Anda di halaman 1dari 6

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN BANTEN


JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
PEMASANGAN INFUSE PADA ANAK
1. Definisi
Prosedur pemberian cairan melalui infus yaitu dengan memasukkan cairan melalui
intravena dengan bantuan set infus, yang bertujuan memenuhi kebutuhan cairan dan
elektrolit dan sebagai tindakan pengobatan serta pemberian makan.
2. Tujuan
2.1.

Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.

2.2.

Infuse pengobatan dan pemberian nutrisi (Aziz, musrifah. 2004. Buku saku
praktikum kebutuhan dasar manusia. Jakarta: EGC)

2.3.

Memulai dan mempertahankan terapi cairan IV. (Eni Kusyati 2006. hal:267)

3. Pedoman Pemilihan Vena


3.1 Gunakan vena distal terlebih dahulu
3.2 Gunakan lengan pasien yang tidak dominan jika mungkin
3.3 Pilih vena diatas area fleksi
3.4 Pilih vena yang cukup besar untuk memungkinkan aliran darah yang adekuat
kedalam kateter
3.5 Palpasi vena untuk menentukan kondisinya. Selalu pilih vena yang lunak, penuh.
3.6 Pastikan lokasi yang dipilih tidak mengganggu aktifitas pasien
3.7 Pilih lokasi yang tidak mempengaruhi pembedahan atau prosedur yang
direncanakan.
4. Jenis-jenis Cairan Intravena
4.1 Cairan bisa bersifat isotonis
(contohnya: NaCl 0,9 %, Dekstrosa 5 % dalam air, Ringer Laktat/ RL ,dll)
4.2 Cairan bersifat hipotonis
(contohnya NaCl 5%)
4.3 Cairan bersifat hipertonis

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
(contohnya: Dekstrosa 10% dalam NaCl, Dekstrosa 10% dalam air, Dekstrosa 20%
dalam air)
5. Jenis-jenis set infuse
5.1 Makro tetesan 20
5.2 Mikro tetesan 60
6. Jenis jenis Abocath
Menurut Potter (1999) ukuran jarum infuse yang biasa digunakan adalah :
6.1 Ukuran 16G warna abu-abu Guna : Dewasa, Bedah Mayor, Trauma, Apabila
sejumlah besar cairan perlu diinfuskan.
Pertimbangan Perawat : Sakit pada insersi, Butuh vena besar
6.2 Ukuran 18G Warna hijau Guna : Anak dan dewasa, Untuk darah, komponen darah,
dan infus kental lainnya.
Pertimbangan Perawat : Sakit pada insersi, Butuh vena besar
6.3 Ukuran 20G Warna merah muda Guna : Anak dan dewasa, Sesuai untuk kebanyakan
cairan infus, darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
Pertimbangan Perawat : Umum dipakai
6.4 Ukuran 22G Warna biru Guna : Bayi, anak, dan dewasa (terutama usia lanjut),
Cocok untuk sebagian besar cairan infus.
Pertimbangan Perawat : Lebih mudah untuk insersi ke vena yang kecil, tipis dan
rapuh, Kecepatan tetesan harus dipertahankan lambat, Sulit insersi melalui kulit
yang keras.
6.5 Ukuran 24G Warna kuning, 26 Warna putih Guna : Nenonatus, bayi, anak dewasa
(terutama usia lanjut), Sesuai untuk sebagian besar cairan infus, tetapi kecepatan
tetesan lebih lambat.
Pertimbangan Perawat : Untuk vena yang sangat kecil, Sulit insersi melalui kulit
keras

7. Indikasi
7.1 Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).
7.2 Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah
terbatas.
7.3 Pemberian kantong darah dan produk darah.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
7.4 Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu).
7.5 Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi
besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika
terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)
7.6 Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi
(kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps
(tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus
8. Kontraindikasi
8.1 Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
8.2 Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan
untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci
darah).
8.3 Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran
darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).
9. PROSEDUR
9.1. Tanggung jawab dan wewenang
9.1.1. Bagian akademik sebagai penanggung jawab pembelajaran
9.1.2. Koordinator mata ajaran keperawatan anak, Bertanggung

Jawab atas

pencapaian kompetensi SOP ini diraboratorium keperawatan


9.1.3. Pembimbing klinik bertanggung jawab terhadap pelaksanaan praktek
dilahan praktek
9.2. Pelaksanaan
9.2.1. Pastikan kebutuhan klien untuk pemasangan infuse
9.2.2. Persiapan klien
9.2.2.1. Periksa rekam medis untuk mengetahui riwayat penyakit,
9.2.2.2.

alergi dan rencana perawatan.


Periksa ulang perintah dokter mengenai cairan yang harus

9.2.2.3.

diberikan dan kecepatan tetesan.


Mengucapkan salam dengan ramah (lihat SOP komunikasi
terapeutik)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
9.2.2.4.

Melakukan pendekatan klien dengan memberikan penjelasan

tentang tindakan yang akan dilakukan.


9.2.3. Persiapan alat
9.2.4. Baki + alas
9.2.5. Standar infuse
9.2.6. Set infuse
9.2.7. Tourniquet
9.2.8. Jarum infuse/abocath dengan ukuran yang sesuai
9.2.9. Perlak + alas
9.2.10. Plester dan gunting
9.2.11. Kapas alcohol
9.2.12. Kassa steril
9.2.13. Kom sedang dan tutup
9.2.14. Kassa gulung
9.2.15. Betadin
9.2.16. Spalk
9.2.17. Handscoon
9.2.18. Persiapan Lingkungan
Jaga privasi klien dan ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, cuci
tangan (lihat SOP cuci tangan)
9.2.19. Langkah kerja :
9.2.19.1.Awali interaksi dengan mengucapkan salam (lihat SOP
komunikasi terapeutik).
9.2.19.2.Jelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan pada anak dan
orang tua
9.2.19.3.Dekatkan alat
9.2.19.4.Persiapan lingkungan: Jaga privasi klien
9.2.19.5.Cuci tangan (lihat SOP Cuci tangan)
9.2.19.6.Pasang handscoon
9.2.19.7.Buka kemasan steril dengan meggunakan teknik antisetic
9.2.19.8.Periksa larutan dengan lima benar (benar pasien, jenis cairan,
dosis, cara pemberian dan waktu pemberian)
9.2.19.9.Buka set infuse dan pertahankan sterilitas pada kedua ujung
9.2.19.10. Pasang klem rol 2-4 cm dibawah bilik drip dan pindahkan
klem rol pada posisi off

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
9.2.19.11. Hubungkan cairan dan infus set dengan menusukkan spike ke
botol infus (cairan).
9.2.19.12. Isi cairan kedalam set infus dengan menekan bagian ruang
tetesan sampai ruangan tetesan terisi sebagian,buka penutup
sampai slang terisi dan udara keluar
9.2.19.13. Letakkan alas
9.2.19.14. Atur posisi dengan tidur terlentang dan minta bantuan untuk
memegangi anak.
9.2.19.15. Lakukan pembendungan dengan torniket/pita karet.
9.2.19.16. Desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan gerakan sirkulasi
9.2.19.17. Lakukan penusukkan dengan lubang jarum ke arah atas
9.2.19.18. Perhatikan keluarnya darah melalui selang jarum yang
menandakan bahwa jarum telah memasuki vena. Turunkan jarum
sampai hampir menyentuh kulit. Dorong jarum sampai menempel
dengan tempat pungsi vena
9.2.19.19. Buka tetesan lalu lepaskan touniket
9.2.19.20. Lakukan desinfeksi dengan betadin dan tutup dengan kasa
steril
9.2.19.21. Gunakan spalk untuk fiksasi daerah infus.
9.2.19.22. Tenangkan anak dan pastikan infus diperlukan untuk
membuat kondisi anak lebih baik
9.2.19.23. Lepaskan handscoon
9.2.19.24. Puji anak atas kerja samanya
9.2.19.25. Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan serta ukuran jarum
pada balutan
9.2.19.26. Rapihkan alat dan pasien
9.2.19.27. Buka sampiran
9.2.19.28. Cuci tangan
9.2.19.29. Dokumentasi
10. PENGENDALIAN/PEMANTAUAN
5.1 Absensi mahasiswa dan dosen yang telah ditanda tangani
5.2 Dokumentasi laporan asuhan keperawatan
5.3 Format penilaian asuhan keperawatan
5.4 Pedoman penilaian kompetensi

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
11. DOKUMEN
6.1 SOP komunikasi terapeutik
6.2 SOP cuci tangan
12. PENGESAHAN
Disusun oleh
Tim Mata Ajaran:
Tanggal:

Diperiksa oleh
Unit Akademik:
Tanggal:

Disetujui dan disahkan oleh


Ketua Pengelola:
Tanggal: