Anda di halaman 1dari 17

REFRAT

NAUSEA DAN VOMITUS

Oleh :
Adika Permana

Pembimbing :
dr. Roosmalia Ponti, Sp.PD

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Rumah Sakit Umum Daerah Subang
Subang, Januari 2012
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala
puji bagi Allah Tuhan semesta alam dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT
atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk menyusun tugas refrat yang berjudul Nausea dan Vomitus. Penyusunan tugas ini
masih jauh dari sempurna baik isi maupun penyajiaannya sehingga diharapkan saran dan
kritik yang membangun dari berbagai pihak agar dikesempatan yang akan datang penulis
dapat membuat yang lebih baik lagi.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr.Roosmalia
Ponti atas segala bimibingannya serta berbagai pihak yang telah membantu penyelesaian
refrat ini. Semoga refrat ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Subang, April 2012
Penulis

Adika Permana

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

PEMBAHASAN

a. Nausea dan Vomitus

b. Mekanisme

c. Diagnosis banding

d. Pendekatan terhadap pasien

11

e. Terapi

13

f. Komplikasi

15

DAFTAR PUSTAKA

17

BAB I
PENDAHULUAN
A. DEFINISI
Nausea (mual) dan Vomitus (muntah) merupakan gejala dan tanda yang sering
menyertai gangguan gastointestinal, demikian juga dengan penyakit-penyakit lainnya.
Mual dan muntah dapat dianggap sebagai suatu fenomena yang terjadi dalam tiga
stadium : (1) Mual, (2) Retching (gerakan dan suara sebelum muntah), dan (3)
Muntah. Nausea (mual) adalah perasaan subjektif ingin muntah. Vomitus
(emesis=muntah) merupakan ekspulsi oral dari isi gastrointestinal bagian atas akibat
kontraksi usus dan muskulatur dinding thorakoabdominal.
B. LATAR BELAKANG
Mual dan muntah merupakan perasaan subjektif yang menjadi gejala yang hampir
sering di alami setiap orang. Namun mekanisme mual dan muntah masih banyak
belum di ketahui.
C. TUJUAN
Melalui refrat ini diharapkan para dokter muda mampu mengetahui mekanisme,
pemeriksaan, diagnosis, serta tatalaksana pengelolaan mual dan muntah, yang sering
menjadi gejala yang di alami masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
NAUSEA DAN VOMITUS
Nausea (mual) dan Vomitus (muntah) merupakan gejala dan tanda yang sering
menyertai gangguan gastointestinal, demikian juga dengan penyakit-penyakit lainnya.
Mual dan muntah dapat dianggap sebagai suatu fenomena yang terjadi dalam tiga
stadium : (1) Mual, (2) Retching (gerakan dan suara sebelum muntah), dan (3) Muntah.(2)
Stadium pertama, nausea (mual) adalah perasaan subjektif ingin muntah dan dapat
dijelaskan sebagai perasaan yang sangat tidak enak di belakang tenggorokan dan
epigastrium, sering menyebabkan muntah. Terdapat berbagai perubahan aktivitas saluran
cerna yang berkaitan dengan mual, seperti meningkatnya salivasi, menurunnya tonus
lambung, dan peristaltik. Peningkatan tonus duodenum dan jejunum menyebabkan
terjadinya refluks isi duodenum ke lambung. Gejala dan tanda mual seringkali adalah
pucat, meningkatnya salivasi, hendak muntah, hendak pingsan, berkeringat, dan
takikardia.(2)
Retching, adalah suatu usaha involunter untuk muntah, seringkali menyertai mual
dan terjadi sebelum muntah, terdiri atas gerakan pernapasan spasmodik melawan glottis
dan gerakan inspirasi dinding dada dan diafragma. Kontraksi otot abdomen saat ekspirasi
mengendalikan gerakan inspirasi. Pilorus dan antrum distal berkontraksi saat fundus
relaksasi.(2)
Stadium akhir, vomitus (emesis=muntah) merupakan ekspulsi oral dari isi
gastrointestinal

bagian

atas

akibat

kontraksi

usus

dan

muskular

dinding

thorakoabdominal. Vomitus berbeda dengan regurgitasi, aliran pasif isi lambung ke arah
mulut. Ruminasi merupakan regurgitasi berulang isi lambung, yang sering dikunyah lagi
dan lalu ditelan lagi. Berlawanan dengan vomitus, fenomena ini sering menunjukkan
adanya kontrol berdasarkan kemauan. Indigesti merupakan istilah non-spesifik yang
meliputi berbagai keluhan abdomen atas termasuk nausea, vomitus, heartburn (rasa panas
di daerah dada), regurgitasi, dan dyspepsia (tidak nyaman di abdomen atas atau nyeri).
Penderita dengan dyspepsia serupa ulkus (ulcer-like dyspepsia) melaporkan rasa terbakar

di epigastrium atau rasa tidak nyaman karena perih. Dispepsia serupa dismotilitas
(dysmotility-like dyspepsia) ditandai dengan rasa penuh postprandial, kembung,
eructation

(sendawa),

anoreksia

(tidak

nafsu

makan),

dan

cepat

kenyang

(ketidakmampuan menyelesaikan makan akibat rasa kenyang yang timbul prematur). (1)
MEKANISME
Vomitus diatur oleh batang otak dan dipengaruhi oleh respon neuromuscular
dalam usus, faring, dan dinding thorakoabdominal.
Mekanisme nausea belum diketahui. Karena nausea memerlukan persepsi sadar,
sensasinya mungkin diatur oleh korteks serebral. Studi EEG menunjukkan aktivasi regio
korteks bagian temporofrontal dengan induksi nausea. (1)
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah waktu mual dan muntah, kaitan
dengan makanan, isi dan bau muntah, dan gejala yang terkait seperti nyeri, penurunan
berat badan, demam, mesntruasi, massa abdomen, ikterik, sakit kepala, dan faktor-faktor
lainnya yang dapat mempengaruhi penegakkan diagnosis dan pengobatannya. Muntah
juga dapat menyebabkan timbulnya penyulit yang dapat mengacam jiwa karena berkaitan
dengan system saraf simpatis dan otonom. Mual dan muntah juga berpengaruh pada
cairan dan elektrolit tubuh.(2)
I.

Pengaturan muntah
Studi pada binatang menunjukkan vomitus dikoordinasi oleh lokus tunggal di

dalam formatio reticularis di medulla. Namun studi selanjutnya menunjukkan tidak


ditemukan ada pusat muntah dan bahwa beberapa nucleus batang otak menginisiasi
muntah, termasuk nucleus traktus solitarius; nuclei vagus dorsalis dan frenikus; nuclei di
medulla yang mengatur pernafasan; dan nuclei yang mengatur gerakan faring, wajah, dan
lidah. Neurotransmittter yang terlibat dalam mengatur muntah tidak diketahui; namun
dianggap neurokinin NK1, serotonin, dan vasopressin. (1)
Otot-otot somatic dan visceral memperlihatkan respon stereotipik selama muntah.
Otot-otot pernafasan dada dan dinding perut berkontraksi, menghasilkan tekanan tinggi
intrathorasik dan intraabdominal yang memfasilitasi ekspulsi isi lambung. Bagian kardia
lambung menonjol melalui diafragma, dan laring bergerak ke atas untuk mendorong

mulut saat muntah. Dalam kondisi normal, kontraksi usus bagian atas dengan migrasi
distal diatur oleh fenomena listrik, suatu gelombang lambat, yang siklusnya 3x per menit
di dalam lambung dan 11x per menit di dalam duodenum. Dengan muntah, gelombang
lambat digantikan oleh aktivitas oral yang mencolok, yang menginduksi kontraksi
retrograde yang berperan dalam ekspulsi oral dari isi usus halus. (1)
II.

