Anda di halaman 1dari 10

BAB 10

AKUISISI DAN PENYUSUTAN PROPERTI, PABRIK, DAN


PERALATAN
PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN
Properti, pabrik, dan peralatan didefinisikan sebagai aset berwujud yang dimiliki untuk
digunakan dalam produksi atau penyediaan barang dan jasa, untuk sewa kepada orang
lain, atau untuk tujuan administrasi. Properti, pabrik, dan peralatan diharapkan untuk
digunakan selama lebih dari satu periode. Properti, pabrik, dan peralatan itu meliputi
tanah, struktur bangunan (kantor, pabrik, gudang), dan peralatan (mesin, furnitur, alatalat). Karakteristik utama dari properti, pabrik, dan peralatan adalah sebagai berikut.
1. Mereka diperoleh untuk penggunaan dalam operasi dan tidak untuk dijual kembali.
Hanya aset yang digunakan dalam operasi bisnis normal yang diklasifikasikan
sebagai properti, pabrik, dan peralatan. Sebagai contoh, sebuah bangunan yang
sedang tidak digunakan lebih tepat diklasifikasikan terpisah sebagai investasi.
Pengembang lahan atau subdividers mengklasifikasikan tanah sebagai persediaan.
2. Mereka secara alami bersifat jangka panjang dan biasanya disusutkan. Properti,
pabrik, dan peralatan menghasilkan jasa selama beberapa tahun. Perusahaan
mengalokasikan biaya investasi dalam aset ini ke periode masa depan melalui beban
penyusutan periodik. Terkecuali tanah, di mana hanya disusutkan jika penurunan
nilai material terjadi, seperti kerugian pada kesuburan lahan pertanian karena rotasi
panen yang buruk, kekeringan, atau longsor.
3. Mereka memiliki substansi fisik. Properti, pabrik, dan peralatan adalah aset berwujud
yang ditandai oleh keberadaan fisik atau substansi. Hal ini membedakan mereka dari
aset tak berwujud, seperti paten atau goodwill. Tidak seperti bahan baku,
bagaimanapun juga, properti, pabrik, dan peralatan tidak secara fisik menjadi bagian
dari produk yang dimiliki untuk dijual kembali.
AKUISISI DARI PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN
Kebanyakan perusahaan menggunakan nilai historis sebagai basis untuk penghitungan
properti, pabrik, dan peralatan. Nilai historis mengukur kas atau nilai setara kas dari
harga perolehan aset tersebut dan membawanya ke lokasi dan kondisi yang diperlukan
untuk digunakan.

Perusahaan mengakui properti, pabrik, dan peralatan ketika biaya dari aset dapat diukur
secara nyata dan besar kemungkinan bahwa perusahaan akan mendapatkan manfaat
ekonomi masa depan.
Biasanya perusahaan-perusahaan melaporkan biaya-biaya berikut sebagai bagian dari
properti, pabrik, dan peralatan:
1. Harga pembelian, termasuk bea impor, pajak pembelian tidak dapat dikembalikan,
dikurangi potongan penjualan dan rabat.
2. Biaya terkait untuk membawa aset tersebut ke lokasi dan kondisi yang diperlukan
untuk digunakan dalam cara yang dimaksudkan oleh perusahaan.
Perusahaan menilai properti, pabrik, dan peralatan pada periode berikutnya dengan
menggunakan metode biaya perolehan atau metode nilai wajar (revaluasi). Perusahaan
dapat menerapkan biaya atau model nilai wajar untuk semua item aset, dan peralatan
atau untuk satu kelas (banyak) aset, dan peralatan. Sebagai contoh, perusahaan mungkin
menilai tanah (aset sekelas) setelah akuisisi dengan menggunakan metode nilai wajar
dan pada saat yang sama menilai bangunan dan peralatan (kelas-kelas aset lain) dengan
biaya.
Kebanyakan perusahaan menggunakan metode biaya, ini lebih murah untuk digunakan
karena biaya penaksir tidak diperlukan. Selain itu, metode nilai wajar umumnya
mengarah ke nilai aset yang lebih tinggi, yang berarti bahwa perusahaan melaporkan
beban penyusutan yang lebih tinggi dan laba bersih yang lebih rendah.
Biaya Tanah
Semua pengeluaran yang dilakukan untuk memperoleh tanah dan siap untuk digunakan
dianggap sebagai bagian dari biaya tanah. Jadi, ketika Group Auchan (FRA) atau AEON
(JPN) membeli tanah untuk membangun sebuah toko baru, biaya tanah biasanya
mencakup:
1. harga pembelian;
2. penutupan biaya, seperti hak atas tanah, biaya pengacara, dan pencatatan biaya;
3. biaya yang timbul dalam mendapatkan lahan dalam kondisi untuk digunakan, seperti
penilaian, mengisi, pengeringan, dan membuka lahan;
4. asumsi dari setiap hak gadai, hipotek, atau sitaan di properti; dan
5. setiap prasarana tambahan yang memiliki kehidupan yang tidak terbatas.

