Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
Salah satu jenis ikatan kimia antaratom adalah ikatan logam. Ikatan logam didefinisikan sebagai
ikatan antaratom logam tanpa membentuk suatu molekul.
Sifat-sifat atom logam adalah:
1.

Memiliki kemampuan menghantarkan arus listrik/ panas yang baik.

2.

Keras, dapat ditempah dan ditarik.

3.

Tersusun dalam kristal logam dalam bentuk padatnya.

4.

Memiliki titik didih dan titik leleh yang tinggi.

5.

Mengkilap.

Sifat-sifat logam diatas tidak bisa dijelaskan dengan ikatan ion, karenan tidak mungkin terjadi
perpindahan elektron antaratom yang sejenis, dan tidak bisa juga dijelaskan dengan ikatan
kovalen karena tidak mungkin ikatan kovalen terjadi pada atom logam, sehingga ikatan yang
terdapat dalam logam ini dikhususkan dalam ikatan logam.
Dalam bab selanjutnya akan dibahas mengenai teori ikatan logam yang dapat menjelaskan sifatsifat logam diatas, serta klasifikasi ikatan logam, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kuat
lemahnya ikatan logam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. IKATAN LOGAM
A. Fakta Eksperimen
Untuk menjelaskan mengenai ikatan logam, diuraikan beberapa teori yang menjelaskan
ikatan yang terjadi pada atom-atom logam yaitu sebagai berikut:
a. Teori awan elektron
Teori ini dikemukakan oleh Drude dan Lorentz pada awal abad ke-20. Menurut teori ini, di
dalam kristal logam terdiri dari ion-ion logam bermuatan positif (kation) yang tersusun rapat
dalam awan elektron. Awan elekton ini merupakan elektron valensi yang dilepaskan oleh setiap
atom. Elektron valensi ini tidak terikat salah satu ion logam atau pasangan ion logam, tetapi
terdelokalisasi terhadap semua ion logam. Hal ini disebabkan oleh tumpang tindih (overlap)
orbital valensi dari atom-atom logam. Akibatnya elektron-elektron yang ada pada orbitalnya
dapat berpindah ke orbital valensi atom tetangganya. Karena hal inilah elektron-elektron valensi
akan terdelokaslisasi pada semua atom yang terdapat pada logam membentuk awan atau lautan
elektron, sehingga elektron valensi tersebut bebas bergerak keseluruh bagian dari kristal logam.
Elektron-elektron bebas inilah yang menyebabkan adanya ikatan dalam kristal logam. Misalnya
logam magnesium yang memiliki 2 elektron valensi. Berdasarkan model awan elektron, logam
magnesium dapat dianggap terdiri dari ion positif Mg 2+ yang tersusun secara teratur, berulang
dan disekitarnya terdapat awan atau lautan elektron yang dibentuk dari elektron valensi
magnesium, seperti pada Gambar.
Maka, teori awan atau lautan elektron pada ikatan logam itu didefinisikan sebagai gaya tarik
antara muatan positif dari ion-ion logam (kation logam) dengan muatan negatif yang terbentuk
dari elektron-elektron valensi dari atom-atom logam. Jadi logam yang memiliki elektron valensi
lebih banyak akan menghasilkan kation dengan muatan positif yang lebih besar dan awan
elektron dengan jumlah elektron yang lebih banyak atau lebih rapat. Hal ini menyebabkan logam

memiliki ikatan yang lebih kuat dibanding logam yang tersusun dari atom-atom logam dengan
jumlah elektron valensi lebih sedikit.
Teori lautan atau awan elektron ini dapat menjelaskan berbagai sifat fisika dari logam.
1. Logam dapat ditempa, dapat dibengkokkan, direntangkan dan tidak rapuh
Hal ini disebabkan atom-atom logam tersusun secara teratur dan rapat sehingga ketika diberi
tekanan atom-atom tersebut dapat tergelincir di atas lapisan atom yang lain seperti yang
ditunjukan
pada
Gambar.

Gambar perpindahan atom pada suatu logam ketika diberi tekanan atau ditempa
Gambar di atas menjelaskan mengapa logam dapat ditempa, direntangkan ataupun
dibengkokkan, karena pada logam tersebut semua atom sejenis sehingga atom-atom yang
bergeser saat diberi tekanan seolah-olah tetap pada kedudukan yang sama. Dengan kata lain
apabila sebuah ikatan logam putus maka akan segera terbentuk ikatan logam baru.
2. Sifat Mengkilap
Di dalam ikatan logam, terdapat elektron-elektron bebas. Sewaktu cahaya jatuh pada
permukaan logam, maka elektron-elektron bebas akan menyerap energi cahaya tersebut.
Elektron-elektron akan melepas kembali energi tersebut dalam bentuk radiasi elektromagnetik
dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi cahaya awal. Oleh karena frekuensinya sama,
maka kita melihatnyta sebagai pantulan cahaya yang datang. Pantulan cahaya tersebut
memberikan permukaan logam tampak mengkilap.
Bila Cahaya tampak jatuh pada permukaan logam, sebagian elektron valensi yang mudah
bergerak tersebut akan tereksitasi. Ketika elektron yang tereksitasi tersebut kembali kepada
keadaan dasarnya, maka energi cahaya dengan panjang gelombang tertentu akan dipancarkan
kembali. Peristiwa ini dapat menimbulkan sifat kilap yang khas pada logam.
3. Daya hantar listrik
Di dalam ikatan logam, terdapat elektron valensi yang bebas (mudah bergerak) yang
dapat membawa muatan listrik. Jika diberi suatu beda tegangan, maka elektron-elektron ini akan
bergerak dari kutub negatif menjadi kutub positif.

Gambar pergerakan elektron


4. Daya hantar panas
Elektron-elektron yang bergerak bebas di dalam kristal logam memiliki energi kinetik. Jika
dipanaskan, elektron-elektron akan memperoleh energi kinetik yang cukup untuk dapat
bergerak/bervibrasi dengan cepat. Dalam pergerakannya, elektron-elektron tersebut akan
bertumbukkan dengan elektron-elektron lainnya. Hal ini menyebabkan terjadinya transfer energi
dari bagian bersuhu tinggi ke bagian bersuhu rendah.

5. Titik didih dan titik leleh tinggi


Pada logam, Ikatan logam tidak sepenuhnya putus sampai logam mendidih ini menunjukkan
bahwa ikatan logam memiliki titik didih yang tinggi. Hal ini dikarenakan atom-atom logam terikat
oleh ikatan logam yang kuat. Untuk mengatasi ikatan tersebut, diperlukan energi dalam jumlah
yang besar.
b. Ikatan logam berdasarkan teori resonansi
Pada tahun 1965 Pauling mengemukakan ikatan logam dengan menetapkan konsep
resonansi. Menurut teori ini ikatan logam merupakan ikatan kovalen dan sesuai dengan struktur
kristal logam yang dapat diamati pada eksperimen maka dapat diperkirakan teradi resonansi.
Dalam mengembangkan teorinya Pauling meninjau kristal logam Li. Dari tafsiran analisis terhadap
pola difraksi sinar-X oleh kristal logam Li dapat diketahui bahwa setiap atom Li dikelilingi oleh 8
atom Li yang lain. Karena elekton valensi Li adalah 1, maka tidak mungkin 1 atom Li nmengikat 8
atom Li lainnya.
Bila atom Li menggunakan elektron valensinya, maka resonansi pasangan ikatan Li-Li
terjadi secara serempak didalam kisi kristalnya. Dinyatakan dalam 2 dimensi, resonansi yang
memungkinkan adalah:
Pada struktur III, IV, V, VI terdapat sebuah atom Li yang bermuatan negatif membentuk
ikatan kovalen dengan 2 atom Li yang lain. Terjadinya ikatan kovalen dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Empat atom Li yaitu Lia Lib Lic Lid masing-masing mempunyai struktur elektron 1s 2 2s1 2 2 2 . Bila
atom Lid memberikan elektron valensinya pada atom Li bmaka Lid menjadi ion (1s2)dan atom
Lib menjadi Lib- (1s2 2s1 2 2 2 ). Orbital 2s1 dan 2 pada ion Lib membentuk orbital hibrida sp yang
masing-masing dapat membentuk ikatan kovalen dengan atom Li a dan Lic. Orbital 2 dan 2 pada
ion Lib- yang disebut orbital logam dapat menerima aliran elektron dan memberi sumbangan
pada daya hantar listrik.
c. Teori Pita

Teori ini dikembangkan pada tahun 1970 mempergunakan teori orbital molekul. Ikatan
logam mudah dipahami dengan memberi teori orbital molekul ini. Misalnya pada logam Li
memiliki susunan elektron 1s2 2s1. Elektron 1s2 terdapat dalam orbital yang terarah (localized)
sedangkan elektron dalam 2s1 terdapat pada orbital tidak terarah (delocalized). Elektron 2s inilah
yang akan membentuk ikatan.
Bila dua atom Li mendekat, orbital atom 2s akan bergabung dengan orbital atom 2s dari
atom lain membentuk dua orbital molekul, yaitu orbital molekul bonding dan anti bonding. Bila
atom ketiga mendekat, terbentuk tiga orbital molekul, dan seterusnya. Jadi jumlah molekul sama
dengan jumlah atonya. Bila N atom litium bersatu, terbentuk N orbital molekul dengan energi
berbeda-berda yang membentuk pita energi, dengan distribusi energi yang kontinyu.
Dalam Litium, Elektron-elektron yang berasal dari orbital 2s kedua atom Li, akan menempati
orbital molekul bonding, sedangkan pada orbital molekul antibonding tidak terdapat elektron.
Pada pembentukan molekul Li3, terdapat 1 orbital molekul bonding yang berisi 2 elektron, 1 orbital
molekul nonbonding dimana terdapat sebuah elektron dan 1 orbital molekul antibonding yang
masih kosong. Pada pembentukan molekul Li4, terdapat 2 orbital molekul bonding yang masingmasing berisi 2 elektron dan 2 orbital molekun antibonding yang masih kosong. Proses ini dapat
diperluas ke atom yang ke N, meliputi seluruh atom dalam kristal Li. Hal ini mengakibatkan
dihasilkan orbital molekul sejumlah N, yang mempunyai perbedaan energi. Sebagai akibatnya
adalah bahwa N atom Li yang terdapat dalam kisi kristalnya akan memberntuk N/2 orbital
molekul bonding dan N/2 orbital molekul antibonding. N/2 orbital molekul bonding yang terjadi
mempunyai tingkat energi yang hampir sama dan menempati ruang yang sangat berdekatan
sehingga menjadi kontinyu.
Baik kelompok orbital molekul antibonding, maupun kelompok orbital bonding yang
kontinyu tersebut akan berupa pita. Pita terbentuk bila orbital-orbital 2s pada atom-atom Li
membentuk orbital molekul .
Bagian dari pita 2s di mana terdapat elektron valensi disebut pita valensi dan tingkat
energi tertinggi pada pita valensi disebut energi fermi E F. Dibagian atas tingkat fermi terdapat
tingkat-tingkat energi yang masih kosong yang disebut pita konduksi, karena elektron dapat
mengalir melalui pita orbital molekul tersebut.
Kesenjangan antara pita valensi dan pita konduksi yang disebut kesenjangan energi
merupakan ukuran kemudahan suatu logam untuk menghantarkan listrik. Bila logam
dihubungkan dengan sumber arus atau medan magnit, elektron yang berada disekitar tingkat
fermi memperoleh tambahan energi yang menyebabkan tingkat energinya naik, sehingga dapat
pindah kedalam pita konduksi yang masih kosong dan arus elektron listrik mengalir melalui pita
konduksi tersebut.
Dikenal logam-logam yang tidak begitu baik menghantarkan listrik (semikonduktor)
disamping logam-logam yang menghantarkan arus listrik dengan baik (konduktor). Hal ini
bergantung pada susunan atom logam dalam kristalnya dan suhu. Sifat-sifat tersebut dapat
dijelaskan dengan teori pita.
Gambar kesenjangan pita valensi dengan pita konduksi pada konduktor, semikonduktor dan
isolator.
Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa pada konduktor tidak terdapat kesenjangan antara pita
konduksi dengan pita konduksi, sehingga karena pertambahan energi yang cukup kecil elektronelektron valensi dapat berpindah ke pita konduksi dan arus mengalir melalui konduktor.
Pada logam semikonduktor terdapat kesenjangan antara pita valensi dan pita konduksi
sedemikian rupa. Sehingga hanya elektron-elektron yang mempunyai energi memadai saja yang
dapat berpindah ke pita konduksi.
Pada isolator, terdapat kesenjangan antara pita valensi dan pita konduksi yang besar, sehingga
energi yang ditimbulkan medan listrik tidak dapat menghasilkan ekektron yang tidak mempunyai
energi yang memadai untuk dapat berpindah ke pita konduksi, karena itu isolator tidak dapat
menghantarkan arus listrik.
B. Definisi dan Contoh
Dari teori diatas maka dapat disimpulkan beberapa definisi dari ikatan logam yaitu:

1. Ikatan logam adalah ikatan yang terbentuk akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi
antara muatan positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-elektron yang
bebas bergerak yang dihasilkan oleh elektron valensi masing-masing logam.
2. Ikatan logam adalah ikatan yang terjadi antara atom logam dengan 8 atau 12 atom logam
yang lainnya. Misalnya ikatan antara logam Na dengan 8 logam Na yang lainnya.
3. Ikatan logam adalah ikatan yang disebabkan oleh adanya elektron valensi suatu logam yang
tidak terarah (delocalized). Misalnya pada logam Li memiliki struktur 1s 2 2s1. Elektron
1s2 terdapat dalam orbital yang terarah (localized) sedangkan elektron dalam 2s 1 terdapat pada
orbital tidak terarah (delocalized). Elektron 2s inilah yang akan membentuk ikatan.
4. Ikatan logam adalah ikatan yang disebabkan oleh tumpang tindih (overlap) orbital valensi dari
atom-atom logam. Akibatnya elektron-elektron yang ada pada orbitalnya dapat berpindah ke
orbital valensi atom tetangganya.
5. Ikatan logam adalah ikatan antara inti positif unsur logam di dalam lautan elektron
yang dihasilkan oleh elektron valensi unsur logam yang bersangkutan.
Pembentukan Ikatan Logam
Logam memiliki sedikit elektron valensi dan memiliki elektronegativitas yang rendah. Semua jenis
logam cenderung melepaskan elektron terluarnya sehingga membentuk ion-ion positif /kation
logam. Kulit terluar unsur logam relatif longgar (terdapat banyak tempat kosong) sehingga
elektron terdelokalisasi, yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi tidak tetap posisinya pada
suatu atom, tetapi senantiasa berpindah pindah dari satu atom ke atom lainnya.
Elektron valensi logam bergerak dengan sangat cepat mengitari intinya dan berbaur dengan
elektron valensi yang lain dalam ikatan logam tersebut sehingga menyerupai awan atau
lautan yang membungkus ion-ion positif di dalamnya. Elektron bebas dalam orbit ini bertindak
sebagai perekat atau lem. Kation logam yang berdekatan satu sama lain saling tarik menarik
dengan adanya elektron bebas sebagai lemnya.
Contoh-contoh Ikatan logam adalah:
1. Ikatan Logam Natrium
Natrium memiliki konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s1. Tiap atom Natrium tersentuh oleh delapan
atom natrium yang lainnya dan terjadi pembagian (sharing) antara atom tengah dan orbital 3s di
semua delapan atom yang lain. Dan tiap atom yang delapan ini disentuh oleh delapan atom
natrium lainya secara terus menerus hingga diperoleh seluruh atom dalam bongkahan natrium.
Semua orbital 3s dalam semua atom saling tumpang tindih untuk memberikan orbital molekul
dalam jumlah yang sangat banyak yang memeperluas keseluruhan tiap bagian logam.
Elektron dapat bergerak dengan leluasa diantara orbital-orbital molekul tersebut, dan karena itu
tiap elektron menjadi terlepas dari atom induknya. Logam terikat bersamaan melalui kekuatan
daya tarik yang kuat antara inti positif dengan elektron yang terdelokalisasi.
2. Ikatan Logam Magnesium
Ikatan logam magnesium lebih kuat dan titik leleh juga lebih tinggi dibanding dengan ikatan
logam pada natrium. Magnesium memiliki struktur elektronik terluar 3s 2. Diantara elektroelektronnya terjadi delokalisasi, karena itu lautan yang ada memiliki kerapatan dua kali lipat
daripada yang terdapat pada natrium. Sisa ion juga memiliki muatan dua kali lipat dan tentunya
akan terjadi dayatarik yang lebih banyak antara ion dan lautan. Atom-atom magnesium
memiliki jari-jari yang sedikit lebih kecil dibandingkan atom-atom natrium dan karena itu elektron
yang terdelokalisasi lebih dekat ke inti.
Gambar inti positif Mg yang terikat pada elektron yang terdelokalisasi
C. Klasifikasi
Klasifikasi ikatan logam menurut golongannya adalah:
1. Ikatan Logam pada Unsur Transisi
Logam transisi cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi. Alasannya adalah logam
transisi dapat melibatkan elektron 3d yang ada dalam kondisi delokalisasi seperti elektron pada

4s. Lebih banyak elektron yang dapat terlibat, kecenderungan daya tarik akan semakin lebih kuat.
Contoh ikatan logam pada unsur transisi transisi adalah Ag, Fe, Cu dan lain-lain.
2. Ikatan logam pada unsur golongan utama
Ikatan logam pada unsur golongan utama relatif lebih lemah dibandingkan dengan
dengan unsur golongan transisi. Contohnya kristal besi lebih kuat dibandingkan dengan kristal
logam magnesium.
Berdasarkan unsur penyusunnya dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Ikatan logam antar unsur sejenis
Misalnya Ikatan antara unsur litium dengan unsur litium yang lainnya.
2. Ikatan logam antar unsur yang berbeda jenis (aloi).
Bahan-bahan logam yang bukan hanya dibuat dari satu jenis unsur logam tetapi telah dicampur
atau ditambah dengan unsur-unsur lain disebut aloi atau sering disebut lakur atau paduan.
Aloi terbentuk apabila leburan dua atau lebih macam logam dicampur atau leburan suatu logam
dicampur dengan unsur-unsur nonlogam yang campuran tersebut tidak saling bereaksi serta
masih menunjukan sifat sebagai logam setelah didinginkan.
Aloi dibagi menjadi dua macam yaitu aloi selitan dan aloi substitusi. Disebut aloi selitan bila jarijari atom unsur yang dipadukan sama atau lebih kecil dari jari-jari atom logam. Sedangkan aloi
substitusi terbentuk apabila jari-jari unsur yang dipadukan lebih besar dari jari-jari atom logam.
D. Faktor yang Mempengaruhi Ikatan
1. Titik leleh dan titik didih
Logam-logam cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi karena kekuatan ikatan
logam. Kekuatan ikatan berbeda antara logam yang satu dengan logam yang lain. Titik leleh dan
titik didih logam berkaitan langsung dengan kekuatan ikatan logamnya. Titik didih dan titik leleh
logam makin tinggi bila ikatan logam yang dimiliki makin kuat. Contohnya pada logam alkali
semakin kebawah titik didih semakin rendah sehingga ikatan logamnya akan semakin lemah.
Loga
m

Titik lebur (C)

Titik didih (C)

Li

180

1330

Na

97,8

892

63,7

774

Rb

38,9

688

Cs

29,7

690

Titik didih dan titik leleh berhubungan dengan sifat periodik unsur yaitu sifat jari-jari atomnya.
Semakin besar jari-jari atomnya maka semakin kecil titik didih dan titik lelehnya sehingga
mengakibatkan ikatan lebih lemah.
2. Jari-jari atom
Dalam sistem periodik unsur, pada satu golongan dari atas kebawah, ukuran kation logam dan
jari-jari atom logam makin besar. Hal ini menyebabkan jarak antara pusat kation-kation logam
dengan awan elektronnya semakin jauh, sehingga gaya tarik elektrostatik antara kation-kation
logam dengan awan elektronnya semakin lemah.

Loga
m

Jari-jari
(pm)

Li

atom

logam

Kation logam

Jari-jari kation logam (pm)

157

Li+

106

Na

191

Na+

132

235

165

Rb

250

Rb

+
+

175

Cs

272

Cs+

188

3. Jumlah elektron valensi (elektron yang terdelokalisasi)


Logam-logam golongan 1 seperti natrium dan kalium memiliki ikatan logam yang relatif rendah
karena tiap atomnya hanya memiliki satu elektron untuk dikontribusikan pada ikatan. Sedangkan
pada logam golongan II seperti magnesium memiliki dua elektron untuk dikontribusikan pada
ikatan sehingga logam golongan II memiliki ikatan yang relatif lebih kuat dibanding logam
golongan 1.
4. Bilangan koordinasi
Logam natrium dikelilingi oleh delapan logam natrium yang lainnya, sedangkan logam
magnesium dikelilingi oleh dua belas logam magnesium lainnya. Hal ini menyebabkan ikatan
logam pada magnesium lebih besar dibandingkan dengan ikatan logam pada natrium.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Ikatan logam adalah ikatan yang terjadi akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi
antara muatan positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-elektron yang
bebas bergerak yang dihasilkan oleh elektron valensi masing-masing logam.
Sifat-sifat dari logam (dapat ditempa, menghantarkan arus listrik, mengkilap, dan titik
didih yang tinggi) dapat dijelaskan dengan teori awan elektron, teori resonansi dan teori pita.
Teori pita dapat menjelaskan mengenai sifat logam sebagai konduktor, semikonduktor dan
isolator.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kuatnya ikatan logam adalah:
1.

Titik didih dan titik leleh.

2.

Jari-jari atom.

3.

Bilangan koordinasi.

4.

Jumlah elektron valensi yang terdelokalisasi.

Daftar Pustaka
Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Sukardjo. 1990. Ikatan Kimia. Yogyakarta: Rineka Cipta
Sukardjo. 1985. Kimia Fisika. Yogyakarta: Bina Aksara
Syarifuddin, Nuraini. 1985. IKATAN KIMIA. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Syarifuddin, Nuraini. 2002. IKATAN KIMIA. Jakarta: Universitas Terbuka
http://wanibesak.wordpress.com/2011/06/27/ikatan-logam-sifat-sifat-logam-dan-alloy/
http://rahmikimia.wordpress.com/kimia-kelas-x/3-ikatan-kimia-2/c-ikatan-logam/
http://rahmaddhany040608.blogspot.com/2011/07/ikatan-logam.html