Aktivator-aktivator muntah
Rangsang muntah bekerja pada beberapa lokasi anatomis. Muntah dicetuskan oleh

rangsang berbahaya dalam pikiran atau penciuman yang berasal dari korteks serebral,
dimana saraf-saraf kranial memediasi muntah setelah suatu aktivasi refleks muntah.
Motion sickness dan gangguan telinga dalam terjadi di apparatus labirin, dimana iritan
lambung dan agen antikanker yang emetogenik seperti cisplatin merangsang aferen
gastroduodenal N. vagus. Aferen visceral non-gastrik diaktivasi oleh usus halus, obstruksi
kolon, dan iskemia mesenteric. Area postrema, nucleus di medulla, berespon terhadap
rangsang muntah yang berasal dari darah, dan dinamakan chemoreceptor trigger zone.
Banyak obat-obat emetik bekerja pada area postrema sebagaimana toksin bakteri dan
gangguan metabolik seperti uremia, hipoksia, dan ketoasidosis. (1)
Neurotransmitter yang berperan dalam induksi muntah bersifat selektif untuk
lokasi-lokasi anatomis ini. Gangguan labirin merangsang reseptor muskarinik kolinergik
vestibuler M1 dan histaminergik H1, dimana rangsang aferen vagal gastroduodenal
mengaktivasi reseptor serotonin 5-HT3. Area postrema diperkaya oleh serabut-serabut
saraf yang bekerja pada subtipe reseptor yang berbeda meliputi 5-HT3, M1, H1, dan
dopamine D2. Penatalaksanaan farmakologik yang optimal pada penderita-penderita ini
memerlukan pengertian tentang hal ini. (1)
DIAGNOSIS BANDING

Nausea dan vomitus disebabkan oleh keadaan di dalam dan di luar usus sebagaimana juga
oleh obat-obatan dan racun yang beredar. Muntah dianggap penting karena dapat menjadi
indicator berbagai keadaan, seperti obstruksi usus, infeksi, nyeri, penyakit metabolic,
kehamilan, penyakit labirin dan vestibular, substansi emetic eksogen seperti racun,
uremia atau gagal ginjal, penyakit radiasi, kondisi psikologis, migren, infark miokard dan
sinkop sirkulatorik. Mual dan muntah dapat terjadi akibat banyak jenis penyakit sehingga
penting untuk membedakan antar gejala-gejala yang khas. Gejala yang timbul dalam
beberapa jam atau hari dapat menunjukkan adanya infeksi akut, penyakit peradangan,
taau kehamilan. Mual dan muntah yang telah berlangsung selama beberapa minggu dapat
menunjukkan adanya penyebab obstruktif, karsinogenik, atau psikogenik. (2)
Tabel 34-1 Penyebab-penyebab Nausea dan Vomitus

(1)

Intraperitoneal
Ekstraperitoneal
Gangguan Obstruksi
Penyakit kardiopulmonal
Obstruksi pylorus
Kardiomiopati
Obstruksi usus halus
Infark miokard
Obstruksi Colon
Penyakit labirin
Sindroma arteri mesenterica Motion sickness

Obat/Gangguan Metabolik
Obat-obatan
Kemoterapi kanker
Antibiotic
Antiaritmia
Digoksin

superior
Infeksi usus
Viral
Bakterial
Penyakit inflamasi
Cholecystitis
Pankreatitis
Appendisitis
Hepatitis
Gangguan fungsi motor
Gastroparesis
Pseudoobstruksi intestinal
Dispepsia fungsional
Refluks gastroesofagial
Kolik bilier
Irradiasi abdomen

Labirinitis
Keganasan
Gangguan intraserebral
Keganasan
Perdarahan
Abses
Hidrosefalus
Penyakit Psikiatrik
Anoreksia dan bulimia nervosa
Depresi
Psychogenic vomiting
Vomitus post operasi
Cyclic vomiting sindrome

Hipoglikemik oral
Kontrasepsi oral
Penyakit endokrin/metabolic
Kehamilan
Uremia
Ketoasidosis
Penyakit tiroid dan paratiroid
Insufisiensi adrenal
Toksin
Kegagalan liver
Ethanol