Pada umumnya, tanah adalah bagian dari properti, pabrik, dan peralatan.
Bagaimanapun, jika tujuan utama dari perolehan dan penguasaan tanah adalah
spekulasi, perusahaan sewajarnya mengklasifikasikan tanah tersebut sebagai investasi.
Jika real estate menguasai tanah untuk dijual kembali, maka tanah diklasifikasikan
sebagai persediaan.
Untuk kasus Tanah dikuasai sebagai investasi, perlakuan akuntansi apa yang seharusnya
diberikan untuk pajak, asuransi, dan biaya langsung lainnya yang terjadi ketika
menguasai Tanah? Beberapa mempercayai bahwa biaya ini seharusnya dikapitalisasi.
Alasannya: ini bukanlah pendapatan umum dari investasi pada saat ini. Perusahaan pada
umumnya menggunakan pendekatan ini kecuali ketika aset sekarang ini menghasilkan
pendapatan (seperti properti sewaan).
Biaya Gedung
Biaya gedung seharusnya termasuk semua pembelanjaan terkait secara langsung pada
pemerolehan atau kontruksi. Biaya ini termasuk:
(1) Material, buruh, and biaya overhead yang terjadi selama pembangunan,
(2) Ongkos profesional and ijin bangunan.
Setiap biaya yang secara tidak langsung dapat diatribusikan untuk mendapatkan gedung
yang siap untuk digunakan sesuai dengan tujuannya tidak boleh dikapitalisasi. Sebagai
contoh, biaya permulaan, seperti biaya promosi yang berkaitan dengan pembukaan
gedung atau kerugian operasional yang timbul terutama karena penjualan rendah, tidak
boleh dikapitalisasi. Juga, biaya administrasi umum (seperti biaya departemen
keuangan) tidak boleh dialokasikan untuk biaya gedung.
Biaya Peralatan
Pengertian "peralatan" dalam akuntansi termasuk peralatan pengiriman, peralatan
kantor, mesin, perabot dan peralatannya, perabotan, peralatan pabrik, dan aktiva tetap
serupa. Biaya aktiva tersebut meliputi harga pembelian, pengiriman dan penanganan
yang terjadi, asuransi pada peralatan dalam transit, biaya dari yayasan khusus jika
diperlukan, perakitan dan biaya instalasi, dan biaya pelaksanaan uji coba. Setiap hasil
dari penjualan setiap barang yang dihasilkan ketika membawa peralatan ke lokasi dan
kondisi yang digunakan sesuai dengan tujuannya (seperti sampel yang dihasilkan ketika
alat diuji) harus mengurangi biaya peralatan. Biaya mencakup semua pengeluaran yang
terjadi untuk memperoleh peralatan dan mempersiapkan untuk digunakan.
Aktiva yang Dibangun Sendiri
3

Perusahaan dapat menangani pengeluaran tambahan dalam satu atau dua cara:
1. Menetapkan pengeluaran tambahan tidak tetap ke biaya konstruks aset. Tetapi,
perusahaan akan menetapkan biaya dari aset konstruksi biaya variabel pengeluaran
tambahan.
2. Menetapkan bagian dari semua pengeluaran tambahan ke proses konstruksi.
Pendekatan ini, dikenal juga sebagai pendekatan Pembiayaan Penuh.
Biaya Bunga Selama Konstruksi
Tiga pendekatan telah disarankan untuk menghitung bunga yang terjadi dalam
pembiayaan pembangunan aktiva dan peralatan:
1. Kapitalisasi tanpa bunga selama masa konstruksi. Pada pendekatan ini, bunga
dianggap sebagai biaya pembiayaan dan bukan biaya konstruksi.
2. Biaya konstruksi dengan semua biaya dana yang digunakan, apakah dapat di
identifikasi atau tidak. Metode ini berpendapat bahwa biaya konstruksi harus
mencakup biaya pembiayaan, baik secara tunai, utang, atau ekuitas.
3. IFRS menggunakan istilah biaya pinjaman daripada beban bunga. Biaya pinjaman
termasuk beban bunga dihitung menggunakan metode bunga efektif.
IFRS menggunakan pendekatan ketiga, Kapitalisasi Bunga Aktual (dengan modifikasi).
Metode ini mengikuti konsep bahwa biaya historis dalam perolehan aset mencakup
semua biaya (termasuk bunga) yang terjadi untuk membawa aset tersebut pada kondisi
dan lokasi yang diperlukan agar dapat digunakan sesuai rencana.
Dalam mengimplementasikan pendekatan umum ini, perusahaan mempertimbangkan
tiga hal:
1. Kualifikasi aktiva.
Untuk dapat melakukan kapitalisasi bunga, aset harus memenuhi suatu periode
waktu yang cukup panjang agar siap untuk digunakan atau dijual. Perusahaan
mengkapitalisasi biaya bunga dimulai sejak pengeluaran pertama yang berkaitan
dengan aset tersebut. Kapitalisasi terus dilakukan sampai perusahaan secara
substansial menyiapkan aset tersebut hingga siap untuk digunakan.
Contoh aset yang tidak memenuhi syarat untuk kapitalisasi bunga adalah (1) aset
yang sedang digunakan atau siap untuk digunakan, dan (2) aset yang tidak
digunakan oleh perusahaan dalam kegiatan pemerolehan pendapatan.
2. Periode kapitalisasi
4

Periode kapitalisasi adalah periode waktu ketika perusahaan harus mengkapitalisasi


bunga. Ini dimulai dengan adanya tiga kondisi:
- Pengeluaran untuk aset sedang terjadi.
- Aktivitas yang dibutuhkan untuk menyiapkan aset untuk tujuan penggunaan atau
penjualan sedang berlangsung.
- Biaya bunga sedang terjadi.
Kapitalisasi bunga terus terjadi selama tiga kondisi ini ada. Periode kapitalisasi
berakhir ketika aset tersebut secara substansial telah selesai dan siap untuk
digunakan.
3. Jumlah yang akan dikapitalisasi
Jumlah bunga untuk dikapitalisasi terbatas pada nilai terendah antara biaya bunga
yang terjadi selama periode atau bunga terhindarkan. Bunga terhindarkan adalah
jumlah biaya bunga selama periode sebuah perusahaan secara teoritis bisa dihindari
jika tidak membuat pengeluaran untuk aset tersebut.
Tingkat Suku Bunga
Perusahaan mengikuti prinsip-prinsip dalam memilih tingkat suku bunga yang sesuai
untuk diterapkan dengan pengeluaran akumulasi rata-rata tertimbang:
1. Untuk bagian akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang yang kurang dari atau
sama dengan jumlah yang dipinjam secara khusus untuk membiayai pembangunan
aktiva, gunakan tingkat bunga yang timbul atas pinjaman khusus.
2. Untuk bagian akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang yang lebih besar dari
utang apa pun yang terjadi secara khusus untuk membiayai pembangunan aktiva,
gunakan rata-rata tertimbang suku bunga atas semua hutang lainnya selama periode
berjalan.
PENILAIAN PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN
Seperti aset lainnya perusahaan harus mencatat properti, pabrik, dan peralatan pada
harga pasar saat diserahkan atau saat aset diterima, yang lebih nyata. Bagaimanapun,
akuisisi aset terkadang mengaburkan harga pasar.
Diskon Kas
Saat perusahaan membeli plant asets dan mendapat diskon kas untuk pembayaran yang
cepat, Ada dua sudut pandang terhadap permasalahan ini.

1.

Menganggap diskon (diambil atau tidak) sebagai pengurangan harga pembelian


aset.

2.

Menyatakan bahwa kegagalan mengambil kas diskon tidak selalu harus dianggap
sebagai kerugian.

Saat ini, terdapat perusahaan yang menggunakan kedua metodde tersebut, meskipun
sebagian besar memilih metode yang pertama.
Kontrak Pembayaran Ditangguhkan
Perusahaan secara teratur membeli aset pabrik dengan perjanjian kredit jangka panjang,
menggunakan

wesel,

hipotik,

obligasi,

atau

equipment

obligations.

Untuk

mencerminkan biaya secara tepat, perusahaan menghitung aset yang dibeli dengan
perjanjian kredit jangka panjang pada nilai sekarang dengan nilai tukar yang sesuai di
antara pihak kontraktor pada tanggal transaksi.
Saat suku bunga tidak tetap, atau jika nilainya tidak dapat diperkirakan secara spesifik,
perusahaan

memasukkan

perkiraan

suku

bunga.

Tujuannya

adalah

untuk

memperkirakan besarnya bunga yang dinegosiasikan oleh pembeli dan juga penjual
pada transaksi serupa. Saat memasukkan suku bunga, perusahaan memiliki
pertimbangan tersendiri dalam menentukan suku bunganya, besar dan tanggal jatuh
tempo wesel, serta bunga yang berlaku secara umum. Perusahaan memakai harga tukar
perolehan aset (jika dapat digunakan) sebagai dasar dalam mencatat aset dan mengukur
besarnya bunga.
Pembelian Lump-Sum
Sebuah masalah khusus yang timbul dalam menilai aktiva tetap ketika perusahaan
membeli sekelompok aktiva pada harga Lump-Sum. Ketika situasi umum ini terjadi,
perusahaan mengalokasikan total biaya antara berbagai aset dengan basis nilai wajar
relatifnya. Asumsi ini adalah biaya-biaya akan berbeda pada proporsi nilai wajar. Ini
adalah prinsip yang sama bahwa perusahaan-perusahaan menambahkan untuk
mengalokasikan sebuah biaya lump sum pada berbagai item yang berbeda.
Untuk menghitung nilai wajar, perusahaan harus menggunakan teknik penilaian yang
sesuai dengan keadaan. Dalam beberapa kasus teknik penilaian tunggal akan sesuai.

Penerbitan Saham
Ketika perusahaan mendapatkan peralatan dengan cara menerbitkan saham, seperti
saham biasa, nilai par atau yang ditetapkan dari saham tersebut tidak bisa secara tepat
mengukur biaya perolehan dari peralatan itu Jika penjualan saham itu aktif, harga pasar
dari saham-saham yang diterbitkan itu adalah biaya wajar dari peralatan yang diakui.
Saham merupakan suatu ukuran yang bagus dari kas ekuivalen harga kini.
Jika perusahaan tidak bisa menentukan nilai wajar dari saham yang dipertukarkan
(berdasarkan harga pasar), Perusahaan harus mengestimasi nilai wajar dari peralatan
tersebut. Kemudian menggunakan nilai peralatan itu sebagai dasar pencatatan aset dan
penerbitan saham tersebut. Pendekatan-pendekatan dalam penilaian yang dapat
digunakan adalah pasar, pendapatan, atau pendekatan biaya, atau kombinasi dari
pendekatan-pendekatan ini.
Pertukaran Aktiva Non-Moneter
Aktiva non-moneter adalah sesuatu yang mempunyai harga dan berubah dari waktu ke
waktu. Aktiva moneter-kas dan pendek-atau akun jangka panjang dan wesel tagih
adalah sesuatu yang tetap dalam hal mata uang dengan kontrak atau yang lainnya. Pada
umumnya, perusahaan mencatat pertukaran aktiva berdasarkan nilai wajar aktiva yang
diterima atau diberikan. Sehingga, perusahaan sebaiknya mengakui laba atau rugi secara
langsung dari pertukaran aktiva tersebut. Alasan untuk mengakui secara langsung
adalah karena setiap transaksi memberikan subtansi komersial dan karena itu rugi dan
laba harus diakui.
Dalam menentukan perubahan arus kas, sangat penting untuk:
1.

memperhitungkan resiko, waktu dan jumlah arus kas yang tercipta dari aktiva yang
diterima terkait dengan aktiva outbond;

2.

mengevaluasi arus kas keduanya yang memberikan efek dengan pertukaran ataupun
tidak. Dan, apabila perusahaan tidak menggunakan nilai wajar dalam pertukaran
aktiva, merka sebaiknya menggunakan pencatatan nilai buku di dalam akuntansi
pertukaran.

Pertukaran Kondisi Rugi


Ketika perusahaan menukarkan aset non-moneter dan menghasilkan kerugian,
perusahaan mengakui kerugian dengan segera. Alasan: perusahaan seharusnya tidak
menilai aset pada harga yang melebihi ekivalen kasnya; jika kerugian ditangguhkan,
7

aset akan kelebihan hitung. Oleh karena itu, perusahaan mengakui kerugian dengan
segera apakah pertukaran itu memiliki substansi komersial atau tidak.
Pertukaran Kondisi Untung
Mempunyai substansi komersial
Sekarang, pertimbangkan situasi di mana pertukaran aset non moneter mempunyai
substansi komersial dan menghasilkan keuntungan. Dalam hal ini, perusahaan biasanya
mencatat harga aset non moneter untuk ditukarkan dengan aset non-moneter lainnya
pada nilai wajar aset yang dilepas. Dan segera mengakui keuntungan. Perusahaan
seharusnya menggunakan nilai wajar aset yang diterima hanya jika lebih jelas dan
terbukti dari pada nilai wajar aset yang dilepas.
Tidak mempunyai substansi komersial
Jika penukaran aset tidak memiliki substansi secara komersial yang cukup, perusahaan
mencatat keuntungan yang direfleksikan dari basis semi-truck saat terjadinya penjualan
truck tersebut bukan saat terjadinya pertukaran.
Perusahaan mengungkapkan dalam laporan keuangan mereka pertukaran non-moneter
selama suatu periode. pengungkapan tersebut menunjukkan sifat transaksi, metode
akuntansi untuk aktiva yang dipertukarkan, dan keuntungan atau kerugian yang diakui
pada bursa pertukaran.
Hibah Pemerintah
Banyak perusahaan yang menerima hibah pemerintah. Hibah Pemerintah adalah
bantuan yang diterima dari pemerintah berupa penyerahan sumber daya untuk
perusahaan sebagai imbalan untuk pemenuhan masa lalu atau masa depan dengan
kondisi tertentu yang berkaitan dengan kegiatan operasi perusahaan.
Dengan kata lain, hibah pemerintah sering merupakan beberapa jenis aset (seperti uang
tunai, surat berharga, aset, dan peralatan; atau penggunaan fasilitas) yang disediakan
sebagai subsidi untuk perusahaan.
Pendekatan Akuntansi
Ada dua pendekatan yang disarankan akuntansi yang tepat untuk kredit yang
berkaitan dengan hibah pemerintah ketika nilai wajar yaitu:
1. pendekatan modal/ekuitas; dan
2. pendekatan pendapatan.

Pendekatan Pendapatan
IFRS memakai pendekatan pendapatan dan menunjukkan bahwa aturan umum
adalah hibah harus diakui dalam pendapatan secara sistematis yang cocok dengan
biaya terkait yang mereka dimaksudkan untuk kompensasi. Hal ini dicapai dalam
salah satu dari dua cara untuk aset seperti properti, pabrik, dan peralatan:
1. Mencatat hibah sebagai pendapatan hibah ditangguhkan, yang diakui sebagai
pendapatan secara sistematis selama masa manfaat suatu aset, atau
2. Dikurangi hibah dari nilai tercatat aktiva yang diterima dari hibah, dalam kasus
hibah diakui sebagai pendapatan yang mengurangi beban penyusutan.

