Anda di halaman 1dari 6

Tauhid Rububiyah dan Pengakuan Kaum Musyrikin Terhadapnya

Pengertian Tauhid Rububiyah


Imam ar-Raghib al-Ashfahani rahimahullah berkata, Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah;
yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap
hingga mencapai kesempurnaan. (lihat al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an [1/245])
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin 'Amir ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, Rabb menurut bahasa
digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau
sosok yang melakukan ishlah/perbaikan kepada selainnya. (lihat transkrip ceramah Syarh
Tsalatsat al-Ushul milik beliau)
Tauhid rububiyah adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb,
Yang Maha Mencipta, Yang Maha Memberikan Rizki, Yang Mengatur segala urusan, yang
memelihara dan menjaga seluruh makhluk dengan segala bentuk nikmat. Meyakini
bahwasanya Allah yang memelihara dan menjaga makhluk-makhluk pilihan-Nya yaitu para
nabi dan pengikut mereka dengan bimbingan akidah yang benar, akhlak yang mulia, ilmuilmu yang bermanfaat, dan amal salih. Inilah bentuk tarbiyah (pemeliharaan dan penjagaan)
yang bermanfaat bagi hati dan ruh, yang akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan di
akhirat (lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 13)
Tauhid rububiyah juga bisa didefinisikan dengan: mengesakan Allah dalam hal penciptaan,
kekuasaan, dan pengaturan. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Apakah ada pencipta
selain Allah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? (QS. Fathir: 3). Allah
ta'ala berfirman (yang artinya), Dan milik Allah lah kekuasaan atas langit dan bumi. (QS. Ali
'Imran: 189). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Katakanlah: Siapakah yang memberikan
rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan
penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang
mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan.
Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak
bertakwa. (QS. Yunus: 31) (lihat al-Qaul al-Mufid 'ala Kitab at-Tauhid [1/5-6] cet. Maktabah
al-'Ilmu, lihat juga Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah hal. 34)
Allah Satu-Satunya Pencipta
Secara logika, ada tiga kemungkinan teori terjadinya alam semesta:
1. Ia terjadi begitu saja secara tiba-tiba, tanpa ada pencipta
2. Ia menciptakan dirinya sendiri
3. Ia ada karena diciptakan
Kemungkinan pertama dan kedua jelas tertolak. Karena sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba
tidak bisa tertata rapi dan teratur pada asal pembentukannya, maka lebih tidak mungkin
lagi ia tertata dengan baik dalam perkembangannya. Dan mustahil ia menciptakan dirinya
sendiri. Karena sebelum ada, alam semesta ini tidak ada. Bagaimana mungkin sesuatu yang
tidak ada bisa mencipta? Ada saja tidak! Oleh sebab itu hanya kemungkinan ketiga yang
tersisa, yaitu alam ini ada karena diciptakan. Adapun penciptanya tidak lain adalah Allah
ta'ala. Allah ta'ala telah mengisyaratkan tiga kemungkinan ini dalam firman-Nya (yang
artinya), Apakah mereka itu tercipta tanpa ada sesuatu apapun sebelumnya, ataukah

mereka sendiri yang menciptakan? (QS. ath-Thur: 35). Maka sangatlah wajar jika seorang
arab yang mau menggunakan akalnya seperti Jubair bin Muth'im pun seketika tertarik
kepada Islam setelah mendengar dibacakannya ayat ini (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul karya
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal. 17-18 cet. Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, lihat juga
Fath al-Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar [8/708] cet. Dar al-Hadits)
Dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im, dari ayahnya -semoga Allah meridhainya-, dia
berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat ath-Thur pada
saat sholat Maghrib. Tatkala beliau sampai pada ayat ini (yang artinya), Apakah mereka itu
diciptakan tanpa ada sesuatu sebelumnya, ataukah mereka sendiri yang menciptakan?
Apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka pun tidak meyakininya.
Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu, ataukah mereka yang menguasainya?
(QS. ath-Thur: 35-37). Maka Jubair bin Muth'im pun berkata, Hampir-hampir saja hatiku
melayang. (HR. Bukhari)
Dikisahkan, suatu ketika Imam Abu Hanifah rahimahullah ditanya oleh sejumlah orang
zindiq/atheis mengenai keberadaan pencipta alam ini. Beliau pun berkata kepada mereka,
Tunggu sebentar, biarkan aku berpikir mengenai suatu berita yang disampaikan kepadaku.
Mereka pernah menceritakan kepadaku bahwa ada sebuah kapal yang berlayar di tengah
lautan berisi muatan berbagai barang dagangan. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang
menjaga dan mengemudikannya. Meskipun begitu, kapal itu datang dan pergi dengan
sendirinya. Ia menembus gelombang lautan yang ganas dan meloloskan diri darinya. Ia
berlayar ke mana pun ia mau tanpa ada seorang pun yang mengendalikannya. Orang-orang
zindiq itu pun berkata, Ini adalah sebuah perkara yang tidak diucapkan oleh orang yang
berakal. Lantas Abu Hanifah mengatakan, Sungguh celaka kalian! Kalau begitu bagaimana
mungkin alam semesta ini, langit dan buminya, beserta segala isinya yang begitu teratur,
ternyata ia tidak memiliki pencipta?!. Orang-orang itu pun terdiam seribu bahasa. Akhirnya
mereka kembali kepada kebenaran dan masuk Islam di tangan Imam Abu Hanifah
rahimahullah (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 14 oleh Syaikh Abdullah al-Qar'awi, lihat pula
Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 84-85)
Pengakuan Orang Musyrik Terhadap Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah adalah sesuatu yang telah menjadi fitrah manusia dan hakikat yang
diterima oleh akal sehat mereka. Orang-orang kafir sekalipun sebenarnya mengimani hal ini
di dalam hatinya.
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Para rasul mereka pun mengatakan, Apakah ada
keraguan terhadap Allah; padahal Dia lah yang menciptakan langit dan bumi.. (QS.
Ibrahim: 10).
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan
kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab,
'Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui'. (QS. azZukhruf: 9)
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah
yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa
dipalingkan (dari menyembah Allah). (QS. az-Zukhruf: 87).

Imam Ibnu Abil 'Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, Sesungguhnya orang-orang musyrik
arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit
dan bumi ini hanya satu. (lihat Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 81, lihat juga Fath alMajid, hal. 16, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [6/201] [7/167])
Adapun yang terjadi kepada Fir'aun adalah sebuah kesombongan dan kecongkakan belaka.
Allah ta'ala menceritakan (yang artinya), Maka dia (Fir'aun) berkata: Aku adalah Rabb kalian
yang tertinggi. (QS. an-Nazi'at: 24). Fir'aun juga yang berkata (yang artinya), Aku tidak
mengetahui bagi kalian ada ilah/sesembahan selain diri-Ku. (QS. al-Qoshosh: 38).
Padahal, dalam lubuk hatinya Fir'aun sebenarnya mengakui Allah sebagai Rabbnya. Allah
ta'ala berfirman (yang artinya), Mereka menentang hal itu, padahal sesungguhnya mereka
telah meyakininya di dalam hatinya, itu semua karena sifat zalim dan karena mereka merasa
lebih tinggi -di hadapan manusia-. (QS. an-Naml: 14).
Nabi Musa 'alaihis salam pun telah menetapkan pengakuan Fir'aun atas hal itu, ketika beliau
berbicara di hadapannya. Sebagaimana diceritakan Allah dalam firman-Nya (yang artinya),
Sungguh kamu telah mengetahui bahwasanya tidaklah yang menurunkan itu semua
melainkan Rabb yang menguasai langit dan bumi. (QS. al-Israa': 102) (lihat al-Qaul al-Mufid
'ala Kitab at-Tauhid [1/6])
Tauhid Rububiyah Saja Belum Cukup!
Iman terhadap rububiyah Allah belum bisa memasukkan ke dalam Islam. Allah ta'ala
berfirman (yang artinya), Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah,
melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan. (QS. Yusuf: 107).
Ikrimah berkata, Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah
kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang
menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, 'Allah'. Itulah keimanan
mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya. (lihat Fath alBari [13/556])
Ini artinya, menganggap bahwa keyakinan Allah sebagai satu-satunya pencipta dan
pemelihara alam semesta sebagai intisari tauhid adalah jelas sebuah kekeliruan. Ibnu
Taimiyah rahimahullah berkata, Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid
rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang
disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka
menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka
merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan
dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal
sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan
Allah ta'ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya, dan
meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid
sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali
Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada
Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. (lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan, Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa
pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat
kecuali apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam
beribadah) dan benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan...
(lihat Syarh Kasyf asy-Syubuhat, hal. 24-25).
Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah memaparkan, Mengapa para nabi tidak berkonsentrasi
pada penetapan tauhid rububiyah dan dakwah kepadanya? Sebab tauhid rububiyah adalah
sesuatu yang telah mereka akui. Mereka tidaklah mengingkarinya, dan tidak ada seorang
pun yang berani mengingkari tauhid rububiyah selamanya, kecuali karena kesombongan
semata. Karena pada hakikatnya tidak ada seorang pun yang meyakini -selamanya- bahwa
alam semesta menciptakan dirinya sendiri. Bahkan, kaum Majusi Tsanuwiyah sekalipun; yang
berkeyakinan bahwa alam semesta ini memiliki dua pencipta. Meskipun demikian, mereka
tetap meyakini bahwa salah satu diantara keduanya lebih sempurna. Mereka meyakini
bahwa tuhan cahaya menciptakan kebaikan, sedangkan tuhan kegelapan menciptakan
keburukan. Sementara mereka mengatakan bahwa tuhan cahaya adalah tuhan yang baik
dan bermanfaat. Adapun tuhan kegelapan adalah tuhan yang buruk... ...Intinya, tidak akan
anda temukan selamanya seorang pun yang berkata bahwa alam semesta ini diciptakan
tanpa adanya Sang pencipta, kecuali orang yang sombong. Sedangkan orang yang sombong
semacam ini adalah termasuk golongan orang musyrik. Adapun masalah [tauhid] uluhiyah,
maka itulah permasalahan yang menjadi sumber pertikaian dan pertentangan antara para
rasul dengan umat mereka. (lihat Syarh al-Qawa'id al-Hisan, hal. 21)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, Diantara perkara yang
mengherankan adalah kebanyakan para penulis dalam bidang ilmu tauhid dari kalangan
belakangan (muta'akhirin) lebih memfokuskan pembahasan mengenai tauhid rububiyah.
Seolah-olah mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari keberadaan Rabb
[Allah] -walaupun mungkin ada orang yang mengingkari Rabb [Sang Pencipta dan Penguasa
alam semesta]- akan tetapi bukankah betapa banyak umat Islam yang terjerumus ke dalam
syirik ibadah!! (lihat al-Qaul al-Mufid 'ala Kitab at-Tauhid [1/8])
Tatkala para ulama salaf sangat memperhatikan masalah tauhid ibadah, sesungguhnya
mereka melakukan itu semata-mata untuk mengikuti bagaimana Allah dan Rasul-Nya
shallallahu 'alaihi wa sallam memulai dakwahnya. Karena tauhid rububiyah adalah perkara
yang fitrah ada pada manusia, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang telah
tercabut fitrah darinya dan terbutakan mata hatinya... Adapun salafiyun -dengan manhaj
mereka ini- berbeda dengan kaum Mutakallimin dari kalangan Asya'irah dan selainnya yang
melalaikan masalah tauhid ini dan tidak mencurahkan segenap upaya mereka untuk
mengokohkan dan mengajarkan hal itu kepada umat manusia. Bahkan, puncak perjuangan
mereka hanyalah berdalil untuk menetapkan keberadaan al-Khaliq, padahal ini semuanya
telah terpatri di dalam fitrah manusia yang suci. Sebagaimana sudah kami isyaratkan baru
saja. Oleh sebab itu untuk menetapkan hal itu tidaklah memerlukan upaya yang rumit.
Apalagi sampai menjadikan segala upaya hanya untuk mencapai tujuan itu. Yang demikian
itu terjadi kepada mereka disebabkan mereka menganggap bahwa hakikat ilahiyah adalah
kemampuan untuk mencipta. Oleh sebab itu mereka berjuang untuk memberikan
penjelasan kepada manusia bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta. Kelalaian inilah
yang pada akhirnya menjerumuskan mereka ke dalam berbagai kotoran bid'ah dalam
ibadah dan sebagian praktek kemusyrikan, akibat mengesampingkan tauhid ibadah (lihat alManhaj as-Salafi, Ta'rifuhu, Tarikhuhu, Majalatuhu, Qawa'iduhu wa Khasha'ishuhu, hal. 134