Gangguan intraperitoneal
Obstruksi visceral dan inflamasi viscera berongga/padat dapat menyebabkan muntah
sebagai gejala utamanya. Obstruksi lambung terjadi akibat dari ulkus dan keganasan,
8

sebagaimana obstruksi usus halus dan kolon terjadi sebagai konsekuensi dari adhesi,
tumor jinak/ganas, volvulus, intususepsi, atau penyakit inflamasi seperti penyakit
Crohns. Sindrom arteri mesenterika superior yang terjadi setelah turunnya berat badan
atau tirah baring berkepanjangan, terjadi ketika duodenum tertekan oleh arteri
mesenterika superior yang melintas di atasnya. Iradiasi abdomen mencetuskan muntah
dengan mengacaukan fungsi kontraktil usus dan dengan menginduksi striktur. Kolik bilier
menyebabkan mual mungkin dengan aksinya pada nervus aferen visceral. Muntah pada
pankreatitis, kolesistitis, dan appendicitis, karena iritasi visceral yang terlokalisir dan
induksi ileus. Infeksi usus oleh virus atau bakteri seperti Staphylococcus aureus dan
Bacillus cereus merupakan salah satu penyebab muntah akut yang tersering khususnya
pada anak-anak. Infeksi oportunistik seperti sitomegalovirus atau herpes simpleks
menginduksi muntah pada individu yang immunocompromised. (1)
Gangguan fungsi motor gastrointestinal juga sering menyebabkan mual dan muntah.
Gastroparesis didefinisikan sebagai terlambatnya pengosongan makanan dalam lambung
dan terjadi setelah vagotomi pada ulkus peptic, dengan adenokarsinoma pancreas, atau
pada penyakit sistemik seperti diabetes, skleroderma, dan amiloidosis. Gastroparesis
idiopatik timbul tanpa adanya penyakit sistemik dan dapat mengikuti prodromal infeksi
virus. Pseudoobstruksi intestinal ditandai oleh gangguan aktivitas motorik intestinal dan
kolon serta mengarah ke retensi residu makanan dalam usus dan sekresi, bacterial
overgrowth, malabsorpsi nutrien, dan timbulnya mual, muntah, kembung, nyeri, serta
perubahan pola usus. Pseudoobstruksi intestinal

dapat idiopatik, dapat diturunkan

sebagai miopati atau neuropati visceral familial, atau akibat dari penyakit sistemik atau
sebagai konsekuensi paraneoplastik dari keganasan (khususnya karsinoma paru tipe small
cell). (1)
Gangguan ekstraperitoneal
Infark miokardial dan gagal jantung kongestif merupakan penyebab kardiak dari
mual dan muntah. Mual dan muntah terjadi setelah 25% pembedahan, di dalam dan di
luar peritoneum. Muntah pasca operasi lebih sering terjadi setelah laparotomi dan
pembedahan ortopedi dibandingkan setelah laparoskopi serta lebih sering pada wanita.
Peningkatan tekanan intrakranial karena tumor, perdarahan, abses, atau obstruksi aliran

cairan serebrospinal, menyebabkan muntah prominen dengan/tanpa disertai mual. Motion


sickness, labirintitis, dan penyakit Menieres mencetuskan gejala melalui jalur labirin.
Sindrom muntah siklik merupakan kelainan yang jarang terjadi dengan etiologi tidak
diketahui, yang mengakibatkan episode mual dan muntah, biasanya pada anak-anak.
Sindrom ini memperlihatkan hubungan yang erat dengan sakit kepala migren,
menunjukkan bahwa beberapa kasus merupakan varian migren. Penderita sakit jiwa,
meliputi anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan depresi, dapat melaporkan mual yang
signifikan. Muntah psikogenik terjadi paling sering pada wanita dengan problem
emosional lainnya. (1)
Obat-obatan dan Gangguan Metabolik
Obat-obatan adalah penyebab muntah yang sering dan dapat bekerja pada
lambung (analgesik, eritromisin) ataupun di area postrema (digoksin, opiat, antiParkinson). Obat-obatan yang menyebabkan muntah mencakup : antibiotik, anti aritmia,
anti hipertensi, hipoglikemik oral, dan obat kontrasepsi. Kemoterapi kanker
menyebabkan muntah yang akut (dalam beberapa jam pemberian), lambat (setelah 1 hari
atau lebih), atau lebih awal. Muntah yang akut disebabkan oleh agen yang sangat
emetogenik seperti sisplatin yang dimediasi oleh jalur 5-HT 3, dimana muntah yang terjadi
lambat tidak tergantung dari 5-HT3. Mual yang lebih awal sering berespon lebih baik
terhadap terapi ansiolitik dibandingkan terhadap anti emetik.
Gangguan metabolic merupakan diagnosis banding pada keadaan tertentu.
Kehamilan merupakan penyebab endokrinologik mual yang tersering, terjadi pada 70%
bumil pada trimester pertama. Hiperemesis gravidarum merupakan bentuk yang berat dari
mual selama kehamilan yang dapat menyebabkan kehilangan cairan yang signifikan dan
gangguan elektrolit. (1)
Uremia, ketoasidosis, insufisiensi adrenal, sebagaimana penyakit tiroid &
paratiroid, adalah penyebab metabolic muntah yang lainnya.Toksin yang beredar
menimbulkan gejala melalui efeknya pada area postrema. Toksin endogen dihasilkan dari
gagal hati yang fulminan, sedangkan enterotoksin eksogen dapat dihasilkan oleh infeksi
bakteri enterik. Intoksikasi ethanol merupakan penyebab toksik mual & muntah yang
sering. (1)

10

PENDEKATAN TERHADAP PENDERITA


Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis membantu menentukan etiologi mual & muntah yang tidak dapat
dijelaskan. Obat-obatan dan toksin sering menyebabkan gejala akut, sedangkan penyakit
yang sudah ada

mencetuskan keluhan kronik. Muntah dalam 1 jam setelah makan

menandakan adanya obstruksi pylorus, sedangkan muntah yang terjadi pada periode
postprandial lambat karena obstruksi usus. Gastroparesis dapat menyebabkan mual dalam
hitungan menit setelah konsumsi makanan, tetapi pada kasus yang berat, menyebabkan
muntah residu makanan yang telah dimakan beberapa jam/hari sebelumnya. Adanya
darah dalam muntahan meningkatkan kecurigaan ulkus atau keganasan; muntah yang
feculent terjadi pada obstruksi usus bagian distal atau kolon. Muntah yang bilious
menyingkirkan obstruksi gaster, sedangkan

muntah makanan yang tidak tercerna

konsisten dengan proses faringoesofageal seperti Diverticulum Zenkers atau akalasia.


Hilangnya nyeri abdomen dengan muntah menandakan obstruksi usus halus, tetapi
muntah tidak berpengaruh pada nyeri pankreatitis atau kolesistitis. Penurunan berat badan
yang jelas meningkatkan dugaan ke arah keganasan atau obstruksi. Demam menunjukkan
inflamasi. Sedangkan sumber intrakranial dipikirkan bila terdapat sakit kepala atau
perubahan lapang pandang. Vertigo atau tinitus menunjukkan penyakit pada labirin.
Pemeriksaan

fisik

melengkapi

anamnesa.

Auskultasi

abdomen

dapat

menggambarkan tidak adanya bising usus pada ileus. Bising yang bernada tinggi
menandakan adanya obstruksi usus, dimana rangkaian suara percikan pada gerakan
lateral yang tiba-tiba dijumpai pada pasien dengan gastroparesis atau obstruksi pylorus.
Rasa nyeri atau adanya tahanan involunter meningkatkan dugaan inflamasi, dimana
adanya darah dalam feses menandakan adanya perlukaan mukosa dari ulkus, iskemia,
atau tumor. Penyebab neurology timbul jika didapatkan edema papil, kehilangan
lapangan penglihatan, atau kelainan neural fokal. Neoplasma diperkirakan dengan adanya
masa pada perabaan atau adenopati. (1)
Dengan riwayat dan pemeriksaan dapat menggolongkan penyebab komplikasi
muntah. Rasa melayang dengan adanya hipotensi ortostatik dan berkurangnya turgor kulit
menunjukkan kehilangan cairan intravaskuler. Hematemesis khususnya dengan muntah

11

berulang memperkuat dugaan kearah robekan Mallory Weiss pada gastroesofageal


junction, sedangkan abnormalitas paru meningkatkan kemungkinan aspirasi muntahan. (1)
Uji diagnostik
Dengan gejala yang sulit hilang atau diagnosis yang sulit, pemilihan uji diagnostik
dapat secara mengarahkan pengelolaan klinis. Penambahan elektrolit diindikasikan bila
dijumpai hipokalemi atau alkalosis metabolic. Deteksi anemia defisiensi besi
mengharuskan pemeriksaan jejas mukosa. Penyakit pankreatikobilier diduga dengan
adanya enzim pancreas abnormal atau biokimia hati yang abnormal, sebagaimana etiologi
endokrinologik atau rematologik didiagnosa dengan hormon spesifik atau uji serologis.
Jika dipikirkan adanya obstruksi luminal, radiografi abdominal posisi berbaring dan tegak
dapat memperlihatkan adanya air fluid level didaerah usus dengan berkurangnya udara
dalam kolon. Ileus ditandai oleh pelebaran difus dari usus yang terisi udara. (1)
Bila uji inisial tidak menampakkan hasil tambahan studi anatomi menjadi indikasi
selanjutnya. Endoskopi atas mendeteksi ulkus atau keganasan gastroesofageal, dan
radiografi barium usus halus mendiagnosis obstruksi parsial usus halus. Kolonoskopi atau
barium enema dapat mendeteksi obstruksi kolon. USG atau CT abdomen dapat
menentukan adanya proses inflamasi intraperitoneal, sedangkan CT atau MRI kepala
dapat menunjukkan sumber mual muntah yang berasal dari intrakranial. (1)
Uji

motilitas

gastrointestinal

dapat

mendeteksi

kelainan

fungsional

gastrointestinal ketika tidak dijumpai abnormalitas anatomis. Gastroparesis paling sering


didiagnosis dengan scintigrafi gaster, yang mana pengosongan dari makanan yang telah
dilabel dengan radioaktif diukur. Alat yang noninvasif untuk menentukan jumlah aktivitas
gelombang lambat lambung dengan menempatkan elektroda kulit diatas lambung,
elektrogastrografi,

telah dipakai sebagai alat alternatif pada diagnosis kelainan

pengosongan lambung. Dengan pseudoobstruksi usus, radiografi barium usus halus


seringkali dapat menunjang diagnosis. Manometri dari usus halus dapat mengkonfirmasi
diagnosis sebagaimana informasi pelengkap untuk menandakan adanya kelainan motorik
seperti neuropati atau miopati berdasarkan pola kontraktilitas. Beberapa pemeriksaan
dapat meniadakan kepentingan untuk biopsi usus terbuka untuk mengevaluasi otot polos
atau degenerasi saraf.

(1)

12

TERAPI
Prinsip umum
Terapi vomitus ditujukan pada penyakit dasarnya, dengan koreksi medis atau
surgical dari kelainan tersebut bila mungkin. Perawatan dirumah sakit dipertimbangkan
untuk dehidrasi berat, khususnya bila penggantian cairan oral tidak dapat dipertahankan.
Bila intake oral dapat ditoleransi, pemberian makanan dimulai dengan cairan yang rendah
lemak, karena lemak memperlambat pengosongan lambung. Makanan yang mengandung
residu yang tidak tercerna harus dihindari karena juga memperpanjang retensi dilambung.
(1)

Obat-obat antiemetik
Obat-obat yang bekerja pada SSP berfungsi sebagai obat antiemetik. Antihistamin
seperti meclizine dan dimenhidrinat; serta obat antikolinergik seperti scopolamine bekerja
pada jalur labirin dan berguna dalam terapi motion sickness dan gangguan telinga dalam.
Phenothiazine dan butyrophenone dopamine D2 antagonists digunakan untuk mengobati
muntah yang disebabkan oleh rangsang area postrema dan efektif untuk etiologi lainnya
seperti karena obat-obatan, toksik, dan metabolic. Antagonis dopamine secara bebas
melewati sel darah otak dan dapat menyebabkan ansietas, reaksi distonik, efek
hiperprolaktinemik (galaktore dan disfungsi seksual), dan diskinesia tardive yang
ireversibel.(1)
Antagonis serotonin 5-HT3 seperti ondansetron dan granisetron berguna dalam
terapi muntah pasca operasi dan setelah terapi radiasi, tetapi terutama digunakan untuk
mencegah muntah yang diinduksi oleh kemoterapi kanker. Kegunaan antagonis 5-HT3
untuk mengontrol penyebab muntah refrakter lainnya belum banyak diketahui. Obat
antidepresan merupakan pilihan terapi pada pasien dengan kelainan usus fungsional
seperti sindroma usus iritabel. Antidepresan trisiklik dosis rendah mempunyai kegunaan
simptomatis yang sedang pada pasien dengan muntah yang tidak dapat dijelaskan berasal
dari gangguan fungsional. (1)

13

Stimulan motorik gastrointestinal


Obat-obatan yang merangsang pengosongan lambung diindikasikan untuk
gastroparesis. Cisapride, suatu agonis serotonin 5-HT4 yang menstimulasi saraf kolinergik
pada lambung menjadi obat pilihan untuk penatalaksanaan penderita gastroparesis rawat
jalan. Obat ini ditoleransi dengan baik tetapi menunjukkan interaksi obat yang sangat
jarang dengan antibiotik tertentu, anti jamur dan obat lainnya yang menjadi predisposisi
untuk aritmia jantung yang fatal. Metoklopramid, suatu kombinasi agonis 5-HT3 dan
antagonis D2, efektif dalam terapi gastroparesis, tetapi efek samping antidopaminergik
membatasi penggunaannya pada 20% pasien. Eritromisin, suatu antibiotik makrolid
meningkatkan motilitas gastroduodenal secara poten dengan aksinya pada reseptor untuk
motilin, suatu stimulan endogen aktivitas motorik puasa. Eritromisis mungkin paling
berguna bila diberikan intravena pada pasien rawat inap dengan gastroparesis refrakter;
namun sediaan oral obat ini juga memiliki beberapa efek. Domperidone, suatu antagonis
D2 tidak beredar di USA, memiliki efek prokinetik dan antiemetik tetapi tidak memasuki
sebagian besar daerah otak; dengan demikian ansietas dan reaksi distonik jarang. Efek
samping utama domperidone adalah induksi hiperprolaktinemi melalui efeknya pada
daerah pituitary karena sawar darah otak yang berpori. (1)
Pasien dengan kelainan motilitas usus bagian atas yang refrakter memerlukan
terapi yang signifikan. Suspensi cairan obat prokinetik dapat berguna karena cairan
meninggalkan lambung lebih cepat daripada pil. Metoklorpamid dapat diberikan
subkutan pada penderita yang tidak berespon terhadap pemberian oral. Pseudoobstruksi
usus dapat berespon terhadap analog somatostatin, ocreotide, yang menginduksi
penyebaran kompleks motorik usus halus. Penempatan jejunostomi untuk tujuan feeding
mengurangi hospitalisasi dan memperbaiki kesehatan umum pada beberapa penderita
gastroparesis yang tidak berespon terhadap terapi obat. Pilihan operasi terbatas untuk
kasus-kasus refrakter, tetapi gastroparesis post vagotomi dapat diperbaiki dengan reseksi
gaster yang hampir total. Elektrikal pacing pada lambung juga dapat berguna. (1)
Latar belakang klinis tertentu
Obat kemoterapi kanker seperti cisplatin sangat emetogenik. Diberikan untuk
profilaksis, antagonis 5-HT3 mencegah muntah akut yang diinduksi kemoterapi pada

14

sebagian besar penderita. Efek optimal antiemetik sering diperoleh dari kombinasi
antagonis 5-HT3 dengan glukokortikoid. Pada dosis tinggi, metoklopramid efektif untuk
mengontrol muntah akibat kemoterapi, sedangkan benzodiazepin seperti lorazepam amat
berguna dalam mengurangi mual dan muntah sebelum kemoterapi. Sebaliknya muntah
yang terjadi lambat 1-5 hari setelah kemoterapi lebih refrakter terhadap terapi. Obat yang
bekerja sebagai antagonis neurokinin NK1 pada batang otak dapat menjadi anti emetik
dan anti nausea yang poten selama periode akut dan lanjut setelah kemoterapi.
Cannabinoids seperti tetrahydrocannabinol dapat membantu muntah yang berhubungan
dengan kanker, tetapi obat-obat ini menghasilkan efek samping yang signifikan dan tidak
efektif dari obat antidopaminergik. (1)
Klinisi harus berhati-hati dalam mengelola penderita dengan mual akibat
kehamilan. Studi efek teratogenik obat-obat antiemetik yang ada masih controversial.
Beberapa uji telah dilakukan pada mual karena kehamilan, walaupun antihistamin seperti
meclizine dan antidopaminergik seperti prochlorperazine lebih efektif dibandingkan
plasebo. Sebagai konsekwensinya, terapi alternatif seperti piridoksin atau jahe
direkomendasikan. (1)
KOMPLIKASI
1. Aspirasi muntah
Muntah bisa berbahaya jika isi lambung masuk ke saluran pernapasan. Dalam
keadaan normal refleks muntah dan batuk akan mencegah hal ini terjadi, namun
ini refleks pelindung terganggu pada orang di bawah pengaruh zat tertentu seperti
alkohol atau anestesi. Individu mungkin tersedak dan sesak nafas atau menderita
pneumonia aspirasi.
2. Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit
Muntah berkepanjangan dan berlebihan akan menguras tubuh air (dehidrasi)
dan dapat mengubah status elektrolit. Muntah lambung menyebabkan hilangnya
asam (proton) dan klorin secara langsung. Dikombinasikan dengan pasang basa

15

yang dihasilkan, ini menyebabkan alkalosis metabolik hypochloremic (tingkat


klorida rendah bersama-sama dengan HCO 3 dan CO yang tinggi 2 dan pH darah
meningkat) dan sering hipokalemia (deplesi kalium). Hipokalemia adalah akibat
tidak langsung dari kompensasi ginjal untuk hilangnya asam. Dengan hilangnya
asupan makanan individu mungkin akhirnya menjadi kurus. Sebuah hasil kurang
sering terjadinya muntah dari isi usus, termasuk asam empedu dan HCO

yang

dapat menyebabkan asidosis metabolik.


3. Mallory-Weiss robek
Muntah berulang atau dapat menyebabkan erosi berlimpah ke kerongkongan
atau air mata kecil di mukosa esofagus (Mallory-Weiss robek). Hal ini dapat
menjadi jelas jika darah merah segar dicampur dengan muntah setelah beberapa
episode.
4. Kedokteran gigi
Muntah berulang, seperti diamati pada bulimia nervosa, dapat menyebabkan
kerusakan enamel gigi karena keasaman muntahan. Enzim pencernaan juga dapat
memiliki efek negatif pada kesehatan mulut, dengan menurunkan jaringan gusi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Braunwald, E: Fauci, AS: Kasper, DL: Hauser, SL: Longo, DL: Jameson, JL.
2005. Alteration in Gastrointestinal Fuction : Nausea, Vomiting, And Indigestion.
Dalam Harrisons Principles of Internal Medicine 16th Edition. India. McGrawHill International.
2.

Price, A. Sylvia: Wilson, M. Lorraine. 2006. Gangguan Lambung dan

16

Duodenum : Mual dan Muntah. Dalam Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses


Penyakit Edisi 6. Jakarta. EGC.
3.

http://www.medicinenet.com/nausea_and_vomiting/article.htm

17