BIAYA SELANJUTNYA UNTUK AKUISISI


Setelah memasang plant aset dan membuatnya siap dipakai, perusahaan mengeluarkan
biaya tambahan atas kerusakan mulai dari perbaikan biasa sampai tambahan yang
signifikan. Persoalan utama adalah mengalokasikan biaya tersebut kepada periode
waktu yang tepat.
Dalam menentukan bagaimana biaya seharusnya dialokasikan selanjutnya untuk
akuisisi, perusahaan mengikuti kriteria yang sama yang digunakan untuk menetukan
biaya permulaan dari PPE. Mereka mengakui biaya selanjutnya untuk akuisisi sebagai
suatu aset ketika biaya dapat diukur dan ini dimungkinkan bahwa perusahaan akan
menemukan keuntungan ekonomi di masa yang akan datang.
Keuntungan ekonomi di masa datang akan termasuk penambahan dalam:
1. usia manfaat/kegunaan
2. jumlah produk yang diproduksi dan
3. kualitas produk yang di produksi
Umumnya, perusahaan dikenakan empat jenis pengeluaran besar relatif terhadap aset
yang ada.
Jenis Pengeluaran Utama:
1. Penambahan, menambah atau memperpanjang aset yang ada.
2. Peningkatan dan penggantian. pergantian aset untuk aset yang sudah ada.
3. Penataan dan reorganisasi. pemindahan aktiva dari satu lokasi ke lokasi lain.
4. Perbaikan. pengeluaran yang berguna untuk menjaga aset dalam kondisi untuk
operasi.

Perlakuan Akuntansi normal untuk pengeluaran yang terjadi di masa setelah akuisisi.
Jenis pengeluaran
Penambahan

Perlakuan Akuntansi Normal


Kapitalisasi biaya pernambahan kepada akun aset.

Peningkatan atau penggantian

Hapus nilai buku dan akumulasi depresiasi aset yang


lama, akui keuntungan/kerugian yang terjadi,
kapitalisasi nilai dari penggantian atau peningkatan.

Pengaturan dan penyusunan


kembali

Nilai dari pengaturan dan penyusunan kembali diakui


sebagai beban.

Perbaikan

a. Biasa: Mengakui nilai reparasi sebagai beban


ketika terjadi.
b. Besar: Hapus nilai buku dan akumulasi
depresiasi aset yang lama, akui
keuntungan/kerugian yang terjadi, kapitalisasi
nilai dari perbaikan besar

PENGHAPUSAN PROPERTI, PABRIK DAN PERALATAN


Sebuah perusahaan seperti Nokia (FIN), secara sukarela bisa menghapus asetnya
dengan cara dijual, ditukar, perubahan tanpa disengaja, atau dibuang begitu saja.
Penjualan Aktiva Pabrik
Perusahaan mencatat depresiasi untuk periode waktu di antara tanggal pencatatan
terakhir dan tanggal penjualan.
Perubahan Tanpa Disengaja
Kadang-kadang kegunaan sebuah aktiva berakhir melalui beberapa jenis perubahan
tanpa disengaja seperti kebakaran, banjir, pencurian, atau penghukuman. Perusahaanperusahaan melaporkan perbedaan diantara jumlah pemulihan (contoh, dari sebuah
pemberian hukuman atau asuransi pemulihan), jika tersedia dan nilai buku aktiva yang
dicatat sebagai keuntungan atau kerugian. Mereka memperlakukan keuntungankeuntungan atau kerugian-kerugian seperti beberapa tipe penyusutan yang lain.
Terlepas dari waktu pelepasan, perusahaan menghitung penyusutan hingga tanggal
penyusutan dan kemudian menghapus semua akun yang terkait dengan aktiva tersebut.
Keuntungan atau kerugian dari penghentian aktiva tetap disajikan dalam laporan laba
rugi bersama dengan item-item lainnya yang muncul dari kegiatan usaha customatory.
Keuntungan atau kerugian pada perubahan yang telah direncanakan dilaporkan
pendapatan lainnya dan beban.

10