oleh Dr. Mafrah bin Sulaiman al-Qusi, cet. Darul Fadhilah, 1422 H)
Tanggapan Kaum Musyrikin Terhadap Dakwah Tauhid
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Dan mereka merasa keheranan tatkala datang kepada
mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir itu pun
berkata: Ini adalah tukang sihir dan pendusta. Apakah dia [Muhammad] hendak menjadikan
sesembahan-sesembahan ini menjadi satu sesembahan saja? Sungguh, ini adalah perkara
yang sangat mengherankan. (QS. Shod: 4-5) (bacalah kisah menarik mengenai tafsir ayat ini
di dalam Ma'alim at-Tanzil, hal. 1105 oleh Imam al-Baghawi rahimahullah)
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya mereka itu apabila dikatakan kepada
mereka laa ilaaha illallah maka mereka pun menyombongkan diri. Mereka berkata: Akankah
kami meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair yang gila. (QS.
Ash-Shaffat: 35-36)
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Demikianlah, tidak datang kepada orang-orang
sebelum mereka seorang rasul pun melainkan mereka (kaumnya) berkata: tukang sihir atau
orang gila. Apakah mereka saling berpesan dengannya? Bahkan mereka itu adalah orangorang yang melampaui batas. (QS. Adz-Dzariyat: 52-53)
Konsekuensi Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah memiliki banyak konsekuensi bagi hamba, diantaranya adalah:
1. Mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata (baca: tauhid uluhiyah)
2. Ridha terhadap perintah dan larangan-Nya (baca: tunduk kepada syari'at)
3. Ridha terhadap takdir yang ditetapkan-Nya (baca: sabar)
4. Ridha terhadap rizki dan pemberian-Nya (baca: qona'ah)
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah menjelaskan, Kemudian,
sesungguhnya keimanan seorang hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi
mengikhlaskan ibadah kepada-Nya serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya.
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.
(QS. al-Anbiya': 92). Allah ta'ala juga berfirman (yang artinya), Wahai umat manusia,
sembahlah Rabb kalian. (QS. al-Baqarah: 21). Keberadaan Allah sebagai Rabb seluruh alam
memiliki konsekuensi bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan sia-sia
atau dibiarkan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan untuk mereka. Akan tetapi Allah
menciptakan mereka untuk mematuhi-Nya dan Allah mengadakan mereka supaya
beribadah kepada-Nya. Maka orang yang berbahagia diantara mereka adalah yang taat dan
beribadah kepada-Nya. Adapun orang yang celaka adalah yang durhaka kepada-Nya dan
lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Barangsiapa yang beriman terhadap
rububiyah Allah dan ridha Allah sebagai Rabb maka dia akan ridha terhadap perintah-Nya,
ridha terhadap larangan-Nya, ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya, ridha terhadap
takdir yang menimpanya, ridha terhadap pemberian Allah kepadanya, dan tetap ridha
kepada-Nya tatkala Allah tidak memberikan kepadanya apa yang dia inginkan. (lihat Fiqh alAsma' al-Husna, hal. 97)
Dari al-'Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam

sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul. (HR. Muslim)


Ridha adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu serta tidak mencari lagi sesuatu yang
lain bersamanya. Makna hadits ini adalah; orang tersebut tidak mencari dan berharap
kecuali kepada Allah ta'ala semata, tidak mau berusaha kecuali di atas jalan Islam, dan tidak
mau menempuh suatu jalan kecuali apabila sesuai dengan syari'at Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam. Seseorang yang telah merasa ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan
terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam
hatinya maka akan terasa mudah segala ketaatan kepada Allah dan dia akan merasakan
nikmat dengannya (lihat Syarh Muslim [2/86] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan
sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat
bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka,
tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara
yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar
adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan laranganNya. (lihat al-Fawa'id, hal. 89)
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman,
demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan
suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka.
Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan
kesesatan yang amat nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)
Allah ta'ala juga berfirman (yang artinya), Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidaklah
beriman, sampai mereka menjadikanmu -Muhammad- sebagai hakim/pemutus perkara
dalam segala permasalahan yang diperselisihkan diantara mereka, kemudian mereka tidak
mendapati rasa sempit di dalam diri mereka, dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.
(QS. An-Nisaa': 65)
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit
rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buahbuahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang
apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah,
dan kami juga akan kembali kepada-Nya'. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan
pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang
diberikan petunjuk. (QS. al-Baqarah: 155-157)
Dari Shuhaib radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Sungguh
menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik
untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan
kesenangan dia bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila tertimpa
kesulitan dia bersabar, maka hal itu juga kebaikan untuknya. (HR. Muslim)
Demikianlah yang bisa kami susun dalam kesempatan ini dengan taufik dari Allah semata.
Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dengannya. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina
Muhammadin wa 'ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin.