Anda di halaman 1dari 20

AKUNTANSI UNTUK KONTRAK ASURANSI PSAK 36,

PSAK 62 DAN STUDI KASUS

K A S U S YA N G M EN YA N G K U T
K EP EN TIN G A N P U B LIK :
A SU R A N SI

PSAK 36 :AKUN TAN SI untuk Kontrak Asuransi JIW A

TU JU AN :
U ntuk m elengkapipengaturan dalam PSAK 62: Kontrak

Asuransi.
Suatu kontrak yang m asuk dalam ruang lingkup PSAK

62: Kontrak Asuransisebagaikontrak asuransi, bila


kontrak tersebut adalah asuransijiw a.
RU AN G LIN G KU P
Entitas m enerapkan Pernyataan iniuntuk kontrak

asuransijiw a. Pengertian kontrak asuransim engacu


pada PSAk 62: Kontrak Asuransi.

PSA K 36 : A kuntansiuntuk K ontrak A suransi Jiw a

PENDAPATAN
Diakui sebagai Pendapatan dalam periode Kontrak sesuai dengan proporsi

jumlah proteksi asuransi yang diberikan.


Bila periode risiko berbeda secara signifikan dengan periode kontrak, maka

premi diakui sebagai PENDAPATAN selama periode risiko sesuai dengan


proporsi jumlah proteksi asuransi yang diberikan.
Diakui sebagai Pendapatan pada saat jatuh tempo dari Pemegang Polis.

Kewajiban untuk Biaya yang diharapkan timbul sehubungan dengan Kontrak


tersebut Diakui selama periode sekarang & periode diperbaruinya Kontrak.
Kin
Dibayarkan kepada pemegang polis wakilnya dikurangi dengan Nilai Kini

Estimasi Premi masa depan yang akan diterima dari Pemegang Polis.
Liabilitas manfaat polis masa depan diakui pada saat Pendapatan Premi

Diakui.
PENDAPATAN LAIN

Komisi Reasuransi & Komisi Keuntungan Reasuransi Diakui sebagai

Pendapatan Lain.

PSA K 36 : A kuntansiuntuk K ontrak A suransi


Jiw a
BEBAN
Beban Klaim meliputi Klaim yang telah disetujui, klaim dalam

proses penyelesaian, dan klaim yang terjadi namun belum


dilaporkan.
LIABILITAS
Liabilitas Manfaat Polis Masa Depan
Liabilitas manfaat polis masa depan dinyatakan dalam laporan

posisi keuangan berdasarkan perhitungan aktuaria.


Liabilitas diakui sejak timbulnya kewajiban yang diperjanjikan

dalam kontrak asuransi jiwa.


Liabilitas tersebut mencerminkan Nilai Kini Estimasi pembayaran

seluruh manfaat yang diperjanjikan termasuk seluruh opsi yang


disediakan, nilai kini estimasi seluruh biaya yang akan
dikeluarkan tetapi juga mempertimbangkan penerimaan premi di
masa yang akan datang (Gross premium reserve).

PSA K 36 : A kuntansiuntuk K ontrak A suransi


Jiw a
Penentuan jumlah liabilitas manfaat polis

masa depan memenuhi Tes Kecukupan


Liabilitas seperti diatur
dalam PSAK 62: Kontrak Asuransi.
Estimasi Liabilitas Klaim
Estimasi liabilitas klaim atas kontrak
jangka pendek, dinyatakan sebesar
jumlah estimasi berdasarkan
perhitungan teknis asuransi.

PSA K 36 : A kuntansiuntuk K ontrak A suransi


Jiw a
Premi yang Belum merupakan Pendapatan
Ditentukan dengan cara:
1). Secara agregat tanpa memperhatikan tanggal penutupan
dan besarnya dihitung berdasarkan persentase tertentu
dari jumlah premi untuk tiap jenis pertanggungan asuransi
atau
2). Secara individual dari tiap pertanggungan dan besarnya
premi yang belum merupakan pendapatan ditetapkan
secara proporsional dengan jumlah proteksi yang
diberikan selama periode pertanggungan/periode risiko,
konsisten dengan pengakuan pendapatan premi seperti
dijelaskan.

PSA K 36 : A kuntansiuntuk K ontrak A suransiJiw a

PEN G U N G K A PA N
Hal-hal berikut diungkapkan dalam catatan atas laporan

keuangan
a). Pengakuan pendapatan premi & penentuan liabilitas
manfaat
polis masa depan serta premi yang belum merupakan
pendapatan.
b). Transaksi reasuransi termasuk sifat, tujuan, dan efek
transaksi
reasuransi terhadap operasi perusahaan.
c). Pengakuan beban klaim dan penentuan estimasi klaim
tanggungan sendiri.
d). Kebijakan akuntansi lain yang penting seperti ditentukan
dalam
SAK yang relevan.

Hal-hal berikut diungkapkan dalam catatan atas laporan


keuangan
a). Kebijakan akuntansi mengenai:
1). Pengakuan pendapatan premi & penentuan liabilitas

manfaat
polis masa depan serta premi yang belum merupakan
pendapatan
2). Transaksi reasuransi termasuk sifat, tujuan, dan efek

transaksi
reasuransi tersebut terhadap operasi perusahan;
3). Pengakuan beban klaim dan penentuan estimasi klaim

tanggungan sendiri;
4). Kebijakan akuntansi lain yang penting seperti
ditentukan
dalam SAK yang relevan.

PSAK 36:ASURAN SIJIW A


PEN G UN G KAPAN
b). Pendapatan premi bruto: pendapatan premi tahun
pertama
dan premi tahun lanjutan secara terperinci
berdasarkan
kelompok perorangan dan kumpulan serta jenis
asuransi.
c). Klaim dan manfaat jenis, jumlah, dan penyebab
kenaikan
klaim dan manfaat yang signifikan.

TANGGAL EFEKTIF
Pernyataan ini berlaku untuk periode tahun buku yang dimuat
pada
atau setelah tanggal 1 Januari 2012.

PSAK 36 :AsuransiJiw a
PENARIKAN
Pernyataan ini menggantikan PSAK 36

(1996) :
Akuntansi Asuransi Jiwa.

PEN ERAPAN PSAK BARU 36:AsuransiJiw a


Penerapan PSAK baru ini membuat industri

asuransi jiwa seperti digoyang gempa.


Perubahannya akan berdampak pada penurunan

rasio kecukupan modal (risk based capital) dan


premi.

K ondisiIndustriA suransiJiw a di
Indonesia
Kegelisahan tengah menyelimuti industri

asuransi.
Belum tuntas masalah permodalan

(Pemenuhan modal minimum), kini muncul


aturan tentang kewajiban menerapkan standar
akuntansi secara internasional.
Masing-masing aturan ini termaktub dalam

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan


(PSAK) 28 untuk Asuransi Umum, PSAK 36
untuk Asuransi Jiwa dan PSAK 108 untuk
Asuransi Syariah.

K ondisiIndustriA suransiJiw a diIndonesia

Kekhawatiran industri asuransi ini bila aturan ini

diterapkan akan berdampak signifikan pada laporan


keuangan.
Perubahan akan terjadi seperti pada pos pendapatan
premi, investasi, dan rasio kecukupan modal (Risk
Based Capital (RBC).
Perlunya dilakukan perubahan adalah untuk
mengatasi ketidak jelasan pencatatan atas
beberapa produk baru yang kini marak dikeluarkan
asuransi jiwa.
Informasi keuangan dari perusahaan asuransi jiwa
untuk produk-produk tertentu belum mencerminkan
informasi keuangan yang sebenarnya.

K ondisiIndustriA suransiJiw a diIndonesia

Seperti produk Unit link, perusahaan asuransi berunsur

investasi yang kini sangat popler di ass jiwa (unit link)


terbiasa mencatat seluruh perolehan premi unt link, untuk
kemudian dibukukan menjadi pendapatan premi kini harus
mulai memisahkannya.
Inilah yang harus dilakukan bila merujuk ke International

Financial Reporting Standard (IFRS), karena dana yang


dicatatkan sebagai pendapatan premi adalah dana milik
perusahaan.
Sementara, dana yang masuk dalam unsur investasi adalah

dana yang dititipkan nasabah (milik nasabah) untuk


diinvestasikan dan pada waktu jatuh tempo nanti, harus
dikembalikan.
Dampaknya adalah terjadi perubahan dalam pembentukan

cadangan teknis perusahaan. Perubahan ini akan terlihat


pada pendapatan premi yang tercantum dalam laporan labarugi.

K ondisiIndustriA suransiJiw a diIndonesia

Jika terjadi perubahan pencatatan seerti diatas, akan

ada potensi penurunan premi pada laporan laba rugi


perusahaan. Dampak lainya adalah pencatatan ini
bisa berimbas pada berkurangnya RBC perusahaan
asuransi.
Produk-produk lain selain unit link yang bakal

terimbas berlaku juga pada produk yang


mengandung janji pengembalian dalam jumlah
tertentu kepada nasabah, seperti produk whole life
dan endowment.
Artinya, pencatatan produk seperti asuransi

pendidikan yang memberikan janj pengembalian pada


periode tertentu dengan jumlah tertentu pun harus
dipisahkan seperti halnya unit link.

K ondisiIndustriA suransiJiw a diIndonesia

Melhat hal itu, dan dampaknya yang besar, Asosiasi

Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mempunyai alasan


yang kuat untuk menyatakan belum siap menerapkan
PSAK 36 ini pada 2012.
AAJI meminta waktu yang lebih panjang kepada

regulator untuk mempersiapkan dari sehingga


kemudian bisa menentukan langkah-langkah
antisipatif atas dampak yang timbul, bila PSAK ini
diterapkan.

Direktur Eksekutif AAJI, Stephen Juwono mengaku,


saat ini AAJI dalam proses mengkaji kebijakan
penerapan PSAK tersebut dan dampaknya terhadap
pelaporan keuangan di asuransi jiwa.*)

*). Sumber: infobanknews.com

IndustriA suransiJiw a belum siap m enerapkan


IFR S (PSA K 36: A suransiJiw a)
Hal ini juga diungkapan oleh Ketua AAJI, Hendrisman

Rahim yang meliputi sistem informasi keuangan &


akuntansi yang dimiliki perusahaan asuransi & SDM
yang akan menjalankannya.
Direktur Eksekutif AAJI, Benny Waworuntu juga

menyatakan keberatan tentang penerapan sistem


pelaporan keuangan terbaru (IFRS PSAK 36:
Asuransi Jiwa) perusahaan asuransi dan sudah
melaporkan kepada Bapepam-LK untuk meminta
penundaan penerapan sistem ini.
Dengan sistem IFRS, pencatatan laporan keuangan

antara premi dan investasi aka dipisahkan.


Dengan pemisahan ini, nantinya seakan-akan nilai

premi perusahaan asuransi akan turun, padahal


sebenarnya hanya beda pos pencatatan saja.

IndustriA suransiJiw a belum siap m enerapkan


IFR S (PSA K 36: A suransiJiw a)
Sebagai tambahan, tahun ini, Badan Pengawas

Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK)


mewajibkan industri asuransi menggunakan
sistem IFRS (PSAK baru) dalam pelaporan
keuangan.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sudah

mengeluhkan rencana penerapan ini dapat


menurunkan kinerja industri asuransi jiwa.
Isa Rachmatarwata, Kepala Biro Perasuransian-

Bapepam-LK belum bersedia berkomentar


tentang tuntutan industri asuransi jiwa ini.

IndustriA suransiJiw a belum siap m enerapkan


IFR S (PSA K 36: A suransiJiw a)
Dengan PSAK 36: Asuransi Jiwa, maka

Pendapatan Premi dan Investasi akan


disajikan secara terpisah, sehingga
nasabah dapat mengetahui besarnya
investasi di masa depan.
Perlunya Sistem Informasi yang terpadu

dan SDM yang memadai untuk


menjalankannya.

SELESAI
TERIMA KASIH
S EM O G A S U K S ES

A LL TH E B ES T