy'ats bin
Qais, dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, AlKindi merupakan keturunan Ya'rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah.1
Al-Kindi hidup di era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Tak
kurang dari lima periode khalifah dilaluinya yakni, Al-Amin (809-813), Al-Ma'mun (813-833), AlMu'tasim, Al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861). Ketika Khalifah Al-Ma'mun tutup usia
dan digantikan putranya, Al-Mu'tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan
peran yang besar. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula,
paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan.1
Dalam hal pendidikan Al-Kindi pindah dari Kufah ke Basrah, sebuah pusat studi bahasa dan
teologi Islam. Dan ia pernah menetap di Baghdad, ibukota kerajaan Bani Abbas, yang juga sebagai
jantung kehidupan intelektual pada masa itu. Ia sangat tekun mempelajari berbagai disiplin ilmu.
Oleh karena itu tidak heran jika ia dapat menguasai ilmu astronomi,ilmu ukur, ilmu alam, astrologi,
ilmu pasti, ilmu seni musik meteorologi, optika, kedokteran, matematika, filsafat, dan politik.
Penguasaannya terhadap filsafat dan ilmu lainnya telah menempatkan ia menjadi orang Islam
pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajaran filosof terkemuka. Karena itu pulalah ia dinilai
pantas menyandang gelar Faiasuf al-Arab ( filosof berkebangsaan Arab).1
Daulah Islamiah, pada akhir masa bani Umayyah dan awal masa bani Abbasiyah, terbuka
bagi ilmu-ilmu terdahulu yang dibawa oleh bangsa-bangsa yang telah menerima Islam atau
ditaklukkan oleh Islam, seperti bangsa Persia, Yunani, dan India. Keterbukaan tersebut mulanya
terhadap ilmu-ilmu terapan kemudian merambah ilmu hikmah dan filsafat. Adanya Al-Kindi mampu
1

Ruslan, H. dan Akhmad, C. 2003. Ilmuwan muslim, Al-Kindi, Filsuf Islam Pertama. http://www.republika.co.id
[diakses 22 September 2013].
2
Imarah, M. 2007. 45 Tokoh Pengukir Sejarah. Era Intermedia, Pajang.

mengumpulkan

hikmah

dan

filsafat

Yunani,

terutama

filsafat

Aristoteles,

kemudian

menterjemahkannya ke dalam pemikiran Islam. 2


Menurut Al-Kindi, filsafat dan agama bukanlah merupakan suatu hal yang bertentangan,
tetapi saling menunjang. Filsafat berlandaskan akal pikiran, sedang agama berlandaskan wahyu.
Logika merupakan metode filsafat, sedang iman yang merupakan kepercayaan kepada hakikathakikat yang disebut dalam Al Quran sebagai yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi-Nya,
merupakan jalan agama.3
Dalam risalah Jumlah Karya Aristoteles, Al-Kindi membedakan secara tajam antara agama
dan filsafat. Pembicaraannya tentang masalah ini membuktikan bahwa ia membandingkan agama
Islam dengan filsafat Aristoteles. Ilmu-ilmu ilahiah, yang dibedakan dari filsafat ialah Islam
sebagaimana diturunkan kepada Rasulullah dan termasuk dalam Al Quran. Bertentangan dengan
pendapat umum bahwa ilmu agama atau teologi adalah bagian dari filsafat, disini Al-Kindi
menyampaikan bahwa:
1) kedudukan teologi lebih tinggi dari filsafat.
2) agama merupakan ilmu ilahiah, sedangkan filsafat adalh ilmu insani.
3) agama adalah keimanan, sedang jalur filsafat adalah adalah akal.
4) pengetahuan agama diperoleh langsung dari wahyu, sedangkan pengetahuan para filosof diperoleh
secara logika.3
Adapun filsafat atau pemikiran yang dihasilkan oleh Al-Kindi menyangkut tiga hal, yakni
mengenai talfiq, jiwa, dan moral. Al-Kindi berusaha memadukan (talfiq) antara agama dan filsafat.
Menurutnya filsafat adalah pengetahuan yang benar (knowledge of truth). Al Quran membawa
argumen-argumen yang lebih meyakinkan dan benar tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran
yang dihasilkan oleh filsafat. Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan
sekaligus menjadi dari keduanya. Yang benar pertama bagi Al-Kindi ialah Tuhan. Filsafat dengan
demikian membahas tentang Tuhan dan agama ini pulalah dasarnya. Filsafat yang paling tinggi ialah
filsafat tentang Tuhan. Dengan demikian, orang yang menolak filsafat maka orang tersebut menurut
Al-Kindi telah mengingkari kebenaran. Pengingkaran terhadap hasil-hasil filsafat karena adanya halhal yang bertentangan dengan apa yang menurut mereka telah mutlak digariskan Al Quran.4
Tentang jiwa, menurut Al-Kindi, adalah tidak tersusun, mempunyai arti penting, sempurna,
dan mulia. Selain itu, jiwa bersifat spiritual, ilahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh, sedangkan jisim
mempunyai sifat pemarah. Antara jiwa dan jisim, kendatipun berbeda tetapi saling berhubungan dan
saling memberi bimbingan. Dengan pedapat tersebut, Al-Kindi lebih dekat kepada pemikiran Plato
daripada Aristoteles. Aristoteles mengatakan bahwa jiwa adalah baharu, karena jiwa adalah bentuk
bagi badan. Bentuk tidak bisa tinggal tanpa materi, keduanya membentuk kesatuan esensial dan
3
4

Solikhin, M. 2008. Filsafat dan Metafisika dalam Islam. Narasi, Yogyakarta.


Sirajuddin Z. 2004. Filsafat Islam, Filosof, dan Filsafatnya. Rajawali Pers, Jakarta.

kemusnahan jiwa. Adapun Plato berpendapat bahwa kesatuan jiwa dan badan adalah kesatuan
asidental dan temporer. Binasanya badan tidak mengakibatkan lenyapnya jiwa. Namun Al-Kindi
tidak menyetujui Plato yang menyatakan bahwa jiwa berasal dari alam ide. Al-Kindi berpendapat
bahwa jiwa mempunyai tiga daya, yakni daya bernafsu, daya pemarah, dan daya berpikir.4
Dalam akhlak atau moral, Al-Kindi lebih mengutamakan kaedah Socrates. Menurutnya, filsafat
harus memperdalam pengetahuan manusia tentang diri dan seorang filosof wajib menempuh hidup
susila.kebijaksanaan tidak dicari untuk diri sendiri, melainkan untuk hidup bahagia. Sebagai filosof,
Al-Kindi prihatin jikalau syariat kurang menjamin perkembangan kepribadian secara wajar. AlKindi mengecam para ulama yang memperdagangkan agama untuk memperkaya diri dan para filosof
yang memperlihatkan jiwa kebinatangan untuk mempertahankan kedudukannya dalam negara. Ia
merasa dirinya sebagai korban kelaliman negara seperti Socrates. 4
Sebagai penggagas filsafat murni dalam dunia Islam, Al-Kindi memandang filsafat sebagai
ilmu pengetahuan yang mulia. Sebab melalui filsafat manusia bisa belajar mengenai sebab dan
realitas Ilahi yang pertama dan merupakan sebab dari semua realitas lainnya. Baginya filsafat adalah
ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Dalam pandangannya, filsafat bertujuan
untuk memperkuat agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam. 1
Al-Kindi tidak hanya mahir dalam dalam filsafat tetapi juga dalam ilmu kedokteran, musik,
logika, ilmu hitung, geometri, astrologi, astronomi, dialektika, psikologi, dan politik. Bukunya yang
paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul, filsafat dan kedokteran masing-masing 22 judul,
logika sebanyak 9 judul, dan fisika sebanyak 12 judul. Buah pikir yang dihasilkannya begitu
berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Barat pada abad pertengahan. Karya-karyanya
diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan bahasa Eropa. Buku-buku tersebut tetap digunakan selama
beberapa abad setelah ia meninggal dunia. 1
Setelah era Khalifah Al-Mu'tasim berakhir dan tampuk kepemimpin beralih ke Al-Watiq dan
Al-Mutawakkil, peran Al-Kindi semakin dipersempit. Ketika Khalifah Al-Mutawakkil tak lagi
menggunakan paham Muktazilah sebagai aliran pemikiran resmi kerajaan, Al-Kindi tersingkir.
Jabatannya sebagai guru istana pun diambil alih ilmuwan lain yang tak sepopuler Al-Kindi.1
Al-Kindi tutup usia dalam kesendirian dan kesepian pada tahun 873 M. Begitu Al-Kindi
meninggal, buku- buku filsafat yang dihasilkannya banyak yang hilang. Lenyapnya sejumlah karya
filsafat Al-Kindi diduga akibat dimusnahkan rezim Al-Mutawakkil yang tak senang dengan paham
Muktazilah. Hingga kini, Al-Kindi tetap dikenang sebagai ilmuwan Islam yang banyak berjasa bagi
ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.1