Anda di halaman 1dari 11

I.

LATAR BELAKANG
Spektroskopi Impedansi Listrik (EIS) merupakan suatu teknik analisi insitu yang
digunakan untuk menentukan impedansi suatu sistem. Impedansi adalah resistansi
kompleks dari suatu rangkaian listrik yang merupakan respon terhadap tegangan listrik
yang diberikan pada suatu rangkaian respon tersebut berupa sinyal arus AC. Dari situ
dapat kita peroleh nilai resistansi dari sistem. Dari nilai resistansi tersebut kita dapat
mencari nilai konduktivitas suatu bahan yang merupakan salah satu sifat fisis atau
karakteristik suatu bahan. Data EIS umumnya dianalisis melalui pencocokan data
dengan rangkaian listrik sebanding (ekuivalen).

II. TUJUAN
1. Mempelajari metode spektrometer impedansi listrik untuk karakteristik sifat fisis
bahan.
2. Membuat rangkaian ekuivalen dan hubungannya dengan spektrum Nyquist dan Bode
Plot.
3. Menggunakan rangkaian ekuivalen untuk mengolah data spektroskopi impedansi
untuk menentukan konduktivitas suatu bahan.
III.

TEORI DASAR
Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari materi dan atributnya berdasarkan
cahaya, suara atau partikel yang dipancarkan, diserap atau dipantulkan oleh materi
tersebut. Spektroskopi juga dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi
antara cahaya dan materi. Dalam catatan sejarah, spektroskopi mengacu kepada cabang
ilmu dimana "cahaya tampak" digunakan dalam teori-teori struktur materi serta analisa
kualitatif dan kuantitatif. Spektroskopi umumnya digunakan dalam kimia fisik dan
kimia analisis untuk mengidentifikasi suatu substansi melalui spektrum yang
dipancarkan atau yang diserap. Alat untuk merekam spektrum disebut spektrometer.
Impedansi merupakan sebuah konsep yang lebih umum dari resistansi, karena
diperhitungkan juga mengenai perbedaan fase antara arus dan tegangan. Oleh karena
itu, impedansi dapat didefinisikan sebagai nilai resistansi kompleks dari suatu rangkaian
listrik sebagai respon terhadap tegangan listrik AC yang diberikan pada rangaian
tersebut. Spektroskopi impedansi merupakan peralatan analitik yang populer didalam
penelitian dan pengembangan ilmu material, karena alat ini memberikan pengukuran

listrik yang relatif sederhana secara otomatis dan hasilnya sering kali dihubungkan
dengan banyak variabel-variabel material yang kompleks seperti; transport massa, laju
reaksi kimia, korosi, sifat dielektrik, cacat mikrostruktur dan pengaruh komposisi
terhadap sifat konduktansi dalam zat padat (Macdonald,1987).
Konduktansi Elektrolitik
Hambatan dalam sistem yang di dalamnya mengalir arus listrik, baik sepotong
kawat ataupun dalam larutan elektrolit didefinisikan oleh Hukum Ohm:

Dengan R adalah hambatan, adalah beda potensial dan i adalah kuat arus
listrik. Bila hambatan dianggap konstan, tidak terpengaruh oleh nilai potensial dan
kuat arus, hambatan tersebut bersifat ohmik Beberapa hambatan dalam sistem
elektrokimia bersifat non-ohmik dan tergantung pada potensial. Hambatan adalah
besaran

ekstensif

karena

nilainya tergantung pada panjang bahan(L), luas

penampang (A) dan hambat jenis (). Hubungan ketiganya adalah :

Dalam larutan elektrolit, definisi konduktansi lebih banyak dipakai. Konduktansi


adalah kebalikan dari hambatan (R). Satuan dari konduktansi (G) adalah siemens (S).
1 S = 1

Sedangkan konduktivitas, adalah kebalikan dari hambat jenis.

Konduktivitas suatu larutan bergantung pada jumlah ion dalam


larutan tersebut. Konduktivitas molar didefinisikan sebagai :

Bode plot merupakan grafik yang menampilkan hubungan antara impedansi total
dan frekuensi. Frekuensi diplot pada absis (sumbu-x), sedangkan impedansi total diplot
pada ordinat (sumbu-y). Bode plot memudahkan untuk menyelidiki nilai impedansi total
dan pergeseran fasa, yang merupakan suatu gejala impedansi sebagai fungsi dari
frekuensi. Fenomena ini menunjukan pengaruh impedansi bergantung pada frekuensi

sehingga dapat digunakan untuk menyelidiki sifat kapasitor bahan. Grafik Bode plot
dapat dilihat seperti pada gambar

Ketika spektroskopi impedansi diaplikasikan pada bahan perovskite, teknik ini


mampu memisahkan sifat listrik dan dielektrik dari grain, daerah batas grain, dan
daerah antara kontak dengan sampel (interface). Pengukuran parameter impedansi
membantu mengidentifikasi proses fisis dan penentuan jenis parameter listrik yang
mewakili sistem yang sedang dipelajari. Dalam menganalisa dan menginterpretasikan
data penelitian penting untuk mempunyai model ekivalen yang memberikan sifat listrik
yang representatif dengan keadaan sebenarnya. Sifat listrik sampel ditentukan dengan
kombinasi seri antara grain dan daerah batas grain, di mana masing-masing diwakili
dengan elemen paralel RC.
Rangkaian ekivalen terdiri dari resistor-resistor ideal, kapasitor ideal dan
kemungkinan terjadi variasi distribusi rangkaian. Di dalam sebuah rangkaian, resistansi
menyatakan aliran konduktif dan resistor di dalamnya yang dapat dianggap sebagai
konduktivitas bulk dari material atau mekanisme yang terkait dengan suatu elektroda.
Begitu pula halnya dengan kapasitansi yang secara umum terkait dengan daerah-daerah
polarisasi ruang dan proses absorbsi serta elektrolisasi khusus pada suatu elektroda.
Selain memiliki kelebihan, metode spektroskopi impedansi juga memiliki kekurangan
terutama yang berkaitan dengan analisa berdasarkan rangkaian ekivalen pada rangkaian
ideal yang menggambarkan sifat konstanta yang tak diinginkan. Dengan demikian
elemen-elemen rangkaian ideal dimana cukup untuk menggambarkan suatu respon
listrik. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka digunakan elemen-elemen impedansi
terdistribusi yang dikenal dengan ConstantPhase Elements (CPEs) didalam rangkaian
ekivalen, sehingga diperoleh fitting data impedansi yang lebih baik.

IV.

METODOLOGI
A. Peralatan dan Bahan
Data Nyquist dan Bode Plot sebagai kurva dari nilai impedansi yang akan dicocokan
dengan rangkaian ekuivalen.
Software Gamry sebagai software yang digunakan untuk menentukan nilai
konduktivitas sampel dari impedansi yang dihasilkan.
B. Uraian kegiatan
1. Menyalakan komputer lalu menjalankan aplikasi Gamry Echem Analyst.
2. Selanjutnya membuka sampel A dengan klik Open lalu mencari pada folder
praktikan : Sampel A, lalu Open. Setelah itu akan muncul grafik Nyquist dan
Bode Plot.
3. Membuat rangkaian ekuivalen dengan cara klik Galvanostatic Impedance pada
menubar kemudian memilih model editor, selanjutnya membuat rangkaian
berikut
4. Save rangkaian yang telah dibuat agar rangkaian tersebut dapat dicocokan
(fitting) dengan sampel.
5. Mencocokan rangkaian ekuivalen dengan sampel A pada Nyquist Plot. Caranya
dengan klik tab Nyquist Plot , pada menu bar klik Galvanostatic Impedance
fit a model (simplex method) membuka rangkaian ekuivalen yang telah
dibuat, maka akan muncul jendela baru.
6. Klik auto fit pada jendela baru tadi, sehingga diperoleh kurva berwarna merah.
7. Mengubah-ubah nilai R1, R2, dan C1 lalu men-checklist kolom lock agar nilai
yang telah diganti tidak berubah kembali kenilai awal.
8. Klik calculate, maka kurva merah sebelumnya akan mengalami perubahan
tergantung perubahan nilai R1, R2, dan C1.
9. Melakukan langkah 7 dan 8 tersebut hingga kurva yang dihasilkan mendekati
plot data. Save setiap perubahan nilai dan grafik menggunakan Snipping Tools.
10. Mengarahkan kursor pada plot data Bode Plot dengan nilai terbesar (pada sb. y).
11. Mencatat nilai R1 dan R2 yang ditampilkan.

V. PENGOLAHAN DATA
A. Menentukan Nilai Konduktivitas bahan
Dengan menggunakan rumus
1 L 1
= =
; R=R 1+ R 2
AR
Diketahui:

L=0.08 cm=8 x 10 m

A=1.207 cm2 =1.207 x 104 m2

Sampel A (Bode Plot)


R 1+ R 2=4.547 k
=

8 x 104
1
4
1.207 x 10 4.547 x 10 3

=1.46 x 103 S /m

Sampel A Nyquist Plot


R 1+ R 2=8.00007 k
=

8 x 104
1
4
1.207 x 10 8.00007 x 103

=8.28 x 104 S/ m

Sampel B (Bode Plot)


R 1+ R 2=4.985 k
=

8 x 104
1
4
1.207 x 10 4.985 x 103
3

=1.33 x 10 S / m

Sampel A Nyquist Plot


R 1+ R 2=8.22875 k
=

8 x 104
1
4
1.207 x 10 8.22875 x 103

=8.05 x 104 S/ m

B. Sampel A
Bode Plot

Nyquist Plot
Kurva Fit

R1 R2 C1

R1 C1

R1 C1

R1 R2 C1

C. Sampel B
Bode Plot
Nyquist Plot
Kurva Fit

R1 C1

R1 R2 C1

R1 C1

VI.

PEMBAHASAN HASIL
Pada percobaan kali ini praktikan melakukan fitting antara data impedansi yang
telah ada dengan rangkaian ekuivalen untuk memperoleh nilai konduktivitas suatu bahan
atau sampel elektrolit. Terdapat dua sampel yang diolah datanya untuk dicari nilai
konduktivitasnya, yaitu sampel A dan sampel B. Untuk mencari konduktivitas digunakan
persamaan = L/A.R, dimana nilai R ditentukan lewat proses fitting.
Pada proses fitting nilai R1, R2, dan C1 diubah-ubah hingga diperoleh kurva yang
mendekati plot data. Nilai R1 mempengaruhi tinggi dan lebar kurva. Nilai R 2 berpengaruh
terhadap panjang dan kelengkungan dari kurva. Nilai C 1 berpengaruh pada kemiringan
kurva. Lalu nilai R adalah R1 + R2.
Diperoleh R dari fitting Nyquist Plot sampel A ialah 8.00007 x 10 3 dan sampel B
ialah 8.22875 x 103 . Lalu R dari Bode Plot sampel A ialah 4.547 x 103 dan sampel B
ialah 4.985 x 103 . Dapat kita lihat bahwa nilai R berbeda antara hasil fitting dengan
Nyquist Plot dan Bode Plot, mengakibatkan nilai konduktivitas sampel yang berbeda.
Ada kemungkinan praktikan kurang pas dalam proses fitting pada Nyquist plot. Jika mau
kita bandingkan, nilai konduktivitas dari Bode Plot lebih mendekati nilai sebenarnya
karena R yang diperoleh bukan melalui proses fitting, melainkan dari data plot asli, dan
bedanya dengan dari hasil fitting Nyquist masih dalam satu orde.

VII.

SIMPULAN

Metode spektrometer impedansi listrik digunakan untuk melihat karakteristik fisis


suatu bahan dilihat dari nilai konduktivitas yang dimiliki, melalui fitting data dengan
rangkaian ekuivalen.

Rangkaian ekuivalen dibuat untuk pencocokan (fitting) dari plot data terhadap
kurva.

Nilai konduktivitas dari Bode Plot ialah 1.4477 x 10-3 S/m (sampel A) dan 1.3296 x
10-3 S/m lebih besar dibanding dari hasil fitting Nyquist Plot , yaitu 0.8285 x 10 -3
S/m (sampe A) dan 0.80055 x 10-3 S/m (sampel B).

DAFTAR PUSTAKA
Fitria Rahmawati. Electrochemical impedance spectroscopy (EIS).

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGANTAR FISIKA MATERIAL
MODUL 1-4
SPEKTROSKOPI IMPEDANSI ELEKTRIK

Nama

: Ahdan Salman S.

NPM

: 140310120025

Partner

: Yati Maryati

NPM

: 140310120002

Hari dan Tanggal: Selasa, 18 November 2014


Waktu Praktikum

: 10.30 13.00 WIB

Laboratorium Fisika Material


Program Studi Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
2014